Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Kasus perundungan (bullying) di kalangan anak-anak kini bukan lagi sekadar masalah ejekan di halaman sekolah. Di era digital, polanya meluas menjadi cyberbullying yang beroperasi 24 jam sehari tanpa henti. Dampaknya pun sangat nyata bagi kesehatan fisik dan mental anak, mulai dari penurunan performa akademis, gangguan kecemasan (anxiety), depresi, hingga risiko menyakiti diri sendiri.
Mencegah anak agar tidak terjebak menjadi pelaku maupun korban perundungan tidak bisa dilakukan secara instan ketika masalah sudah terjadi. Fondasi terkuat harus dibangun sejak dini dari dalam diri anak melalui penguatan karakter khusus yang adaptif dengan tantangan “Zaman Now“.
3 Bekal Karakter Utama untuk Membentengi Anak
Berdasarkan studi psikologi perkembangan, anak-anak yang memiliki kecerdasan emosional dan ketahanan diri yang baik cenderung terhindar dari lingkaran perundungan. Berikut adalah tiga karakter esensial yang wajib ditanamkan orang tua di rumah:
1. Karakter Asertif (Berani dan Tegas, Bukan Kasar)
Banyak orang tua keliru mengajarkan anak untuk “membalas pukulan dengan pukulan” agar tidak diremehkan. Cara terbaik sebenarnya adalah melatih perilaku asertif.
Anak yang asertif mampu mengekspresikan ketidaksukaannya tanpa rasa takut, namun tetap menghormati orang lain.
Aksi nyata: Latih anak untuk melakukan kontak mata, berdiri tegak, dan menggunakan intonasi suara yang datar namun lantang saat berkata, “Stop, aku tidak suka kamu bicara seperti itu.” Pelaku bullying biasanya langsung mengurungkan niatnya saat melihat calon korban memancarkan aura percaya diri.
2. Empati Kognitif dan Afektif
Empati adalah penawar racun dari karakter pelaku bullying. Anak zaman sekarang terpapar banyak konten digital yang mendepersonalisasi manusia, membuat mereka rentan kehilangan kepekaan sosial.
Anak yang dibiasakan berempati di rumah akan mampu merasakan penderitaan orang lain, sehingga mereka tidak akan mau menjadi pelaku.
Di sisi lain, jika mereka melihat temannya dirundung, karakter ini mendorong mereka menjadi upstander (pembela), bukan sekadar penonton yang diam.
3. Ketahanan Mental (Resilience) dan Harga Diri (Self-Esteem) yang Sehat
Anak-anak dengan harga diri yang rapuh seringkali mencari validasi dengan cara menindas orang lain (agar merasa berkuasa) atau justru menjadi sangat rapuh saat menerima ejekan kecil.
Orang tua harus membangun harga diri anak berdasarkan usaha mereka (growth mindset), bukan sekadar pujian kosong atau pencapaian akademis belaka.
Anak yang tahu bahwa dirinya berharga dan dicintai di rumah tidak akan mudah goyah mentalnya meskipun mendapat lingkungan yang kurang suportif di luar.
Strategi Praktis Orang Tua di Rumah
Langkah
Implementasi Nyata
Komunikasi “Meja Makan”
Sediakan waktu 15 menit sehari tanpa gawai untuk mengobrol secara mendalam. Tanyakan emosi anak, bukan cuma tugas sekolahnya.
Literasi Digital Terbuka
Ajarkan anak bahwa jempol mereka di media sosial memiliki konsekuensi nyata. Beri batasan bahwa apa yang tidak layak diucapkan langsung, juga tidak layak diketik di kolom komentar.
Role-Play (Simulasi)
Lakukan simulasi drama kecil di rumah. Contohkan situasi jika ada teman yang mengejek, lalu latih bagaimana anak harus merespons secara tenang dan taktis.
Kesimpulan: Karakter adalah Perisai Terbaik
Menjaga anak di zaman sekarang tidak bisa lagi dengan cara mengurung mereka di dalam rumah. Perisai terbaik yang bisa kita berikan adalah karakter yang kokoh. Ketika anak memiliki sikap asertif, empati yang tinggi, dan harga diri yang sehat, mereka tidak hanya selamat dari bahaya bullying, tetapi juga tumbuh menjadi agen perubahan positif bagi generasi mereka.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi atau jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO). (2020). Inspirational Guidelines on School Health and Prevention of Peer Violence. Geneva: WHO.
