Sosialisasi Pencegahan Penyakit Tidak Menular Sejak Remaja di SMKS NU 03 Kaliwungu

Sosialisasi Pencegahan Penyakit Tidak Menular Sejak Remaja di SMKS NU 03 Kaliwungu

S1 Profesi Bidan Alma Ata — Upaya meningkatkan kesadaran remaja terhadap pentingnya menjaga kesehatan dilakukan melalui kegiatan Sosialisasi Pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) Sejak Remaja yang telah dilaksanakan di SMKS NU 03 Kaliwungu pada Senin, 14 September 2026.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk edukasi kesehatan yang ditujukan untuk meningkatkan pemahaman remaja mengenai pentingnya menerapkan pola hidup sehat sejak dini. Materi mengenai pencegahan penyakit tidak menular disampaikan oleh Ryafany Dilanatarischa (Mahasiswa S1 Kebidanan 2023).

Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mengenali berbagai kebiasaan sehari-hari yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan di masa mendatang. Pencegahan PTM dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti memilih makanan yang lebih sehat, aktif bergerak, mencukupi waktu tidur, serta menghindari berbagai kebiasaan yang berisiko bagi kesehatan.

Masa remaja merupakan periode penting untuk membentuk kebiasaan hidup yang akan terbawa hingga dewasa. Oleh karena itu, pengetahuan dan kesadaran mengenai kesehatan perlu dibangun sejak dini agar remaja mampu mengambil keputusan yang lebih baik dalam menjaga kesehatan dirinya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai PTM, tetapi juga terdorong untuk menerapkan kebiasaan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Langkah kecil yang dilakukan sejak sekarang dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan generasi yang lebih sehat di masa depan.

Kenali • Cegah • Ubah Kebiasaan

Dengan membangun kebiasaan sehat sejak remaja, upaya pencegahan penyakit tidak menular dapat dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat.

Haid Berantakan Saat Remaja: Bisa Jadi Tubuh Sedang Memberi Sinyal

Haid Berantakan Saat Remaja: Bisa Jadi Tubuh Sedang Memberi Sinyal

S1 Profesi Bidan Alma Ata — “Kenapa haid saya datangnya tidak tentu?” Pertanyaan tersebut cukup sering muncul pada masa remaja. Siklus menstruasi yang belum teratur memang dapat terjadi pada beberapa tahun pertama setelah menstruasi pertama karena tubuh masih beradaptasi dengan perubahan hormonal. Namun, apabila pola menstruasi terus-menerus tidak teratur, kondisi tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bagian normal dari pubertas.

Dosen S1 dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata, Dr. Erna Yovi Kurniawati, M.Tr.Keb., menjelaskan bahwa perubahan pola menstruasi pada remaja perlu diperhatikan, terutama apabila berlangsung terus-menerus dan disertai tanda lain.

“Pada masa remaja, siklus menstruasi memang belum selalu teratur. Namun, remaja perlu mengenali pola menstruasinya sendiri. Bila ketidakteraturan berlangsung terus atau disertai gejala lain, sebaiknya dilakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan,” jelas Dr. Erna.

Salah satu kondisi yang saat ini semakin banyak diperbincangkan adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS), istilah baru yang diperkenalkan pada 2026 untuk menggantikan nama yang sebelumnya dikenal sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Konsensus global yang dipublikasikan dalam The Lancet menjelaskan bahwa perubahan istilah ini dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi secara lebih menyeluruh, karena gangguan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ovarium, tetapi juga melibatkan aspek hormonal, metabolik, dan reproduksi.

Bukan Sekadar Masalah Menstruasi

Menurut Dr. Erna, pemahaman mengenai PMOS penting dikenalkan sejak remaja karena sejumlah tanda dapat mulai terlihat pada masa tersebut. Meski demikian, haid tidak teratur saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seorang remaja mengalami PMOS.

