Program Studi S1 Kebidanan Universitas Alma Ata terus berkomitmen dalam memperkuat kompetensi profesional dan etika calon bidan melalui pembelajaran yang terintegrasi dengan praktik lapangan dan dinamika profesi. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Kuliah Pakar dengan Topik Supervisi dan Monitoring Bidan pada mata kuliah Legal and Ethical Issues in Midwifery bersama Wakil Ketua I PC IBI Bantul, Bdn. Rusminingsih, S.Si.T., M.Kes.
Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran penting bagi mahasiswa untuk memahami secara komprehensif aspek hukum dan etika dalam praktik kebidanan, termasuk tanggung jawab profesional, perlindungan hukum bagi bidan, serta pengambilan keputusan klinis yang sesuai dengan kode etik dan regulasi yang berlaku. Melalui supervisi dan diskusi langsung, mahasiswa memperoleh gambaran nyata tentang tantangan dan praktik profesional di lapangan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya dibekali pemahaman teoretis mengenai isu legal dan etik kebidanan, tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis, reflektif, dan profesional dalam menghadapi berbagai situasi pelayanan kebidanan. Pendekatan ini menegaskan pentingnya integrasi antara ilmu kebidanan, etika profesi, dan regulasi hukum dalam mewujudkan pelayanan yang aman dan bermutu.
Ingin menjadi Sarjana Bidan yang profesional, beretika, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman? Program Studi S1 Kebidanan Universitas Alma Ata siap membersamai Anda melalui pembelajaran yang komprehensif, didukung oleh dosen-dosen expert di bidang kebidanan serta jejaring profesi yang kuat.
Melalui lingkungan akademik yang islami dan suportif, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi bidan yang kompeten secara klinis, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab etik, dan kepekaan sosial dalam praktik kebidanan.
👆🏻 Saatnya kamu menjadi bagian dari S1 Kebidanan Universitas Alma Ata Belajar berbasis praktik, etika profesi, dan nilai keislaman untuk mencetak Sarjana Bidan yang profesional, berintegritas, dan berkarakter islami.
Penulis: Dr. Restu Pangestuti, S.ST., MKM | Dosen D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Melihat anak tampak lebih pendek dibandingkan teman-teman sebayanya seringkali menimbulkan kecemasan bagi orang tua. Sebelum terjebak dalam kekhawatiran berlebihan, penting untuk memahami bahwa terdapat dua penyebab umum yang relatif normal terkait tinggi badan anak, yaitu Familial Short Stature (Pendek karena Faktor Genetik) dan Constitutional Growth Delay (Late Bloomer).
Mengenal Familial Short Stature: Warisan dari Orang Tua
Familial Short Stature (FSS) adalah kondisi dimana anak memiliki tubuh pendek karena diturunkan secara genetik dari orang tuanya. Ini adalah variasi normal, bukan suatu penyakit. Anak dengan FSS dilahirkan dengan “blueprint” genetik untuk bertubuh pendek.
Ciri-Cirinya:
· Orang tua yang juga pendek: Salah satu atau kedua orang tua memiliki tinggi badan di bawah rata-rata.
· Pola pertumbuhan yang konsisten: Tinggi badan anak selalu mengikuti kurva pertumbuhan yang sama (misalnya, konsisten di persentil ke-5 atau 10) sejak kecil.
· Kecepatan tumbuh normal: Laju pertumbuhannya stabil, sekitar 4-6 cm per tahun setelah usia 4 tahun.
· Usia tulang normal: Hasil rontgen tulang pergelangan tangan (usia tulang) menunjukkan angka yang sesuai dengan usia kronologisnya.
· Perkembangan pubertas normal: Anak memasuki masa pubertas pada waktu yang biasa.
Prognosis: Anak akan tumbuh menjadi dewasa dengan tinggi badan yang pendek, namun sesuai dengan potensi genetiknya yang diwarisi dari orang tua. Prediksi tinggi badan akhirnya dapat diestimasi berdasarkan rata-rata tinggi orang tua.
Mengenal Constitutional Growth Delay: Si “Pemetik Manis” di Akhir Waktu
Anak dengan Constitutional Growth Delay (CGD) atau sering disebut “Late Bloomer” mengalami keterlambatan dalam “jam biologis” pertumbuhannya. Mereka seperti mesin yang menyala lebih lambat, tetapi akan tetap mencapai kecepatan penuh di kemudian hari.
