Waspada Cuaca Ekstrem Awal Juli: Dosen Sarjana Kebidanan Ingatkan Masyarakat Lindungi Keluarga dari Heat Exhaustion dan ISPA

Waspada Cuaca Ekstrem Awal Juli: Dosen Sarjana Kebidanan Ingatkan Masyarakat Lindungi Keluarga dari Heat Exhaustion dan ISPA


Memasuki awal bulan Juli, sebagian besar wilayah di Indonesia mengalami puncak musim kemarau yang ditandai dengan meningkatnya suhu udara serta kondisi lingkungan yang lebih kering dan berdebu. Cuaca ekstrem yang terjadi tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama Heat Exhaustion (kelelahan akibat panas) dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi ini perlu menjadi perhatian seluruh masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, balita, lansia, serta individu dengan penyakit kronis.

Fenomena tersebut menjadi perhatian Dosen Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata, Ibu Isti Chana Zuliyati, S.ST., M.Keb yang mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca ekstrem melalui penerapan langkah-langkah pencegahan sederhana di lingkungan keluarga.

Menurut Isti, paparan suhu yang tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dalam jumlah besar melalui keringat. Apabila cairan yang hilang tidak segera digantikan, tubuh akan mengalami dehidrasi yang dapat berkembang menjadi heat exhaustion, yaitu kondisi ketika tubuh mulai kesulitan mengatur suhu secara normal.

“Cuaca panas tidak boleh dianggap sepele. Banyak masyarakat baru menyadari ketika tubuh sudah mengalami dehidrasi berat. Padahal, kondisi tersebut dapat dicegah dengan menjaga kecukupan cairan tubuh dan membatasi aktivitas di bawah terik matahari,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa beberapa gejala heat exhaustion yang perlu diwaspadai antara lain keringat berlebih, kulit terasa dingin atau lembap, pusing, sakit kepala, mual, muntah, kram otot, hingga jantung berdebar lebih cepat dari biasanya. Apabila gejala tersebut tidak segera ditangani, kondisi dapat berkembang menjadi heat stroke yang bersifat darurat medis.

Lebih lanjut, Isti menekankan bahwa ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak cuaca panas. Selama kehamilan, kebutuhan cairan meningkat karena tubuh harus menjaga volume darah serta cairan ketuban. Dehidrasi pada trimester awal dapat memperberat keluhan mual dan muntah, sedangkan pada trimester akhir dapat memicu kontraksi palsu atau Braxton Hicks yang lebih sering muncul.

“Ibu hamil perlu lebih disiplin menjaga asupan cairan setiap hari. Jangan menunggu merasa haus karena rasa haus merupakan tanda awal tubuh mulai mengalami kekurangan cairan,” ujarnya.

Selain ancaman akibat suhu tinggi, musim kemarau juga menyebabkan kualitas udara menurun karena meningkatnya debu dan polusi. Udara yang lebih kering membuat partikel debu, asap kendaraan, maupun polutan lainnya lebih mudah beterbangan dan terhirup sehingga meningkatkan risiko terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Menurutnya, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan karena sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan. Paparan debu secara terus-menerus dapat memicu batuk, pilek, radang tenggorokan, hingga memperburuk gangguan pernapasan pada anak yang memiliki riwayat alergi maupun asma.

Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama musim kemarau, Isti mengimbau masyarakat menerapkan beberapa langkah proteksi mandiri. Di antaranya membiasakan minum air putih minimal 2–2,5 liter setiap hari, sementara ibu menyusui dianjurkan meningkatkan konsumsi cairan hingga sekitar 3 liter per hari. Selain itu, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi terutama pada pukul 10.00–15.00 ketika paparan sinar matahari sedang berada pada intensitas tertinggi.

Ia juga menyarankan masyarakat memperbanyak konsumsi buah-buahan yang kaya kandungan air dan vitamin C seperti semangka, melon, dan jeruk untuk membantu menjaga hidrasi sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh. Penggunaan pakaian berbahan katun yang longgar dan menyerap keringat serta pemakaian masker saat berada di lingkungan berdebu juga menjadi langkah sederhana yang efektif untuk melindungi kesehatan.

