by Admin Kebidanan | Jul 23, 2026 | Artikel S1 Profesi Bidan
Oleh Lia Dian Ayuningrum
Sebagian orang tua masih merasa khawatir ketika melihat anak berbicara sendiri saat bermain. Tidak sedikit yang menganggap kebiasaan tersebut sebagai perilaku yang aneh atau pertanda adanya gangguan perkembangan. Padahal, dalam kajian psikologi perkembangan, perilaku tersebut merupakan bagian normal dari proses belajar anak yang dikenal sebagai private speech.
Fenomena ini menjadi perhatian Dosen Prodi Sarjana & Profesi Bidan Alma Ata, Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb, yang mengajak masyarakat untuk memahami bahwa private speech merupakan salah satu indikator perkembangan kognitif yang sehat. Menurutnya, selama muncul pada konteks yang wajar, seperti ketika anak bermain atau menyelesaikan tugas, perilaku tersebut justru perlu didukung, bukan dihentikan.
“Ketika anak berbicara kepada dirinya sendiri saat bermain, sebenarnya ia sedang menyusun cara berpikirnya. Anak sedang belajar merencanakan tindakan, mengatur perilaku, sekaligus memecahkan masalah yang sedang dihadapinya,” jelas Dian.
Ia menjelaskan bahwa konsep private speech pertama kali diperkenalkan oleh psikolog perkembangan Lev Vygotsky. Dalam teorinya, Vygotsky menyebut bahwa ucapan yang diarahkan kepada diri sendiri merupakan alat berpikir sekaligus mekanisme regulasi diri yang membantu anak mengendalikan perilaku selama proses belajar.
Menurut Vygotsky, perkembangan bahasa anak berlangsung melalui beberapa tahapan, dimulai dari bahasa sosial yang berkembang sejak usia sekitar dua tahun, kemudian private speech, hingga akhirnya menjadi inner speech atau bicara batin yang berkembang lebih matang sekitar usia tujuh tahun. Dengan demikian, kebiasaan anak berbicara sendiri merupakan tahapan alami sebelum mereka mampu mengatur proses berpikir secara internal sebagaimana orang dewasa.
Lebih lanjut, Dian menjelaskan bahwa manfaat private speech tidak hanya didasarkan pada teori, tetapi juga telah didukung oleh berbagai hasil penelitian. Salah satunya adalah penelitian Berk dan Spuhl (1995) yang menunjukkan bahwa private speech berkembang secara konsisten pada anak dengan perkembangan normal serta berkaitan dengan kemampuan mereka dalam menyelesaikan berbagai tugas.
Berbagai kajian ilmiah juga menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan private speech dengan performa anak saat menghadapi tantangan. Anak yang lebih sering menggunakan private speech ketika mengerjakan tugas cenderung menunjukkan kemampuan penyelesaian masalah yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak melakukannya.
Selain membantu meningkatkan kemampuan berpikir, private speech juga diketahui berperan dalam mengembangkan imajinasi, melatih kemampuan memecahkan masalah, serta membantu anak mengorganisasi pikirannya. Menariknya, perilaku ini paling sering muncul ketika anak menghadapi situasi yang menantang, bukan ketika mereka mengalami kebingungan tanpa arah.
“Justru saat anak sedang kesulitan menyusun balok, menggambar, atau menyelesaikan permainan tertentu, mereka akan berbicara kepada dirinya sendiri untuk membantu menemukan solusi. Itu menunjukkan bahwa otaknya sedang bekerja aktif,” ungkapnya.
Menurut Dian, terdapat beberapa manfaat penting dari private speech bagi perkembangan anak. Pertama, perilaku tersebut membantu anak belajar mengarahkan dirinya sendiri tanpa selalu bergantung pada instruksi orang dewasa. Kedua, private speech menjadi jembatan menuju berkembangnya kemampuan berpikir yang lebih matang, termasuk kemampuan berpikir dalam hati (inner speech) yang akan mendukung proses belajar di masa depan. Ketiga, kebiasaan tersebut menjadi indikator bahwa anak sedang mengembangkan kemampuan regulasi diri yang penting bagi keberhasilan akademik maupun kehidupan sehari-hari.
