Peringatan Hari Ibu seharusnya tidak hanya menjadi momen simbolik untuk mengucapkan terima kasih, tetapi juga ruang refleksi untuk melihat secara jujur realitas yang masih dihadapi perempuan. Di balik peran besar perempuan dalam keluarga dan masyarakat, masih terdapat ketimpangan dan kerentanan yang berdampak langsung pada kesehatan, keselamatan, dan kualitas hidup mereka.
Kemajuan di bidang pendidikan dan partisipasi kerja perempuan memang patut diapresiasi. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa perjuangan perempuan belum berakhir. Tantangan yang dihadapi hari ini bukan hanya soal akses, tetapi juga soal beban struktural yang terus melekat pada kehidupan perempuan sepanjang siklus hidupnya.
Beban Ganda yang Masih Dianggap Wajar
Salah satu tantangan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari perempuan adalah beban ganda. Banyak perempuan menjalani peran sebagai pekerja—baik di sektor formal maupun informal—sekaligus tetap memikul tanggung jawab utama atas pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan keluarga.
Di Indonesia, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan mencapai sekitar 54%, sementara laki-laki berada di atas 80%. Namun meskipun semakin banyak perempuan yang bekerja, tanggung jawab pekerjaan domestik dan perawatan keluarga masih sangat didominasi perempuan. Pekerjaan domestik dan perawatan ini sebagian besar bersifat unpaid domestic work: tidak dibayar, tidak dihitung sebagai kontribusi ekonomi, dan sering dianggap sebagai “kodrat”. Padahal, pekerjaan ini membutuhkan waktu, energi, dan mempengaruhi kesehatan fisik maupun mental perempuan.
Kekerasan dan Pelecehan Seksual
Selain beban domestik, perempuan juga lebih rentan mengalami kekerasan dan pelecehan seksual, baik di ranah domestik maupun publik. Data nasional menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 10 perempuan Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan selama hidupnya, dan angka ini lebih tinggi jika termasuk kekerasan oleh pelaku non-pasangan.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat puluhan ribu kasus kekerasan berbasis gender setiap tahun, dengan kekerasan seksual sebagai salah satu bentuk yang paling dominan. Dampaknya tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga mencakup trauma psikologis, gangguan kesehatan reproduksi, dan penurunan kualitas hidup perempuan.
Kematian Ibu dan Penyakit Degeneratif pada Perempuan
Dalam bidang kesehatan, ketimpangan terhadap perempuan juga tercermin dari masih tingginya angka kematian ibu. Berdasarkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020, angka kematian ibu di Indonesia mencapai sekitar 189 per 100.000 kelahiran hidup, padahal sebagian besar penyebabnya dapat dicegah melalui pelayanan kesehatan yang tepat waktu dan berkualitas.
Di luar kehamilan dan persalinan, perempuan juga menghadapi beban penyakit degeneratif yang signifikan. Penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, hipertensi, dan osteoporosis merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian di Indonesia. Perempuan memiliki kerentanan khusus terhadap beberapa penyakit ini, dipengaruhi oleh faktor biologis, hormonal, beban kerja ganda, stres kronis, serta keterlambatan deteksi dini.
Mengapa Bidan Harus Ikut Andil?
Dalam konteks tantangan tersebut, bidan memiliki peran yang sangat strategis. Bidan bukan hanya tenaga kesehatan yang hadir saat persalinan, tetapi pendamping perempuan sepanjang siklus hidup—dari remaja, usia reproduksi, kehamilan, nifas, hingga masa lanjut usia.
Peran bidan menjadi krusial dalam hal:
promosi kesehatan yang peka gender,
deteksi dini masalah kesehatan dan kekerasan terhadap perempuan,
penguatan perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi,
pemberdayaan perempuan agar memiliki pengetahuan dan posisi tawar dalam pengambilan keputusan kesehatan.