Hal ini penting karena perubahan hormonal yang terjadi selama pubertas juga dapat menyebabkan siklus menstruasi yang belum stabil, jerawat, serta perubahan fisik lainnya.

Rekomendasi internasional untuk remaja menekankan bahwa penilaian harus dilakukan secara hati-hati. Pada remaja, diagnosis PCOS—yang kini disebut PMOS dalam nomenklatur baru—memerlukan perhatian terhadap ketidakteraturan siklus menstruasi sesuai usia sejak menarke serta tanda kelebihan androgen, setelah kondisi lain yang dapat menimbulkan gejala serupa disingkirkan. Remaja yang baru menunjukkan salah satu karakteristik dapat dikategorikan sebagai “berisiko” dan memerlukan pemantauan, bukan langsung didiagnosis.

“Karena gejala pubertas dan tanda-tanda PMOS dapat terlihat mirip, kita tidak boleh terburu-buru memberikan label atau diagnosis. Remaja perlu mendapatkan pemeriksaan dan pendampingan yang tepat,” terang Dr. Erna.

Kapan Remaja Perlu Mulai Waspada?

Remaja dapat mulai memperhatikan pola menstruasinya, terutama apabila mengalami kondisi seperti:

  • menstruasi sangat jarang atau sering terlambat;
  • tidak mengalami menstruasi selama beberapa bulan;
  • siklus menstruasi terus-menerus tidak teratur;
  • disertai jerawat yang berat atau menetap;
  • pertumbuhan rambut berlebihan pada area tertentu;
  • perubahan berat badan yang cukup signifikan; atau
  • tanda-tanda yang berkaitan dengan gangguan metabolik.

Pedoman internasional menyebutkan bahwa definisi siklus menstruasi tidak teratur pada remaja perlu mempertimbangkan berapa lama sejak menstruasi pertama (menarke). Misalnya, pada tahun pertama setelah menarke, ketidakteraturan masih dapat merupakan bagian dari proses pubertas. Namun, semakin lama setelah menarke, pola menstruasi yang sangat jarang atau adanya jeda menstruasi yang panjang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.

Kesehatan Reproduksi dan Metabolisme Saling Berkaitan

PMOS tidak hanya berkaitan dengan sistem reproduksi. Kondisi ini juga memiliki hubungan dengan aspek metabolik sehingga kesehatan remaja perlu dilihat secara menyeluruh.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis mengenai PCOS pada remaja menunjukkan adanya hubungan antara PCOS dan sindrom metabolik. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pemantauan kesehatan metabolik juga penting pada remaja dengan kondisi atau tanda yang mengarah pada PCOS/PMOS.

Karena itu, menjaga pola hidup sehat tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang. Pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, tidur yang baik, serta menjaga kesehatan mental merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Tidak Perlu Takut, tetapi Jangan Diabaikan

Dr. Erna menekankan bahwa menstruasi yang tidak teratur tidak otomatis berarti seorang remaja mengalami PMOS. Kekhawatiran yang berlebihan justru dapat membuat remaja merasa takut terhadap perubahan tubuhnya sendiri.

Langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah mulai mencatat siklus menstruasi. Catat tanggal hari pertama menstruasi, lama menstruasi, jarak antarhaid, serta perubahan lain yang dirasakan. Catatan tersebut dapat membantu remaja mengenali pola tubuhnya sekaligus memudahkan tenaga kesehatan ketika melakukan penilaian.

Apabila pola menstruasi terus tidak teratur atau muncul tanda lain yang mengkhawatirkan, remaja sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penilaian yang sesuai.

“Yang terpenting adalah remaja tidak perlu malu membicarakan menstruasi. Mengenali siklus menstruasi bukan berarti mencari-cari penyakit, tetapi merupakan salah satu cara untuk memahami tubuh dan menjaga kesehatan sejak dini,” ujar Dr. Erna.

