Pembelajaran Project Based Learning Entrepreneurship in Midwifery

Pembelajaran Project Based Learning Entrepreneurship in Midwifery

Program Studi S1 Kebidanan Universitas Alma Ata terus mendorong penguatan kompetensi mahasiswa melalui pembelajaran inovatif berbasis praktik. Salah satunya diwujudkan melalui Project Based Learning (PjBL) pada Mata Kuliah Entrepreneurship in Midwifery yang diampu oleh Ibu Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb, yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide pelayanan dan produk gizi kebidanan yang kreatif, aplikatif, serta bernilai kewirausahaan.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan ditantang merancang serta mempresentasikan produk pangan inovatif yang relevan dengan kebutuhan gizi ibu dan anak. Produk yang dihasilkan meliputi Dimsum HemobitSmoothie BowlOat BallRainbow Noodles, dan Ubichick Patty, yang dikembangkan dengan mempertimbangkan aspek nilai gizi, keamanan pangan, kreativitas, serta peluang usaha di bidang kebidanan.

Melalui pendekatan Project Based Learning ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep kewirausahaan secara teoretis, tetapi juga memperoleh pengalaman nyata dalam mengintegrasikan ilmu kebidanan, gizi, dan manajemen usaha berbasis evidence-based practice. Pembelajaran ini membekali mahasiswa agar mampu berpikir kritis, inovatif, dan siap mengambil keputusan profesional dalam pengembangan layanan kebidanan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Ingin menjadi Sarjana Bidan yang profesional, inovatif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman? Program Studi S1 Kebidanan Universitas Alma Ata siap membersamai Anda dengan pembelajaran yang komprehensif. Para dosen expert dibidang Ilmu Kebidanan siap membersamai anda untuk memahami teori dan praktik kebidanan berbasis evidence-based sehingga mampu memberikan pelayanan profesional dan ilmiah sehingga mampu mengambil keputusan klinis secara tepat.

Melalui lingkungan akademik yang islami dan suportif, mahasiswa tidak hanya didorong untuk mengikuti tren, tetapi juga memahami dasar keilmuan, etika profesi, serta nilai spiritual dalam praktik kebidanan.

👆🏻 Saatnya kamu menjadi bagian dari S1 Kebidanan Universitas Alma Ata!
Belajar berbasis praktik, inovasi, dan nilai keislaman untuk mencetak Sarjana Bidan yang profesional, berjiwa entrepreneur, dan berkarakter islami.

RUTF (Ready-to-Use Therapeutic Food)

RUTF (Ready-to-Use Therapeutic Food)

Dosen Prodi Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata

RUTF (Ready-to-Use Therapeutic Food): Senjata Ampuh WHO & UNICEF Lawan Gizi Buruk Akut

Gizi buruk akut (Severe Acute Malnutrition/SAM) telah lama menjadi momok yang mengancam jutaan nyawa anak di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang. Kondisi ini adalah bentuk malnutrisi paling mematikan, di mana anak-anak memiliki berat badan sangat rendah dibandingkan tinggi badannya (wasting) dan berisiko tinggi meninggal dunia.

Selama bertahun-tahun, penanganan SAM identik dengan perawatan di rumah sakit yang rumit, mahal, dan sulit dijangkau. Namun, sebuah inovasi revolusioner yang didukung penuh oleh WHO dan UNICEF telah mengubah lanskap penanganan gizi buruk secara drastis. Inovasi itu adalah RUTF (Ready-to-Use Therapeutic Food) atau Makanan Terapeutik Siap Saji.

Apa Sebenarnya RUTF?

Sekilas, RUTF mungkin terlihat seperti selai kacang dalam kemasan saset. Namun, kandungannya jauh lebih dari itu. RUTF adalah pasta padat energi yang dirancang khusus untuk pemulihan gizi.

·   Komposisi: Umumnya terbuat dari pasta kacang tanah, susu bubuk, gula, minyak sayur, serta diperkaya dengan vitamin dan mineral esensial.

·   Siap Saji: Inilah keunggulannya. RUTF tidak memerlukan persiapan, tidak perlu dimasak, dan yang terpenting, tidak perlu dicampur dengan air.

Keunggulan “tanpa air” ini sangat krusial di wilayah krisis di mana akses terhadap air bersih seringkali menjadi kemewahan. Penggunaan air yang tidak higienis untuk mencampur susu formula terapeutik tradisional (seperti F-75 dan F-100) justru dapat meningkatkan risiko diare, yang semakin memperburuk kondisi gizi anak.

