Screen Time Remaja: Sehat di Tengah Dunia yang Serba Digital

Screen Time Remaja: Sehat di Tengah Dunia yang Serba Digital

By Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb

Ponsel sudah menjadi bagian dari keseharian remaja. Bangun tidur, yang dicari sering kali ponsel. Menunggu pelajaran dimulai, buka media sosial. Pulang sekolah, menonton video atau bermain gim. Bahkan menjelang tidur, masih ada saja yang menggulir layar sampai larut malam.

Teknologi tentu bukan sesuatu yang buruk. Justru banyak hal positif yang bisa didapat remaja dari teknologi. Belajar menjadi lebih mudah, informasi bisa ditemukan dalam hitungan detik, komunikasi dengan teman semakin praktis, dan berbagai keterampilan baru juga bisa dipelajari melalui internet.

Namun, penggunaan gawai yang terlalu lama tanpa diimbangi dengan aktivitas lain bisa mulai berdampak pada kesehatan. Mata terasa lelah, tubuh jarang bergerak, sulit berkonsentrasi, tidur semakin larut, bahkan suasana hati bisa ikut berubah.

Jadi, persoalannya sebenarnya bukan hanya “berapa lama kamu menggunakan HP?”, tetapi juga “untuk apa, kapan, dan bagaimana kamu menggunakannya?”

Bukan Sekadar Masalah Waktu Layar

Screen time adalah waktu yang kita habiskan untuk menggunakan perangkat dengan layar, seperti smartphone, tablet, laptop, televisi, dan perangkat digital lainnya.

Bagi remaja, screen time tidak selalu berarti sesuatu yang buruk. Menggunakan laptop untuk mengerjakan tugas tentu berbeda dengan menghabiskan berjam-jam menonton video tanpa jeda. Menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dengan teman juga berbeda dengan terus-menerus melihat konten yang membuat kita membandingkan diri dengan orang lain.

Karena itu, penggunaan teknologi sebaiknya tidak hanya dilihat dari jumlah waktunya. Kita juga perlu melihat apa yang dilakukan, kapan digunakan, dan apa dampaknya bagi kehidupan sehari-hari.

Coba perhatikan kebiasaan sendiri. Apakah penggunaan HP membuat waktu tidur berkurang? Apakah jadi malas bergerak? Apakah belajar menjadi sulit fokus? Atau justru lebih sering mengabaikan tugas karena terlalu asyik dengan media sosial?

Kalau mulai terjadi hal-hal seperti itu, mungkin sudah waktunya kebiasaan menggunakan gawai dievaluasi.

Scroll Terus, Kok Tubuh Ikut Lelah?

Pernah berniat membuka media sosial hanya lima menit, tetapi tiba-tiba sudah satu jam berlalu?

Hal seperti ini sangat mudah terjadi. Video pendek, notifikasi, komentar, pesan, dan rekomendasi konten membuat kita terus penasaran dengan apa yang muncul berikutnya. Akhirnya, waktu yang awalnya hanya sebentar berubah menjadi berjam-jam.

Masalahnya, saat terlalu lama menggunakan gawai, tubuh cenderung berada dalam posisi yang sama dan kurang bergerak. Duduk terlalu lama juga bisa membuat waktu untuk aktivitas fisik semakin sedikit.

Padahal, remaja tetap membutuhkan aktivitas fisik untuk menjaga kebugaran, kesehatan tulang dan otot, serta kesehatan jantung.

Aktivitas fisik tidak selalu harus berupa olahraga berat. Jalan kaki, bersepeda, bermain bersama teman, membantu pekerjaan rumah, naik turun tangga, atau sekadar lebih sering berdiri dan bergerak juga termasuk bagian dari gaya hidup aktif.

Jadi, bukan berarti harus meninggalkan HP sepenuhnya. Yang penting, jangan sampai waktu di depan layar mengambil seluruh waktu untuk bergerak.