Ciri-Cirinya:
· Riwayat keluarga “late bloomer”: Seringkali ada pola serupa dalam keluarga, seperti ayah atau ibu yang baru mengalami lonjakan tumbuh (growth spurt) di sekolah menengah atas.
· Laju pertumbuhan yang melambat di masa kecil: Anak mungkin berada di persentil yang lebih rendah, tetapi kecepatan pertumbuhannya tetap stabil.
· Usia tulang yang tertinggal: Ini adalah tanda kunci. Usia tulang anak lebih muda (bisa tertinggal 1-2 tahun) dari usia sebenarnya. Ini menunjukkan bahwa ia masih memiliki lebih banyak waktu untuk tumbuh.
· Pubertas yang terlambat: Anak (terutama laki-laki) mungkin belum menunjukkan tanda-tanda pubertas ketika teman-temannya sudah mengalaminya.
Prognosis: Sangat baik. Meski terlihat lebih pendek dan lebih muda di usia SD dan SMP, anak akan mengalami lonjakan pertumbuhan yang signifikan di akhir masa remaja (sekitar usia 16-18 tahun untuk laki-laki) dan akhirnya mencapai tinggi badan dewasa yang normal sesuai dengan potensi genetik keluarganya.
Meski sama-sama menyebabkan tubuh pendek, kedua kondisi ini memiliki perbedaan mendasar:
Ciri-Ciri
Familial Short Stature (Gen)
Constitutional Growth Delay (Late Bloomer)
Pola Keluarga
Orang tua pendek
Orang tua atau keluarga mengalami pubertas terlambat
Grafik Pertumbuhan
Konsisten di garis persentil bawah
Perlahan mengikuti kurva, mungkin turun lalu naik
Usia Tulang
Sesuai dengan usia sebenarnya
Lebih muda dari usia sebenarnya
Pubertas
Muncul pada waktu normal
Terlambat
Tinggi Badan Akhir
Pendek, sesuai orang tua
Normal, sesuai potensi genetik setelah “mengejar”
Kapan Harus Waspada dan Konsultasi ke Dokter?
Tidak semua tubuh pendek adalah normal. Orang tua perlu waspada dan segera berkonsultasi dengan dokter anak (bisa ke konsultan tumbuh kembang atau endokrin) jika menemukan tanda-tanda berbahaya berikut:
1. Pertumbuhan yang sangat melambat: Kurang dari 4 cm per tahun setelah usia 4 tahun.
2. Jatuh dari kurva pertumbuhan: Tinggi badan yang sebelumnya di persentil 50, turun drastis ke persentil 10, misalnya.
3. Tinggi badan jauh di bawah potensi genetik: Berdasarkan perhitungan rata-rata tinggi orang tua.
4. Adanya gejala penyakit lain: Gangguan pencernaan (sering diare, sakit perut), mudah lelah, wajah yang tampak sangat muda, atau keterlambatan perkembangan lainnya.
5. Perbedaan yang mencolok antara tinggi dan berat badan.
Tanda-tanda ini dapat mengindikasikan masalah medis serius seperti kekurangan gizi kronis (stunting), defisiensi hormon pertumbuhan, gangguan tiroid, atau penyakit kronis lainnya yang memerlukan diagnosis dan penanganan segera.
Kesimpulan
Kesimpulannya, pemahaman mendalam mengenai perbedaan Late Bloomer dan Pendek Familial sangat krusial untuk mencegah kecemasan orang tua dan memastikan intervensi yang tepat. Kemampuan analisis grafik pertumbuhan dan deteksi dini seperti ini merupakan kompetensi inti yang dipelajari di Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja. Dengan bekal ilmu tersebut, tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi yang akurat, memastikan setiap anak tumbuh optimal sesuai potensi genetiknya.
2. Cohen, P., Rogol, A. D., Deal, C. L., Saenger, P., Reiter, E. O., Ross, J. L., Chernausek, S. D., Savage, M. O., & Wit, J. M. (2008). Consensus statement on the diagnosis and treatment of children with idiopathic short stature: A summary of the Growth Hormone Research Society, the Lawson Wilkins Pediatric Endocrine Society, and the European Society for Paediatric Endocrinology Workshop. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, 93(11), 4210-4217. https://doi.org/10.1210/jc.2008-0509
4. Kliegman, R. M., St. Geme, J. W., Blum, N. J., Shah, S. S., Tasker, R. C., & Wilson, K. M. (2020). Nelson textbook of pediatrics (21st ed.). Elsevier.
