by Admin Kebidanan | May 11, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
“Nanti Aku Jadi Apa, Ya?”
Pernah tiba-tiba kepikiran masa depan?
Tentang kuliah, pekerjaan, atau bahkan kehidupan nanti?
Kadang muncul pertanyaan seperti:
“Aku bakal sukses nggak ya?”
“Pilihan aku sekarang sudah benar belum?”
“Gimana kalau aku gagal?”
Kalau kamu pernah ngerasa seperti itu..tenang, itu normal banget. Hampir semua remaja pernah mengalami hal yang sama.
Kenapa Remaja Sering Takut Masa Depan?
Masa remaja adalah fase penuh pilihan. Dan pilihan itu sering terasa “menentukan hidup”.
Beberapa penyebab munculnya ketakutan ini antara lain:
- Banyak Pilihan, Tapi Bingung Menentukan
Jurusan sekolah, kuliah, karier—semuanya terasa penting dan bikin ragu.
- Tekanan dari Lingkungan
Kadang kita merasa harus mengikuti ekspektasi orang tua, menyamai teman yang terlihat lebih “maju”, tidak boleh gagal
- Pengaruh Media Sosial
Lihat orang lain sukses di usia muda bisa bikin kita merasa tertinggal. Padahal, setiap orang punya timeline masing-masing.
- Overthinking Berlebihan
Terlalu banyak memikirkan “kemungkinan buruk” yang bahkan belum tentu terjadi.
Antara Harapan dan Realita
Setiap remaja pasti punya harapan ingin sukses, ingin membanggakan orang tua, ingin hidup bahagia…Tapi realitanya, hidup nggak selalu berjalan sesuai rencana. Dan itu bukan berarti kamu gagal. Justru di situlah proses belajar terjadi.
Takut Itu Wajar, Tapi Jangan Sampai Menghentikan Langkah
Rasa takut sebenarnya punya sisi positif—itu tanda kamu peduli dengan masa depanmu. Tapi kalau berlebihan, bisa membuat tidak berani mencoba, menunda-nunda, kehilangan kepercayaan diri
Jadi, yang perlu dilakukan bukan menghilangkan rasa takut, tapi mengelolanya.
Cara Menghadapi Ketakutan Masa Depan
- Fokus ke Langkah Kecil
Nggak perlu langsung memikirkan 10 tahun ke depan.
Mulai dari belajar lebih baik hari ini, mengembangkan skill sedikit demi sedikit
- Kenali Diri Sendiri
Tanya ke diri sendiri tentang Apa yang aku suka?, Apa yang aku kuasai?, Apa yang membuat aku semangat? Ini penting untuk menentukan arah hidup.
- Berhenti Membandingkan Diri
Setiap orang punya waktu sukses yang berbeda.
Kamu nggak terlambat—kamu hanya sedang di jalurmu sendiri.
- Terima bahwa Gagal Itu Bagian dari Proses
Nggak ada orang sukses tanpa pernah gagal.
Gagal bukan akhir, tapi bagian dari perjalanan.
- Cerita dan Minta Pendapat
Ngobrol dengan orang tua, guru, teman atau mentor. Kadang, perspektif orang lain bisa membantu kita lebih tenang.
Kamu Nggak Harus Punya Semua Jawaban Sekarang
Banyak remaja merasa harus sudah tahu “akan jadi apa” sejak sekarang.
Padahal kenyataannya banyak orang dewasa pun masih belajar tentang hidup mereka.
Jadi, nggak apa-apa kalau kamu masih bingung. Yang penting, kamu tetap berjalan.
Penutup
Masa depan memang penuh ketidakpastian, dan itu wajar membuat takut. Tapi jangan sampai rasa takut membuatmu berhenti mencoba.
Ingat:
✨ Kamu tidak harus sempurna hari ini
✨ Kamu tidak harus tahu semua jawaban sekarang
✨ Yang penting, kamu terus melangkah
Karena masa depan tidak ditentukan oleh satu keputusan besar saja,
tapi oleh langkah kecil yang kamu lakukan setiap hari.
Bergabunglah bersama Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul yang salah satu pembelajarannya tentang kesehatan remaja.
Daftar Pustaka
- World Health Organization (2021). Adolescent Mental Health
- UNICEF (2022). Mental Health of Adolescents
- Santrock, J.W. (2017). Adolescence
- American Psychological Association (2020). Stress in America
by Admin Kebidanan | May 8, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universtas Alma Ata
“Cuma 5 Menit”… Tahu-Tahu 2 Jam
Niat awal cuma buka HP sebentar. Eh, tiba-tiba sudah scroll TikTok, Instagram, atau Reels selama berjam-jam. Pernah? Hampir semua remaja pasti pernah ngalamin ini.