Mata Lelah? Beri Waktu untuk Istirahat

Belajar menggunakan laptop, mengerjakan tugas melalui smartphone, atau menonton video pembelajaran sudah menjadi bagian dari kehidupan pelajar saat ini. Karena itu, menghindari layar sepenuhnya tentu bukan pilihan yang realistis.

Yang bisa dilakukan adalah memberikan jeda pada mata dan tubuh.

Terlalu lama menatap layar dapat membuat mata terasa kering, perih, lelah, atau mengalami pandangan kabur sementara. Kondisi ini bisa semakin terasa ketika kita terlalu fokus pada layar dan lupa beristirahat.

Salah satu kebiasaan sederhana yang bisa dicoba adalah aturan 20-20-20. Setiap 20 menit, alihkan pandangan selama sekitar 20 detik ke benda yang berjarak sekitar 20 kaki atau 6 meter.

Selain itu, pastikan jarak layar tidak terlalu dekat dengan mata, pencahayaan ruangan cukup, dan kecerahan layar terasa nyaman.

Sederhana, tetapi kebiasaan kecil seperti ini bisa membantu penggunaan layar menjadi lebih nyaman.

Scroll Malam Hari, Tidur Jadi Kapan?

“Sebentar lagi tidur.”

Kalimat itu mungkin sering terdengar sebelum akhirnya kita masih scrolling selama satu jam berikutnya.

Awalnya hanya ingin membalas pesan. Setelah itu melihat satu video, lanjut video berikutnya, membuka media sosial, membaca komentar, lalu tiba-tiba waktu sudah menunjukkan tengah malam.

Padahal, tidur bukan sesuatu yang bisa terus dikurangi tanpa dampak.

Remaja membutuhkan tidur yang cukup untuk mendukung pertumbuhan, konsentrasi, daya ingat, suasana hati, dan kesehatan secara keseluruhan. Ketika kurang tidur, tubuh bisa terasa lebih lelah, mengantuk di siang hari, sulit berkonsentrasi, dan suasana hati menjadi lebih mudah berubah.

Penggunaan smartphone menjelang tidur juga membuat kita semakin sulit berhenti karena otak masih terus menerima berbagai rangsangan dari konten yang dilihat.

Tidak perlu membuat aturan yang terlalu ekstrem. Bisa dimulai dengan meletakkan smartphone beberapa saat sebelum tidur dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih tenang, seperti membaca, berbincang dengan keluarga, atau sekadar bersiap tidur tanpa layar.

Media Sosial dan Kesehatan Mental Remaja

Dampak penggunaan layar tidak hanya berkaitan dengan mata dan tubuh. Cara kita menggunakan media sosial juga bisa memengaruhi kondisi psikologis.

Di media sosial, kita bisa melihat teman yang terlihat selalu bahagia, punya banyak teman, mendapatkan nilai bagus, sering bepergian, memiliki penampilan menarik, atau menjalani kehidupan yang tampak sempurna.

Tapi, apakah kehidupan seseorang benar-benar sesempurna yang terlihat di layar?

Tentu tidak.

Media sosial hanya menunjukkan sebagian dari kehidupan seseorang. Kita biasanya melihat momen yang memang ingin dibagikan, bukan seluruh cerita di baliknya.

Masalah bisa muncul ketika kita terlalu sering membandingkan kehidupan sendiri dengan apa yang kita lihat di media sosial. Lama-kelamaan, kita bisa merasa kurang baik, kurang menarik, kurang berhasil, atau tertinggal dari orang lain.

Perasaan tersebut dapat membuat seseorang menjadi insecure, cemas, atau kehilangan kepercayaan diri.

Karena itu, penting untuk mengingat satu hal: media sosial adalah tempat orang memilih apa yang ingin mereka tampilkan, bukan gambaran lengkap tentang kehidupan mereka.

Kalau setelah menggunakan media sosial kita justru semakin sering merasa tidak cukup baik, mungkin bukan diri kita yang harus terus berubah. Bisa jadi, kebiasaan menggunakan media sosial yang perlu diperbaiki.

Bukan Harus Berhenti, tetapi Belajar Mengendalikan

Teknologi bukan musuh remaja.

