Tren Slow Living: Solusi Ampuh Lawan PCOS dan Menstruasi Berantakan bagi Wanita

Tren Slow Living: Solusi Ampuh Lawan PCOS dan Menstruasi Berantakan bagi Wanita

Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Pernahkah Anda merasa hidup seperti sedang balapan? Bangun pagi terburu-buru, sarapan sambil membalas pesan WhatsApp, bekerja di bawah tekanan deadline, hingga tidur larut malam karena stres. Jika gaya hidup “serba cepat” ini dibiarkan, jangan kaget jika tiba-tiba berat badan naik drastis, jerawat bermunculan, dan siklus haid menjadi sangat berantakan.

Di media sosial, kini muncul tren Slow Living. Bukan berarti kita malas-malasan, tapi ini adalah gerakan sadar untuk memperlambat tempo hidup demi kesehatan mental dan yang paling mengejutkan untuk menyembuhkan gejala PCOS (Polycystic Ovary Syndrome).

PCOS kini menjadi momok bagi wanita modern. Salah satu pemicu utamanya adalah stres kronis. Saat kita hidup terlalu cepat dan penuh tekanan, tubuh terus-menerus memproduksi hormon Kortisol.

Kortisol yang tinggi memicu resistensi insulin, yang kemudian menyebabkan hormon androgen (hormon laki-laki) melonjak. Akibatnya? Sel telur sulit matang, haid tidak teratur, dan timbul gejala seperti bulu halus yang berlebihan atau rambut rontok. Di sinilah Slow Living berperan sebagai “obat alami”.

Menerapkan Slow Living dalam Kesehatan Reproduksi

Bukan sekadar estetika di Instagram, Slow Living dalam kebidanan berarti memberikan ruang bagi tubuh untuk bernapas:

  1. Mindful Eating (Makan dengan Sadar): Berhenti makan sambil bekerja atau menonton drakor. Fokus pada rasa makanan. Ini membantu tubuh mencerna nutrisi lebih baik dan menjaga gula darah tetap stabil kunci utama melawan PCOS.
  2. Low Impact Exercise: Ganti olahraga berat yang memicu stres otot dengan jalan santai, yoga, atau pilates. Olahraga intensitas rendah terbukti lebih ramah bagi hormon perempuan yang sedang tidak seimbang.
  3. Sleep Hygiene: Matikan ponsel 1 jam sebelum tidur. Tidur berkualitas adalah saat di mana tubuh melakukan “servis besar-besaran” pada sistem hormonal Anda.

Dunia kebidanan kini tidak hanya bicara soal persalinan di ruang bersalin. Bidan masa kini adalah Konselor Gaya Hidup Sehat.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, kami mendidik mahasiswa untuk memahami kaitan mendalam antara lingkungan, gaya hidup, dan fisiologi reproduksi. Bidan lulusan UAA dilatih untuk menjadi pendamping wanita dalam setiap fase kehidupannya mulai dari remaja yang berjuang dengan PCOS, hingga ibu hamil yang membutuhkan ketenangan.

Sebagai prodi terakreditasi Unggul dan terbaik di Jogja, kami percaya bahwa bidan yang kompeten adalah mereka yang bisa memadukan ilmu medis mutakhir dengan pendekatan humanis yang relevan dengan tren zaman sekarang.

Kesehatan reproduksi Anda adalah cerminan dari cara Anda memperlakukan diri sendiri. Slow down, breathe, and heal. Jangan biarkan hiruk-pikuk dunia merusak keajaiban sistem hormonal Anda.

Ingin menjadi bagian dari tenaga kesehatan yang memahami pentingnya keseimbangan jiwa dan raga? Mari bergabung bersama kami di Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Tempat di mana sains bertemu dengan empati.

Referensi:

  • Kandola, A. (2025). The Impact of Chronic Stress on Polycystic Ovary Syndrome (PCOS): A Neurological Perspective. Healthline Science.
  • World Health Organization (WHO). Stress and Reproductive Health in Modern Society.
  • Journal of Women’s Health. Lifestyle Intervention and Mindful Living in Managing Hormonal Imbalance.
Tokophobia: Ketakutan yang Membuat Wanita Enggan Hamil

Tokophobia: Ketakutan yang Membuat Wanita Enggan Hamil

Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Tidak semua wanita merasa tenang saat membayangkan kehamilan dan persalinan. Rasa takut memang wajar, namun pada sebagian orang, ketakutan ini bisa menjadi sangat berlebihan hingga mengganggu kehidupan sehari-hari. Kondisi inilah yang dikenal dengan istilah tokophobia, yaitu ketakutan ekstrim terhadap kehamilan dan proses melahirkan.

