Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Kehidupan remaja zaman now (Gen Z dan Gen Alpha) sering kali dicap serba mudah karena kemajuan teknologi. Namun, di balik layar gawai yang berkilau, ada tekanan mental yang luar biasa besar. Paparan media sosial yang konstan, tuntutan akademik yang kompetitif, hingga krisis eksistensial global membuat kesehatan mental mereka menjadi rentan.
Sering kali, orang tua atau lingkungan terdekat menyamakan perubahan perilaku remaja sebagai mood swing pubertas atau sifat “manja” belaka. Padahal, ada batas tipis antara fase emosional remaja normal dan sinyal bahaya (red flag) gangguan mental klinis.
Bagaimana cara kita melakukan checking in (pemeriksaan berkala) dan menyadari sinyal red flag ini sebelum terlambat?
1. Sinyal “Red Flag” yang Sering Tersamarkan
Berdasarkan klasifikasi klinis, gangguan mental pada remaja jarang muncul seperti pada orang dewasa. Remaja jarang mengatakan “Aku sedang depresi.” Alih-alih, mereka mengekspresikannya melalui perubahan perilaku harian yang drastis.
Berikut adalah beberapa sinyal red flag utama yang wajib diwaspadai:
Iritabilitas dan Kemarahan yang Meledak-ledak: Berbeda dengan orang dewasa yang cenderung menarik diri dan menangis, depresi pada remaja lebih sering bermanifestasi sebagai rasa frustasi yang ekstrem, sifat mudah tersinggung, dan kemarahan pada hal-hal sepele.
Perubahan Pola Tidur dan Kelelahan Kronis: Tidur terlalu larut karena doom scrolling (terus-menerus membaca berita/konten negatif) atau justru tidur berlebihan sepanjang hari (hypersomnia) sebagai bentuk mekanisme pelarian diri.
Penurunan Performa Akademik Secara Mendadak: Kehilangan fokus, sering melamun, atau nilai yang merosot drastis akibat energi otak yang habis digunakan untuk menahan kecemasan.
Isolasi Sosial yang Ekstrem: Menolak berinteraksi dengan teman sebaya secara total dan mengunci diri di kamar selama berhari-hari.
Keluhan Fisik Misterius (Somatik): Sering mengeluh sakit kepala kronis atau sakit perut sebelum pergi ke sekolah, tanpa adanya kelainan medis fisik.
2. Cara Melakukan Checking In yang Benar
Melakukan checking in bukan berarti menginterogasi atau menginvasi privasi remaja secara agresif. Berikut pendekatan psikologis yang disarankan:
A. Ubah Gaya Komunikasi (Tanya, Jangan Ceramahi)
Ganti kalimat interogasi seperti: “Kenapa kamu mengurung diri terus? Kurang bersyukur kamu ya!” dengan pertanyaan terbuka yang penuh empati:
“Ibu perhatikan belakangan ini kamu kelihatan lelah dan kurang tidur. Ibu di sini bukan untuk marah atau menghakimi, Ibu cuma peduli. Ada hal yang lagi membebani pikiranmu?”
B. Validasi, Jangan Remehkan
Bagi orang dewasa, masalah remaja mungkin terdengar sepele (seperti patah hati, dikucilkan teman online, atau cemas karena jerawat). Namun, secara neurobiologis, otak remaja merespons penolakan sosial sama menyakitkannya dengan rasa sakit fisik. Validasi perasaan mereka dengan mengatakan: “Ibu paham, situasi itu pasti rasanya berat banget buat kamu.”
C. Amati Durasi Gejala
Jika perubahan perilaku di atas berlangsung lebih dari 2 minggu berturut-turut dan mulai mengganggu fungsi mereka sebagai pelajar atau anggota keluarga, itu adalah tanda mutlak bahwa anak memerlukan bantuan profesional (psikolog atau psikiater).
Kesimpulan
Kesehatan mental sama berharganya dengan kesehatan fisik. Menyadari sinyal red flag sejak dini bukan berarti kita menganggap remaja kita lemah, melainkan bentuk kasih sayang untuk mempersiapkan mereka menjadi individu yang tangguh di masa depan. Checking in secara rutin bisa menyelamatkan masa depan mereka.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO). (2024). Mental Health of Adolescents: Fact Sheets and Global Estimates. Jenewa: WHO.
UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). Washington, DC: APA.
The Lancet Psychiatry Journal. Social Media Use, Sleep Disturbance, and Mobile Phone Addiction Affecting Mental Health of Adolescents: A Longitudinal Study.
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Di era digital, gadget telah menjelma menjadi perpanjangan tangan bagi kehidupan remaja. Di balik layar gawai yang berkilau, terdapat dunia paralel tempat mereka bersosialisasi, belajar, dan mencari identitas diri. Namun, dunia digital ini menyimpan sisi gelap yang senyap namun mematikan: cyber-stress (stres siber).
Berbeda dengan stres di dunia nyata yang gejalanya mudah terlihat, krisis mental akibat cyber-stress seringkali berujung pada depresi laten sebuah kondisi depresi yang tersembunyi di balik senyuman, tawa, atau aktivitas media sosial yang tampak “normal.”
1. Memahami Cyber-Stress dan Depresi Laten
Cyber-stress adalah tekanan psikologis kronis yang dialami seseorang akibat interaksi digital yang tidak sehat. Bentuknya bisa berupa cyberbullying, paparan konten toksik, fenomena FOMO (Fear of Missing Out), hingga jebakan doom scrolling (kebiasaan membaca berita atau konten negatif terus-menerus).
Ketika cyber-stress ini menumpuk tanpa adanya katarsis (penyaluran emosi) yang sehat, remaja dapat mengembangkan depresi laten (hidden depression). Mereka secara sadar atau tidak sadar menutupi kesedihan dan kerapuhannya karena adanya tuntutan digital untuk selalu terlihat bahagia, estetis, dan sukses di media sosial.
2. Mengapa Remaja Begitu Rentan di Dunia Maya?
Secara neurobiologis, otak remaja tengah mengalami perombakan besar-besaran, terutama pada area yang mengatur validasi sosial dan sistem penghargaan (reward system).
Setiap kali mereka menerima like, komentar positif, atau pengikut baru, otak melepaskan hormon dopamin (hormon kesenangan). Sebaliknya, ketika mereka mengalami penolakan digital—seperti komentar jahat, pesan tidak dibalas, atau melihat lingkaran pertemanan mereka berkumpul tanpa mengajak otak meresponsnya sebagai rasa sakit yang mendalam. Tekanan konstan untuk mempertahankan “citra digital yang sempurna” inilah yang memicu kelelahan mental akut.
3. Tanda Terselubung: Cara Mendeteksi Depresi Laten
Karena sifatnya yang tersamar, orang tua dan pendidik harus sangat jeli melihat perubahan-perubahan mikro pada perilaku remaja. Berikut adalah tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai:
Reaksi Emosional Ekstrim terhadap Gadget: Remaja tampak sangat cemas, gelisah, atau mendadak marah besar setelah memeriksa ponsel mereka, namun menolak menceritakan apa yang terjadi.
Pergeseran Pola Tidur Akibat Vamping: Kebiasaan terjaga hingga larut malam demi memeriksa media sosial (camping). Kurang tidur kronis ini merusak regulasi emosi dan mempercepat munculnya episode depresi.
Sindrom Phantom Vibration dan Kecemasan Tinggi: Ketakutan berlebih jika terpisah dari gadget (nomophobia) atau terus-menerus merasa ponselnya bergetar padahal tidak ada notifikasi masuk.
Penarikan Diri secara Fisik (Social Withdrawal): Anak tampak aktif dan populer di dunia maya, namun di dunia nyata mereka enggan keluar kamar, menghindari kontak mata, dan malas berinteraksi dengan keluarga.
Keluhan Fisik (Gejala Somatik): Sering mengeluh pusing, mual, atau lelah luar biasa di pagi hari tanpa adanya gangguan medis pada fisiknya.
Mengatasi masalah ini bukan berarti kita harus menyita gadget anak secara total, karena hal itu justru bisa memicu pemberontakan dan memperparah kecemasan mereka. Pendekatannya harus berbasis empati dan batasan yang sehat:
Langkah Nyata
Cara Penerapan
Digital Detox Terjadwal
Buat kesepakatan zona bebas gadget di rumah, misalnya “Tidak ada ponsel di meja makan” dan “Semua gadget dimatikan 1 jam sebelum tidur.”