Hari Ibu sebagai Momentum Perubahan
Hari Ibu seharusnya menjadi pengingat bahwa menghormati perempuan tidak cukup dengan simbol dan ucapan. Penghormatan sejati terwujud melalui upaya nyata untuk mengurangi beban yang tidak adil, melindungi perempuan dari kekerasan, serta memastikan perempuan dapat hidup sehat dan bermartabat sepanjang hidupnya.
Perjuangan perempuan belum berakhir. Dan bidan, dengan ilmu, empati, dan perannya di masyarakat, harus ikut andil dalam perjuangan ini.
Untuk mewujudkan keadilan dan kesehatan bagi perempuan, dibutuhkan tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga peka terhadap realitas sosial. Program Studi S1 dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata memegang peran penting dalam menyiapkan bidan yang mampu berkontribusi nyata bagi perempuan, keluarga, dan masyarakat. Menjadi bidan bukan sekadar profesi, tetapi panggilan untuk mendampingi, melindungi, dan memperjuangkan kesehatan perempuan—hari ini dan untuk generasi yang akan datang.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. Statistik Indonesia 2023. Jakarta: BPS; 2023.
Badan Pusat Statistik. Angka Kematian Ibu (AKI) Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020. Jakarta: BPS; 2021.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024. Jakarta: KemenPPPA; 2024.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan. Jakarta: Komnas Perempuan; 2024.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2022. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
World Health Organization. Noncommunicable Diseases Country Profile: Indonesia. Geneva: WHO; 2022.
Penulis: Fatimah, S.SiT., M.Kes | Dosen D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Di tengah tingginya persaingan dunia kerja dan biaya pendidikan tinggi yang terus merangkak naik, memilih jurusan kuliah bukan lagi sekadar mengikuti minat. Calon mahasiswa dan orang tua kini harus berpikir strategis: “Jurusan apa yang biayanya terjangkau, cepat lulus, dan langsung dapat kerja?”
Jawabannya sering kali luput dari perhatian, namun sangat vital bagi bangsa ini: D3 Kebidanan.
Berikut adalah alasan mengapa program studi D3 Kebidanan adalah “permata tersembunyi” bagi masyarakat Indonesia yang menginginkan kepastian masa depan dengan biaya yang masuk akal.
1. Kuliah Singkat, Cepat Berpenghasilan
Salah satu keunggulan utama D3 Kebidanan adalah durasi pendidikannya. lulus dalam waktu 3 tahun (6 semester).
Apa artinya ini bagi ekonomi keluarga?
Hemat Biaya Kuliah: Anda menghemat biaya SPP dan uang gedung selama 2 tahun dibandingkan jalur profesi.
Hemat Biaya Hidup: Pengeluaran untuk kos, makan, dan transportasi berkurang drastis karena masa studi yang lebih pendek.
Start Lebih Awal: Lulusan DIII bisa mulai bekerja dan menghasilkan uang 2 tahun lebih cepat daripada rekan-rekannya yang mengambil jalur akademis panjang.
2. Pendidikan Vokasi: Ahli Praktik, Bukan Sekadar Teori
Pendidikan DIII adalah pendidikan Vokasi. Kurikulumnya didominasi oleh praktik (sekitar 60-70%) dibandingkan teori.
Artinya, sejak semester awal, mahasiswa sudah diajarkan keterampilan tangan yang nyata. Mulai dari pemeriksaan kehamilan, menolong persalinan normal, hingga perawatan bayi baru lahir. Hal ini membuat lulusan DIII Kebidanan memiliki mental “siap pakai” di dunia kerja, bukan lulusan yang bingung saat menghadapi pasien.
3. Serapan Kerja Sangat Tinggi dan Luas
Indonesia adalah negara dengan angka kelahiran yang masih cukup tinggi. Kebutuhan akan tenaga kesehatan, khususnya bidan, tidak pernah surut. Lulusan DIII Kebidanan memiliki peluang kerja yang sangat luas, antara lain:
Instansi Pemerintah: Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Puskesmas di seluruh pelosok negeri.
Sektor Swasta: Rumah Sakit Swasta, Klinik Ibu dan Anak, dan Rumah Bersalin.
