Mengenal ASI : Pentingnya meningkatkan Kuantitas Dan Kualitas Komposisi ASI pada ibu menyusui

Mengenal ASI : Pentingnya meningkatkan Kuantitas Dan Kualitas Komposisi ASI pada ibu menyusui

Created by: Bdn. Rani Ayu Hapsari, S.ST.,SKM.,MKM

Kesadaran Masyarakat terutama seorang ibu tentang pentingnya Air Susu Ibu (ASI) yang diberikan secara eksklusif kian diperkuat oleh berbagai kebijakan pemerintah. Bukan sekadar nutrisi biasa, ASI kini dipandang sebagai “investasi emas” bagi pembentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di masa depan. Bagi bayi yang baru lahir, ASI adalah satu-satunya asupan yang mampu mencukupi seluruh kebutuhan gizi secara sempurna tanpa bantuan cairan lain selama enam bulan pertama. 

Kualitas Air Susu Ibu (ASI) sangat bergantung pada asupan nutrisi yang dikonsumsi oleh ibu setiap harinya. Di antara berbagai zat gizi, protein menempati posisi yang utama sebagai nutrisi makro yang secara signifikan memengaruhi komposisi ASI dan pertumbuhan bayi.

Kunci ASI Berkualitas: Mengapa Asupan Protein Ibu Jadi Penentu Kecerdasan Bayi?

Di tengah upaya nasional mencetak Generasi Emas 2045, para ahli di bidang kesehatan terus menegaskan bahwa Air Susu Ibu (ASI) adalah Salah satu komponen yang menjadi sorotan utama adalah protein, yang disebut-sebut sebagai arsitek utama dalam pembangunan sel tubuh dan otak bayi. Dibalik teksturnya yang cair, ASI menyimpan ribuan komponen bioaktif kompleks yang bekerja secara cerdas mengikuti kebutuhan bayi.

Protein dalam ASI berperan sebagai zat pembangun utama untuk membentuk jaringan otot, tulang, hingga organ vital bayi yang sedang tumbuh pesat. Tanpa asupan protein yang adekuat dari ibu, pertumbuhan fisik bayi berisiko mengalami hambatan, yang dalam jangka panjang dapat memicu kondisi stunting 

Asam amino esensial yang terkandung dalam protein ASI sangat dibutuhkan untuk pembentukan jaringan saraf dan perkembangan kognitif. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan asupan protein cukup melalui ASI memiliki modalitas lebih baik dalam mendukung kemampuan belajar dan kecerdasan mereka di masa depan.

ASI memiliki rasio protein yang sangat unik, yaitu sekitar 60% whey dan 40% kasein. Berbeda dengan susu formula yang didominasi kasein, protein whey dalam ASI jauh lebih mudah dicerna oleh lambung bayi yang masih sensitif. Selain itu, whey mengandung antibodi seperti imunoglobulin A (IgA) dan laktoferin yang berfungsi sebagai benteng perlindungan terhadap infeksi bakteri dan virus.

Rahasia ASI Melimpah: Pakar Ungkap Konsumsi Protein Ibu Jadi Kunci Utama Produksi “Cairan Emas”

Banyak ibu menyusui mulai menyadari bahwa kunci volume ASI yang melimpah bukan hanya pada kecukupan cairan, melainkan pada asupan nutrisi makro, khususnya protein. Para ahli menegaskan bahwa protein merupakan “mesin penggerak” yang secara langsung memengaruhi produktivitas kelenjar susu. Tubuh ibu memerlukan bahan baku yang cukup untuk menghasilkan produk berkualitas. Protein mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan oleh jaringan payudara untuk mensintesis ASI. Kekurangan protein pada diet ibu seringkali menjadi penyebab utama menurunnya suplai ASI meskipun frekuensi menyusui sudah ditingkatkan. 

Konsumsi protein yang adekuat membantu menjaga keseimbangan hormon dalam tubuh ibu. Hormon prolaktin (hormon pemicu produksi ASI) dan oksitosin (hormon pelepas ASI) bekerja lebih optimal saat tubuh ibu berada dalam kondisi nutrisi yang stabil. Protein memberikan energi jangka panjang yang menjaga stamina ibu agar tetap prima dalam memproduksi ASI sepanjang hari. Protein memengaruhi densitas atau kekentalan ASI. ASI yang kaya akan protein dan lemak sehat cenderung membuat bayi merasa kenyang lebih lama. Hal ini menciptakan siklus menyusui yang teratur, yang secara alami menstimulasi tubuh ibu untuk terus memproduksi ASI sesuai kebutuhan bayi.