“Perlindungan terhadap kesehatan keluarga dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Menjaga tubuh tetap terhidrasi, menggunakan pakaian yang nyaman, menghindari paparan panas berlebihan, serta memakai masker saat kualitas udara menurun merupakan upaya sederhana namun sangat bermanfaat dalam mencegah berbagai gangguan kesehatan selama musim kemarau,” jelasnya.

Sebagai dosen Profesi Bidan, Isti berharap masyarakat semakin peduli terhadap perubahan cuaca yang terjadi dan tidak menganggap keluhan akibat panas sebagai kondisi yang biasa. Edukasi mengenai pencegahan menjadi kunci agar kelompok rentan, terutama ibu hamil, bayi, balita, dan lansia, tetap terlindungi selama menghadapi cuaca ekstrem.

“Cuaca ekstrem merupakan tantangan yang tidak dapat kita hindari, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui perilaku hidup sehat dan kewaspadaan sejak dini. Mari bersama menjaga kesehatan diri dan keluarga dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan secara konsisten agar tetap sehat sepanjang musim kemarau,” tutup Isti.

Remaja dan Media Sosial: Bijak Bermedia untuk Menjaga Kesehatan Mental

Remaja dan Media Sosial: Bijak Bermedia untuk Menjaga Kesehatan Mental

Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT.,M. Kes.

Universitas Alma Ata, Juli 2026 – Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja. Berbagai platform digital dimanfaatkan untuk belajar, mencari informasi, berkomunikasi, hingga mengekspresikan diri. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan media sosial yang berlebihan juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kesehatan mental remaja.

Belakangan ini, berbagai konten di media sosial ramai membahas fenomena digital fatigue, doom scrolling, dan tekanan untuk selalu tampil sempurna di dunia maya. Isu ini semakin menjadi sorotan setelah hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan bahwa hampir 10% anak dan remaja yang menjalani skrining memiliki indikasi gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi. Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan mental remaja perlu mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Media sosial pada dasarnya bukanlah penyebab utama masalah kesehatan mental. Akan tetapi, penggunaan yang tidak terkendali dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, gangguan tidur, rendahnya rasa percaya diri, hingga kecenderungan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Sebaliknya, jika digunakan secara bijaksana, media sosial dapat menjadi sarana belajar, membangun jejaring pertemanan, mengembangkan kreativitas, serta memperoleh informasi kesehatan yang benar.

Sebagai generasi digital, remaja perlu memiliki kemampuan literasi digital agar mampu menyaring informasi yang diterima. Tidak semua informasi kesehatan yang beredar di media sosial dapat dipercaya. Oleh karena itu, penting untuk memastikan sumber informasi berasal dari tenaga kesehatan, institusi pendidikan, atau lembaga resmi yang memiliki kredibilitas.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan remaja untuk menjaga kesehatan mental saat menggunakan media sosial antara lain:

  1. membatasi waktu penggunaan media sosial setiap hari;
  2. mengikuti akun yang memberikan konten positif dan edukatif;
  3. menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain;
  4. menjaga keseimbangan antara aktivitas daring dan aktivitas di dunia nyata;
  5. tetap berinteraksi secara langsung dengan keluarga dan teman; serta
  6. tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor apabila mengalami stres berkepanjangan.

Mari jadikan media sosial sebagai sarana untuk belajar, berbagi inspirasi, dan menyebarkan informasi kesehatan yang bermanfaat. Remaja yang cerdas dalam menggunakan teknologi adalah remaja yang mampu menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosialnya demi mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, tangguh, dan berdaya saing.

Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu dan anak yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 9 Maret). Alarm kesehatan mental anak: CKG temukan ratusan ribu anak bergejala cemas dan depresi. https://www.kemkes.go.id/id/alarm-kesehatan-mental-anak-ckg-temukan-ratusan-ribu-anak-bergejala-cemas-dan-depresi
  2. World Health Organization Indonesia. (2026, 23 Februari). Bersatu merespons dampak kesehatan jiwa kekerasan digital. https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/23-02-2026-uniting-to-respond-to-mental-health-impacts-of-digital-violence
  3. World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman nasional pelayanan kesehatan jiwa. Kementerian Kesehatan RI.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak. Kementerian Kesehatan RI.
  6. UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On my mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. UNICEF.
  7. American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. American Psychological Association.
Perkuat Program Sister School Berkelanjutan, Sarjana Kebidanan Kembali Dipercaya Mengisi Edukasi Kesehatan Remaja dalam MPLS SMAN 1 Bambanglipuro