Media sosial memang seru—bisa hiburan, cari info, sampai tetap terhubung dengan teman. Tapi kalau sudah “scroll tanpa henti”, ada dampak yang sering nggak kita sadari.
Kenapa Media Sosial Susah Dilepas?
Media sosial dirancang supaya bikin kita betah. Konten yang muncul selalu menarik, sesuai minat kita, terus muncul tanpa henti (infinite scroll). Akibatnya, otak kita terus ingin “satu video lagi… satu video lagi…” Tanpa sadar, waktu habis, energi terkuras, dan pikiran jadi penuh.
Dampak ke Kesehatan Mental Remaja
- Overthinking & Cemas
Sering melihat hidup orang lain yang terlihat “sempurna” bisa bikin kita merasa kurang. Padahal, yang ditampilkan itu hanya bagian terbaik mereka.
- Rasa Minder & Tidak Percaya Diri
Mulai membandingkan penampilan, prestasi, gaya hidup
Akhirnya muncul pikiran: “Aku kok nggak seperti mereka ya?”
- Gangguan Tidur
Scroll sampai larut malam bikin susah tidur, kualitas tidur menurun, bangun jadi nggak segar
- Kecanduan Digital
Kalau sudah nggak bisa lepas dari HP, gelisah kalau nggak online, selalu ingin cek notifikasi..Itu tanda kamu mulai ketergantungan.
- Mudah Lelah Secara Emosional
Terlalu banyak informasi, drama, dan berita negatif bisa bikin mental capek tanpa sadar.
Media Sosial Nggak Selalu Buruk, Kok
Tenang, media sosial bukan musuh. Kalau digunakan dengan bijak, justru bisa jadi tempat belajar hal baru, mencari inspirasi. menyalurkan kreativitas, menjaga hubungan dengan teman. Kuncinya ada di cara kita menggunakannya.
Tips Biar Nggak Terjebak Scroll Tanpa Henti
- Batasi Waktu Main HP
Coba atur screen time, misalnya maksimal 2–3 jam sehari.
- Stop Bandingin Diri
Ingat….media sosial = highlight, bukan realita penuh.
- Pilih Konten yang Sehat
Follow akun yang memberi motivasi, edukatif, positif
- Istirahat dari Media Sosial (Digital Detox)
Sesekali coba sehari tanpa medsos dan fokus ke dunia nyata
- Isi Waktu dengan Aktivitas Nyata
Seperti olahraga, ngobrol langsung sama teman, hobi yang kamu suka
Tanda Kamu Perlu “Rem” dari Media Sosial
Coba refleksi, kalau kamu mulai :
- Mudah cemas
- Sering membandingkan diri
- Susah tidur
- Kehilangan fokus belajar
Mungkin sudah waktunya kamu istirahat sejenak dari layar.
Penutup
Scroll media sosial memang menyenangkan, tapi kalau tanpa batas bisa berdampak ke kesehatan mental.
Ingat, hidup kamu bukan untuk dibandingkan dengan orang lain di layar. Kadang, yang kamu butuhkan bukan “satu video lagi”… tapi istirahat dan kembali ke diri sendiri.
Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul menyediakan waktu untuk anda bisa sharing tentang masalah-masalah remaja loh..
Daftar Pustaka
- World Health Organization (2021). Adolescent Mental Health
- UNICEF (2022). The State of the World’s Children
- American Psychological Association (2020). Stress in America
- Kementerian Kesehatan RI (2018). Riskesdas
by Admin Kebidanan | May 7, 2026 | Berita
Selamat dan Sukses atas Terpilihnya Ketua HIMABI Periode 2026
Himpunan Mahasiswa Kebidanan (HIMABI) Universitas Alma Ata mengucapkan selamat dan sukses kepada Khansa Nabila Mahasiswa Prodi Sarjana Kebidanan (2024) atas terpilihnya sebagai Ketua HIMABI periode 2026. Kepercayaan yang telah diberikan ini menjadi amanah besar dalam melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi menuju arah yang lebih baik.
Dengan mengusung visi untuk mewujudkan HIMABI yang religius, berakhlak mulia, progresif, kolaboratif, serta berjiwa sosial, diharapkan kepemimpinan baru ini mampu mencetak mahasiswa kebidanan yang profesional dan siap menghadapi era transformasi kesehatan. Visi tersebut menjadi landasan penting dalam membangun organisasi yang tidak hanya aktif, tetapi juga berdampak nyata.