“SUPERFOOD”:  Sumber Protein Terbaik untuk Dongkrak Produksi ASI

 Ibu menyusui yang mengonsumsi variasi protein berkualitas tinggi cenderung memiliki suplai ASI yang lebih stabil dan kaya akan nutrisi makro untuk pertumbuhan otak bayi. 

  1. Telur sebagai salah satu camilan pelancar ASI terbaik. Selain mengandung protein lengkap, telur kaya akan kolin dan vitamin D yang berperan dalam meningkatkan hormon prolaktin. hormon utama yang merangsang produksi ASI di payudara.
  2. Ikan salmon dan Kembung yang merupakan rendah merkuri bukan hanya sumber protein, tapi juga penyumbang utama asam lemak Omega-3 (DHA).Dari hasil riset menunjukkan bahwa konsumsi ikan seperti salmon mendukung perkembangan retina dan kecerdasan kognitif bayi melalui ASI yang dihasilkan.
  3. Daging merah tanpa lemak dan dada ayam menyediakan zat besi dan zink yang krusial. Kekurangan zat besi pada ibu sering kali dikaitkan dengan rasa lelah berlebih yang dapat menghambat refleks pengeluaran ASI (let-down reflex).
  4. Sari kacang hijau. Kandungan protein nabatinya terbukti secara signifikan meningkatkan volume produksi ASI pada ibu pascasalin karena kemampuannya meningkatkan kadar hormon prolaktin secara alami.
  5.  Tempe dan tahu tetap menjadi pilihan utama. Selain itu, kacang almond sering direkomendasikan sebagai “booster” karena kandungan protein dan kalsiumnya yang membantu menjaga kepadatan nutrisi dalam ASI.

Kualitas vs Kuantitas ASI: Mana yang Lebih Penting? 

Kuantitas dan kualitas ASI adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya memegang peranan krusial dalam menentukan masa depan kesehatan anak.  kuantitas atau volume ASI yang cukup adalah syarat mutlak untuk memastikan bayi terhidrasi dengan baik dan mendapatkan asupan kalori harian yang stabil. Volume ASI yang melimpah, yang dipicu oleh stimulasi rutin dan asupan cairan serta protein ibu yang cukup, berkolerasi langsung dengan kenaikan berat badan bayi yang ideal pada seribu hari pertama kehidupan. Kualitas komposisi ASI terutama kadar DHA, imunoglobulin, dan protein fungsional menentukan seberapa kuat sistem imun bayi menghadapi serangan virus dan bakteri. Riset menunjukkan bahwa ibu dengan pola makan gizi seimbang menghasilkan ASI dengan profil nutrisi mikro yang lebih kaya, yang secara signifikan mampu meningkatkan skor kognitif (IQ) anak di masa depan. 

Air Susu Ibu (ASI)  yang “berkualitas dalam jumlah yang cukup” merupakan intervensi kesehatan paling efektif untuk mencegah stunting dan obesitas sejak dini. Komposisi ASI yang dinamis yang berubah sesuai usia bayi membuktikan bahwa tubuh ibu secara cerdas memproduksi nutrisi yang paling dibutuhkan pada waktu yang tepat. Memberikan ASI bukan sekadar memberi makan, melainkan memberikan perlindungan biologis yang tak tertandingi. Kombinasi antara volume ASI yang cukup dan komposisi nutrisi yang padat adalah fondasi utama bagi terciptanya generasi yang sehat, cerdas, dan tangguh.

