Belum Lolos SNBP? Masih Ada Jalan ke S1 Kebidanan Universitas Alma Ata

Belum Lolos SNBP? Masih Ada Jalan ke S1 Kebidanan Universitas Alma Ata

Belum lolos SNBP? Tidak perlu berkecil hati. Masih ada kesempatan untuk melanjutkan studi di bidang kebidanan dan mewujudkan cita-cita menjadi bidan profesional bersama S1 Kebidanan Universitas Alma Ata.

Program ini hadir sebagai pilihan tepat bagi kamu yang memiliki minat dan kepedulian di dunia kesehatan ibu dan anak. Dengan kurikulum berbasis evidence-based practice, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga dibekali keterampilan klinis yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan layanan kesehatan saat ini.

Proses pembelajaran dirancang secara interaktif melalui pendekatan case-based learning, praktik laboratorium, serta pengalaman langsung di lahan praktik, sehingga mahasiswa siap menghadapi tantangan di dunia kerja.

Didukung oleh dosen profesional dan berpengalaman, S1 Kebidanan Universitas Alma Ata berkomitmen mencetak lulusan yang:

  • Kompeten dan siap kerja
  • Memiliki keterampilan klinis yang kuat
  • Beretika dan profesional
  • Mampu berpikir kritis dalam pengambilan keputusan

Fasilitas pembelajaran yang lengkap, jejaring praktik yang luas, serta lingkungan akademik yang kondusif menjadi nilai tambah dalam mendukung proses belajar yang optimal.

✨ Kesempatan masih terbuka!
Melalui jalur seleksi yang tersedia, kamu tetap memiliki peluang untuk melanjutkan pendidikan dan meraih masa depan di bidang kebidanan.

Karena tidak lolos SNBP bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari langkah baru menuju impianmu bersama S1 Kebidanan Universitas Alma Ata.

Jangan Sampai Terlewat! Ini Jadwal Wajib Imunisasi Anak Agar Terhindar dari Penyakit Berbahaya

Jangan Sampai Terlewat! Ini Jadwal Wajib Imunisasi Anak Agar Terhindar dari Penyakit Berbahaya

Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Tahukah Anda bahwa beberapa penyakit menular mematikan yang pernah menjadi mimpi buruk di masa lalu, kini masih mengancam anak-anak kita? Belakangan ini, kita sering mendengar berita mengenai munculnya kembali Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk penyakit seperti campak, difteri, pertusis (batuk rejan), hingga polio di beberapa daerah di Indonesia. Ironisnya, berbagai penyakit berbahaya yang berpotensi menyebabkan komplikasi serius, cacat permanen, hingga kematian ini sesungguhnya sangat mudah dicegah—yaitu melalui imunisasi. Penurunan cakupan imunisasi di suatu wilayah sering kali menjadi celah masuknya wabah penyakit tersebut. Oleh karena itu, melengkapi jadwal imunisasi anak bukan hanya sekadar kewajiban administratif, melainkan pemenuhan hak anak untuk tumbuh sehat dan terlindungi dari Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).

Apa Itu Imunisasi dan Mengapa Sangat Penting?

Imunisasi bekerja dengan cara merangsang sistem kekebalan tubuh anak untuk menghasilkan respons protektif (antibodi) terhadap bakteri atau virus tertentu, tanpa anak tersebut harus jatuh sakit dan menderita terlebih dahulu. Dengan cakupan imunisasi yang luas, merata, dan tepat waktu di lingkungan masyarakat, kita tidak hanya melindungi anak yang divaksinasi. Kita juga sedang membangun perlindungan bagi masyarakat umum melalui apa yang disebut dengan herd immunity (kekebalan kelompok)—yaitu kondisi ketika sebagian besar populasi sudah kebal, sehingga rantai penularan penyakit melambat atau bahkan terhenti sepenuhnya. Program imunisasi yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui fasilitas kesehatan seperti Puskesmas, Posyandu, dan rumah sakit telah terbukti secara ilmiah menurunkan angka kesakitan dan kematian anak di seluruh Indonesia.