Sejalan dengan visi tersebut, berbagai misi strategis telah dirancang, mulai dari pelaksanaan program kerja yang inovatif dan berorientasi pada peningkatan kompetensi mahasiswa, menciptakan ruang aspirasi yang terbuka, hingga memperkuat solidaritas antaranggota dan menjaga nama baik program studi kebidanan. Nilai-nilai keagamaan juga menjadi fondasi utama dalam setiap langkah organisasi.
Program kerja yang telah dipaparkan menunjukkan komitmen kuat dalam pengembangan mahasiswa, baik melalui kegiatan pengabdian masyarakat seperti penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan, peningkatan kompetensi melalui kompetisi dan webinar, hingga penguatan internal organisasi melalui kegiatan kebersamaan dan kolaborasi antarhimpunan. Tidak hanya itu, bidang kewirausahaan, media sosial, serta keagamaan juga menjadi bagian penting dalam membentuk karakter mahasiswa yang unggul dan berintegritas.
Dengan strategi yang terstruktur, evaluasi berkala, serta keterlibatan aktif seluruh anggota, diharapkan seluruh program kerja dapat terlaksana secara optimal dan berkelanjutan.
Semoga di bawah kepemimpinan yang baru, HIMABI Universitas Alma Ata semakin solid, inovatif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi mahasiswa, institusi, maupun masyarakat luas.
Selamat mengemban amanah dan selamat berkarya.
by Admin Kebidanan | May 6, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Lagi Capek? Kamu Nggak Sendiri
Jadi remaja itu nggak selalu seru. Di satu sisi, kamu lagi cari jati diri, pengen bebas, dan mulai punya mimpi besar. Tapi disisi lain, ada banyak banget tekanan dari sekolah, keluarga, teman, bahkan media sosial.
Pernah ngerasa overthinking? Minder melihat pencapaian orang lain? Atau capek banget sampai pengen “hilang dulu”? Tenang, kamu nggak sendirian. Banyak remaja mengalami hal yang sama.
Kenapa Sih Kesehatan Mental Itu Penting?
Kesehatan mental itu bukan cuma soal “nggak gila”. Tapi tentang bagaimana kamu:
- Mengelola emosi
- Menghadapi masalah
- Menjalin hubungan dengan orang lain
- Tetap merasa “oke” sama diri sendiri
Kalau mental kamu sehat, hidup bakal terasa lebih ringan. Tapi kalau nggak, hal kecil pun bisa terasa berat banget.
Self-Healing: Trend atau Kebutuhan?
Sekarang ini, istilah self-healing lagi hits banget. Banyak yang bilang:
“Lagi self-healing dulu ya…”
Sebenarnya, self-healing itu bagus lho, selama dilakukan dengan benar. Contohnya:
- Dengerin musik favorit
- Nonton film yang bikin happy
- Nulis perasaan di jurnal
- Jalan-jalan santai
- Curhat ke teman terpercaya
Ini semua bisa bantu kamu recharge energi dan nenangin pikiran.
Tapi Hati-Hati… Bisa Jadi Cuma Pelarian
Nah, ini yang penting. Nggak semua yang disebut self-healing itu benar-benar menyembuhkan.
Kadang, tanpa sadar kita cuma menghindari masalah, menunda tanggung jawab, scroll media sosial berjam-jam, menutup diri dari orang lain. Kalau terus-terusan begitu, masalahnya nggak selesai—malah numpuk.
Jadi, self-healing itu bukan berarti kabur dari masalah, tapi memberi waktu untuk kuat lagi… lalu balik menghadapi masalahnya.
Tekanan Sosial: Musuh Diam-Diam
Coba jujur, pernah nggak kamu ngerasa hidup orang lain lebih sempurna di media sosial?, minder karena nilai, penampilan, atau pencapaian? atau takut nggak diterima di lingkungan pertemanan?
Itu namanya tekanan sosial…
Media sosial sering bikin kita lupa kalau yang ditampilkan orang lain itu cuma “highlight”, bukan kehidupan sebenarnya.
Cara Biar Mental Tetap Waras di Tengah Tekanan
Berikut beberapa tips simpel tapi penting:
- Jangan Bandingin Diri Terus : Setiap orang punya jalan masing-masing. Kamu nggak harus sama dengan orang lain.
- Batasi Media Sosial : Kalau mulai bikin overthinking, coba istirahat sebentar dari scrolling.
- Cerita ke Orang yang Dipercaya : Jangan dipendam sendiri. Cerita itu bukan tanda lemah.