Kenali Siklusnya, Pahami Tubuhnya

Masa remaja merupakan periode penting dalam perkembangan kesehatan reproduksi. Dengan memahami perubahan tubuh dan mengenali pola menstruasi, remaja dapat lebih peka terhadap kondisi yang memerlukan perhatian tanpa harus merasa takut atau memberikan diagnosis sendiri.

Kenali siklusnya. Pahami tubuhnya. Jangan malu bertanya.

Mengenal PMOS sejak remaja bukan berarti mencari penyakit, melainkan memberikan kesempatan untuk mengenali tanda-tanda yang perlu diperhatikan serta menjaga kesehatan reproduksi dan metabolik sejak dini.

Referensi

  1. Teede, H. J., et al. (2026). Polyendocrine metabolic ovarian syndrome, the new name for polycystic ovary syndrome: a multistep global consensus process. The Lancet, 407(10545), 2329–2339. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(26)00717-8.

  2. Peña, A. S., et al. (2025). International evidence-based recommendations for polycystic ovary syndrome in adolescents. BMC Medicine, 23, 151. https://doi.org/10.1186/s12916-025-03901-w.

  3. Fu, L., Xie, N., Qu, F., Zhou, J., & Wang, F. (2023). The association between polycystic ovary syndrome and metabolic syndrome in adolescents: A systematic review and meta-analysis. Reproductive Sciences, 30, 28–40. https://doi.org/10.1007/s43032-022-00864-8.

Written by Admin S1 Profesi Bidan

Kontribusi Nyata Kebidanan Alma Ata: Sinergi DPL dan Mahasiswa KKNT Gelar ‘Gen-Z Health Upgrade’ di SMK N 1 Bulakamba

Kontribusi Nyata Kebidanan Alma Ata: Sinergi DPL dan Mahasiswa KKNT Gelar ‘Gen-Z Health Upgrade’ di SMK N 1 Bulakamba

BREBES_ Sebagai wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam pilar Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA) menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Dosen Pendamping Lapangan (DPL) Isti Chana Zuliyati, S.ST., M.Keb. bersama Tim Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Alma Ata Desa Kedunguter sukses menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan terintegrasi. Kegiatan yang mengusung tema “Gen-Z Health Upgrade: Sosialisasi PTM dan Mental Health (Kenali Diabetes, Jaga Mental Health)” ini dilaksanakan di SMK N 1 Bulakamba, Kabupaten Brebes, pada Kamis, 11 September 2026. Program ini dirancang interaktif guna merespons tantangan kesehatan fisik dan psikologis yang kian kompleks di kalangan remaja generasi z. Program ini merupakan bagian dari program Penyuluhan Kesehatan Remaja CERDIK (Cek  kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin melakukan aktivitas fisik, Diet sehat dengan gizi seimbang, Istirahat cukup dan Kelola stress), sebagai strategi nasional dalam pengendalian PTM. 

Dukungan Penuh dari Pihak Mitra Sekolah

Acara dibuka secara resmi di aula sekolah dengan penerapan protokol kegiatan yang hangat. Mewakili Kepala SMK N 1 Bulakamba yang sedang menghadiri agenda kedinasan lain, Ibu Fatimah selaku Guru Pendamping Palang Merah Remaja (PMR) menyambut baik inisiatif strategis dari Universitas Alma Ata ini selain karena kegiatan yang diberikan, juga karena ini pertama kalinya Universitas Alma Ata hadir langsung di SMK N 1 Bulakamba.

“Kami menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Ibu Isti Chana Zuliyati selaku DPL dan seluruh adik-adik mahasiswa KKNT Universitas Alma Ata. Isu Penyakit Tidak Menular (PTM) dan kesehatan mental ini sangat dekat dengan keseharian siswa, namun sering kali terabaikan. Kehadiran tim pengabdian masyarakat ini memberikan pemahaman baru yang sangat dibutuhkan, terutama bagi anggota PMR yang nantinya akan menjadi motor edukasi sebaya di sekolah,” ujar Ibu Fatimah dalam sambutannya.

