Aku Suka Dia, Lalu Harus Bagaimana? Cara Sehat Mengungkapkan Ketertarikan pada Masa Remaja

Aku Suka Dia, Lalu Harus Bagaimana? Cara Sehat Mengungkapkan Ketertarikan pada Masa Remaja

Oleh Fatimatasari, M.Keb., Bd

Masa remaja merupakan periode ketika seseorang mulai mengenal berbagai perubahan, termasuk munculnya rasa tertarik kepada orang lain. Perasaan senang, kagum, hingga jatuh cinta sering kali menjadi pengalaman pertama yang membekas dalam kehidupan seorang remaja. Namun, tidak sedikit remaja yang masih bingung bagaimana menyikapi perasaan tersebut dengan cara yang sehat dan bertanggung jawab.

Fenomena ini menjadi perhatian Dosen Prodi Sarjana & Profesi Bidan Alma Ata, Fatimatasari, M.Keb., Bd., yang mengajak remaja untuk memahami bahwa jatuh cinta merupakan bagian normal dari proses perkembangan. Menurutnya, yang perlu diperhatikan bukanlah munculnya rasa suka itu sendiri, melainkan bagaimana seseorang mengelola perasaan tersebut agar tidak berdampak negatif terhadap masa depannya.

“Menyukai seseorang adalah hal yang sangat wajar. Hampir setiap remaja pernah mengalaminya. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana tetap mampu mengambil keputusan secara bijaksana meskipun sedang diliputi perasaan yang kuat,” jelas Fatimatasari.

Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang mulai jatuh cinta, sering kali muncul perubahan dalam cara berpikir maupun perilaku. Ada remaja yang menjadi lebih bersemangat menjalani aktivitas sehari-hari, tetapi tidak sedikit pula yang mulai kehilangan fokus belajar, mengabaikan tanggung jawab, bahkan rela melakukan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan nilai yang selama ini diyakininya.

Menurut Fatimatasari, kondisi tersebut bukan berarti remaja tidak mampu berpikir dengan baik. Sebaliknya, hal itu berkaitan dengan proses perkembangan otak yang memang masih berlangsung pada masa remaja.

Penelitian menunjukkan bahwa bagian otak yang berfungsi mengendalikan diri, mempertimbangkan risiko, dan mengambil keputusan jangka panjang masih terus berkembang hingga usia dewasa muda. Sementara itu, bagian otak yang berkaitan dengan emosi dan penghargaan sosial berkembang lebih cepat. Akibatnya, remaja sering kali mengetahui bahwa suatu tindakan berisiko, tetapi tetap terdorong melakukannya karena dipengaruhi emosi, rasa penasaran, atau keinginan untuk diterima oleh orang yang disukai. 

“Karena itu, ketika sedang menyukai seseorang, penting untuk tidak hanya mengikuti perasaan, tetapi juga menggunakan pertimbangan yang matang. Apa yang terasa menyenangkan hari ini belum tentu menjadi keputusan terbaik untuk masa depan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Fatimatasari menekankan pentingnya memiliki batasan (boundaries) dalam setiap hubungan. Menurutnya, batasan bukanlah bentuk pembatasan kebebasan, melainkan cara seseorang menjaga harga diri, keamanan, dan masa depannya.

Saat menjalin kedekatan dengan seseorang, remaja akan dihadapkan pada berbagai pilihan, mulai dari intensitas komunikasi, waktu yang dihabiskan bersama, hingga keputusan untuk membagikan informasi pribadi melalui media sosial atau aplikasi pesan. Dalam situasi seperti itu, keputusan sebaiknya diambil berdasarkan nilai dan prinsip pribadi, bukan karena tekanan pasangan maupun pengaruh lingkungan.

“Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya. Justru hubungan yang sehat adalah hubungan yang membuat kedua belah pihak tetap berkembang menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkap Fatimatasari. 