Selain berkaitan dengan perkembangan kognitif, private speech juga dipengaruhi oleh lingkungan pengasuhan. Dian menjelaskan bahwa anak cenderung lebih bebas berbicara kepada dirinya sendiri ketika merasa aman, nyaman, dan diterima di lingkungan keluarga.
Hal tersebut didukung oleh penelitian Wall, Mulvihill, Matthews, Dux, dan Carroll yang dipublikasikan dalam Journal of Child Language (2024). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh hangat, responsif, dan mendukung kemandirian lebih sering menggunakan private speech yang berisi perencanaan maupun motivasi diri ketika mengerjakan tugas yang menantang. Sebaliknya, pola asuh yang terlalu mengontrol atau kurang responsif tidak menunjukkan hubungan yang sama.
Menurut Dian, temuan tersebut memperkuat teori Vygotsky bahwa bahasa yang awalnya berasal dari interaksi antara orang tua dan anak lambat laun akan diinternalisasi menjadi suara yang digunakan anak untuk membimbing dirinya sendiri.
“Kalimat-kalimat yang sering diucapkan orang tua, seperti ‘coba pelan-pelan’, ‘ayo kamu pasti bisa’, atau ‘kita pikirkan dulu’, perlahan menjadi suara yang dipakai anak untuk mengarahkan dirinya sendiri ketika menghadapi tantangan,” jelasnya.
Temuan serupa juga diperlihatkan dalam penelitian longitudinal Whedon, Perry, Curtis, dan Bell yang dipublikasikan di Early Childhood Research Quarterly (2021). Studi tersebut menemukan bahwa private speech pada usia tiga tahun berkaitan dengan kemampuan kontrol diri pada usia empat tahun, yang selanjutnya berhubungan dengan kemampuan regulasi emosi ketika anak berusia sembilan tahun. Hasil tersebut menunjukkan bahwa manfaat private speech tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga berkontribusi terhadap perkembangan sosial dan emosional anak di masa mendatang.
Berdasarkan berbagai temuan ilmiah tersebut, Dian mengimbau para orang tua untuk tidak terburu-buru menegur anak ketika melihat mereka berbicara sendiri saat bermain. Sebaliknya, orang tua disarankan memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan proses berpikirnya secara alami.
“Orang tua tidak perlu khawatir selama perilaku tersebut muncul dalam situasi yang wajar. Biarkan anak menyelesaikan ‘percakapannya’ sendiri karena pada saat itulah ia sedang belajar berpikir dan mengatur dirinya. Orang tua juga dapat memberikan contoh dengan sesekali berpikir keras (thinking aloud) saat menyelesaikan suatu masalah agar anak melihat bahwa berbicara kepada diri sendiri merupakan strategi yang normal dalam proses berpikir,” ujarnya.
Sebagai akademisi di bidang psikologi perkembangan, Dian berharap masyarakat semakin memahami bahwa private speech merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Edukasi yang tepat diharapkan dapat mengurangi kesalahpahaman sehingga orang tua mampu memberikan dukungan yang lebih optimal terhadap perkembangan kognitif dan emosional anak.
“Private speech bukanlah kebiasaan yang perlu ditakuti. Sebaliknya, perilaku tersebut merupakan salah satu tanda bahwa anak sedang membangun kemampuan berpikir, belajar mengendalikan diri, dan mempersiapkan fondasi bagi perkembangan kognitif maupun emosionalnya di masa depan,” tutup Dian.
Referensi
- Wall, K., Mulvihill, A., Matthews, N., Dux, P. E., & Carroll, A. (2024/2026). Maternal parenting style and self-regulatory private speech content use in preschool children. Journal of Child Language, 53(1), 218–233.
- Whedon, M., Perry, N. B., Curtis, E. B., & Bell, M. A. (2021). Private speech and the development of self-regulation: The importance of temperamental anger. Early Childhood Research Quarterly, 56, 213–224.
- Day, K. L., Tan, L., & Smith, C. L. (2024). Preschoolers’ self-regulation: Private speech in cognitive and emotion contexts. Journal of Child and Family Studies, 33(5), 1437–1450.
- Gowrie NSW. Lev Vygotsky’s Theory of Child Development. Diakses dari gowriensw.com.au.