Pergeseran Paradigma: Dari Rumah Sakit ke Rumah

Sebelum era RUTF, anak dengan gizi buruk akut tanpa komplikasi medis pun seringkali harus dirawat di rumah sakit (inpatient care). Ibu harus meninggalkan rumah, pekerjaan, dan anak-anak lainnya selama berminggu-minggu. Sistem ini tidak efisien, mahal, dan jangkauannya sangat terbatas.

RUTF menjadi inti dari pendekatan baru yang disebut CMAM (Community-based Management of Acute Malnutrition) atau Manajemen Gizi Buruk Akut Berbasis Komunitas.

WHO dan UNICEF memelopori pendekatan ini, yang memindahkan titik perawatan dari rumah sakit ke jantung komunitas:

  1. Mudah: Petugas kesehatan di puskesmas atau posyandu dapat mendiagnosis SAM menggunakan pita pengukur lingkar lengan atas (LiLA).
  2. Cepat: Jika anak didiagnosis menderita SAM tetapi masih sadar dan memiliki nafsu makan (tanpa komplikasi medis), mereka tidak perlu dirawat inap.
  3. Berbasis Komunitas: Ibu atau pengasuh diberikan bekal RUTF yang cukup untuk satu minggu dan diajari cara memberikannya kepada anak di rumah. Mereka hanya perlu kembali setiap minggu untuk pemantauan berat badan dan mengambil bekal RUTF baru.

Pendekatan ini membebaskan kapasitas rumah sakit untuk menangani kasus-kasus paling parah (dengan komplikasi), sekaligus memberdayakan keluarga untuk merawat anak mereka sendiri.

Mengapa RUTF Begitu Efektif?

Keampuhan RUTF sebagai “senjata” melawan SAM terletak pada beberapa faktor kunci:

  • Padat Energi & Nutrisi: Dalam porsi kecil, RUTF mengandung kalori dan protein tinggi yang dibutuhkan untuk mengejar pertumbuhan (catch-up growth) secara cepat.
  • Disukai Anak: RUTF memiliki rasa manis dan gurih yang umumnya disukai anak-anak, sehingga tingkat kepatuhan konsumsi (compliance) menjadi tinggi.
  • Aman dan Tahan Lama: Kemasan kedap udara membuatnya tahan lama tanpa perlu pendingin dan melindunginya dari kontaminasi bakteri.
  • Tingkat Kesembuhan Tinggi: Program berbasis RUTF secara konsisten menunjukkan tingkat kesembuhan di atas 85-90%, jauh melampaui efektivitas program berbasis rumah sakit di masa lalu.

Peran Sentral WHO dan UNICEF

WHO dan UNICEF bukan hanya pendukung, tetapi juga motor penggerak utama di balik kesuksesan RUTF. WHO menyediakan pedoman teknis dan standar global untuk komposisi dan penggunaan RUTF. Sementara itu, UNICEF adalah pembeli RUTF terbesar di dunia. Melalui jaringannya, UNICEF mendistribusikan RUTF ke lebih dari 60 negara yang paling membutuhkan, memastikan bahwa inovasi penyelamat jiwa ini sampai ke tangan anak-anak yang paling rentan.

Kesimpulan

RUTF (Ready-to-Use Therapeutic Food) lebih dari sekadar produk makanan; ia adalah simbol harapan dan terobosan kesehatan masyarakat. Dengan memadukan ilmu gizi canggih dengan pendekatan berbasis komunitas yang praktis, RUTF telah menyelamatkan jutaan nyawa. Inovasi yang didorong oleh WHO dan UNICEF ini membuktikan bahwa solusi yang tampak sederhana makanan terapeutik dalam kemasan dapat menjadi senjata paling ampuh dalam perang melawan gizi buruk akut.

Referensi

1. Ciliberto, M. A., Ndekha, M. J., Manani, M., Ashorn, P., Briend, A., Ciliberto, H. M., & Manary, M. J. (2005). Comparison of home-based therapy with ready-to-use therapeutic food with standard therapy in the treatment of severely malnourished Malawian children: A controlled, clinical effectiveness trial. The American Journal of Clinical Nutrition, 81(4), 864–870. https://doi.org/10.1093/ajcn/81.4.864

2. Collins, S., Dent, N., Kerac, M., Thurstans, S., Nabwera, H., Saddal, T. K., & Nkhoma, E. (2006). Management of severe acute malnutrition in children. The Lancet, 368(9551), 1992–2000. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(06)69443-9

3. UNICEF. (n.d.). Ready-to-use therapeutic food (RUTF). UNICEF Supply Division. Diakses pada 4 November 2025, dari https://www.unicef.org/supply/media/1086/file/RUTF.pdf

4. World Health Organization. (2013). Guideline: Updates on the management of severe acute malnutrition in infants and children. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/97892415063285. World Health Organization, World Food Programme, UNICEF, & UN System Standing Committee on Nutrition. (2007). Community-based management of severe acute malnutrition: A joint statement. World Health Organization.

