Oleh Fatimatasari, M.Keb., Bd

Masa remaja merupakan periode ketika seseorang mulai mengenal berbagai perubahan, termasuk munculnya rasa tertarik kepada orang lain. Perasaan senang, kagum, hingga jatuh cinta sering kali menjadi pengalaman pertama yang membekas dalam kehidupan seorang remaja. Namun, tidak sedikit remaja yang masih bingung bagaimana menyikapi perasaan tersebut dengan cara yang sehat dan bertanggung jawab.

Fenomena ini menjadi perhatian Dosen Prodi Sarjana & Profesi Bidan Alma AtaFatimatasari, M.Keb., Bd., yang mengajak remaja untuk memahami bahwa jatuh cinta merupakan bagian normal dari proses perkembangan. Menurutnya, yang perlu diperhatikan bukanlah munculnya rasa suka itu sendiri, melainkan bagaimana seseorang mengelola perasaan tersebut agar tidak berdampak negatif terhadap masa depannya.

“Menyukai seseorang adalah hal yang sangat wajar. Hampir setiap remaja pernah mengalaminya. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana tetap mampu mengambil keputusan secara bijaksana meskipun sedang diliputi perasaan yang kuat,” jelas Fatimatasari.

Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang mulai jatuh cinta, sering kali muncul perubahan dalam cara berpikir maupun perilaku. Ada remaja yang menjadi lebih bersemangat menjalani aktivitas sehari-hari, tetapi tidak sedikit pula yang mulai kehilangan fokus belajar, mengabaikan tanggung jawab, bahkan rela melakukan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan nilai yang selama ini diyakininya.

Menurut Fatimatasari, kondisi tersebut bukan berarti remaja tidak mampu berpikir dengan baik. Sebaliknya, hal itu berkaitan dengan proses perkembangan otak yang memang masih berlangsung pada masa remaja.

Penelitian menunjukkan bahwa bagian otak yang berfungsi mengendalikan diri, mempertimbangkan risiko, dan mengambil keputusan jangka panjang masih terus berkembang hingga usia dewasa muda. Sementara itu, bagian otak yang berkaitan dengan emosi dan penghargaan sosial berkembang lebih cepat. Akibatnya, remaja sering kali mengetahui bahwa suatu tindakan berisiko, tetapi tetap terdorong melakukannya karena dipengaruhi emosi, rasa penasaran, atau keinginan untuk diterima oleh orang yang disukai. 

“Karena itu, ketika sedang menyukai seseorang, penting untuk tidak hanya mengikuti perasaan, tetapi juga menggunakan pertimbangan yang matang. Apa yang terasa menyenangkan hari ini belum tentu menjadi keputusan terbaik untuk masa depan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Fatimatasari menekankan pentingnya memiliki batasan (boundaries) dalam setiap hubungan. Menurutnya, batasan bukanlah bentuk pembatasan kebebasan, melainkan cara seseorang menjaga harga diri, keamanan, dan masa depannya.

Saat menjalin kedekatan dengan seseorang, remaja akan dihadapkan pada berbagai pilihan, mulai dari intensitas komunikasi, waktu yang dihabiskan bersama, hingga keputusan untuk membagikan informasi pribadi melalui media sosial atau aplikasi pesan. Dalam situasi seperti itu, keputusan sebaiknya diambil berdasarkan nilai dan prinsip pribadi, bukan karena tekanan pasangan maupun pengaruh lingkungan.

“Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya. Justru hubungan yang sehat adalah hubungan yang membuat kedua belah pihak tetap berkembang menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkap Fatimatasari. 

Ia juga mengingatkan bahwa setiap remaja perlu memiliki tujuan hidup yang jelas sebagai kompas ketika menghadapi berbagai keputusan dalam hubungan. Cita-cita pendidikan, impian karier, keluarga, kesehatan, maupun nilai-nilai yang diyakini dapat menjadi pengingat agar seseorang tidak mudah terbawa oleh emosi sesaat.

Menurut berbagai penelitian, remaja yang memiliki tujuan hidup yang jelas cenderung lebih mampu menolak tekanan dari pasangan maupun teman sebaya. Mereka tetap dapat menikmati proses mengenal seseorang tanpa harus mengorbankan impian yang sedang diperjuangkan.