Peringatan Hari Ibu seharusnya tidak hanya menjadi momen simbolik untuk mengucapkan terima kasih, tetapi juga ruang refleksi untuk melihat secara jujur realitas yang masih dihadapi perempuan. Di balik peran besar perempuan dalam keluarga dan masyarakat, masih terdapat ketimpangan dan kerentanan yang berdampak langsung pada kesehatan, keselamatan, dan kualitas hidup mereka.
Kemajuan di bidang pendidikan dan partisipasi kerja perempuan memang patut diapresiasi. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa perjuangan perempuan belum berakhir. Tantangan yang dihadapi hari ini bukan hanya soal akses, tetapi juga soal beban struktural yang terus melekat pada kehidupan perempuan sepanjang siklus hidupnya.
Beban Ganda yang Masih Dianggap Wajar
Salah satu tantangan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari perempuan adalah beban ganda. Banyak perempuan menjalani peran sebagai pekerja—baik di sektor formal maupun informal—sekaligus tetap memikul tanggung jawab utama atas pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan keluarga.
Di Indonesia, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan mencapai sekitar 54%, sementara laki-laki berada di atas 80%. Namun meskipun semakin banyak perempuan yang bekerja, tanggung jawab pekerjaan domestik dan perawatan keluarga masih sangat didominasi perempuan. Pekerjaan domestik dan perawatan ini sebagian besar bersifat unpaid domestic work: tidak dibayar, tidak dihitung sebagai kontribusi ekonomi, dan sering dianggap sebagai “kodrat”. Padahal, pekerjaan ini membutuhkan waktu, energi, dan mempengaruhi kesehatan fisik maupun mental perempuan.
Kekerasan dan Pelecehan Seksual
Selain beban domestik, perempuan juga lebih rentan mengalami kekerasan dan pelecehan seksual, baik di ranah domestik maupun publik. Data nasional menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 10 perempuan Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan selama hidupnya, dan angka ini lebih tinggi jika termasuk kekerasan oleh pelaku non-pasangan.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat puluhan ribu kasus kekerasan berbasis gender setiap tahun, dengan kekerasan seksual sebagai salah satu bentuk yang paling dominan. Dampaknya tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga mencakup trauma psikologis, gangguan kesehatan reproduksi, dan penurunan kualitas hidup perempuan.
Kematian Ibu dan Penyakit Degeneratif pada Perempuan
Dalam bidang kesehatan, ketimpangan terhadap perempuan juga tercermin dari masih tingginya angka kematian ibu. Berdasarkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020, angka kematian ibu di Indonesia mencapai sekitar 189 per 100.000 kelahiran hidup, padahal sebagian besar penyebabnya dapat dicegah melalui pelayanan kesehatan yang tepat waktu dan berkualitas.
Di luar kehamilan dan persalinan, perempuan juga menghadapi beban penyakit degeneratif yang signifikan. Penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, hipertensi, dan osteoporosis merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian di Indonesia. Perempuan memiliki kerentanan khusus terhadap beberapa penyakit ini, dipengaruhi oleh faktor biologis, hormonal, beban kerja ganda, stres kronis, serta keterlambatan deteksi dini.
Mengapa Bidan Harus Ikut Andil?
Dalam konteks tantangan tersebut, bidan memiliki peran yang sangat strategis. Bidan bukan hanya tenaga kesehatan yang hadir saat persalinan, tetapi pendamping perempuan sepanjang siklus hidup—dari remaja, usia reproduksi, kehamilan, nifas, hingga masa lanjut usia.
Peran bidan menjadi krusial dalam hal:
promosi kesehatan yang peka gender,
deteksi dini masalah kesehatan dan kekerasan terhadap perempuan,
penguatan perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi,
pemberdayaan perempuan agar memiliki pengetahuan dan posisi tawar dalam pengambilan keputusan kesehatan.
Hari Ibu sebagai Momentum Perubahan
Hari Ibu seharusnya menjadi pengingat bahwa menghormati perempuan tidak cukup dengan simbol dan ucapan. Penghormatan sejati terwujud melalui upaya nyata untuk mengurangi beban yang tidak adil, melindungi perempuan dari kekerasan, serta memastikan perempuan dapat hidup sehat dan bermartabat sepanjang hidupnya.
Perjuangan perempuan belum berakhir. Dan bidan, dengan ilmu, empati, dan perannya di masyarakat, harus ikut andil dalam perjuangan ini.