Tokophobia bisa dialami oleh siapa saja, baik wanita yang belum pernah hamil maupun yang sudah pernah melahirkan. Pada wanita yang belum pernah hamil, ketakutan ini biasanya muncul karena kurangnya informasi atau pengaruh cerita-cerita negatif tentang persalinan. Sementara itu, pada wanita yang sudah pernah melahirkan, tokophobia sering kali disebabkan oleh pengalaman buruk atau trauma saat persalinan sebelumnya.

Orang yang mengalami tokophobia biasanya menunjukkan tanda-tanda seperti rasa cemas berlebihan saat memikirkan kehamilan, ketakutan terhadap rasa sakit saat melahirkan, sulit tidur, hingga menghindari pembicaraan tentang kehamilan. Bahkan, ada yang sampai menolak untuk hamil atau merasa sangat tertekan saat mengetahui dirinya sedang mengandung. Jika tidak ditangani, tokophobia dapat berdampak pada kesehatan mental dan hubungan dengan pasangan. Ketakutan yang terus-menerus bisa memicu stres, kecemasan, bahkan depresi. Selain itu, kondisi ini juga dapat memengaruhi kesiapan seseorang dalam menjalani kehamilan dan menjadi orang tua.

Namun, kabar baiknya, tokophobia dapat diatasi. Salah satu langkah penting adalah mencari informasi yang benar dan terpercaya tentang kehamilan dan persalinan. Dengan pemahaman yang baik, rasa takut biasanya akan berkurang. Selain itu, berbicara dengan tenaga kesehatan seperti bidan atau dokter juga sangat membantu, karena mereka dapat memberikan penjelasan dan dukungan yang dibutuhkan. Dukungan dari pasangan dan keluarga juga memegang peranan penting. Lingkungan yang penuh pengertian dapat membuat seseorang merasa lebih tenang dan tidak sendirian dalam menghadapi ketakutannya. Jika rasa takut terasa sangat berat, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan psikolog agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Pada akhirnya, penting untuk diingat bahwa setiap kehamilan dan persalinan adalah pengalaman yang berbeda. Dengan dukungan, informasi yang tepat, dan persiapan yang baik, rasa takut dapat dikelola sehingga calon ibu dapat menjalani masa kehamilan dengan lebih nyaman dan percaya diri.

Di Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu Prodi Kebidanan Terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul mempelajari tentang pentingnya kehamilan guna meneruskan generasi bangsa.

Referensi:

  1. World Health Organization (WHO). Maternal mental health guidelines.
  2. American College of Obstetricians and Gynecologists. Informasi kesehatan mental pada kehamilan.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman pelayanan kesehatan ibu hamil.
Serah Terima Jabatan, Penyampaian LPJ, dan Proker HIMABI Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata Tahun 2026

Serah Terima Jabatan, Penyampaian LPJ, dan Proker HIMABI Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata Tahun 2026

Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata menyelenggarakan kegiatan Serah Terima Jabatan, Penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ), serta Pemaparan Program Kerja (Proker) Himpunan Mahasiswa Kebidanan (HIMABI) pada Selasa, 14 April 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memastikan keberlanjutan organisasi mahasiswa yang profesional, transparan, dan berintegritas.

Acara ini dihadiri oleh jajaran dosen, pengurus HIMABI periode sebelumnya (2024/2025), serta pengurus baru (2025/2206) yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan. Dalam kegiatan ini, pengurus lama menyampaikan laporan pertanggungjawaban sebagai bentuk akuntabilitas atas program kerja yang telah dilaksanakan, sekaligus menjadi bahan refleksi dan evaluasi bersama. Prosesi serah terima jabatan berlangsung dengan khidmat, menandai dimulainya kepengurusan baru HIMABI yang diharapkan mampu membawa inovasi, semangat kolaborasi, serta kontribusi nyata bagi mahasiswa dan lingkungan akademik. Selain itu, pemaparan program kerja ke depan menjadi langkah strategis dalam merancang kegiatan yang lebih berdampak dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa kebidanan.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata berharap dapat terus mendorong terciptanya organisasi mahasiswa yang aktif, inovatif, dan berdaya saing, serta mampu mencetak calon bidan profesional yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial yang tinggi.