Referensi 

  1. Lien Meilya Muriasti Prastiyani, Nuryanto, Journal Of Nutrition Collage (2019), https://doi.org/10.14710/jnc.v8i4.25838 
  2. Canel oner sayar, Sabiha zeynep,Europan Journal Clinical Of Nutrition (2025), https://www.nature.com/articles/s41430-025-01588-z#citeas
  3. Ray Wagiu Basrowi, Febriansyah Darus,  Tonny Sundjaya, Runi Arumndari, Amerta Nutrition (2025) https://doi.org/10.20473/amnt.v9i4.2025.735-746
  4. Febi Marissa, Rostika Flora, Mohammad Zulkarnain,(2023) Journal Of Health Science https://doi.org/10.51712/mitraraflesia.v15i2.283
  5. Linda Ratna Wati, Djanggan Sargowo,Tatit Nurseta, Lilik Zuhriyah, Nutrients (2023) https://doi.org/10.3390/nu15112584
  6. Desi Dwi Anissa, Ratna Kumala Dewi, Jurnal Tadris IPA Indonesia (2021) https://doi.org/10.21154/jtii.v1i3.393
  7. Su yeong kim, Dae young yi, Clinical And Experimental Pediatrics (2020), https://doi.org/10.3345/cep.2020.00059
Membangun Benteng Perlindungan: Urgensi Pendidikan Seksual Sejak Dini Berbasis Bukti Ilmiah

Membangun Benteng Perlindungan: Urgensi Pendidikan Seksual Sejak Dini Berbasis Bukti Ilmiah

Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Di banyak kalangan masyarakat, topik pendidikan seks (sex education) untuk anak-anak masih sering dianggap tabu. Ada kesalahpahaman umum bahwa membicarakan seksualitas dengan anak-anak akan “mengajarkan” mereka untuk melakukan aktivitas seksual sebelum waktunya. Padahal, konsensus ilmiah global menunjukkan fakta sebaliknya.

Pendidikan seksualitas komprehensif (Comprehensive Sexuality Education/CSE) sejak usia dini bukan tentang mengajarkan “cara berhubungan seks”, melainkan tentang pengenalan tubuh, kesehatan, batasan diri (boundaries), dan penghargaan terhadap orang lain.

Berikut adalah paparan mendalam mengenai pentingnya pendidikan seks dini berdasarkan riset jurnal internasional terbaru.

1. Pencegahan Kekerasan dan Pelecehan Seksual

Salah satu alasan paling mendesak untuk memulai pendidikan seks sejak dini adalah perlindungan anak.

  1. Fakta Ilmiah: Anak-anak yang diajarkan nama anatomis yang benar untuk alat kelamin mereka (penis, vagina, vulva, bukan nama samaran seperti “burung” atau “bunga”) memiliki risiko lebih rendah untuk menjadi korban yang tidak terdeteksi.
  2. Bukti Riset: Sebuah studi tinjauan dalam Journal of School Health dan publikasi dari American Academy of Pediatrics (AAP) menekankan bahwa pemahaman tentang otonomi tubuh (konsep bahwa “tubuhku adalah milikku”) memberdayakan anak untuk menolak sentuhan yang tidak diinginkan dan melaporkan kejadian tersebut kepada orang dewasa yang mereka percayai. Pelaku pelecehan sering kali memanipulasi ketidaktahuan anak untuk menyembunyikan kejahatan mereka.

2. Menunda Aktivitas Seksual (Bukan Mempercepat)

Kekhawatiran terbesar orang tua adalah bahwa pengetahuan akan memicu rasa penasaran untuk mencoba. Namun, data statistik membantah hal ini.

  1. Fakta Ilmiah: Pendidikan seks yang komprehensif terbukti menunda usia debut seksual (pertama kali berhubungan seks) dan meningkatkan penggunaan kontrasepsi saat mereka dewasa nanti setelah menikah.
  2. Bukti Riset: Laporan teknis dari UNESCO (yang diperbarui secara berkala dan didukung oleh studi di Journal of Adolescent Health) menunjukkan bahwa program pendidikan seksualitas tidak meningkatkan aktivitas seksual, perilaku pengambilan risiko seksual, atau tingkat infeksi menular seksual (IMS). Sebaliknya, anak-anak yang paham konsekuensi biologis dan emosional cenderung lebih berhati-hati dan bertanggung jawab.

3. Membangun Citra Tubuh Positif dan Kesehatan Mental

Pendidikan seks usia dini membantu anak memahami perubahan tubuh mereka sebagai proses yang alami, bukan sesuatu yang memalukan atau menakutkan.

  1. Fakta Ilmiah: Di era media sosial, anak-anak terpapar standar tubuh yang tidak realistis sejak dini. Pendidikan seks yang mencakup diskusi tentang pubertas dan keragaman bentuk tubuh dapat mencegah dismorfia tubuh dan kecemasan.
  2. Bukti Riset: Riset yang dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health menyoroti bahwa literasi kesehatan seksual yang baik berkorelasi positif dengan kesehatan mental remaja dan rasa percaya diri (self-esteem).