Smartphone bisa menjadi alat belajar, sumber informasi, sarana komunikasi, tempat mencari inspirasi, bahkan menjadi media untuk mengembangkan kreativitas dan berbagai keterampilan.

Yang menjadi masalah adalah ketika teknologi mulai mengatur hidup kita.

Mengurangi screen time bukan berarti harus berhenti menggunakan smartphone atau media sosial. Tujuannya adalah belajar menggunakan teknologi dengan lebih sadar dan seimbang.

Coba sesekali tanyakan kepada diri sendiri:

“Aku membuka HP karena memang membutuhkannya, atau karena sudah terbiasa?”

Pertanyaan sederhana ini bisa membantu kita menyadari apakah kita benar-benar membutuhkan gawai atau hanya sekadar mengikuti kebiasaan.

Mulai dari Kebiasaan Kecil

Tidak perlu langsung mengubah semuanya dalam satu hari. Justru, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten biasanya lebih mudah dipertahankan.

1. Buat waktu tanpa gawai

Cobalah untuk tidak menggunakan smartphone saat makan. Luangkan waktu untuk berbicara dengan keluarga atau teman tanpa terganggu notifikasi. Bisa juga menentukan waktu tertentu dalam sehari sebagai waktu bebas layar.

2. Berikan jeda pada mata dan tubuh

Jangan menatap layar terus-menerus. Terapkan aturan 20-20-20 dan biasakan berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan setelah duduk cukup lama.

3. Kurangi penggunaan HP sebelum tidur

Hindari scrolling sampai larut malam. Letakkan smartphone sedikit lebih jauh dari tempat tidur dan gunakan waktu sebelum tidur untuk aktivitas yang lebih tenang.

4. Gunakan media sosial dengan lebih sadar

Pilih akun yang memberikan informasi positif dan bermanfaat. Jika ada konten yang terus membuat kita membandingkan diri atau merasa tidak percaya diri, tidak ada salahnya untuk unfollow, mute, atau mengurangi paparan terhadap konten tersebut.

5. Seimbangkan kehidupan digital dan kehidupan nyata

Luangkan waktu untuk berolahraga, bertemu teman secara langsung, melakukan hobi tanpa layar, berkegiatan bersama keluarga, mengikuti kegiatan sekolah, organisasi, atau aktivitas di lingkungan sekitar.

6. Kenali tanda ketika penggunaan HP mulai berlebihan

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Tidur semakin larut karena bermain HP.
  • Sulit berkonsentrasi saat belajar.
  • Merasa gelisah ketika jauh dari smartphone.
  • Aktivitas fisik semakin berkurang.
  • Tugas atau tanggung jawab mulai terabaikan.
  • Lebih sering merasa cemas, insecure, atau tidak percaya diri setelah menggunakan media sosial.

Jika beberapa hal tersebut mulai terjadi, tidak berarti kita harus langsung berhenti menggunakan teknologi. Namun, hal itu bisa menjadi tanda bahwa kebiasaan digital perlu diperhatikan dan diatur kembali.

Jadikan Teknologi sebagai Alat, Bukan Pengendali

Remaja saat ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Kemampuan menggunakan teknologi tentu penting. Namun, kemampuan digital juga perlu berjalan bersama dengan kemampuan menjaga kesehatan diri.

Tidak ada salahnya bermain gim, menonton video, menggunakan media sosial, atau mengikuti tren di internet. Yang penting, aktivitas digital tidak sampai mengambil waktu untuk tidur, belajar, bergerak, bersosialisasi, dan merawat diri.

Pada akhirnya, hidup sehat di era digital bukan berarti harus meninggalkan teknologi.

Hidup sehat berarti mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kendali atas waktu, tubuh, pikiran, dan kehidupan nyata.

Jadi, sebelum melakukan scroll berikutnya, coba berhenti sebentar dan tanyakan:

“Aku benar-benar membutuhkan ini, atau hanya sedang terbiasa?”