Ia juga mengingatkan bahwa setiap remaja perlu memiliki tujuan hidup yang jelas sebagai kompas ketika menghadapi berbagai keputusan dalam hubungan. Cita-cita pendidikan, impian karier, keluarga, kesehatan, maupun nilai-nilai yang diyakini dapat menjadi pengingat agar seseorang tidak mudah terbawa oleh emosi sesaat.

Menurut berbagai penelitian, remaja yang memiliki tujuan hidup yang jelas cenderung lebih mampu menolak tekanan dari pasangan maupun teman sebaya. Mereka tetap dapat menikmati proses mengenal seseorang tanpa harus mengorbankan impian yang sedang diperjuangkan.

“Sebelum mengambil keputusan, cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah tindakan ini mendekatkan saya pada cita-cita atau justru menjauhkan saya dari tujuan hidup? Pertanyaan sederhana seperti itu sering kali membantu kita mengambil keputusan yang lebih bijaksana,” jelasnya. 

Selain menjaga batasan dalam hubungan secara langsung, Fatimatasari juga mengingatkan pentingnya berhati-hati terhadap jejak digital. Kemajuan teknologi membuat komunikasi menjadi semakin mudah, tetapi juga menghadirkan berbagai risiko baru apabila tidak digunakan secara bijaksana.

Ia menjelaskan bahwa banyak remaja merasa lebih berani membagikan foto, video, maupun cerita pribadi melalui media digital karena merasa hanya berkomunikasi dengan orang yang dipercaya. Padahal, informasi yang telah dikirimkan hampir tidak pernah benar-benar dapat ditarik kembali.

Berbagai survei internasional menunjukkan bahwa sebagian remaja pernah mengirimkan pesan maupun konten pribadi ketika berada dalam hubungan yang dekat secara emosional. Namun, tidak sedikit yang kemudian menyesali keputusan tersebut setelah hubungan berakhir. Oleh karena itu, setiap kali akan membagikan sesuatu di dunia digital, remaja perlu mempertimbangkan apakah mereka tetap merasa nyaman apabila suatu saat informasi tersebut diketahui orang lain. 

“Jejak digital sering kali bertahan jauh lebih lama dibandingkan sebuah hubungan. Karena itu, jangan biarkan keputusan yang diambil karena emosi sesaat berdampak panjang terhadap kehidupan di masa depan,” kata Fatimatasari.

Menurutnya, hubungan yang sehat juga ditandai dengan adanya penghargaan terhadap batasan masing-masing. Seseorang yang benar-benar menghargai pasangannya tidak akan memaksa, mengancam, ataupun membuat pasangannya merasa bersalah demi memenuhi keinginannya.

Sebaliknya, hubungan yang baik memberikan ruang bagi setiap individu untuk mengatakan “tidak” tanpa takut kehilangan kasih sayang maupun penghargaan dari orang lain. Sikap saling menghormati inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun hubungan yang sehat.

Fatimatasari berharap para remaja tidak terburu-buru memaknai cinta sebagai alasan untuk mengorbankan pendidikan, cita-cita, maupun harga diri. Masa remaja merupakan waktu terbaik untuk mengenali diri sendiri, membangun karakter, dan mempersiapkan masa depan.

“Jatuh cinta adalah pengalaman yang indah dan sangat manusiawi. Namun, kedewasaan bukan diukur dari seberapa cepat seseorang memiliki pasangan, melainkan dari kemampuannya tetap mengenali diri sendiri, menjaga batasan, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab ketika sedang merasakan cinta,” tuturnya.

Sebagai akademisi di bidang kebidanan dan kesehatan remaja, Fatimatasari berharap semakin banyak remaja yang memahami bahwa hubungan yang sehat selalu dibangun atas dasar saling menghargai, komunikasi yang baik, serta kemampuan mengendalikan diri. Dengan demikian, pengalaman menyukai seseorang dapat menjadi bagian positif dari proses tumbuh kembang, bukan menjadi penghambat dalam meraih masa depan.