Pemaparan Materi Komprehensif: Menjaga Fisik dan Mental Remaja

Berbeda dari penyuluhan konvensional, materi pada kegiatan ini dikemas secara holistik dan terintegrasi dalam satu sesi komprehensif. Isti Chana Zuliyati, S.ST., M.Keb. bersama mahasiswa mengupas tuntas kaitan erat antara Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti Diabetes Melitus tipe 2 dan kesehatan mental (mental health). Remaja diajak menyadari bahwa gaya hidup modern—mulai dari tingginya konsumsi minuman manis kekinian (es boba, es teh jumbo dan lainnya) hingga paparan media sosial yang memicu kecemasan akademik—dapat mengganggu keseimbangan fisik sekaligus psikologis mereka.

“Investasi kesehatan jangka panjang harus dimulai sejak dini. Melalui Gen-Z Health Upgrade ini, kami ingin menanamkan kesadaran preventif agar para siswa mampu membatasi asupan gula harian demi mencegah diabetes, sekaligus memiliki regulasi emosi yang baik dalam mengelola stres, karena secara nyata siswa SMK N 1 Bulakamba ini memiliki aktivitas yang cukup padat ada kegiatan pembelajarab di Sekolah, di Lapangan dan juga mempersiapkan Ujian Akhir kelulusan karena sudah kelas XII. 

Untuk mendukung pemaparan teori tersebut, kegiatan tidak hanya dikemas dalam bentuk penyampaian materi secara ceramah tetapi ada juga diskusi kasus dan presentasi. 

Penyegaran Lewat UAA Health Stretching

Usai menerima pemaparan materi yang padat ilmu, suasana aula dicarikan lewat sesi ice breaking yang energik bertajuk “UAA Health Stretching”. Dipandu oleh para mahasiswa KKNT, seluruh peserta diajak melakukan gerakan peregangan ringan yang dikombinasikan dengan musik ritmis. Ice breaking khas Universitas Alma Ata ini tidak hanya berhasil mengusir rasa penat dan kantuk, tetapi juga mempraktikkan langsung pentingnya tetap aktif bergerak di sela-sela aktivitas belajar harian, serta siswa kembali fokus sebelum kegiatan berikutnya. 

Bedah Kasus Berbasis Kelompok dan Apresiasi Reward

Memasuki inti bagian interaktif, suasana belajar kelompok yang dinamis mulai terbangun. Sebanyak 140 siswa yang hadir secara sistematis terbagi ke dalam 8 kelompok kerja. Guna menjamin jalannya diskusi yang terarah dan mendalam, setiap kelompok didampingi oleh 1 mahasiswa KKN yang bertindak sebagai fasilitator.

Dalam sesi diskusi kelompok ini, para siswa diminta membedah sebuah studi kasus nyata seputar dilema gaya hidup remaja, ancaman diabetes, hingga tekanan mental di era digital. Pendekatan rekan sebaya (peer-to-peer approach) ini sukses memicu daya kritis dan empati para siswa.

Setelah berdiskusi, perwakilan masing-masing kelompok melakukan presentasi singkat di atas panggung untuk memaparkan solusi kreatif yang mereka rumuskan. Berdasarkan hasil penilaian objektif dari tim penilai terhadap penguasaan materi dan kualitas solusi yang dipresentasikan, dipilih 3 kelompok terbaik yang berhak mendapatkan reward khusus sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif mereka.

Kontribusi Nyata Mahasiswa KKNT dan Keberlanjutan Program

Bagi institusi Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata, kegiatan PkM kolaboratif ini tidak sekadar pemenuhan output akademik mahasiswa di lapangan. Ini merupakan bentuk nyata hilirisasi ilmu pengetahuan dan peran aktif akademisi dalam mendukung target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) di sektor kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah Kabupaten Brebes.

