by Admin Kebidanan | Jul 20, 2026 | Artikel D3
Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.
Universitas Alma Ata, Juli 2026 – Pernah merasa membuka media sosial hanya lima menit, tetapi tiba-tiba sudah satu jam berlalu? Atau sulit berkonsentrasi belajar karena terus ingin melihat video berikutnya? Jika pernah mengalaminya, Anda tidak sendirian. Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah brain rot, sebuah istilah populer di media sosial yang menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang cepat, berulang, dan minim nilai edukasi sehingga memengaruhi kemampuan berkonsentrasi, berpikir kritis, dan mengelola waktu.
Meskipun brain rot bukan merupakan diagnosis medis, istilah ini menjadi simbol meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak penggunaan media digital secara berlebihan, terutama pada remaja. Berbagai platform media sosial dirancang dengan fitur infinite scroll dan video berdurasi pendek yang mampu menarik perhatian pengguna dalam waktu lama. Akibatnya, banyak remaja tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar.
Penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat berdampak pada berbagai aspek kesehatan. Remaja yang terlalu lama menggunakan gawai cenderung mengalami gangguan tidur, berkurangnya aktivitas fisik, kesulitan berkonsentrasi saat belajar, meningkatnya kecemasan, hingga menurunnya kualitas interaksi dengan keluarga dan teman. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menegaskan bahwa kesehatan mental remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan digital dan pola penggunaan media sosial.
Selain berdampak pada kesehatan mental, penggunaan gawai hingga larut malam juga dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh. Paparan cahaya biru (blue light) dari layar dapat menghambat produksi hormon melatonin yang berperan dalam mengatur tidur. Akibatnya, remaja lebih sulit tidur, merasa lelah pada siang hari, dan mengalami penurunan konsentrasi saat mengikuti kegiatan belajar.
Agar tetap sehat dan produktif di era digital, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan remaja untuk mencegah brain rot.
- Batasi waktu penggunaan media sosial
Tetapkan batas waktu penggunaan media sosial setiap hari. Gunakan fitur Screen Time atau Digital Wellbeing pada ponsel untuk membantu mengontrol durasi penggunaan aplikasi.
- Terapkan aturan “20–20”
Setelah menggunakan media sosial selama sekitar 20 menit, berhentilah sejenak. Gunakan waktu tersebut untuk berdiri, berjalan, melakukan peregangan, atau mengistirahatkan mata sebelum kembali beraktivitas.
- Pilih konten yang bermanfaat
Tidak semua konten di internet memberikan manfaat. Seimbangkan hiburan dengan konten edukatif, seperti video pembelajaran, podcast, buku digital, atau informasi kesehatan dari sumber yang terpercaya.
- Hindari scrolling tanpa tujuan
Sebelum membuka media sosial, tanyakan pada diri sendiri, “Apa tujuan saya membuka aplikasi ini?” Jika tujuan sudah tercapai, segera tutup aplikasi agar tidak terjebak dalam kebiasaan doomscrolling.
- Kurangi penggunaan gawai sebelum tidur
Hindari penggunaan ponsel setidaknya 30–60 menit sebelum tidur. Paparan cahaya dari layar dapat mengganggu produksi hormon melatonin sehingga kualitas tidur menurun.
- Perbanyak aktivitas di luar dunia digital
Luangkan waktu untuk berolahraga, membaca buku, mengikuti kegiatan organisasi, bermain musik, berkebun, atau berkumpul bersama keluarga dan teman. Aktivitas tersebut membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.
- Latih kemampuan fokus
Biasakan mengerjakan satu aktivitas dalam satu waktu (single-tasking). Hindari membuka banyak aplikasi secara bersamaan karena dapat mengurangi konsentrasi dan produktivitas.
- Jaga kesehatan tubuh
Tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, minum air putih yang cukup, dan rutin berolahraga berperan penting dalam menjaga fungsi otak serta kesehatan mental.