“Apa pun impian yang sedang diperjuangkan hari ini, jangan biarkan perasaan sesaat membuatmu melupakan masa depan. Cinta yang sehat akan mendukungmu untuk terus bertumbuh, bukan menghentikan langkahmu menuju cita-cita,” tutup Fatimatasari. 

Referensi

  1. McCormick, E. M., Qu, Y., & Telzer, E. H. (2024). Experience-dependent neurodevelopment of self-regulation in adolescence. Developmental Cognitive Neuroscience, 65, 101338.
  2. Willems, Y. E., Li, J. B., Bartels, M., & Finkenauer, C. (2024). Individual differences in adolescent self-control: The role of gene-environment interplay. Current Opinion in Psychology, 60, 101897.
  3. Thulin, E. J., Kernsmith, P., Fleming, P. J., Heinze, J. E., Temple, J., & Smith-Darden, J. (2023). Coercive-sexting: Predicting adolescent initial exposure to electronic coercive sexual dating violence. Computers in Human Behavior, 141, 107641.
  4. World Health Organization. (2024). Adolescent Health.
  5. UNICEF. (2024). Adolescent Development and Participation.
Bukan Sekadar Mood Swing Biasa: Mengenali Jeritan Minta Tolong di Balik Amarah Remaja

Bukan Sekadar Mood Swing Biasa: Mengenali Jeritan Minta Tolong di Balik Amarah Remaja

Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Menghadapi remaja yang tiba-tiba meledak marah, membanting pintu, atau menjadi sangat sensitif seringkali membuat orang tua mengelus dada. Di tengah masyarakat, perilaku ini jamak dilabeli sebagai mood swing (perubahan suasana hati) biasa akibat badai hormon pubertas. Orang tua kerap menganggapnya sebagai fase “anak nakal” atau “pemberontak” yang akan hilang dengan sendirinya.

Namun, sains dan kedokteran jiwa modern justru mengungkap fakta sebaliknya. Di balik amarah yang meledak-ledak atau sikap iritabel (mudah tersinggung) yang konsisten, bisa jadi ada jeritan minta tolong dari seorang remaja yang sedang berjuang melawan gangguan mental serius, seperti depresi atau kecemasan berat.

Mengapa Amarah Menjadi Topeng Depresi Remaja?

Pada orang dewasa, depresi umumnya bermanifestasi dalam bentuk kesedihan yang mendalam, lesu, tangisan, dan penarikan diri. Namun, buku panduan klinis tertinggi psikiatri dunia, DSM-5-TR, menegaskan bahwa pada anak dan remaja, suasana hati yang iritabel (mudah marah, tersinggung, dan frustasi) dapat menggantikan suasana hati yang sedih sebagai gejala utama depresi.

Secara neurobiologis, otak remaja sedang mengalami perombakan besar-besaran. Bagian otak bernama prefrontal cortex (pusat kendali logika dan emosi) belum matang sempurna, sementara amygdala (pusat respons emosi mentah) sangat aktif. Ketika remaja mengalami tekanan mental yang hebat entah karena perundungan, tekanan akademik, atau masalah keluarga mereka belum memiliki kapasitas untuk mengartikulasikan rasa sakit tersebut dengan kata-kata. Akibatnya, rasa sakit, frustasi, dan ketakutan dalam batin mereka bertransformasi menjadi agresivitas dan amarah.

Garis Batas: Kapan Mood Swing Berubah Menjadi Alarm Bahaya?

Sebagai orang tua dan pendidik, kita harus bisa membedakan mana perubahan emosi pubertas yang wajar dan mana yang merupakan gejala klinis. Berikut adalah indikator perbedaannya:

KarakteristikMood Swing Pubertas NormalGangguan Mental Klinis (Depresi/Kecemasan)
DurasiBerlangsung singkat, emosi cepat berubah (misal: marah lalu sejam kemudian tertawa lagi).Menetap hampir sepanjang hari, setiap hari, selama minimal 2 minggu berturut-turut.
PemicuJelas pemicunya (misal: bertengkar dengan teman, dilarang bermain game).Sering kali meledak tanpa alasan yang jelas atau reaksi marahnya sangat tidak proporsional.
Dampak FungsiAnak tetap bisa bersekolah, makan dengan baik, dan bersosialisasi secara normal.Mengganggu fungsi hidup: nilai sekolah anjlok, mengunci diri di kamar, atau pola tidur hancur.
Keluhan FisikJarang disertai keluhan fisik kronis.Sering diikuti keluhan fisik (gejala somatik) seperti sakit kepala, sakit perut, atau kelelahan ekstrim.