Karena terkadang, yang kita butuhkan bukan tambahan waktu untuk scrolling, tetapi sedikit waktu untuk beristirahat, bergerak, berbicara, dan hadir di dunia nyata.

Peran Bidan dalam Edukasi Kesehatan Remaja

Memahami kesehatan sejak remaja merupakan langkah penting untuk membangun generasi yang lebih sehat dan sadar terhadap dirinya.

Program Studi S1 Kebidanan dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata hadir untuk mempersiapkan calon bidan yang tidak hanya kompeten dalam memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga mampu menjadi edukator dan agen perubahan bagi remaja, perempuan, keluarga, dan masyarakat.

Melalui pembelajaran berbasis bukti (evidence-based midwifery), mahasiswa dibekali kemampuan untuk memahami berbagai permasalahan kesehatan secara ilmiah dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Dengan begitu, calon bidan tidak hanya hadir ketika seseorang membutuhkan pelayanan kesehatan, tetapi juga dapat mengambil peran dalam mencegah masalah kesehatan, memberikan edukasi, dan membantu masyarakat membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat.

Referensi

  1. World Health Organization. Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: World Health Organization; 2020.
  2. World Health Organization. Global Accelerated Action for the Health of Adolescents (AA-HA!): Guidance to Support Country Implementation. Geneva: WHO.
  3. World Health Organization. Adolescent Mental Health. Geneva: World Health Organization.
  4. American Academy of Pediatrics. Media and Young Minds. Pediatrics. 2016;138(5):e20162591.
  5. Stiglic N, Viner RM. Effects of screentime on the health and well-being of children and adolescents: a systematic review of reviews. BMJ Open. 2019;9:e023191.
  6. Hale L, Guan S. Screen time and sleep among school-aged children and adolescents: a systematic literature review. Sleep Medicine Reviews. 2015;21:50–58.
  7. Twenge JM, Campbell WK. Associations between screen time and lower psychological well-being among children and adolescents. Preventive Medicine Reports. 2018;12:271–283.
  8. Sawyer SM, Azzopardi PS, Wickremarathne D, Patton GC. The age of adolescence. The Lancet Child & Adolescent Health. 2018;2(3):223–228.
  9. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI; 2024.
  10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pembinaan Kebugaran Jasmani Peserta Didik melalui Upaya Kesehatan Sekolah. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Menyiapkan Generasi Tangguh: Edukasi Peran Orang Tua dalam Membangun Resiliensi dan Kepercayaan Diri Remaja di SMK Giri Handayani

Menyiapkan Generasi Tangguh: Edukasi Peran Orang Tua dalam Membangun Resiliensi dan Kepercayaan Diri Remaja di SMK Giri Handayani

Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan

Masa remaja merupakan fase krusial yang diwarnai oleh berbagai perubahan fisik, emosional, serta sosial. Di era digital dan modernisasi yang penuh tekanan ini, remaja rentan mengalami kecemasan, stres, hingga krisis kepercayaan diri. Merespons tantangan tersebut, tim Dosen dan Mahasiswa dari Program Studi D3 Kebidanan menyelenggarakan kegiatan edukasi bertajuk “Peran Orang Tua dalam Membangun Resiliensi atau Ketahanan Mental dan Kepercayaan Diri Anak Remaja” di SMK Giri Handayani, Wonosari, Gunungkidul.

Kegiatan ini merupakan bagian dari wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), yang berfokus pada penguatan kesehatan remaja secara holistik tidak hanya fisik dan reproduksi, tetapi juga mental dan psikologis.

Mengapa Resiliensi dan Kepercayaan Diri Penting bagi Remaja?

Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali dari kesulitan, adaptif terhadap tekanan, serta belajar dari kegagalan. Dalam pemaparannya, tim riset dan edukasi Prodi D3 Kebidanan menekankan bahwa rumah dan keluarga adalah tempat pertama dan utama di mana ketahanan mental anak dibentuk.