- Frontiers in Developmental Psychology (2025). Private speech among children with intellectual disabilities.
by Admin Kebidanan | Jul 22, 2026 | Artikel D3
Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.
Universitas Alma Ata, Juli 2026 – “Tidur nanti saja, tugas masih banyak.” Kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan remaja dan mahasiswa. Begadang demi menyelesaikan tugas, bermain gim, menonton serial, atau berselancar di media sosial sering dianggap sebagai hal yang biasa. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap kurang tidur sebagai tanda produktivitas. Padahal, kebiasaan tersebut dapat menyebabkan sleep debt atau utang tidur, yaitu kondisi ketika seseorang secara terus-menerus tidur lebih sedikit daripada kebutuhan tubuhnya.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tidur yang cukup merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental. Sementara itu, remaja berusia 13–18 tahun dianjurkan tidur sekitar 8–10 jam setiap malam agar proses pertumbuhan, perkembangan otak, dan fungsi tubuh berlangsung optimal.
Sayangnya, perkembangan teknologi membuat banyak remaja sulit melepaskan diri dari gawai sebelum tidur. Notifikasi media sosial, video pendek, hingga permainan daring sering kali membuat waktu tidur semakin larut. Akibatnya, tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat dan melakukan proses pemulihan.
Utang tidur tidak hanya menyebabkan rasa kantuk pada siang hari. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat menurunkan daya konsentrasi, kemampuan mengingat, prestasi belajar, kestabilan emosi, serta meningkatkan risiko kecemasan dan depresi. Dalam jangka panjang, kebiasaan kurang tidur juga dapat meningkatkan risiko obesitas, gangguan metabolisme, hipertensi, dan penyakit kronis lainnya.
Selain itu, kurang tidur dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi remaja. Ketidakseimbangan hormon akibat pola tidur yang buruk dapat mengganggu siklus menstruasi pada remaja putri, menurunkan daya tahan tubuh, serta memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu, menjaga pola tidur merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan reproduksi sejak usia remaja.
Lalu, bagaimana cara menghindari utang tidur? Langkah pertama adalah membuat jadwal tidur yang teratur, termasuk pada akhir pekan. Remaja juga dianjurkan menghentikan penggunaan gawai setidaknya 30–60 menit sebelum tidur, menghindari konsumsi minuman berkafein pada malam hari, serta menciptakan suasana kamar yang nyaman untuk beristirahat.
Menjaga kesehatan fisik melalui pola makan bergizi dan aktivitas fisik yang teratur turut berperan dalam meningkatkan kualitas tidur. Berolahraga secara rutin pada pagi atau sore hari dapat membantu tubuh lebih rileks pada malam hari. Sebaliknya, aktivitas fisik yang terlalu berat menjelang waktu tidur sebaiknya dihindari karena justru dapat membuat tubuh tetap terjaga.
Remaja juga perlu memahami bahwa tidur bukanlah tanda kemalasan, melainkan kebutuhan biologis yang sangat penting. Saat tidur, otak memproses informasi yang telah dipelajari, memperkuat daya ingat, memperbaiki jaringan tubuh, serta menjaga keseimbangan hormon dan sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, mengurangi waktu tidur secara terus-menerus demi bermain media sosial, bermain gim, atau mengejar tugas bukanlah pilihan yang bijaksana.
Apabila remaja sering mengalami kesulitan tidur, mengantuk berlebihan pada siang hari, atau merasa kelelahan meskipun telah tidur cukup lama, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Deteksi dan penanganan sejak dini dapat membantu mencegah gangguan tidur yang lebih serius sekaligus menjaga kesehatan fisik, mental, dan prestasi belajar. Tidur yang cukup bukan hanya membuat tubuh lebih segar, tetapi juga merupakan investasi penting untuk kesehatan dan masa depan remaja.
Menjadi produktif bukan berarti harus mengorbankan waktu tidur. Justru dengan istirahat yang cukup, tubuh dan otak dapat bekerja lebih optimal, sehingga prestasi belajar, kesehatan, dan kualitas hidup akan meningkat. Mari mulai hari ini, jadikan tidur sebagai investasi kesehatan, bukan sebagai waktu yang bisa terus dikurangi.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu, anak dan remaja yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- American Academy of Sleep Medicine. (2016). Recommended amount of sleep for pediatric populations: A consensus statement. Journal of Clinical Sleep Medicine, 12(6), 785–786.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Sleep in middle and high school students. https://www.cdc.gov/sleep
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan Remaja. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- United Nations Children’s Fund. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, Protecting and Caring for Children’s Mental Health. UNICEF.
