Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Bullying atau perundungan adalah momok menakutkan yang dapat merenggut keceriaan masa kecil seorang anak. Dampak dari tindakan ini tidak hanya menyisakan luka fisik, melainkan trauma psikologis mendalam yang berpotensi terbawa hingga mereka dewasa mulai dari gangguan kecemasan (anxiety), depresi, hingga penurunan drastis pada performa akademis.

Banyak orang tua merasa cemas dan berpikir bahwa satu-satunya cara melindungi anak adalah dengan selalu mengawasi mereka 24 jam atau melatih mereka bela diri fisik agar bisa membalas pukulan. Padahal, perlindungan terbaik dan paling realistis yang bisa diberikan orang tua adalah membekali anak dengan “perisai mental” langsung dari dalam rumah.

Perisai mental ini dibentuk melalui pola asuh yang membangun resiliensi, rasa percaya diri, dan ketegasan (assertiveness) sehingga anak tidak menjadi target empuk para pelaku perundungan (bullies). Berikut adalah langkah-langkah konkret yang dapat Anda lakukan di rumah.

1. Menanamkan Sikap Tegas (Assertiveness) Melalui Bahasa Tubuh

Pelaku perundungan umumnya adalah seorang oportunis. Mereka mencari korban yang terlihat rapuh, tidak percaya diri, mudah diintimidasi, dan cenderung pasrah. Oleh karena itu, melatih anak cara membawa diri adalah langkah preventif pertama.

Di rumah, ajarkan dan simulasikan tiga aspek bahasa tubuh yang tangguh bersama anak:

  1. Kontak Mata (Eye Contact): Latih anak untuk menatap mata lawan bicaranya dengan berani, bukan menunduk atau melihat ke arah lain saat diintimidasi.
  2. Postur Tubuh yang Tegap: Ajarkan anak untuk berjalan dengan bahu terbuka dan kepala terangkat. Postur tubuh yang tegak memancarkan aura kepercayaan diri.
  3. Suara yang Tenang namun Tegas: Latih anak untuk berani berkata, “Hentikan, aku tidak suka kamu memperlakukanku seperti itu,” dengan nada suara yang lantang, datar, dan tidak emosional (tidak merengek atau berteriak histeris). Pelaku perundungan akan kehilangan minat jika korbannya tidak menunjukkan reaksi ketakutan yang mereka harapkan.

2. Membangun Komunikasi yang Aman (Safe Space) di Rumah

Banyak kasus perundungan berjalan berbulan-bulan tanpa ketahuan karena anak takut atau malu untuk bercerita kepada orang tuanya. Tugas Anda adalah memastikan rumah menjadi tempat paling aman untuk menumpahkan segala keluh kesah.

  1. Dengarkan Tanpa Menghakimi: Saat anak bercerita tentang harinya yang buruk, dengarkan terlebih dahulu dengan penuh empati. Hindari kalimat yang menyudutkan seperti, “Kamu sih, kok diam aja digituin?”
  2. Validasi Perasaan Anak: Katakan pada mereka bahwa wajar untuk merasa sedih atau marah. Kalimat sederhana seperti, “Ibu paham itu rasanya pasti nggak nyaman banget. Terima kasih ya sudah berani cerita ke Ibu,” akan membuat anak merasa didukung sepenuhnya. Anak yang tahu mereka didukung di rumah tidak akan memendam masalah perundungan sendirian.

3. Menumbuhkan Harga Diri (Self-Esteem) Anak Melalui Aktivitas Luar Rumah

Anak yang memiliki harga diri yang kuat tidak akan mudah goyah oleh ejekan atau hinaan dari pelaku perundungan. Anda bisa membantu membentuk harga diri ini dengan menyalurkan minat dan bakat mereka di luar lingkungan sekolah formal.

  1. Ikuti Komunitas Positif: Daftarkan anak pada klub olahraga, sanggar seni, kelas robotik, atau pencak silat/bela diri yang sesuai minat mereka.
  2. Manfaat Sosial: Lingkungan baru ini memberikan anak kesempatan untuk membangun lingkaran pertemanan yang sehat. Ketika anak menyadari bahwa mereka dihargai, terampil, dan memiliki teman-teman yang suportif di tempat lain, mental mereka akan tetap kokoh meskipun ada satu atau dua anak nakal yang mencoba menjatuhkan mereka di sekolah.

4. Mengenalkan Konsep “Buddy System” (Sistem Pertemanan)

Pelaku bullying hampir selalu mengincar anak yang sedang sendirian atau terisolasi. Dorong anak Anda untuk selalu bersosialisasi dan memiliki setidaknya satu atau dua teman dekat di kelasnya. Ajarkan mereka prinsip saling menjaga: pergi ke kantin bersama, ke toilet bersama, atau menunggu jemputan bersama. Kehadiran seorang teman di samping anak secara drastis menurunkan niat pelaku untuk melakukan intimidasi.

Kesimpulan

Menghapus bayang-bayang perundungan tidak dimulai dengan mengubah perilaku anak-anak lain di luar sana, melainkan dengan memperkuat mental anak kita sendiri dari dalam rumah. Dengan memberikan cinta yang tanpa syarat, melatih komunikasi yang tegas, dan membangun harga diri yang tinggi, kita sedang menempa sebuah perisai mental yang kokoh. Perisai itulah yang akan melindungi anak, membuat mereka mampu berdiri tegak, dan melangkah dengan aman di dunia luar.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan bidan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/

Referensi

  1. World Health Organization (WHO). (2020). School-based interventions to prevent bullying and promote peer connectedness: A global guidance report. Jenewa: WHO.
  2. UNICEF Indonesia. (2023). Panduan Pengasuhan Positif: Mencegah Kekerasan dan Perundungan pada Anak Sejak dari Rumah. Jakarta: UNICEF.
  3. American Psychological Association (APA). (2022). Bullying Prevention: Empowering Children with Assertiveness and Emotional Literacy. Journal of Family Psychology, Vol. 36(4), 512-520.
  4. International Journal of Behavioral Development. Sari, R., & Henderson, K. (2024). The Role of Parental Support and Extracurricular Engagement in Buffering the Effects of Peer Victimization among Adolescents. International Journal of Behavioral Development, 48(2), 143–151.