Fenomena Brain Rot pada Anak: Tantangan Baru Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Era Digital

Fenomena Brain Rot pada Anak: Tantangan Baru Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Era Digital

Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan

Apa Itu Fenomena Brain Rot pada Anak?

Perkembangan teknologi digital membawa dampak besar pada pola pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Salah satu isu yang kini banyak dibahas adalah fenomena brain rot. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan menurunnya kemampuan konsentrasi, fungsi kognitif, dan pengendalian emosi anak akibat paparan layar yang berlebihan, terutama dari konten digital yang cepat dan minim interaksi.

Meskipun brain rot bukan istilah medis resmi, namun fenomena ini relevan dalam kajian Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) karena berkaitan langsung dengan kualitas tumbuh kembang anak sejak usia dini.

Perkembangan Otak Anak dalam Perspektif Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

Dalam pelayanan KIA, masa bayi dan balita dikenal sebagai golden period, yaitu periode emas perkembangan otak anak. Pada fase ini, otak berkembang sangat pesat dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan, stimulasi, serta kualitas pengasuhan dari orang tua.

Stimulasi yang optimal mencakup komunikasi dua arah, sentuhan, bermain aktif, dan respons emosional yang hangat. Sebaliknya, paparan layar yang berlebihan tanpa pendampingan orang tua dapat mengurangi interaksi langsung anak dengan lingkungan. Anak menjadi lebih pasif, sehingga proses pembelajaran bahasa, sosial, dan emosi tidak berkembang secara optimal.

Dampak Brain Rot terhadap Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak

Fenomena brain rot berpotensi menimbulkan berbagai dampak kesehatan anak, antara lain:

  • Gangguan perkembangan kognitif dan bahasa, seperti kesulitan fokus, keterlambatan bicara, dan rendahnya kemampuan berpikir kritis.
  • Masalah kesehatan mental dan emosional, termasuk mudah marah, tantrum, serta kesulitan mengelola emosi.
  • Gangguan kesehatan fisik, seperti berkurangnya aktivitas fisik dan gangguan pola tidur yang dapat mempengaruhi pertumbuhan anak.

Dampak-dampak tersebut menjadi perhatian penting dalam pemantauan tumbuh kembang anak secara holistik.

Peran Orang Tua dan Tenaga Kesehatan dalam Pencegahan Brain Rot

Dalam pendekatan KIA, pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama orang tua. Keterlibatan aktif ayah dan ibu dalam mendampingi anak, termasuk saat menggunakan gawai, sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.

Bidan dan tenaga kesehatan memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi kepada orang tua melalui pelayanan antenatal, postnatal, dan pemantauan tumbuh kembang balita. Edukasi tersebut meliputi pembatasan waktu layar sesuai usia anak, pemilihan konten yang edukatif, serta pentingnya stimulasi dini melalui interaksi langsung dan bermain.

Kesimpulan

Fenomena brain rot merupakan tantangan baru dalam upaya menjaga kualitas tumbuh kembang anak di era digital. Dalam perspektif Kesehatan Ibu dan Anak, penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat berdampak pada perkembangan kognitif, emosional, dan fisik anak. Oleh karena itu, peran aktif orang tua yang didukung oleh edukasi dari tenaga kesehatan menjadi kunci dalam menciptakan pola asuh yang seimbang dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Referensi:

