Lebih dari Sekadar Intip Jenis Kelamin: Mengapa USG Penting Bagi Ibu Hamil?

Lebih dari Sekadar Intip Jenis Kelamin: Mengapa USG Penting Bagi Ibu Hamil?

Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Bagi banyak calon orang tua, momen pemeriksaan Ultrasonografi (USG) adalah saat yang paling dinantikan untuk melihat wajah sang buah hati atau menebak jenis kelaminnya. Namun, tahukah Bunda? Di balik layar monitor USG tersebut, ada informasi medis krusial yang jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui apakah si kecil laki-laki atau perempuan.

Pemeriksaan USG adalah jendela medis yang memungkinkan bidan dan dokter memantau kesehatan janin secara akurat. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa USG adalah investasi kesehatan jangka panjang bagi ibu dan bayi.

Mengapa USG Begitu Penting?

USG menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar janin tanpa radiasi. Pemeriksaan ini berfungsi sebagai deteksi dini untuk berbagai kondisi:

  • Memastikan Lokasi Kehamilan: Mengetahui apakah janin berada di dalam rahim atau di luar rahim (ektopik).
  • Memantau Pertumbuhan Janin: Memastikan berat dan ukuran organ janin sesuai dengan usia kehamilan.
  • Mendeteksi Kelainan: Mengidentifikasi potensi cacat lahir atau kelainan struktur tubuh secara dini.
  • Kesehatan Penunjang: Menilai posisi plasenta (ari-ari) serta kecukupan volume air ketuban.

Mitos vs Fakta: Jangan Ragu Lagi!

  • Mitos: “Radiasi USG berbahaya bagi otak bayi.”

Fakta: USG tidak menggunakan sinar-X (radiasi), melainkan gelombang suara. Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan USG medis berbahaya bagi ibu maupun janin.

  • Mitos: “USG harus selalu 4D agar hasilnya akurat.”

Fakta: Untuk tujuan medis/diagnostik, USG 2D sudah sangat mencukupi untuk melihat organ dalam. USG 4D lebih bersifat pelengkap untuk melihat visual wajah.

Kabar Baik: USG Dijamin oleh JKN!

Banyak ibu hamil ragu untuk melakukan pemeriksaan USG karena biaya. Berdasarkan peraturan terbaru, pemeriksaan USG kini masuk dalam skema penjaminan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN/BPJS Kesehatan). Bunda dapat memanfaatkan layanan ini sebanyak 2 kali (pada Trimester I dan III) di fasilitas kesehatan yang bekerja sama, sesuai rujukan dan indikasi medis.

Kapan Jadwal USG yang Tepat?

Berikut panduan jadwal pemeriksaan USG yang dapat ibu ikuti:

Tips Sebelum Melakukan USG

Agar hasil maksimal, gunakan pakaian yang nyaman (dua potong). Khusus pada trimester pertama, Bunda disarankan minum air putih yang cukup sebelum pemeriksaan agar kandung kemih penuh, sehingga kantung kehamilan terlihat lebih jelas pada monitor.

Kesimpulan

Jangan biarkan mitos atau kekhawatiran biaya menghalangi Bunda. Pemeriksaan rutin ke bidan dan dokter serta pemanfaatan teknologi USG adalah kunci mewujudkan kehamilan yang sehat. Mari wujudkan persalinan yang aman dan lahirnya generasi emas yang berkualitas!

Temukan artikel kesehatan lainnya di website Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Prodi Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka

  1. BPJS Kesehatan. (2023). Panduan Layanan JKN untuk Kesehatan Ibu dan Anak.
  2. Kementerian Kesehatan RI. (2022). Peraturan Menteri Kesehatan No. 3 Tahun 2023 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan. Jakarta.
  3. Prawirohardjo, S. (2016). Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
  4. International Society of Ultrasound in Obstetrics and Gynecology (ISUOG). (2021). Patient Information: Ultrasound in Pregnancy.
  5. WHO. (2016). WHO Recommendations on Antenatal Care for a Positive Pregnancy Experience.
Waspada Lonjakan Kasus Campak: Kenali Gejala, Penularan, dan Cara Pencegahannya

Waspada Lonjakan Kasus Campak: Kenali Gejala, Penularan, dan Cara Pencegahannya

written by Isti Chana Zuliyati, S.ST., M.Keb

Belakangan ini, kasus campak kembali menjadi perhatian serius di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Secara global, kasus campak meningkat drastis, dari sekitar 170.000 kasus pada tahun 2022 menjadi lebih dari 320.000 kasus pada tahun 2023. Kematian terutama terjadi pada anak-anak yang tidak menerima imunisasi lengkap . Penyakit yang disebabkan oleh virus paramyxovirus ini sangat menular dan terutama berbahaya bagi anak-anak yang belum divaksinasi, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah.

