Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Bullying atau perundungan adalah momok menakutkan yang dapat merenggut keceriaan masa kecil seorang anak. Dampak dari tindakan ini tidak hanya menyisakan luka fisik, melainkan trauma psikologis mendalam yang berpotensi terbawa hingga mereka dewasa mulai dari gangguan kecemasan (anxiety), depresi, hingga penurunan drastis pada performa akademis.
Banyak orang tua merasa cemas dan berpikir bahwa satu-satunya cara melindungi anak adalah dengan selalu mengawasi mereka 24 jam atau melatih mereka bela diri fisik agar bisa membalas pukulan. Padahal, perlindungan terbaik dan paling realistis yang bisa diberikan orang tua adalah membekali anak dengan “perisai mental” langsung dari dalam rumah.
Perisai mental ini dibentuk melalui pola asuh yang membangun resiliensi, rasa percaya diri, dan ketegasan (assertiveness) sehingga anak tidak menjadi target empuk para pelaku perundungan (bullies). Berikut adalah langkah-langkah konkret yang dapat Anda lakukan di rumah.
1. Menanamkan Sikap Tegas (Assertiveness) Melalui Bahasa Tubuh
Pelaku perundungan umumnya adalah seorang oportunis. Mereka mencari korban yang terlihat rapuh, tidak percaya diri, mudah diintimidasi, dan cenderung pasrah. Oleh karena itu, melatih anak cara membawa diri adalah langkah preventif pertama.
Di rumah, ajarkan dan simulasikan tiga aspek bahasa tubuh yang tangguh bersama anak:
Kontak Mata (Eye Contact): Latih anak untuk menatap mata lawan bicaranya dengan berani, bukan menunduk atau melihat ke arah lain saat diintimidasi.
Postur Tubuh yang Tegap: Ajarkan anak untuk berjalan dengan bahu terbuka dan kepala terangkat. Postur tubuh yang tegak memancarkan aura kepercayaan diri.
Suara yang Tenang namun Tegas: Latih anak untuk berani berkata, “Hentikan, aku tidak suka kamu memperlakukanku seperti itu,” dengan nada suara yang lantang, datar, dan tidak emosional (tidak merengek atau berteriak histeris). Pelaku perundungan akan kehilangan minat jika korbannya tidak menunjukkan reaksi ketakutan yang mereka harapkan.
2. Membangun Komunikasi yang Aman (Safe Space) di Rumah
Banyak kasus perundungan berjalan berbulan-bulan tanpa ketahuan karena anak takut atau malu untuk bercerita kepada orang tuanya. Tugas Anda adalah memastikan rumah menjadi tempat paling aman untuk menumpahkan segala keluh kesah.
Dengarkan Tanpa Menghakimi: Saat anak bercerita tentang harinya yang buruk, dengarkan terlebih dahulu dengan penuh empati. Hindari kalimat yang menyudutkan seperti, “Kamu sih, kok diam aja digituin?”
Validasi Perasaan Anak: Katakan pada mereka bahwa wajar untuk merasa sedih atau marah. Kalimat sederhana seperti, “Ibu paham itu rasanya pasti nggak nyaman banget. Terima kasih ya sudah berani cerita ke Ibu,” akan membuat anak merasa didukung sepenuhnya. Anak yang tahu mereka didukung di rumah tidak akan memendam masalah perundungan sendirian.
3. Menumbuhkan Harga Diri (Self-Esteem) Anak Melalui Aktivitas Luar Rumah
Anak yang memiliki harga diri yang kuat tidak akan mudah goyah oleh ejekan atau hinaan dari pelaku perundungan. Anda bisa membantu membentuk harga diri ini dengan menyalurkan minat dan bakat mereka di luar lingkungan sekolah formal.
Ikuti Komunitas Positif: Daftarkan anak pada klub olahraga, sanggar seni, kelas robotik, atau pencak silat/bela diri yang sesuai minat mereka.