  1. Hutton JS, Dudley J, Horowitz-Kraus T, DeWitt T, Holland SK. Associations between screen-based media use and brain white matter integrity in preschool-aged children. JAMA Pediatrics. 2019;173(3):244–250.
  2. Madigan S, McArthur BA, Anhorn C, Eirich R, Christakis DA. Associations between screen use and child language skills: A systematic review and meta-analysis. JAMA Pediatrics. 2020;174(7):665–675.
  3. World Health Organization. Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep for Children Under 5 Years of Age. Geneva: WHO; 2019.
  4. Domingues-Montanari S. Clinical and psychological effects of excessive screen time on children. Journal of Paediatrics and Child Health. 2017;53(4):333–338.
  5. Radesky JS, Schumacher J, Zuckerman B. Mobile and interactive media use by young children: The good, the bad, and the unknown. Pediatrics. 2015;135(1):1–3.
  6. Christakis DA. The challenges of defining and studying “digital addiction” in children. JAMA. 2019;321(23):2277–2278.
  7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak (SDIDTK). Jakarta: Kemenkes RI; 2022.
  8. American Academy of Pediatrics. Media and young minds. Pediatrics. 2016;138(5):e20162591.
GERD dan Penyakit Jantung: Apakah Saling Berkaitan?

GERD dan Penyakit Jantung: Apakah Saling Berkaitan?

Penulis; Dosen Prodi Kebidanan

Salah satu alasan paling umum seseorang datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) dengan kepanikan adalah nyeri dada. Pasien sering kali yakin mereka mengalami serangan jantung, namun setelah diperiksa (EKG dan tes darah), jantung mereka ternyata sehat. Diagnosanya? GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).

Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah: Apakah GERD hanya sekadar “peniru” serangan jantung, atau bisakah asam lambung benar-benar merusak jantung?

Literatur medis internasional tahun 2023-2024 memberikan jawaban yang bernuansa: GERD tidak secara langsung menyumbat pembuluh darah jantung, tetapi memiliki korelasi kuat dengan gangguan irama jantung (aritmia) dan berbagi faktor risiko yang sama.

1. Fenomena “Nyeri Dada Non-Kardiak” (The Mimic)

Hubungan yang paling sering terjadi bukanlah sebab-akibat, melainkan kesalahan persepsi tubuh.

  1. Persarafan yang Sama: Jantung dan kerongkongan (esofagus) berbagi jalur saraf yang berdekatan saat mengirim sinyal rasa sakit ke otak, yaitu melalui saraf vagus dan akar saraf toraks.
  2. Kebingungan Otak: Ketika asam lambung membakar esofagus bagian bawah, otak sering kali salah menafsirkan sinyal nyeri tersebut sebagai nyeri dari jantung (angina). Ini disebut Non-Cardiac Chest Pain (NCCP).

2. Hubungan GERD dengan Aritmia (Atrial Fibrillation)

Ini adalah temuan riset yang paling signifikan dalam dekade terakhir. Meskipun GERD tidak menyebabkan penyumbatan koroner, GERD terbukti dapat memicu gangguan irama jantung, khususnya Atrial Fibrillation (AFib).

  1. Mekanisme Vagal: Riset dalam jurnal Frontiers in Cardiovascular Medicine menjelaskan bahwa asam yang naik ke esofagus merangsang saraf vagus secara berlebihan. Karena saraf vagus juga mengatur detak jantung, rangsangan ini bisa menyebabkan jantung berdetak tidak teratur (berdebar) setelah makan.
  2. Inflamasi Sistemik: Peradangan kronis pada mukosa esofagus akibat GERD melepaskan sitokin (zat radang) ke dalam aliran darah, yang diduga dapat mempengaruhi aktivitas listrik jantung.

3. “Dua Sisi Mata Uang”: Faktor Risiko Bersama

Sering kali, GERD dan penyakit jantung koroner muncul bersamaan bukan karena yang satu menyebabkan yang lain, tetapi karena keduanya disebabkan oleh “akar” yang sama.

Studi epidemiologi menunjukkan bahwa pasien GERD memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung karena faktor gaya hidup berikut:

  1. Obesitas Sentral (Perut Buncit): Lemak perut menekan lambung (memicu refluks) dan juga melepaskan zat yang merusak pembuluh darah jantung.
  2. Pola Makan: Diet tinggi lemak jenuh dan kolesterol memperlambat pengosongan lambung (memicu GERD) sekaligus menumpuk plak di pembuluh darah.
  3. Merokok: Melemahkan katup esofagus dan merusak dinding arteri jantung.