- Lakukan digital detox secara berkala
Sisihkan waktu beberapa jam atau satu hari dalam seminggu untuk mengurangi penggunaan media digital. Gunakan waktu tersebut untuk melakukan aktivitas yang memberikan ketenangan dan meningkatkan interaksi sosial secara langsung.
- Bangun kebiasaan berpikir kritis
Jangan langsung mempercayai semua informasi yang muncul di media sosial. Biasakan memeriksa kebenaran informasi, membaca dari sumber terpercaya, dan berdiskusi dengan guru, orang tua, atau tenaga kesehatan bila menemukan informasi yang meragukan.
Teknologi merupakan alat yang dapat memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara bijaksana. Kuncinya bukan menghindari media sosial, tetapi menggunakannya secara seimbang. Dengan mengelola waktu layar, memilih konten yang berkualitas, dan tetap aktif dalam kehidupan nyata, remaja dapat menjaga kesehatan otak, meningkatkan konsentrasi, serta mendukung kesehatan fisik dan mental.
Teknologi bukanlah musuh. Justru teknologi dapat menjadi sarana belajar, berkreasi, dan berbagi informasi kesehatan apabila digunakan secara bijaksana. Karena itu, mari menjadi generasi digital yang cerdas: memanfaatkan teknologi untuk berkembang, bukan membiarkan teknologi mengendalikan kehidupan kita.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu, anak dan remaja yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. American Psychological Association.
- World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
- United Nations Children’s Fund. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, Protecting and Caring for Children’s Mental Health. UNICEF.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Oxford University Press. (2024). Oxford Word of the Year 2024: Brain Rot. https://corp.oup.com/news/brain-rot-named-oxford-word-of-the-year/
by Admin Kebidanan | Jul 17, 2026 | Artikel D3
Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M. Kes.
Universitas Alma Ata, Juli 2026 – “Semua teman sudah punya”, “Takut ketinggalan tren”, atau “Harus upload biar dianggap eksis”. Kalimat-kalimat tersebut semakin sering terdengar di kalangan remaja. Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan cemas ketika merasa tertinggal dari aktivitas, pengalaman, atau tren yang sedang ramai di media sosial.
Di era digital, informasi menyebar begitu cepat. Setiap hari remaja disuguhi berbagai konten viral, mulai dari tren fesyen, kuliner, tantangan media sosial, hingga gaya hidup para influencer. Tidak sedikit yang merasa harus mengikuti semua tren agar tetap dianggap “kekinian”. Padahal, keinginan untuk selalu mengikuti tren dapat memengaruhi kesehatan mental, pola hidup, bahkan kondisi finansial.
FOMO bukan sekadar rasa penasaran. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu stres, kecemasan, gangguan tidur, menurunnya rasa percaya diri, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berhubungan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental pada remaja.
Salah satu contoh yang sempat menjadi perbincangan luas adalah tren mengoleksi berbagai produk viral yang dipromosikan oleh influencer. Banyak remaja membeli suatu barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut dianggap tertinggal dari teman-temannya. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial mampu membentuk perilaku konsumtif melalui rasa takut tidak menjadi bagian dari kelompok.
Bagi remaja, penting untuk memahami bahwa tidak semua tren harus diikuti. Menjadi diri sendiri, memiliki tujuan hidup yang jelas, serta mampu mengelola penggunaan media sosial merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental. Membatasi waktu layar (screen time), memilih akun yang memberikan inspirasi positif, dan memperbanyak aktivitas di dunia nyata dapat membantu mengurangi dampak FOMO.
Tips Remaja Menghindari Sikap FOMO (Fear of Missing Out)
Agar tetap sehat secara fisik dan mental, berikut beberapa tips yang dapat diterapkan oleh remaja.
- Sadari bahwa media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan yang sebenarnya
Apa yang terlihat di media sosial umumnya adalah momen terbaik yang dipilih untuk dibagikan. Setiap orang juga memiliki tantangan dan masalah yang mungkin tidak mereka tampilkan. Oleh karena itu, hindari membandingkan kehidupan diri sendiri dengan unggahan orang lain.
