Jangan Tunggu Sampai Retak: Cara Mengenali Tanda Anak Remaja Sedang Terluka Secara Mental

Jangan Tunggu Sampai Retak: Cara Mengenali Tanda Anak Remaja Sedang Terluka Secara Mental

Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Masa remaja sering kali dianalogikan sebagai jembatan yang penuh badai. Di satu sisi, mereka bukan lagi anak-anak yang bisa dengan mudah memeluk orang tua saat menangis; di sisi lain, mereka belum menjadi orang dewasa yang matang dalam mengelola gejolak emosi. Perubahan hormon, tekanan akademik, dinamika pertemanan, hingga paparan media sosial yang masif membuat kelompok usia ini sangat rentan mengalami guncangan psikologis.

Sayangnya, banyak orang tua dan lingkungan terdekat yang terlambat menyadari ketika seorang remaja sedang terluka secara mental. Perubahan perilaku mereka kerap kali disalah artikan sebagai “pemberontakan remaja biasa,” “remaja manja,” atau sekadar mood swing akibat pubertas. Padahal, luka mental yang diabaikan terlalu lama bisa memicu keretakan psikologis yang mendalam seperti depresi berat, gangguan kecemasan, hingga tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm).

Sebelum struktur mental mereka benar-benar retak, sangat krusial bagi kita untuk mengenali sinyal-sinyal darurat terselubung yang mereka tunjukkan.

1. Menatap di Balik Topeng: Membedakan Mood Swing dan Gangguan Klinis

Perubahan suasana hati pada remaja adalah hal yang wajar. Namun, bagaimana kita tahu bahwa itu sudah melewati batas normal? Kuncinya terletak pada durasi (waktu), intensitas (keparahan), dan fungsi (dampaknya pada kehidupan sehari-hari).

Berdasarkan panduan klinis global, berikut adalah tanda-tanda awal remaja yang sedang terluka secara emosional:

  1. Iritabilitas yang Meledak-ledak: Berbeda dengan orang dewasa yang cenderung menunjukkan kesedihan dengan menangis, depresi pada remaja lebih sering bermanifestasi sebagai kemarahan. Mereka menjadi sangat sensitif, mudah tersinggung oleh hal sepele, gampang frustasi, dan defensif.
  2. Anhedonia (Kehilangan Percikan Minat): Perhatikan jika anak remaja tiba-tiba berhenti melakukan hobi yang sangat mereka cintai, misalnya tidak mau lagi menyentuh alat musiknya, berhenti berolahraga, atau menolak berkumpul dengan sahabat karibnya.
  3. Keluhan Fisik Misterioso (Gejala Somatik): Sering kali, remaja tidak tahu cara Mengartikulasikan rasa sakit mentalnya ke dalam kata-kata. Akibatnya, stres tersebut bermanifestasi menjadi gejala fisik kronis, seperti sakit kepala yang sering kambuh, nyeri lambung/sakit perut, atau kelelahan ekstrem yang tidak hilang meski sudah tidur cukup.
  4. Penarikan Diri secara Ekstrem (Social Withdrawal): Menghabiskan waktu sendirian di kamar adalah hal normal bagi remaja yang butuh privasi. Namun, jika mereka mulai mengisolasi diri sepenuhnya, menolak interaksi sosial dengan keluarga maupun teman, dan mengabaikan perawatan diri (jarang mandi atau tidak peduli penampilan), ini adalah alarm darurat.

2. Mengapa Deteksi Dini Begitu Krusial?

Otak remaja tengah berada dalam fase perkembangan yang intens, khususnya pada area prefrontal cortex (pusat kendali emosi, keputusan, dan logika). Ketika mereka mengalami tekanan mental yang berat tanpa intervensi yang tepat, arsitektur otak ini dapat mengalami stres kronis yang berdampak jangka panjang hingga mereka dewasa.

