by Admin Kebidanan | Sep 15, 2026 | Berita S1 Profesi Bidan
Masa remaja merupakan periode penting dalam kehidupan yang ditandai dengan berbagai perubahan fisik, psikologis, dan sosial. Pada tahap ini, remaja membutuhkan informasi yang tepat dan sesuai dengan tahap perkembangannya agar mampu memahami perubahan yang terjadi pada dirinya serta menjaga kesehatan secara bertanggung jawab. Salah satu aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian adalah kesehatan reproduksi.
Sebagai bagian dari pelaksanaan Maternal and Child Health Promotion (MCHP) dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) 12 Magelung Universitas Alma Ata, mahasiswa S1 Kebidanan Fitri Azizaturrahmahmelaksanakan kegiatan edukasi kesehatan reproduksi bagi siswa kelas XII SMK NU 05 Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, pada 8 September 2026.
Kegiatan ini merupakan bentuk penerapan kompetensi mahasiswa dalam melakukan promosi kesehatan melalui pemberian edukasi yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik kelompok sasaran, khususnya remaja.
Edukasi Kesehatan Reproduksi bagi Remaja
Dalam kegiatan MCHP tersebut, mahasiswa memberikan edukasi mengenai berbagai aspek kesehatan reproduksi remaja dengan menggunakan bahasa yang sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami oleh peserta.
Materi yang diberikan meliputi perubahan fisik dan psikologis pada masa remaja, kebersihan dan perawatan organ reproduksi, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, serta upaya menjaga diri dalam lingkungan pergaulan.
Selain aspek fisik, siswa juga diberikan pemahaman bahwa kesehatan reproduksi berkaitan dengan kemampuan remaja untuk mengenali dan menghargai dirinya, memahami batasan pribadi, menjaga perilaku, serta mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab.
Pemberian informasi tersebut diharapkan dapat membantu siswa memperoleh pengetahuan yang benar sehingga mampu menghadapi berbagai perubahan selama masa remaja dengan lebih percaya diri dan bijak.
MCHP Dikemas secara Interaktif
Sebagai bagian dari strategi promosi kesehatan, kegiatan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi secara satu arah. Mahasiswa mengembangkan proses edukasi yang interaktif melalui diskusi dan sesi tanya jawab, sehingga siswa memiliki kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan dan berbagi pemahaman mengenai berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja.
Pendekatan komunikasi dua arah membuat siswa lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Antusiasme peserta terlihat dari partisipasi selama penyampaian materi maupun diskusi.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa juga dapat mengidentifikasi kebutuhan informasi peserta dan memberikan klarifikasi terhadap berbagai pemahaman yang masih kurang tepat mengenai kesehatan reproduksi.
Mahasiswa mengajak siswa untuk mulai menerapkan perilaku sederhana yang dapat mendukung kesehatan diri, seperti menjaga kebersihan tubuh dan organ reproduksi, menggunakan pakaian yang bersih, menerapkan pola hidup sehat, serta memiliki kemampuan untuk menjaga diri dalam lingkungan sosial.
Penerapan Peran Mahasiswa Kebidanan dalam Promosi Kesehatan
Kegiatan edukasi ini menjadi salah satu bentuk penerapan peran mahasiswa S1 Kebidanan dalam bidang promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan MCHP, mahasiswa tidak hanya berperan dalam menyampaikan informasi kesehatan, tetapi juga belajar menyesuaikan metode komunikasi dengan karakteristik kelompok sasaran.
Remaja sebagai kelompok sasaran membutuhkan pendekatan edukasi yang komunikatif, tidak menghakimi, dan memberikan ruang untuk bertanya serta berdiskusi. Oleh karena itu, kemampuan mahasiswa dalam membangun komunikasi yang efektif menjadi bagian penting dalam keberhasilan kegiatan promosi kesehatan.
Kegiatan ini juga memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama proses pembelajaran di lingkungan akademik ke dalam situasi nyata di masyarakat.
Mendorong Kesadaran Remaja untuk Menjaga Kesehatan
Pelaksanaan edukasi kesehatan reproduksi melalui kegiatan MCHP diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga mendorong terbentuknya kesadaran untuk menjaga kesehatan sejak masa remaja.