4. Perdebatan Obat Asam Lambung (PPI) dan Risiko Jantung

Beberapa tahun lalu, muncul kekhawatiran bahwa obat GERD golongan Proton Pump Inhibitors (PPI) seperti Omeprazole dapat meningkatkan risiko serangan jantung.

  1. Konsensus Terbaru: Tinjauan terbaru di jurnal Gastroenterology dan JAMA mengklarifikasi bahwa bagi populasi umum, penggunaan PPI tidak secara langsung menyebabkan serangan jantung.
  2. Pengecualian Penting: Perhatian khusus diberikan pada pasien yang mengkonsumsi pengencer darah Clopidogrel (Plavix) pasca pasang ring jantung. Beberapa jenis PPI dapat mengurangi efektivitas Clopidogrel, sehingga meningkatkan risiko sumbatan ulang. Oleh karena itu, dokter jantung biasanya akan memilih jenis obat lambung yang aman (seperti Pantoprazole) untuk pasien ini.

Kesimpulan

Secara langsung, GERD tidak menyebabkan penyumbatan pembuluh darah jantung (Penyakit Jantung Koroner). Asam lambung tidak bisa masuk ke pembuluh darah dan menyumbat arteri.

Namun, GERD dapat memicu gangguan irama jantung (aritmia) melalui rangsangan saraf, dan nyeri dada akibat GERD seringkali membingungkan diagnosis serangan jantung. Jika Anda memiliki GERD kronis, ini adalah “alarm” dari tubuh untuk memperbaiki gaya hidup (turunkan berat badan, berhenti merokok) yang secara otomatis juga akan melindungi jantung Anda.

Penting: Jangan pernah mendiagnosis diri sendiri. Jika Anda mengalami nyeri dada (terutama jika disertai sesak napas, keringat dingin, atau menjalar ke lengan kiri), selalu anggap itu jantung sampai dokter membuktikan sebaliknya. Lebih baik waspada di UGD daripada terlambat.

Artikel kesehatan yang menarik lainya tentang Gerd bisa diakses di website Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul.

Referensi 

  1. Sinha, T., et al. 2025.. The association between gastroesophageal reflux disease and atrial fibrillation: A systematic review and meta-analysis. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40034621/
  2. Katz, P. O., et al. (2022). ACG Clinical Guideline for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease. The American Journal of Gastroenterology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34807007/
  3. Lanas, A., et al. (2023). Proton Pump Inhibitors and Cardiovascular Events. Gastroenterology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39354720/
Dismenore: Mengatasi Nyeri Haid yang Mengganggu dengan Cara Sehat dan Berbasis Bukti

Dismenore: Mengatasi Nyeri Haid yang Mengganggu dengan Cara Sehat dan Berbasis Bukti

Created By Isti Chana Z, S.ST., M.Keb

Setiap bulan, jutaan perempuan di seluruh dunia mengalami sensasi tidak nyaman yang sering dianggap “lumrah”: nyeri haid atau dismenore. Padahal, nyeri yang mengganggu aktivitas ini tidak seharusnya dianggap biasa saja. Data terbaru menunjukkan bahwa 60-90% perempuan usia reproduksi mengalami dismenore, dengan 10-15% di antaranya mengalami nyeri yang sangat berat hingga mengganggu produktivitas harian.

Jenis Dismenore:

  1. Dismenore Primer
    • Terjadi tanpa kelainan organ panggul
    • Biasanya mulai 6-12 bulan setelah menarche (haid pertama)
    • Nyeri berlangsung 1-3 hari pertama siklus
    • Disebabkan peningkatan prostaglandin yang memicu kontraksi uterus berlebihan
  2. Dismenore Sekunder
    • Disebabkan kelainan organ reproduksi
    • Biasanya muncul setelah usia 25 tahun
    • Nyeri bisa berlangsung lebih lama dan semakin memberat
    • Penyebab umum: endometriosis, adenomiosis, fibroid, PID