UNICEF. (2023). The State of the World’s Children: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
Olweus, D., & Limber, S. P. (2019). Bullying in School: Evaluation and Dissemination of the Olweus Bullying Prevention Program. American Journal of Orthopsychiatry, 89(2), 203–212.
Journal of Adolescent Health. (2022). The Power of Upstanders: How Empathy Training Modifies Peer Dynamics in Bullying Situations. Vol. 71, Issue 4, 412-419.
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
YOGYAKARTA – Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA) kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu institusi pendidikan tenaga kesehatan terdepan di Indonesia. Melalui pengumuman hasil Uji Kompetensi Nasional (Ukomnas) Kebidanan periode terbaru, mahasiswa D3 Kebidanan Universitas Alma Ata berhasil meraih tingkat kelulusan yang sangat membanggakan.
Capaian impresif ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bukti nyata dari kapasitas, kompetensi, dan kesiapan para lulusan Alma Ata dalam menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan ibu dan anak di era modern.
Standar Mutu Unggul dan Reputasi Berkelas
Pencapaian luar biasa dalam Ukomnas ini merupakan cerminan dari ekosistem akademik yang kokoh di Universitas Alma Ata. Sebagai perguruan tinggi swasta yang secara konsisten masuk dalam jajaran kampus papan atas nasional, UAA berkomitmen menyelenggarakan pendidikan kebidanan yang berstandar tinggi.
Beberapa keunggulan utama yang menjadikan Prodi D3 Kebidanan UAA unggul secara nasional meliputi:
Kurikulum Berbasis Kompetensi & Kebijakan Global: Kurikulum dirancang adaptif terhadap dinamika pelayanan kesehatan terkini, memadukan keterampilan klinis (hard skills) dan sikap profesional (soft skills).
Fasilitas Laboratorium Kebidanan Terpadu: Mahasiswa berlatih menggunakan instrumen dan simulator medis modern yang mendekati kondisi nyata di lapangan, sehingga tingkat kesiapan praktikum mereka sangat matang.
Staf Pengajar Berkualifikasi Tinggi: Dididik oleh dosen-dosen berpengalaman, pakar di bidang kesehatan reproduksi, serta aktif dalam riset dan pengabdian masyarakat.
Penguatan Nilai Keislaman dan Etika Profesi: Selain unggul secara intelektual, bidan lulusan Alma Ata dibekali dengan karakter empati, ketelitian, dan nilai-nilai moral yang kuat dalam melayani masyarakat.
Bidan Masa Depan yang Siap Mengabdi
Lulus Ukomnas secara nasional merupakan syarat mutlak (exit exam) untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) Bidan. Keberhasilan lulusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata menembus kelulusan ini membuktikan bahwa lulusan UAA memiliki daya saing tinggi dan siap langsung diterjunkan ke berbagai sarana pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit, puskesmas, Praktik Mandiri Bidan (PMB), maupun lembaga kesehatan lainnya di seluruh Indonesia.
“Keberhasilan ini mempertegas reputasi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata sebagai pencetak tenaga bidan yang profesional, handal, dan berdaya saing global.”
Dengan pencapaian ini, Universitas Alma Ata semakin memperkokoh perannya sebagai benteng pencetak tenaga kesehatan unggulan yang siap mengabdi demi mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Standar Kompetensi Bidan Indonesia. Jakarta: Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/320/2020.
Komite Nasional Uji Kompetensi Mahasiswa Bidang Kesehatan (UKOMNAS).Pedoman Pelaksanaan Uji Kompetensi Mahasiswa Kebidanan. Kemendikbud Ristek RI.
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Bullying atau perundungan adalah momok menakutkan yang dapat merenggut keceriaan masa kecil seorang anak. Dampak dari tindakan ini tidak hanya menyisakan luka fisik, melainkan trauma psikologis mendalam yang berpotensi terbawa hingga mereka dewasa mulai dari gangguan kecemasan (anxiety), depresi, hingga penurunan drastis pada performa akademis.
