by Admin Kebidanan | Jul 20, 2026 | Artikel D3
Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.
Universitas Alma Ata, Juli 2026 – Pernah merasa membuka media sosial hanya lima menit, tetapi tiba-tiba sudah satu jam berlalu? Atau sulit berkonsentrasi belajar karena terus ingin melihat video berikutnya? Jika pernah mengalaminya, Anda tidak sendirian. Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah brain rot, sebuah istilah populer di media sosial yang menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang cepat, berulang, dan minim nilai edukasi sehingga memengaruhi kemampuan berkonsentrasi, berpikir kritis, dan mengelola waktu.
Meskipun brain rot bukan merupakan diagnosis medis, istilah ini menjadi simbol meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak penggunaan media digital secara berlebihan, terutama pada remaja. Berbagai platform media sosial dirancang dengan fitur infinite scroll dan video berdurasi pendek yang mampu menarik perhatian pengguna dalam waktu lama. Akibatnya, banyak remaja tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar.
Penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat berdampak pada berbagai aspek kesehatan. Remaja yang terlalu lama menggunakan gawai cenderung mengalami gangguan tidur, berkurangnya aktivitas fisik, kesulitan berkonsentrasi saat belajar, meningkatnya kecemasan, hingga menurunnya kualitas interaksi dengan keluarga dan teman. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menegaskan bahwa kesehatan mental remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan digital dan pola penggunaan media sosial.
Selain berdampak pada kesehatan mental, penggunaan gawai hingga larut malam juga dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh. Paparan cahaya biru (blue light) dari layar dapat menghambat produksi hormon melatonin yang berperan dalam mengatur tidur. Akibatnya, remaja lebih sulit tidur, merasa lelah pada siang hari, dan mengalami penurunan konsentrasi saat mengikuti kegiatan belajar.
Agar tetap sehat dan produktif di era digital, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan remaja untuk mencegah brain rot.
- Batasi waktu penggunaan media sosial
Tetapkan batas waktu penggunaan media sosial setiap hari. Gunakan fitur Screen Time atau Digital Wellbeing pada ponsel untuk membantu mengontrol durasi penggunaan aplikasi.
- Terapkan aturan “20–20”
Setelah menggunakan media sosial selama sekitar 20 menit, berhentilah sejenak. Gunakan waktu tersebut untuk berdiri, berjalan, melakukan peregangan, atau mengistirahatkan mata sebelum kembali beraktivitas.
- Pilih konten yang bermanfaat
Tidak semua konten di internet memberikan manfaat. Seimbangkan hiburan dengan konten edukatif, seperti video pembelajaran, podcast, buku digital, atau informasi kesehatan dari sumber yang terpercaya.
- Hindari scrolling tanpa tujuan
Sebelum membuka media sosial, tanyakan pada diri sendiri, “Apa tujuan saya membuka aplikasi ini?” Jika tujuan sudah tercapai, segera tutup aplikasi agar tidak terjebak dalam kebiasaan doomscrolling.
- Kurangi penggunaan gawai sebelum tidur
Hindari penggunaan ponsel setidaknya 30–60 menit sebelum tidur. Paparan cahaya dari layar dapat mengganggu produksi hormon melatonin sehingga kualitas tidur menurun.
- Perbanyak aktivitas di luar dunia digital
Luangkan waktu untuk berolahraga, membaca buku, mengikuti kegiatan organisasi, bermain musik, berkebun, atau berkumpul bersama keluarga dan teman. Aktivitas tersebut membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.
- Latih kemampuan fokus
Biasakan mengerjakan satu aktivitas dalam satu waktu (single-tasking). Hindari membuka banyak aplikasi secara bersamaan karena dapat mengurangi konsentrasi dan produktivitas.
- Jaga kesehatan tubuh
Tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, minum air putih yang cukup, dan rutin berolahraga berperan penting dalam menjaga fungsi otak serta kesehatan mental.