“Kesehatan jiwa remaja berhubungan erat dengan kesehatan reproduksi dan tumbuh kembang mereka secara menyeluruh. Remaja yang memiliki resiliensi tinggi cenderung mampu mengambil keputusan secara bijak, terhindar dari perilaku berisiko, serta lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” ujar perwakilan tim Pengabdi Prodi D3 Kebidanan.

Pilar Utama Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Mental Remaja

Melalui sesi sosialisasi yang interaktif di SMK Giri Handayani, dipaparkan beberapa pilar utama yang perlu diterapkan oleh orang tua dan pendidik:

  1. Komunikasi Empatis dan Membangun Ruang Aman (Safe Space)
  2. Orang tua diimbau untuk menjadi pendengar yang aktif tanpa terburu-buru menghakimi. Ketika anak merasa didengar, tingkat kecemasan mereka akan menurun dan kepercayaan diri akan tumbuh.
  3. Pola Asuh Demokratis (Authoritative Parenting)
  4. Memberikan batasan yang jelas namun tetap diimbangi dengan hangatnya kasih sayang. Pola asuh ini terbukti efektif dalam melatih remaja untuk mandiri dan bertanggung jawab atas pilihan mereka.
  5. Mengubah Kegagalan Menjadi Proses Belajar
  6. Resiliensi tidak lahir dari kehidupan tanpa masalah, melainkan dari pengalaman mengatasi masalah. Orang tua perlu mendampingi anak saat menemui kegagalan, mengajarkan evaluasi diri, dan memvalidasi perasaan anak.
  7. Memberikan Apresiasi pada Proses, Bukan Hanya Hasil
  8. Memuji usaha (effort) yang telah dilakukan remaja akan membangun growth mindset daripada sekadar memuji hasil akhir, sehingga anak tidak mudah putus asa jika menemui hambatan.

Sinergi Civitas Akademika dan Sekolah

Pihak SMK Giri Handayani menyambut hangat dan mengapresiasi inisiatif dari Program Studi D3 Kebidanan ini. Sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, dan orang tua murid diharapkan dapat menciptakan ekosistem pendukung (support system) yang sehat bagi para siswa SMK Giri Handayani, sehingga mereka tidak hanya unggul dalam keterampilan kejuruan (hard skills), tetapi juga tangguh secara mental (soft skills).

Melalui kegiatan edukasi ini, Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata membuktikan komitmennya dalam memperluas cakupan asuhan kebidanan komunitas (community midwifery) yang mencakup kesehatan remaja secara menyeluruh demi mencetak generasi penerus bangsa yang sehat, percaya diri, dan berdaya saing.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/ 

Referensi 

  1. American Psychological Association (APA). (2020). Resilience in Times of Stress: Building Resilience in Children and Teens. APA Guidelines.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Pedoman Standar Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas. Jakarta: Kemenkes RI.
  3. Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. (2020). Situasi Kesehatan Jiwa di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  4. Santrock, J. W. (2019). Adolescence (17th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
  5. Tim Pengabdian Masyarakat Prodi D3 Kebidanan. (2026). Laporan Kegiatan Pengabdian Masyarakat: Peran Orangtua dalam Membangun Resiliensi Remaja di SMK Giri Handayani.
Farewell Party Prodi Kebidanan: Merangkai Kenangan, Melangkah Menuju Masa Depan

Farewell Party Prodi Kebidanan: Merangkai Kenangan, Melangkah Menuju Masa Depan

Yogyakarta, Jumat, 14 Agustus 2026 — Program Studi Kebidanan Alma Ata menyelenggarakan kegiatan Farewell Party sebagai momen kebersamaan sekaligus perpisahan bagi mahasiswa tingkat akhir. Kegiatan ini menjadi ruang untuk merayakan perjalanan, mengenang berbagai cerita, serta mempererat kebersamaan sebelum para mahasiswa melangkah menuju tahap perjalanan berikutnya.

Farewell Party diikuti oleh mahasiswa tingkat akhir dari berbagai jenjang, yaitu mahasiswa D3 Kebidanan angkatan 2023, mahasiswa S1 Kebidanan angkatan 2022, serta mahasiswa Pendidikan Profesi Bidan angkatan 2025. Kegiatan ini juga semakin hangat dengan kehadiran dan pendampingan dari Ketua Jurusan Kebidana, Kaprodi, serta seluruh dosen Kebidanan yang turut menjadi bagian dari perjalanan akademik para mahasiswa.