Jadwal Imunisasi Anak Indonesia

Program imunisasi dibagi menjadi imunisasi dasar (diberikan sejak bayi baru lahir hingga balita) dan imunisasi lanjutan (diberikan pada usia anak sekolah atau remaja). Berikut adalah jadwal lengkap berdasarkan rekomendasi terbaru dari Kementerian Kesehatan RI:

1. Imunisasi Dasar (0–18 Bulan) Jadwal ini mencakup imunisasi yang ditanggung pemerintah dan sangat dianjurkan agar sistem imun anak kuat menghadapi penyakit serius sejak dini.

Tabel Jadwal Imunisasi Dasar pada Bayi dan Balita

Jenis VaksinUsia Anak
0 bulan(Saat lahir)2 bulan3 bulan4 bulan9 bulan12–24 bulan18 Bulan
Hepatitis B (HB-0)      
BCG      
Polio (OPV)      
DPT-HB-Hib 1.      
Polio 1, PCV 1, Rotavirus 1                                           
DPT-HB-Hib 2, Polio 2, Rotavirus 2.      
DPT-HB-Hib 3, Polio 3, IPV 1, PCV 2, Rotavirus 3.      
Campak-Rubella 1 (MR 1)      
IPV 2      
PCV 3      
DPT-HB-Hib 4 dan Campak-Rubella 2      

2. Imunisasi Lanjutan (Usia Sekolah & Remaja) Selain imunisasi dasar saat bayi, anak juga perlu mendapatkan imunisasi lanjutan dan booster (penguat) ketika memasuki usia sekolah, di antaranya:

  1. Vaksin DT/Td dan Campak-Rubella tambahan, yang biasanya diberikan serentak melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di institusi pendidikan.
  2. Vaksin HPV untuk anak perempuan usia 11–12 tahun (kelas 5 dan 6 SD) sebagai langkah krusial pencegahan kanker serviks di masa depan.

Prinsip Pemberian dan Mengejar Jadwal yang Terlewat

Imunisasi harus diberikan tepat waktu sesuai usianya karena masing-masing vaksin memiliki periode optimal untuk memicu respons imun yang paling kuat. Namun, jika anak Anda terlambat atau terlewat jadwalnya karena sakit atau hal lain, jangan panik. Imunisasi kejar (catch-up immunization) sangat bisa dilakukan dengan tetap mengikuti interval yang aman antar dosis. Tenaga kesehatan di Puskesmas atau rumah sakit akan dengan senang hati membantu Anda menyusun dan menyesuaikan jadwal baru.

Kesimpulan

Melengkapi imunisasi anak sesuai jadwal pemerintah adalah investasi kesehatan jangka panjang yang paling berharga. Langkah ini sangat krusial untuk mengurangi risiko penyakit mematikan dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Bagi orang tua dan pengasuh, pastikan Anda selalu melakukan pencatatan di Buku KIA dan berkonsultasilah dengan bidan atau dokter di fasilitas kesehatan terdekat untuk memastikan hak imunisasi si kecil terpenuhi. Dapatkan informasi kesehatan lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Universitas Alma Ata. Prodi Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka:

  1. World Health Organization. (2022). Immunization agenda 2030: A global strategy to leave no one behind. Geneva: WHO. https://www.who.int 
  2. World Health Organization. (2023). Routine immunization schedule and vaccine-preventable diseases. Geneva: WHO.
  3. UNICEF Indonesia. (2023). Immunization and vaccine-preventable diseases in children. https://www.unicef.org/indonesia
  4. Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2023). Jadwal imunisasi anak Indonesia rekomendasi IDAI 2023. Jakarta: IDAI.
Euforia Lebaran Berlanjut: Waspada Pola Makan Berlebih pada Remaja

Euforia Lebaran Berlanjut: Waspada Pola Makan Berlebih pada Remaja

Perayaan Idul Fitri selalu identik dengan kebersamaan, silaturahmi, serta beragam hidangan khas yang menggugah selera. Setelah sebulan menjalani ibadah puasa, momen Lebaran menjadi ajang “balas dendam” bagi sebagian orang untuk menikmati berbagai makanan favorit. Namun, euforia tersebut sering kali tidak berhenti saat hari raya usai. Pada kalangan remaja, kebiasaan makan berlebih justru berlanjut hingga beberapa hari bahkan minggu setelah Lebaran.