Pengetahuan yang diberikan dapat menjadi bekal bagi siswa untuk lebih mengenali kondisi dirinya, menjaga kebersihan dan kesehatan, membangun kebiasaan hidup sehat, serta mempertimbangkan berbagai konsekuensi sebelum mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengalaman pembelajaran yang memperkuat keterampilan dalam melakukan promosi kesehatan, komunikasi edukatif, dan pemberdayaan kelompok sasaran sebagai bagian dari kompetensi calon bidan.
Melalui kegiatan MCHP dalam KKNT 12 Magelung, diharapkan siswa kelas XII SMK NU 05 Kaliwungu Selatan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kesehatan reproduksi dan mampu menerapkan perilaku sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud kontribusi mahasiswa S1 Kebidanan Universitas Alma Ata dalam mendukung peningkatan pengetahuan dan kesadaran kesehatan pada kelompok remaja di masyarakat.
by Admin Kebidanan | Sep 14, 2026 | Berita D3, Berita S1 Profesi Bidan
Yogyakarta — Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata menyelenggarakan kegiatan Review Kurikulum 2026pada Rabu, 2 September 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ibu Dr. Heni Puji Wahyuningsih, S.Si.T., M.Keb., selaku Ketua Pengurus Daerah Ikatan Bidan Indonesia (PD IBI) dan Ketua AIPKIND Regional DIY, sebagai reviewer kurikulum. Kegiatan diikuti oleh dosen Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata sebagai bagian dari proses penyempurnaan kurikulum yang akan diterapkan pada tahun akademik mendatang.
Review Kurikulum 2026 merupakan salah satu tahapan penting dalam pengembangan kurikulum Program Studi Kebidanan. Kegiatan ini bertujuan memperoleh masukan dari pihak eksternal yang memiliki pengalaman dan kompetensi dalam bidang pendidikan serta praktik kebidanan, sehingga kurikulum yang disusun dapat semakin relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan masyarakat, dan tuntutan kompetensi profesi bidan.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Heni Puji Wahyuningsih, S.Si.T., M.Keb. memberikan berbagai masukan dan rekomendasi terhadap rancangan Kurikulum 2026. Review dilakukan secara menyeluruh dengan membahas keterkaitan antara visi dan misi program studi, profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan (CPL), bahan kajian, struktur kurikulum, mata kuliah, bobot SKS, proses pembelajaran, serta sistem asesmen.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam review adalah penguatan penerapan pendekatan Outcome-Based Education (OBE). Kurikulum diharapkan memiliki keterkaitan yang jelas dan sistematis antara profil lulusan, CPL, bahan kajian, mata kuliah, metode pembelajaran, dan asesmen. Dengan demikian, setiap mata kuliah dapat memberikan kontribusi yang terukur terhadap pencapaian kompetensi lulusan.
Ketua AIPKIND Regional DIY juga memberikan arahan agar pengembangan kurikulum tidak hanya memperhatikan aspek akademik, tetapi juga memastikan keterkaitan dengan kebutuhan kompetensi lulusan dan perkembangan praktik kebidanan. Hal tersebut menjadi bahan penting bagi Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata dalam melakukan penyempurnaan kurikulum secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata menunjukkan komitmennya untuk terus melakukan evaluasi dan pengembangan kurikulum secara berkelanjutan dengan melibatkan pemangku kepentingan internal maupun eksternal. Kurikulum 2026 diharapkan dapat menjadi landasan dalam penyelenggaraan pendidikan kebidanan yang relevan dan bermutu serta mendukung terbentuknya lulusan yang kompeten, profesional, adaptif, dan mampu memberikan pelayanan kebidanan sesuai kebutuhan masyarakat.
by Admin Kebidanan | Sep 7, 2026 | Artikel D3
Penuis: Dr. Restu Pangestuti, S.ST., MKM.
Yogyakarta, 14 Agustus 2026 — Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan mewarnai kegiatan Farewell Party Jurusan Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata yang diselenggarakan di De Tropen pada Jumat, 14 Agustus 2026. Mengusung tema “Floral”, kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dari Program Studi D3 Kebidanan, S1 Kebidanan, dan Profesi Bidan bersama para dosen dalam suasana santai, akrab, dan penuh keceriaan.