4. Menanamkan Konsep Consent (Persetujuan) dan Kesetaraan Gender

Pendidikan seks modern sangat menekankan pada aspek sosial dan emosional, terutama mengenai consent.

  1. Fakta Ilmiah: Konsep persetujuan tidak dimulai saat dewasa, tetapi dari interaksi kecil saat balita (contoh: “Boleh tidak aku memelukmu?”). Ini mengajarkan anak untuk menghormati batasan orang lain dan menuntut rasa hormat atas batasan mereka sendiri.
  2. Bukti Riset: Studi dalam Sex Education: Sexuality, Society and Learning menunjukkan bahwa pendidikan yang membahas peran gender dan kekuasaan sejak dini efektif dalam mengurangi kekerasan berbasis gender dan perilaku bullying di kemudian hari.

5. Literasi Digital dan Keamanan Online

Anak-anak zaman sekarang adalah digital natives. Jika orang tua tidak memberikan informasi yang akurat, anak akan mencarinya di internet yang penuh dengan pornografi dan misinformasi.

  1. Fakta Ilmiah: Pornografi sering kali memberikan gambaran yang salah dan kekerasan tentang seksualitas. Pendidikan seks dari orang tua berfungsi sebagai “filter” dan penyeimbang realitas.
  2. Bukti Riset: Artikel terbaru dalam Journal of Children and Media menyarankan bahwa diskusi terbuka tentang seksualitas antara orang tua dan anak adalah faktor pelindung utama terhadap dampak negatif paparan konten seksual online (Sexting, Cyber-grooming).

Kesimpulan

Pendidikan seks usia dini adalah bentuk imunisasi sosial dan psikologis bagi anak. Seperti halnya kita mengajarkan anak untuk menyeberang jalan dengan aman, kita juga wajib membekali mereka dengan pengetahuan untuk menavigasi dunia yang kompleks ini dengan aman dan bermartabat.

Menutup mata dan menganggap tabu pembicaraan ini tidak akan melindungi anak, melainkan membiarkan mereka mencari jawaban dari sumber yang salah. Memulainya sejak dini dengan bahasa yang sesuai usia adalah langkah krusial dalam membesarkan generasi yang sehat, sadar, dan terlindungi.

Artikel kesehatan yang menarik lainya bisa diakses di website Prodi

D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang terbaik di Jogja dan terakreditasi

Unggul.

Referensi

  1. UNESCO. 2018. International technical guidance on sexuality education: An evidence-informed approach. Paris. https://www.unesco.org/en/articles/international-technical-guidance-sexuality-education-evidence-informed-approach
  2. Goldfarb, E. S., & Lieberman, L. D. 2021. Three Decades of Research: The Case for Comprehensive Sex Education. Journal of Adolescent Health, 68(1), 13-27. https://www.jahonline.org/article/S1054-139X(20)30456-0/fulltext
  3. American Academy of Pediatrics (AAP). 2016. Sexuality Education for Children and Adolescents. Pediatrics. https://publications.aap.org/pediatrics/article/138/2/e20161348/52508/Sexuality-Education-for-Children-and-Adolescents?autologincheck=redirected
  4. Nicola J. Gray, Ph.D. et.al. 2025. Comprehensive Sexuality Education, Healthcare Professional Associations, and the Future of the World’s Youth. Journal of Adolescent Health. https://www.jahonline.org/article/S1054-139X(25)00068-0/fulltext.

Ancaman Ganda: Gelombang Pasang Hipertensi dan Obesitas pada Remaja

Ancaman Ganda: Gelombang Pasang Hipertensi dan Obesitas pada Remaja

Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Dahulu, hipertensi (tekanan darah tinggi) dianggap sebagai penyakit “orang tua”. Namun, paradigma ini telah bergeser secara drastis dalam dekade terakhir. Kita kini menghadapi krisis kesehatan pediatrik global di mana remaja semakin banyak didiagnosis mengalami hipertensi esensial, kondisi yang secara historis jarang ditemukan pada kelompok usia ini. Pendorong utamanya tidak lain adalah epidemi obesitas yang terus melonjak.

Artikel ini menelusuri data terbaru, mekanisme biologis, dan faktor risiko modern yang menghubungkan obesitas dengan hipertensi pada remaja.