- Lakukan digital detox secara berkala
Sisihkan waktu beberapa jam atau satu hari dalam seminggu untuk mengurangi penggunaan media digital. Gunakan waktu tersebut untuk melakukan aktivitas yang memberikan ketenangan dan meningkatkan interaksi sosial secara langsung.
- Bangun kebiasaan berpikir kritis
Jangan langsung mempercayai semua informasi yang muncul di media sosial. Biasakan memeriksa kebenaran informasi, membaca dari sumber terpercaya, dan berdiskusi dengan guru, orang tua, atau tenaga kesehatan bila menemukan informasi yang meragukan.
Teknologi merupakan alat yang dapat memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara bijaksana. Kuncinya bukan menghindari media sosial, tetapi menggunakannya secara seimbang. Dengan mengelola waktu layar, memilih konten yang berkualitas, dan tetap aktif dalam kehidupan nyata, remaja dapat menjaga kesehatan otak, meningkatkan konsentrasi, serta mendukung kesehatan fisik dan mental.
Teknologi bukanlah musuh. Justru teknologi dapat menjadi sarana belajar, berkreasi, dan berbagi informasi kesehatan apabila digunakan secara bijaksana. Karena itu, mari menjadi generasi digital yang cerdas: memanfaatkan teknologi untuk berkembang, bukan membiarkan teknologi mengendalikan kehidupan kita.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu, anak dan remaja yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. American Psychological Association.
- World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
- United Nations Children’s Fund. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, Protecting and Caring for Children’s Mental Health. UNICEF.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Oxford University Press. (2024). Oxford Word of the Year 2024: Brain Rot. https://corp.oup.com/news/brain-rot-named-oxford-word-of-the-year/
by Admin Kebidanan | Jul 17, 2026 | Artikel D3
Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M. Kes.
Universitas Alma Ata, Juli 2026 – “Semua teman sudah punya”, “Takut ketinggalan tren”, atau “Harus upload biar dianggap eksis”. Kalimat-kalimat tersebut semakin sering terdengar di kalangan remaja. Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan cemas ketika merasa tertinggal dari aktivitas, pengalaman, atau tren yang sedang ramai di media sosial.
Di era digital, informasi menyebar begitu cepat. Setiap hari remaja disuguhi berbagai konten viral, mulai dari tren fesyen, kuliner, tantangan media sosial, hingga gaya hidup para influencer. Tidak sedikit yang merasa harus mengikuti semua tren agar tetap dianggap “kekinian”. Padahal, keinginan untuk selalu mengikuti tren dapat memengaruhi kesehatan mental, pola hidup, bahkan kondisi finansial.
FOMO bukan sekadar rasa penasaran. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu stres, kecemasan, gangguan tidur, menurunnya rasa percaya diri, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berhubungan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental pada remaja.
Salah satu contoh yang sempat menjadi perbincangan luas adalah tren mengoleksi berbagai produk viral yang dipromosikan oleh influencer. Banyak remaja membeli suatu barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut dianggap tertinggal dari teman-temannya. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial mampu membentuk perilaku konsumtif melalui rasa takut tidak menjadi bagian dari kelompok.
Bagi remaja, penting untuk memahami bahwa tidak semua tren harus diikuti. Menjadi diri sendiri, memiliki tujuan hidup yang jelas, serta mampu mengelola penggunaan media sosial merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental. Membatasi waktu layar (screen time), memilih akun yang memberikan inspirasi positif, dan memperbanyak aktivitas di dunia nyata dapat membantu mengurangi dampak FOMO.
Tips Remaja Menghindari Sikap FOMO (Fear of Missing Out)
Agar tetap sehat secara fisik dan mental, berikut beberapa tips yang dapat diterapkan oleh remaja.