Melalui program ini, diharapkan para siswa SMK N 1 Bulakamba mampu bertindak sebagai health ambassador yang mandiri, membawa pengaruh positif bagi lingkungan keluarga, serta turut andil dalam mencetak generasi muda Indonesia yang sehat, tangguh, dan berkualitas secara holistik menuju Indonesia Emas.

Dosen Prodi Kebidanan FKIK Alma Ata Raih Penghargaan dan Apresiasi Institusi

Dosen Prodi Kebidanan FKIK Alma Ata Raih Penghargaan dan Apresiasi Institusi

Yogyakarta — Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata kembali memberikan apresiasi kepada insan terbaik yang telah menunjukkan dedikasi, inspirasi, dan kontribusi dalam mendukung kemajuan institusi serta memberikan pelayanan terbaik bagi mahasiswa.

Apresiasi tersebut diberikan kepada dosen Program Studi Kebidanan FKIK Universitas Alma Ata yang telah menorehkan prestasi melalui penghargaan Mujahidah Alma Ata XV dan Tenaga Pendidik Terbaik 2025.

Pada ajang Mujahidah Alma Ata XV, penghargaan diberikan kepada Ibu Dyah Pradnya Paramita, S.ST., M.Kes.Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi yang telah diberikan dalam menjalankan peran sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Alma Ata.

Sementara itu, penghargaan Tenaga Pendidik Terbaik 2025 diraih oleh Ibu Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb.Penghargaan tersebut menjadi wujud apresiasi atas komitmen dalam menjalankan tugas pendidikan serta kontribusi dalam mendukung proses pembelajaran dan pengembangan mahasiswa.

Pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi Program Studi Kebidanan FKIK Universitas Alma Ata sekaligus menjadi motivasi untuk terus menghadirkan karya, inovasi, dan kontribusi terbaik bagi institusi dan masyarakat.

Penghargaan bukan hanya menjadi bentuk pengakuan atas pencapaian, tetapi juga menjadi pengingat bahwa dedikasi dan kontribusi yang dilakukan dengan penuh komitmen dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan akademik.

Selamat dan sukses kepada Ibu Dyah Pradnya Paramita, S.ST., M.Kes. dan Ibu Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb. Semoga penghargaan yang diraih menjadi bagian dari perjalanan untuk terus menginspirasi, berprestasi, dan menghasilkan karya-karya terbaik di masa mendatang.

Dedikasi, inspirasi, dan prestasi untuk terus melangkah bersama Alma Ata. 💙

Capek Kuliah atau Burnout? Kenali Bedanya Sebelum Terlambat

Capek Kuliah atau Burnout? Kenali Bedanya Sebelum Terlambat

S1 Profesi Bidan Alma Ata — Menjadi mahasiswa merupakan bagian penting dalam perjalanan menuju masa depan. Namun, di balik berbagai pengalaman akademik dan organisasi, mahasiswa juga dapat menghadapi beragam tekanan, mulai dari tugas yang menumpuk, jadwal kuliah dan praktikum yang padat, kegiatan organisasi, penyusunan skripsi, hingga tuntutan untuk memperoleh hasil akademik yang baik.

Merasa lelah setelah menjalani berbagai aktivitas tersebut merupakan hal yang wajar. Namun, ketika rasa lelah berlangsung terus-menerus dan mulai memengaruhi motivasi, konsentrasi, maupun kemampuan menjalani aktivitas perkuliahan, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian.

Dosen S1 Kebidanan Universitas Alma Ata, Bdn. Adenia Dwi Ristanti, M.Tr.Keb, menjelaskan bahwa mahasiswa perlu memahami perbedaan antara kelelahan biasa dan burnout agar dapat lebih peka terhadap kondisi dirinya.

Capek Biasa atau Burnout?

Kelelahan umumnya muncul setelah seseorang melakukan banyak aktivitas. Kondisi tersebut biasanya dapat membaik setelah mendapatkan tidur yang cukup, beristirahat, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan.