Kanker Serviks Bisa Dicegah, Anda Pegang Kendalinya!

Kanker Serviks Bisa Dicegah, Anda Pegang Kendalinya!

Dosen Prodi Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata

Sering dengar tentang kanker serviks? Mungkin terdengar menakutkan, dan memang ini adalah salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi perempuan di Indonesia. Namun, di tengah kekhawatiran itu, ada satu fakta luar biasa yang harus menjadi berita utama: kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang paling bisa dicegah.


Mengenal Musuh Tak Kasat Mata: Human Papillomavirus (HPV)

Sebelum membahas senjatanya, kita perlu kenal dulu dalang di balik sebagian besar kasus kanker serviks: Human Papillomavirus atau HPV.

Bayangkan HPV seperti virus umum lainnya yang mudah menular. Faktanya, mayoritas orang yang aktif secara seksual akan terpapar HPV di suatu titik dalam hidup mereka. Virus ini menular lewat kontak intim kulit-ke-kulit, sehingga penularannya sangat luas.

Kabar baiknya? Sistem kekebalan tubuh kita adalah pahlawan. Pada lebih dari 90% kasus, infeksi HPV akan sembuh dan hilang dengan sendirinya tanpa menyebabkan masalah. Namun, beberapa tipe HPV “berisiko tinggi” memiliki kemampuan untuk bersembunyi dan menetap di dalam tubuh selama bertahun-tahun. Infeksi persisten inilah yang berpotensi menyebabkan perubahan abnormal pada sel-sel di leher rahim (serviks), yang secara perlahan bisa berkembang menjadi sel prakanker, dan akhirnya menjadi kanker.

Penting untuk diingat, proses ini tidak terjadi dalam semalam. Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks bisa memakan waktu 10 hingga 20 tahun. Jendela waktu yang panjang inilah kesempatan emas kita untuk melakukan pencegahan dan deteksi dini.


Senjata #1: Vaksinasi HPV – Perisai Sejak Dini

Inilah langkah pencegahan primer yang paling transformatif. Anggap saja vaksin HPV seperti memberikan “cetak biru” musuh kepada sistem kekebalan tubuh Anda.

Bagaimana cara kerjanya? Vaksin ini mengandung partikel yang menyerupai virus HPV (namun tidak aktif dan tidak menyebabkan penyakit), yang memicu sistem imun untuk membentuk antibodi. Hasilnya, jika suatu saat tubuh terpapar virus HPV yang sesungguhnya, pasukan antibodi ini sudah siap siaga untuk menetralisirnya sebelum sempat menimbulkan infeksi kronis.

  1. Siapa target utamanya? Vaksin HPV memberikan perlindungan maksimal jika diberikan pada usia 9-14 tahun, sebelum seseorang mulai aktif secara seksual. Program imunisasi nasional di Indonesia bahkan sudah menargetkan anak perempuan usia sekolah dasar.
  2. Kenapa anak laki-laki juga penting divaksin? HPV tidak diskriminatif. Pada pria, virus ini dapat menyebabkan kanker anus, penis, serta kanker kepala dan leher. Memvaksinasi anak laki-laki tidak hanya melindungi mereka, tetapi juga menciptakan herd immunity (kekebalan komunitas) dan memutus rantai penularan kepada pasangan mereka di masa depan.
  3. Bagaimana jika sudah dewasa? Belum terlambat. Vaksinasi HPV tetap dianjurkan untuk individu hingga usia 26 tahun. Bahkan, orang dewasa di atas usia tersebut masih bisa mendapatkan manfaat, meskipun diskusikan terlebih dahulu dengan dokter Anda.

Senjata #2: Skrining Rutin – “Mata-Mata” Kesehatan Anda

Jika vaksinasi adalah perisai, maka skrining adalah “mata-mata” atau sistem deteksi dini Anda. Tujuan utamanya bukanlah untuk mencari kanker yang sudah jadi, tetapi untuk menemukan sel-sel abnormal (lesi prakanker) jauh sebelum mereka memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi ganas.