1. Fakta dan Angka: Sebuah Krisis Global

Data terbaru melukiskan gambaran yang mengkhawatirkan. Menurut World Health Organization (WHO) dalam laporannya yang diperbarui pada pertengahan 2024, obesitas pada remaja telah meningkat empat kali lipat sejak tahun 1990. Pada tahun 2022 saja, tercatat lebih dari 390 juta anak dan remaja berusia 5–19 tahun mengalami kelebihan berat badan (overweight), dengan 160 juta di antaranya hidup dengan obesitas.

Sebuah meta-analisis masif yang diterbitkan di JAMA Pediatrics (Juni 2024) menyoroti bahwa prevalensi global obesitas pada anak dan remaja kini mencapai angka 8,5%, dengan lonjakan 1,5 kali lipat yang diamati pada periode 2012–2023 dibandingkan dekade sebelumnya. Peningkatan massa tubuh ini berbanding lurus dengan peningkatan tekanan darah.

Studi epidemiologi menunjukkan bahwa remaja dengan obesitas memiliki risiko 3 hingga 5 kali lebih tinggi untuk terkena hipertensi dibandingkan rekan mereka yang memiliki berat badan normal.

2. Mekanisme: Bagaimana Lemak Memicu Tekanan Darah?

Mengapa kelebihan lemak tubuh menyebabkan tekanan darah naik? Riset terbaru dari jurnal Hypertension dan Nutrients (2024/2025) menjelaskan bahwa ini bukan sekadar beban fisik tubuh yang lebih berat, melainkan serangkaian reaksi biologis yang kompleks:

  1. Aktivasi Sistem Saraf Simpatis (SNS): Jaringan lemak (adiposa), terutama lemak perut (viseral), memproduksi hormon leptin. Pada remaja obesitas, kadar leptin yang tinggi secara kronis merangsang sistem saraf simpatis, yang memicu jantung memompa lebih cepat dan pembuluh darah menyempit.
  2. Peradangan Kronis: Obesitas kini dipahami sebagai kondisi inflamasi tingkat rendah. Sel lemak melepaskan sitokin pro-inflamasi (seperti TNF-alpha dan IL-6) yang merusak lapisan dinding pembuluh darah (endotel), membuatnya kaku dan sulit melebar.
  3. Resistensi Insulin: Studi dalam jurnal Nutrients (2025) menemukan adanya “efek sinergis” yang kuat antara obesitas dan resistensi insulin. Insulin yang tinggi dalam darah memicu ginjal untuk menahan natrium (garam), yang pada gilirannya meningkatkan volume darah dan tekanan darah.

3. Peran Ultra-Processed Food (UPF)

Salah satu temuan paling signifikan di tahun 2024 adalah hubungan langsung antara konsumsi Ultra-Processed Food (makanan ultra-proses seperti keripik, mi instan, minuman manis kemasan) dengan hipertensi.

Studi yang dipublikasikan oleh American Heart Association (AHA) dalam jurnal Hypertension (Desember 2024) menemukan hubungan linear positif: semakin tinggi konsumsi UPF, semakin tinggi risiko insiden hipertensi. Remaja yang berada di kuartil tertinggi konsumsi UPF memiliki peluang 23% lebih besar untuk mengalami hipertensi. Hal ini disebabkan oleh kandungan natrium tersembunyi, kurangnya serat, dan zat aditif yang mengganggu metabolisme.

4. Definisi Baru dan Dampak Jangka Panjang

Penting untuk dicatat bahwa pedoman medis telah berubah untuk menangkap masalah ini lebih awal. Pedoman global dan American Academy of Pediatrics (AAP) kini menyederhanakan definisi hipertensi untuk remaja (≥13 tahun) agar selaras dengan panduan dewasa, yaitu: ≥130/80 mmHg.

Jika tidak ditangani, dampaknya fatal. Penelitian dalam Journal of Hypertension (2025) memperingatkan bahwa remaja dengan kombinasi obesitas dan hipertensi sudah mulai menunjukkan tanda-tanda awal kerusakan organ, seperti penebalan otot jantung (Left Ventricular Hypertrophy) dan penurunan fungsi filtrasi ginjal, bahkan sebelum mereka mencapai usia 20 tahun.