Manfaat Sosial: Lingkungan baru ini memberikan anak kesempatan untuk membangun lingkaran pertemanan yang sehat. Ketika anak menyadari bahwa mereka dihargai, terampil, dan memiliki teman-teman yang suportif di tempat lain, mental mereka akan tetap kokoh meskipun ada satu atau dua anak nakal yang mencoba menjatuhkan mereka di sekolah.
4. Mengenalkan Konsep “Buddy System” (Sistem Pertemanan)
Pelaku bullying hampir selalu mengincar anak yang sedang sendirian atau terisolasi. Dorong anak Anda untuk selalu bersosialisasi dan memiliki setidaknya satu atau dua teman dekat di kelasnya. Ajarkan mereka prinsip saling menjaga: pergi ke kantin bersama, ke toilet bersama, atau menunggu jemputan bersama. Kehadiran seorang teman di samping anak secara drastis menurunkan niat pelaku untuk melakukan intimidasi.
Kesimpulan
Menghapus bayang-bayang perundungan tidak dimulai dengan mengubah perilaku anak-anak lain di luar sana, melainkan dengan memperkuat mental anak kita sendiri dari dalam rumah. Dengan memberikan cinta yang tanpa syarat, melatih komunikasi yang tegas, dan membangun harga diri yang tinggi, kita sedang menempa sebuah perisai mental yang kokoh. Perisai itulah yang akan melindungi anak, membuat mereka mampu berdiri tegak, dan melangkah dengan aman di dunia luar.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan bidan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO). (2020). School-based interventions to prevent bullying and promote peer connectedness: A global guidance report. Jenewa: WHO.
UNICEF Indonesia. (2023). Panduan Pengasuhan Positif: Mencegah Kekerasan dan Perundungan pada Anak Sejak dari Rumah. Jakarta: UNICEF.
American Psychological Association (APA). (2022). Bullying Prevention: Empowering Children with Assertiveness and Emotional Literacy.Journal of Family Psychology, Vol. 36(4), 512-520.
International Journal of Behavioral Development. Sari, R., & Henderson, K. (2024). The Role of Parental Support and Extracurricular Engagement in Buffering the Effects of Peer Victimization among Adolescents.International Journal of Behavioral Development, 48(2), 143–151.
Setiap tanggal 1–7 Agustus, dunia memperingati Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya Air Susu Ibu (ASI). Namun, hingga saat ini masih banyak anggapan bahwa menyusui hanya sebatas memberikan makanan kepada bayi agar tumbuh sehat. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa manfaat ASI jauh melampaui pemenuhan kebutuhan gizi. Menyusui merupakan investasi jangka panjang yang berperan penting dalam membentuk kesehatan, kecerdasan, serta kualitas hidup anak hingga dewasa.
Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Program Sarjana Kebidanan dan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata, Prasetya Lestari, S.ST., M.Kes., yang mengajak masyarakat memaknai kembali pentingnya menyusui sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang sehat dan berkualitas. Menurutnya, keberhasilan menyusui bukan hanya menjadi tanggung jawab seorang ibu, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga, lingkungan kerja, tenaga kesehatan, hingga pemerintah.
“Menyusui bukan sekadar proses memberikan nutrisi kepada bayi. Di balik setiap tetes ASI terdapat perlindungan imunologis, dukungan bagi perkembangan otak, serta ikatan emosional yang menjadi fondasi tumbuh kembang anak. Karena itu, keberhasilan menyusui merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya perjuangan seorang ibu,” jelas Prasetya.
Tema Pekan Menyusui Sedunia tahun ini kembali mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan pemberian ASI, dimulai dari ASI Eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, kemudian dilanjutkan dengan ASI hingga usia dua tahun atau lebih, disertai pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang sesuai kebutuhan. Pendekatan tersebut telah direkomendasikan oleh berbagai organisasi kesehatan dunia karena terbukti memberikan manfaat besar bagi kesehatan ibu maupun anak.
