Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M. Kes.
Kesehatan merupakan salah satu indikator penting dalam menggambarkan kualitas kehidupan masyarakat. Indonesia telah mengalami berbagai kemajuan dalam pembangunan kesehatan, baik melalui peningkatan akses pelayanan, penguatan fasilitas kesehatan, program pencegahan penyakit, maupun perluasan cakupan jaminan kesehatan. Namun demikian, berbagai tantangan kesehatan masih perlu mendapatkan perhatian.
Kondisi kesehatan Indonesia saat ini menunjukkan adanya beban ganda masalah kesehatan. Di satu sisi, penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah, sementara di sisi lain penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, kanker, dan obesitas semakin banyak ditemukan. Selain itu, kesehatan ibu dan anak, kesehatan reproduksi remaja, masalah gizi, serta kesehatan mental juga menjadi bagian penting dari agenda pembangunan kesehatan.
Penyakit Tidak Menular Semakin Menjadi Perhatian
Penyakit tidak menular merupakan salah satu tantangan kesehatan yang semakin penting di Indonesia. Perubahan gaya hidup masyarakat, pola makan, kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta meningkatnya berat badan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk usia lebih dari 18 tahun meningkat dari 21,8% pada tahun 2018 menjadi 23,4% pada tahun 2023. Selain itu, sebanyak 96,7% penduduk berusia ≥5 tahun masih kurang mengonsumsi sayur dan buah sesuai standar yang digunakan dalam survei.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencegahan penyakit harus dimulai sejak dini. Edukasi mengenai pola makan sehat, aktivitas fisik, tidak merokok, pengelolaan stres, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Penyakit Menular Masih Menjadi Tantangan
Kemajuan dalam pengendalian penyakit tidak menular tidak berarti Indonesia telah terbebas dari penyakit menular. Tuberkulosis masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang membutuhkan perhatian serius. Indonesia termasuk negara dengan beban TBC tinggi di dunia.
Pengendalian TBC membutuhkan penemuan kasus secara aktif, diagnosis yang tepat, kepatuhan terhadap pengobatan, serta dukungan keluarga dan masyarakat. Selain TBC, penyakit seperti demam berdarah dengue, malaria di wilayah tertentu, dan berbagai penyakit infeksi lainnya juga tetap perlu diwaspadai.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan surveilans kesehatan, imunisasi, sanitasi, perilaku hidup bersih dan sehat, serta deteksi dini penyakit.
Kesehatan Ibu, Anak, dan Remaja
Kesehatan ibu dan anak merupakan bagian penting dari pembangunan kesehatan Indonesia. Berbagai program telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, balita, serta keluarga berencana. Namun, upaya penurunan kematian ibu dan bayi masih membutuhkan perhatian berkelanjutan.
Kesehatan perempuan juga perlu dilihat dalam perspektif siklus hidup, bukan hanya ketika seorang perempuan hamil. Kesehatan sejak masa remaja, prakonsepsi, kehamilan, persalinan, nifas, menyusui, hingga masa lanjut usia saling berkaitan.
Pada kelompok remaja, kesehatan reproduksi menjadi isu yang semakin penting. Remaja membutuhkan informasi yang benar mengenai pubertas, kesehatan reproduksi, hubungan yang sehat, pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan, infeksi menular seksual, serta kesehatan mental.
Masalah Gizi dan Stunting
Masalah gizi di Indonesia masih bersifat kompleks. Indonesia menghadapi masalah kekurangan gizi sekaligus peningkatan kelebihan berat badan dan obesitas.
SKI 2023 menunjukkan prevalensi stunting balita sebesar 21,5%. Pada saat yang sama, masalah wasting dan kelebihan berat badan pada anak juga masih ditemukan.
Pencegahan masalah gizi perlu dimulai sejak sebelum kehamilan. Status gizi remaja putri, kesehatan calon ibu, pemenuhan gizi selama kehamilan, pemberian ASI, makanan pendamping ASI, serta pemantauan pertumbuhan anak merupakan rangkaian yang saling berkaitan.
Dalam hal ini, keluarga memiliki peran penting. Tenaga kesehatan, termasuk bidan, juga memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada perempuan, bayi, anak, keluarga, dan masyarakat.
Kesehatan Mental Semakin Penting
Kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental. Anak muda menghadapi berbagai tekanan, baik dari pendidikan, keluarga, lingkungan sosial, maupun perkembangan teknologi dan media sosial.
Karena itu, kesehatan mental perlu dipandang sebagai bagian dari kesehatan secara menyeluruh. Promosi kesehatan mental, dukungan keluarga, lingkungan pendidikan yang aman, kemampuan mengelola stres, deteksi dini masalah psikologis, serta akses terhadap bantuan profesional perlu terus diperkuat.
Lingkungan keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat mempunyai peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental.
Penguatan Deteksi Dini
Salah satu perkembangan penting dalam pembangunan kesehatan Indonesia adalah semakin kuatnya pendekatan promotif dan preventif. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan deteksi dini masalah kesehatan.
Pemeriksaan kesehatan dapat membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya sebelum penyakit berkembang menjadi lebih berat. Deteksi dini terhadap hipertensi, diabetes, gangguan kesehatan lainnya, serta edukasi mengenai pola hidup sehat menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak seharusnya datang ke fasilitas kesehatan hanya ketika sudah sakit. Mencegah dan menemukan masalah kesehatan sedini mungkin jauh lebih baik daripada menunggu penyakit berkembang.
Peran Tenaga Kesehatan dan Pendidikan Kebidanan
Perubahan masalah kesehatan masyarakat juga menyebabkan tuntutan terhadap tenaga kesehatan semakin besar. Tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan klinis, tetapi juga kemampuan komunikasi, edukasi, pemberdayaan masyarakat, kerja sama lintas profesi, dan pemanfaatan teknologi.
Bidan memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan perempuan, bayi, anak, remaja, keluarga, dan masyarakat. Peran bidan tidak hanya berkaitan dengan kehamilan dan persalinan, tetapi juga mencakup kesehatan reproduksi sepanjang siklus hidup, keluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, promosi kesehatan, pencegahan penyakit, serta pemberdayaan masyarakat.
Oleh karena itu, pendidikan kebidanan perlu terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa kebidanan perlu dipersiapkan menjadi tenaga kesehatan yang kompeten, komunikatif, berorientasi pada keselamatan pasien, serta mampu memberikan pelayanan berbasis bukti.
Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Badan Pusat Statistik. (2025). Profil Statistik Kesehatan 2025. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Profil Kesehatan Indonesia 2025. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). CKG Ungkap Masalah Kesehatan di Setiap Kelompok Usia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- World Health Organization. (2025). New Year, New Opportunities: How Indonesia Aims to Rapidly Improve Reproductive, Maternal, Newborn, Child and Adolescent Health. WHO Indonesia.
- World Health Organization. (2025). Strengthening TB Surveillance to Accelerate Indonesia’s Path to Elimination. WHO Indonesia.
- World Health Organization. (2026). Indonesia Charts Next Phase of TB Response Through National Programme Review. WHO Indonesia.