Perkuat Program Sister School Berkelanjutan, Sarjana Kebidanan Kembali Dipercaya Mengisi Edukasi Kesehatan Remaja dalam MPLS SMAN 1 Bambanglipuro

Bantul, 14 Juli 2026 – Komitmen Program Sarjana Kebidanan, dan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata dalam mendukung peningkatan literasi kesehatan remaja kembali diwujudkan melalui kegiatan Sister School bersama SMAN 1 Bambanglipuro. Kolaborasi yang telah terjalin secara berkelanjutan ini menjadi wujud sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga mendukung pembentukan karakter serta perilaku hidup sehat pada peserta didik.

Kepercayaan yang kembali diberikan oleh SMAN 1 Bambanglipuro kepada Program Studi Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata menjadi bukti kuat bahwa Program Sister School telah berkembang menjadi kemitraan yang memberikan manfaat nyata bagi kedua institusi. Melalui program ini, dosen secara konsisten hadir di lingkungan sekolah melalui kegiatan dosen mengajar, dengan menghadirkan berbagai materi edukasi yang disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan peserta didik serta tantangan yang dihadapi remaja di era saat ini.

Pada tahun 2026, Program Studi Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata kembali dipercaya untuk berpartisipasi dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 1 Bambanglipuro. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk implementasi keberlanjutan Program Sister School yang bertujuan memberikan bekal pengetahuan sejak awal kepada peserta didik, sehingga mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah sekaligus memahami pentingnya menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosial selama menjalani masa remaja.

Pelaksanaan kegiatan melibatkan dosen dan mahasiswa  Program Sarjana Kebidanan, dan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata dalam penyampaian materi edukasi kesehatan remaja yang dikemas secara interaktif, komunikatif, dan menyenangkan. Metode pembelajaran dirancang untuk mendorong partisipasi aktif siswa melalui diskusi, tanya jawab, serta berbagai aktivitas yang membantu peserta menghubungkan materi dengan pengalaman yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai bagian dari implementasi Program Sister School, dosen menyampaikan materi edukasi kesehatan remaja yang disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan peserta didik pada setiap jenjang kelas. Edukasi yang diberikan berfokus pada penguatan pemahaman remaja dalam mengenali perubahan fisik, psikologis, emosional, dan sosial yang terjadi selama masa remaja, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan hidup (life skills) untuk membangun hubungan sosial yang sehat, meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kesehatan, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Materi yang disampaikan kepada siswa kelas XI dan XII dirancang untuk meningkatkan self-awareness terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan remaja, memperkuat kemampuan komunikasi yang positif, serta menumbuhkan sikap saling menghargai dalam berinteraksi dengan orang lain. Melalui pendekatan tersebut, siswa diharapkan mampu memahami bahwa kesehatan remaja tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup kesehatan mental, emosional, dan sosial yang menjadi fondasi penting dalam mempersiapkan diri menuju masa dewasa.

Untuk mengetahui efektivitas pembelajaran, kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test guna mengukur tingkat pengetahuan awal peserta. Setelah mengikuti sesi edukasi, siswa kembali mengerjakan post-test sebagai bentuk evaluasi terhadap peningkatan pemahaman setelah memperoleh materi. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka selama sesi berlangsung, baik dalam diskusi maupun saat menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai isu-isu kesehatan remaja yang dekat dengan kehidupan mereka.

Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa Program Studi Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata. Mahasiswa terlibat aktif dalam mendampingi pelaksanaan kegiatan, membantu proses evaluasi pembelajaran, memfasilitasi diskusi kelompok, serta berpartisipasi dalam berbagai aktivitas edukasi. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang memperkuat kompetensi mahasiswa dalam komunikasi, promosi kesehatan, kerja sama tim, serta profesionalisme sebagai calon tenaga kesehatan.

Pelaksanaan Program Sister School merupakan salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kolaborasi yang berkesinambungan antara Universitas Alma Ata dan SMAN 1 Bambanglipuro, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja sekaligus memperkuat karakter peserta didik agar mampu menghadapi berbagai tantangan perkembangan di masa kini.