Menurut Prasetya, enam bulan pertama kehidupan merupakan periode emas yang sangat menentukan kualitas kesehatan anak di masa mendatang. Pada masa ini, ASI mampu memenuhi seluruh kebutuhan cairan dan zat gizi bayi tanpa memerlukan tambahan air putih, susu formula, maupun makanan lainnya.
“ASI merupakan satu-satunya makanan yang dirancang secara alami sesuai kebutuhan bayi. Komposisinya terus menyesuaikan dengan usia dan kondisi bayi sehingga tidak ada produk lain yang mampu menggantikan fungsinya secara sempurna,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prasetya menjelaskan bahwa keistimewaan ASI tidak hanya terletak pada kandungan gizinya, tetapi juga pada berbagai komponen bioaktif yang berperan dalam membentuk sistem kekebalan tubuh bayi. ASI mengandung Human Milk Oligosaccharides (HMOs), imunoglobulin terutama IgA, laktoferin, serta berbagai sel imun hidup yang membantu mematangkan saluran pencernaan bayi sekaligus melindunginya dari infeksi bakteri maupun virus. Oleh karena itu, bayi yang memperoleh ASI eksklusif memiliki risiko lebih rendah mengalami berbagai penyakit infeksi dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan ASI secara optimal.
Selain memperkuat sistem imun, ASI juga memiliki peran penting dalam mencegah gangguan pertumbuhan, termasuk stunting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD) yang dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif berkontribusi terhadap penurunan risiko kegagalan pertumbuhan pada anak. Dengan demikian, upaya pencegahan stunting sesungguhnya telah dimulai sejak hari-hari pertama kehidupan melalui keberhasilan proses menyusui.
Tidak hanya itu, manfaat ASI juga sangat erat kaitannya dengan perkembangan otak. Kandungan Docosahexaenoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) yang terdapat dalam ASI berperan sebagai komponen penting dalam pembentukan jaringan saraf dan koneksi antarsel otak. Proses tersebut menjadi dasar berkembangnya kemampuan belajar, daya ingat, serta fungsi kognitif anak pada masa selanjutnya.
“Ketika ibu memberikan ASI eksklusif, sesungguhnya ibu sedang memberikan investasi terbaik bagi masa depan anak. Bukan hanya memenuhi kebutuhan nutrisi hari ini, tetapi juga mendukung perkembangan otak, sistem imun, dan kualitas kesehatan anak hingga bertahun-tahun ke depan,” tambah Prasetya.
Berdasarkan berbagai bukti ilmiah tersebut, Prasetya mengajak masyarakat untuk melihat menyusui sebagai investasi kesehatan sepanjang hayat. Dukungan kepada ibu menyusui sejak masa kehamilan, proses persalinan, hingga enam bulan pertama kehidupan bayi menjadi salah satu langkah penting dalam mewujudkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.
Referensi & Sumber Pustaka
American Academy of Pediatrics (AAP). (2022). Policy Statement: Breastfeeding and the Use of Human Milk. Pediatrics, 150(1), e2022057988. https://doi.org/10.1542/peds.2022-057988
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar dan Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
Meek, J. Y., Noble, L., & Section on Breastfeeding. (2022). Technical Report: Breastfeeding and the Use of Human Milk. Pediatrics, 150(1), e2022057989.
Pérez-Escamilla, R., Tomori, C., Hernández-Cordero, S., et al. (2023). Breastfeeding 1: Breastfeeding: crucially important, but still inadequately supported. The Lancet, 401(10375), 472-485. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)01932-8
Rollins, N., Piwoz, E., Baker, P., et al. (2023). Breastfeeding 2: Marketing of commercial milk formula: a system to capture parents, communities, science, and policy. The Lancet, 401(10375), 486-502. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)01933-X
UNICEF & World Health Organization. (2023). Global Breastfeeding Scorecard 2023: Protecting Breastfeeding through National Action. Geneva: World Health Organization and UNICEF.
Victora, C. G., Bahl, R., Barros, A. J., et al. (2021). Breastfeeding in the 21st century: epidemiology, mechanisms, and lifelong effect. The Lancet, 387(10017), 475-490.
