Memasuki awal bulan Juli, sebagian besar wilayah di Indonesia mengalami puncak musim kemarau yang ditandai dengan meningkatnya suhu udara serta kondisi lingkungan yang lebih kering dan berdebu. Cuaca ekstrem yang terjadi tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama Heat Exhaustion (kelelahan akibat panas) dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi ini perlu menjadi perhatian seluruh masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, balita, lansia, serta individu dengan penyakit kronis.

Fenomena tersebut menjadi perhatian Dosen Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata, Ibu Isti Chana Zuliyati, S.ST., M.Keb yang mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca ekstrem melalui penerapan langkah-langkah pencegahan sederhana di lingkungan keluarga.

Menurut Isti, paparan suhu yang tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dalam jumlah besar melalui keringat. Apabila cairan yang hilang tidak segera digantikan, tubuh akan mengalami dehidrasi yang dapat berkembang menjadi heat exhaustion, yaitu kondisi ketika tubuh mulai kesulitan mengatur suhu secara normal.

“Cuaca panas tidak boleh dianggap sepele. Banyak masyarakat baru menyadari ketika tubuh sudah mengalami dehidrasi berat. Padahal, kondisi tersebut dapat dicegah dengan menjaga kecukupan cairan tubuh dan membatasi aktivitas di bawah terik matahari,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa beberapa gejala heat exhaustion yang perlu diwaspadai antara lain keringat berlebih, kulit terasa dingin atau lembap, pusing, sakit kepala, mual, muntah, kram otot, hingga jantung berdebar lebih cepat dari biasanya. Apabila gejala tersebut tidak segera ditangani, kondisi dapat berkembang menjadi heat stroke yang bersifat darurat medis.

Lebih lanjut, Isti menekankan bahwa ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak cuaca panas. Selama kehamilan, kebutuhan cairan meningkat karena tubuh harus menjaga volume darah serta cairan ketuban. Dehidrasi pada trimester awal dapat memperberat keluhan mual dan muntah, sedangkan pada trimester akhir dapat memicu kontraksi palsu atau Braxton Hicks yang lebih sering muncul.

“Ibu hamil perlu lebih disiplin menjaga asupan cairan setiap hari. Jangan menunggu merasa haus karena rasa haus merupakan tanda awal tubuh mulai mengalami kekurangan cairan,” ujarnya.

Selain ancaman akibat suhu tinggi, musim kemarau juga menyebabkan kualitas udara menurun karena meningkatnya debu dan polusi. Udara yang lebih kering membuat partikel debu, asap kendaraan, maupun polutan lainnya lebih mudah beterbangan dan terhirup sehingga meningkatkan risiko terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Menurutnya, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan karena sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan. Paparan debu secara terus-menerus dapat memicu batuk, pilek, radang tenggorokan, hingga memperburuk gangguan pernapasan pada anak yang memiliki riwayat alergi maupun asma.

Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama musim kemarau, Isti mengimbau masyarakat menerapkan beberapa langkah proteksi mandiri. Di antaranya membiasakan minum air putih minimal 2–2,5 liter setiap hari, sementara ibu menyusui dianjurkan meningkatkan konsumsi cairan hingga sekitar 3 liter per hari. Selain itu, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi terutama pada pukul 10.00–15.00 ketika paparan sinar matahari sedang berada pada intensitas tertinggi.

Ia juga menyarankan masyarakat memperbanyak konsumsi buah-buahan yang kaya kandungan air dan vitamin C seperti semangka, melon, dan jeruk untuk membantu menjaga hidrasi sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh. Penggunaan pakaian berbahan katun yang longgar dan menyerap keringat serta pemakaian masker saat berada di lingkungan berdebu juga menjadi langkah sederhana yang efektif untuk melindungi kesehatan.

“Perlindungan terhadap kesehatan keluarga dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Menjaga tubuh tetap terhidrasi, menggunakan pakaian yang nyaman, menghindari paparan panas berlebihan, serta memakai masker saat kualitas udara menurun merupakan upaya sederhana namun sangat bermanfaat dalam mencegah berbagai gangguan kesehatan selama musim kemarau,” jelasnya.

Sebagai dosen Profesi Bidan, Isti berharap masyarakat semakin peduli terhadap perubahan cuaca yang terjadi dan tidak menganggap keluhan akibat panas sebagai kondisi yang biasa. Edukasi mengenai pencegahan menjadi kunci agar kelompok rentan, terutama ibu hamil, bayi, balita, dan lansia, tetap terlindungi selama menghadapi cuaca ekstrem.

“Cuaca ekstrem merupakan tantangan yang tidak dapat kita hindari, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui perilaku hidup sehat dan kewaspadaan sejak dini. Mari bersama menjaga kesehatan diri dan keluarga dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan secara konsisten agar tetap sehat sepanjang musim kemarau,” tutup Isti.