- Sadari bahwa media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan yang sebenarnya
Apa yang terlihat di media sosial umumnya adalah momen terbaik yang dipilih untuk dibagikan. Setiap orang juga memiliki tantangan dan masalah yang mungkin tidak mereka tampilkan. Oleh karena itu, hindari membandingkan kehidupan diri sendiri dengan unggahan orang lain.
- Batasi waktu penggunaan media sosial
Tetapkan batas waktu penggunaan media sosial setiap hari, misalnya maksimal 2 jam di luar kebutuhan belajar. Manfaatkan fitur screen time pada ponsel untuk membantu mengontrol kebiasaan tersebut.
- Pilih akun yang memberikan inspirasi positif
Ikuti akun yang menyajikan informasi edukatif, motivasi, kesehatan, atau pengembangan diri. Kurangi mengikuti akun yang membuat Anda merasa tidak percaya diri atau terus-menerus ingin membandingkan diri.
- Fokus pada tujuan dan potensi diri
Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Daripada sibuk mengikuti semua tren, lebih baik fokus mengembangkan kemampuan, prestasi, dan hobi yang sesuai dengan minat serta cita-cita.
- Jangan merasa harus mengikuti semua tren
Tidak semua tren cocok atau bermanfaat. Sebelum ikut mencoba sesuatu yang sedang viral, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini sesuai dengan nilai, kebutuhan, dan kemampuan saya?
- Perbanyak aktivitas di dunia nyata
Luangkan waktu untuk berolahraga, membaca buku, mengikuti organisasi, berkumpul bersama keluarga, atau melakukan kegiatan sosial. Aktivitas ini dapat meningkatkan kebahagiaan tanpa bergantung pada media sosial.
- Latih rasa syukur setiap hari
Membiasakan diri mensyukuri hal-hal sederhana dapat membantu mengurangi keinginan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain. Tuliskan tiga hal yang membuat Anda bersyukur setiap hari sebagai latihan sederhana.
- Bangun hubungan yang sehat dengan teman
Persahabatan yang baik tidak diukur dari seberapa sering mengikuti tren bersama, tetapi dari adanya saling menghargai, mendukung, dan menerima satu sama lain.
- Jaga kesehatan fisik dan mental
Tidur yang cukup, makan makanan bergizi, berolahraga secara rutin, dan memiliki waktu istirahat yang berkualitas akan membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih sehat sehingga lebih mampu mengelola tekanan sosial.
- Jangan ragu mencari bantuan jika diperlukan
Apabila perasaan cemas, sedih, atau tertekan akibat media sosial mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, bicarakan dengan orang tua, guru, konselor, atau tenaga kesehatan. Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah bijak untuk menjaga kesehatan mental.
Ingat!
Menjadi diri sendiri jauh lebih berharga daripada berusaha mengikuti semua tren. Media sosial hanyalah salah satu bagian dari kehidupan, bukan ukuran kebahagiaan atau kesuksesan seseorang. Jadilah remaja yang cerdas dalam menggunakan teknologi, percaya pada kemampuan diri, dan berani mengatakan “tidak” pada hal-hal yang tidak memberikan manfaat.
Mari jadikan media sosial sebagai ruang belajar, berbagi inspirasi, dan menyebarkan informasi kesehatan yang benar. Ingat, menjadi versi terbaik dari diri sendiri jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti apa yang sedang viral.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu, anak dan remaja yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. American Psychological Association.
- Indonesia National Adolescent Mental Health Survey. (2022). Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS): Laporan nasional. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
- Universitas Airlangga. (2025, 25 April). Budaya konsumtif di balik viralnya Labubu. https://unair.ac.id/budaya-konsumtif-di-balik-viralnya-labubu/
- Universitas Muhammadiyah Jakarta. (2024, 19 September). Labubu menjadi tren berkat Lisa Blackpink. https://umj.ac.id/just_info/labubu-menjadi-trend-berkat-lisa-blackpink/
- World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
by Admin Kebidanan | Jul 15, 2026 | Artikel D3
Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT.,M. Kes.