Kegiatan farewell party diselenggarakan sebagai momentum kebersamaan menjelang para mahasiswa menyelesaikan masa studi dan memasuki tahap wisuda. Lebih dari sekadar acara perpisahan, kegiatan ini menjadi ruang untuk mempererat hubungan kekeluargaan antara mahasiswa lintas program studi serta antara mahasiswa dan dosen di lingkungan Jurusan Kebidanan. Nuansa floral yang menjadi tema utama turut memberikan warna tersendiri dalam acara. Para peserta hadir dengan berbagai sentuhan busana dan aksesori bernuansa bunga yang menciptakan suasana ceria, hangat, dan penuh warna. Semangat kebersamaan semakin terasa melalui berbagai rangkaian kegiatan yang dikemas secara santai dan interaktif.
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah games bersama yang menghadirkan gelak tawa sekaligus membangun interaksi dan keakraban antara mahasiswa dan dosen. Selain itu, peserta juga mengikuti tukar kado antar peserta. Kegiatan tersebut menjadi momen sederhana namun bermakna untuk berbagi kebahagiaan dan kenangan sebelum para mahasiswa meninggalkan kehidupan perkuliahan. Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya penampilan dari masing-masing program studi, yang menunjukkan kreativitas dan kekompakan mahasiswa D3 Kebidanan, S1 Kebidanan, maupun Profesi Bidan. Setiap penampilan menjadi representasi semangat, kebersamaan, dan karakter masing-masing program studi.
Momen yang paling menyentuh hadir melalui “Pesan Cinta dari Ketua Program Studi”. Para ketua program studi menyampaikan pesan, doa, motivasi, dan harapan kepada mahasiswa yang akan segera menyelesaikan pendidikan. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan mahasiswa di Jurusan Kebidanan bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga tentang proses bertumbuh, membangun persahabatan, dan menjadi bagian dari keluarga besar kebidanan. Kemeriahan semakin lengkap dengan pembagian berbagai doorprize bagi peserta. Kejutan-kejutan kecil tersebut menambah antusiasme dan keceriaan sepanjang acara, sekaligus menciptakan banyak momen yang dapat dikenang bersama.
Farewell Party Jurusan Kebidanan tahun 2026 pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan menjelang perpisahan. Acara ini menjadi simbol bahwa meskipun para mahasiswa nantinya akan melangkah menuju fase kehidupan dan profesi masing-masing, ikatan kebersamaan yang telah terbentuk selama berada di lingkungan Universitas Alma Ata akan tetap menjadi bagian dari perjalanan mereka. Farewell bukan akhir dari kebersamaan, tetapi awal dari perjalanan baru. Semoga setiap langkah para lulusan menjadi bunga yang terus tumbuh, mekar, dan memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, profesi, dan bangsa.
by Admin Kebidanan | Sep 4, 2026 | Artikel D3
Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb
Dosen Prodi D3 Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata
Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan istilah cortisol detox. Banyak konten mengklaim bahwa minuman tertentu, suplemen, atau rutinitas pagi dapat “membuang racun kortisol” sehingga tubuh menjadi lebih rileks, berat badan turun, wajah tampak lebih segar, hingga hormon kembali seimbang.
Namun, benarkah tubuh memerlukan “detoks” kortisol?
Jawabannya adalah tidak.
Apa Itu Kortisol?
Kortisol adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Hormon ini sering disebut sebagai hormon stres karena kadarnya meningkat saat tubuh menghadapi tekanan, baik fisik maupun emosional.
Namun, kortisol bukanlah hormon yang “jahat”. Justru hormon ini memiliki banyak fungsi penting, seperti:
- Mengatur tekanan darah.
- Membantu mengontrol kadar gula darah.
- Mendukung sistem kekebalan tubuh.
- Membantu tubuh tetap waspada saat menghadapi situasi tertentu.
Masalah muncul ketika kadar kortisol terus-menerus tinggi akibat stres kronis, kurang tidur, atau pola hidup yang tidak sehat.
Benarkah Ada “Cortisol Detox”?
Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa tubuh membutuhkan atau dapat melakukan “detoks kortisol” melalui minuman, jus, atau suplemen tertentu.
Tubuh memiliki sistem alami untuk mengatur kadar hormon, termasuk kortisol. Jadi, istilah cortisol detox lebih merupakan istilah populer di media sosial daripada istilah medis.
Apa Dampaknya Jika Kortisol Terlalu Tinggi?
Kadar kortisol yang tinggi dalam waktu lama dapat berdampak pada kesehatan, seperti:
- Sulit tidur.
- Mudah lelah.
- Sulit berkonsentrasi.
- Berat badan meningkat, terutama di area perut.
- Siklus menstruasi menjadi tidak teratur.
- Penurunan kualitas ovulasi dan kesuburan pada perempuan.
Karena itu, menjaga kadar kortisol tetap seimbang penting untuk kesehatan tubuh, termasuk kesehatan reproduksi.
Cara Menurunkan Kortisol yang Didukung Penelitian
Alih-alih mengikuti tren “detoks”, para ahli menyarankan langkah-langkah sederhana yang terbukti lebih efektif, yaitu:
- Tidur cukup 7–9 jam setiap malam.
- Berolahraga secara rutin dengan intensitas sedang.
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
- Melakukan teknik relaksasi, seperti meditasi atau latihan pernapasan.
- Menjaga hubungan sosial yang positif.
- Mengelola stres dengan cara yang sehat, misalnya melalui hobi atau konseling bila diperlukan.
Jangan Mudah Percaya Klaim Viral
Banyak produk di media sosial mengklaim dapat menurunkan kortisol secara instan. Padahal, hingga kini belum ada makanan atau minuman yang terbukti mampu “membersihkan” kortisol dari tubuh.
Jika stres sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan hanya mengandalkan produk yang sedang viral. Berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Cortisol detox bukanlah istilah medis. Yang dibutuhkan tubuh bukanlah “detoks”, melainkan gaya hidup sehat yang membantu menjaga keseimbangan hormon secara alami.
Daripada menghabiskan uang untuk produk dengan klaim yang belum terbukti, mulailah dari kebiasaan sederhana seperti tidur cukup, makan bergizi, aktif bergerak, dan mengelola stres. Langkah-langkah tersebut tidak hanya membantu menjaga kadar kortisol tetap normal, tetapi juga mendukung kesehatan reproduksi dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA), mahasiswa dididik dengan kurikulum yang dinamis dan berwawasan luas. Kami menyiapkan para calon bidan agar mampu memberikan edukasi preventif-promotif yang relevan dengan tren kesehatan masa kini, termasuk fisiologi tubuh perempuan.
Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan menjadi salah satu yang terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA berkomitmen mencetak lulusan yang adaptif, komunikatif, dan siap pakai di dunia kerja modern, baik di sektor pemerintahan (ASN/PPPK), klinik swasta, maupun sebagai edupreneur kesehatan.
Referensi
- Epel, E. S., et al. (2024). Stress, cortisol, and health: An update on biological mechanisms and clinical implications. The Lancet, 403(10442), 2105–2118.
- Russell, G., Lightman, S. (2023). The human stress response: Physiology and pathophysiology of cortisol. Nature Reviews Endocrinology, 19(11), 673–688.
- Endocrine Society. (2024). Hormone Health Network: Cortisol and Adrenal Gland Health.
- American Psychological Association. (2024). Stress effects on the body.
- McEwen, B. S., & Akil, H. (2022). Revisiting the stress concept: Implications for health and disease. Neuron, 110(1), 12–27.
by Admin Kebidanan | Sep 2, 2026 | Artikel D3
Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb
Dosen Prodi D3 Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata
Belakangan ini, istilah sleepmaxxing ramai dibahas di media sosial. Tren ini mengajak seseorang untuk mengoptimalkan kualitas tidur melalui berbagai cara, mulai dari menjaga jadwal tidur, mengurangi paparan cahaya biru sebelum tidur, hingga menciptakan lingkungan kamar yang nyaman.
Meski sebagian tips yang beredar hanya mengikuti tren, satu hal yang didukung oleh penelitian adalah bahwa tidur yang cukup memang berperan penting dalam menjaga keseimbangan hormon, termasuk hormon reproduksi pada perempuan.