Peran bidan di komunitas sangatlah vital dalam menyukseskan program skrining ini. Institusi pendidikan seperti D3 Kebidanan FKIK Universitas Alma Ata membekali para mahasiswanya dengan keterampilan dan pengetahuan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya deteksi dini ini.

Ada dua metode skrining utama yang sangat efektif:

  1. Pap Smear (Sitologi Serviks): Prosedur ini mengambil sampel sel dari permukaan leher rahim untuk diperiksa di bawah mikroskop, guna mencari tanda-tanda perubahan sel yang tidak wajar.
  2. Tes HPV DNA: Tes yang lebih modern ini bekerja dengan cara mendeteksi materi genetik (DNA) dari tipe-tipe HPV berisiko tinggi langsung dari sampel sel serviks.

Jangan biarkan rasa takut atau malu menghalangi Anda. Proses skrining berlangsung cepat, dan rasa tidak nyaman yang mungkin timbul tidak sebanding dengan perlindungan jiwa yang diberikannya.


Ambil Kendali Sekarang Juga

Kesehatan reproduksi adalah hak dan tanggung jawab kita. Kanker serviks memang penyakit serius, tetapi pengetahuan memberi kita kekuatan untuk melawannya.

  1. Untuk Para Orang Tua: Pastikan anak perempuan (dan jika memungkinkan, anak laki-laki) Anda mendapatkan vaksinasi HPV sesuai jadwal program imunisasi.
  2. Untuk Semua Wanita Dewasa: Jadikan skrining serviks sebagai bagian rutin dari agenda kesehatan Anda. Bicarakan dengan dokter atau bidan. Tenaga kesehatan yang kompeten, termasuk para lulusan dari D3 Kebidanan FKIK Universitas Alma Ata, dibekali pengetahuan untuk memberikan informasi akurat dan membantu Anda.
  3. Untuk Kita Semua: Sebarkan informasi akurat ini. Edukasi adalah vaksin sosial yang mematahkan stigma dan mendorong tindakan preventif.

Dengan dua langkah sederhana—vaksinasi dan skrining rutin—kita dapat secara kolektif mengubah narasi kanker serviks dari sebuah ancaman menjadi sebuah kemenangan kesehatan publik.

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization (WHO). (2022). Cervical cancer. Diakses dari https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cervical-cancer
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Cegah Kanker Serviks dengan Deteksi Dini dan Vaksinasi HPV. Diakses dari https://www.kemkes.go.id/article/view/23012500001/cegah-kanker-serviks-dengan-deteksi-dini-dan-vaksinasi-hpv.html
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2023). HPV Vaccine Information For Young Women. Diakses dari https://www.cdc.gov/std/hpv/stdfact-hpv-vaccine-young-women.htm
  4. American Cancer Society. (2021). Cervical Cancer Prevention and Early Detection. Diakses dari https://www.cancer.org/cancer/types/cervical-cancer/detection-diagnosis-staging/prevention.html

Arbyn, M., et al. (2020). “Evidence regarding human papillomavirus testing in secondary prevention of cervical cancer.” Vaccine, 38(Suppl 1), F7–F22. https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2019.07.081

By : Bdn. Nelli Yendena, M.Keb

Mahasiswa S1 Kebidanan Alma Ata Raih Prestasi Khataman Bil Ghaib 30 Juz, Bukti Integrasi Akademik dan Spiritualitas

Mahasiswa S1 Kebidanan Alma Ata Raih Prestasi Khataman Bil Ghaib 30 Juz, Bukti Integrasi Akademik dan Spiritualitas

Selamat dan sukses kepada Wahidatun Ni’mah, mahasiswa S1 Kebidanan angkatan 2023, atas pencapaian istimewanya menyelesaikan Khataman Bil Ghaib 30 Juz di Pondok Ndalem Dongkelan. Perjalanan menghafal Al-Qur’an yang ditempuh selama 2 tahun, 4 bulan, dan 13 hari ini menjadi bukti ketekunan dan komitmen luar biasa. Kegiatan Khotmil Qur’an yang diikuti oleh 24 peserta tersebut dilaksanakan di Hotel Burza, Jl. Jogokaryan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, pada Sabtu, 06 Desember 2025. Semoga capaian ini membawa keberkahan, memperkuat karakter, serta menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa Universitas Alma Ata.