Sinyal Terselubung yang Harus Diwaspadai

Selain amarah, perhatikan apakah ledakan emosi tersebut diikuti oleh perubahan perilaku berikut:

  1. Anhedonia: Kehilangan minat total pada hobi yang dulunya sangat mereka gilai.
  2. Perubahan Tidur Ekstrem: Mengalami insomnia parah atau justru tidur seharian (hypersomnia) sebagai bentuk pelarian.
  3. Self-Talk Negatif: Mengeluarkan kalimat bernada keputusasaan, seperti “Aku cuma bikin susah semua orang” atau “Kenapa aku harus lahir kalau cuma gagal”.

Langkah Bijak Orang Tua: Merespons Amarah dengan Empati

Saat remaja mengamuk, meresponsnya dengan kemarahan yang lebih besar atau kalimat yang meremehkan (“Kamu itu kurang bersyukur!”) hanya akan menutup rapat pintu komunikasi. Langkah pertama yang harus diambil adalah:

  1. Dekati saat reda: Jangan mengkonfrontasi anak saat emosinya berada di puncak. Tunggu hingga mereka tenang.
  2. Gunakan kalimat validasi: Katakan, “Ibu lihat belakangan ini kamu gampang stres dan marah. Ibu tahu kamu lagi nggak baik-baik saja. Ibu di sini bukan untuk menghukum, tapi untuk dengerin cerita kamu.”
  3. Cari Bantuan Profesional: Jangan ragu membawa remaja menemui psikolog anak atau psikiater jika amarah mereka mulai mengarah pada tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm) atau merusak barang.

Mengenali gangguan mental sejak dini adalah kunci menyelamatkan masa depan mereka. Amarah remaja bukan untuk dimusuhi, melainkan didekati dengan kepekaan, karena di balik kepalan tangan yang marah, sering kali ada hati anak yang sedang terluka dan butuh pertolongan.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/

Referensi

  1. World Health Organization (WHO). (2024). Adolescent Mental Health: Fact Sheets and Global Guidelines. Jenewa: WHO.
  2. American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). Washington, DC: American Psychiatric Publishing.
  3. UNICEF. (2023). The State of the World’s Children: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
  4. The Lancet Psychiatry Journal. Neurodevelopmental Changes and Emotional Regulation in Adolescence: A Longitudinal Study
Project MCHP dan Sister School Bersinergi Tingkatkan Literasi Kesehatan Remaja

Project MCHP dan Sister School Bersinergi Tingkatkan Literasi Kesehatan Remaja

Bantul, 14 Juli 2026 – Program Sarjana Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata kembali melaksanakan kegiatan Sister School di SMAN 1 Bambanglipuro sebagai bagian dari program dosen mengajar yang telah terjalin secara berkelanjutan. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari sinergi antara Universitas Alma Ata dan SMAN 1 Bambanglipuro dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja melalui edukasi yang aplikatif, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Pada pelaksanaan kali ini, kegiatan menjadi lebih istimewa karena tidak hanya melibatkan dosen sebagai narasumber, tetapi juga mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Program Sarjana Kebidanan Universitas Alma Ata. Keterlibatan mahasiswa merupakan implementasi Project Mata Kuliah Maternal and Child Health Promotion in Youth Community (MCHP), yaitu mata kuliah yang berfokus pada pengembangan kompetensi mahasiswa dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi program promosi kesehatan ibu dan anak di komunitas, termasuk pada kelompok remaja sebagai calon generasi produktif dan calon orang tua di masa mendatang.