Ke depan,  Program Sarjana Kebidanan, dan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata berkomitmen untuk terus mengembangkan Program Sister School melalui berbagai inovasi kegiatan dosen mengajar yang relevan dengan kebutuhan sekolah dan perkembangan remaja. Sinergi yang telah terjalin diharapkan tidak hanya mempererat hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah, tetapi juga menjadi langkah bersama dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung lahirnya generasi muda yang sehat, cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Tren Vape di Kalangan Remaja: Lebih Aman atau Lebih Berbahaya dari Rokok?

Tren Vape di Kalangan Remaja: Lebih Aman atau Lebih Berbahaya dari Rokok?

Penulis: Dr. Restu Pangestuti, MKM.

Dalam beberapa tahun terakhir, vape atau rokok elektrik menjadi tren yang sangat populer di kalangan remaja. Dengan desain modern, pilihan rasa seperti buah dan permen, serta kesan “lebih aman” dibanding rokok, vape dengan cepat menarik perhatian generasi muda. Namun, dibalik popularitasnya, muncul pertanyaan penting: apakah vape lebih aman, atau justru menjadi ancaman baru bagi kesehatan remaja?

Fenomena ini bukan sekadar tren biasa. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa penggunaan vape di kalangan remaja meningkat tajam, bahkan di beberapa negara angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Di Indonesia sendiri, sekitar 12% remaja usia 13-17 tahun menggunakan rokok elektronik, menunjukkan bahwa vape telah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda. Hal ini diperkuat oleh strategi pemasaran yang sengaja menargetkan remaja melalui rasa menarik, desain keren, dan promosi di media sosial.

Banyak remaja beranggapan bahwa vape lebih aman daripada rokok karena tidak menghasilkan asap tembakau. Padahal, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Vape tetap mengandung nikotin dan berbagai zat kimia berbahaya yang dapat merusak kesehatan. Menurut WHO, aerosol vape mengandung zat toksik yang berisiko menyebabkan gangguan paru dan jantung. Selain itu, nikotin dalam vape sangat adiktif dan dapat mengganggu perkembangan otak remaja, yang masih berada dalam fase pertumbuhan.

Lebih mengkhawatirkan lagi, berbagai penelitian menunjukkan bahwa remaja yang menggunakan vape memiliki kemungkinan lebih besar untuk beralih ke rokok konvensional. Sebuah studi menemukan bahwa pengguna vape muda bisa hingga tiga kali lebih berisiko menjadi perokok aktif di kemudian hari. Ini berarti vape bukan sekadar alternatif, tetapi bisa menjadi “pintu masuk” menuju kebiasaan merokok yang lebih berbahaya.

Dari sisi kesehatan, rokok konvensional memang telah lama terbukti menyebabkan penyakit serius seperti kanker paru, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan kronis. Sementara itu, vape masih tergolong produk baru sehingga dampak jangka panjangnya belum sepenuhnya diketahui. Namun, berbagai bukti menunjukkan bahwa vape tetap dapat menyebabkan gangguan seperti asma, bronkitis, bahkan cedera paru. Dengan kata lain, meskipun berbeda bentuk, keduanya sama-sama membawa risiko kesehatan.

Selain faktor kesehatan, aspek sosial juga berperan besar dalam meningkatnya penggunaan vape pada remaja. Pengaruh teman sebaya, keinginan untuk terlihat “keren”, serta paparan media sosial membuat vape semakin diterima sebagai bagian dari gaya hidup. Bahkan, banyak remaja yang awalnya tidak merokok menjadi tertarik mencoba vape karena dianggap lebih modern dan tidak berbahaya.

Kesimpulannya, vape bukanlah pilihan yang aman bagi remaja. Meskipun sering dipromosikan sebagai alternatif rokok, kenyataannya vape tetap mengandung zat berbahaya dan berpotensi menimbulkan kecanduan. Rokok konvensional mungkin lebih berbahaya dalam jangka panjang, tetapi vape membawa risiko baru yang tidak kalah serius, terutama sebagai pintu masuk kecanduan nikotin di usia muda. Oleh karena itu, edukasi kesehatan yang tepat sangat penting untuk membantu remaja memahami bahwa baik vape maupun rokok sama-sama berbahaya dan sebaiknya dihindari.