Apa Itu Campak?

Campak (rubeola) adalah infeksi saluran pernapasan akut yang ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata merah (konjungtivitis), dan ruam kulit kemerahan. Meski sering dianggap sebagai “penyakit anak biasa”, komplikasi campak bisa sangat serius, bahkan fatal. 

Penularan: Sangat Cepat dan Mudah

Virus campak menular melalui percikan ludah (droplet) saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Virus ini dapat bertahan di udara dan bertahan hidup di permukaan benda hingga 2 jam.

Yang perlu diwaspadai:

  • Seseorang yang terinfeksi dapat menularkan virus sejak 4 hari sebelum ruam muncul hingga 4 hari setelah ruam timbul.
  • Tingkat penularannya mencapai 90% pada orang yang tidak kebal (belum pernah terkena campak atau belum divaksin) dan melakukan kontak dekat dengan penderita.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Masa inkubasi campak biasanya 7–14 hari setelah terpapar. Gejala berkembang dalam dua tahap:

Tahap 1 (Prodromal): 2–4 hari pertama

  • Demam tinggi (bisa mencapai 40°C)
  • Batuk kering yang terus-menerus
  • Pilek dan hidung tersumbat
  • Mata merah, berair, dan sensitif terhadap cahaya (fotofobia)
  • Bintik Koplik: bintik putih kecil dengan dasar kemerahan di dalam mulut (tanda khas campak)

Tahap 2 (Ruam):

  • Ruam makulopapular (bintik merah datar hingga menonjol) muncul pertama kali di wajah dan belakang telinga.
  • Dalam 3–4 hari, ruam menyebar ke seluruh tubuh (lengan, badan, paha, kaki).
  • Saat ruam mulai muncul, demam biasanya mencapai puncaknya, lalu perlahan turun setelah 2–3 hari.

Komplikasi Serius Jangan Diabaikan

Campak tidak hanya menyebabkan ruam dan demam. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi:

KelompokKomplikasi
Anak di bawah 5 tahunOtitis media (infeksi telinga), diare berat, pneumonia (penyebab kematian utama pada balita), ensefalitis (radang otak) 
Dewasa & remajaHepatitis, miokarditis (radang otot jantung), pneumonia berat
Ibu hamilKeguguran, kelahiran prematur, bayi berat lahir rendah
Pasca infeksi (langka)Subacute sclerosing panencephalitis (SSPE): kerusakan otak progresif yang fatal, muncul 7–10 tahun setelah infeksi campak

Penanganan: Tidak Ada Obat Khusus, Fokus pada Perawatan Suportif

Hingga saat ini, tidak ada obat antivirus untuk campak. Pengobatan bertujuan meredakan gejala dan mencegah komplikasi:

  • Istirahat total dan konsumsi cairan yang cukup (hindari dehidrasi).
  • Kompres hangat dan obat penurun panas/peredah nyeri (parasetamol atau ibuprofen) sesuai anjuran dokter.
  • Konsumsi makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
  • Jangan berikan aspirin pada anak karena risiko sindrom Reye.
  • Pada kasus berat (pneumonia atau ensefalitis), diperlukan perawatan di rumah sakit dengan oksigen, cairan infus, dan vitamin A dosis tinggi (terbukti menurunkan risiko kematian).