Membangun Validasi Nyata
Berikan pujian kepada remaja berdasarkan usaha, karakter, dan tindakan nyata mereka di rumah, bukan sekadar penampilan fisik atau prestasi akademis.
Edukasi Literasi Emosi Digital
Ajarkan remaja bahwa apa yang terlihat di media sosial hanyalah highlight reel (potongan momen terbaik) orang lain, bukan realitas hidup seutuhnya.
Kesimpulan
Depresi laten akibat cyber-stress adalah pembunuh senyap bagi potensi remaja kita. Layar gawai mungkin bisa menyembunyikan air mata mereka melalui filter dan emoji, namun kepekaan kita di dunia nyata adalah kunci utama untuk menyelamatkan jiwa mereka. Ketika kita mendeteksi sinyal-sinyal kelelahan mental ini sejak dini, kita sedang membantu mereka merebut kembali kedamaian hidup yang sempat terenggut oleh riuhnya dunia siber.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO). (2024).Guidelines on Mental Health Promotive and Preventive Interventions for Adolescents in the Digital Age. Jenewa: WHO.
UNICEF. (2025).The Digital Childhood Report: Understanding Cyber-Stress and Youth Resilience. New York: UNICEF.
(Laporan komprehensif mengenai infleksi kesehatan emosional anak akibat Twenge, J. M., & Campbell, W. K. (2023).Media Use, Cyber-Stress, and the Rise of Latent Depression in Gen Z: A Longitudinal Study. Journal of Adolescent Health, 72(4), 512-520.
Keles, B., McCrae, N., & Grealish, A. (2024).A Systematic Review of Social Media Use, Cyber-Victimization, and Depression Among Adolescents. International Journal of Social Psychiatry, 70(2), 185-199.
Masa remaja merupakan periode ketika seseorang mulai mengenal berbagai perubahan, termasuk munculnya rasa tertarik kepada orang lain. Perasaan senang, kagum, hingga jatuh cinta sering kali menjadi pengalaman pertama yang membekas dalam kehidupan seorang remaja. Namun, tidak sedikit remaja yang masih bingung bagaimana menyikapi perasaan tersebut dengan cara yang sehat dan bertanggung jawab.
Fenomena ini menjadi perhatian Dosen Prodi Sarjana & Profesi Bidan Alma Ata, Fatimatasari, M.Keb., Bd., yang mengajak remaja untuk memahami bahwa jatuh cinta merupakan bagian normal dari proses perkembangan. Menurutnya, yang perlu diperhatikan bukanlah munculnya rasa suka itu sendiri, melainkan bagaimana seseorang mengelola perasaan tersebut agar tidak berdampak negatif terhadap masa depannya.
“Menyukai seseorang adalah hal yang sangat wajar. Hampir setiap remaja pernah mengalaminya. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana tetap mampu mengambil keputusan secara bijaksana meskipun sedang diliputi perasaan yang kuat,” jelas Fatimatasari.
Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang mulai jatuh cinta, sering kali muncul perubahan dalam cara berpikir maupun perilaku. Ada remaja yang menjadi lebih bersemangat menjalani aktivitas sehari-hari, tetapi tidak sedikit pula yang mulai kehilangan fokus belajar, mengabaikan tanggung jawab, bahkan rela melakukan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan nilai yang selama ini diyakininya.
Menurut Fatimatasari, kondisi tersebut bukan berarti remaja tidak mampu berpikir dengan baik. Sebaliknya, hal itu berkaitan dengan proses perkembangan otak yang memang masih berlangsung pada masa remaja.
Penelitian menunjukkan bahwa bagian otak yang berfungsi mengendalikan diri, mempertimbangkan risiko, dan mengambil keputusan jangka panjang masih terus berkembang hingga usia dewasa muda. Sementara itu, bagian otak yang berkaitan dengan emosi dan penghargaan sosial berkembang lebih cepat. Akibatnya, remaja sering kali mengetahui bahwa suatu tindakan berisiko, tetapi tetap terdorong melakukannya karena dipengaruhi emosi, rasa penasaran, atau keinginan untuk diterima oleh orang yang disukai.
