Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Kasus perundungan (bullying) di kalangan anak-anak kini bukan lagi sekadar masalah ejekan di halaman sekolah. Di era digital, polanya meluas menjadi cyberbullying yang beroperasi 24 jam sehari tanpa henti. Dampaknya pun sangat nyata bagi kesehatan fisik dan mental anak, mulai dari penurunan performa akademis, gangguan kecemasan (anxiety), depresi, hingga risiko menyakiti diri sendiri.

Mencegah anak agar tidak terjebak menjadi pelaku maupun korban perundungan tidak bisa dilakukan secara instan ketika masalah sudah terjadi. Fondasi terkuat harus dibangun sejak dini dari dalam diri anak melalui penguatan karakter khusus yang adaptif dengan tantangan “Zaman Now“.

3 Bekal Karakter Utama untuk Membentengi Anak

Berdasarkan studi psikologi perkembangan, anak-anak yang memiliki kecerdasan emosional dan ketahanan diri yang baik cenderung terhindar dari lingkaran perundungan. Berikut adalah tiga karakter esensial yang wajib ditanamkan orang tua di rumah:

1. Karakter Asertif (Berani dan Tegas, Bukan Kasar)

Banyak orang tua keliru mengajarkan anak untuk “membalas pukulan dengan pukulan” agar tidak diremehkan. Cara terbaik sebenarnya adalah melatih perilaku asertif.

  1. Anak yang asertif mampu mengekspresikan ketidaksukaannya tanpa rasa takut, namun tetap menghormati orang lain.
  2. Aksi nyata: Latih anak untuk melakukan kontak mata, berdiri tegak, dan menggunakan intonasi suara yang datar namun lantang saat berkata, “Stop, aku tidak suka kamu bicara seperti itu.” Pelaku bullying biasanya langsung mengurungkan niatnya saat melihat calon korban memancarkan aura percaya diri.

2. Empati Kognitif dan Afektif

Empati adalah penawar racun dari karakter pelaku bullying. Anak zaman sekarang terpapar banyak konten digital yang mendepersonalisasi manusia, membuat mereka rentan kehilangan kepekaan sosial.

  1. Anak yang dibiasakan berempati di rumah akan mampu merasakan penderitaan orang lain, sehingga mereka tidak akan mau menjadi pelaku.
  2. Di sisi lain, jika mereka melihat temannya dirundung, karakter ini mendorong mereka menjadi upstander (pembela), bukan sekadar penonton yang diam.

3. Ketahanan Mental (Resilience) dan Harga Diri (Self-Esteem) yang Sehat

Anak-anak dengan harga diri yang rapuh seringkali mencari validasi dengan cara menindas orang lain (agar merasa berkuasa) atau justru menjadi sangat rapuh saat menerima ejekan kecil.

  1. Orang tua harus membangun harga diri anak berdasarkan usaha mereka (growth mindset), bukan sekadar pujian kosong atau pencapaian akademis belaka.
  2. Anak yang tahu bahwa dirinya berharga dan dicintai di rumah tidak akan mudah goyah mentalnya meskipun mendapat lingkungan yang kurang suportif di luar.

Strategi Praktis Orang Tua di Rumah

LangkahImplementasi Nyata
Komunikasi “Meja Makan”Sediakan waktu 15 menit sehari tanpa gawai untuk mengobrol secara mendalam. Tanyakan emosi anak, bukan cuma tugas sekolahnya.
Literasi Digital TerbukaAjarkan anak bahwa jempol mereka di media sosial memiliki konsekuensi nyata. Beri batasan bahwa apa yang tidak layak diucapkan langsung, juga tidak layak diketik di kolom komentar.
Role-Play (Simulasi)Lakukan simulasi drama kecil di rumah. Contohkan situasi jika ada teman yang mengejek, lalu latih bagaimana anak harus merespons secara tenang dan taktis.

Kesimpulan: Karakter adalah Perisai Terbaik

Menjaga anak di zaman sekarang tidak bisa lagi dengan cara mengurung mereka di dalam rumah. Perisai terbaik yang bisa kita berikan adalah karakter yang kokoh. Ketika anak memiliki sikap asertif, empati yang tinggi, dan harga diri yang sehat, mereka tidak hanya selamat dari bahaya bullying, tetapi juga tumbuh menjadi agen perubahan positif bagi generasi mereka.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi atau jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/

Referensi

  1. World Health Organization (WHO). (2020). Inspirational Guidelines on School Health and Prevention of Peer Violence. Geneva: WHO. 
  2. UNICEF. (2023). The State of the World’s Children: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF. 
  3. Olweus, D., & Limber, S. P. (2019). Bullying in School: Evaluation and Dissemination of the Olweus Bullying Prevention Program. American Journal of Orthopsychiatry, 89(2), 203–212. 
  4. Journal of Adolescent Health. (2022). The Power of Upstanders: How Empathy Training Modifies Peer Dynamics in Bullying Situations. Vol. 71, Issue 4, 412-419.