Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT.,M. Kes.

Universitas Alma Ata, Juli 2026 – Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja. Berbagai platform digital dimanfaatkan untuk belajar, mencari informasi, berkomunikasi, hingga mengekspresikan diri. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan media sosial yang berlebihan juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kesehatan mental remaja.

Belakangan ini, berbagai konten di media sosial ramai membahas fenomena digital fatigue, doom scrolling, dan tekanan untuk selalu tampil sempurna di dunia maya. Isu ini semakin menjadi sorotan setelah hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan bahwa hampir 10% anak dan remaja yang menjalani skrining memiliki indikasi gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi. Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan mental remaja perlu mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Media sosial pada dasarnya bukanlah penyebab utama masalah kesehatan mental. Akan tetapi, penggunaan yang tidak terkendali dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, gangguan tidur, rendahnya rasa percaya diri, hingga kecenderungan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Sebaliknya, jika digunakan secara bijaksana, media sosial dapat menjadi sarana belajar, membangun jejaring pertemanan, mengembangkan kreativitas, serta memperoleh informasi kesehatan yang benar.

Sebagai generasi digital, remaja perlu memiliki kemampuan literasi digital agar mampu menyaring informasi yang diterima. Tidak semua informasi kesehatan yang beredar di media sosial dapat dipercaya. Oleh karena itu, penting untuk memastikan sumber informasi berasal dari tenaga kesehatan, institusi pendidikan, atau lembaga resmi yang memiliki kredibilitas.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan remaja untuk menjaga kesehatan mental saat menggunakan media sosial antara lain:

  1. membatasi waktu penggunaan media sosial setiap hari;
  2. mengikuti akun yang memberikan konten positif dan edukatif;
  3. menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain;
  4. menjaga keseimbangan antara aktivitas daring dan aktivitas di dunia nyata;
  5. tetap berinteraksi secara langsung dengan keluarga dan teman; serta
  6. tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor apabila mengalami stres berkepanjangan.

Mari jadikan media sosial sebagai sarana untuk belajar, berbagi inspirasi, dan menyebarkan informasi kesehatan yang bermanfaat. Remaja yang cerdas dalam menggunakan teknologi adalah remaja yang mampu menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosialnya demi mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, tangguh, dan berdaya saing.

Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu dan anak yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 9 Maret). Alarm kesehatan mental anak: CKG temukan ratusan ribu anak bergejala cemas dan depresi. https://www.kemkes.go.id/id/alarm-kesehatan-mental-anak-ckg-temukan-ratusan-ribu-anak-bergejala-cemas-dan-depresi
  2. World Health Organization Indonesia. (2026, 23 Februari). Bersatu merespons dampak kesehatan jiwa kekerasan digital. https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/23-02-2026-uniting-to-respond-to-mental-health-impacts-of-digital-violence
  3. World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman nasional pelayanan kesehatan jiwa. Kementerian Kesehatan RI.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak. Kementerian Kesehatan RI.
  6. UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On my mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. UNICEF.
  7. American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. American Psychological Association.