Bidan Desa: Ujung tombak kesehatan di desa-desa yang selalu dicari.
Home Care: Layanan perawatan ibu dan bayi di rumah yang kini semakin tren dan bergaji tinggi.
Program pemerintah dalam pengentasan stunting (gizi buruk) juga menempatkan bidan sebagai garda terdepan, sehingga permintaan formasi CPNS atau PPPK untuk bidan D3 selalu tersedia setiap tahunnya.
4. Biaya Pendidikan yang “Ramah Kantong”
Dibandingkan dengan jurusan Kesehatan lain, biaya kuliah di D3 Kebidanan jauh lebih terjangkau bagi rata-rata ekonomi keluarga Indonesia.
5. Peluang Melanjutkan Studi (Transfer Jenjang)
Banyak yang khawatir, “Apakah DIII karirnya mentok?” Jawabannya: Tidak.
Setelah lulus D3, bekerja, dan memiliki tabungan sendiri, Anda bisa melanjutkan kuliah ke jenjang D4 atau S1 Kebidanan melalui program Alih Jenjang (Ekstensi) sambil tetap bekerja. Jadi, Anda bisa membiayai kuliah lanjutan Anda sendiri tanpa meminta uang orang tua lagi. Ini adalah strategi ekonomi yang sangat cerdas dan mandiri.
Kesimpulan
Memilih DIII Kebidanan bukan berarti memilih kualitas “nomor dua”. Justru, ini adalah pilihan cerdas bagi mereka yang realistis dan visioner. Anda mendapatkan gelar Ahli Madya Kebidanan (A.Md.Keb), keterampilan nyata, biaya terjangkau, dan tiket ekspres menuju dunia kerja.Bagi keluarga Indonesia, D3 Kebidanan terbaik di Jogja, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata adalah jembatan menuju kesejahteraan yang lebih baik melalui profesi yang mulia.
“Menjadi muslimah bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang istiqomah dalam kebaikan.”
Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes | Dosen D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Menjadi Remaja Muslimah Tangguh di Era Modern
Di tengah derasnya arus informasi dan gaya hidup digital, menjadi remaja muslimah bukanlah hal yang mudah. Media sosial, tren mode, dan pergaulan sering kali membuat nilai-nilai Islam terasa tertinggal. Padahal, di era modern ini, remaja muslimah justru memiliki peran besar sebagai penjaga moral dan inspirasi kebaikan.
1. Identitas Muslimah Adalah Kehormatan
Menjadi muslimah berarti memegang identitas yang penuh kemuliaan. Hijab bukan sekadar kain penutup kepala, melainkan simbol kehormatan, keimanan, dan kepribadian yang kuat. Di tengah budaya yang sering menilai dari penampilan luar, muslimah sejati memahami bahwa nilai diri ditentukan oleh akhlak dan ketaatan, bukan oleh tren mode.
“Sesungguhnya wanita itu adalah perhiasan dunia, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.”(HR. Muslim)
2. Menghadapi Tantangan Zaman dengan Ilmu dan Iman
Dunia digital memberi peluang besar — belajar, berbisnis, bahkan berdakwah dari mana saja. Namun, di balik itu, muncul tantangan baru: distraksi, perbandingan sosial, dan konten yang menjauhkan dari nilai Islam. Remaja muslimah perlu membangun keseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat, agar menjadi sosok cerdas dan bijaksana dalam setiap pilihan.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
3. Gunakan Media Sosial sebagai Ladang Amal
Media sosial tidak harus menjadi sumber kebingungan atau tekanan. Dengan niat yang baik, ia bisa menjadi media dakwah yang kreatif dan positif. Remaja muslimah bisa membagikan kutipan inspiratif, kisah hijrah, atau tips islami yang bermanfaat bagi teman-temannya. Dengan begitu, teknologi tidak lagi mengendalikan, tapi menjadi alat untuk menebar kebaikan.