- Kenali Perasaan Sendiri : Sedih, marah, capek—itu normal. Yang penting tahu cara mengelolanya.
- Cari Bantuan Kalau Perlu : Kalau sudah terasa berat banget, jangan ragu ke konselor atau psikolog.
Ingat Ini Baik-Baik
Kamu nggak harus selalu kuat. Kamu nggak harus selalu terlihat bahagia. Dan kamu nggak sendirian.
Self-healing itu penting, tapi jangan lupa bahwa sembuh itu bukan cuma istirahat, tapi juga berani menghadapi.
Penutup
Jadi remaja memang penuh tantangan, apalagi di era sekarang. Tapi dengan mengenali diri sendiri, mengelola tekanan sosial, dan melakukan self-healing yang sehat, kamu bisa tetap kuat dan berkembang.
Pelan-pelan aja, nggak perlu buru-buru.
Yang penting, kamu tetap jalan.
Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul menyediakan waktu untuk anda bisa sharing tentang masalah-masalah remaja loh..
Daftar Pustaka :
- Kementerian Kesehatan RI (2018). Riskesdas
- World Health Organization (2021). Adolescent Mental Health
- UNICEF (2022). Mental Health of Adolescents
- American Psychological Association (2020). Stress in America
by Admin Kebidanan | May 5, 2026 | Artikel
written by Prasetya Lestari, S.ST., M.Kes
Menyusui sering kali digambarkan sebagai momen magis yang penuh kehangatan dan memperkuat bonding ibu dan bayi. Namun, realitanya tidak selalu demikian bagi semua orang. Bagi sebagian ibu, momen menjelang ASI menetes justru diiringi oleh gelombang kesedihan, kegelisahan, atau bahkan kemarahan yang datang tiba-tiba. Hal ini bukantanda kurangnya kasih sayang kepada bayi, bukan tanda ibu yang buruk, dan bukan sebuah kegagalan. Fenomena ini dikenal dengan sebutan D-MER (Dysphoric Milk Ejection Reflex).
Apa Itu D-MER?
Dysphoric Milk Ejection Reflex (D-MER) adalah kondisi neurobiologis seorang ibu menyusui mengalami penurunan suasana hati atau emosi negatif yang intens, mendadak, dan tidak beralasan, tepat sebelum ASI menetes (fase let-down reflex). Kondisi ini bisa muncul sesaat sebelum bayi mulai mengisap, sebelum ibu memerah ASI menggunakan pompa, atau bahkan ketika payudara tiba-tiba terasa penuh dan ASI merembes dengan sendirinya. Hal yang paling membedakan D-MER dengan kondisi psikologis lainnya adalah durasinya. Perasaan tidak menyenangkan ini hanya berlangsung sangat singkat, biasanya kurang dari 5 menit (bahkan sering kali hanya berkisar 30 detik hingga 2 menit), lalu menghilang tanpa jejak seiring mengalirnya ASI.
Mengapa Ini Terjadi?
D-MER pada dasarnya bukanlah gangguan psikologis, melainkan murni respons anomali fisiologis dan hormonal. Hal ini terjadi tarik ulur hormon prolaktin dan dopamine. Mari kita kenali mekanisme kinerja hormon bekerja di dalam otak saat proses laktasi terjadi.
- Kebutuhan Prolaktin: Saat puting dirangsang oleh isapan bayi atau hisapan pompa, otak (kelenjar pituitari) harus segera memproduksi dan melepaskan hormon prolaktin secara cepat untuk memproduksi ASI.
- Peran Dopamin: Di dalam tubuh, dopamin (neurotransmiter yang sering dikaitkan dengan perasaan senang dan rileks) bertindak sebagai penekan atau penghambat pelepasan prolaktin. Agar kadar prolaktin bisa melonjak naik untuk menghasilkan ASI, kadar dopamin di dalam otak harus turun secara serentak.
- Anomali pada D-MER: Pada ibu menyusui tanpa D-MER, penurunan dopamin ini terjadi dengan halus sehingga tidak memengaruhi suasana hati secara drastis. Namun pada ibu yang mengalami D-MER, penurunan dopamin ini terjadi terlalu tajam atau tidak proporsional. Akibatnya, sistem saraf merespons defisit dopamin sesaat yang ekstrem tersebut dengan memicu emosi negatif atau disforia. Begitu prolaktin stabil, dopamin kembali normal dan perasaan sedih pun lenyap seakan tak pernah terjadi.