Fase Penting di Balik Rewel dan Lapar pada Bayi Baru Lahir ((Growth Spurt))

Fase Penting di Balik Rewel dan Lapar pada Bayi Baru Lahir ((Growth Spurt))

Penulis: Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Masa neonatal (0–28 hari) merupakan periode kritis dalam kehidupan bayi, ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat. Salah satu fenomena fisiologis yang sering terjadi adalah growth spurt, yaitu periode percepatan pertumbuhan dalam waktu singkat yang disertai peningkatan kebutuhan nutrisi dan perubahan perilaku bayi. Organisasi kesehatan dunia seperti World Health Organization menegaskan bahwa dua tahun pertama kehidupan, terutama 6 bulan pertama, merupakan periode penting untuk pertumbuhan optimal, sehingga kecukupan nutrisi sangat krusial pada fase ini.

Growth spurt adalah periode percepatan pertumbuhan fisik bayi yang terjadi secara cepat dalam waktu singkat, meliputi peningkatan berat badan, panjang badan, dan perkembangan neurologis. Fenomena ini sering disertai dengan perubahan perilaku seperti peningkatan frekuensi menyusu (cluster feeding), yang merupakan respons fisiologis terhadap peningkatan kebutuhan energi bayi.

Growth spurt pada bayi baru lahir umumnya terjadi pada usia 7-10 hari, 2-3 minggu, dan 4-6 minggu. Literatur menunjukkan bahwa periode ini dapat bervariasi antar bayi, namun umumnya berlangsung beberapa hari dan berulang pada bulan-bulan awal kehidupan. Growth spurt dipengaruhi oleh beberapa mekanisme biologis, antara lain:

1. Peningkatan kebutuhan energi dan nutrisi

Pertumbuhan jaringan tubuh membutuhkan asupan nutrisi yang lebih tinggi.

2. Peran hormon pertumbuhan

Hormon pertumbuhan meningkat, terutama saat bayi tidur.

3. Perkembangan otak dan sistem saraf

ASI mengandung faktor bioaktif seperti hormon dan faktor pertumbuhan yang mendukung maturasi sistem saraf.

4. Mekanisme supply-demand ASI

Peningkatan frekuensi menyusu merangsang produksi ASI sesuai kebutuhan bayi

Beberapa tanda yang umum ditemukan pada bayi yang mengalami growth spurt antara lain:

1. Menyusu lebih sering (cluster feeding)

Bayi dapat menyusu lebih sering dari biasanya, bahkan setiap 30–60 menit.

2. Perubahan pola tidur

Bayi bisa tidur lebih lama atau lebih sering terbangun.

3. Rewel atau iritabilitas meningkat

Bayi membutuhkan lebih banyak kenyamanan.

4. Peningkatan pertumbuhan fisik

Terjadi kenaikan berat badan dan ukuran tubuh dalam waktu singkat.

Rekomendasi World Health Organization dalam mensukseskan kesehatan anak penting untuk dilakukan inisiasi menyusu dini dalam 1 jam pertama kelahiran, ASI eksklusif selama 6 bulan, dan menyusui sesuai kebutuhan (on demand). Praktik menyusui sesuai permintaan sangat penting selama growth spurt karena membantu memenuhi kebutuhan nutrisi bayi dan mendukung pertumbuhan optimal. Sementara American Academy of Pediatrics juga menegaskan bahwa ASI eksklusif dianjurkan selama ±6 bulan, menyusui dilanjutkan hingga ≥2 tahun, dan bayi perlu diberi ASI sesuai kebutuhan tanpa pembatasan jadwal. Selain itu, ASI mengandung komponen imunologis dan faktor pertumbuhan yang penting dalam mendukung perkembangan bayi selama fase growth spurt.

Pada masa growth spurt, ibu sering mengalami kekhawatiran terkait kecukupan ASI. Namun, peningkatan frekuensi menyusu merupakan mekanisme alami untuk meningkatkan produksi ASI (supply-demand mechanism). Edukasi yang tepat sangat penting untuk mencegah kesalahan persepsi seperti “ASI tidak cukup”, yang dapat berujung pada penghentian menyusui dini. Peran Tenaga Kesehatan yaitu memberikan pemahaman bahwa kondisi ini normal, mendukung pemberian ASI on demand atau tidak membatasi frekuensi menyusu, monitoring pertumbuhan bayi, mengurangi kecemasan dan kelelahan selama fase ini.