Untuk mewujudkan keadilan dan kesehatan bagi perempuan, dibutuhkan tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga peka terhadap realitas sosial. Program Studi S1 dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata memegang peran penting dalam menyiapkan bidan yang mampu berkontribusi nyata bagi perempuan, keluarga, dan masyarakat. Menjadi bidan bukan sekadar profesi, tetapi panggilan untuk mendampingi, melindungi, dan memperjuangkan kesehatan perempuan—hari ini dan untuk generasi yang akan datang.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. Statistik Indonesia 2023. Jakarta: BPS; 2023.
Badan Pusat Statistik. Angka Kematian Ibu (AKI) Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020. Jakarta: BPS; 2021.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024. Jakarta: KemenPPPA; 2024.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan. Jakarta: Komnas Perempuan; 2024.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2022. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
World Health Organization. Noncommunicable Diseases Country Profile: Indonesia. Geneva: WHO; 2022.
Penulis: Fatimah, S.SiT., M.Kes | Dosen D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Di tengah tingginya persaingan dunia kerja dan biaya pendidikan tinggi yang terus merangkak naik, memilih jurusan kuliah bukan lagi sekadar mengikuti minat. Calon mahasiswa dan orang tua kini harus berpikir strategis: “Jurusan apa yang biayanya terjangkau, cepat lulus, dan langsung dapat kerja?”
Jawabannya sering kali luput dari perhatian, namun sangat vital bagi bangsa ini: D3 Kebidanan.
Berikut adalah alasan mengapa program studi D3 Kebidanan adalah “permata tersembunyi” bagi masyarakat Indonesia yang menginginkan kepastian masa depan dengan biaya yang masuk akal.
1. Kuliah Singkat, Cepat Berpenghasilan
Salah satu keunggulan utama D3 Kebidanan adalah durasi pendidikannya. lulus dalam waktu 3 tahun (6 semester).
Apa artinya ini bagi ekonomi keluarga?
Hemat Biaya Kuliah: Anda menghemat biaya SPP dan uang gedung selama 2 tahun dibandingkan jalur profesi.
Hemat Biaya Hidup: Pengeluaran untuk kos, makan, dan transportasi berkurang drastis karena masa studi yang lebih pendek.
Start Lebih Awal: Lulusan DIII bisa mulai bekerja dan menghasilkan uang 2 tahun lebih cepat daripada rekan-rekannya yang mengambil jalur akademis panjang.
2. Pendidikan Vokasi: Ahli Praktik, Bukan Sekadar Teori
Pendidikan DIII adalah pendidikan Vokasi. Kurikulumnya didominasi oleh praktik (sekitar 60-70%) dibandingkan teori.
Artinya, sejak semester awal, mahasiswa sudah diajarkan keterampilan tangan yang nyata. Mulai dari pemeriksaan kehamilan, menolong persalinan normal, hingga perawatan bayi baru lahir. Hal ini membuat lulusan DIII Kebidanan memiliki mental “siap pakai” di dunia kerja, bukan lulusan yang bingung saat menghadapi pasien.
3. Serapan Kerja Sangat Tinggi dan Luas
Indonesia adalah negara dengan angka kelahiran yang masih cukup tinggi. Kebutuhan akan tenaga kesehatan, khususnya bidan, tidak pernah surut. Lulusan DIII Kebidanan memiliki peluang kerja yang sangat luas, antara lain:
Instansi Pemerintah: Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Puskesmas di seluruh pelosok negeri.
Sektor Swasta: Rumah Sakit Swasta, Klinik Ibu dan Anak, dan Rumah Bersalin.
Bidan Desa: Ujung tombak kesehatan di desa-desa yang selalu dicari.
Home Care: Layanan perawatan ibu dan bayi di rumah yang kini semakin tren dan bergaji tinggi.
Program pemerintah dalam pengentasan stunting (gizi buruk) juga menempatkan bidan sebagai garda terdepan, sehingga permintaan formasi CPNS atau PPPK untuk bidan D3 selalu tersedia setiap tahunnya.
4. Biaya Pendidikan yang “Ramah Kantong”
Dibandingkan dengan jurusan Kesehatan lain, biaya kuliah di D3 Kebidanan jauh lebih terjangkau bagi rata-rata ekonomi keluarga Indonesia.
5. Peluang Melanjutkan Studi (Transfer Jenjang)
Banyak yang khawatir, “Apakah DIII karirnya mentok?” Jawabannya: Tidak.