Ingin menjadi Sarjana Bidan namun tetap bisa menjadi penghafal Al-Qur’an? Program Studi S1 Kebidanan Universitas Alma Ata siap membersamai Anda dengan pembelajaran yang komprehensif.
Para dosen expert di bidang Ilmu Kebidanan siap membersamai anda untuk memahami teori dan praktik kebidanan berbasis evidence-based sehingga mampu memberikan pelayanan profesional dan ilmiah sehingga mampu mengambil keputusan klinis secara tepat.

Jadilah Sarjana Bidan profesional yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi memahami sains di balik praktik kebidanan dan islami.

Wujudkan passion Anda bersama Universitas Alma Ata.

Kupas Dinamika Profesi, Prodi DIII Kebidanan FKIK  Universitas Alma Ata Gelar Sharing Session “Pengembangan Karir Bidan di Rumah Sakit”

Kupas Dinamika Profesi, Prodi DIII Kebidanan FKIK  Universitas Alma Ata Gelar Sharing Session “Pengembangan Karir Bidan di Rumah Sakit”

YOGYAKARTA – Program Studi Diploma Tiga Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata (UAA) Yogyakarta, sukses menyelenggarakan Sharing Session  pada Mata Kuliah Konsep Kebidanan bertajuk “Pengembangan Karir Bidan di Rumah Sakit”. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (25/11/2025) ini menghadirkan praktisi rumah sakit, Elvira Vita Auliana, A.Md.Keb, sebagai narasumber utama.

Dosen penanggungjawab Mata Kuliah Konsep Kebidanan, Bdn. Nelli Yendena, M.Keb, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menjembatani teori akademik dengan realita lapangan. “Mahasiswa perlu memahami bahwa peran bidan di rumah sakit sangat dinamis. Melalui sesi ini, kami ingin membuka wawasan mereka tentang integrasi filosofi kebidanan dalam praktik klinis serta dampaknya terhadap sistem karir,” ungkap Nelli.

Dalam paparannya, Elvira menekankan bahwa karir bidan di rumah sakit memiliki jenjang fungsional yang terstruktur, mulai dari Bidan Pelaksana, Pengelola, Pendidik (Preceptor), hingga Bidan Peneliti. Ia juga menjabarkan tiga pilar wewenang bidan—Mandiri, Kolaborasi, dan Rujukan—yang menjadi fondasi pelayanan di berbagai unit seperti IGD, Poli Obsgyn, VK, hingga Perinatal/NICU.

Poin menarik yang diangkat adalah integrasi idealisme profesi dengan kesejahteraan. Elvira menjelaskan bahwa penerapan Falsafah Women-Centered Care kini menjadi indikator penilaian kinerja. Artinya, bidan yang mampu memberikan asuhan humanis dan beretika tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan, tetapi juga berpeluang mendapatkan remunerasi dan promosi jabatan yang lebih baik.

“Kompetensi teknis (hard skill) itu mutlak, namun soft skill dan etika adalah kunci menaiki tangga karir. Rumah sakit membutuhkan bidan yang mampu memanusiakan pasien dalam kondisi apapun,” tegas Elvira di hadapan mahasiswa.

Menanggapi antusiasme mahasiswa, Ketua Program Studi DIII Kebidanan FKIK UAA, Dyah Pradnya Paramita, SST., M.Kes, menyampaikan apresiasinya. Ia menegaskan komitmen prodi untuk terus mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga siap kerja.

“Pemahaman mendalam mengenai struktur karir, wewenang, dan etika profesi ini sangat krusial. Harapannya, lulusan D3 Kebidanan UAA tidak canggung dan siap berkompetisi merebut peluang strategis di tatanan pelayanan kesehatan rujukan,” ujar Dyah Pradnya menutup kegiatan.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif mengenai strategi pertolongan pertama pada kegawatdaruratan maternal dan neonatal. Melalui diskusi ini, para mahasiswa D3 Kebidanan dapat memperdalam pemahaman pada keterampilan dasar sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi situasi darurat pada kasus nyata di lapangan. Interaksi yang terjadi tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga meneguhkan kesiapan mereka sebagai calon bidan untuk memberikan asuhan kebidanan yang cepat, tepat, dan aman pada ibu dan bayi dalam kondisi gawat darurat.


Keterangan Foto:

  1. Foto Utama: Foto bersama Narasumber (Elvira Vita Auliana), Kaprodi (Dyah Pradnya), PJ MK (Nelli Yendena), dan mahasiswa.
  1. Foto Pendukung: Suasana pemaparan materi mengenai jenjang karir dan wewenang bidan.

Tags: #UniversitasAlmaAta #DIIIKebidananUAA #KarirBidanRS #BidanProfesional #KonsepKebidanan #FKIKUAA