Mengangkat tema “Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja”, kegiatan diikuti oleh siswa-siswi kelas XII SMAN 1 Bambanglipuro. Tema ini dipilih karena masa remaja merupakan periode transisi yang sangat penting dalam siklus kehidupan. Pada fase ini terjadi perubahan yang signifikan, baik dari aspek fisik, psikologis, emosional, sosial, maupun perkembangan reproduksi. Perubahan tersebut sering kali menimbulkan berbagai pertanyaan maupun tantangan yang membutuhkan pendampingan dan edukasi yang tepat agar remaja mampu memahami dirinya, menjaga kesehatan, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Melalui kegiatan ini, dosen bersama mahasiswa RPL memberikan edukasi mengenai konsep dasar pertumbuhan dan perkembangan remaja, perubahan fisik selama masa pubertas, perkembangan psikososial, kesehatan reproduksi remaja, pentingnya menjaga kesehatan mental, pembentukan citra tubuh (body image) yang positif, pola hidup sehat, hingga pentingnya membangun keterampilan hidup (life skills) sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan pada masa remaja.

Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui presentasi, diskusi kelompok, permainan edukatif, studi kasus, dan sesi tanya jawab. Mahasiswa RPL berperan aktif sebagai fasilitator dalam mendampingi diskusi, memandu aktivitas kelompok, sekaligus memberikan edukasi kepada peserta. Pendekatan pembelajaran partisipatif tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat, berbagi pengalaman, serta mendiskusikan berbagai permasalahan yang sering dihadapi selama masa remaja dalam suasana yang terbuka dan menyenangkan.

Selain memperoleh materi mengenai pertumbuhan dan perkembangan remaja, peserta juga diajak memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi sejak dini, membangun hubungan pertemanan yang positif, mengelola emosi, meningkatkan rasa percaya diri, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Edukasi ini diharapkan mampu membentuk kesadaran bahwa kesehatan remaja tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga dipengaruhi oleh kesehatan mental, lingkungan sosial, dan kemampuan dalam mengambil keputusan yang tepat.

Sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran, seluruh peserta mengikuti pre-test sebelum kegiatan dimulai untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal mengenai pertumbuhan dan perkembangan remaja. Setelah seluruh rangkaian edukasi selesai, peserta kembali mengikuti post-test sebagai bentuk evaluasi terhadap peningkatan pemahaman setelah memperoleh materi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta, yang juga didukung oleh tingginya antusiasme siswa selama mengikuti kegiatan. Hal tersebut terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, keaktifan dalam diskusi kelompok, serta partisipasi siswa dalam berbagai aktivitas edukatif yang diberikan.

Bagi mahasiswa RPL, kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang sangat bermakna karena memberikan kesempatan untuk mengimplementasikan teori yang telah dipelajari di kelas ke dalam praktik nyata di masyarakat. Melalui Project Mata Kuliah Maternal and Child Health Promotion in Youth Community (MCHP), mahasiswa belajar menyusun media promosi kesehatan, merancang metode edukasi yang sesuai dengan karakteristik sasaran, melaksanakan penyuluhan kesehatan, melakukan evaluasi hasil pembelajaran, serta mengembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, kepemimpinan, dan pemberdayaan masyarakat. Pengalaman tersebut diharapkan mampu memperkuat kompetensi mahasiswa sebagai calon bidan yang profesional, komunikatif, serta mampu melaksanakan upaya promotif dan preventif di berbagai tatanan pelayanan kesehatan.

Program Sister School sendiri merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kolaborasi yang berkelanjutan antara Universitas Alma Ata dan SMAN 1 Bambanglipuro, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi media pembelajaran yang tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa sekolah, tetapi juga memperkuat proses pembelajaran mahasiswa melalui pengalaman nyata di lapangan.