Setelah lulus D3, bekerja, dan memiliki tabungan sendiri, Anda bisa melanjutkan kuliah ke jenjang D4 atau S1 Kebidanan melalui program Alih Jenjang (Ekstensi) sambil tetap bekerja. Jadi, Anda bisa membiayai kuliah lanjutan Anda sendiri tanpa meminta uang orang tua lagi. Ini adalah strategi ekonomi yang sangat cerdas dan mandiri.
Kesimpulan
Memilih DIII Kebidanan bukan berarti memilih kualitas “nomor dua”. Justru, ini adalah pilihan cerdas bagi mereka yang realistis dan visioner. Anda mendapatkan gelar Ahli Madya Kebidanan (A.Md.Keb), keterampilan nyata, biaya terjangkau, dan tiket ekspres menuju dunia kerja.Bagi keluarga Indonesia, D3 Kebidanan terbaik di Jogja, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata adalah jembatan menuju kesejahteraan yang lebih baik melalui profesi yang mulia.
“Menjadi muslimah bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang istiqomah dalam kebaikan.”
Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes | Dosen D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Menjadi Remaja Muslimah Tangguh di Era Modern
Di tengah derasnya arus informasi dan gaya hidup digital, menjadi remaja muslimah bukanlah hal yang mudah. Media sosial, tren mode, dan pergaulan sering kali membuat nilai-nilai Islam terasa tertinggal. Padahal, di era modern ini, remaja muslimah justru memiliki peran besar sebagai penjaga moral dan inspirasi kebaikan.
1. Identitas Muslimah Adalah Kehormatan
Menjadi muslimah berarti memegang identitas yang penuh kemuliaan. Hijab bukan sekadar kain penutup kepala, melainkan simbol kehormatan, keimanan, dan kepribadian yang kuat. Di tengah budaya yang sering menilai dari penampilan luar, muslimah sejati memahami bahwa nilai diri ditentukan oleh akhlak dan ketaatan, bukan oleh tren mode.
“Sesungguhnya wanita itu adalah perhiasan dunia, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.”(HR. Muslim)
2. Menghadapi Tantangan Zaman dengan Ilmu dan Iman
Dunia digital memberi peluang besar — belajar, berbisnis, bahkan berdakwah dari mana saja. Namun, di balik itu, muncul tantangan baru: distraksi, perbandingan sosial, dan konten yang menjauhkan dari nilai Islam. Remaja muslimah perlu membangun keseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat, agar menjadi sosok cerdas dan bijaksana dalam setiap pilihan.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
3. Gunakan Media Sosial sebagai Ladang Amal
Media sosial tidak harus menjadi sumber kebingungan atau tekanan. Dengan niat yang baik, ia bisa menjadi media dakwah yang kreatif dan positif. Remaja muslimah bisa membagikan kutipan inspiratif, kisah hijrah, atau tips islami yang bermanfaat bagi teman-temannya. Dengan begitu, teknologi tidak lagi mengendalikan, tapi menjadi alat untuk menebar kebaikan.
4. Tetap Rendah Hati dan Peduli
Kecantikan sejati tidak hanya di wajah, tapi dalam akhlak dan kepedulian terhadap sesama. Remaja muslimah yang tangguh bukan yang keras hati, melainkan yang lembut dan menebar manfaat di sekitarnya. Kebaikan kecil — membantu teman, menjaga lisan, memberi semangat — adalah bentuk nyata dari keindahan iman.
“Be the light, even when the world tries to dim you.”
“Sesungguhnya orang yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad)
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, integritas seorang remaja muslimah modern terletak pada keseimbangan antara iman, akhlak, dan wawasan global. Salah satu langkah konkret untuk menjadi pelopor perubahan dan menebar manfaat bagi umat adalah dengan menempuh pendidikan berkualitas di Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja. Dengan bekal ilmu yang mumpuni dari institusi terbaik, muslimah tidak hanya sekadar bertahan di arus zaman, melainkan hadir sebagai cahaya yang merawat dan menerangi peradaban
DAFTAR PUSTAKA :
Al-Qur’anul Karim, Surat Al-Mujadilah ayat 11
Al-Ghazali, Imam. (2020). Ihya Ulumuddin: Jalan Hidup Muslim Sejati. Jakarta: Republika
Azzam, A. (2022). Muslimah Hebat di Era Digital. Bandung: Syaamil Books
Yusuf, Q. (2021). Remaja dan Media Sosial dalam Perspektif Islam. Jakarta: Kementerian Agama RI
Pew Research Center. (2022). The Digital Life of Muslim Youth: Balancing Faith and Technology. Washington, D.C