Walters, D. D., Phan, L. T. H., & Mathisen, R. (2023). The cost of not breastfeeding: Global results from the Cost of Not Breastfeeding Tool. Health Policy and Planning, 38(4), 450-462. https://doi.org/10.1093/heapol/czad012
Sleman, 17 Juli 2026 – Program Sarjana Kebidanan dan Profesi Bidan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata kembali menyelenggarakan kegiatan Sister School di SMAN 1 Ngemplak sebagai bagian dari komitmen dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja melalui program dosen mengajar yang dilaksanakan secara berkelanjutan. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah untuk memberikan edukasi kesehatan yang relevan dengan kebutuhan peserta didik, sehingga mereka memiliki bekal dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan remaja.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 17 Juli 2026 tersebut diikuti oleh siswa-siswi kelas XII SMAN 1 Ngemplak dengan mengangkat tema “Aku Suka Dia, Lalu Harus Bagaimana? Cara Sehat Mengungkapkan Cinta dan Ketertarikan.” Tema ini dipilih karena menjelang akhir masa remaja, peserta didik mulai dihadapkan pada dinamika hubungan sosial yang semakin kompleks. Ketertarikan terhadap lawan jenis maupun orang yang disukai merupakan bagian dari proses perkembangan yang normal. Namun, tanpa pemahaman yang tepat, remaja berpotensi terpengaruh oleh informasi yang kurang sesuai, terutama melalui media sosial dan lingkungan pergaulan. Oleh karena itu, edukasi mengenai hubungan yang sehat menjadi bekal penting agar remaja mampu membangun relasi yang positif, saling menghargai, dan bertanggung jawab.
Dalam kegiatan ini, dosen Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata, Fatimatasari, M.Keb., Bdn. dan Indah Wijayanti, S.ST., M.Keb., Bdn., mengajak peserta memahami bahwa rasa suka merupakan bagian yang wajar dari perkembangan emosional remaja. Namun, perasaan tersebut perlu disampaikan dengan cara yang sehat, menghargai diri sendiri maupun orang lain, serta tidak melanggar batasan pribadi. Materi yang diberikan mengulas berbagai topik penting, seperti perbedaan antara rasa kagum, suka, dan cinta, pentingnya komunikasi yang asertif, memahami konsep personal boundaries dan consent, serta mengenali ciri-ciri hubungan yang sehat maupun hubungan yang berisiko.
Agar suasana pembelajaran lebih menarik, penyampaian materi dikemas secara interaktif melalui diskusi, studi kasus, dan sesi tanya jawab. Peserta diajak menganalisis berbagai situasi yang sering terjadi dalam kehidupan remaja, seperti cara mengungkapkan perasaan dengan sopan, menyikapi penolakan secara dewasa, menghadapi tekanan dari teman sebaya (peer pressure), serta menjaga etika dan jejak digital ketika berkomunikasi melalui media sosial. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir kritis sekaligus merefleksikan pengalaman yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mengetahui efektivitas pembelajaran, kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test guna mengukur tingkat pengetahuan awal siswa mengenai hubungan sehat pada masa remaja. Setelah seluruh rangkaian edukasi selesai, peserta kembali mengikuti post-test sebagai evaluasi terhadap peningkatan pemahaman setelah menerima materi. Hasil evaluasi menunjukkan antusiasme peserta yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Hal tersebut terlihat dari keaktifan siswa dalam mengikuti diskusi, menyampaikan pendapat, serta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai dinamika hubungan pertemanan, ketertarikan, dan cara membangun komunikasi yang sehat.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata berharap siswa memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya membangun hubungan yang sehat berdasarkan rasa saling menghormati, komunikasi yang terbuka, dan tanggung jawab. Selain meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi remaja, edukasi ini juga diharapkan mampu membentuk keterampilan hidup (life skills) yang mendukung kemampuan mengambil keputusan secara bijaksana, mengelola emosi, serta menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosial.