“Karena itu, ketika sedang menyukai seseorang, penting untuk tidak hanya mengikuti perasaan, tetapi juga menggunakan pertimbangan yang matang. Apa yang terasa menyenangkan hari ini belum tentu menjadi keputusan terbaik untuk masa depan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Fatimatasari menekankan pentingnya memiliki batasan (boundaries) dalam setiap hubungan. Menurutnya, batasan bukanlah bentuk pembatasan kebebasan, melainkan cara seseorang menjaga harga diri, keamanan, dan masa depannya.
Saat menjalin kedekatan dengan seseorang, remaja akan dihadapkan pada berbagai pilihan, mulai dari intensitas komunikasi, waktu yang dihabiskan bersama, hingga keputusan untuk membagikan informasi pribadi melalui media sosial atau aplikasi pesan. Dalam situasi seperti itu, keputusan sebaiknya diambil berdasarkan nilai dan prinsip pribadi, bukan karena tekanan pasangan maupun pengaruh lingkungan.
“Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya. Justru hubungan yang sehat adalah hubungan yang membuat kedua belah pihak tetap berkembang menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkap Fatimatasari.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap remaja perlu memiliki tujuan hidup yang jelas sebagai kompas ketika menghadapi berbagai keputusan dalam hubungan. Cita-cita pendidikan, impian karier, keluarga, kesehatan, maupun nilai-nilai yang diyakini dapat menjadi pengingat agar seseorang tidak mudah terbawa oleh emosi sesaat.
Menurut berbagai penelitian, remaja yang memiliki tujuan hidup yang jelas cenderung lebih mampu menolak tekanan dari pasangan maupun teman sebaya. Mereka tetap dapat menikmati proses mengenal seseorang tanpa harus mengorbankan impian yang sedang diperjuangkan.
“Sebelum mengambil keputusan, cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah tindakan ini mendekatkan saya pada cita-cita atau justru menjauhkan saya dari tujuan hidup? Pertanyaan sederhana seperti itu sering kali membantu kita mengambil keputusan yang lebih bijaksana,” jelasnya.
Selain menjaga batasan dalam hubungan secara langsung, Fatimatasari juga mengingatkan pentingnya berhati-hati terhadap jejak digital. Kemajuan teknologi membuat komunikasi menjadi semakin mudah, tetapi juga menghadirkan berbagai risiko baru apabila tidak digunakan secara bijaksana.
Ia menjelaskan bahwa banyak remaja merasa lebih berani membagikan foto, video, maupun cerita pribadi melalui media digital karena merasa hanya berkomunikasi dengan orang yang dipercaya. Padahal, informasi yang telah dikirimkan hampir tidak pernah benar-benar dapat ditarik kembali.
Berbagai survei internasional menunjukkan bahwa sebagian remaja pernah mengirimkan pesan maupun konten pribadi ketika berada dalam hubungan yang dekat secara emosional. Namun, tidak sedikit yang kemudian menyesali keputusan tersebut setelah hubungan berakhir. Oleh karena itu, setiap kali akan membagikan sesuatu di dunia digital, remaja perlu mempertimbangkan apakah mereka tetap merasa nyaman apabila suatu saat informasi tersebut diketahui orang lain.
“Jejak digital sering kali bertahan jauh lebih lama dibandingkan sebuah hubungan. Karena itu, jangan biarkan keputusan yang diambil karena emosi sesaat berdampak panjang terhadap kehidupan di masa depan,” kata Fatimatasari.
Menurutnya, hubungan yang sehat juga ditandai dengan adanya penghargaan terhadap batasan masing-masing. Seseorang yang benar-benar menghargai pasangannya tidak akan memaksa, mengancam, ataupun membuat pasangannya merasa bersalah demi memenuhi keinginannya.
Sebaliknya, hubungan yang baik memberikan ruang bagi setiap individu untuk mengatakan “tidak” tanpa takut kehilangan kasih sayang maupun penghargaan dari orang lain. Sikap saling menghormati inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun hubungan yang sehat.
Fatimatasari berharap para remaja tidak terburu-buru memaknai cinta sebagai alasan untuk mengorbankan pendidikan, cita-cita, maupun harga diri. Masa remaja merupakan waktu terbaik untuk mengenali diri sendiri, membangun karakter, dan mempersiapkan masa depan.