Langkah Pencegahan dan Kesimpulan

Kenaikan kasus ini adalah panggilan darurat bagi orang tua, sekolah, dan pembuat kebijakan. Kuncinya bukan hanya pada “diet ketat”, melainkan perubahan gaya hidup struktural:

  1. Reduksi UPF: Mengganti camilan kemasan dengan whole foods (buah, kacang-kacangan).
  2. Aktivitas Fisik: Minimal 60 menit aktivitas moderat-ke-berat setiap hari.
  3. Tidur Cukup: Kurang tidur terbukti meningkatkan resistensi insulin dan keinginan makan junk food.

Hipertensi pada remaja adalah “bom waktu” kardiometabolik. Namun, tidak seperti faktor genetik, obesitas dan pola makan adalah faktor risiko yang dapat dimodifikasi.

Artikel kesehatan yang menarik lainya bisa diakses di website Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul.

Referensi

  1. JAMA Pediatrics (2024). Global Prevalence of Overweight and Obesity in Children and Adolescents: A Systematic Review and Meta-Analysis.
  2. Hypertension (AHA Journals, Dec 2024). Ultra-Processed Food Consumption and Hypertension Risk in the REGARDS Cohort Study.
  3. World Health Organization (2024). Obesity and Overweight Fact Sheet. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/obesity-and-overweight
  4. Nutrients (MDPI, 2025). Interactive and Joint Effects of Obesity and Insulin Resistance on Hypertension in Adolescents. https://www.mdpi.com/2072-6643/17/17/2783
  5. PMC / Dovepress (2024/2025). Hypertension, Obesity, and Target Organ Injury in Children: An Emerging Health Care Crisis. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40014185/
Fenomena “Silent Struggle”: Banyak Remaja Alami Stres, Cemas, dan Depresi Tanpa Disadari

Fenomena “Silent Struggle”: Banyak Remaja Alami Stres, Cemas, dan Depresi Tanpa Disadari

Created by: Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb

Di balik aktivitas sekolah, interaksi media sosial, dan keseharian yang tampak normal, banyak remaja ternyata sedang menghadapi masalah kesehatan mental secara diam-diam. Kondisi ini dikenal sebagai silent struggle, yaitu keadaan ketika remaja mengalami stres, kecemasan, dan depresi namun tidak terdeteksi atau tidak mendapatkan penanganan yang memadai.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) melaporkan bahwa sekitar 1 dari 7 remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental, dengan kecemasan dan depresi sebagai kondisi yang paling umum. Gangguan ini sering muncul pada masa remaja awal dan dapat berlanjut hingga dewasa apabila tidak ditangani secara tepat (World Health Organization, 2025).

Data Penelitian Menunjukkan Angka yang Mengkhawatirkan

Sejumlah penelitian dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental pada remaja merupakan fenomena nyata dan meluas. Penelitian yang dilakukan oleh Pertiwi, Moeliono, dan Kendhawati (2022) terhadap 647 remaja usia 14–18 tahun di Bandung menggunakan instrumen Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42) menemukan bahwa:

  • 58,7% remaja mengalami kecemasan,
  • 34,7% mengalami stres, dan
  • 32,15% menunjukkan gejala depresi.

Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa remaja perempuan memiliki tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan remaja laki-laki, mengindikasikan adanya kerentanan berbasis gender dalam kesehatan mental remaja.

Temuan serupa juga terlihat secara global. Sebuah meta-analisis oleh Racine et al. (2021) yang melibatkan lebih dari 80.000 anak dan remaja di berbagai negara melaporkan bahwa 25,2% remaja mengalami gejala depresi dan 20,5% mengalami kecemasan selama pandemi COVID-19. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan sebelum pandemi, menandakan dampak besar perubahan sosial terhadap kesehatan mental remaja.

Sementara itu, meta-analisis besar lainnya yang mencakup lebih dari 1,3 juta anak dan remaja menunjukkan bahwa 31% mengalami gejala depresi dan kecemasan, serta 42% mengalami gangguan tidur (Pan et al., 2022). Gangguan tidur ini diketahui berkaitan erat dengan stres psikologis dan penurunan kesehatan mental secara keseluruhan.

Tekanan Akademik dan Media Sosial Jadi Faktor Dominan

Para peneliti menyoroti bahwa tekanan akademik, tuntutan prestasi, dan ekspektasi keluarga menjadi pemicu utama stres pada remaja. Selain itu, penggunaan gawai dan media sosial yang berlebihan juga berkontribusi terhadap meningkatnya kecemasan dan depresi.