Gejala yang Perlu Diwaspadai

  1. Gejala Utama: Nyeri kram di perut bagian bawahNyeri menjalar ke punggung bawah dan pahaKram seperti kontraksi yang datang bergelombang
  2. Gejala Penyerta: Mual dan muntahDiare atau konstipasiSakit kepala atau migrainKelelahan ekstremPerubahan mood (mudah marah, sedih)

Tanda Bahaya (Red Flags):

  • Nyeri sangat berat sejak haid pertama
  • Nyeri tidak membaik dengan obat biasa
  • Disertai demam atau keputihan abnormal
  • Nyeri saat berhubungan seksual
  • Gangguan kesuburan

Pendekatan Penanganan Berbasis Bukti

1. Terapi Non-Farmakologis (Tingkat Pertama)

Terapi Panas (Heat Therapy):

  • Kompres hangat 39-40°C selama 30-60 menit
  • Efektif mengurangi nyeri 30-50%

Aktivitas Fisik Teratur:

  • Aerobik sedang: 30 menit, 3-4x/minggu
  • Yoga dan stretching: Pose child’s pose, cat-cow

Diet dan Nutrisi:

  • Tingkatkan: Omega-3 (ikan), magnesium (kacang), vitamin B1
  • Kurangi: Garam, gula, kafein, alkohol
  • Suplementasi: Magnesium 300-400 mg/hari, vitamin B6 50-100 mg/hari

Teknik Relaksasi:

  • Pernapasan diafragma
  • Mindfulness meditation
  • Akupresur titik SP6 (Sanyinjiao)

2. Terapi Farmakologis : dengan menggunakan obat-obatan pengurang rasa nyeri/analgetic dapat menggunakan, Ibuprofen 400 mg setiap 6-8 jam, atau parasetamol, ataupun asam mefenamat – jangan lupa perhatikan kontraindikasi dalam mengkonsumsi obat ini. 

Terapi Hormonal:

  • Kontrasepsi hormonal: Pil KB, patch, implan
  • Efektivitas: Mengurangi nyeri 70-80% setelah 3 siklus
  • Mekanisme: Menekan ovulasi dan pertumbuhan endometrium

Psikoterapi Kognitif-Perilaku:

  • Mengubah persepsi terhadap nyeri
  • Teknik coping yang adaptif

Pencegahan dan Manajemen Jangka Panjang

Strategi Pencegahan:

  1. Catat Siklus: Gunakan aplikasi pelacak haid
  2. Persiapan Menjelang Haid: Hindari stres berlebihan
  3. Pola Hidup Seimbang: Tidur cukup, manajemen stres

Kapan Harus ke Tenaga Kesehatan?

  • Nyeri mengganggu aktivitas harian ≥3 hari/bulan
  • Tidak respons dengan obat bebas
  • Disertai gejala lain yang mengkhawatirkan
  • Riwayat keluarga endometriosis

Mitos vs Fakta Seputar Dismenore

❌ Mitos: “Nyeri haid itu normal, harus ditahan”
✅ Fakta: Nyeri berat perlu evaluasi medis

❌ Mitos: “Minum air es memperberat nyeri”
✅ Fakta: Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung

❌ Mitos: “Haid sakit berarti sulit hamil nanti”
✅ Fakta: Dismenore primer tidak mempengaruhi kesuburan

Dismenore bukan takdir yang harus diterima begitu saja. Dengan pemahaman yang benar, pendekatan komprehensif, dan dukungan yang adequate, setiap perempuan berhak menjalani siklus haid dengan nyaman dan bermartabat. Ingatlah: mendengarkan tubuh dan mencari bantuan profesional adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan.