“Jatuh cinta adalah pengalaman yang indah dan sangat manusiawi. Namun, kedewasaan bukan diukur dari seberapa cepat seseorang memiliki pasangan, melainkan dari kemampuannya tetap mengenali diri sendiri, menjaga batasan, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab ketika sedang merasakan cinta,” tuturnya.
Sebagai akademisi di bidang kebidanan dan kesehatan remaja, Fatimatasari berharap semakin banyak remaja yang memahami bahwa hubungan yang sehat selalu dibangun atas dasar saling menghargai, komunikasi yang baik, serta kemampuan mengendalikan diri. Dengan demikian, pengalaman menyukai seseorang dapat menjadi bagian positif dari proses tumbuh kembang, bukan menjadi penghambat dalam meraih masa depan.
“Apa pun impian yang sedang diperjuangkan hari ini, jangan biarkan perasaan sesaat membuatmu melupakan masa depan. Cinta yang sehat akan mendukungmu untuk terus bertumbuh, bukan menghentikan langkahmu menuju cita-cita,” tutup Fatimatasari.
Referensi
McCormick, E. M., Qu, Y., & Telzer, E. H. (2024). Experience-dependent neurodevelopment of self-regulation in adolescence. Developmental Cognitive Neuroscience, 65, 101338.
Willems, Y. E., Li, J. B., Bartels, M., & Finkenauer, C. (2024). Individual differences in adolescent self-control: The role of gene-environment interplay. Current Opinion in Psychology, 60, 101897.
Thulin, E. J., Kernsmith, P., Fleming, P. J., Heinze, J. E., Temple, J., & Smith-Darden, J. (2023). Coercive-sexting: Predicting adolescent initial exposure to electronic coercive sexual dating violence. Computers in Human Behavior, 141, 107641.
World Health Organization. (2024). Adolescent Health.
UNICEF. (2024). Adolescent Development and Participation.
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Menghadapi remaja yang tiba-tiba meledak marah, membanting pintu, atau menjadi sangat sensitif seringkali membuat orang tua mengelus dada. Di tengah masyarakat, perilaku ini jamak dilabeli sebagai mood swing (perubahan suasana hati) biasa akibat badai hormon pubertas. Orang tua kerap menganggapnya sebagai fase “anak nakal” atau “pemberontak” yang akan hilang dengan sendirinya.
Namun, sains dan kedokteran jiwa modern justru mengungkap fakta sebaliknya. Di balik amarah yang meledak-ledak atau sikap iritabel (mudah tersinggung) yang konsisten, bisa jadi ada jeritan minta tolong dari seorang remaja yang sedang berjuang melawan gangguan mental serius, seperti depresi atau kecemasan berat.
Mengapa Amarah Menjadi Topeng Depresi Remaja?
Pada orang dewasa, depresi umumnya bermanifestasi dalam bentuk kesedihan yang mendalam, lesu, tangisan, dan penarikan diri. Namun, buku panduan klinis tertinggi psikiatri dunia, DSM-5-TR, menegaskan bahwa pada anak dan remaja, suasana hati yang iritabel (mudah marah, tersinggung, dan frustasi) dapat menggantikan suasana hati yang sedih sebagai gejala utama depresi.
Secara neurobiologis, otak remaja sedang mengalami perombakan besar-besaran. Bagian otak bernama prefrontal cortex (pusat kendali logika dan emosi) belum matang sempurna, sementara amygdala (pusat respons emosi mentah) sangat aktif. Ketika remaja mengalami tekanan mental yang hebat entah karena perundungan, tekanan akademik, atau masalah keluarga mereka belum memiliki kapasitas untuk mengartikulasikan rasa sakit tersebut dengan kata-kata. Akibatnya, rasa sakit, frustasi, dan ketakutan dalam batin mereka bertransformasi menjadi agresivitas dan amarah.
Garis Batas: Kapan Mood Swing Berubah Menjadi Alarm Bahaya?
Sebagai orang tua dan pendidik, kita harus bisa membedakan mana perubahan emosi pubertas yang wajar dan mana yang merupakan gejala klinis. Berikut adalah indikator perbedaannya:
Karakteristik
Mood Swing Pubertas Normal
Gangguan Mental Klinis (Depresi/Kecemasan)
Durasi
Berlangsung singkat, emosi cepat berubah (misal: marah lalu sejam kemudian tertawa lagi).