Pencegahan: Vaksinasi adalah Kunci Utama

Vaksin MR (Measles-Rubella) atau MMR (Measles, Mumps, Rubella) adalah cara paling efektif mencegah campak.

a. Jadwal imunisasi (IDAI & Kemenkes RI):

  • Dosis pertama: usia 9 bulan.
    • Dosis kedua: usia 18 bulan (atau bisa diberikan pada program BIAS di usia SD kelas 1).
    • Dosis ketiga (opsional): usia 5–7 tahun jika belum mendapat dosis lengkap.

b. Selain vaksin, lakukan:

  • Isolasi penderita selama 4 hari setelah ruam muncul.
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara rutin.
  • Tidak bepergian atau bersekolah saat sakit.

Mitos dan Fakta

Mitos: “Campak itu penyakit ringan, lebih baik terkena alami biar kebal seumur hidup.”
Fakta: Kekebalan alami memang seumur hidup, tapi risikonya terlalu besar (komplikasi berat dan kematian). Vaksin memberikan kekebalan yang sama aman tanpa risiko penyakit, sebagaimana dibuktikan oleh efektivitas vaksin yang tinggi dalam berbagai penelitian .

Mitos: “Vaksin MR/MMR menyebabkan autisme.”
Fakta: Klaim ini sudah dinyatakan penipuan oleh The Lancet dan puluhan studi besar di seluruh dunia. Tidak ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme. Sebaliknya, tidak memberikan vaksinasi justru membahayakan anak dari risiko kematian akibat campak .

Kapan Harus ke Dokter?

Segera bawa anak atau anggota keluarga ke fasilitas kesehatan jika:

  • Demam tidak turun setelah 3 hari atau melebihi 40°C.
  • Muncul gejala sesak napas, napas cepat, atau batuk semakin parah.
  • Anak tampak sangat lemas, tidak mau minum, atau kejang.
  • Ruam berubah menjadi lepuhan atau kebiruan (tanda infeksi berat).

Vaksinasi adalah investasi kesehatan untuk masa depan yang lebih aman !!


Daftar Pustaka

  1. Riwayat Penyakit Campak dan Kondisi Sanitasi Rumah Tangga terhadap Kasus Stunting pada Balita di Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2024. (2025). Universitas Sriwijaya. 
  2. Katili, A., Ibrahim, S., & Mohamad, R. (2026). Basic Immunization Status and Incidence of Measles Among Toddlers in Working Area of Limboto Public Health Center, Gorontalo Regency. Medical and Health Journal, 5(2). 
  3. Schenk, J., et al. (2021). Immunogenicity and persistence of trivalent measles, mumps, and rubella vaccines: a systematic review and meta-analysis. The Lancet Infectious Diseases, 21(2), 286-295. 
  4. Rangkuti, S. M., et al. (1980). Measles Morbidity and Mortality in the Department of Child Health, Dr. Pirngadi General Hospital, Medan, in 1973-1977. Paediatrica Indonesiana, 20(7-8), 139-144. 
  5. Gautami, W. E., & Sudaryo, M. K. Hubungan Campak Dengan Berat Badan Kurang Pada Anak Usia 24-59 Bulan Di Indonesia (Analisis Data Survei Status Gizi Indonesia 2021). Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia
  6. Ismail, D. (1991). Mortality and morbidity patterns in measles cases admitted to the hospitals in Yogyakarta. Berita Ilmu Pengetahuan dan Kesehatan Masyarakat (BIK)
  7. Li, S., et al. (2020). Effectiveness of M-M-R® II in outbreaks – a systematic literature review of real-world observational studies. Open Forum Infectious Diseases, 7(Suppl 1), S704-S705. 

Detoks Digital: Mengapa Otak Kita Membutuhkan Jeda di Era Hiperkoneksi

Detoks Digital: Mengapa Otak Kita Membutuhkan Jeda di Era Hiperkoneksi

Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Kita semua pernah mengalaminya: niat awalnya hanya mengecek satu pesan masuk sebentar, namun berujung pada kebiasaan scrolling lini masa tanpa henti selama berjam-jam. Di dunia yang memang dirancang sedemikian rupa untuk terus memonopoli perhatian kita, merasa kewalahan oleh rentetan notifikasi layar adalah hal yang sangat manusiawi. Namun, keterikatan terus-menerus ini membawa konsekuensi nyata bagi keseimbangan psikologis dan fisik.