Universitas Alma Ata, Juli 2026 – Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja. Berbagai platform digital dimanfaatkan untuk belajar, mencari informasi, berkomunikasi, hingga mengekspresikan diri. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan media sosial yang berlebihan juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kesehatan mental remaja.
Belakangan ini, berbagai konten di media sosial ramai membahas fenomena digital fatigue, doom scrolling, dan tekanan untuk selalu tampil sempurna di dunia maya. Isu ini semakin menjadi sorotan setelah hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan bahwa hampir 10% anak dan remaja yang menjalani skrining memiliki indikasi gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi. Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan mental remaja perlu mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Media sosial pada dasarnya bukanlah penyebab utama masalah kesehatan mental. Akan tetapi, penggunaan yang tidak terkendali dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, gangguan tidur, rendahnya rasa percaya diri, hingga kecenderungan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Sebaliknya, jika digunakan secara bijaksana, media sosial dapat menjadi sarana belajar, membangun jejaring pertemanan, mengembangkan kreativitas, serta memperoleh informasi kesehatan yang benar.
Sebagai generasi digital, remaja perlu memiliki kemampuan literasi digital agar mampu menyaring informasi yang diterima. Tidak semua informasi kesehatan yang beredar di media sosial dapat dipercaya. Oleh karena itu, penting untuk memastikan sumber informasi berasal dari tenaga kesehatan, institusi pendidikan, atau lembaga resmi yang memiliki kredibilitas.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan remaja untuk menjaga kesehatan mental saat menggunakan media sosial antara lain:
- membatasi waktu penggunaan media sosial setiap hari;
- mengikuti akun yang memberikan konten positif dan edukatif;
- menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain;
- menjaga keseimbangan antara aktivitas daring dan aktivitas di dunia nyata;
- tetap berinteraksi secara langsung dengan keluarga dan teman; serta
- tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor apabila mengalami stres berkepanjangan.
Mari jadikan media sosial sebagai sarana untuk belajar, berbagi inspirasi, dan menyebarkan informasi kesehatan yang bermanfaat. Remaja yang cerdas dalam menggunakan teknologi adalah remaja yang mampu menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosialnya demi mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, tangguh, dan berdaya saing.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu dan anak yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 9 Maret). Alarm kesehatan mental anak: CKG temukan ratusan ribu anak bergejala cemas dan depresi. https://www.kemkes.go.id/id/alarm-kesehatan-mental-anak-ckg-temukan-ratusan-ribu-anak-bergejala-cemas-dan-depresi
- World Health Organization Indonesia. (2026, 23 Februari). Bersatu merespons dampak kesehatan jiwa kekerasan digital. https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/23-02-2026-uniting-to-respond-to-mental-health-impacts-of-digital-violence
- World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman nasional pelayanan kesehatan jiwa. Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak. Kementerian Kesehatan RI.
- UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On my mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. UNICEF.
- American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. American Psychological Association.
by Admin Kebidanan | Jul 13, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dr. Restu Pangestuti, MKM.
Dalam beberapa tahun terakhir, vape atau rokok elektrik menjadi tren yang sangat populer di kalangan remaja. Dengan desain modern, pilihan rasa seperti buah dan permen, serta kesan “lebih aman” dibanding rokok, vape dengan cepat menarik perhatian generasi muda. Namun, dibalik popularitasnya, muncul pertanyaan penting: apakah vape lebih aman, atau justru menjadi ancaman baru bagi kesehatan remaja?
Fenomena ini bukan sekadar tren biasa. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa penggunaan vape di kalangan remaja meningkat tajam, bahkan di beberapa negara angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Di Indonesia sendiri, sekitar 12% remaja usia 13-17 tahun menggunakan rokok elektronik, menunjukkan bahwa vape telah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda. Hal ini diperkuat oleh strategi pemasaran yang sengaja menargetkan remaja melalui rasa menarik, desain keren, dan promosi di media sosial.