Growth spurt pada newborn adalah fenomena fisiologis yang penting dalam proses tumbuh kembang bayi. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan kebutuhan nutrisi, perubahan perilaku, dan percepatan pertumbuhan. Meskipun growth spurt merupakan kondisi fisiologis, evaluasi medis diperlukan jika:

·   Bayi tidak mengalami kenaikan berat badan

·   Frekuensi BAK menurun

·   Bayi tampak lemas atau tidak aktif

·   Bayi menolak menyusu

Pemahaman yang baik mengenai growth spurt akan membantu orang tua dan tenaga kesehatan dalam memberikan perawatan optimal serta mencegah kesalahpahaman terkait kecukupan nutrisi bayi.

Di Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu Prodi Kebidanan Terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul mempelajari tentang keunikan bayi baru lahir dan asuhannya, sehingga Calon Bidan Siap menjadi Calon Ibu yang baik dan Mantu Idaman.

Referensi

1. World Health Organization. (2023). Infant and young child feeding.

2. American Academy of Pediatrics. (2024). Breastfeeding and the use of human milk.

3. USDA WIC. (2024). Cluster feeding and growth spurts.

4. WebMD. (2024). Cluster feeding in newborns.

5. Pampers Medical Review Board. (2026). Cluster feeding: Signs and management.

Waras di Tengah Deadline: Upaya Mahasiswa Menjaga Kesehatan Mental, Hak atas Tubuh, dan Gaya Hidup Sehat

Waras di Tengah Deadline: Upaya Mahasiswa Menjaga Kesehatan Mental, Hak atas Tubuh, dan Gaya Hidup Sehat

written by Indah Wijayanti, S.ST., M.Keb., Bdn

Kehidupan mahasiswa sering kali diidentikkan dengan pencapaian akademik, seperti nilai dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Namun, di balik tuntutan tugas, aktivitas organisasi, serta dinamika sosial yang kompleks, terdapat aspek penting yang sering kali terabaikan, yaitu kesehatan diri secara menyeluruh. Banyak mahasiswa menjalani kehidupan sehari-hari dalam kondisi “bertahan” (survive), bukan dalam keadaan sehat secara fisik maupun mental. Padahal, kesehatan merupakan fondasi utama dalam menunjang keberhasilan akademik dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Kesehatan mental menjadi salah satu aspek yang paling rentan terganggu pada mahasiswa. Tekanan akademik, tuntutan untuk berprestasi, serta kecemasan terhadap masa depan sering kali memicu stres, overthinking, hingga gangguan kecemasan. Bahkan, perasaan tidak cukup baik ketika membandingkan diri dengan orang lain menjadi fenomena yang umum terjadi. Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental merupakan bagian integral dari kesehatan dan kesejahteraan individu, bukan sekadar kondisi bebas dari gangguan mental. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental perlu menjadi prioritas utama dalam kehidupan mahasiswa. Upaya sederhana seperti memberikan waktu istirahat yang cukup, membatasi pola produktivitas berlebihan (toxic productivity), serta mencari dukungan sosial melalui teman atau konselor dapat membantu menjaga keseimbangan psikologis.

Selain kesehatan mental, kesadaran terhadap hak atas tubuh juga menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan. Hak atas tubuh mengacu pada kemampuan individu untuk mengontrol dan menentukan apa yang terbaik bagi tubuhnya sendiri. Namun, dalam praktiknya, masih banyak mahasiswa yang mengabaikan sinyal tubuh, seperti tetap beraktivitas meskipun dalam kondisi sakit, kurang istirahat, atau mengikuti pola hidup yang tidak sehat karena tekanan lingkungan. United Nations Population Fund (UNFPA) menekankan bahwa hak atas tubuh merupakan bagian penting dari kesehatan dan kesejahteraan individu. Kesadaran ini memungkinkan mahasiswa untuk lebih berani mengambil keputusan yang berpihak pada kesehatan dirinya, seperti beristirahat saat lelah, menolak aktivitas yang berlebihan, serta mencari pertolongan medis ketika diperlukan.