Daftar Pustaka 

  1. Iacovides, S., Avidon, I., & Baker, F. C. (2022). What we know about primary dysmenorrhea today: A critical review. Human Reproduction Update, 28(6), 763-791.
  2. Chen, C. X., Draucker, C. B., & Carpenter, J. S. (2021). Integrative approaches for managing dysmenorrhea: A systematic review. Journal of Women’s Health, 30(3), 325-339.
  3. World Health Organization. (2023). Primary dysmenorrhea: Guidelines for management. WHO Reproductive Health Library.
  4. Osayande, A. S., & Mehulic, S. (2023). Diagnosis and management of dysmenorrhea in adolescents. American Family Physician, 107(2), 145-152.
  5. Armour, M., Ee, C. C., Naidoo, D., et al. (2023). Acupuncture for primary dysmenorrhea: An updated systematic review and meta-analysis. BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology, 130(7), 723-734.
  6. Indonesian Society of Obstetrics and Gynecology (POGI). (2022). Pedoman Nasional Penanganan Dismenore. Jakarta: POGI Publications.
  7. Lee, H., Choi, T. Y., Kim, J. I., et al. (2024). Herbal medicine for primary dysmenorrhea: A systematic review and meta-analysis. Complementary Therapies in Medicine, 79, 102998.
  8. National Institute for Health and Care Excellence. (2023). Heavy menstrual bleeding: Assessment and management. NICE Guideline NG88.
  9. Santos, M. L., & Baracat, E. C. (2022). Non-pharmacological treatments for primary dysmenorrhea: Evidence-based recommendations. Revista Brasileira de Ginecologia e Obstetrícia, 44(3), 283-291.
  10. Global Burden of Disease Collaborative Network. (2024). *Global burden of dysmenorrhea: 1990-2023.* Lancet, 403(10427), 871-897.
Remaja : Jangan Sampai Kehilangan Arah

Remaja : Jangan Sampai Kehilangan Arah

Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan

Pernah merasa capek padahal tidak melakukan aktivitas fisik yang berat? Atau merasa “ramai” di media sosial, tetapi tetap merasa sendirian? Jika iya, kamu tidak sendirian. Inilah gambaran remaja di era sekarang, hidup di dunia yang serba cepat, penuh tuntutan, dan nyaris tanpa jeda.

Remaja masa kini tidak hanya dituntut untuk pintar di sekolah, tetapi juga harus terlihat keren, aktif, produktif, dan selalu “update”. Tanpa disadari, hal ini bisa menjadi beban tersendiri.

Dunia Remaja yang Tidak Lagi Sederhana

Dulu, pergaulan remaja terjadi di sekolah, rumah, dan lingkungan sekitar. Sekarang, pergaulan berpindah ke layar ponsel. Satu unggahan bisa menentukan rasa percaya diri, satu komentar bisa mempengaruhi suasana hati seharian.

Remaja saat ini menghadapi :

  1. Tekanan untuk selalu terlihat bahagia
  2. Standar hidup yang tidak realistis di media sosial
  3. Persaingan akademik yang semakin ketat
  4. Ekspektasi keluarga dan lingkungan
  5. Ketakutan akan kegagalan dan masa depan

Semua ini terjadi di usia ketika remaja masih belajar memahami emosi dan jati diri.

Pergaulan: Antara Teman, Tren, dan Tekanan

Teman sebaya memiliki pengaruh besar dalam kehidupan remaja. Di satu sisi, teman bisa menjadi sumber dukungan. Namun disisi lain, tekanan untuk “ikut-ikutan” sering membuat remaja melakukan hal yang sebenarnya tidak mereka inginkan.

Mulai dari cara berpakaian, gaya bicara, kebiasaan nongkrong, hingga penggunaan media sosial, semuanya bisa menjadi ajang pembuktian diri. Tanpa disadari, remaja bisa kehilangan batasan dan nilai diri hanya demi diterima.

Remaja Butuh Dipahami, Bukan Hanya Dinilai

Banyak remaja terlihat baik-baik saja, padahal sedang berjuang dalam diam. Tidak semua masalah bisa diungkapkan lewat kata-kata. Ada yang memilih diam karena takut tidak dipahami, ada pula yang takut dianggap lemah.