Gejala D-MER: Spektrum Emosi yang Dirasakan
Spektrum emosi yang dirasakan akibat D-MER bervariasi pada setiap ibu, mulai dari tingkat ringan hingga berat. Beberapa sensasi spesifik yang sering dilaporkan meliputi:
- Perasaan sedih yang mendalam (seperti ingin menangis tiba-tiba).
- Gelisah, cemas, khawatir, atau panik tanpa alasan yang jelas.
- Perasaan hampa atau seperti ada yang “jatuh” di ulu hati (hollow or sinking feeling in the stomach).
- Marah, jengkel, atau frustrasi.
- Rasa rindu rumah (homesickness) yang tidak rasional, meskipun sedang berada di rumah sendiri.
- Keinginan sesaat yang tak tertahankan untuk menarik bayi atau pompa ASI dari payudara.
Penting untuk Dicatat: D-MER Berbeda dengan Postpartum Depression (PPD) D-MER sering kali salah didiagnosis sebagai depresi pascapersalinan atau baby blues. Padahal, PPD memengaruhi suasana hati ibu sepanjang hari secara menetap dan berlangsung setidaknya selama dua minggu. Sebaliknya, D-MER hanya terikat pada saat refleks keluarnya ASI terjadi dan langsung menghilang setelahnya. Di luar momen menyusui atau memompa, suasana hati ibu dengan D-MER umumnya normal.
Strategi Manajemen Atasi D-MER
Prevalensi D-MER memengaruhi sekitar 5-15% ibu menyusui. Kabar baiknya, kondisi ini cenderung akan mereda dengan sendirinya seiring berjalannya waktu dan penyesuaian hormon (biasanya setelah bayi berusia beberapa bulan). Namun, ada beberapa strategi yang terbukti efektif untuk membantu ibu menghadapi kondisi ini setiap harinya:
- Teknik Distraksi (Pengalihan Perhatian)
Karena gejala D-MER datang dan pergi dengan sangat cepat, mengalihkan perhatian otak pada detik-detik let-downterjadi terbukti sangat membantu. Ibu dapat mencoba:
- Minum air es yang sangat dingin sesaat sebelum mulai menyusui.
- Mengunyah camilan bertekstur, mengisap permen, atau mendengarkan musik yang upbeat.
- Menonton video lucu atau mengobrol ringan.
- Melakukan latihan pernapasan dalam (deep breathing) atau meditasi terpandu singkat.
- Modifikasi Gaya Hidup
Gaya hidup sebagai salah satu faktor yang dapat memperburuk D-MER. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meminimalkan D-MER antara lain:
- Hindari dehidrasi dengan perbanyak asupan cairan.
- Kelola stres dan kelelahan, kurang tidur berdampak besar pada sensitivitas tubuh terhadap hormon dan stabilitas dopamin.
- Kurangi asupan kafein, pada sebagian kasus, asupan kafein yang tinggi dapat memicu kegelisahan tambahan saat let-down reflek terjadi.
- Konsultasi Medis Profesional
Bagi sebagian kecil ibu, D-MER dirasakan sangat parah hingga menimbulkan keengganan untuk menyusui. Pada kasus berat seperti ini, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti Konselor Laktasi Bersertifikat (IBCLC) atau dokter kebidanan/psikiater. Tenaga medis dapat mengevaluasi perawatan secara komprehensif, mulai dari terapi pendukung hingga tindakan medis jika diindikasikan.
Kesimpulan: Menyusui dengan kondisi D-MER ibarat dipaksa menaiki rollercoaster emosional beberapa kali dalam sehari. Jika Ibu atau seseorang yang Anda kenal mengalaminya, validasi dan terimalah perasaan tersebut. Berikan dukungan penuh dan ingatlah kembali bahwa fluktuasi hormonlah yang memicunya, bukan kurangnya rasa cinta seorang ibu kepada anaknya.
Referensi
- Heise, A. M., & Wiessinger, D. (2011). Dysphoric milk ejection reflex: A case report. International Breastfeeding Journal, 6(1), 6.
- Ureño, J., et al. (2019). Dysphoric Milk Ejection Reflex: A Case Series. Breastfeeding Medicine, 14(10), 762-764.
- Ahmed, M., Mahmud, A., Mughal, S., & Shah, H.H. (2024). Dysphoric milk ejection reflex – call for future trials. Archives of Gynecology and Obstetrics, 310(1), 627-630.
- Kacir, E., et al. (2024). Dysphoric milk ejection reflex: prevalence and associations with self-reported mental health history. Women’s Health.
- Australian Breastfeeding Association (ABA). (2025). Dysphoric Milk Ejection Reflex (D-MER). (Panduan Klinis Dukungan Laktasi Maternal).