Berbeda dengan kelelahan biasa, burnout ditandai dengan kelelahan yang lebih menetap, disertai munculnya sikap semakin tidak peduli atau sinis terhadap aktivitas yang dijalani serta perasaan bahwa kemampuan diri semakin menurun.

“Tidak semua rasa lelah berarti burnout. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kelelahan berlangsung terus-menerus, tidak membaik meskipun sudah beristirahat, dan mulai mengganggu aktivitas maupun motivasi kita,” jelas Bdn. Adenia.

Kajian sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan pada 2024 dan melibatkan lebih dari 26.000 mahasiswa menunjukkan bahwa burnout merupakan persoalan yang perlu mendapatkan perhatian pada populasi mahasiswa.

Burnout Tidak Selalu Terlihat dari Luar

Salah satu hal yang perlu dipahami adalah burnout tidak selalu tampak secara jelas. Seorang mahasiswa dapat tetap mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, bahkan aktif dalam organisasi, tetapi secara internal sedang mengalami kelelahan mental yang cukup berat.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain kesulitan tidur, sulit berkonsentrasi, mudah marah, kehilangan motivasi, sering merasa kewalahan, serta mulai menarik diri dari lingkungan sosial.

World Health Organization (WHO) juga menjelaskan bahwa stres yang berlebihan dapat memengaruhi kondisi fisik dan mental seseorang. Dampaknya dapat berupa kesulitan berkonsentrasi, sakit kepala, gangguan pencernaan, hingga masalah tidur.

“Mahasiswa sering kali merasa harus tetap kuat dan produktif meskipun sebenarnya sedang kewalahan. Padahal, mengenali kondisi diri dan memberikan waktu untuk beristirahat merupakan bagian dari menjaga kesehatan,” tambah Bdn. Adenia.

Jangan Menunggu Sampai Benar-Benar Tidak Sanggup

Ketika mulai merasakan tanda-tanda kelelahan yang menetap, mahasiswa tidak perlu menunggu hingga kondisinya semakin berat. Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan, seperti mengatur kembali jadwal kegiatan, memastikan waktu tidur dan istirahat yang cukup, makan secara teratur, melakukan aktivitas fisik, serta berbicara dengan orang yang dipercaya.

Mengurangi beban aktivitas untuk sementara juga bukan berarti malas atau gagal. Sebaliknya, kemampuan untuk mengenali batas diri merupakan bagian dari keterampilan menjaga kesehatan dan kesejahteraan diri.

Berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa strategi pengelolaan stres, aktivitas fisik, mindfulness, serta pendekatan mind-body dapat membantu mendukung kesehatan mental mahasiswa.

Kesehatan Diri Juga Bagian dari Perjalanan Kuliah

Menjalani pendidikan tinggi bukan hanya tentang menyelesaikan tugas dan memperoleh nilai yang baik. Proses menjadi mahasiswa juga merupakan perjalanan untuk belajar mengenali kemampuan, kebutuhan, serta batas diri.

“Tidak semua hari harus produktif dan tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian. Ketika mahasiswa mulai merasa kewalahan, kehilangan motivasi, atau mengalami kelelahan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan,” ujar Bdn. Adenia.

Mahasiswa dapat berdiskusi dengan dosen wali, konselor kampus, psikolog, tenaga kesehatan, maupun orang yang dipercaya apabila membutuhkan dukungan.

Menjaga kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan. Justru, kemampuan untuk mengenali kondisi diri, meminta bantuan ketika diperlukan, dan mengambil langkah untuk menjaga kesehatan merupakan bagian penting dari proses belajar dan bertumbuh sebagai mahasiswa.

Kuliah memang penting, tetapi kesehatan diri juga merupakan bagian dari perjalanan menuju masa depan.

Written by Admin S1 Profesi Bidan