Kegiatan Sister School merupakan salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kemitraan yang berkelanjutan dengan sekolah, Universitas Alma Ata berupaya menghadirkan edukasi kesehatan yang kontekstual, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan remaja. Sinergi ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung tumbuh kembang peserta didik menjadi generasi yang sehat, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan secara positif.
Ke depan, Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata akan terus mengembangkan berbagai kegiatan edukatif melalui Program Sister School dengan tema-tema yang relevan bagi remaja. Melalui kolaborasi yang berkesinambungan antara perguruan tinggi dan sekolah, diharapkan kegiatan ini dapat memberikan dampak nyata dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja sekaligus membentuk generasi muda yang lebih sehat, tangguh, dan bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan di masa depan.
Referensi
McCormick, E. M., Qu, Y., & Telzer, E. H. (2024). Experience-dependent neurodevelopment of self-regulation in adolescence. Developmental Cognitive Neuroscience, 65, 101338.
Willems, Y. E., Li, J. B., Bartels, M., & Finkenauer, C. (2024). Individual differences in adolescent self-control: The role of gene-environment interplay. Current Opinion in Psychology, 60, 101897.
Thulin, E. J., Kernsmith, P., Fleming, P. J., Heinze, J. E., Temple, J., & Smith-Darden, J. (2023). Coercive-sexting: Predicting adolescent initial exposure to electronic coercive sexual dating violence. Computers in Human Behavior, 141, 107641.
World Health Organization. (2024). Adolescent Health. Geneva: WHO.
United Nations Children’s Fund. (2024). Adolescent Development and Participation. New York: UNICEF.
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Kehidupan remaja zaman now (Gen Z dan Gen Alpha) sering kali dicap serba mudah karena kemajuan teknologi. Namun, di balik layar gawai yang berkilau, ada tekanan mental yang luar biasa besar. Paparan media sosial yang konstan, tuntutan akademik yang kompetitif, hingga krisis eksistensial global membuat kesehatan mental mereka menjadi rentan.
Sering kali, orang tua atau lingkungan terdekat menyamakan perubahan perilaku remaja sebagai mood swing pubertas atau sifat “manja” belaka. Padahal, ada batas tipis antara fase emosional remaja normal dan sinyal bahaya (red flag) gangguan mental klinis.
Bagaimana cara kita melakukan checking in (pemeriksaan berkala) dan menyadari sinyal red flag ini sebelum terlambat?
1. Sinyal “Red Flag” yang Sering Tersamarkan
Berdasarkan klasifikasi klinis, gangguan mental pada remaja jarang muncul seperti pada orang dewasa. Remaja jarang mengatakan “Aku sedang depresi.” Alih-alih, mereka mengekspresikannya melalui perubahan perilaku harian yang drastis.
Berikut adalah beberapa sinyal red flag utama yang wajib diwaspadai:
Iritabilitas dan Kemarahan yang Meledak-ledak: Berbeda dengan orang dewasa yang cenderung menarik diri dan menangis, depresi pada remaja lebih sering bermanifestasi sebagai rasa frustasi yang ekstrem, sifat mudah tersinggung, dan kemarahan pada hal-hal sepele.
Perubahan Pola Tidur dan Kelelahan Kronis: Tidur terlalu larut karena doom scrolling (terus-menerus membaca berita/konten negatif) atau justru tidur berlebihan sepanjang hari (hypersomnia) sebagai bentuk mekanisme pelarian diri.
Penurunan Performa Akademik Secara Mendadak: Kehilangan fokus, sering melamun, atau nilai yang merosot drastis akibat energi otak yang habis digunakan untuk menahan kecemasan.
Isolasi Sosial yang Ekstrem: Menolak berinteraksi dengan teman sebaya secara total dan mengunci diri di kamar selama berhari-hari.
Keluhan Fisik Misterius (Somatik): Sering mengeluh sakit kepala kronis atau sakit perut sebelum pergi ke sekolah, tanpa adanya kelainan medis fisik.