Apa Hubungan Tidur dengan Hormon?
Saat tidur, tubuh tidak hanya beristirahat, tetapi juga memperbaiki berbagai fungsi penting, termasuk mengatur produksi hormon. Kurang tidur dapat mengganggu kerja hormon yang mengontrol siklus menstruasi, ovulasi, metabolisme, hingga respons tubuh terhadap stres.
Akibatnya, perempuan yang sering begadang atau memiliki kualitas tidur yang buruk lebih berisiko mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur, mudah lelah, perubahan suasana hati, bahkan penurunan kesuburan apabila kondisi tersebut berlangsung dalam jangka panjang.
Benarkah Kurang Tidur Bisa Mengganggu Siklus Menstruasi?
Ya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa durasi dan kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan gangguan siklus menstruasi pada remaja maupun perempuan usia produktif.
Kurang tidur dapat meningkatkan hormon kortisol (hormon stres). Jika kadar kortisol terus tinggi, keseimbangan hormon reproduksi seperti estrogen, progesteron, serta hormon yang mengatur ovulasi dapat ikut terganggu. Inilah yang menyebabkan sebagian perempuan mengalami menstruasi terlambat atau siklus menjadi tidak teratur.
Sleepmaxxing Boleh, Asalkan Tidak Berlebihan
Banyak konten sleepmaxxing menyarankan penggunaan suplemen, mouth tape, atau berbagai alat bantu tidur. Padahal, belum semua metode tersebut memiliki bukti ilmiah yang kuat.
Cara terbaik untuk meningkatkan kualitas tidur justru dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti:
- Tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari.
- Menghindari penggunaan gawai 30–60 menit sebelum tidur.
- Membatasi konsumsi kopi atau minuman berkafein pada malam hari.
- Berolahraga secara rutin, tetapi tidak terlalu dekat dengan waktu tidur.
- Menciptakan kamar yang nyaman, gelap, dan tenang.
Berapa Lama Waktu Tidur yang Ideal?
Bagi remaja dan orang dewasa, durasi tidur yang dianjurkan adalah sekitar 7–9 jam setiap malam. Bukan hanya lamanya, kualitas tidur juga penting. Tidur yang sering terbangun atau tidak nyenyak dapat mengurangi manfaat yang diperoleh tubuh.
Tren sleepmaxxing mengingatkan kita bahwa tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat, tetapi merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat. Tidur yang cukup dapat membantu menjaga keseimbangan hormon, mendukung keteraturan siklus menstruasi, meningkatkan konsentrasi, serta menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Daripada mengikuti berbagai trik tidur yang belum terbukti manfaatnya, mulailah dengan memperbaiki kebiasaan tidur setiap hari. Langkah sederhana ini dapat memberikan manfaat besar, termasuk bagi kesehatan reproduksi perempuan.
Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA), mahasiswa dididik dengan kurikulum yang dinamis dan berwawasan luas. Kami menyiapkan para calon bidan agar mampu memberikan edukasi preventif-promotif yang relevan dengan tren kesehatan masa kini, termasuk fisiologi tubuh perempuan.
Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan menjadi salah satu yang terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA berkomitmen mencetak lulusan yang adaptif, komunikatif, dan siap pakai di dunia kerja modern, baik di sektor pemerintahan (ASN/PPPK), klinik swasta, maupun sebagai edupreneur kesehatan.
Referensi
- Wang, X., et al. (2023). Association between sleep quality and menstrual health among women: A systematic review and meta-analysis. Sleep Medicine Reviews, 69, 101776.
- Al Kindi, R., et al. (2024). Sleep disturbance and female reproductive health: Current evidence and future perspectives. Frontiers in Endocrinology, 15, 1369128.
- National Sleep Foundation. (2024). Sleep Duration Recommendations for Adults and Young Adults.
- Khosravi, M., et al. (2023). Sleep, circadian rhythm, and reproductive hormones in women: An updated review. Journal of Clinical Medicine, 12(18), 5904.
- World Health Organization. (2023). Adolescent health: Healthy lifestyle recommendations.