Penelitian terbaru oleh Dai dan Ouyang (2025) terhadap lebih dari 50.000 anak dan remaja di Amerika Serikatmenemukan bahwa remaja dengan screen time ≥4 jam per hari memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan (adjusted OR 1,45) dan depresi (adjusted OR 1,65). Penggunaan gawai yang berlebihan sering kali berdampak pada kurangnya aktivitas fisik, gangguan tidur, dan meningkatnya perasaan kesepian.

Selain itu, studi di Asia juga menunjukkan hasil yang konsisten. Penelitian terhadap 22.380 remaja di Tiongkokmelaporkan bahwa 25,6% mengalami depresi dan 26,9% mengalami kecemasan, dengan prevalensi yang lebih tinggi pada remaja perempuan (Li et al., 2021).

Dampak Nyata bagi Kehidupan Remaja

Masalah stres, kecemasan, dan depresi tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis remaja, tetapi juga berdampak pada kehidupan sehari-hari. Remaja dengan gangguan mental berisiko mengalami penurunan prestasi akademik, kesulitan berkonsentrasi, gangguan tidur, menarik diri dari pergaulan sosial, serta penurunan kualitas hidup.

Penelitian juga menunjukkan bahwa remaja yang kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi (alexithymia) memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi, sehingga cenderung memendam masalah tanpa mencari bantuan (Zakiyyah et al., 2025).

Pentingnya Deteksi Dini dan Dukungan Lingkungan

Para ahli menekankan bahwa deteksi dini kesehatan mental remaja sangat penting, terutama melalui lingkungan sekolah, keluarga, dan layanan kesehatan. Skrining kesehatan mental, edukasi psikologis, serta penyediaan ruang aman bagi remaja untuk berbagi cerita dapat membantu mencegah dampak jangka panjang.

WHO juga menegaskan bahwa dukungan emosional dari orang tua, guru, dan teman sebaya, disertai promosi gaya hidup sehat seperti tidur cukup, aktivitas fisik, dan pengelolaan waktu penggunaan gawai, merupakan langkah kunci dalam menjaga kesehatan mental remaja.

Masalah yang Tidak Bisa Lagi Diabaikan

Fenomena silent struggle menegaskan bahwa kesehatan mental remaja bukan sekadar masalah individu, melainkan isu kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius. Dengan meningkatnya kesadaran, intervensi berbasis sekolah dan komunitas, serta kebijakan kesehatan yang berpihak pada remaja, diharapkan generasi muda dapat tumbuh dengan kondisi mental yang lebih sehat dan sejahtera.


Referensi 

  1. Pertiwi, S. T., Moeliono, M. F., & Kendhawati, L. (2022). Depresi, kecemasan, dan stres remaja selama pandemi COVID-19. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Humaniora, 6(2). https://doi.org/10.36722/sh.v6i2.497
  2. Racine, N., McArthur, B. A., Cooke, J. E., Eirich, R., Zhu, J., & Madigan, S. (2021). Global prevalence of depressive and anxiety symptoms in children and adolescents during COVID-19: A meta-analysis. JAMA Pediatrics, 175(11), 1142–1150.
  3. Pan, K. Y., Kok, A. A. L., Eikelenboom, M., et al. (2022). Prevalence of mental health symptoms in children and adolescents during the COVID-19 pandemic: A meta-analysis. Journal of Affective Disorders, 31–42.
  4. Li, X., Zhang, S., & Xue, S. (2021). Prevalence of and risk factors for depressive and anxiety symptoms in Chinese adolescents in the post-COVID-19 era. Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health, 15, 80.
  5. Dai, Y., & Ouyang, N. (2025). Excessive screen time and mental health problems among children and adolescents. arXiv preprint.
  6. World Health Organization. (2025). Mental health of adolescents. WHO.
Bukan Sekadar Asisten: Ini Peran Krusial Bidan Terampil (Lulusan D3) sebagai “Ujung Tombak” di Faskes dan Komunitas

Bukan Sekadar Asisten: Ini Peran Krusial Bidan Terampil (Lulusan D3) sebagai “Ujung Tombak” di Faskes dan Komunitas

Sering dianggap sebelah mata, ternyata Bidan Terampil (Lulusan D3) memegang peran kunci operasional di Rumah Sakit dan Desa. Simak keunggulan vokasi kebidanan di sini!