- Batasi waktu penggunaan media sosial
Tetapkan batas waktu penggunaan media sosial setiap hari, misalnya maksimal 2 jam di luar kebutuhan belajar. Manfaatkan fitur screen time pada ponsel untuk membantu mengontrol kebiasaan tersebut.
- Pilih akun yang memberikan inspirasi positif
Ikuti akun yang menyajikan informasi edukatif, motivasi, kesehatan, atau pengembangan diri. Kurangi mengikuti akun yang membuat Anda merasa tidak percaya diri atau terus-menerus ingin membandingkan diri.
- Fokus pada tujuan dan potensi diri
Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Daripada sibuk mengikuti semua tren, lebih baik fokus mengembangkan kemampuan, prestasi, dan hobi yang sesuai dengan minat serta cita-cita.
- Jangan merasa harus mengikuti semua tren
Tidak semua tren cocok atau bermanfaat. Sebelum ikut mencoba sesuatu yang sedang viral, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini sesuai dengan nilai, kebutuhan, dan kemampuan saya?
- Perbanyak aktivitas di dunia nyata
Luangkan waktu untuk berolahraga, membaca buku, mengikuti organisasi, berkumpul bersama keluarga, atau melakukan kegiatan sosial. Aktivitas ini dapat meningkatkan kebahagiaan tanpa bergantung pada media sosial.
- Latih rasa syukur setiap hari
Membiasakan diri mensyukuri hal-hal sederhana dapat membantu mengurangi keinginan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain. Tuliskan tiga hal yang membuat Anda bersyukur setiap hari sebagai latihan sederhana.
- Bangun hubungan yang sehat dengan teman
Persahabatan yang baik tidak diukur dari seberapa sering mengikuti tren bersama, tetapi dari adanya saling menghargai, mendukung, dan menerima satu sama lain.
- Jaga kesehatan fisik dan mental
Tidur yang cukup, makan makanan bergizi, berolahraga secara rutin, dan memiliki waktu istirahat yang berkualitas akan membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih sehat sehingga lebih mampu mengelola tekanan sosial.
- Jangan ragu mencari bantuan jika diperlukan
Apabila perasaan cemas, sedih, atau tertekan akibat media sosial mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, bicarakan dengan orang tua, guru, konselor, atau tenaga kesehatan. Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah bijak untuk menjaga kesehatan mental.
Ingat!
Menjadi diri sendiri jauh lebih berharga daripada berusaha mengikuti semua tren. Media sosial hanyalah salah satu bagian dari kehidupan, bukan ukuran kebahagiaan atau kesuksesan seseorang. Jadilah remaja yang cerdas dalam menggunakan teknologi, percaya pada kemampuan diri, dan berani mengatakan “tidak” pada hal-hal yang tidak memberikan manfaat.
Mari jadikan media sosial sebagai ruang belajar, berbagi inspirasi, dan menyebarkan informasi kesehatan yang benar. Ingat, menjadi versi terbaik dari diri sendiri jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti apa yang sedang viral.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu, anak dan remaja yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. American Psychological Association.
- Indonesia National Adolescent Mental Health Survey. (2022). Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS): Laporan nasional. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
- Universitas Airlangga. (2025, 25 April). Budaya konsumtif di balik viralnya Labubu. https://unair.ac.id/budaya-konsumtif-di-balik-viralnya-labubu/
- Universitas Muhammadiyah Jakarta. (2024, 19 September). Labubu menjadi tren berkat Lisa Blackpink. https://umj.ac.id/just_info/labubu-menjadi-trend-berkat-lisa-blackpink/
- World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
by Admin Kebidanan | Jul 16, 2026 | Artikel
Memasuki awal bulan Juli, sebagian besar wilayah di Indonesia mengalami puncak musim kemarau yang ditandai dengan meningkatnya suhu udara serta kondisi lingkungan yang lebih kering dan berdebu. Cuaca ekstrem yang terjadi tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama Heat Exhaustion (kelelahan akibat panas) dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi ini perlu menjadi perhatian seluruh masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, balita, lansia, serta individu dengan penyakit kronis.