Di sinilah peran lingkungan menjadi sangat penting. Remaja membutuhkan : 

  1. Ruang aman untuk bercerita
  2. Dukungan tanpa menghakimi
  3. Contoh nyata, bukan sekadar nasihat
  4. Kepercayaan bahwa mereka mampu bertumbuh

Menjadi Remaja di Era Sekarang: Apa yang Bisa Dilakukan?

Menjadi remaja di zaman ini memang tidak mudah, tetapi bukan berarti mustahil untuk dijalani dengan sehat dan bermakna. Beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan:

  1. Belajar mengenali dan menerima diri sendiri
  2. Mengurangi kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain
  3. Memilih pergaulan yang saling mendukung
  4. Berani berkata “tidak” pada hal yang merugikan diri
  5. Mencari bantuan ketika merasa lelah atau kewalahan

Ingat, tidak semua hal harus kamu selesaikan sendiri.

Remaja Tidak Harus Sempurna

Menjadi remaja bukan tentang siapa yang paling cepat berhasil, paling populer, atau paling terlihat sukses. Ini adalah tentang proses bertumbuh, belajar dari kesalahan, dan menemukan arah hidup sedikit demi sedikit.

Kamu boleh lelah. Kamu boleh bingung. Kamu boleh gagal. Tapi jangan berhenti menjadi dirimu sendiri.

Artikel kesehatan yang menarik lainya bisa diakses di website Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang salah satu kampus terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul.

Daftar Pustaka

Ali, M., & Asrori, M. (2019). Psikologi remaja: Perkembangan peserta didik. Jakarta: Bumi Aksara.

Arnett, J. J. (2018). Adolescence and emerging adulthood (6th ed.). New York: Pearson Education.

Hurlock, E. B. (2017). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Santrock, J. W. (2019). Life-span development: Perkembangan masa hidup (Edisi 13). Jakarta: Erlangga.

Steinberg, L. (2017). Adolescence (11th ed.). New York: McGraw-Hill Education.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2022). Panduan penguatan karakter dan kesejahteraan peserta didik. Jakarta: Kemendikbudristek.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2023). Kurikulum Merdeka: Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Kemendikbudristek.

World Health Organization. (2020). Adolescent mental health. Geneva: WHO.

Yusuf, S. (2018). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Dosen S1 Kebidanan Raih Kenaikan Jabatan Fungsional Lektor Tercepat

Dosen S1 Kebidanan Raih Kenaikan Jabatan Fungsional Lektor Tercepat

Universitas Alma Ata kembali menorehkan prestasi membanggakan melalui capaian dosennya. Ibu Indah Wijayanti, S.ST., M.Keb., Bdn, dosen Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata, resmi meraih kenaikan Jabatan Fungsional Lektor (Tercepat).

Pencapaian ini menjadi bukti nyata atas dedikasi, konsistensi, dan komitmen beliau dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi, yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Selama menjalankan perannya sebagai akademisi, Ibu Indah Wijayanti aktif berkontribusi dalam pengembangan mutu pembelajaran kebidanan, keterlibatan dalam kegiatan ilmiah, serta pendampingan mahasiswa dalam berbagai kegiatan akademik.

Kenaikan jabatan fungsional ini tidak hanya menjadi prestasi personal, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi Program Studi Kebidanan dan FKIK Universitas Alma Ata secara keseluruhan. Capaian tersebut menunjukkan kualitas sumber daya dosen yang unggul serta komitmen institusi dalam mendorong pengembangan karier akademik secara berkelanjutan.

Diharapkan, prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus meningkatkan profesionalisme, produktivitas ilmiah, dan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kebidanan.

Universitas Alma Ata menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya serta ucapan selamat dan sukses kepada Ibu Indah Wijayanti atas capaian yang membanggakan ini. Semoga prestasi ini menjadi langkah awal untuk kontribusi yang lebih luas di tingkat nasional maupun internasional.