- World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
by Admin Kebidanan | Jul 21, 2026 | Berita S1 Profesi Bidan
Bantul, 14 Juli 2026 – Program Sarjana Kebidanan, dan Profesi Bidan) Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata kembali melaksanakan kegiatan Sister School di SMAN 1 Bambanglipuro sebagai bagian dari program dosen mengajar yang telah terjalin secara berkelanjutan. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian program Dosen Mengajar yang sebelumnya telah diberikan kepada peserta didik, sebagai bentuk komitmen Universitas Alma Ata dalam mendukung peningkatan literasi kesehatan remaja melalui kolaborasi dengan sekolah.
Pada pelaksanaan kali ini, kegiatan menyasar siswa-siswi kelas XI dengan mengangkat tema “Aku Suka Dia, Lalu Harus Bagaimana? Cara Sehat Mengungkapkan Cinta dan Ketertarikan.” Tema tersebut dipilih karena masa remaja merupakan fase perkembangan yang ditandai dengan berbagai perubahan, baik fisik, psikologis, maupun sosial. Salah satu perubahan yang umum dialami adalah munculnya ketertarikan terhadap orang lain sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial, remaja dihadapkan pada beragam informasi dan pengaruh mengenai hubungan romantis yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai kesehatan maupun perkembangan psikologis mereka. Kondisi ini menuntut adanya edukasi yang tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membekali remaja dengan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi secara sehat, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Melalui materi yang disampaikan, dosen Program Studi Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata mengajak peserta memahami bahwa rasa suka merupakan bagian yang wajar dari perkembangan remaja. Namun, perasaan tersebut perlu diekspresikan secara positif dengan tetap menghormati diri sendiri maupun orang lain. Materi membahas berbagai aspek penting, mulai dari mengenali perbedaan antara rasa kagum, suka, dan cinta, memahami pentingnya komunikasi yang asertif, menghargai batasan pribadi (personal boundaries) dan persetujuan (consent), hingga mengenali karakteristik hubungan yang sehat dan hubungan yang tidak sehat. Selain penyampaian materi, siswa juga diajak berdiskusi mengenai berbagai situasi yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara menyampaikan ketertarikan dengan sopan, menghadapi penolakan secara dewasa, menghindari tekanan dari teman sebaya (peer pressure), serta menjaga jejak digital ketika berinteraksi melalui media sosial. Pendekatan ini diharapkan mampu membantu peserta menghubungkan materi dengan pengalaman nyata sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan.
Untuk mengetahui efektivitas pembelajaran, kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test guna mengukur tingkat pengetahuan awal siswa. Setelah sesi edukasi, diskusi, dan tanya jawab selesai, peserta kembali mengikuti post-test sebagai evaluasi terhadap peningkatan pemahaman setelah menerima materi. Antusiasme siswa terlihat dari keaktifan mereka dalam berdiskusi serta menyampaikan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan dinamika hubungan pertemanan dan ketertarikan pada masa remaja.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata berharap siswa tidak hanya memiliki pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi remaja, tetapi juga mampu membangun keterampilan hidup (life skills) yang mendukung pengambilan keputusan secara bijaksana. Kemampuan untuk berkomunikasi secara asertif, menghormati batasan diri dan orang lain, serta menjalin hubungan yang sehat menjadi bekal penting bagi remaja dalam menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosial. Kegiatan Sister School merupakan salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui sinergi yang berkelanjutan antara Universitas Alma Ata dan SMAN 1 Bambanglipuro, diharapkan tercipta lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuhnya generasi muda yang sehat, berkarakter, serta mampu menghadapi berbagai tantangan perkembangan remaja dengan pengetahuan, sikap, dan perilaku yang positif.
Ke depan, Program Sarjana Kebidanan, dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program edukatif yang relevan dengan kebutuhan remaja. Melalui kolaborasi yang berkesinambungan dengan sekolah, diharapkan kegiatan Sister School dapat menjadi wadah pembelajaran yang memberikan dampak nyata dalam meningkatkan literasi kesehatan dan mempersiapkan generasi muda yang lebih sehat, tangguh, dan bertanggung jawab.