Banyak remaja beranggapan bahwa vape lebih aman daripada rokok karena tidak menghasilkan asap tembakau. Padahal, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Vape tetap mengandung nikotin dan berbagai zat kimia berbahaya yang dapat merusak kesehatan. Menurut WHO, aerosol vape mengandung zat toksik yang berisiko menyebabkan gangguan paru dan jantung. Selain itu, nikotin dalam vape sangat adiktif dan dapat mengganggu perkembangan otak remaja, yang masih berada dalam fase pertumbuhan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, berbagai penelitian menunjukkan bahwa remaja yang menggunakan vape memiliki kemungkinan lebih besar untuk beralih ke rokok konvensional. Sebuah studi menemukan bahwa pengguna vape muda bisa hingga tiga kali lebih berisiko menjadi perokok aktif di kemudian hari. Ini berarti vape bukan sekadar alternatif, tetapi bisa menjadi “pintu masuk” menuju kebiasaan merokok yang lebih berbahaya.
Dari sisi kesehatan, rokok konvensional memang telah lama terbukti menyebabkan penyakit serius seperti kanker paru, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan kronis. Sementara itu, vape masih tergolong produk baru sehingga dampak jangka panjangnya belum sepenuhnya diketahui. Namun, berbagai bukti menunjukkan bahwa vape tetap dapat menyebabkan gangguan seperti asma, bronkitis, bahkan cedera paru. Dengan kata lain, meskipun berbeda bentuk, keduanya sama-sama membawa risiko kesehatan.
Selain faktor kesehatan, aspek sosial juga berperan besar dalam meningkatnya penggunaan vape pada remaja. Pengaruh teman sebaya, keinginan untuk terlihat “keren”, serta paparan media sosial membuat vape semakin diterima sebagai bagian dari gaya hidup. Bahkan, banyak remaja yang awalnya tidak merokok menjadi tertarik mencoba vape karena dianggap lebih modern dan tidak berbahaya.
Kesimpulannya, vape bukanlah pilihan yang aman bagi remaja. Meskipun sering dipromosikan sebagai alternatif rokok, kenyataannya vape tetap mengandung zat berbahaya dan berpotensi menimbulkan kecanduan. Rokok konvensional mungkin lebih berbahaya dalam jangka panjang, tetapi vape membawa risiko baru yang tidak kalah serius, terutama sebagai pintu masuk kecanduan nikotin di usia muda. Oleh karena itu, edukasi kesehatan yang tepat sangat penting untuk membantu remaja memahami bahwa baik vape maupun rokok sama-sama berbahaya dan sebaiknya dihindari.
Calon Bidan akan belajar tentang banyak tentang kesehatan. Gabung segera di Prodi D3 Kebidanan dan temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi:
- World Health Organization. Tobacco: E-cigarettes [Internet]. 2024. Available from: https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/tobacco-e-cigarett
- Becker TD, Rice TR. Youth vaping: A review and update on global epidemiology, physical and behavioral health risks, and clinical considerations. Eur J Pediatr. 2022;181(2):453–462.
- Becker TD. A clinical overview of adolescent e-cigarette use (vaping). Minerva Pediatr. 2024;76(1):108–118.
- Lieu TA, Bibbins-Domingo K. E-cigarette use in adolescents and adults—A JAMA collection. JAMA. 2024;332(9):709–710.
by Admin Kebidanan | Jul 10, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dr. Restu Pangestuti, MKM.
Anak “zero dose” merupakan istilah dalam kesehatan masyarakat yang merujuk pada anak yang belum pernah menerima satu pun imunisasi rutin sejak lahir. Secara operasional, World Health Organization mendefinisikan anak zero dose sebagai anak yang tidak mendapatkan dosis pertama vaksin DTP (difteri, tetanus, pertusis), yang digunakan sebagai indikator keterjangkauan pelayanan imunisasi dasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa anak tersebut tidak tersentuh oleh sistem pelayanan kesehatan, sehingga menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap penyakit menular.