Di sinilah konsep Detoks Digital hadir. Ini bukan sekadar tren gaya hidup sesaat, melainkan sebuah intervensi kesehatan mental yang terbukti secara ilmiah. Detoks digital secara sederhana adalah upaya membatasi, mengurangi, atau menghentikan sementara penggunaan perangkat digital dan media sosial secara sadar dan sengaja.

Mengapa Kita Membutuhkannya?

Teknologi pada dasarnya netral, namun desain antarmuka aplikasi masa kini memicu siklus pelepasan dopamin di otak yang membuat kita kesulitan berhenti. Generasi milenial dan Gen Z, sebagai digital natives, menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kelelahan kognitif (cognitive fatigue) dan kecemasan akibat rasa tertinggal atau yang lebih dikenal dengan Fear of Missing Out (FoMO). Otak manusia tidak berevolusi untuk memproses ribuan informasi dan membandingkan diri dengan ribuan kehidupan orang lain setiap harinya.

Manfaat Detoks Digital Berdasarkan Literatur Terbaru

Riset-riset ilmiah terbaru di tahun 2024 dan awal 2025 semakin menguatkan fakta bahwa memutus koneksi digital secara berkala memiliki dampak pemulihan yang signifikan:

  1. Menurunkan FoMO dan Kecemasan Sebuah riset yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Global Health Research (2025) menemukan bahwa praktik detoks digital terbukti sangat efektif menekan tingkat kecemasan sosial dan FoMO pada remaja. Jeda dari media sosial memutus siklus komparasi diri yang tidak sehat, memberikan otak waktu untuk menyadari bahwa kehidupan tanpa validasi internet tetap berjalan baik.
  2. Meningkatkan Regulasi Emosi dan Produktivitas Studi terbaru dalam World Journal of Advanced Research and Reviews (2025) mengonfirmasi bahwa jeda yang disengaja dari perangkat digital membantu seseorang meregulasi emosi negatif secara lebih matang. Lebih jauh, tanpa interupsi konstan dari ponsel, individu dilaporkan memiliki kemampuan fokus mendalam (deep work) yang langsung mendongkrak tingkat produktivitas tugas sehari-hari.
  3. Adaptasi Pemulihan Mental dan Kualitas Tidur Penelitian dari Universitas Negeri Jakarta (2025) menyoroti bahwa detoks digital kini telah berevolusi menjadi bentuk adaptasi sosial dan perawatan diri (self-care) andalan bagi Gen Z yang merasa tertekan oleh dunia maya. Selain perbaikan mental, membatasi layar—terutama penghentian paparan blue light sebelum tidur—berkorelasi langsung pada kualitas tidur restoratif yang jauh lebih baik.
  4. Mendorong Kebahagiaan Eudaimonik Tinjauan literatur sistematis dalam jurnal Frontiers in Human Dynamics (2025) menyimpulkan bahwa membatasi penggunaan gawai tidak hanya sekadar membuat “tenang”, tetapi mendorong peningkatan kesejahteraan eudaimonik—yakni rasa hidup yang lebih bermakna, dorongan refleksi diri, dan interaksi manusiawi (tatap muka) yang jauh lebih tulus tanpa interupsi digital.

Cara Realistis Memulai Detoks Digital

Mengasingkan diri ke hutan tanpa membawa ponsel atau menghapus total semua aplikasi sering kali bukan solusi yang realistis di era modern ini. Kunci dari detoks digital adalah tentang membangun batasan, bukan isolasi.

  1. Tentukan Zona Bebas Layar: Mulailah dari langkah sederhana, seperti menyepakati aturan bahwa meja makan dan kamar tidur adalah zona terlarang untuk ponsel.
  2. Audit dan Bungkap Notifikasi: Mayoritas aplikasi merampas perhatian Anda melalui notifikasi yang tidak penting. Matikan semua notifikasi kecuali untuk saluran komunikasi paling vital (telepon dan pesan inti).
  3. Terapkan “Puasa” Transisi: Terapkan aturan ketat: tidak ada layar pada 1 jam pertama setelah bangun tidur, dan 1 jam sebelum tidur. Jika Anda menggunakan ponsel untuk alarm, gantilah dengan jam weker analog konvensional.
  4. Siapkan Substitusi: Rasa bosan dan “gatal” ingin mengecek ponsel akan memuncak di hari-hari pertama detoks. Siapkan aktivitas pengganti di dunia nyata, seperti membaca buku fisik, merawat tanaman, atau sekadar jalan sore tanpa menatap layar.