Referensi
McCormick, E. M., Qu, Y., & Telzer, E. H. (2024). Experience-dependent neurodevelopment of self-regulation in adolescence. Developmental Cognitive Neuroscience, 65, 101338.
Willems, Y. E., Li, J. B., Bartels, M., & Finkenauer, C. (2024). Individual differences in adolescent self-control: The role of gene-environment interplay. Current Opinion in Psychology, 60, 101897.https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2024.101897
Thulin, E. J., Kernsmith, P., Fleming, P. J., Heinze, J. E., Temple, J., & Smith-Darden, J. (2023). Coercive-sexting: Predicting adolescent initial exposure to electronic coercive sexual dating violence. Computers in Human Behavior, 141, 107641. https://doi.org/10.1016/j.chb.2022.107641
World Health Organization. (2024). Adolescent health. Geneva: WHO.
United Nations Children’s Fund. (2024). Adolescent development and participation. New York: UNICEF.
by Admin Kebidanan | Jul 20, 2026 | Artikel D3
Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.
Universitas Alma Ata, Juli 2026 – Pernah merasa membuka media sosial hanya lima menit, tetapi tiba-tiba sudah satu jam berlalu? Atau sulit berkonsentrasi belajar karena terus ingin melihat video berikutnya? Jika pernah mengalaminya, Anda tidak sendirian. Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah brain rot, sebuah istilah populer di media sosial yang menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang cepat, berulang, dan minim nilai edukasi sehingga memengaruhi kemampuan berkonsentrasi, berpikir kritis, dan mengelola waktu.
Meskipun brain rot bukan merupakan diagnosis medis, istilah ini menjadi simbol meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak penggunaan media digital secara berlebihan, terutama pada remaja. Berbagai platform media sosial dirancang dengan fitur infinite scroll dan video berdurasi pendek yang mampu menarik perhatian pengguna dalam waktu lama. Akibatnya, banyak remaja tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar.
Penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat berdampak pada berbagai aspek kesehatan. Remaja yang terlalu lama menggunakan gawai cenderung mengalami gangguan tidur, berkurangnya aktivitas fisik, kesulitan berkonsentrasi saat belajar, meningkatnya kecemasan, hingga menurunnya kualitas interaksi dengan keluarga dan teman. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menegaskan bahwa kesehatan mental remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan digital dan pola penggunaan media sosial.
Selain berdampak pada kesehatan mental, penggunaan gawai hingga larut malam juga dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh. Paparan cahaya biru (blue light) dari layar dapat menghambat produksi hormon melatonin yang berperan dalam mengatur tidur. Akibatnya, remaja lebih sulit tidur, merasa lelah pada siang hari, dan mengalami penurunan konsentrasi saat mengikuti kegiatan belajar.
Agar tetap sehat dan produktif di era digital, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan remaja untuk mencegah brain rot.
- Batasi waktu penggunaan media sosial
Tetapkan batas waktu penggunaan media sosial setiap hari. Gunakan fitur Screen Time atau Digital Wellbeing pada ponsel untuk membantu mengontrol durasi penggunaan aplikasi.
- Terapkan aturan “20–20”
Setelah menggunakan media sosial selama sekitar 20 menit, berhentilah sejenak. Gunakan waktu tersebut untuk berdiri, berjalan, melakukan peregangan, atau mengistirahatkan mata sebelum kembali beraktivitas.
- Pilih konten yang bermanfaat
Tidak semua konten di internet memberikan manfaat. Seimbangkan hiburan dengan konten edukatif, seperti video pembelajaran, podcast, buku digital, atau informasi kesehatan dari sumber yang terpercaya.
- Hindari scrolling tanpa tujuan
Sebelum membuka media sosial, tanyakan pada diri sendiri, “Apa tujuan saya membuka aplikasi ini?” Jika tujuan sudah tercapai, segera tutup aplikasi agar tidak terjebak dalam kebiasaan doomscrolling.
- Kurangi penggunaan gawai sebelum tidur
Hindari penggunaan ponsel setidaknya 30–60 menit sebelum tidur. Paparan cahaya dari layar dapat mengganggu produksi hormon melatonin sehingga kualitas tidur menurun.