Permasalahan anak zero dose menjadi isu global dan nasional yang serius. Data dari WHO 2023 terdapat sekitar 14,5 juta anak yang belum mendapatkan imunisasi sama sekali, dan Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah kasus yang tinggi. Di tingkat nasional, diperkirakan sekitar 2,3 juta anak di Indonesia masuk kategori zero dose, yang berarti mereka sama sekali belum memperoleh perlindungan imunisasi dasar. Bahkan, data terbaru menunjukkan masih terdapat ratusan ribu hingga hampir satu juta anak yang belum tersentuh imunisasi, sehingga menjadi fokus utama program kesehatan pemerintah.
Keberadaan anak zero dose memiliki dampak yang sangat besar terhadap kesehatan individu maupun masyarakat. Anak yang tidak diimunisasi memiliki risiko tinggi terkena penyakit menular seperti campak, difteri, dan pertusis, yang dapat menyebabkan komplikasi berat hingga kematian. Selain itu, rendahnya cakupan imunisasi akan menghambat tercapainya kekebalan kelompok (herd immunity), yang seharusnya membutuhkan cakupan minimal sekitar 90% untuk melindungi populasi secara luas. Ketika cakupan imunisasi tidak optimal, maka risiko terjadinya kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular akan meningkat.
Masalah anak zero dose juga mencerminkan adanya ketimpangan dalam akses layanan kesehatan. Anak-anak yang termasuk dalam kategori ini umumnya berasal dari kelompok masyarakat dengan keterbatasan akses, seperti daerah terpencil, kondisi ekonomi rendah, atau lingkungan dengan tingkat pendidikan yang rendah. Selain itu, faktor lain yang berperan adalah kurangnya pengetahuan dan kesadaran orang tua, serta pengaruh informasi yang salah atau hoaks mengenai imunisasi. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan zero dose tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga faktor sosial, ekonomi, dan budaya.
Oleh karena itu, penanganan anak zero dose memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi. Pemerintah melalui program imunisasi nasional terus berupaya meningkatkan cakupan imunisasi dengan fokus pada kelompok yang belum terjangkau layanan. Upaya ini meliputi penguatan pelayanan kesehatan, peningkatan akses di daerah terpencil, serta edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya imunisasi. Dengan demikian, penurunan jumlah anak zero dose menjadi langkah penting dalam meningkatkan derajat kesehatan anak dan mencegah terjadinya wabah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Calon Bidan akan belajar tentang Imunisasi pada anak. Gabung segera di Prodi D3 Kebidanan dan temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi:
- World Health Organization (WHO). Zero-dose children definition and monitoring. (World Health Organization)
- WHO Indonesia. Immunization coverage and zero-dose children global data. (World Health Organization)
- Kementerian Kesehatan RI / ANTARA. Data anak zero dose di Indonesia. (Antara News)
- Kemenkes RI. Penguatan program imunisasi nasional. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
by Admin Kebidanan | Jul 8, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dyah Pradnya Paramita, SST., M.Kes
Kelahiran bayi merupakan momen yang membahagiakan bagi sebuah keluarga. Namun, tidak sedikit ibu yang justru mengalami perubahan emosi setelah melahirkan. Mudah menangis, merasa cemas, atau kewalahan sering kali dianggap sebagai hal yang wajar. Padahal, kondisi tersebut bisa merupakan baby blues atau bahkan depresi pasca persalinan (postpartum depression). Oleh karenanya, memahami perbedaan kondisi tersebut sangat penting agar ibu memperoleh pertolongan yang tepat sedini mungkin.
Baby blues: umum terjadi setelah persalinan
baby blues adalah perubahan suasana hati ringan yang biasanya muncul pada 2–3 hari setelah melahirkan dan membaik dalam waktu kurang dari dua minggu. Kondisi ini dialami oleh sekitar 50–80% ibu pasca persalinan.