Banyak orang tua merasa cemas dan berpikir bahwa satu-satunya cara melindungi anak adalah dengan selalu mengawasi mereka 24 jam atau melatih mereka bela diri fisik agar bisa membalas pukulan. Padahal, perlindungan terbaik dan paling realistis yang bisa diberikan orang tua adalah membekali anak dengan “perisai mental” langsung dari dalam rumah.
Perisai mental ini dibentuk melalui pola asuh yang membangun resiliensi, rasa percaya diri, dan ketegasan (assertiveness) sehingga anak tidak menjadi target empuk para pelaku perundungan (bullies). Berikut adalah langkah-langkah konkret yang dapat Anda lakukan di rumah.
1. Menanamkan Sikap Tegas (Assertiveness) Melalui Bahasa Tubuh
Pelaku perundungan umumnya adalah seorang oportunis. Mereka mencari korban yang terlihat rapuh, tidak percaya diri, mudah diintimidasi, dan cenderung pasrah. Oleh karena itu, melatih anak cara membawa diri adalah langkah preventif pertama.
Di rumah, ajarkan dan simulasikan tiga aspek bahasa tubuh yang tangguh bersama anak:
Kontak Mata (Eye Contact): Latih anak untuk menatap mata lawan bicaranya dengan berani, bukan menunduk atau melihat ke arah lain saat diintimidasi.
Postur Tubuh yang Tegap: Ajarkan anak untuk berjalan dengan bahu terbuka dan kepala terangkat. Postur tubuh yang tegak memancarkan aura kepercayaan diri.
Suara yang Tenang namun Tegas: Latih anak untuk berani berkata, “Hentikan, aku tidak suka kamu memperlakukanku seperti itu,” dengan nada suara yang lantang, datar, dan tidak emosional (tidak merengek atau berteriak histeris). Pelaku perundungan akan kehilangan minat jika korbannya tidak menunjukkan reaksi ketakutan yang mereka harapkan.
2. Membangun Komunikasi yang Aman (Safe Space) di Rumah
Banyak kasus perundungan berjalan berbulan-bulan tanpa ketahuan karena anak takut atau malu untuk bercerita kepada orang tuanya. Tugas Anda adalah memastikan rumah menjadi tempat paling aman untuk menumpahkan segala keluh kesah.
Dengarkan Tanpa Menghakimi: Saat anak bercerita tentang harinya yang buruk, dengarkan terlebih dahulu dengan penuh empati. Hindari kalimat yang menyudutkan seperti, “Kamu sih, kok diam aja digituin?”
Validasi Perasaan Anak: Katakan pada mereka bahwa wajar untuk merasa sedih atau marah. Kalimat sederhana seperti, “Ibu paham itu rasanya pasti nggak nyaman banget. Terima kasih ya sudah berani cerita ke Ibu,” akan membuat anak merasa didukung sepenuhnya. Anak yang tahu mereka didukung di rumah tidak akan memendam masalah perundungan sendirian.
3. Menumbuhkan Harga Diri (Self-Esteem) Anak Melalui Aktivitas Luar Rumah
Anak yang memiliki harga diri yang kuat tidak akan mudah goyah oleh ejekan atau hinaan dari pelaku perundungan. Anda bisa membantu membentuk harga diri ini dengan menyalurkan minat dan bakat mereka di luar lingkungan sekolah formal.
Ikuti Komunitas Positif: Daftarkan anak pada klub olahraga, sanggar seni, kelas robotik, atau pencak silat/bela diri yang sesuai minat mereka.
Manfaat Sosial: Lingkungan baru ini memberikan anak kesempatan untuk membangun lingkaran pertemanan yang sehat. Ketika anak menyadari bahwa mereka dihargai, terampil, dan memiliki teman-teman yang suportif di tempat lain, mental mereka akan tetap kokoh meskipun ada satu atau dua anak nakal yang mencoba menjatuhkan mereka di sekolah.
4. Mengenalkan Konsep “Buddy System” (Sistem Pertemanan)
Pelaku bullying hampir selalu mengincar anak yang sedang sendirian atau terisolasi. Dorong anak Anda untuk selalu bersosialisasi dan memiliki setidaknya satu atau dua teman dekat di kelasnya. Ajarkan mereka prinsip saling menjaga: pergi ke kantin bersama, ke toilet bersama, atau menunggu jemputan bersama. Kehadiran seorang teman di samping anak secara drastis menurunkan niat pelaku untuk melakukan intimidasi.