2. Cara Melakukan Checking In yang Benar
Melakukan checking in bukan berarti menginterogasi atau menginvasi privasi remaja secara agresif. Berikut pendekatan psikologis yang disarankan:
A. Ubah Gaya Komunikasi (Tanya, Jangan Ceramahi)
Ganti kalimat interogasi seperti: “Kenapa kamu mengurung diri terus? Kurang bersyukur kamu ya!” dengan pertanyaan terbuka yang penuh empati:
“Ibu perhatikan belakangan ini kamu kelihatan lelah dan kurang tidur. Ibu di sini bukan untuk marah atau menghakimi, Ibu cuma peduli. Ada hal yang lagi membebani pikiranmu?”
B. Validasi, Jangan Remehkan
Bagi orang dewasa, masalah remaja mungkin terdengar sepele (seperti patah hati, dikucilkan teman online, atau cemas karena jerawat). Namun, secara neurobiologis, otak remaja merespons penolakan sosial sama menyakitkannya dengan rasa sakit fisik. Validasi perasaan mereka dengan mengatakan: “Ibu paham, situasi itu pasti rasanya berat banget buat kamu.”
C. Amati Durasi Gejala
Jika perubahan perilaku di atas berlangsung lebih dari 2 minggu berturut-turut dan mulai mengganggu fungsi mereka sebagai pelajar atau anggota keluarga, itu adalah tanda mutlak bahwa anak memerlukan bantuan profesional (psikolog atau psikiater).
Kesimpulan
Kesehatan mental sama berharganya dengan kesehatan fisik. Menyadari sinyal red flag sejak dini bukan berarti kita menganggap remaja kita lemah, melainkan bentuk kasih sayang untuk mempersiapkan mereka menjadi individu yang tangguh di masa depan. Checking in secara rutin bisa menyelamatkan masa depan mereka.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO). (2024). Mental Health of Adolescents: Fact Sheets and Global Estimates. Jenewa: WHO.
UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). Washington, DC: APA.
The Lancet Psychiatry Journal. Social Media Use, Sleep Disturbance, and Mobile Phone Addiction Affecting Mental Health of Adolescents: A Longitudinal Study.
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Di era digital, gadget telah menjelma menjadi perpanjangan tangan bagi kehidupan remaja. Di balik layar gawai yang berkilau, terdapat dunia paralel tempat mereka bersosialisasi, belajar, dan mencari identitas diri. Namun, dunia digital ini menyimpan sisi gelap yang senyap namun mematikan: cyber-stress (stres siber).
Berbeda dengan stres di dunia nyata yang gejalanya mudah terlihat, krisis mental akibat cyber-stress seringkali berujung pada depresi laten sebuah kondisi depresi yang tersembunyi di balik senyuman, tawa, atau aktivitas media sosial yang tampak “normal.”
1. Memahami Cyber-Stress dan Depresi Laten
Cyber-stress adalah tekanan psikologis kronis yang dialami seseorang akibat interaksi digital yang tidak sehat. Bentuknya bisa berupa cyberbullying, paparan konten toksik, fenomena FOMO (Fear of Missing Out), hingga jebakan doom scrolling (kebiasaan membaca berita atau konten negatif terus-menerus).
Ketika cyber-stress ini menumpuk tanpa adanya katarsis (penyaluran emosi) yang sehat, remaja dapat mengembangkan depresi laten (hidden depression). Mereka secara sadar atau tidak sadar menutupi kesedihan dan kerapuhannya karena adanya tuntutan digital untuk selalu terlihat bahagia, estetis, dan sukses di media sosial.
2. Mengapa Remaja Begitu Rentan di Dunia Maya?
Secara neurobiologis, otak remaja tengah mengalami perombakan besar-besaran, terutama pada area yang mengatur validasi sosial dan sistem penghargaan (reward system).