Ketua Program Studi Sarjana Kebidanan Universitas Alma Ata menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan berbasis komunitas merupakan salah satu strategi pembelajaran yang efektif untuk membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, kemampuan komunikasi, serta kompetensi dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.

Ke depan, Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata berkomitmen untuk terus mengembangkan kegiatan Sister School yang terintegrasi dengan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning). Melalui implementasi Project Mata Kuliah Maternal and Child Health Promotion in Youth Community (MCHP), diharapkan mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang autentik sekaligus mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Sinergi yang berkelanjutan antara perguruan tinggi dan sekolah diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang lebih sehat, cerdas, berkarakter, serta memiliki kesiapan dalam menghadapi berbagai tantangan pada masa remaja hingga kehidupan dewasa.

Jangan Tunggu Sampai Retak: Cara Mengenali Tanda Anak Remaja Sedang Terluka Secara Mental

Jangan Tunggu Sampai Retak: Cara Mengenali Tanda Anak Remaja Sedang Terluka Secara Mental

Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Masa remaja sering kali dianalogikan sebagai jembatan yang penuh badai. Di satu sisi, mereka bukan lagi anak-anak yang bisa dengan mudah memeluk orang tua saat menangis; di sisi lain, mereka belum menjadi orang dewasa yang matang dalam mengelola gejolak emosi. Perubahan hormon, tekanan akademik, dinamika pertemanan, hingga paparan media sosial yang masif membuat kelompok usia ini sangat rentan mengalami guncangan psikologis.

Sayangnya, banyak orang tua dan lingkungan terdekat yang terlambat menyadari ketika seorang remaja sedang terluka secara mental. Perubahan perilaku mereka kerap kali disalah artikan sebagai “pemberontakan remaja biasa,” “remaja manja,” atau sekadar mood swing akibat pubertas. Padahal, luka mental yang diabaikan terlalu lama bisa memicu keretakan psikologis yang mendalam seperti depresi berat, gangguan kecemasan, hingga tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm).

Sebelum struktur mental mereka benar-benar retak, sangat krusial bagi kita untuk mengenali sinyal-sinyal darurat terselubung yang mereka tunjukkan.

1. Menatap di Balik Topeng: Membedakan Mood Swing dan Gangguan Klinis

Perubahan suasana hati pada remaja adalah hal yang wajar. Namun, bagaimana kita tahu bahwa itu sudah melewati batas normal? Kuncinya terletak pada durasi (waktu), intensitas (keparahan), dan fungsi (dampaknya pada kehidupan sehari-hari).

Berdasarkan panduan klinis global, berikut adalah tanda-tanda awal remaja yang sedang terluka secara emosional:

  1. Iritabilitas yang Meledak-ledak: Berbeda dengan orang dewasa yang cenderung menunjukkan kesedihan dengan menangis, depresi pada remaja lebih sering bermanifestasi sebagai kemarahan. Mereka menjadi sangat sensitif, mudah tersinggung oleh hal sepele, gampang frustasi, dan defensif.
  2. Anhedonia (Kehilangan Percikan Minat): Perhatikan jika anak remaja tiba-tiba berhenti melakukan hobi yang sangat mereka cintai, misalnya tidak mau lagi menyentuh alat musiknya, berhenti berolahraga, atau menolak berkumpul dengan sahabat karibnya.
  3. Keluhan Fisik Misterioso (Gejala Somatik): Sering kali, remaja tidak tahu cara Mengartikulasikan rasa sakit mentalnya ke dalam kata-kata. Akibatnya, stres tersebut bermanifestasi menjadi gejala fisik kronis, seperti sakit kepala yang sering kambuh, nyeri lambung/sakit perut, atau kelelahan ekstrem yang tidak hilang meski sudah tidur cukup.
  4. Penarikan Diri secara Ekstrem (Social Withdrawal): Menghabiskan waktu sendirian di kamar adalah hal normal bagi remaja yang butuh privasi. Namun, jika mereka mulai mengisolasi diri sepenuhnya, menolak interaksi sosial dengan keluarga maupun teman, dan mengabaikan perawatan diri (jarang mandi atau tidak peduli penampilan), ini adalah alarm darurat.