Fenomena tersebut menjadi perhatian Dosen Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata, Ibu Isti Chana Zuliyati, S.ST., M.Keb yang mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca ekstrem melalui penerapan langkah-langkah pencegahan sederhana di lingkungan keluarga.
Menurut Isti, paparan suhu yang tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dalam jumlah besar melalui keringat. Apabila cairan yang hilang tidak segera digantikan, tubuh akan mengalami dehidrasi yang dapat berkembang menjadi heat exhaustion, yaitu kondisi ketika tubuh mulai kesulitan mengatur suhu secara normal.
“Cuaca panas tidak boleh dianggap sepele. Banyak masyarakat baru menyadari ketika tubuh sudah mengalami dehidrasi berat. Padahal, kondisi tersebut dapat dicegah dengan menjaga kecukupan cairan tubuh dan membatasi aktivitas di bawah terik matahari,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa beberapa gejala heat exhaustion yang perlu diwaspadai antara lain keringat berlebih, kulit terasa dingin atau lembap, pusing, sakit kepala, mual, muntah, kram otot, hingga jantung berdebar lebih cepat dari biasanya. Apabila gejala tersebut tidak segera ditangani, kondisi dapat berkembang menjadi heat stroke yang bersifat darurat medis.
Lebih lanjut, Isti menekankan bahwa ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak cuaca panas. Selama kehamilan, kebutuhan cairan meningkat karena tubuh harus menjaga volume darah serta cairan ketuban. Dehidrasi pada trimester awal dapat memperberat keluhan mual dan muntah, sedangkan pada trimester akhir dapat memicu kontraksi palsu atau Braxton Hicks yang lebih sering muncul.
“Ibu hamil perlu lebih disiplin menjaga asupan cairan setiap hari. Jangan menunggu merasa haus karena rasa haus merupakan tanda awal tubuh mulai mengalami kekurangan cairan,” ujarnya.
Selain ancaman akibat suhu tinggi, musim kemarau juga menyebabkan kualitas udara menurun karena meningkatnya debu dan polusi. Udara yang lebih kering membuat partikel debu, asap kendaraan, maupun polutan lainnya lebih mudah beterbangan dan terhirup sehingga meningkatkan risiko terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Menurutnya, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan karena sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan. Paparan debu secara terus-menerus dapat memicu batuk, pilek, radang tenggorokan, hingga memperburuk gangguan pernapasan pada anak yang memiliki riwayat alergi maupun asma.
Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama musim kemarau, Isti mengimbau masyarakat menerapkan beberapa langkah proteksi mandiri. Di antaranya membiasakan minum air putih minimal 2–2,5 liter setiap hari, sementara ibu menyusui dianjurkan meningkatkan konsumsi cairan hingga sekitar 3 liter per hari. Selain itu, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi terutama pada pukul 10.00–15.00 ketika paparan sinar matahari sedang berada pada intensitas tertinggi.
Ia juga menyarankan masyarakat memperbanyak konsumsi buah-buahan yang kaya kandungan air dan vitamin C seperti semangka, melon, dan jeruk untuk membantu menjaga hidrasi sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh. Penggunaan pakaian berbahan katun yang longgar dan menyerap keringat serta pemakaian masker saat berada di lingkungan berdebu juga menjadi langkah sederhana yang efektif untuk melindungi kesehatan.
“Perlindungan terhadap kesehatan keluarga dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Menjaga tubuh tetap terhidrasi, menggunakan pakaian yang nyaman, menghindari paparan panas berlebihan, serta memakai masker saat kualitas udara menurun merupakan upaya sederhana namun sangat bermanfaat dalam mencegah berbagai gangguan kesehatan selama musim kemarau,” jelasnya.