Kesimpulan

Mengambil jeda dari dunia maya adalah langkah jujur untuk menyadari bahwa batas mental kita perlu dijaga. Berdasarkan konsensus penelitian terkini, memberikan jarak antara Anda dan ponsel cerdas Anda adalah salah satu investasi kesehatan mental terbaik yang bisa Anda lakukan saat ini. Berhenti sebentar tidak akan membuat Anda “tertinggal”, ia justru memberi Anda ruang lapang untuk benar-benar hadir menjalani hidup di dunia nyata.

Ayo Bijak dan Cerdas dalam menggunakan media sosial dan tau mana yang prioritas dan penting dalam menggunakan media sosial, untuk itu silahkan gabung dalam Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/

Referensi 

  1. Chauhan, A., & Vijayan, D. (2025). The relationship between digital detox, emotional regulation, and productivity among young adults. World Journal of Advanced Research and Reviews, 26(1), 2421-2427.https://wjarr.com/sites/default/files/fulltext_pdf/WJARR-2025-1201.pdf
  2. Rahman, M. R. F., et al. (2025). The Effectiveness of Emotion Focused Therapy and Digital Detox on Fear of Missing Out in Social Media Among Adolescents: A Mixed Method Study. Indonesian Journal of Global Health Research, 7(6), 679-688.https://jurnal2.globalhealthsciencegroup.com/index.php/IJGHR/article/view/544
  3. Samudra, A. K., et al. (2025). Detoks Digital Sebagai Adaptasi Sosial Generasi Z. Jurnal Bimala (Universitas Negeri Jakarta), 2(1).https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/bimala/article/view/59493
  4. Frontiers in Human Dynamics (2025). Digital detox as a means to enhance eudaimonic well-being. (Systematic review on cognitive and emotional benefits).https://www.frontiersin.org/journals/human-dynamics/articles/10.3389/fhumd.2025.1572587/full
Sitti Hadianti Lulus sebagai Terbaik Prodi pada Wisuda Periode April 2026

Sitti Hadianti Lulus sebagai Terbaik Prodi pada Wisuda Periode April 2026

Lulusan Terbaik S1 Kebidanan Universitas Alma Ata Wisuda Periode April 2026

Universitas Alma Ata kembali meluluskan mahasiswa terbaik dari Program Studi S1 Kebidanan pada wisuda periode April 2026. Salah satu lulusan terbaik, Sitti Hadianti Kunsi (Dhea), berhasil menyelesaikan pendidikan dengan capaian yang membanggakan melalui proses pembelajaran yang penuh tantangan dan bermakna.

Selama menempuh pendidikan, Dhea mengungkapkan bahwa pengalaman akademik yang diperoleh tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkuat kompetensi serta profesionalisme sebagai bidan. Pembelajaran yang diberikan, baik secara teori maupun praktik, dinilai sangat mendukung kesiapan dalam menghadapi dunia kerja.

“Proses pembelajaran yang saya lalui sangat menantang namun bermakna. Ilmu dan pengalaman yang saya peroleh benar-benar membantu saya menjadi lebih siap sebagai tenaga kesehatan,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan harapannya agar Program Studi S1 Kebidanan Universitas Alma Ata terus berkembang dan konsisten dalam mencetak lulusan yang kompeten, berintegritas, serta siap menghadapi berbagai tantangan di bidang kesehatan.

Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan mengembangkan diri, serta memperkuat peran lulusan kebidanan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di masyarakat.

Digital Parenting: Dampak Screen Time pada Perkembangan Motorik dan Bicara Bayi

Digital Parenting: Dampak Screen Time pada Perkembangan Motorik dan Bicara Bayi

Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Di era digital saat ini, pemandangan balita yang duduk tenang menatap layar ponsel saat makan atau di tengah kemacetan mudik telah menjadi hal yang lumrah. Strategi ini sering disebut sebagai “penyelamat” bagi orang tua milenial agar anak tidak rewel. Namun, di balik ketenangan semu tersebut, terdapat risiko serius yang mengintai fase golden age si kecil, terutama pada perkembangan motorik dan kemampuan bicaranya.