“Cuma Lulusan D3, Bisanya Apa?”

Pertanyaan ini mungkin sering terdengar. Di tengah gempuran tren pendidikan akademik, pendidikan vokasi seperti D3 Kebidanan seringkali dipandang sebagai “pilihan kedua”. Padahal, dalam ekosistem kesehatan nasional, lulusan D3 Kebidanan memiliki nomenklatur resmi sebagai Bidan Terampil.

Mengapa disebut “Terampil”? Karena kurikulum D3 didesain dengan porsi praktik yang lebih besar (60-70%) dibandingkan teori. Mereka dicetak bukan untuk sekadar berteori, tapi untuk menjadi eksekutor handal yang siap kerja (job-ready) di lapangan.

Mari kita bedah peran vital mereka di dua medan juang utama: Fasilitas Kesehatan (Faskes) dan Komunitas.

1. Sang Eksekutor di Fasilitas Kesehatan (RS & Puskesmas)

Di lingkungan Rumah Sakit atau Klinik Pratama, Bidan Terampil adalah garda terdepan dalam pelayanan pasien day-to-day.

  • Asuhan Kebidanan Fisiologis: Merekalah yang paling sering menangani persalinan normal (fisiologis). Keterampilan tangan (hands-on skills) lulusan D3 sangat terasah untuk memimpin persalinan, melakukan penjahitan perineum derajat 1 & 2, hingga perawatan bayi baru lahir.
  • Respon Cepat Kegawatdaruratan: Saat terjadi pendarahan atau eklamsia, Bidan Terampil dilatih untuk melakukan pertolongan pertama secara teknis (pemasangan infus, stabilisasi pasien) sebelum merujuk atau kolaborasi dengan dokter Sp.OG.
  • Pendampingan Pasien (Care Provider): Karena fokus vokasi adalah skill dan pelayanan, bidan D3 seringkali memiliki bonding yang lebih kuat dalam mendampingi kenyamanan ibu selama proses persalinan (kala I hingga IV).

2. “Wajah Kesehatan” di Komunitas (Masyarakat)

Peran Bidan Terampil justru makin bersinar ketika terjun ke desa atau komunitas. Di sini, mereka bukan hanya tenaga medis, tapi juga agen perubahan sosial.

  • Detektor Dini Risiko Tinggi (Risti): Bidan D3 dilatih untuk peka. Melalui kunjungan rumah (home care), mereka adalah orang pertama yang mendeteksi jika ada ibu hamil yang anemia, KEK (Kurang Energi Kronis), atau berisiko stunting, jauh sebelum ibu tersebut datang ke RS.
  • Komunikator Luwes: Bidan Terampil diajarkan untuk masuk ke lapisan masyarakat terbawah. Mereka mampu menerjemahkan bahasa medis yang rumit menjadi bahasa daerah yang mudah dimengerti nenek-nenek atau ibu muda di Posyandu.
  • Penggerak Desa Siaga: Mengelola kader, penyuluhan KB, hingga imunisasi balita adalah “makanan sehari-hari” bidan komunitas. Tanpa keterampilan manajerial lapangan yang diajarkan di prodi D3, program kesehatan pemerintah sulit berjalan.

Kesimpulan: Mengapa Memilih D3 Kebidanan?

Menjadi Bidan Terampil (D3) berarti memilih jalan untuk menjadi praktisi yang cekatan. Indonesia membutuhkan lebih banyak tenaga vokasi yang “siap pakai” untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

Untuk mencapai kompetensi tinggi tersebut, pemilihan tempat kuliah sangat menentukan. Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata hadir dengan kurikulum berbasis kompetensi yang ketat dan fasilitas laboratorium modern.

Sebagai salah satu prodi kebidanan terbaik di Jogja yang telah terakreditasi Unggul, kami memastikan setiap lulusan kami bukan hanya hafal teori, tetapi benar-benar “Terampil” melayani masyarakat dengan hati dan standar profesional tertinggi.

Siap menjadi Bidan Terampil yang dicari banyak Faskes? Mari bergabung bersama kami!

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan RI. (2020). Permenkes Nomor 28 Tahun 2017 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan.
  2. Yulizawati, et al. (2019). The intensity of clinical practice and the competency of midwifery students. Journal of Midwifery.
  3. Ikatan Bidan Indonesia (IBI).Standar Kompetensi Bidan Indonesia.