4. Tetap Rendah Hati dan Peduli
Kecantikan sejati tidak hanya di wajah, tapi dalam akhlak dan kepedulian terhadap sesama. Remaja muslimah yang tangguh bukan yang keras hati, melainkan yang lembut dan menebar manfaat di sekitarnya. Kebaikan kecil — membantu teman, menjaga lisan, memberi semangat — adalah bentuk nyata dari keindahan iman.
“Be the light, even when the world tries to dim you.”
“Sesungguhnya orang yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad)
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, integritas seorang remaja muslimah modern terletak pada keseimbangan antara iman, akhlak, dan wawasan global. Salah satu langkah konkret untuk menjadi pelopor perubahan dan menebar manfaat bagi umat adalah dengan menempuh pendidikan berkualitas di Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja. Dengan bekal ilmu yang mumpuni dari institusi terbaik, muslimah tidak hanya sekadar bertahan di arus zaman, melainkan hadir sebagai cahaya yang merawat dan menerangi peradaban
DAFTAR PUSTAKA :
Al-Qur’anul Karim, Surat Al-Mujadilah ayat 11
Al-Ghazali, Imam. (2020). Ihya Ulumuddin: Jalan Hidup Muslim Sejati. Jakarta: Republika
Azzam, A. (2022). Muslimah Hebat di Era Digital. Bandung: Syaamil Books
Yusuf, Q. (2021). Remaja dan Media Sosial dalam Perspektif Islam. Jakarta: Kementerian Agama RI
Pew Research Center. (2022). The Digital Life of Muslim Youth: Balancing Faith and Technology. Washington, D.C
Mencegah Perilaku Seksual Remaja: Langkah Penting Menghindari Kehamilan Tidak Diinginkan
created by: Fatimatasari, M.Keb., Bdn
Kehamilan tidak diinginkan pada remaja masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat kehamilan, tetapi juga memengaruhi pendidikan, kesehatan mental, serta masa depan sosial dan ekonomi remaja. Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dan laporan BKKBN menunjukkan bahwa sebagian remaja mulai terpapar perilaku seksual berisiko sejak usia sekolah, sementara kesiapan fisik, emosional, dan sosial mereka masih terbatas.
Di sisi lain, penggunaan alat kontrasepsi bagi remaja belum menjadi kebijakan yang dilegalkan secara luas di Indonesia. Kondisi ini menegaskan bahwa upaya pencegahan kehamilan remaja tidak dapat hanya mengandalkan kontrasepsi, melainkan perlu difokuskan pada pendekatan protektif non-kontraseptif, terutama pencegahan perilaku seksual pranikah.
Secara ilmiah, menghindari hubungan seksual pranikah merupakan satu-satunya cara yang memberikan perlindungan maksimal terhadap kehamilan. Tidak ada metode kontrasepsi yang sepenuhnya bebas dari risiko kegagalan. Karena itu, promosi kesehatan reproduksi yang melibatkan berbagai pihak menjadi sangat penting dan relevan dengan konteks sosial dan kebijakan di Indonesia.
Berikut upaya bersama yang dapat dilakukan:
1.Peran Remaja
Remaja memiliki peran utama dalam melindungi dirinya sendiri. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:
Memahami kesehatan reproduksi secara benar, termasuk risiko perilaku seksual dan konsekuensinya.
Mengembangkan keterampilan menolak tekanan dari teman sebaya dan lingkungan.
Menetapkan batasan diri dalam pergaulan sesuai nilai agama dan norma sosial.
Memfokuskan diri pada pendidikan, pengembangan potensi, dan perencanaan masa depan
2. Peran Orang Tua
Orang tua adalah pendamping terdekat remaja. Peran penting orang tua meliputi:
Membangun komunikasi terbuka dan aman tentang pubertas, pergaulan, dan relasi yang sehat.
Menjadi teladan dalam nilai moral, sikap, dan perilaku sehari-hari.
Memberikan pengawasan yang suportif dan penuh empati, bukan kontrol yang menekan.