Sebagai dosen Profesi Bidan, Isti berharap masyarakat semakin peduli terhadap perubahan cuaca yang terjadi dan tidak menganggap keluhan akibat panas sebagai kondisi yang biasa. Edukasi mengenai pencegahan menjadi kunci agar kelompok rentan, terutama ibu hamil, bayi, balita, dan lansia, tetap terlindungi selama menghadapi cuaca ekstrem.
“Cuaca ekstrem merupakan tantangan yang tidak dapat kita hindari, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui perilaku hidup sehat dan kewaspadaan sejak dini. Mari bersama menjaga kesehatan diri dan keluarga dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan secara konsisten agar tetap sehat sepanjang musim kemarau,” tutup Isti.
by Admin Kebidanan | Jul 15, 2026 | Artikel D3
Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT.,M. Kes.
Universitas Alma Ata, Juli 2026 – Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja. Berbagai platform digital dimanfaatkan untuk belajar, mencari informasi, berkomunikasi, hingga mengekspresikan diri. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan media sosial yang berlebihan juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kesehatan mental remaja.
Belakangan ini, berbagai konten di media sosial ramai membahas fenomena digital fatigue, doom scrolling, dan tekanan untuk selalu tampil sempurna di dunia maya. Isu ini semakin menjadi sorotan setelah hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan bahwa hampir 10% anak dan remaja yang menjalani skrining memiliki indikasi gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi. Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan mental remaja perlu mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Media sosial pada dasarnya bukanlah penyebab utama masalah kesehatan mental. Akan tetapi, penggunaan yang tidak terkendali dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, gangguan tidur, rendahnya rasa percaya diri, hingga kecenderungan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Sebaliknya, jika digunakan secara bijaksana, media sosial dapat menjadi sarana belajar, membangun jejaring pertemanan, mengembangkan kreativitas, serta memperoleh informasi kesehatan yang benar.
Sebagai generasi digital, remaja perlu memiliki kemampuan literasi digital agar mampu menyaring informasi yang diterima. Tidak semua informasi kesehatan yang beredar di media sosial dapat dipercaya. Oleh karena itu, penting untuk memastikan sumber informasi berasal dari tenaga kesehatan, institusi pendidikan, atau lembaga resmi yang memiliki kredibilitas.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan remaja untuk menjaga kesehatan mental saat menggunakan media sosial antara lain:
- membatasi waktu penggunaan media sosial setiap hari;
- mengikuti akun yang memberikan konten positif dan edukatif;
- menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain;
- menjaga keseimbangan antara aktivitas daring dan aktivitas di dunia nyata;
- tetap berinteraksi secara langsung dengan keluarga dan teman; serta
- tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor apabila mengalami stres berkepanjangan.
Mari jadikan media sosial sebagai sarana untuk belajar, berbagi inspirasi, dan menyebarkan informasi kesehatan yang bermanfaat. Remaja yang cerdas dalam menggunakan teknologi adalah remaja yang mampu menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosialnya demi mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, tangguh, dan berdaya saing.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu dan anak yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 9 Maret). Alarm kesehatan mental anak: CKG temukan ratusan ribu anak bergejala cemas dan depresi. https://www.kemkes.go.id/id/alarm-kesehatan-mental-anak-ckg-temukan-ratusan-ribu-anak-bergejala-cemas-dan-depresi
- World Health Organization Indonesia. (2026, 23 Februari). Bersatu merespons dampak kesehatan jiwa kekerasan digital. https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/23-02-2026-uniting-to-respond-to-mental-health-impacts-of-digital-violence
- World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman nasional pelayanan kesehatan jiwa. Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak. Kementerian Kesehatan RI.
- UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On my mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. UNICEF.
- American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. American Psychological Association.
by Admin Kebidanan | Jul 14, 2026 | Berita
Bantul, 14 Juli 2026 – Komitmen Program Sarjana Kebidanan, dan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata dalam mendukung peningkatan literasi kesehatan remaja kembali diwujudkan melalui kegiatan Sister School bersama SMAN 1 Bambanglipuro. Kolaborasi yang telah terjalin secara berkelanjutan ini menjadi wujud sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga mendukung pembentukan karakter serta perilaku hidup sehat pada peserta didik.