Mengusung suasana penuh keakraban dan kebahagiaan, kegiatan diisi dengan berbagai aktivitas menarik, seperti games, ramah tamah, dan Berbagi Kenangan dan Kesan. Tawa, cerita, dan interaksi yang tercipta menjadi momen berharga yang mempererat hubungan antara mahasiswa dan keluarga besar Prodi Kebidanan Alma Ata.

Lebih dari sekadar acara perpisahan, Farewell Party menjadi kesempatan untuk mengapresiasi perjalanan dan proses yang telah dilalui bersama. Bagi mahasiswa tingkat akhir, momen ini menjadi pengingat bahwa setiap perjuangan, tantangan, dan kebersamaan selama menempuh pendidikan merupakan bagian penting dari perjalanan menuju profesionalisme sebagai tenaga kebidanan.

Terima kasih atas kebersamaan, dukungan, dan cerita indah yang telah menjadi bagian dari perjalanan bersama. Semoga setelah menyelesaikan pendidikan, seluruh mahasiswa dapat melangkah dengan penuh percaya diri, membawa ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh untuk memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat.

Sebuah akhir untuk kenangan indah, sekaligus awal untuk langkah yang lebih baik. 🤍✨

Membesarkan Anak Tangguh: Cara Melatih Ketegasan agar Anak Tidak Menjadi Korban Perundungan

Membesarkan Anak Tangguh: Cara Melatih Ketegasan agar Anak Tidak Menjadi Korban Perundungan

Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Di era modern yang penuh tantangan digital dan sosial, kekhawatiran terbesar orang tua sering kali runtuh pada satu kata: bullying (perundungan). Banyak orang tua berpikir bahwa cara terbaik agar anak tidak diganggu adalah dengan memasukkan mereka ke kelas bela diri agar bisa memukul balik. Namun, sains psikologi menunjukkan hal yang berbeda.

Senjata paling ampuh untuk melindungi anak dari radar pelaku perundungan bukanlah kekuatan fisik untuk menyerang, melainkan ketegasan (assertiveness). Melatih anak menjadi asertif bukan agresif maupun pasif adalah investasi mental terbaik untuk membangun jaring pengaman bagi diri mereka sendiri.

1. Mengapa Pelaku Bullying Menghindari Anak yang Asertif?

Pelaku perundungan (bullies) pada dasarnya adalah oportunis. Mereka mencari target yang memberikan reaksi yang mereka inginkan: ketakutan, tangisan, kepasrahan, atau kemarahan yang meledak-ledak tanpa kendali.

Ketika seorang anak merespons gangguan dengan sikap asertif (tegas, tenang, dan terkendali), pelaku perundungan kehilangan kendali kekuasaannya. Anak yang asertif memancarkan sinyal bahwa mereka bukanlah target yang mudah diintimidasi.

2. Langkah Praktis Melatih Ketegasan (Assertiveness) pada Anak

Ketegasan bukan bakat bawaan lahir, melainkan keterampilan yang bisa dilatih di rumah melalui metode berikut:

A. Latih “Bahasa Tubuh yang Tangguh” (Confident Body Language)

Sebelum kata-kata keluar dari mulut, tubuh anak sudah mengirimkan pesan. Latih anak Anda di rumah untuk menerapkan Power Posing:

  1. Kontak Mata: Ajarkan anak untuk menatap langsung mata orang yang mengganggunya. Menunduk adalah sinyal kepasrahan.
  2. Postur Tegak: Berdiri dengan bahu tegap dan kedua kaki kokoh di tanah.
  3. Ekspresi Wajah Netral: Melatih anak untuk tidak menunjukkan wajah menangis atau ketakutan, melainkan wajah yang tenang dan datar.

