Oleh Lia Dian Ayuningrum

Sebagian orang tua masih merasa khawatir ketika melihat anak berbicara sendiri saat bermain. Tidak sedikit yang menganggap kebiasaan tersebut sebagai perilaku yang aneh atau pertanda adanya gangguan perkembangan. Padahal, dalam kajian psikologi perkembangan, perilaku tersebut merupakan bagian normal dari proses belajar anak yang dikenal sebagai private speech.

Fenomena ini menjadi perhatian Dosen Prodi Sarjana & Profesi Bidan Alma Ata, Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb, yang mengajak masyarakat untuk memahami bahwa private speech merupakan salah satu indikator perkembangan kognitif yang sehat. Menurutnya, selama muncul pada konteks yang wajar, seperti ketika anak bermain atau menyelesaikan tugas, perilaku tersebut justru perlu didukung, bukan dihentikan.

“Ketika anak berbicara kepada dirinya sendiri saat bermain, sebenarnya ia sedang menyusun cara berpikirnya. Anak sedang belajar merencanakan tindakan, mengatur perilaku, sekaligus memecahkan masalah yang sedang dihadapinya,” jelas Dian.

Ia menjelaskan bahwa konsep private speech pertama kali diperkenalkan oleh psikolog perkembangan Lev Vygotsky. Dalam teorinya, Vygotsky menyebut bahwa ucapan yang diarahkan kepada diri sendiri merupakan alat berpikir sekaligus mekanisme regulasi diri yang membantu anak mengendalikan perilaku selama proses belajar.

Menurut Vygotsky, perkembangan bahasa anak berlangsung melalui beberapa tahapan, dimulai dari bahasa sosial yang berkembang sejak usia sekitar dua tahun, kemudian private speech, hingga akhirnya menjadi inner speech atau bicara batin yang berkembang lebih matang sekitar usia tujuh tahun. Dengan demikian, kebiasaan anak berbicara sendiri merupakan tahapan alami sebelum mereka mampu mengatur proses berpikir secara internal sebagaimana orang dewasa.

Lebih lanjut, Dian menjelaskan bahwa manfaat private speech tidak hanya didasarkan pada teori, tetapi juga telah didukung oleh berbagai hasil penelitian. Salah satunya adalah penelitian Berk dan Spuhl (1995) yang menunjukkan bahwa private speech berkembang secara konsisten pada anak dengan perkembangan normal serta berkaitan dengan kemampuan mereka dalam menyelesaikan berbagai tugas.

Berbagai kajian ilmiah juga menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan private speech dengan performa anak saat menghadapi tantangan. Anak yang lebih sering menggunakan private speech ketika mengerjakan tugas cenderung menunjukkan kemampuan penyelesaian masalah yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak melakukannya.

Selain membantu meningkatkan kemampuan berpikir, private speech juga diketahui berperan dalam mengembangkan imajinasi, melatih kemampuan memecahkan masalah, serta membantu anak mengorganisasi pikirannya. Menariknya, perilaku ini paling sering muncul ketika anak menghadapi situasi yang menantang, bukan ketika mereka mengalami kebingungan tanpa arah.

“Justru saat anak sedang kesulitan menyusun balok, menggambar, atau menyelesaikan permainan tertentu, mereka akan berbicara kepada dirinya sendiri untuk membantu menemukan solusi. Itu menunjukkan bahwa otaknya sedang bekerja aktif,” ungkapnya.

Menurut Dian, terdapat beberapa manfaat penting dari private speech bagi perkembangan anak. Pertama, perilaku tersebut membantu anak belajar mengarahkan dirinya sendiri tanpa selalu bergantung pada instruksi orang dewasa. Kedua, private speech menjadi jembatan menuju berkembangnya kemampuan berpikir yang lebih matang, termasuk kemampuan berpikir dalam hati (inner speech) yang akan mendukung proses belajar di masa depan. Ketiga, kebiasaan tersebut menjadi indikator bahwa anak sedang mengembangkan kemampuan regulasi diri yang penting bagi keberhasilan akademik maupun kehidupan sehari-hari.