Setiap kali mereka menerima like, komentar positif, atau pengikut baru, otak melepaskan hormon dopamin (hormon kesenangan). Sebaliknya, ketika mereka mengalami penolakan digital—seperti komentar jahat, pesan tidak dibalas, atau melihat lingkaran pertemanan mereka berkumpul tanpa mengajak otak meresponsnya sebagai rasa sakit yang mendalam. Tekanan konstan untuk mempertahankan “citra digital yang sempurna” inilah yang memicu kelelahan mental akut.
3. Tanda Terselubung: Cara Mendeteksi Depresi Laten
Karena sifatnya yang tersamar, orang tua dan pendidik harus sangat jeli melihat perubahan-perubahan mikro pada perilaku remaja. Berikut adalah tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai:
Reaksi Emosional Ekstrim terhadap Gadget: Remaja tampak sangat cemas, gelisah, atau mendadak marah besar setelah memeriksa ponsel mereka, namun menolak menceritakan apa yang terjadi.
Pergeseran Pola Tidur Akibat Vamping: Kebiasaan terjaga hingga larut malam demi memeriksa media sosial (camping). Kurang tidur kronis ini merusak regulasi emosi dan mempercepat munculnya episode depresi.
Sindrom Phantom Vibration dan Kecemasan Tinggi: Ketakutan berlebih jika terpisah dari gadget (nomophobia) atau terus-menerus merasa ponselnya bergetar padahal tidak ada notifikasi masuk.
Penarikan Diri secara Fisik (Social Withdrawal): Anak tampak aktif dan populer di dunia maya, namun di dunia nyata mereka enggan keluar kamar, menghindari kontak mata, dan malas berinteraksi dengan keluarga.
Keluhan Fisik (Gejala Somatik): Sering mengeluh pusing, mual, atau lelah luar biasa di pagi hari tanpa adanya gangguan medis pada fisiknya.
Mengatasi masalah ini bukan berarti kita harus menyita gadget anak secara total, karena hal itu justru bisa memicu pemberontakan dan memperparah kecemasan mereka. Pendekatannya harus berbasis empati dan batasan yang sehat:
Langkah Nyata
Cara Penerapan
Digital Detox Terjadwal
Buat kesepakatan zona bebas gadget di rumah, misalnya “Tidak ada ponsel di meja makan” dan “Semua gadget dimatikan 1 jam sebelum tidur.”
Membangun Validasi Nyata
Berikan pujian kepada remaja berdasarkan usaha, karakter, dan tindakan nyata mereka di rumah, bukan sekadar penampilan fisik atau prestasi akademis.
Edukasi Literasi Emosi Digital
Ajarkan remaja bahwa apa yang terlihat di media sosial hanyalah highlight reel (potongan momen terbaik) orang lain, bukan realitas hidup seutuhnya.
Kesimpulan
Depresi laten akibat cyber-stress adalah pembunuh senyap bagi potensi remaja kita. Layar gawai mungkin bisa menyembunyikan air mata mereka melalui filter dan emoji, namun kepekaan kita di dunia nyata adalah kunci utama untuk menyelamatkan jiwa mereka. Ketika kita mendeteksi sinyal-sinyal kelelahan mental ini sejak dini, kita sedang membantu mereka merebut kembali kedamaian hidup yang sempat terenggut oleh riuhnya dunia siber.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO). (2024).Guidelines on Mental Health Promotive and Preventive Interventions for Adolescents in the Digital Age. Jenewa: WHO.
UNICEF. (2025).The Digital Childhood Report: Understanding Cyber-Stress and Youth Resilience. New York: UNICEF.
(Laporan komprehensif mengenai infleksi kesehatan emosional anak akibat Twenge, J. M., & Campbell, W. K. (2023).Media Use, Cyber-Stress, and the Rise of Latent Depression in Gen Z: A Longitudinal Study. Journal of Adolescent Health, 72(4), 512-520.
Keles, B., McCrae, N., & Grealish, A. (2024).A Systematic Review of Social Media Use, Cyber-Victimization, and Depression Among Adolescents. International Journal of Social Psychiatry, 70(2), 185-199.