- Perbanyak aktivitas di luar dunia digital
Luangkan waktu untuk berolahraga, membaca buku, mengikuti kegiatan organisasi, bermain musik, berkebun, atau berkumpul bersama keluarga dan teman. Aktivitas tersebut membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.
- Latih kemampuan fokus
Biasakan mengerjakan satu aktivitas dalam satu waktu (single-tasking). Hindari membuka banyak aplikasi secara bersamaan karena dapat mengurangi konsentrasi dan produktivitas.
- Jaga kesehatan tubuh
Tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, minum air putih yang cukup, dan rutin berolahraga berperan penting dalam menjaga fungsi otak serta kesehatan mental.
- Lakukan digital detox secara berkala
Sisihkan waktu beberapa jam atau satu hari dalam seminggu untuk mengurangi penggunaan media digital. Gunakan waktu tersebut untuk melakukan aktivitas yang memberikan ketenangan dan meningkatkan interaksi sosial secara langsung.
- Bangun kebiasaan berpikir kritis
Jangan langsung mempercayai semua informasi yang muncul di media sosial. Biasakan memeriksa kebenaran informasi, membaca dari sumber terpercaya, dan berdiskusi dengan guru, orang tua, atau tenaga kesehatan bila menemukan informasi yang meragukan.
Teknologi merupakan alat yang dapat memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara bijaksana. Kuncinya bukan menghindari media sosial, tetapi menggunakannya secara seimbang. Dengan mengelola waktu layar, memilih konten yang berkualitas, dan tetap aktif dalam kehidupan nyata, remaja dapat menjaga kesehatan otak, meningkatkan konsentrasi, serta mendukung kesehatan fisik dan mental.
Teknologi bukanlah musuh. Justru teknologi dapat menjadi sarana belajar, berkreasi, dan berbagi informasi kesehatan apabila digunakan secara bijaksana. Karena itu, mari menjadi generasi digital yang cerdas: memanfaatkan teknologi untuk berkembang, bukan membiarkan teknologi mengendalikan kehidupan kita.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu, anak dan remaja yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. American Psychological Association.
- World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
- United Nations Children’s Fund. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, Protecting and Caring for Children’s Mental Health. UNICEF.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Oxford University Press. (2024). Oxford Word of the Year 2024: Brain Rot. https://corp.oup.com/news/brain-rot-named-oxford-word-of-the-year/
by Admin Kebidanan | Jul 17, 2026 | Artikel D3
Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M. Kes.
Universitas Alma Ata, Juli 2026 – “Semua teman sudah punya”, “Takut ketinggalan tren”, atau “Harus upload biar dianggap eksis”. Kalimat-kalimat tersebut semakin sering terdengar di kalangan remaja. Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan cemas ketika merasa tertinggal dari aktivitas, pengalaman, atau tren yang sedang ramai di media sosial.
Di era digital, informasi menyebar begitu cepat. Setiap hari remaja disuguhi berbagai konten viral, mulai dari tren fesyen, kuliner, tantangan media sosial, hingga gaya hidup para influencer. Tidak sedikit yang merasa harus mengikuti semua tren agar tetap dianggap “kekinian”. Padahal, keinginan untuk selalu mengikuti tren dapat memengaruhi kesehatan mental, pola hidup, bahkan kondisi finansial.
FOMO bukan sekadar rasa penasaran. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu stres, kecemasan, gangguan tidur, menurunnya rasa percaya diri, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berhubungan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental pada remaja.
Salah satu contoh yang sempat menjadi perbincangan luas adalah tren mengoleksi berbagai produk viral yang dipromosikan oleh influencer. Banyak remaja membeli suatu barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut dianggap tertinggal dari teman-temannya. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial mampu membentuk perilaku konsumtif melalui rasa takut tidak menjadi bagian dari kelompok.
Bagi remaja, penting untuk memahami bahwa tidak semua tren harus diikuti. Menjadi diri sendiri, memiliki tujuan hidup yang jelas, serta mampu mengelola penggunaan media sosial merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental. Membatasi waktu layar (screen time), memilih akun yang memberikan inspirasi positif, dan memperbanyak aktivitas di dunia nyata dapat membantu mengurangi dampak FOMO.