Tabel di bawah ini merangkum perbandingan pola perilaku normal vs. sinyal bahaya pada remaja:

Aspek PerilakuPerubahan Normal (Pubertas)Sinyal Bahaya (Terluka Secara Mental)
Pola TidurSuka tidur larut malam saat akhir pekan, tapi tetap segar.Insomnia parah atau hypersomnia (tidur belasan jam sebagai pelarian).
Prestasi SekolahMengalami penurunan nilai pada satu mata pelajaran yang sulit.Nilai rapor turun drastis secara keseluruhan disertai sering bolos atau mogok sekolah.
KomunikasiLebih memilih mengobrol dengan teman daripada orang tua.Berhenti berkomunikasi dengan siapapun dan cenderung menutup diri total.
Nafsu MakanPorsi makan bertambah drastis karena pertumbuhan fisik.Kehilangan nafsu makan ekstrem atau justru makan berlebihan akibat stres (emotional eating).

3. Langkah Pertama Orang Tua: Mengulurkan Tangan Sebelum Retak

Jika Anda melihat tanda-tanda di atas terjadi pada anak selama lebih dari dua minggu berturut-turut, jangan langsung menghakimi atau menginterogasi mereka. Gunakan pendekatan psikologis yang merangkul:

  1. Ciptakan Safe Space (Ruang Aman): Masuklah ke dunia mereka tanpa membawa penghakiman. Hindari kalimat seperti: “Kamu kurang bersyukur,” atau “Zaman Ayah dulu lebih susah.” Kalimat ini akan membuat mereka semakin menutup diri.
  2. Validasi Perasaannya: Katakan, “Ibu perhatikan belakangan ini kamu kelihatan lelah dan sering murung. Ibu di sini bukan untuk marah, tapi karena Ibu sayang sama kamu. Kalau kamu siap cerita, Ibu mau mendengarkan.”
  3. Jangan Ragu ke Profesional: Jika situasi tidak membaik, menormalisasi gangguan mental atau menganggapnya akan “sembuh sendiri seiring waktu” adalah kekeliruan besar. Membawa anak berkonsultasi ke psikolog remaja atau psikiater adalah bentuk kasih sayang tertinggi untuk menyelamatkan masa depan mereka.

Mengenali luka mental sejak dini adalah jaring pengaman terbaik. Jangan tunggu sampai struktur mental anak kita retak dan hancur, karena mencegah dan mengobati diawal jauh lebih mudah daripada menyatukan kembali kepingan yang sudah patah.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/

Referensi

  1. World Health Organization (WHO). (2024). Adolescent Mental Health: Fact Sheets and Global Prevalence. Jenewa: WHO.
  2. UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
  3. American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). Washington, DC: American Psychiatric Publishing.
  4. The Lancet Psychiatry Journal. (2023). Early Intervention and Neurodevelopmental Pathways in Adolescent Mood Disorders. Volume 10, Issue 4, pp. 245-257.

Utang Tidur pada Remaja: Bangga Begadang, Benarkah Tidak Berbahaya?

Utang Tidur pada Remaja: Bangga Begadang, Benarkah Tidak Berbahaya?

Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.

Universitas Alma Ata, Juli 2026 – “Tidur nanti saja, tugas masih banyak.” Kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan remaja dan mahasiswa. Begadang demi menyelesaikan tugas, bermain gim, menonton serial, atau berselancar di media sosial sering dianggap sebagai hal yang biasa. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap kurang tidur sebagai tanda produktivitas. Padahal, kebiasaan tersebut dapat menyebabkan sleep debt atau utang tidur, yaitu kondisi ketika seseorang secara terus-menerus tidur lebih sedikit daripada kebutuhan tubuhnya.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tidur yang cukup merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental. Sementara itu, remaja berusia 13–18 tahun dianjurkan tidur sekitar 8–10 jam setiap malam agar proses pertumbuhan, perkembangan otak, dan fungsi tubuh berlangsung optimal.

Sayangnya, perkembangan teknologi membuat banyak remaja sulit melepaskan diri dari gawai sebelum tidur. Notifikasi media sosial, video pendek, hingga permainan daring sering kali membuat waktu tidur semakin larut. Akibatnya, tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat dan melakukan proses pemulihan.

Utang tidur tidak hanya menyebabkan rasa kantuk pada siang hari. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat menurunkan daya konsentrasi, kemampuan mengingat, prestasi belajar, kestabilan emosi, serta meningkatkan risiko kecemasan dan depresi. Dalam jangka panjang, kebiasaan kurang tidur juga dapat meningkatkan risiko obesitas, gangguan metabolisme, hipertensi, dan penyakit kronis lainnya.

Selain itu, kurang tidur dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi remaja. Ketidakseimbangan hormon akibat pola tidur yang buruk dapat mengganggu siklus menstruasi pada remaja putri, menurunkan daya tahan tubuh, serta memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu, menjaga pola tidur merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan reproduksi sejak usia remaja.

Lalu, bagaimana cara menghindari utang tidur? Langkah pertama adalah membuat jadwal tidur yang teratur, termasuk pada akhir pekan. Remaja juga dianjurkan menghentikan penggunaan gawai setidaknya 30–60 menit sebelum tidur, menghindari konsumsi minuman berkafein pada malam hari, serta menciptakan suasana kamar yang nyaman untuk beristirahat.

Menjaga kesehatan fisik melalui pola makan bergizi dan aktivitas fisik yang teratur turut berperan dalam meningkatkan kualitas tidur. Berolahraga secara rutin pada pagi atau sore hari dapat membantu tubuh lebih rileks pada malam hari. Sebaliknya, aktivitas fisik yang terlalu berat menjelang waktu tidur sebaiknya dihindari karena justru dapat membuat tubuh tetap terjaga. 

Remaja juga perlu memahami bahwa tidur bukanlah tanda kemalasan, melainkan kebutuhan biologis yang sangat penting. Saat tidur, otak memproses informasi yang telah dipelajari, memperkuat daya ingat, memperbaiki jaringan tubuh, serta menjaga keseimbangan hormon dan sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, mengurangi waktu tidur secara terus-menerus demi bermain media sosial, bermain gim, atau mengejar tugas bukanlah pilihan yang bijaksana.

Apabila remaja sering mengalami kesulitan tidur, mengantuk berlebihan pada siang hari, atau merasa kelelahan meskipun telah tidur cukup lama, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Deteksi dan penanganan sejak dini dapat membantu mencegah gangguan tidur yang lebih serius sekaligus menjaga kesehatan fisik, mental, dan prestasi belajar. Tidur yang cukup bukan hanya membuat tubuh lebih segar, tetapi juga merupakan investasi penting untuk kesehatan dan masa depan remaja.

Menjadi produktif bukan berarti harus mengorbankan waktu tidur. Justru dengan istirahat yang cukup, tubuh dan otak dapat bekerja lebih optimal, sehingga prestasi belajar, kesehatan, dan kualitas hidup akan meningkat. Mari mulai hari ini, jadikan tidur sebagai investasi kesehatan, bukan sebagai waktu yang bisa terus dikurangi.

Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu, anak dan remaja yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka

  1. American Academy of Sleep Medicine. (2016). Recommended amount of sleep for pediatric populations: A consensus statement. Journal of Clinical Sleep Medicine, 12(6), 785–786.
  2. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Sleep in middle and high school students. https://www.cdc.gov/sleep
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan Remaja. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  4. United Nations Children’s Fund. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, Protecting and Caring for Children’s Mental Health. UNICEF.
  5. World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
Fenomena “Brain Rot” pada Remaja: Ketika Scroll Tanpa Henti Mulai Mengganggu Kesehatan

Fenomena “Brain Rot” pada Remaja: Ketika Scroll Tanpa Henti Mulai Mengganggu Kesehatan

Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M.Kes.

Universitas Alma Ata, Juli 2026 – Pernah merasa membuka media sosial hanya lima menit, tetapi tiba-tiba sudah satu jam berlalu? Atau sulit berkonsentrasi belajar karena terus ingin melihat video berikutnya? Jika pernah mengalaminya, Anda tidak sendirian. Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah brain rot, sebuah istilah populer di media sosial yang menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang cepat, berulang, dan minim nilai edukasi sehingga memengaruhi kemampuan berkonsentrasi, berpikir kritis, dan mengelola waktu.

Meskipun brain rot bukan merupakan diagnosis medis, istilah ini menjadi simbol meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak penggunaan media digital secara berlebihan, terutama pada remaja. Berbagai platform media sosial dirancang dengan fitur infinite scroll dan video berdurasi pendek yang mampu menarik perhatian pengguna dalam waktu lama. Akibatnya, banyak remaja tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar.

Penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat berdampak pada berbagai aspek kesehatan. Remaja yang terlalu lama menggunakan gawai cenderung mengalami gangguan tidur, berkurangnya aktivitas fisik, kesulitan berkonsentrasi saat belajar, meningkatnya kecemasan, hingga menurunnya kualitas interaksi dengan keluarga dan teman. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menegaskan bahwa kesehatan mental remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan digital dan pola penggunaan media sosial.

Selain berdampak pada kesehatan mental, penggunaan gawai hingga larut malam juga dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh. Paparan cahaya biru (blue light) dari layar dapat menghambat produksi hormon melatonin yang berperan dalam mengatur tidur. Akibatnya, remaja lebih sulit tidur, merasa lelah pada siang hari, dan mengalami penurunan konsentrasi saat mengikuti kegiatan belajar.

Agar tetap sehat dan produktif di era digital, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan remaja untuk mencegah brain rot.

  1. Batasi waktu penggunaan media sosial

Tetapkan batas waktu penggunaan media sosial setiap hari. Gunakan fitur Screen Time atau Digital Wellbeing pada ponsel untuk membantu mengontrol durasi penggunaan aplikasi.

  1. Terapkan aturan “20–20”

Setelah menggunakan media sosial selama sekitar 20 menit, berhentilah sejenak. Gunakan waktu tersebut untuk berdiri, berjalan, melakukan peregangan, atau mengistirahatkan mata sebelum kembali beraktivitas.

  1. Pilih konten yang bermanfaat

Tidak semua konten di internet memberikan manfaat. Seimbangkan hiburan dengan konten edukatif, seperti video pembelajaran, podcast, buku digital, atau informasi kesehatan dari sumber yang terpercaya.

  1. Hindari scrolling tanpa tujuan

Sebelum membuka media sosial, tanyakan pada diri sendiri, “Apa tujuan saya membuka aplikasi ini?” Jika tujuan sudah tercapai, segera tutup aplikasi agar tidak terjebak dalam kebiasaan doomscrolling.

  1. Kurangi penggunaan gawai sebelum tidur

Hindari penggunaan ponsel setidaknya 30–60 menit sebelum tidur. Paparan cahaya dari layar dapat mengganggu produksi hormon melatonin sehingga kualitas tidur menurun.

  1. Perbanyak aktivitas di luar dunia digital

Luangkan waktu untuk berolahraga, membaca buku, mengikuti kegiatan organisasi, bermain musik, berkebun, atau berkumpul bersama keluarga dan teman. Aktivitas tersebut membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.

  1. Latih kemampuan fokus

Biasakan mengerjakan satu aktivitas dalam satu waktu (single-tasking). Hindari membuka banyak aplikasi secara bersamaan karena dapat mengurangi konsentrasi dan produktivitas.

  1. Jaga kesehatan tubuh

Tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, minum air putih yang cukup, dan rutin berolahraga berperan penting dalam menjaga fungsi otak serta kesehatan mental.

  1. Lakukan digital detox secara berkala

Sisihkan waktu beberapa jam atau satu hari dalam seminggu untuk mengurangi penggunaan media digital. Gunakan waktu tersebut untuk melakukan aktivitas yang memberikan ketenangan dan meningkatkan interaksi sosial secara langsung.

  1. Bangun kebiasaan berpikir kritis

Jangan langsung mempercayai semua informasi yang muncul di media sosial. Biasakan memeriksa kebenaran informasi, membaca dari sumber terpercaya, dan berdiskusi dengan guru, orang tua, atau tenaga kesehatan bila menemukan informasi yang meragukan.

Teknologi merupakan alat yang dapat memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara bijaksana. Kuncinya bukan menghindari media sosial, tetapi menggunakannya secara seimbang. Dengan mengelola waktu layar, memilih konten yang berkualitas, dan tetap aktif dalam kehidupan nyata, remaja dapat menjaga kesehatan otak, meningkatkan konsentrasi, serta mendukung kesehatan fisik dan mental.

Teknologi bukanlah musuh. Justru teknologi dapat menjadi sarana belajar, berkreasi, dan berbagi informasi kesehatan apabila digunakan secara bijaksana. Karena itu, mari menjadi generasi digital yang cerdas: memanfaatkan teknologi untuk berkembang, bukan membiarkan teknologi mengendalikan kehidupan kita. 

Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu, anak dan remaja yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka

  1. American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. American Psychological Association.
  2. World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
  3. United Nations Children’s Fund. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, Protecting and Caring for Children’s Mental Health. UNICEF.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  5. Oxford University Press. (2024). Oxford Word of the Year 2024: Brain Rot. https://corp.oup.com/news/brain-rot-named-oxford-word-of-the-year/
FOMO pada Remaja: Takut Ketinggalan Tren, Benarkah Harus Selalu Ikut?

FOMO pada Remaja: Takut Ketinggalan Tren, Benarkah Harus Selalu Ikut?

Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M. Kes.

Universitas Alma Ata, Juli 2026 – “Semua teman sudah punya”, “Takut ketinggalan tren”, atau “Harus upload biar dianggap eksis”. Kalimat-kalimat tersebut semakin sering terdengar di kalangan remaja. Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan cemas ketika merasa tertinggal dari aktivitas, pengalaman, atau tren yang sedang ramai di media sosial.

Di era digital, informasi menyebar begitu cepat. Setiap hari remaja disuguhi berbagai konten viral, mulai dari tren fesyen, kuliner, tantangan media sosial, hingga gaya hidup para influencer. Tidak sedikit yang merasa harus mengikuti semua tren agar tetap dianggap “kekinian”. Padahal, keinginan untuk selalu mengikuti tren dapat memengaruhi kesehatan mental, pola hidup, bahkan kondisi finansial.

FOMO bukan sekadar rasa penasaran. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu stres, kecemasan, gangguan tidur, menurunnya rasa percaya diri, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berhubungan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental pada remaja.

Salah satu contoh yang sempat menjadi perbincangan luas adalah tren mengoleksi berbagai produk viral yang dipromosikan oleh influencer. Banyak remaja membeli suatu barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut dianggap tertinggal dari teman-temannya. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial mampu membentuk perilaku konsumtif melalui rasa takut tidak menjadi bagian dari kelompok.

Bagi remaja, penting untuk memahami bahwa tidak semua tren harus diikuti. Menjadi diri sendiri, memiliki tujuan hidup yang jelas, serta mampu mengelola penggunaan media sosial merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental. Membatasi waktu layar (screen time), memilih akun yang memberikan inspirasi positif, dan memperbanyak aktivitas di dunia nyata dapat membantu mengurangi dampak FOMO.

Tips Remaja Menghindari Sikap FOMO (Fear of Missing Out)

Agar tetap sehat secara fisik dan mental, berikut beberapa tips yang dapat diterapkan oleh remaja.

  1. Sadari bahwa media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan yang sebenarnya

Apa yang terlihat di media sosial umumnya adalah momen terbaik yang dipilih untuk dibagikan. Setiap orang juga memiliki tantangan dan masalah yang mungkin tidak mereka tampilkan. Oleh karena itu, hindari membandingkan kehidupan diri sendiri dengan unggahan orang lain.

  1. Batasi waktu penggunaan media sosial

Tetapkan batas waktu penggunaan media sosial setiap hari, misalnya maksimal 2 jam di luar kebutuhan belajar. Manfaatkan fitur screen time pada ponsel untuk membantu mengontrol kebiasaan tersebut.

  1. Pilih akun yang memberikan inspirasi positif

Ikuti akun yang menyajikan informasi edukatif, motivasi, kesehatan, atau pengembangan diri. Kurangi mengikuti akun yang membuat Anda merasa tidak percaya diri atau terus-menerus ingin membandingkan diri.

  1. Fokus pada tujuan dan potensi diri

Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Daripada sibuk mengikuti semua tren, lebih baik fokus mengembangkan kemampuan, prestasi, dan hobi yang sesuai dengan minat serta cita-cita.

  1. Jangan merasa harus mengikuti semua tren

Tidak semua tren cocok atau bermanfaat. Sebelum ikut mencoba sesuatu yang sedang viral, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini sesuai dengan nilai, kebutuhan, dan kemampuan saya?

  1. Perbanyak aktivitas di dunia nyata

Luangkan waktu untuk berolahraga, membaca buku, mengikuti organisasi, berkumpul bersama keluarga, atau melakukan kegiatan sosial. Aktivitas ini dapat meningkatkan kebahagiaan tanpa bergantung pada media sosial.

  1. Latih rasa syukur setiap hari

Membiasakan diri mensyukuri hal-hal sederhana dapat membantu mengurangi keinginan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain. Tuliskan tiga hal yang membuat Anda bersyukur setiap hari sebagai latihan sederhana.

  1. Bangun hubungan yang sehat dengan teman

Persahabatan yang baik tidak diukur dari seberapa sering mengikuti tren bersama, tetapi dari adanya saling menghargai, mendukung, dan menerima satu sama lain.

  1. Jaga kesehatan fisik dan mental

Tidur yang cukup, makan makanan bergizi, berolahraga secara rutin, dan memiliki waktu istirahat yang berkualitas akan membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih sehat sehingga lebih mampu mengelola tekanan sosial.

  1. Jangan ragu mencari bantuan jika diperlukan

Apabila perasaan cemas, sedih, atau tertekan akibat media sosial mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, bicarakan dengan orang tua, guru, konselor, atau tenaga kesehatan. Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah bijak untuk menjaga kesehatan mental.

Ingat!

Menjadi diri sendiri jauh lebih berharga daripada berusaha mengikuti semua tren. Media sosial hanyalah salah satu bagian dari kehidupan, bukan ukuran kebahagiaan atau kesuksesan seseorang. Jadilah remaja yang cerdas dalam menggunakan teknologi, percaya pada kemampuan diri, dan berani mengatakan “tidak” pada hal-hal yang tidak memberikan manfaat.

Mari jadikan media sosial sebagai ruang belajar, berbagi inspirasi, dan menyebarkan informasi kesehatan yang benar. Ingat, menjadi versi terbaik dari diri sendiri jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti apa yang sedang viral.

Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu, anak dan remaja yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka

  1. American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. American Psychological Association.
  2. Indonesia National Adolescent Mental Health Survey. (2022). Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS): Laporan nasional. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
  3. Universitas Airlangga. (2025, 25 April). Budaya konsumtif di balik viralnya Labubu. https://unair.ac.id/budaya-konsumtif-di-balik-viralnya-labubu/
  4. Universitas Muhammadiyah Jakarta. (2024, 19 September). Labubu menjadi tren berkat Lisa Blackpink. https://umj.ac.id/just_info/labubu-menjadi-trend-berkat-lisa-blackpink/
  5. World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
Remaja dan Media Sosial: Bijak Bermedia untuk Menjaga Kesehatan Mental

Remaja dan Media Sosial: Bijak Bermedia untuk Menjaga Kesehatan Mental

Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT.,M. Kes.

Universitas Alma Ata, Juli 2026 – Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja. Berbagai platform digital dimanfaatkan untuk belajar, mencari informasi, berkomunikasi, hingga mengekspresikan diri. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan media sosial yang berlebihan juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kesehatan mental remaja.

Belakangan ini, berbagai konten di media sosial ramai membahas fenomena digital fatigue, doom scrolling, dan tekanan untuk selalu tampil sempurna di dunia maya. Isu ini semakin menjadi sorotan setelah hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan bahwa hampir 10% anak dan remaja yang menjalani skrining memiliki indikasi gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi. Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan mental remaja perlu mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Media sosial pada dasarnya bukanlah penyebab utama masalah kesehatan mental. Akan tetapi, penggunaan yang tidak terkendali dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, gangguan tidur, rendahnya rasa percaya diri, hingga kecenderungan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Sebaliknya, jika digunakan secara bijaksana, media sosial dapat menjadi sarana belajar, membangun jejaring pertemanan, mengembangkan kreativitas, serta memperoleh informasi kesehatan yang benar.

Sebagai generasi digital, remaja perlu memiliki kemampuan literasi digital agar mampu menyaring informasi yang diterima. Tidak semua informasi kesehatan yang beredar di media sosial dapat dipercaya. Oleh karena itu, penting untuk memastikan sumber informasi berasal dari tenaga kesehatan, institusi pendidikan, atau lembaga resmi yang memiliki kredibilitas.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan remaja untuk menjaga kesehatan mental saat menggunakan media sosial antara lain:

  1. membatasi waktu penggunaan media sosial setiap hari;
  2. mengikuti akun yang memberikan konten positif dan edukatif;
  3. menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain;
  4. menjaga keseimbangan antara aktivitas daring dan aktivitas di dunia nyata;
  5. tetap berinteraksi secara langsung dengan keluarga dan teman; serta
  6. tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor apabila mengalami stres berkepanjangan.

Mari jadikan media sosial sebagai sarana untuk belajar, berbagi inspirasi, dan menyebarkan informasi kesehatan yang bermanfaat. Remaja yang cerdas dalam menggunakan teknologi adalah remaja yang mampu menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosialnya demi mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, tangguh, dan berdaya saing.

Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu dan anak yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 9 Maret). Alarm kesehatan mental anak: CKG temukan ratusan ribu anak bergejala cemas dan depresi. https://www.kemkes.go.id/id/alarm-kesehatan-mental-anak-ckg-temukan-ratusan-ribu-anak-bergejala-cemas-dan-depresi
  2. World Health Organization Indonesia. (2026, 23 Februari). Bersatu merespons dampak kesehatan jiwa kekerasan digital. https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/23-02-2026-uniting-to-respond-to-mental-health-impacts-of-digital-violence
  3. World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman nasional pelayanan kesehatan jiwa. Kementerian Kesehatan RI.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak. Kementerian Kesehatan RI.
  6. UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On my mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. UNICEF.
  7. American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. American Psychological Association.
Tren Vape di Kalangan Remaja: Lebih Aman atau Lebih Berbahaya dari Rokok?

Tren Vape di Kalangan Remaja: Lebih Aman atau Lebih Berbahaya dari Rokok?

Penulis: Dr. Restu Pangestuti, MKM.

Dalam beberapa tahun terakhir, vape atau rokok elektrik menjadi tren yang sangat populer di kalangan remaja. Dengan desain modern, pilihan rasa seperti buah dan permen, serta kesan “lebih aman” dibanding rokok, vape dengan cepat menarik perhatian generasi muda. Namun, dibalik popularitasnya, muncul pertanyaan penting: apakah vape lebih aman, atau justru menjadi ancaman baru bagi kesehatan remaja?