Kesimpulan
Menghapus bayang-bayang perundungan tidak dimulai dengan mengubah perilaku anak-anak lain di luar sana, melainkan dengan memperkuat mental anak kita sendiri dari dalam rumah. Dengan memberikan cinta yang tanpa syarat, melatih komunikasi yang tegas, dan membangun harga diri yang tinggi, kita sedang menempa sebuah perisai mental yang kokoh. Perisai itulah yang akan melindungi anak, membuat mereka mampu berdiri tegak, dan melangkah dengan aman di dunia luar.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan bidan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO). (2020). School-based interventions to prevent bullying and promote peer connectedness: A global guidance report. Jenewa: WHO.
UNICEF Indonesia. (2023). Panduan Pengasuhan Positif: Mencegah Kekerasan dan Perundungan pada Anak Sejak dari Rumah. Jakarta: UNICEF.
American Psychological Association (APA). (2022). Bullying Prevention: Empowering Children with Assertiveness and Emotional Literacy.Journal of Family Psychology, Vol. 36(4), 512-520.
International Journal of Behavioral Development. Sari, R., & Henderson, K. (2024). The Role of Parental Support and Extracurricular Engagement in Buffering the Effects of Peer Victimization among Adolescents.International Journal of Behavioral Development, 48(2), 143–151.
Setiap tanggal 1–7 Agustus, dunia memperingati Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya Air Susu Ibu (ASI). Namun, hingga saat ini masih banyak anggapan bahwa menyusui hanya sebatas memberikan makanan kepada bayi agar tumbuh sehat. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa manfaat ASI jauh melampaui pemenuhan kebutuhan gizi. Menyusui merupakan investasi jangka panjang yang berperan penting dalam membentuk kesehatan, kecerdasan, serta kualitas hidup anak hingga dewasa.
Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Program Sarjana Kebidanan dan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata, Prasetya Lestari, S.ST., M.Kes., yang mengajak masyarakat memaknai kembali pentingnya menyusui sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang sehat dan berkualitas. Menurutnya, keberhasilan menyusui bukan hanya menjadi tanggung jawab seorang ibu, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga, lingkungan kerja, tenaga kesehatan, hingga pemerintah.
“Menyusui bukan sekadar proses memberikan nutrisi kepada bayi. Di balik setiap tetes ASI terdapat perlindungan imunologis, dukungan bagi perkembangan otak, serta ikatan emosional yang menjadi fondasi tumbuh kembang anak. Karena itu, keberhasilan menyusui merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya perjuangan seorang ibu,” jelas Prasetya.
Tema Pekan Menyusui Sedunia tahun ini kembali mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan pemberian ASI, dimulai dari ASI Eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, kemudian dilanjutkan dengan ASI hingga usia dua tahun atau lebih, disertai pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang sesuai kebutuhan. Pendekatan tersebut telah direkomendasikan oleh berbagai organisasi kesehatan dunia karena terbukti memberikan manfaat besar bagi kesehatan ibu maupun anak.
Menurut Prasetya, enam bulan pertama kehidupan merupakan periode emas yang sangat menentukan kualitas kesehatan anak di masa mendatang. Pada masa ini, ASI mampu memenuhi seluruh kebutuhan cairan dan zat gizi bayi tanpa memerlukan tambahan air putih, susu formula, maupun makanan lainnya.
“ASI merupakan satu-satunya makanan yang dirancang secara alami sesuai kebutuhan bayi. Komposisinya terus menyesuaikan dengan usia dan kondisi bayi sehingga tidak ada produk lain yang mampu menggantikan fungsinya secara sempurna,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prasetya menjelaskan bahwa keistimewaan ASI tidak hanya terletak pada kandungan gizinya, tetapi juga pada berbagai komponen bioaktif yang berperan dalam membentuk sistem kekebalan tubuh bayi. ASI mengandung Human Milk Oligosaccharides (HMOs), imunoglobulin terutama IgA, laktoferin, serta berbagai sel imun hidup yang membantu mematangkan saluran pencernaan bayi sekaligus melindunginya dari infeksi bakteri maupun virus. Oleh karena itu, bayi yang memperoleh ASI eksklusif memiliki risiko lebih rendah mengalami berbagai penyakit infeksi dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan ASI secara optimal.