Tips Remaja Menghindari Sikap FOMO (Fear of Missing Out)
Agar tetap sehat secara fisik dan mental, berikut beberapa tips yang dapat diterapkan oleh remaja.
- Sadari bahwa media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan yang sebenarnya
Apa yang terlihat di media sosial umumnya adalah momen terbaik yang dipilih untuk dibagikan. Setiap orang juga memiliki tantangan dan masalah yang mungkin tidak mereka tampilkan. Oleh karena itu, hindari membandingkan kehidupan diri sendiri dengan unggahan orang lain.
- Batasi waktu penggunaan media sosial
Tetapkan batas waktu penggunaan media sosial setiap hari, misalnya maksimal 2 jam di luar kebutuhan belajar. Manfaatkan fitur screen time pada ponsel untuk membantu mengontrol kebiasaan tersebut.
- Pilih akun yang memberikan inspirasi positif
Ikuti akun yang menyajikan informasi edukatif, motivasi, kesehatan, atau pengembangan diri. Kurangi mengikuti akun yang membuat Anda merasa tidak percaya diri atau terus-menerus ingin membandingkan diri.
- Fokus pada tujuan dan potensi diri
Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Daripada sibuk mengikuti semua tren, lebih baik fokus mengembangkan kemampuan, prestasi, dan hobi yang sesuai dengan minat serta cita-cita.
- Jangan merasa harus mengikuti semua tren
Tidak semua tren cocok atau bermanfaat. Sebelum ikut mencoba sesuatu yang sedang viral, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini sesuai dengan nilai, kebutuhan, dan kemampuan saya?
- Perbanyak aktivitas di dunia nyata
Luangkan waktu untuk berolahraga, membaca buku, mengikuti organisasi, berkumpul bersama keluarga, atau melakukan kegiatan sosial. Aktivitas ini dapat meningkatkan kebahagiaan tanpa bergantung pada media sosial.
- Latih rasa syukur setiap hari
Membiasakan diri mensyukuri hal-hal sederhana dapat membantu mengurangi keinginan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain. Tuliskan tiga hal yang membuat Anda bersyukur setiap hari sebagai latihan sederhana.
- Bangun hubungan yang sehat dengan teman
Persahabatan yang baik tidak diukur dari seberapa sering mengikuti tren bersama, tetapi dari adanya saling menghargai, mendukung, dan menerima satu sama lain.
- Jaga kesehatan fisik dan mental
Tidur yang cukup, makan makanan bergizi, berolahraga secara rutin, dan memiliki waktu istirahat yang berkualitas akan membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih sehat sehingga lebih mampu mengelola tekanan sosial.
- Jangan ragu mencari bantuan jika diperlukan
Apabila perasaan cemas, sedih, atau tertekan akibat media sosial mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, bicarakan dengan orang tua, guru, konselor, atau tenaga kesehatan. Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah bijak untuk menjaga kesehatan mental.
Ingat!
Menjadi diri sendiri jauh lebih berharga daripada berusaha mengikuti semua tren. Media sosial hanyalah salah satu bagian dari kehidupan, bukan ukuran kebahagiaan atau kesuksesan seseorang. Jadilah remaja yang cerdas dalam menggunakan teknologi, percaya pada kemampuan diri, dan berani mengatakan “tidak” pada hal-hal yang tidak memberikan manfaat.
Mari jadikan media sosial sebagai ruang belajar, berbagi inspirasi, dan menyebarkan informasi kesehatan yang benar. Ingat, menjadi versi terbaik dari diri sendiri jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti apa yang sedang viral.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu, anak dan remaja yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. American Psychological Association.
- Indonesia National Adolescent Mental Health Survey. (2022). Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS): Laporan nasional. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
- Universitas Airlangga. (2025, 25 April). Budaya konsumtif di balik viralnya Labubu. https://unair.ac.id/budaya-konsumtif-di-balik-viralnya-labubu/
- Universitas Muhammadiyah Jakarta. (2024, 19 September). Labubu menjadi tren berkat Lisa Blackpink. https://umj.ac.id/just_info/labubu-menjadi-trend-berkat-lisa-blackpink/
- World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health