Mengapa Screen Time Menjadi Masalah di Usia Dini?

Bayi dan balita belajar melalui interaksi dua arah dan eksplorasi fisik terhadap lingkungan sekitarnya. Otak mereka berkembang berdasarkan stimulasi sensorik (sentuhan, bau, suara manusia, dan gerakan). Gadget memberikan stimulasi yang bersifat pasif dan satu arah, yang secara signifikan mengurangi kesempatan anak untuk melatih fungsi tubuhnya.

  1. Dampak pada Kemampuan Motorik (Kasar dan Halus)

Perkembangan motorik membutuhkan gerakan aktif. Saat seorang bayi terpaku pada layar (sedentari), ia kehilangan waktu krusial untuk:

  • Motorik Kasar: Merangkak, berjalan, dan memanjat yang penting untuk kekuatan otot inti dan keseimbangan.
  • Motorik Halus: Gerakan layar sentuh (hanya menggeser) tidak melatih koordinasi mata dan tangan seakurat saat anak memegang mainan fisik, menyusun balok, atau makan sendiri menggunakan jarinya (pincer grasp).
  1. Kaitan Erat dengan Speech Delay (Keterlambatan Bicara)

Bicara adalah proses meniru dan merespons. Layar tidak bisa memberikan umpan balik sosial. Penelitian menunjukkan bahwa setiap peningkatan 30 menit paparan layar pada bayi usia 6–24 bulan berkaitan dengan peningkatan risiko keterlambatan bicara sebesar 49%. Anak belajar bahasa dari gerakan bibir dan intonasi orang tua yang nyata, bukan dari karakter digital yang bergerak cepat.

Fenomena “Gadget saat Makan” dan Mudik

Memberikan gadget saat makan (distraksi) justru mematikan sinyal kenyang dan lapar di otak anak, yang berisiko menyebabkan gangguan makan di masa depan. Begitu pula saat mudik; perjalanan panjang memang melelahkan, namun mengganti aktivitas fisik dengan layar selama berjam-jam dapat membuat otot anak kaku dan menghambat kemampuan sensoriknya.

Panduan Adaptasi bagi Orang Tua

Berdasarkan rekomendasi global (WHO & AAP), berikut adalah langkah yang bisa diambil:

  1. Usia 0–18 Bulan: Nol screen time (kecuali video call dengan keluarga).
  2. Ganti Gadget dengan Busybox: Saat perjalanan mudik, siapkan buku kain, mainan sensori, atau ajak anak mengobrol tentang pemandangan diluar jendela.
  3. Makan Tanpa Layar: Fokus pada tekstur makanan dan interaksi saat makan untuk melatih saraf motorik oral anak.

Kesimpulan

Masa golden age tidak bisa diulang. Meskipun teknologi adalah bagian dari masa depan, namun fondasi perkembangan fisik dan bahasa anak tetap membutuhkan sentuhan manusia dan gerak aktif. Menjauhkan layar hari ini adalah investasi untuk kemandirian motorik dan kecerdasan komunikatif anak di masa depan.

Ingin Belajar Lebih Dalam tentang Tumbuh Kembang Anak?

Menjadi ahli dalam pemantauan tumbuh kembang adalah salah satu kompetensi utama seorang bidan. Kami mendidik calon bidan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga adaptif terhadap tantangan kesehatan di era digital. Ingin menjadi Bidan profesional? Lanjutkan studimu di Prodi D3 Kebidanan, Universitas Alma Ata. Prodi Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

DAFTAR PUSTAKA

  1. American Academy of Pediatrics (AAP). (2024). Media and Young Minds. Pediatrics Journal.
  2. Cunningham, F. G., et al. (2022). Williams Obstetrics. McGraw-Hill Education.
  3. Madigan, S., et al. (2019). Association Between Screen Time and Children’s Performance on a Developmental Screening Test. JAMA Pediatrics.
  4. Saraswat, L., et al. (2023). Digital Media Exposure and Its Impact on Speech Development in Early Childhood: A Systematic Review. Journal of Child Development. 
  5. World Health Organization (WHO). (2019). Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep for Children under 5 Years of Age. Geneva. 
  6. Kementerian Kesehatan RI. (2023). Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Jakarta.