B. Formula “Katakan dengan Tegas” (The Assertive Script)

Anak-anak sering kali membeku (freeze) saat diganggu karena tidak tahu harus bicara apa. Berikan mereka kalimat template yang pendek, jelas, dan menggunakan nada suara yang lantang (bukan berteriak):

“Hentikan. Aku tidak suka kamu bicara seperti itu.”

“Stop. Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi.”

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ajarkan anak untuk langsung berjalan pergi menuju keramaian atau area yang dekat dengan guru. Jangan bertahan di tempat untuk melayani perdebatan.

C. Ajarkan Perbedaan Asertif vs Agresif vs Pasif

Anak-anak perlu memahami batasan perilaku mereka sendiri agar tidak bias:

  1. Pasif: Membiarkan orang lain menginjak-injak haknya (Menangis, diam saja saat dihina).
  2. Agresif: Menyerang balik dengan kekerasan atau makian (Memukul, balas mengejek).
  3. Asertif: Mempertahankan hak diri sendiri dengan cara yang sopan, tegas, dan menghargai diri sendiri serta orang lain.

3. Strategi Penguat di Lingkungan Sosial

Selain ketahanan individu, orang tua harus membekali anak dengan taktik lingkungan yang cerdas:

StrategiAplikasi Nyata
Buddy System (Sistem Teman)Dorong anak untuk selalu berjalan bersama minimal satu atau dua teman dekat saat berada di area sepi sekolah (toilet, lorong, atau belakang kantin). Pelaku bullying jarang menyerang anak yang berada dalam kelompok.
Menghapus Stigma “Tukang Ngadu”Tanamkan dogma di rumah bahwa melaporkan kekerasan atau intimidasi kepada otoritas (guru/orang tua) bukanlah tindakan pengecut, melainkan hak asasi untuk menjaga keamanan diri.

Kesimpulan

Membesarkan anak yang tangguh tidak berarti menciptakan anak yang ditakuti karena kebrutalannya. Anak yang tangguh adalah anak yang tahu harga dirinya, mampu menetapkan batasan yang jelas bagi orang lain, dan berani bersuara ketika batasan itu dilanggar. Dengan melatih ketegasan sejak dini di rumah, Anda sedang memberikan perisai tak kasat mata yang akan melindungi anak dimanapun mereka berada.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/

Referensi

  1. UNICEF (2024). The Power of Peer Connectedness and Assertiveness in School Bullying Prevention. New York: UNICEF Guidance Series.
  2. World Health Organization (WHO). (2025). School-based Violence Prevention: A Global Framework for Action. Jenewa: WHO Guidelines..
  3. American Psychological Association (APA). (2023). Bullying Prevention for Parents: Empowering Assertive Children. APA PsychNET.
  4. International Journal of Behavioral Development. (2025). Longitudinal Study on Assertiveness Training and Victimization Rates among Young Adolescents, 49(2), 115-128.
Mencegah Cyberbullying: Cara Membentengi Anak dari Sisi Gelap Dunia Digital

Mencegah Cyberbullying: Cara Membentengi Anak dari Sisi Gelap Dunia Digital

Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Kehadiran ruang digital telah mengubah cara anak-anak kita belajar, bermain, dan bersosialisasi. Namun, dibalik kemudahan teknologi, terdapat ancaman laten yang mengintai kesehatan mental mereka: Cyber Bullying (Perundungan Siber).

Berbeda dengan perundungan konvensional yang berhenti saat bel pulang sekolah berbunyi, cyberbullying tidak mengenal batas waktu dan ruang. Ejekan, intimidasi, penyebaran rumor, hingga pengucilan digital dapat masuk langsung ke dalam kamar anak melalui layar gawai mereka, selama 24 jam sehari. Dampak psikologisnya pun masif, mulai dari kecemasan akut, penurunan performa akademik, hingga risiko depresi berat.

Sebagai orang tua dan pendidik, kita tidak bisa sepenuhnya menjauhkan anak dari internet. Langkah terbaik adalah memberikan mereka “baju zirah” digital. Berikut adalah strategi konkret untuk membentengi anak dari sisi gelap dunia digital.