Gejala baby blues meliputi mudah menangis, sedih, cemas, sensitif, mudah tersinggung, serta merasa lelah atau kewalahan dalam merawat bayi. baby blues umumnya dipengaruhi oleh perubahan hormon, kurang tidur, kelelahan, dan proses adaptasi menjadi orang tua.
Dengan dukungan keluarga, istirahat yang cukup, dan bantuan dalam merawat bayi, sebagian besar ibu dapat pulih tanpa memerlukan pengobatan khusus.
Depresi pasca persalinan bukan sekedar perubahan suasana hati
Berbeda dengan baby blues, depresi pasca persalinan merupakan gangguan kesehatan mental yang memerlukan penanganan tenaga kesehatan. Gejalanya berlangsung lebih dari dua minggu dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain kesedihan yang berkepanjangan, kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur atau nafsu makan yang berat, merasa tidak berharga, sulit menjalin ikatan dengan bayi, hingga muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayinya.
Depresi pasca persalinan bukanlah tanda bahwa seorang ibu lemah atau tidak bersyukur. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis, psikologis, dan sosial sehingga membutuhkan dukungan serta penanganan yang tepat.
Pemerintah kini turut memantau kesehatan mental ibu
Kesehatan ibu setelah melahirkan tidak hanya dinilai dari kondisi fisiknya. Menurut Dyah, Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, saat ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah memasukkan skrining kesehatan jiwa sebagai bagian dari pelayanan kesehatan ibu. Skrining dilakukan dua kali selama kehamilan dan satu kali pada masa nifas, yaitu saat kunjungan nifas ketiga (KF-3) pada 8–28 hari setelah persalinan. Program ini bertujuan mendeteksi dini masalah kesehatan mental sehingga ibu yang berisiko mengalami depresi dapat segera memperoleh konseling, pendampingan, atau rujukan sesuai kebutuhannya. Dyah berpesan agar ibu nifas rutin melakukan kunjungan ulang ke Puskesmas/ Fasilitas Kesehatan sesuai jadwalnya untuk memantau pemulihan fisik dan kesehatan mentalnya.
Peran bidan sangat penting
Bidan merupakan tenaga kesehatan yang mendampingi perempuan sejak masa kehamilan, persalinan, hingga nifas. Pada setiap kunjungan, bidan tidak hanya memeriksa kondisi fisik ibu dan bayi, tetapi juga menanyakan keadaan emosional ibu, memberikan edukasi kepada keluarga, serta melakukan skrining kesehatan mental sesuai pedoman pelayanan.
Apabila ditemukan tanda-tanda depresi pasca persalinan, bidan akan memberikan konseling awal dan merujuk ibu ke tenaga kesehatan yang kompeten agar memperoleh penanganan lebih lanjut. Dukungan suami dan keluarga juga sangat berperan dalam proses pemulihan.
Jangan ragu mencari bantuan
Menjadi ibu adalah proses adaptasi yang tidak selalu mudah. Jika perasaan sedih, cemas, atau putus asa berlangsung lebih dari dua minggu, jangan menghadapinya sendirian. Segera konsultasi dengan bidan atau tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Kesehatan mental ibu sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Deteksi dini, dukungan keluarga, dan pendampingan tenaga kesehatan dapat membantu ibu melewati masa nifas dengan lebih sehat, sehingga ia dapat memberikan pengasuhan terbaik bagi buah hatinya.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu dan anak yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Referensi:
1. World Health Organization. (2025). Maternal mental health.
2. American College of Obstetricians and Gynecologists. (2023). Clinical Practice Guideline No. 4: Screening and Diagnosis of Mental Health Conditions During Pregnancy and Postpartum.
3. National Institute for Health and Care Excellence. (2020). Antenatal and Postnatal Mental Health: Clinical Management and Service Guidance.
4. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Depression Among Women.
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Skrining Kesehatan Jiwa Minimal Setahun Sekali.
6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir.