by Admin Kebidanan | Jul 9, 2026 | Berita S1 Profesi Bidan
Yogyakarta – Sebagai bentuk dukungan dan ikhtiar bersama dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi Uji Kompetensi Nasional (UKOMNAS) Bidan Tahun 2026, Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata menyelenggarakan kegiatan Doa Bersama yang diikuti oleh mahasiswa peserta UKOMNAS, dosen, dan sivitas akademika.
Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian persiapan yang dilakukan oleh Program Studi dalam mendampingi mahasiswa menjelang pelaksanaan uji kompetensi. Selain pembekalan akademik dan pendampingan intensif, aspek spiritual juga menjadi perhatian penting untuk membangun kesiapan mental, menumbuhkan rasa percaya diri, serta memohon keberkahan dan kemudahan kepada Allah SWT.
Dalam suasana yang penuh kekhusyukan, seluruh peserta bersama-sama memanjatkan doa agar mahasiswa diberikan kesehatan, ketenangan hati, kemudahan dalam mengerjakan setiap tahapan ujian, serta memperoleh hasil terbaik sesuai dengan usaha dan proses belajar yang telah dijalani selama masa pendidikan profesi.
Uji Kompetensi Nasional merupakan tahapan akhir yang harus dilalui oleh setiap mahasiswa Pendidikan Profesi Bidan sebagai salah satu syarat untuk membuktikan pencapaian kompetensi sebagai calon bidan profesional. Oleh karena itu, keberhasilan dalam menghadapi UKOMNAS tidak hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu dan keterampilan klinis, tetapi juga oleh kesiapan mental, emosional, dan spiritual.
Melalui kegiatan doa bersama ini, Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata berharap seluruh mahasiswa dapat mengikuti UKOMNAS dengan penuh keyakinan, ketenangan, dan semangat untuk memberikan performa terbaik. Kebersamaan antara mahasiswa dan dosen dalam memanjatkan doa juga mencerminkan komitmen Program Studi dalam mendampingi mahasiswa hingga menyelesaikan pendidikan profesinya.
Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh dosen serta sivitas akademika yang telah hadir dan memberikan dukungan kepada mahasiswa melalui kegiatan doa bersama ini. Semoga setiap doa yang dipanjatkan menjadi kekuatan, membawa keberkahan, serta mengantarkan seluruh peserta meraih kelulusan dengan hasil yang membanggakan.
Dengan semangat kebersamaan, ikhtiar yang maksimal, dan doa yang tulus, Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata optimis para calon bidan mampu melewati Uji Kompetensi Nasional Tahun 2026 dengan baik dan siap memberikan pelayanan kebidanan yang profesional, kompeten, serta berorientasi pada keselamatan ibu, bayi, dan keluarga.
by Admin Kebidanan | Jul 8, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dyah Pradnya Paramita, SST., M.Kes
Kelahiran bayi merupakan momen yang membahagiakan bagi sebuah keluarga. Namun, tidak sedikit ibu yang justru mengalami perubahan emosi setelah melahirkan. Mudah menangis, merasa cemas, atau kewalahan sering kali dianggap sebagai hal yang wajar. Padahal, kondisi tersebut bisa merupakan baby blues atau bahkan depresi pasca persalinan (postpartum depression). Oleh karenanya, memahami perbedaan kondisi tersebut sangat penting agar ibu memperoleh pertolongan yang tepat sedini mungkin.
Baby blues: umum terjadi setelah persalinan
baby blues adalah perubahan suasana hati ringan yang biasanya muncul pada 2–3 hari setelah melahirkan dan membaik dalam waktu kurang dari dua minggu. Kondisi ini dialami oleh sekitar 50–80% ibu pasca persalinan.
Gejala baby blues meliputi mudah menangis, sedih, cemas, sensitif, mudah tersinggung, serta merasa lelah atau kewalahan dalam merawat bayi. baby blues umumnya dipengaruhi oleh perubahan hormon, kurang tidur, kelelahan, dan proses adaptasi menjadi orang tua.
Dengan dukungan keluarga, istirahat yang cukup, dan bantuan dalam merawat bayi, sebagian besar ibu dapat pulih tanpa memerlukan pengobatan khusus.
Depresi pasca persalinan bukan sekedar perubahan suasana hati
Berbeda dengan baby blues, depresi pasca persalinan merupakan gangguan kesehatan mental yang memerlukan penanganan tenaga kesehatan. Gejalanya berlangsung lebih dari dua minggu dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain kesedihan yang berkepanjangan, kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur atau nafsu makan yang berat, merasa tidak berharga, sulit menjalin ikatan dengan bayi, hingga muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayinya.
Depresi pasca persalinan bukanlah tanda bahwa seorang ibu lemah atau tidak bersyukur. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis, psikologis, dan sosial sehingga membutuhkan dukungan serta penanganan yang tepat.
Pemerintah kini turut memantau kesehatan mental ibu
Kesehatan ibu setelah melahirkan tidak hanya dinilai dari kondisi fisiknya. Menurut Dyah, Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, saat ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah memasukkan skrining kesehatan jiwa sebagai bagian dari pelayanan kesehatan ibu. Skrining dilakukan dua kali selama kehamilan dan satu kali pada masa nifas, yaitu saat kunjungan nifas ketiga (KF-3) pada 8–28 hari setelah persalinan. Program ini bertujuan mendeteksi dini masalah kesehatan mental sehingga ibu yang berisiko mengalami depresi dapat segera memperoleh konseling, pendampingan, atau rujukan sesuai kebutuhannya. Dyah berpesan agar ibu nifas rutin melakukan kunjungan ulang ke Puskesmas/ Fasilitas Kesehatan sesuai jadwalnya untuk memantau pemulihan fisik dan kesehatan mentalnya.
Peran bidan sangat penting
Bidan merupakan tenaga kesehatan yang mendampingi perempuan sejak masa kehamilan, persalinan, hingga nifas. Pada setiap kunjungan, bidan tidak hanya memeriksa kondisi fisik ibu dan bayi, tetapi juga menanyakan keadaan emosional ibu, memberikan edukasi kepada keluarga, serta melakukan skrining kesehatan mental sesuai pedoman pelayanan.
Apabila ditemukan tanda-tanda depresi pasca persalinan, bidan akan memberikan konseling awal dan merujuk ibu ke tenaga kesehatan yang kompeten agar memperoleh penanganan lebih lanjut. Dukungan suami dan keluarga juga sangat berperan dalam proses pemulihan.
Jangan ragu mencari bantuan
Menjadi ibu adalah proses adaptasi yang tidak selalu mudah. Jika perasaan sedih, cemas, atau putus asa berlangsung lebih dari dua minggu, jangan menghadapinya sendirian. Segera konsultasi dengan bidan atau tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Kesehatan mental ibu sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Deteksi dini, dukungan keluarga, dan pendampingan tenaga kesehatan dapat membantu ibu melewati masa nifas dengan lebih sehat, sehingga ia dapat memberikan pengasuhan terbaik bagi buah hatinya.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu dan anak yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Referensi:
1. World Health Organization. (2025). Maternal mental health.
2. American College of Obstetricians and Gynecologists. (2023). Clinical Practice Guideline No. 4: Screening and Diagnosis of Mental Health Conditions During Pregnancy and Postpartum.
3. National Institute for Health and Care Excellence. (2020). Antenatal and Postnatal Mental Health: Clinical Management and Service Guidance.
4. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Depression Among Women.
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Skrining Kesehatan Jiwa Minimal Setahun Sekali.
6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir.
by Admin Kebidanan | Jul 7, 2026 | Artikel S1 Profesi Bidan
Memasuki tahun ajaran baru, banyak orang tua disibukkan dengan berbagai persiapan seperti membeli seragam, tas, dan perlengkapan sekolah. Namun, di balik berbagai persiapan tersebut, terdapat hal yang tidak kalah penting, yaitu memastikan anak benar-benar siap secara fisik, mental, dan perkembangan untuk menghadapi lingkungan sekolah yang baru.
Menurut Dosen Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata , Indah Wijayanti, S.ST., M.Keb., Bdn., hari pertama sekolah merupakan fase transisi penting dalam kehidupan anak. Perpindahan dari lingkungan rumah yang nyaman menuju lingkungan belajar yang lebih dinamis memerlukan kesiapan yang menyeluruh agar proses adaptasi berjalan optimal.
“Hari pertama sekolah bukan sekadar mengenakan seragam baru atau membawa tas baru. Ini adalah langkah besar bagi anak untuk mulai belajar mandiri, berinteraksi dengan teman sebaya, mengikuti aturan, serta menghadapi berbagai tantangan baru. Oleh karena itu, orang tua perlu memastikan bahwa kesiapan anak tidak hanya dilihat dari aspek akademik, tetapi juga kesehatan, perkembangan, dan kesiapan emosionalnya,” ujar Indah.
Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif kebidanan komunitas, kesiapan anak memasuki sekolah dapat dilihat dari tiga aspek utama, yaitu kesehatan dan imunitas, tumbuh kembang serta kemandirian, dan kesiapan psikososial. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam mendukung keberhasilan anak beradaptasi di lingkungan sekolah.
Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah kondisi kesehatan anak. Ketika mulai bersekolah, anak akan berinteraksi dengan banyak teman sehingga risiko tertular berbagai penyakit infeksi, seperti influenza, batuk pilek, cacar air, maupun gangguan saluran pencernaan menjadi lebih tinggi.
“Orang tua perlu memastikan bahwa imunisasi dasar maupun lanjutan anak telah lengkap sesuai usianya. Selain itu, anak juga perlu dibiasakan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan menggunakan sabun dengan benar, menjaga kebersihan diri, serta menerapkan etika batuk dan bersin. Kebiasaan sederhana ini menjadi benteng pertama dalam mencegah penularan penyakit di lingkungan sekolah,” jelasnya.
Selain kesehatan, kesiapan perkembangan motorik dan kemandirian juga memegang peranan penting. Indah menjelaskan bahwa anak usia prasekolah idealnya telah memiliki kemampuan dasar untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
“Anak yang siap masuk sekolah sebaiknya sudah mampu menggunakan toilet sendiri, mengungkapkan kebutuhan buang air kepada guru, membuka bekal makanan secara mandiri, memegang pensil dengan baik, hingga melakukan aktivitas motorik halus seperti menggunting atau mewarnai. Keterampilan tersebut akan membantu anak lebih percaya diri saat mengikuti kegiatan belajar di kelas,” katanya.
Menurutnya, bidan dapat membantu orang tua melakukan deteksi dini tumbuh kembang melalui pemantauan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Dengan demikian, apabila ditemukan keterlambatan perkembangan, stimulasi dapat segera diberikan sebelum anak memasuki jenjang sekolah.
Tidak hanya itu, aspek nutrisi juga menjadi faktor penting yang sering kali terabaikan. Perubahan rutinitas sekolah membuat anak membutuhkan energi yang cukup agar mampu berkonsentrasi selama mengikuti proses pembelajaran.
“Biasakan anak sarapan sebelum berangkat sekolah. Pilih menu yang mengandung protein seperti telur, ikan, susu, atau sumber protein lainnya karena mampu memberikan rasa kenyang lebih lama dan membantu menjaga konsentrasi anak selama belajar. Selain itu, kebutuhan zat besi dan zinc juga harus dipenuhi karena berperan penting dalam mendukung fungsi otak, daya tahan tubuh, serta perkembangan kognitif anak,” ungkap Indah.
Ia menambahkan bahwa selain kesiapan fisik, kesiapan emosional juga menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan adaptasi anak di sekolah. Tidak sedikit anak mengalami separation anxiety atau kecemasan saat harus berpisah dengan orang tua pada hari-hari pertama sekolah.
“Perasaan cemas merupakan hal yang wajar. Yang perlu dilakukan orang tua adalah membantu anak mengenal rutinitas sekolah sejak beberapa minggu sebelumnya, mulai dari mengatur jam tidur dan bangun, membiasakan memakai seragam, hingga mengajak anak bercerita mengenai pengalaman menyenangkan yang akan ditemuinya di sekolah,” jelasnya.
Indah juga mengingatkan agar orang tua menghindari penggunaan kalimat yang bernada ancaman ketika mengenalkan sekolah kepada anak.
“Hindari ucapan seperti ‘kalau nakal nanti dimarahi guru’. Sebaliknya, bangun persepsi positif bahwa sekolah adalah tempat bermain, belajar, dan bertemu teman baru. Lingkungan emosional yang positif akan membuat anak lebih siap menghadapi masa transisi ini,” tambahnya.
Menurut Indah, kesiapan masuk sekolah sebenarnya merupakan hasil dari proses pengasuhan dan pemantauan tumbuh kembang yang berlangsung sejak masa seribu hari pertama kehidupan hingga usia prasekolah. Oleh karena itu, peran orang tua, bidan, tenaga kesehatan, dan pendidik perlu berjalan secara beriringan untuk mendukung perkembangan anak secara optimal.
“Kesiapan anak memasuki sekolah bukan hanya tentang kemampuan membaca atau berhitung, tetapi juga kesiapan fisik, kesehatan, perkembangan motorik, kemampuan bersosialisasi, dan ketahanan emosional. Ketika seluruh aspek tersebut dipersiapkan dengan baik, anak akan lebih mudah beradaptasi, merasa percaya diri, serta menikmati pengalaman belajar di sekolah,” tutup Indah.
by Admin Kebidanan | Jul 6, 2026 | Artikel D3
Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb
Bagi perempuan muda modern, akhir pekan sering kali dijadikan ajang balas dendam untuk tidur seharian demi mengganti waktu begadang selama hari kerja. Fenomena bergesernya jam tidur antara hari kerja dan hari libur ini dikenal di dunia medis sebagai Social Jetlag.
Meskipun terdengar sepele karena Anda merasa kuantitas tidur Anda tercukupi, social jetlag ternyata memicu gangguan kesehatan yang serius. Di media sosial, kondisi ini disebut-sebut sebagai biang kerok utama glow down instan. Lebih dari sekadar masalah kecantikan, kekacauan jam tidur ini secara ilmiah terbukti membajak produksi melatonin dan merusak keseimbangan hormon perempuan.
Apa itu Social Jetlag dan Bagaimana Ia Merusak Kulit?
Social jetlag terjadi ketika ada perbedaan fluktuasi jam tidur yang kontras. Misalnya, dari Senin hingga Jumat Anda tidur jam 11 malam dan bangun jam 5 pagi, namun di hari Sabtu dan Minggu Anda baru tidur jam 2 pagi dan bangun jam 11 siang. Perubahan ini membuat jam biologis (ritme sirkadian) tubuh mengalami disorientasi, mirip seperti orang yang baru saja terbang melewati perbedaan zona waktu.
Dampak visualnya pada tubuh sangat instan:
- Penurunan Kualitas Melatonin: Melatonin bukan sekadar hormon tidur, melainkan antioksidan alami terkuat yang dimiliki tubuh untuk memperbaiki sel-sel kulit yang rusak. Ketika polanya dikacaukan, kulit kehilangan kemampuan alami untuk beregenerasi di malam hari, memicu kulit kusam, kantung mata menghitam, dan penuaan dini.
- Peradangan Kulit (Skin Barrier Rusak): Gangguan sirkadian meningkatkan sensitivitas kulit terhadap stres lingkungan, menyebabkan pelindung kulit (skin barrier) melemah sehingga jerawat lebih mudah meradang.
Selain membuat penampilan fisik tampak lelah, social jetlag kronis memiliki efek domino yang berbahaya pada kesehatan reproduksi perempuan. Kelenjar pineal di otak memproduksi melatonin yang juga bertugas mengatur pelepasan hormon reproduksi.
Ketika produksi melatonin terganggu secara konsisten:
- Jalur komunikasi antara otak dan ovarium menjadi kacau.
- Kadar hormon estrogen dan progesteron menjadi tidak seimbang, memicu menstrual distress (nyeri haid hebat) hingga siklus menstruasi yang tidak teratur.
- Tubuh mengalami resistensi insulin ringan yang membuat Anda lebih mudah lapar dan mengidam makanan manis di hari berikutnya.
Keterkaitan erat antara kualitas tidur, kesehatan kulit, dan stabilitas hormonal membuktikan bahwa kesehatan reproduksi perempuan tidak bisa dipisahkan dari gaya hidupnya sehari-hari. Di era digital ini, fungsi strategis seorang Bidan telah meluas menjadi konselor kesehatan yang holistik bagi perempuan.
Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA), kami mendidik para mahasiswa untuk tidak hanya cekatan dalam aspek klinis persalinan, melainkan juga peka terhadap isu-isu kesehatan preventif kontemporer. Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan merupakan salah satu yang terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA selalu konsisten mencetak lulusan yang inovatif, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta mampu menjadi mitra terpercaya bagi perempuan Indonesia.
Konsistensi adalah Kunci Glow Up yang Sesungguhnya
Tidur yang cukup bukan tentang membalas dendam di akhir pekan, melainkan tentang menjaga konsistensi jam tidur dan jam bangun setiap hari. Dengan menghormati ritme sirkadian tubuh, Anda tidak hanya berinvestasi pada kulit yang bersih dan cerah, tetapi juga pada kesehatan organ reproduksi jangka panjang.
Ingin menjadi tenaga kesehatan profesional yang cerdas, memahami sains hormonal, dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat? Mari bergabung bersama D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Kuliah singkat 3 tahun dengan kurikulum unggulan, siap mengantarkan Anda menuju karier yang cemerlang di dunia kesehatan modern!
Referensi:
- Wittmann, M., et al. (2006). Social jetlag: misalignment of biological and social time. Chronobiology International, 23(1-2), 497-509.
- Roenneberg, T., et al. (2012). Social jetlag and obesity. Current Biology, 22(10), 939-943.
- The Lancet Diabetes & Endocrinology. The Circadian Clock in Reproductive Health and Metabolic Homeostasis.
by Admin Kebidanan | Jul 3, 2026 | Artikel D3
Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb.
Camilan manis dan gurih yang estetik memang sangat menggoda untuk dicoba demi konten atau sekadar memuaskan lidah. Namun, pernahkah Anda merasa mengantuk berat, lemas, dan mendadak bad mood sekitar 1 hingga 2 jam setelah mengonsumsi makanan manis tersebut? Kondisi ini dikenal sebagai energy crash akibat Glucose Spike.
Saat kita mengkonsumsi makanan tinggi karbohidrat olahan dan gula murni, kadar glukosa dalam darah akan melonjak tajam secara instan. Tubuh yang panik kemudian akan memproduksi hormon insulin dalam jumlah besar untuk menurunkan gula darah tersebut secara drastis. Lonjakan dan penurunan ekstrem inilah yang merusak kestabilan energi harian kita.
Dampak Glucose Spike terhadap Kesehatan Reproduksi Perempuan
Bagi perempuan, gula bukan sekadar urusan kalori atau berat badan. Insulin memiliki hubungan emosional yang sangat erat dengan hormon reproduksi. Sering mengalami glucose spike akibat mengikuti tren makanan viral dapat memicu bahaya laten:
- Hiperandrogenisme (Lonjakan Hormon Maskulin): Kadar insulin yang terus-menerus tinggi akibat konsumsi gula akan merangsang ovarium (indung telur) untuk memproduksi hormon androgen (hormon laki-laki) secara berlebihan.
- Siklus Haid Berantakan & Jerawat Hormonal: Tingginya hormon androgen ini menyebabkan sel telur sulit matang (gejala mirip PCOS), memicu siklus haid yang tidak teratur, hingga munculnya jerawat meradang di area rahang.
- Kelelahan Kronis dan Brain Fog: Energi tubuh yang tidak stabil membuat remaja putri dan perempuan dewasa sering merasa lelah mental, sulit fokus, dan mengalami kecemasan.
Trik Cerdas Menikmati Kuliner Tanpa Glucose Spike
Anda tidak perlu mengisolasi diri dari lingkungan dan sama sekali dilarang mencicipi makanan viral. Tren kesehatan terkini mengenalkan konsep “Food Sequencing” (Urutan Makan) untuk meredam lonjakan gula darah:
- Makan Serat Terlebih Dahulu: Sebelum menyantap camilan manis, makanlah sayur atau buah berbiang serat. Serat akan membentuk lapisan di usus yang memperlambat penyerapan glukosa.
- Tambahkan Protein dan Lemak Sehat: Konsumsi protein (seperti telur atau ayam) sebelum makanan manis untuk menjaga gula darah tetap stabil.
- Gunakan Rumus Aturan 20 Menit: Berjalan kakilah selama 15–20 menit setelah makan makanan tinggi gula untuk membantu otot menyerap glukosa secara langsung tanpa membebani kerja insulin.
Keterkaitan erat antara apa yang kita makan dengan kesehatan organ reproduksi membuktikan bahwa peran seorang Bidan sangat luas. Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA), kami membekali mahasiswa dengan kurikulum holistik yang mencakup Gizi Reproduksi dan Promosi Kesehatan kontemporer. Mahasiswa kami dilatih untuk tanggap terhadap tren pemenuhan nutrisi modern, sehingga saat lulus nanti, mereka mampu menjadi konselor handal yang dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga pola makan demi keseimbangan hormonal.
Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan merupakan salah satu yang terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya mahir secara klinis, tetapi juga adaptif terhadap isu-isu kesehatan modern yang sedang viral di masyarakat.
Menikmati makanan viral boleh-boleh saja, namun pastikan kita bijak dalam mengontrol frekuensi dan cara mengkonsumsinya. Kesehatan hormonal hari ini adalah cermin dari kualitas hidup dan kesuburan kita di masa depan.
Tertarik untuk mempelajari rahasia kesehatan perempuan secara mendalam dan menjadi tenaga medis yang berdampak nyata? Mari bergabung bersama D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Kuliah singkat 3 tahun dengan fasilitas lengkap, siap mengantarkan Anda menjadi bidan profesional, berwawasan luas, dan berdaya saing global!
Referensi:
Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Gizi Seimbang dalam Pencegahan Penyakit Tidak Menular dan Gangguan Hormonal.
Inchauspé, J. (2022). Glucose Revolution: The Life-Changing Power of Balancing Your Blood Sugar. Short Books.
Marshall, J. C., & Dunaif, A. (2012). Should all women with PCOS be treated for insulin resistance? Fertility and Sterility, 97(1), 18-22.