Selain memperkuat sistem imun, ASI juga memiliki peran penting dalam mencegah gangguan pertumbuhan, termasuk stunting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD) yang dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif berkontribusi terhadap penurunan risiko kegagalan pertumbuhan pada anak. Dengan demikian, upaya pencegahan stunting sesungguhnya telah dimulai sejak hari-hari pertama kehidupan melalui keberhasilan proses menyusui.
Tidak hanya itu, manfaat ASI juga sangat erat kaitannya dengan perkembangan otak. Kandungan Docosahexaenoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) yang terdapat dalam ASI berperan sebagai komponen penting dalam pembentukan jaringan saraf dan koneksi antarsel otak. Proses tersebut menjadi dasar berkembangnya kemampuan belajar, daya ingat, serta fungsi kognitif anak pada masa selanjutnya.
“Ketika ibu memberikan ASI eksklusif, sesungguhnya ibu sedang memberikan investasi terbaik bagi masa depan anak. Bukan hanya memenuhi kebutuhan nutrisi hari ini, tetapi juga mendukung perkembangan otak, sistem imun, dan kualitas kesehatan anak hingga bertahun-tahun ke depan,” tambah Prasetya.
Berdasarkan berbagai bukti ilmiah tersebut, Prasetya mengajak masyarakat untuk melihat menyusui sebagai investasi kesehatan sepanjang hayat. Dukungan kepada ibu menyusui sejak masa kehamilan, proses persalinan, hingga enam bulan pertama kehidupan bayi menjadi salah satu langkah penting dalam mewujudkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.
Referensi & Sumber Pustaka
American Academy of Pediatrics (AAP). (2022). Policy Statement: Breastfeeding and the Use of Human Milk. Pediatrics, 150(1), e2022057988. https://doi.org/10.1542/peds.2022-057988
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar dan Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
Meek, J. Y., Noble, L., & Section on Breastfeeding. (2022). Technical Report: Breastfeeding and the Use of Human Milk. Pediatrics, 150(1), e2022057989.
Pérez-Escamilla, R., Tomori, C., Hernández-Cordero, S., et al. (2023). Breastfeeding 1: Breastfeeding: crucially important, but still inadequately supported. The Lancet, 401(10375), 472-485. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)01932-8
Rollins, N., Piwoz, E., Baker, P., et al. (2023). Breastfeeding 2: Marketing of commercial milk formula: a system to capture parents, communities, science, and policy. The Lancet, 401(10375), 486-502. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)01933-X
UNICEF & World Health Organization. (2023). Global Breastfeeding Scorecard 2023: Protecting Breastfeeding through National Action. Geneva: World Health Organization and UNICEF.
Victora, C. G., Bahl, R., Barros, A. J., et al. (2021). Breastfeeding in the 21st century: epidemiology, mechanisms, and lifelong effect. The Lancet, 387(10017), 475-490.
Walters, D. D., Phan, L. T. H., & Mathisen, R. (2023). The cost of not breastfeeding: Global results from the Cost of Not Breastfeeding Tool. Health Policy and Planning, 38(4), 450-462. https://doi.org/10.1093/heapol/czad012
Sleman, 17 Juli 2026 – Program Sarjana Kebidanan dan Profesi Bidan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata kembali menyelenggarakan kegiatan Sister School di SMAN 1 Ngemplak sebagai bagian dari komitmen dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja melalui program dosen mengajar yang dilaksanakan secara berkelanjutan. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah untuk memberikan edukasi kesehatan yang relevan dengan kebutuhan peserta didik, sehingga mereka memiliki bekal dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan remaja.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 17 Juli 2026 tersebut diikuti oleh siswa-siswi kelas XII SMAN 1 Ngemplak dengan mengangkat tema “Aku Suka Dia, Lalu Harus Bagaimana? Cara Sehat Mengungkapkan Cinta dan Ketertarikan.” Tema ini dipilih karena menjelang akhir masa remaja, peserta didik mulai dihadapkan pada dinamika hubungan sosial yang semakin kompleks. Ketertarikan terhadap lawan jenis maupun orang yang disukai merupakan bagian dari proses perkembangan yang normal. Namun, tanpa pemahaman yang tepat, remaja berpotensi terpengaruh oleh informasi yang kurang sesuai, terutama melalui media sosial dan lingkungan pergaulan. Oleh karena itu, edukasi mengenai hubungan yang sehat menjadi bekal penting agar remaja mampu membangun relasi yang positif, saling menghargai, dan bertanggung jawab.