Perubahan pola makan selama Lebaran umumnya ditandai dengan meningkatnya konsumsi makanan tinggi gula, lemak, dan kalori. Kue kering, minuman manis, serta hidangan bersantan menjadi menu harian yang sulit dihindari. Dalam kondisi ini, remaja menjadi kelompok yang cukup rentan karena cenderung belum memiliki kontrol diri yang kuat terhadap pilihan makanan, serta mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa periode libur panjang, termasuk Lebaran, sering dikaitkan dengan peningkatan asupan energi yang tidak diimbangi dengan aktivitas fisik. Kebiasaan ini berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan dalam waktu singkat. Pada remaja, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada penampilan, tetapi juga berisiko memicu gangguan kesehatan yang lebih serius jika berlangsung terus-menerus.

Konsumsi gula, garam, dan lemak dalam jumlah berlebih telah lama dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit tidak menular. Pada usia remaja, kebiasaan ini dapat menjadi awal munculnya berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, gangguan metabolisme, hingga risiko Diabetes melitus tipe 2 di kemudian hari. Selain itu, pola makan tinggi kalori tanpa diimbangi aktivitas fisik juga dapat memengaruhi keseimbangan energi tubuh dan menurunkan kebugaran.

Tidak hanya berdampak jangka panjang, pola makan berlebih pasca Lebaran juga dapat menimbulkan keluhan jangka pendek, seperti perut kembung, gangguan pencernaan, hingga rasa lemas akibat fluktuasi kadar gula darah. Hal ini berkaitan dengan kondisi Gut health yang terganggu akibat perubahan pola konsumsi secara mendadak.

Situasi ini semakin diperparah dengan menurunnya aktivitas fisik selama masa liburan. Remaja cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan aktivitas sedentari, seperti bermain gawai atau menonton, sehingga energi yang masuk tidak seimbang dengan energi yang dikeluarkan. Kombinasi antara pola makan berlebih dan kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor utama meningkatnya risiko kelebihan berat badan pada remaja.

Oleh karena itu, periode pasca Lebaran menjadi momentum penting untuk kembali menerapkan pola hidup sehat. Remaja perlu mulai mengatur kembali pola makan dengan memperhatikan keseimbangan gizi, mengurangi konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, serta memperbanyak asupan buah dan sayur. Selain itu, peningkatan aktivitas fisik secara bertahap, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau olahraga ringan, dapat membantu mengembalikan kondisi tubuh ke حالت optimal.

Peran lingkungan juga tidak kalah penting. Dukungan dari keluarga dan sekolah dalam menyediakan pilihan makanan sehat serta edukasi gizi yang tepat dapat membantu remaja membangun kebiasaan yang lebih baik. Literasi kesehatan sejak dini menjadi kunci agar remaja mampu membuat keputusan yang tepat terkait pola makan dan gaya hidupnya.

Euforia Lebaran memang menjadi bagian dari tradisi yang penuh makna. Namun, menjaga keseimbangan antara kenikmatan dan kesehatan tetap menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Dengan kesadaran dan langkah sederhana, remaja dapat menikmati momen Lebaran tanpa harus mengorbankan kesehatan di masa depan.


Referensi

  1. Hamiati, H. (2025). Pengaruh Libur Lebaran terhadap Kenaikan Berat Badan. Jurnal Kesehatan Nusantara.
  2. Masri, E. (2022). Literasi Gizi dan Konsumsi Gula, Garam, Lemak pada Remaja.
  3. Pamungkas, C.R.S. (2025). Kebiasaan Konsumsi Gula pada Remaja.
  4. Marpaung, S.H. (2024). Pola Makan dan Obesitas pada Remaja.
  5. Kusnul, Z. (2025). Edukasi Pembatasan Konsumsi Gula, Garam, Lemak pada Remaja.
Lebaran Tanpa “Tumbang”: Tips Smart Eating dan Menjaga Imunitas di Tengah Serbu-an Santan & Gula

Lebaran Tanpa “Tumbang”: Tips Smart Eating dan Menjaga Imunitas di Tengah Serbu-an Santan & Gula

Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran selalu identik dengan kemenangan dan… meja makan yang penuh godaan! Mulai dari opor ayam yang gurih, rendang yang kaya rempah, hingga jajaran kue kering seperti nastar dan kastengel yang sulit untuk ditolak.

Namun, seringkali setelah hari raya berakhir, muncul “oleh-oleh” yang tidak diinginkan: mulai dari kolesterol naik, berat badan melonjak, hingga kondisi tubuh yang drop karena kelelahan. Bagaimana cara merayakan Lebaran dengan maksimal tapi tetap sehat? Yuk, simak tren gaya hidup “Mindful Lebaran” berikut ini!