Calon Bidan akan belajar tentang banyak tentang kesehatan. Gabung segera di Prodi D3 Kebidanan dan temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/

Referensi:

  1. World Health Organization. Tobacco: E-cigarettes [Internet]. 2024. Available from: https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/tobacco-e-cigarett
  2. Becker TD, Rice TR. Youth vaping: A review and update on global epidemiology, physical and behavioral health risks, and clinical considerations. Eur J Pediatr. 2022;181(2):453–462.
  3. Becker TD. A clinical overview of adolescent e-cigarette use (vaping). Minerva Pediatr. 2024;76(1):108–118.
  4. Lieu TA, Bibbins-Domingo K. E-cigarette use in adolescents and adults—A JAMA collection. JAMA. 2024;332(9):709–710.
Anak “Zero Dose” sebagai Masalah Besar

Anak “Zero Dose” sebagai Masalah Besar

Penulis: Dr. Restu Pangestuti, MKM.

Anak “zero dose” merupakan istilah dalam kesehatan masyarakat yang merujuk pada anak yang belum pernah menerima satu pun imunisasi rutin sejak lahir. Secara operasional, World Health Organization mendefinisikan anak zero dose sebagai anak yang tidak mendapatkan dosis pertama vaksin DTP (difteri, tetanus, pertusis), yang digunakan sebagai indikator keterjangkauan pelayanan imunisasi dasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa anak tersebut tidak tersentuh oleh sistem pelayanan kesehatan, sehingga menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap penyakit menular.

Permasalahan anak zero dose menjadi isu global dan nasional yang serius. Data dari WHO 2023 terdapat sekitar 14,5 juta anak yang belum mendapatkan imunisasi sama sekali, dan Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah kasus yang tinggi. Di tingkat nasional, diperkirakan sekitar 2,3 juta anak di Indonesia masuk kategori zero dose, yang berarti mereka sama sekali belum memperoleh perlindungan imunisasi dasar. Bahkan, data terbaru menunjukkan masih terdapat ratusan ribu hingga hampir satu juta anak yang belum tersentuh imunisasi, sehingga menjadi fokus utama program kesehatan pemerintah.

Keberadaan anak zero dose memiliki dampak yang sangat besar terhadap kesehatan individu maupun masyarakat. Anak yang tidak diimunisasi memiliki risiko tinggi terkena penyakit menular seperti campak, difteri, dan pertusis, yang dapat menyebabkan komplikasi berat hingga kematian. Selain itu, rendahnya cakupan imunisasi akan menghambat tercapainya kekebalan kelompok (herd immunity), yang seharusnya membutuhkan cakupan minimal sekitar 90% untuk melindungi populasi secara luas.  Ketika cakupan imunisasi tidak optimal, maka risiko terjadinya kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular akan meningkat.

Masalah anak zero dose juga mencerminkan adanya ketimpangan dalam akses layanan kesehatan. Anak-anak yang termasuk dalam kategori ini umumnya berasal dari kelompok masyarakat dengan keterbatasan akses, seperti daerah terpencil, kondisi ekonomi rendah, atau lingkungan dengan tingkat pendidikan yang rendah. Selain itu, faktor lain yang berperan adalah kurangnya pengetahuan dan kesadaran orang tua, serta pengaruh informasi yang salah atau hoaks mengenai imunisasi. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan zero dose tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga faktor sosial, ekonomi, dan budaya.

Oleh karena itu, penanganan anak zero dose memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi. Pemerintah melalui program imunisasi nasional terus berupaya meningkatkan cakupan imunisasi dengan fokus pada kelompok yang belum terjangkau layanan. Upaya ini meliputi penguatan pelayanan kesehatan, peningkatan akses di daerah terpencil, serta edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya imunisasi. Dengan demikian, penurunan jumlah anak zero dose menjadi langkah penting dalam meningkatkan derajat kesehatan anak dan mencegah terjadinya wabah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Calon Bidan akan belajar tentang Imunisasi pada anak. Gabung segera di Prodi D3 Kebidanan dan temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/

Referensi:

  1. World Health Organization (WHO). Zero-dose children definition and monitoring. (World Health Organization)
  2. WHO Indonesia. Immunization coverage and zero-dose children global data. (World Health Organization)
  3. Kementerian Kesehatan RI / ANTARA. Data anak zero dose di Indonesia. (Antara News)
  4. Kemenkes RI. Penguatan program imunisasi nasional. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)