“Sebelum mengambil keputusan, cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah tindakan ini mendekatkan saya pada cita-cita atau justru menjauhkan saya dari tujuan hidup? Pertanyaan sederhana seperti itu sering kali membantu kita mengambil keputusan yang lebih bijaksana,” jelasnya. 

Selain menjaga batasan dalam hubungan secara langsung, Fatimatasari juga mengingatkan pentingnya berhati-hati terhadap jejak digital. Kemajuan teknologi membuat komunikasi menjadi semakin mudah, tetapi juga menghadirkan berbagai risiko baru apabila tidak digunakan secara bijaksana.

Ia menjelaskan bahwa banyak remaja merasa lebih berani membagikan foto, video, maupun cerita pribadi melalui media digital karena merasa hanya berkomunikasi dengan orang yang dipercaya. Padahal, informasi yang telah dikirimkan hampir tidak pernah benar-benar dapat ditarik kembali.

Berbagai survei internasional menunjukkan bahwa sebagian remaja pernah mengirimkan pesan maupun konten pribadi ketika berada dalam hubungan yang dekat secara emosional. Namun, tidak sedikit yang kemudian menyesali keputusan tersebut setelah hubungan berakhir. Oleh karena itu, setiap kali akan membagikan sesuatu di dunia digital, remaja perlu mempertimbangkan apakah mereka tetap merasa nyaman apabila suatu saat informasi tersebut diketahui orang lain. 

“Jejak digital sering kali bertahan jauh lebih lama dibandingkan sebuah hubungan. Karena itu, jangan biarkan keputusan yang diambil karena emosi sesaat berdampak panjang terhadap kehidupan di masa depan,” kata Fatimatasari.

Menurutnya, hubungan yang sehat juga ditandai dengan adanya penghargaan terhadap batasan masing-masing. Seseorang yang benar-benar menghargai pasangannya tidak akan memaksa, mengancam, ataupun membuat pasangannya merasa bersalah demi memenuhi keinginannya.

Sebaliknya, hubungan yang baik memberikan ruang bagi setiap individu untuk mengatakan “tidak” tanpa takut kehilangan kasih sayang maupun penghargaan dari orang lain. Sikap saling menghormati inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun hubungan yang sehat.

Fatimatasari berharap para remaja tidak terburu-buru memaknai cinta sebagai alasan untuk mengorbankan pendidikan, cita-cita, maupun harga diri. Masa remaja merupakan waktu terbaik untuk mengenali diri sendiri, membangun karakter, dan mempersiapkan masa depan.

“Jatuh cinta adalah pengalaman yang indah dan sangat manusiawi. Namun, kedewasaan bukan diukur dari seberapa cepat seseorang memiliki pasangan, melainkan dari kemampuannya tetap mengenali diri sendiri, menjaga batasan, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab ketika sedang merasakan cinta,” tuturnya.

Sebagai akademisi di bidang kebidanan dan kesehatan remaja, Fatimatasari berharap semakin banyak remaja yang memahami bahwa hubungan yang sehat selalu dibangun atas dasar saling menghargai, komunikasi yang baik, serta kemampuan mengendalikan diri. Dengan demikian, pengalaman menyukai seseorang dapat menjadi bagian positif dari proses tumbuh kembang, bukan menjadi penghambat dalam meraih masa depan.

“Apa pun impian yang sedang diperjuangkan hari ini, jangan biarkan perasaan sesaat membuatmu melupakan masa depan. Cinta yang sehat akan mendukungmu untuk terus bertumbuh, bukan menghentikan langkahmu menuju cita-cita,” tutup Fatimatasari. 

Referensi

  1. McCormick, E. M., Qu, Y., & Telzer, E. H. (2024). Experience-dependent neurodevelopment of self-regulation in adolescence. Developmental Cognitive Neuroscience, 65, 101338.
  2. Willems, Y. E., Li, J. B., Bartels, M., & Finkenauer, C. (2024). Individual differences in adolescent self-control: The role of gene-environment interplay. Current Opinion in Psychology, 60, 101897.
  3. Thulin, E. J., Kernsmith, P., Fleming, P. J., Heinze, J. E., Temple, J., & Smith-Darden, J. (2023). Coercive-sexting: Predicting adolescent initial exposure to electronic coercive sexual dating violence. Computers in Human Behavior, 141, 107641.
  4. World Health Organization. (2024). Adolescent Health.
  5. UNICEF. (2024). Adolescent Development and Participation.