1. Membangun Literasi Digital dan Etika Siber (Netiquette)

Banyak anak terjebak menjadi korban—atau bahkan tanpa sadar menjadi pelaku—karena tidak memahami batasan di dunia maya.

  1. Prinsip Jejak Digital: Ajarkan anak bahwa apapun yang diunggah di internet (foto, komentar, video) akan meninggalkan jejak permanen yang sulit dihapus (digital footprint).
  2. Pikir Sebelum Mengklik (T.H.I.N.K): Latih anak untuk mengevaluasi apa yang akan mereka ketik atau bagikan dengan prinsip: Apakah itu Benar (True), Membantu (Helpful), Menginspirasi (Inspiring), Diperlukan (Necessary), dan Baik (Kind)? Jika tidak, minta mereka untuk urung membagikannya.

2. Membekali Anak dengan Keterampilan Taktis Digital

Anak-anak harus tahu apa yang harus dilakukan secara teknis ketika mereka mulai melihat atau mengalami tanda-tanda intimidasi siber.

  1. Jangan Membalas (Don’t Retaliate): Pelaku cyberbullying sangat mengharapkan reaksi marah atau sedih dari korbannya. Membalas makian hanya akan memperpanjang konflik.
  2. Blokir dan Laporkan (Block & Report): Manfaatkan fitur keamanan di platform media sosial. Ajarkan anak cara memblokir akun yang mengganggu dan melaporkannya (report) ke sistem moderasi platform (seperti Instagram, TikTok, atau WhatsApp).
  3. Simpan Bukti Digital (Screenshots): Ini adalah langkah krusial. Ajarkan anak untuk segera mengambil tangkapan layar (screenshot) dari pesan teks, komentar, atau unggahan yang bersifat merundung sebelum dihapus oleh pelaku, sebagai bukti otentik untuk pelaporan lanjutan.

3. Menerapkan Aturan Penggunaan Gawai di Rumah

Batasan fisik di dunia nyata sangat membantu menjaga kewarasan mental anak di dunia maya.

  1. Zona Bebas Gawai (Screen-Free Zones): Buat kesepakatan bersama bahwa tidak boleh ada gawai di meja makan dan di dalam kamar tidur saat jam tidur malam. Banyak kasus cyberbullying terjadi atau memburuk pada larut malam saat pengawasan orang tua melemah.
  2. Gunakan Aplikasi Pemantauan (Parental Control): Tanpa melanggar privasi anak secara ekstrem, orang tua dapat menggunakan aplikasi pelacak untuk menyaring konten dewasa dan membatasi durasi aktif media sosial anak.

Ringkasan Langkah Mitigasi untuk Orang Tua

1.Edukasi Fitur Keamanan:Tindakan Preventif.

Ajarkan anak cara mengunci akun menjadi privat (private account) dan menyaring komentar yang mengandung kata-kata kasar secara otomatis.

2.Buka Jalur Komunikasi:Kebiasaan Harian.

Sempatkan mengobrol tanpa gawai setiap malam. Tanyakan: “Ada cerita menarik atau yang bikin kamu nggak nyaman nggak di media sosial hari ini?”

3.Respons Cepat & Tenang:Tindakan Tanggap.

Jika anak melapor menjadi korban, tanggapi dengan tenang. Kumpulkan bukti screenshot, lakukan mediasi bersama pihak sekolah, atau bawa ke psikolog jika anak menunjukkan trauma berat.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi/ jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/

Referensi

  1. UNICEF (2024). Cyberbullying: What is it and how to stop it – A Digital Safety Guide.
  2. World Health Organization (WHO). (2023). Global Status Report on Preventing Violence Against Children in the Digital Age.
  3. American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP). (2025). Social Media and Teens: Clinical Update on Cyber-Harassment.
  4. Putri, A., & Santoso, B. (2025). Dampak Perundungan Siber Terhadap Resiliensi Psikologis Remaja. Jurnal Psikologi Perkembangan Indonesia, 12(2), 145-158.