2. Mengapa Deteksi Dini Begitu Krusial?

Otak remaja tengah berada dalam fase perkembangan yang intens, khususnya pada area prefrontal cortex (pusat kendali emosi, keputusan, dan logika). Ketika mereka mengalami tekanan mental yang berat tanpa intervensi yang tepat, arsitektur otak ini dapat mengalami stres kronis yang berdampak jangka panjang hingga mereka dewasa.

Tabel di bawah ini merangkum perbandingan pola perilaku normal vs. sinyal bahaya pada remaja:

Aspek PerilakuPerubahan Normal (Pubertas)Sinyal Bahaya (Terluka Secara Mental)
Pola TidurSuka tidur larut malam saat akhir pekan, tapi tetap segar.Insomnia parah atau hypersomnia (tidur belasan jam sebagai pelarian).
Prestasi SekolahMengalami penurunan nilai pada satu mata pelajaran yang sulit.Nilai rapor turun drastis secara keseluruhan disertai sering bolos atau mogok sekolah.
KomunikasiLebih memilih mengobrol dengan teman daripada orang tua.Berhenti berkomunikasi dengan siapapun dan cenderung menutup diri total.
Nafsu MakanPorsi makan bertambah drastis karena pertumbuhan fisik.Kehilangan nafsu makan ekstrem atau justru makan berlebihan akibat stres (emotional eating).

3. Langkah Pertama Orang Tua: Mengulurkan Tangan Sebelum Retak

Jika Anda melihat tanda-tanda di atas terjadi pada anak selama lebih dari dua minggu berturut-turut, jangan langsung menghakimi atau menginterogasi mereka. Gunakan pendekatan psikologis yang merangkul:

  1. Ciptakan Safe Space (Ruang Aman): Masuklah ke dunia mereka tanpa membawa penghakiman. Hindari kalimat seperti: “Kamu kurang bersyukur,” atau “Zaman Ayah dulu lebih susah.” Kalimat ini akan membuat mereka semakin menutup diri.
  2. Validasi Perasaannya: Katakan, “Ibu perhatikan belakangan ini kamu kelihatan lelah dan sering murung. Ibu di sini bukan untuk marah, tapi karena Ibu sayang sama kamu. Kalau kamu siap cerita, Ibu mau mendengarkan.”
  3. Jangan Ragu ke Profesional: Jika situasi tidak membaik, menormalisasi gangguan mental atau menganggapnya akan “sembuh sendiri seiring waktu” adalah kekeliruan besar. Membawa anak berkonsultasi ke psikolog remaja atau psikiater adalah bentuk kasih sayang tertinggi untuk menyelamatkan masa depan mereka.

Mengenali luka mental sejak dini adalah jaring pengaman terbaik. Jangan tunggu sampai struktur mental anak kita retak dan hancur, karena mencegah dan mengobati diawal jauh lebih mudah daripada menyatukan kembali kepingan yang sudah patah.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/

Referensi

  1. World Health Organization (WHO). (2024). Adolescent Mental Health: Fact Sheets and Global Prevalence. Jenewa: WHO.
  2. UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
  3. American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). Washington, DC: American Psychiatric Publishing.
  4. The Lancet Psychiatry Journal. (2023). Early Intervention and Neurodevelopmental Pathways in Adolescent Mood Disorders. Volume 10, Issue 4, pp. 245-257.

Fenomena Soft Saving di Kalangan Remaja: Tren Finansial yang Mendukung Kesehatan Mental

Fenomena Soft Saving di Kalangan Remaja: Tren Finansial yang Mendukung Kesehatan Mental

Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.

Universitas Alma Ata, Juli 2026 – Setelah tren healing, quiet quitting, dan underconsumption core, kini media sosial ramai membahas fenomena soft saving. Istilah ini banyak digunakan oleh Generasi Z untuk menggambarkan kebiasaan mengelola keuangan secara lebih realistis tanpa harus menekan diri demi mencapai target tabungan yang terlalu tinggi.