Fenomena ini bukan sekadar tren biasa. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa penggunaan vape di kalangan remaja meningkat tajam, bahkan di beberapa negara angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Di Indonesia sendiri, sekitar 12% remaja usia 13-17 tahun menggunakan rokok elektronik, menunjukkan bahwa vape telah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda. Hal ini diperkuat oleh strategi pemasaran yang sengaja menargetkan remaja melalui rasa menarik, desain keren, dan promosi di media sosial.

Banyak remaja beranggapan bahwa vape lebih aman daripada rokok karena tidak menghasilkan asap tembakau. Padahal, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Vape tetap mengandung nikotin dan berbagai zat kimia berbahaya yang dapat merusak kesehatan. Menurut WHO, aerosol vape mengandung zat toksik yang berisiko menyebabkan gangguan paru dan jantung. Selain itu, nikotin dalam vape sangat adiktif dan dapat mengganggu perkembangan otak remaja, yang masih berada dalam fase pertumbuhan.

Lebih mengkhawatirkan lagi, berbagai penelitian menunjukkan bahwa remaja yang menggunakan vape memiliki kemungkinan lebih besar untuk beralih ke rokok konvensional. Sebuah studi menemukan bahwa pengguna vape muda bisa hingga tiga kali lebih berisiko menjadi perokok aktif di kemudian hari. Ini berarti vape bukan sekadar alternatif, tetapi bisa menjadi “pintu masuk” menuju kebiasaan merokok yang lebih berbahaya.

Dari sisi kesehatan, rokok konvensional memang telah lama terbukti menyebabkan penyakit serius seperti kanker paru, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan kronis. Sementara itu, vape masih tergolong produk baru sehingga dampak jangka panjangnya belum sepenuhnya diketahui. Namun, berbagai bukti menunjukkan bahwa vape tetap dapat menyebabkan gangguan seperti asma, bronkitis, bahkan cedera paru. Dengan kata lain, meskipun berbeda bentuk, keduanya sama-sama membawa risiko kesehatan.

Selain faktor kesehatan, aspek sosial juga berperan besar dalam meningkatnya penggunaan vape pada remaja. Pengaruh teman sebaya, keinginan untuk terlihat “keren”, serta paparan media sosial membuat vape semakin diterima sebagai bagian dari gaya hidup. Bahkan, banyak remaja yang awalnya tidak merokok menjadi tertarik mencoba vape karena dianggap lebih modern dan tidak berbahaya.

Kesimpulannya, vape bukanlah pilihan yang aman bagi remaja. Meskipun sering dipromosikan sebagai alternatif rokok, kenyataannya vape tetap mengandung zat berbahaya dan berpotensi menimbulkan kecanduan. Rokok konvensional mungkin lebih berbahaya dalam jangka panjang, tetapi vape membawa risiko baru yang tidak kalah serius, terutama sebagai pintu masuk kecanduan nikotin di usia muda. Oleh karena itu, edukasi kesehatan yang tepat sangat penting untuk membantu remaja memahami bahwa baik vape maupun rokok sama-sama berbahaya dan sebaiknya dihindari.

Calon Bidan akan belajar tentang banyak tentang kesehatan. Gabung segera di Prodi D3 Kebidanan dan temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/

Referensi:

  1. World Health Organization. Tobacco: E-cigarettes [Internet]. 2024. Available from: https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/tobacco-e-cigarett
  2. Becker TD, Rice TR. Youth vaping: A review and update on global epidemiology, physical and behavioral health risks, and clinical considerations. Eur J Pediatr. 2022;181(2):453–462.
  3. Becker TD. A clinical overview of adolescent e-cigarette use (vaping). Minerva Pediatr. 2024;76(1):108–118.
  4. Lieu TA, Bibbins-Domingo K. E-cigarette use in adolescents and adults—A JAMA collection. JAMA. 2024;332(9):709–710.