3. Peran Sekolah
Sekolah memiliki posisi strategis dalam pencegahan kehamilan remaja melalui:
Penyediaan edukasi kesehatan reproduksi yang sesuai usia dan kebutuhan remaja.
Integrasi pendidikan karakter, nilai agama, dan kesehatan mental dalam pembelajaran.
Penguatan peran guru BK dan layanan konseling sebagai ruang aman bagi remaja.
4. Peran Masyarakat
Lingkungan sosial yang sehat akan memperkuat perlindungan bagi remaja, antara lain dengan:
Menciptakan lingkungan yang aman dan ramah remaja.
Menghidupkan nilai sosial dan budaya yang mendukung perilaku sehat.
Mendukung program pendampingan dan promosi kesehatan remaja di komunitas.
Pencegahan kehamilan tidak diinginkan pada remaja tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja bersama: remaja yang berdaya, orang tua yang terlibat, sekolah yang proaktif, dan masyarakat yang peduli. Promosii kesehatan reproduksi yang ramah remaja, berbasis nilai, dan berorientasi pencegahan adalah kunci untuk melindungi generasi muda Indonesia.
Ingin berkontribusi langsung dalam promosi kesehatan remaja dan perempuan Indonesia? Program Studi S1 Kebidanan dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata menawarkan keunggulan dalam health promotion kebidanan, membekali mahasiswa tidak hanya dengan keterampilan klinis, tetapi juga kemampuan edukasi, pencegahan, dan pemberdayaan masyarakat. Bersama Universitas Alma Ata, mari mencetak bidan profesional yang berperan aktif menjaga kesehatan remaja, ibu, dan generasi masa depan Indonesia.
Referensi:
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (2018). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017: Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: BKKBN, BPS, Kementerian Kesehatan, dan ICF.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (2020). Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R): Pedoman Pengelolaan. Jakarta: BKKBN.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: Direktorat Kesehatan Keluarga.
World Health Organization. (2011). Preventing early pregnancy and poor reproductive outcomes among adolescents in developing countries. Geneva: WHO.
World Health Organization. (2018). Global accelerated action for the health of adolescents (AA-HA!): Guidance to support country implementation. Geneva: WHO.
Madkour, A. S., Farhat, T., Halpern, C. T., Godeau, E., & Gabhainn, S. N. (2010). Early adolescent sexual initiation as a problem behavior: A comparative study of five nations. Journal of Adolescent Health, 47(4), 389–398. https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2010.02.008
Puspitawati, H., & Herawati, T. (2017). Pengaruh keharmonisan keluarga terhadap perilaku berisiko remaja. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, 10(1), 1–10.
Fitriah, N., & Mardhiah, A. (2022). Kehamilan tidak diinginkan pada remaja dan faktor yang memengaruhinya. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 13(2), 85–94.
Dosen Prodi Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata
Di tengah gempuran era digital dan tantangan globalisasi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia kembali menguatkan fondasi karakter bangsa melalui gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH). Artikel ini akan mengupas tuntas ketujuh kebiasaan tersebut dan membandingkannya dengan program pendidikan karakter serupa yang sukses diterapkan di negara-negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Amerika Serikat.
Apa Itu 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat?
Gerakan ini dirancang untuk mengembalikan kedisiplinan dan kesejahteraan (well-being) anak-anak Indonesia yang mulai tergerus oleh gaya hidup sedentari (kurang gerak) dan kecanduan gawai. Berdasarkan panduan terbaru dari Kemendikdasmen (2024-2025):
1. Bangun Pagi
Membiasakan anak untuk memulai hari lebih awal. Kebiasaan ini melatih kedisiplinan biologis (ritme sirkadian) dan memberikan waktu ekstra untuk persiapan mental sebelum sekolah.
2. Beribadah
Menempatkan spiritualitas sebagai fondasi utama. Ini bukan hanya tentang ritual, tetapi membangun “kesadaran bertuhan” sehingga anak merasa diawasi dan dijaga, yang berdampak pada kejujuran dan integritas.