Dalam kegiatan ini, dosen Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata, Fatimatasari, M.Keb., Bdn. dan Indah Wijayanti, S.ST., M.Keb., Bdn., mengajak peserta memahami bahwa rasa suka merupakan bagian yang wajar dari perkembangan emosional remaja. Namun, perasaan tersebut perlu disampaikan dengan cara yang sehat, menghargai diri sendiri maupun orang lain, serta tidak melanggar batasan pribadi. Materi yang diberikan mengulas berbagai topik penting, seperti perbedaan antara rasa kagum, suka, dan cinta, pentingnya komunikasi yang asertif, memahami konsep personal boundaries dan consent, serta mengenali ciri-ciri hubungan yang sehat maupun hubungan yang berisiko.
Agar suasana pembelajaran lebih menarik, penyampaian materi dikemas secara interaktif melalui diskusi, studi kasus, dan sesi tanya jawab. Peserta diajak menganalisis berbagai situasi yang sering terjadi dalam kehidupan remaja, seperti cara mengungkapkan perasaan dengan sopan, menyikapi penolakan secara dewasa, menghadapi tekanan dari teman sebaya (peer pressure), serta menjaga etika dan jejak digital ketika berkomunikasi melalui media sosial. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir kritis sekaligus merefleksikan pengalaman yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mengetahui efektivitas pembelajaran, kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test guna mengukur tingkat pengetahuan awal siswa mengenai hubungan sehat pada masa remaja. Setelah seluruh rangkaian edukasi selesai, peserta kembali mengikuti post-test sebagai evaluasi terhadap peningkatan pemahaman setelah menerima materi. Hasil evaluasi menunjukkan antusiasme peserta yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Hal tersebut terlihat dari keaktifan siswa dalam mengikuti diskusi, menyampaikan pendapat, serta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai dinamika hubungan pertemanan, ketertarikan, dan cara membangun komunikasi yang sehat.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata berharap siswa memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya membangun hubungan yang sehat berdasarkan rasa saling menghormati, komunikasi yang terbuka, dan tanggung jawab. Selain meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi remaja, edukasi ini juga diharapkan mampu membentuk keterampilan hidup (life skills) yang mendukung kemampuan mengambil keputusan secara bijaksana, mengelola emosi, serta menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosial.
Kegiatan Sister School merupakan salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kemitraan yang berkelanjutan dengan sekolah, Universitas Alma Ata berupaya menghadirkan edukasi kesehatan yang kontekstual, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan remaja. Sinergi ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung tumbuh kembang peserta didik menjadi generasi yang sehat, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan secara positif.
Ke depan, Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata akan terus mengembangkan berbagai kegiatan edukatif melalui Program Sister School dengan tema-tema yang relevan bagi remaja. Melalui kolaborasi yang berkesinambungan antara perguruan tinggi dan sekolah, diharapkan kegiatan ini dapat memberikan dampak nyata dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja sekaligus membentuk generasi muda yang lebih sehat, tangguh, dan bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan di masa depan.
Referensi
McCormick, E. M., Qu, Y., & Telzer, E. H. (2024). Experience-dependent neurodevelopment of self-regulation in adolescence. Developmental Cognitive Neuroscience, 65, 101338.
Willems, Y. E., Li, J. B., Bartels, M., & Finkenauer, C. (2024). Individual differences in adolescent self-control: The role of gene-environment interplay. Current Opinion in Psychology, 60, 101897.
Thulin, E. J., Kernsmith, P., Fleming, P. J., Heinze, J. E., Temple, J., & Smith-Darden, J. (2023). Coercive-sexting: Predicting adolescent initial exposure to electronic coercive sexual dating violence. Computers in Human Behavior, 141, 107641.
World Health Organization. (2024). Adolescent Health. Geneva: WHO.
United Nations Children’s Fund. (2024). Adolescent Development and Participation. New York: UNICEF.