Selain berkaitan dengan perkembangan kognitif, private speech juga dipengaruhi oleh lingkungan pengasuhan. Dian menjelaskan bahwa anak cenderung lebih bebas berbicara kepada dirinya sendiri ketika merasa aman, nyaman, dan diterima di lingkungan keluarga.

Hal tersebut didukung oleh penelitian Wall, Mulvihill, Matthews, Dux, dan Carroll yang dipublikasikan dalam Journal of Child Language (2024). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh hangat, responsif, dan mendukung kemandirian lebih sering menggunakan private speech yang berisi perencanaan maupun motivasi diri ketika mengerjakan tugas yang menantang. Sebaliknya, pola asuh yang terlalu mengontrol atau kurang responsif tidak menunjukkan hubungan yang sama.

Menurut Dian, temuan tersebut memperkuat teori Vygotsky bahwa bahasa yang awalnya berasal dari interaksi antara orang tua dan anak lambat laun akan diinternalisasi menjadi suara yang digunakan anak untuk membimbing dirinya sendiri.

“Kalimat-kalimat yang sering diucapkan orang tua, seperti ‘coba pelan-pelan’, ‘ayo kamu pasti bisa’, atau ‘kita pikirkan dulu’, perlahan menjadi suara yang dipakai anak untuk mengarahkan dirinya sendiri ketika menghadapi tantangan,” jelasnya.

Temuan serupa juga diperlihatkan dalam penelitian longitudinal Whedon, Perry, Curtis, dan Bell yang dipublikasikan di Early Childhood Research Quarterly (2021). Studi tersebut menemukan bahwa private speech pada usia tiga tahun berkaitan dengan kemampuan kontrol diri pada usia empat tahun, yang selanjutnya berhubungan dengan kemampuan regulasi emosi ketika anak berusia sembilan tahun. Hasil tersebut menunjukkan bahwa manfaat private speech tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga berkontribusi terhadap perkembangan sosial dan emosional anak di masa mendatang.

Berdasarkan berbagai temuan ilmiah tersebut, Dian mengimbau para orang tua untuk tidak terburu-buru menegur anak ketika melihat mereka berbicara sendiri saat bermain. Sebaliknya, orang tua disarankan memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan proses berpikirnya secara alami.

“Orang tua tidak perlu khawatir selama perilaku tersebut muncul dalam situasi yang wajar. Biarkan anak menyelesaikan ‘percakapannya’ sendiri karena pada saat itulah ia sedang belajar berpikir dan mengatur dirinya. Orang tua juga dapat memberikan contoh dengan sesekali berpikir keras (thinking aloud) saat menyelesaikan suatu masalah agar anak melihat bahwa berbicara kepada diri sendiri merupakan strategi yang normal dalam proses berpikir,” ujarnya.

Sebagai akademisi di bidang psikologi perkembangan, Dian berharap masyarakat semakin memahami bahwa private speech merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Edukasi yang tepat diharapkan dapat mengurangi kesalahpahaman sehingga orang tua mampu memberikan dukungan yang lebih optimal terhadap perkembangan kognitif dan emosional anak.

Private speech bukanlah kebiasaan yang perlu ditakuti. Sebaliknya, perilaku tersebut merupakan salah satu tanda bahwa anak sedang membangun kemampuan berpikir, belajar mengendalikan diri, dan mempersiapkan fondasi bagi perkembangan kognitif maupun emosionalnya di masa depan,” tutup Dian.

Referensi

  1. Wall, K., Mulvihill, A., Matthews, N., Dux, P. E., & Carroll, A. (2024/2026). Maternal parenting style and self-regulatory private speech content use in preschool children. Journal of Child Language, 53(1), 218–233.
  2. Whedon, M., Perry, N. B., Curtis, E. B., & Bell, M. A. (2021). Private speech and the development of self-regulation: The importance of temperamental anger. Early Childhood Research Quarterly, 56, 213–224.
  3. Day, K. L., Tan, L., & Smith, C. L. (2024). Preschoolers’ self-regulation: Private speech in cognitive and emotion contexts. Journal of Child and Family Studies, 33(5), 1437–1450.
  4. Gowrie NSW. Lev Vygotsky’s Theory of Child Development. Diakses dari gowriensw.com.au.
  5. Frontiers in Developmental Psychology (2025). Private speech among children with intellectual disabilities.