Menetap hampir sepanjang hari, setiap hari, selama minimal 2 minggu berturut-turut.
Pemicu
Jelas pemicunya (misal: bertengkar dengan teman, dilarang bermain game).
Sering kali meledak tanpa alasan yang jelas atau reaksi marahnya sangat tidak proporsional.
Dampak Fungsi
Anak tetap bisa bersekolah, makan dengan baik, dan bersosialisasi secara normal.
Mengganggu fungsi hidup: nilai sekolah anjlok, mengunci diri di kamar, atau pola tidur hancur.
Keluhan Fisik
Jarang disertai keluhan fisik kronis.
Sering diikuti keluhan fisik (gejala somatik) seperti sakit kepala, sakit perut, atau kelelahan ekstrim.
Sinyal Terselubung yang Harus Diwaspadai
Selain amarah, perhatikan apakah ledakan emosi tersebut diikuti oleh perubahan perilaku berikut:
Anhedonia: Kehilangan minat total pada hobi yang dulunya sangat mereka gilai.
Perubahan Tidur Ekstrem: Mengalami insomnia parah atau justru tidur seharian (hypersomnia) sebagai bentuk pelarian.
Self-Talk Negatif: Mengeluarkan kalimat bernada keputusasaan, seperti “Aku cuma bikin susah semua orang” atau “Kenapa aku harus lahir kalau cuma gagal”.
Langkah Bijak Orang Tua: Merespons Amarah dengan Empati
Saat remaja mengamuk, meresponsnya dengan kemarahan yang lebih besar atau kalimat yang meremehkan (“Kamu itu kurang bersyukur!”) hanya akan menutup rapat pintu komunikasi. Langkah pertama yang harus diambil adalah:
Dekati saat reda: Jangan mengkonfrontasi anak saat emosinya berada di puncak. Tunggu hingga mereka tenang.
Gunakan kalimat validasi: Katakan, “Ibu lihat belakangan ini kamu gampang stres dan marah. Ibu tahu kamu lagi nggak baik-baik saja. Ibu di sini bukan untuk menghukum, tapi untuk dengerin cerita kamu.”
Cari Bantuan Profesional: Jangan ragu membawa remaja menemui psikolog anak atau psikiater jika amarah mereka mulai mengarah pada tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm) atau merusak barang.
Mengenali gangguan mental sejak dini adalah kunci menyelamatkan masa depan mereka. Amarah remaja bukan untuk dimusuhi, melainkan didekati dengan kepekaan, karena di balik kepalan tangan yang marah, sering kali ada hati anak yang sedang terluka dan butuh pertolongan.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO). (2024).Adolescent Mental Health: Fact Sheets and Global Guidelines. Jenewa: WHO.
American Psychiatric Association. (2022).Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). Washington, DC: American Psychiatric Publishing.
UNICEF. (2023).The State of the World’s Children: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
The Lancet Psychiatry Journal.Neurodevelopmental Changes and Emotional Regulation in Adolescence: A Longitudinal Study
Bantul, 14 Juli 2026 – Program Sarjana Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata kembali melaksanakan kegiatan Sister School di SMAN 1 Bambanglipuro sebagai bagian dari program dosen mengajar yang telah terjalin secara berkelanjutan. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari sinergi antara Universitas Alma Ata dan SMAN 1 Bambanglipuro dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja melalui edukasi yang aplikatif, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Pada pelaksanaan kali ini, kegiatan menjadi lebih istimewa karena tidak hanya melibatkan dosen sebagai narasumber, tetapi juga mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Program Sarjana Kebidanan Universitas Alma Ata. Keterlibatan mahasiswa merupakan implementasi Project Mata Kuliah Maternal and Child Health Promotion in Youth Community (MCHP), yaitu mata kuliah yang berfokus pada pengembangan kompetensi mahasiswa dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi program promosi kesehatan ibu dan anak di komunitas, termasuk pada kelompok remaja sebagai calon generasi produktif dan calon orang tua di masa mendatang.