1. Strategi Smart Eating: Jangan Lapar Mata

Kunci utama agar tidak merasa kembung atau begah setelah silaturahmi adalah dengan menerapkan porsi piring makan yang seimbang.

  • Porsi Sayur Tetap Utama: Pastikan piringmu tidak hanya berisi ketupat dan daging. Sisipkan sayuran atau buah-buahan untuk serat agar pencernaan tetap lancar.
  • Aturan “Satu Kue Satu Kunjungan”: Saat berkunjung ke rumah kerabat, batasi konsumsi kue kering. Ingat, nastar mengandung kalori yang cukup tinggi dari mentega dan gula.
  • Air Putih adalah Penyelamat: Di tengah gempuran sirup dan minuman manis, usahakan tetap minum air putih yang cukup (minimal 2 liter sehari) untuk membantu metabolisme tubuh.

2. Waspadai Post-Holiday Blues dan Kelelahan Mental

Lebaran bukan hanya soal fisik, tapi juga mental. Bertemu banyak orang, perjalanan jauh (mudik), dan pertanyaan-pertanyaan “kapan” dari kerabat terkadang memicu stres tersendiri.

  • Istirahat Berkualitas: Jangan paksakan diri untuk begadang setiap malam. Tubuh butuh pemulihan agar sistem imun tidak turun.
  • Me-Time Singkat: Luangkan waktu 15 menit untuk relaksasi atau sekadar menjauh dari keramaian demi menjaga ketenangan pikiran.

3. Menjaga Kesehatan Ibu dan Anak Pasca-Lebaran

Sebagai calon bidan, kita perlu mengedukasi masyarakat bahwa transisi pola makan pasca-puasa ke Lebaran harus dilakukan dengan hati-hati, terutama bagi kelompok rentan:

  • Ibu Hamil: Hati-hati dengan konsumsi makanan yang terlalu santan dan pedas karena dapat memicu asam lambung (heartburn).
  • Balita: Pastikan si kecil tidak berlebihan mengonsumsi permen atau minuman manis saat berkunjung, yang bisa menyebabkan batuk, radang tenggorokan, atau anak menjadi rewel (sugar rush).

4. Tren “Silaturahmi Sehat”

Saat ini, banyak keluarga yang mulai mengganti suguhan Lebaran dengan opsi yang lebih sehat, seperti buah potong segar, kacang-kacangan panggang, atau jus buah murni tanpa gula. Ini adalah langkah kecil yang keren untuk menunjukkan kasih sayang kepada tamu melalui kesehatan!

Lebaran adalah momen untuk merayakan kemenangan diri. Jangan sampai kemenangan tersebut ternoda karena kita abai menjaga kesehatan tubuh.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, kami selalu menekankan bahwa kesehatan adalah investasi jangka panjang. Bidan yang hebat adalah bidan yang mampu menjadi contoh gaya hidup sehat bagi komunitasnya. Sebagai prodi terakreditasi Unggul dan terbaik di Jogja, kami berkomitmen melahirkan tenaga kesehatan yang tanggap menghadapi berbagai situasi, termasuk dalam mengelola kesehatan masyarakat di momen besar seperti Idul Fitri.

Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447H! Minal ‘Aidin wal-Faizin, mohon maaf lahir dan batin.

Referensi:

  • Kementerian Kesehatan RI. Tips Sehat Menghadapi Hidangan Lebaran.
  • American Heart Association. Healthy Holiday Eating Guide.
  • Journal of Nutrition & Food Sciences. Impact of High-Fat Festive Meals on Digestive Health.
Mudik Nyaman, Ibu dan Si Kecil Aman: Panduan Kesehatan Lengkap Perjalanan Jauh

Mudik Nyaman, Ibu dan Si Kecil Aman: Panduan Kesehatan Lengkap Perjalanan Jauh

Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Musim mudik segera tiba! Momen pulang ke kampung halaman untuk bersilaturahmi tentu menjadi hal yang dinanti. Namun, bagi Ibu Hamil dan orang tua yang membawa Balita, perjalanan panjang di tengah arus mudik memerlukan persiapan ekstra. Tanpa perencanaan yang matang, kelelahan dan perubahan lingkungan bisa berdampak pada kesehatan ibu maupun buah hati.