3. Berolahraga
Mengatasi masalah obesitas dan fisik yang lemah pada anak. Olahraga rutin memicu hormon endorfin yang membuat anak lebih bahagia dan siap menerima pelajaran.
4. Gemar Belajar
Mengubah paradigma belajar dari “kewajiban” menjadi “kegemaran”. Fokusnya adalah menumbuhkan rasa ingin tahu (curiosity) dan literasi, bukan sekadar mengejar nilai akademis.
5. Makan Sehat dan Bergizi
Merespons isu stunting dan gizi buruk. Anak diajarkan untuk memilih makanan yang “halal dan thayyib” (baik/bergizi), serta mengurangi konsumsi gula berlebih dan makanan instan.
6. Bermasyarakat (Bersosialisasi)
Melawan fenomena anak yang antisosial akibat gawai. Poin ini mendorong anak untuk aktif dalam kegiatan gotong royong, organisasi, atau sekadar bermain fisik dengan teman sebaya untuk mengasah empati.
7. Tidur Lebih Awal (Tidur Cepat)
Menjamin kualitas istirahat. Kurang tidur pada anak usia sekolah terbukti menurunkan fungsi kognitif dan emosional.
Studi Komparasi: Indonesia vs. Dunia
Bagaimana program ini jika disandingkan dengan kurikulum karakter di negara lain? Berikut adalah perbandingan 7 KAIH dengan program The Leader in Me (Global/USA), Doutoku (Jepang), dan Character and Citizenship Education (Singapura).
Tabel Perbandingan Program Karakter
Aspek
7 KAIH (Indonesia)
The Leader in Me (Global/USA)
Doutoku (Jepang)
CCE (Singapura)
Basis Filosofi
Pancasila & Religiusitas
7 Habits of Highly Effective People (Stephen Covey)
Harmoni Sosial & Etika Warga (Civic)
Nilai Inti (R3ICH) & Kewarganegaraan
Fokus Utama
Disiplin Harian Praktis (Fisik & Spiritual)
Kepemimpinan & Paradigma (Pola Pikir)
Moralitas & Emosi (Hati/Kokoro)
Keterampilan Sosial-Emosional & Identitas Nasional
Metode
Pembiasaan rutin di rumah & sekolah (mikro)
Kurikulum kepemimpinan terintegrasi & bahasa bersama
Mata pelajaran khusus (“Moral”) & tugas piket sekolah
Diskusi dilema moral & Cyber Wellness
Kelebihan Unik
Sangat kuat dalam aspek spiritual (Ibadah)
Melatih kemandirian & tanggung jawab personal (Proaktif)
7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat adalah langkah strategis yang sangat “membumi” dan sesuai dengan kultur Indonesia yang religius dan komunal. Kelebihannya terletak pada kesederhanaan praktik yang bisa langsung diterapkan tanpa biaya mahal.
Adopsi Pola Pikir (Mindset): Seperti Leader in Me, anak tidak hanya disuruh “Bangun Pagi”, tapi diajarkan mengapa itu penting untuk tujuan hidup mereka (Visi).
Literasi Digital: Mengintegrasikan etika bermasyarakat di dunia nyata ke dunia maya (seperti CCE Singapura).
Konsistensi Sistem: Seperti Jepang, kebiasaan ini harus didukung oleh sistem sekolah (misal: menyediakan makan siang sehat di sekolah untuk mendukung kebiasaan makan sehat).
Dengan demikian anak akan tumbuh menjadi remaja yang sehat sebagai penerus bangsa, sebagaimana tujuan Prodi DIII Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata yang mendukung program tersebut dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa.
Referensi
Kemendikdasmen RI (2024/2025): Panduan Gerakan Sekolah Sehat & Cerdas Berkarakter.
FranklinCovey Education:The Leader in Me Impact Studies.
Ministry of Education, Singapore (2024):Character and Citizenship Education Syllabus (Secondary/Primary).
Jurnal Pendidikan Karakter (2024):Comparative Analysis of Character Education in Indonesia and Japan.