Kepercayaan yang kembali diberikan oleh SMAN 1 Bambanglipuro kepada Program Studi Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata menjadi bukti kuat bahwa Program Sister School telah berkembang menjadi kemitraan yang memberikan manfaat nyata bagi kedua institusi. Melalui program ini, dosen secara konsisten hadir di lingkungan sekolah melalui kegiatan dosen mengajar, dengan menghadirkan berbagai materi edukasi yang disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan peserta didik serta tantangan yang dihadapi remaja di era saat ini.
Pada tahun 2026, Program Studi Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata kembali dipercaya untuk berpartisipasi dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 1 Bambanglipuro. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk implementasi keberlanjutan Program Sister School yang bertujuan memberikan bekal pengetahuan sejak awal kepada peserta didik, sehingga mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah sekaligus memahami pentingnya menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosial selama menjalani masa remaja.
Pelaksanaan kegiatan melibatkan dosen dan mahasiswa Program Sarjana Kebidanan, dan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata dalam penyampaian materi edukasi kesehatan remaja yang dikemas secara interaktif, komunikatif, dan menyenangkan. Metode pembelajaran dirancang untuk mendorong partisipasi aktif siswa melalui diskusi, tanya jawab, serta berbagai aktivitas yang membantu peserta menghubungkan materi dengan pengalaman yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai bagian dari implementasi Program Sister School, dosen menyampaikan materi edukasi kesehatan remaja yang disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan peserta didik pada setiap jenjang kelas. Edukasi yang diberikan berfokus pada penguatan pemahaman remaja dalam mengenali perubahan fisik, psikologis, emosional, dan sosial yang terjadi selama masa remaja, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan hidup (life skills) untuk membangun hubungan sosial yang sehat, meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kesehatan, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Materi yang disampaikan kepada siswa kelas XI dan XII dirancang untuk meningkatkan self-awareness terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan remaja, memperkuat kemampuan komunikasi yang positif, serta menumbuhkan sikap saling menghargai dalam berinteraksi dengan orang lain. Melalui pendekatan tersebut, siswa diharapkan mampu memahami bahwa kesehatan remaja tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup kesehatan mental, emosional, dan sosial yang menjadi fondasi penting dalam mempersiapkan diri menuju masa dewasa.
Untuk mengetahui efektivitas pembelajaran, kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test guna mengukur tingkat pengetahuan awal peserta. Setelah mengikuti sesi edukasi, siswa kembali mengerjakan post-test sebagai bentuk evaluasi terhadap peningkatan pemahaman setelah memperoleh materi. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka selama sesi berlangsung, baik dalam diskusi maupun saat menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai isu-isu kesehatan remaja yang dekat dengan kehidupan mereka.
Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa Program Studi Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata. Mahasiswa terlibat aktif dalam mendampingi pelaksanaan kegiatan, membantu proses evaluasi pembelajaran, memfasilitasi diskusi kelompok, serta berpartisipasi dalam berbagai aktivitas edukasi. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang memperkuat kompetensi mahasiswa dalam komunikasi, promosi kesehatan, kerja sama tim, serta profesionalisme sebagai calon tenaga kesehatan.
Pelaksanaan Program Sister School merupakan salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kolaborasi yang berkesinambungan antara Universitas Alma Ata dan SMAN 1 Bambanglipuro, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja sekaligus memperkuat karakter peserta didik agar mampu menghadapi berbagai tantangan perkembangan di masa kini.
Ke depan, Program Sarjana Kebidanan, dan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata berkomitmen untuk terus mengembangkan Program Sister School melalui berbagai inovasi kegiatan dosen mengajar yang relevan dengan kebutuhan sekolah dan perkembangan remaja. Sinergi yang telah terjalin diharapkan tidak hanya mempererat hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah, tetapi juga menjadi langkah bersama dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung lahirnya generasi muda yang sehat, cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.