Berikut adalah panduan “Sehat Saat Mudik” agar perjalanan Anda tetap berkesan dan aman sampai tujuan.

1. Bagi Ibu Hamil: Kenyamanan adalah Prioritas

Bolehkah ibu hamil mudik? Secara umum, usia kehamilan 14–28 minggu (Trimester kedua) adalah waktu paling aman untuk melakukan perjalanan jauh. Namun, perhatikan hal berikut:

  • Konsultasi Terakhir: Pastikan melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) ke bidan atau dokter tepat sebelum berangkat. Mintalah surat keterangan layak terbang jika menggunakan pesawat.
  • Gerak Aktif: Jika mudik dengan mobil atau kereta, usahakan melakukan peregangan kaki setiap 2 jam untuk mencegah penggumpalan darah (DVT). Jangan duduk diam terlalu lama.
  • Pakaian & Alas Kaki: Gunakan pakaian yang menyerap keringat dan longgar, serta alas kaki yang nyaman (hindari high heels) karena kaki cenderung lebih mudah bengkak saat perjalanan jauh.
  • Cukup Cairan: Dehidrasi bisa memicu kontraksi palsu. Pastikan membawa botol minum sendiri dan kurangi konsumsi kafein.

2. Bagi Balita: Lawan Mabuk Perjalanan & Kelelahan

Membawa balita mudik membutuhkan kesabaran dan persiapan logistik yang rapi:

  • Kotak P3K “Siaga”: Jangan lupakan termometer, obat penurun panas (parasetamol), obat anti-mabuk sesuai anjuran medis, balsem khusus anak, dan plester luka.
  • Manajemen MPASI & Camilan: Hindari memberikan makanan yang terlalu berminyak atau asam saat di kendaraan untuk mencegah mual. Bawa camilan sehat seperti biskuit gandum atau buah potong.
  • Kebersihan adalah Kunci: Selalu bawa hand sanitizer, tisu basah, dan tisu kering. Fasilitas umum di jalur mudik seringkali ramai; menjaga kebersihan tangan adalah cara terbaik mencegah diare.
  • Mainan & Hiburan: Bawa mainan favorit atau buku cerita agar si kecil tidak bosan dan rewel, yang dapat meningkatkan tingkat stres ibu dan anak selama di perjalanan.

3. Tips Umum: Waspada Penyakit di Jalur Mudik

Indonesia masih menghadapi tantangan penyakit menular seperti Campak yang baru-baru ini kembali mewabah. Sebelum mudik, pastikan:

  1. Status imunisasi anak sudah lengkap (terutama dosis MR).
  2. Ibu hamil menjaga daya tahan tubuh dengan vitamin pre-natal yang rutin dikonsumsi.
  3. Tetap gunakan masker di keramaian atau fasilitas umum yang ventilasinya kurang baik.

Bidan memiliki peran sentral dalam memastikan kesehatan ibu dan anak tetap terjaga selama musim mudik. Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, mahasiswa kami dilatih untuk memberikan edukasi pre-travel yang komprehensif. Bidan tidak hanya menolong persalinan, tetapi juga menjadi tempat konsultasi utama bagi ibu untuk memantau kondisi fisik sebelum melakukan perjalanan jauh.

Sebagai prodi terakreditasi Unggul dan terbaik di Jogja, kami berkomitmen mencetak bidan yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat, termasuk memberikan pelayanan kesehatan ibu-anak yang holistik di berbagai situasi.

Kesimpulan

Mudik adalah momen bahagia, jangan sampai berubah menjadi duka karena masalah kesehatan. Persiapan yang matang adalah investasi terbaik untuk keselamatan keluarga. Jika terjadi keluhan seperti flek atau kontraksi pada ibu hamil, atau demam tinggi pada balita saat di perjalanan, segera cari Posko Kesehatan atau fasilitas kesehatan terdekat.

Selamat mudik, selamat berkumpul dengan keluarga!

Referensi:

  • Kementerian Kesehatan RI (2025). Pedoman Perjalanan Sehat bagi Ibu Hamil dan Balita Selama Mudik Lebaran.
  • ACOG (American College of Obstetricians and Gynecologists). Travel During Pregnancy: FAQ.
  • World Health Organization (WHO). Health Advice for International Travel: Children and Pregnant Women.