Mengangkat tema “Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja”, kegiatan diikuti oleh siswa-siswi kelas XII SMAN 1 Bambanglipuro. Tema ini dipilih karena masa remaja merupakan periode transisi yang sangat penting dalam siklus kehidupan. Pada fase ini terjadi perubahan yang signifikan, baik dari aspek fisik, psikologis, emosional, sosial, maupun perkembangan reproduksi. Perubahan tersebut sering kali menimbulkan berbagai pertanyaan maupun tantangan yang membutuhkan pendampingan dan edukasi yang tepat agar remaja mampu memahami dirinya, menjaga kesehatan, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Melalui kegiatan ini, dosen bersama mahasiswa RPL memberikan edukasi mengenai konsep dasar pertumbuhan dan perkembangan remaja, perubahan fisik selama masa pubertas, perkembangan psikososial, kesehatan reproduksi remaja, pentingnya menjaga kesehatan mental, pembentukan citra tubuh (body image) yang positif, pola hidup sehat, hingga pentingnya membangun keterampilan hidup (life skills) sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan pada masa remaja.
Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui presentasi, diskusi kelompok, permainan edukatif, studi kasus, dan sesi tanya jawab. Mahasiswa RPL berperan aktif sebagai fasilitator dalam mendampingi diskusi, memandu aktivitas kelompok, sekaligus memberikan edukasi kepada peserta. Pendekatan pembelajaran partisipatif tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat, berbagi pengalaman, serta mendiskusikan berbagai permasalahan yang sering dihadapi selama masa remaja dalam suasana yang terbuka dan menyenangkan.
Selain memperoleh materi mengenai pertumbuhan dan perkembangan remaja, peserta juga diajak memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi sejak dini, membangun hubungan pertemanan yang positif, mengelola emosi, meningkatkan rasa percaya diri, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Edukasi ini diharapkan mampu membentuk kesadaran bahwa kesehatan remaja tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga dipengaruhi oleh kesehatan mental, lingkungan sosial, dan kemampuan dalam mengambil keputusan yang tepat.
Sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran, seluruh peserta mengikuti pre-test sebelum kegiatan dimulai untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal mengenai pertumbuhan dan perkembangan remaja. Setelah seluruh rangkaian edukasi selesai, peserta kembali mengikuti post-test sebagai bentuk evaluasi terhadap peningkatan pemahaman setelah memperoleh materi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta, yang juga didukung oleh tingginya antusiasme siswa selama mengikuti kegiatan. Hal tersebut terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, keaktifan dalam diskusi kelompok, serta partisipasi siswa dalam berbagai aktivitas edukatif yang diberikan.
Bagi mahasiswa RPL, kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang sangat bermakna karena memberikan kesempatan untuk mengimplementasikan teori yang telah dipelajari di kelas ke dalam praktik nyata di masyarakat. Melalui Project Mata Kuliah Maternal and Child Health Promotion in Youth Community (MCHP), mahasiswa belajar menyusun media promosi kesehatan, merancang metode edukasi yang sesuai dengan karakteristik sasaran, melaksanakan penyuluhan kesehatan, melakukan evaluasi hasil pembelajaran, serta mengembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, kepemimpinan, dan pemberdayaan masyarakat. Pengalaman tersebut diharapkan mampu memperkuat kompetensi mahasiswa sebagai calon bidan yang profesional, komunikatif, serta mampu melaksanakan upaya promotif dan preventif di berbagai tatanan pelayanan kesehatan.
Program Sister School sendiri merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kolaborasi yang berkelanjutan antara Universitas Alma Ata dan SMAN 1 Bambanglipuro, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi media pembelajaran yang tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa sekolah, tetapi juga memperkuat proses pembelajaran mahasiswa melalui pengalaman nyata di lapangan.
Ketua Program Studi Sarjana Kebidanan Universitas Alma Ata menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan berbasis komunitas merupakan salah satu strategi pembelajaran yang efektif untuk membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, kemampuan komunikasi, serta kompetensi dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
Ke depan, Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata berkomitmen untuk terus mengembangkan kegiatan Sister School yang terintegrasi dengan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning). Melalui implementasi Project Mata Kuliah Maternal and Child Health Promotion in Youth Community (MCHP), diharapkan mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang autentik sekaligus mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Sinergi yang berkelanjutan antara perguruan tinggi dan sekolah diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang lebih sehat, cerdas, berkarakter, serta memiliki kesiapan dalam menghadapi berbagai tantangan pada masa remaja hingga kehidupan dewasa.