Berbeda dengan konsep menabung secara ekstrem, soft saving mengajarkan seseorang untuk tetap menyisihkan uang sesuai kemampuan sambil tetap memenuhi kebutuhan dasar, menikmati waktu bersama keluarga, menjaga kesehatan, dan memiliki kualitas hidup yang baik. Tren ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya biaya hidup, tekanan ekonomi, dan tingginya tuntutan sosial yang dirasakan oleh banyak anak muda.

Di media sosial, tidak sedikit remaja yang mengaku merasa cemas karena harus mengikuti gaya hidup teman atau influencer. Keinginan membeli barang yang sedang viral, nongkrong di tempat populer, hingga mengikuti tren fesyen seringkali memicu perilaku konsumtif. Akibatnya, sebagian remaja mengalami stres akibat pengeluaran yang melebihi kemampuan finansial.

Para ahli kesehatan mental menjelaskan bahwa kondisi keuangan dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang. Kekhawatiran terhadap masalah ekonomi dapat meningkatkan stres, kecemasan, bahkan menurunkan kualitas tidur. Oleh karena itu, kemampuan mengelola keuangan sejak usia remaja merupakan salah satu keterampilan hidup (life skills) yang penting untuk dimiliki.

Dalam perspektif kesehatan, soft saving bukan hanya tentang menabung, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan hidup. Remaja diajak untuk memahami bahwa kesehatan fisik dan mental merupakan investasi jangka panjang. Menyisihkan anggaran untuk membeli makanan bergizi, mengikuti aktivitas olahraga, atau melakukan pemeriksaan kesehatan bila diperlukan merupakan bentuk investasi yang sama pentingnya dengan menabung.

Bagi remaja putri, pengelolaan keuangan juga dapat mendukung pemenuhan kebutuhan kesehatan reproduksi. Membeli makanan bergizi untuk mencegah anemia, menyediakan kebutuhan kebersihan menstruasi, serta mengikuti kegiatan olahraga merupakan contoh pengeluaran yang memberikan manfaat bagi kesehatan di masa depan.

Remaja juga perlu membangun literasi keuangan dan literasi digital agar tidak mudah terpengaruh oleh promosi maupun gaya hidup yang ditampilkan di media sosial. Banyak konten yang memperlihatkan kehidupan mewah atau tren belanja tanpa menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Dengan memahami cara kerja media sosial dan berpikir kritis terhadap informasi yang diterima, remaja akan lebih mampu mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan pribadi, bukan semata-mata karena tekanan lingkungan.

Yang tidak kalah penting, remaja hendaknya tidak menjadikan soft saving sebagai alasan untuk hidup secara berlebihan dalam berhemat hingga mengorbankan kebutuhan dasar atau kehilangan kesempatan mengembangkan diri. Menabung memang penting, tetapi menikmati pengalaman belajar, membangun pertemanan yang sehat, mengikuti kegiatan positif, dan menjaga kesehatan juga merupakan investasi jangka panjang yang akan memberikan manfaat bagi kehidupan di masa depan.

Pada akhirnya, tren soft saving mengajarkan bahwa menjadi sehat tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh kemampuan seseorang mengelola kehidupan secara seimbang. Menabung itu penting, tetapi menjaga kesehatan adalah investasi yang nilainya jauh lebih besar. Remaja yang mampu mengelola keuangan sekaligus menjaga kesehatan akan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu, anak dan remaja yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka

  1. American Psychological Association. (2023). Stress in America™ 2023: Financial stress and well-being. American Psychological Association.
  2. Consumer Financial Protection Bureau. (2023). Financial well-being and mental health. https://www.consumerfinance.gov/
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan Remaja. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  4. Organisation for Economic Co-operation and Development. (2023). OECD/INFE International Survey of Adult Financial Literacy. OECD Publishing.
  5. World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health