Gaya hidup sehat juga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menjaga kesehatan mahasiswa. Pola hidup mahasiswa yang identik dengan konsumsi makanan instan, kurangnya aktivitas fisik, serta kebiasaan begadang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan dalam jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup yang tidak sehat berkontribusi terhadap meningkatnya risiko gangguan mental pada mahasiswa, termasuk stres dan depresi. Oleh karena itu, penerapan gaya hidup sehat perlu dilakukan secara bertahap dan konsisten. Perubahan sederhana seperti meningkatkan konsumsi air putih, melakukan aktivitas fisik ringan, serta menjaga durasi tidur yang cukup dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kesehatan fisik dan mental.

Ketiga aspek tersebut, yaitu kesehatan mental, hak atas tubuh, dan gaya hidup sehat, saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Literasi kesehatan mental yang baik akan meningkatkan kesadaran individu terhadap pentingnya menjaga tubuh dan menerapkan pola hidup sehat. Selain itu, kemampuan untuk mengontrol diri dan menentukan prioritas juga menjadi kunci dalam mencapai keseimbangan hidup. UN Women menyatakan bahwa kesejahteraan individu tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh kemampuan untuk mengontrol kehidupan dan kesehatannya secara mandiri.

Meskipun demikian, penting untuk dipahami bahwa mencapai keseimbangan hidup bukanlah hal yang instan. Mahasiswa sering kali dihadapkan pada berbagai tuntutan yang membuat mereka sulit untuk membagi waktu antara akademik, organisasi, dan kehidupan pribadi. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan dalam mengelola waktu, menentukan prioritas, serta mengenali batas diri. Tanpa adanya keseimbangan, kondisi burnout dapat terjadi dan justru menurunkan produktivitas serta kualitas hidup mahasiswa.

Secara keseluruhan, menjaga kesehatan mental, memahami hak atas tubuh, serta menerapkan gaya hidup sehat merupakan langkah penting dalam meningkatkan kesejahteraan mahasiswa. Ketiga aspek ini tidak hanya berperan dalam mendukung keberhasilan akademik, tetapi juga dalam membentuk kualitas hidup yang lebih baik di masa depan. Mahasiswa perlu menyadari bahwa istirahat bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bagian dari strategi untuk menjaga keberlanjutan fungsi diri. Dengan demikian, upaya merawat diri secara holistik menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika kehidupan akademik yang semakin kompleks.


Referensi

Ferdian, D., et al. (2023). Gambaran kesehatan mental mahasiswa. Jurnal Universitas Pahlawan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa tekanan akademik dan pola hidup tidak sehat berkontribusi terhadap gangguan kesehatan mental mahasiswa.

Fonna, Z., et al. (2024). Literasi kesehatan mental mahasiswa. Jurnal Kesehatan.
Studi ini menekankan pentingnya literasi kesehatan mental dalam meningkatkan kesadaran dan perilaku sehat pada mahasiswa.

Irawan, M. F., et al. (2024). Tantangan kesehatan mental mahasiswa dan solusi kolaboratif. Jurnal Cerdik.
Artikel ini menjelaskan bahwa intervensi berbasis kampus dapat menurunkan tingkat stres mahasiswa.

Sari, S. I., et al. (2025). Faktor individu yang berhubungan dengan status kesehatan mental mahasiswa. Jurnal Keperawatan Profesional.
Penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan emosional dan kepribadian memengaruhi kesehatan mental mahasiswa.

Setiawan, I. M., & Sa’idah, G. (2024). Tinjauan literatur kesehatan mental mahasiswa. Jurnal YARSI.
Mahasiswa merupakan kelompok rentan terhadap stres akibat tuntutan akademik dan fase transisi kehidupan.

United Nations Population Fund. (2023). State of World Population Report.
Laporan ini menegaskan pentingnya hak atas tubuh sebagai bagian dari kesehatan dan kesejahteraan individu.

UN Women. (2023). Women’s Health and Well-being Report.
Menjelaskan bahwa kesejahteraan ditentukan oleh kemampuan individu dalam mengontrol kehidupan dan kesehatannya.

World Health Organization. (2022). Mental health and well-being.
WHO menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan bagian integral dari kesehatan secara keseluruhan.

Yuaridha, R., et al. (2023). Faktor depresi pada mahasiswa. Jurnal STIKKU.
Penelitian ini menunjukkan bahwa gaya hidup dan lingkungan berpengaruh terhadap risiko depresi pada mahasiswa.