Lebih dari Sekadar Nutrisi: Memaknai Menyusui dalam Menyukseskan Pekan Menyusui Sedunia 

Lebih dari Sekadar Nutrisi: Memaknai Menyusui dalam Menyukseskan Pekan Menyusui Sedunia 

Oleh Prasetya Lestari, S.ST., M.Kes

Setiap tanggal 1–7 Agustus, dunia memperingati Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya Air Susu Ibu (ASI). Namun, hingga saat ini masih banyak anggapan bahwa menyusui hanya sebatas memberikan makanan kepada bayi agar tumbuh sehat. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa manfaat ASI jauh melampaui pemenuhan kebutuhan gizi. Menyusui merupakan investasi jangka panjang yang berperan penting dalam membentuk kesehatan, kecerdasan, serta kualitas hidup anak hingga dewasa.

Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Program Sarjana Kebidanan dan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata, Prasetya Lestari, S.ST., M.Kes., yang mengajak masyarakat memaknai kembali pentingnya menyusui sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang sehat dan berkualitas. Menurutnya, keberhasilan menyusui bukan hanya menjadi tanggung jawab seorang ibu, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga, lingkungan kerja, tenaga kesehatan, hingga pemerintah.

“Menyusui bukan sekadar proses memberikan nutrisi kepada bayi. Di balik setiap tetes ASI terdapat perlindungan imunologis, dukungan bagi perkembangan otak, serta ikatan emosional yang menjadi fondasi tumbuh kembang anak. Karena itu, keberhasilan menyusui merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya perjuangan seorang ibu,” jelas Prasetya.

Tema Pekan Menyusui Sedunia tahun ini kembali mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan pemberian ASI, dimulai dari ASI Eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, kemudian dilanjutkan dengan ASI hingga usia dua tahun atau lebih, disertai pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang sesuai kebutuhan. Pendekatan tersebut telah direkomendasikan oleh berbagai organisasi kesehatan dunia karena terbukti memberikan manfaat besar bagi kesehatan ibu maupun anak.

Menurut Prasetya, enam bulan pertama kehidupan merupakan periode emas yang sangat menentukan kualitas kesehatan anak di masa mendatang. Pada masa ini, ASI mampu memenuhi seluruh kebutuhan cairan dan zat gizi bayi tanpa memerlukan tambahan air putih, susu formula, maupun makanan lainnya.

“ASI merupakan satu-satunya makanan yang dirancang secara alami sesuai kebutuhan bayi. Komposisinya terus menyesuaikan dengan usia dan kondisi bayi sehingga tidak ada produk lain yang mampu menggantikan fungsinya secara sempurna,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prasetya menjelaskan bahwa keistimewaan ASI tidak hanya terletak pada kandungan gizinya, tetapi juga pada berbagai komponen bioaktif yang berperan dalam membentuk sistem kekebalan tubuh bayi. ASI mengandung Human Milk Oligosaccharides (HMOs), imunoglobulin terutama IgA, laktoferin, serta berbagai sel imun hidup yang membantu mematangkan saluran pencernaan bayi sekaligus melindunginya dari infeksi bakteri maupun virus. Oleh karena itu, bayi yang memperoleh ASI eksklusif memiliki risiko lebih rendah mengalami berbagai penyakit infeksi dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan ASI secara optimal.

Selain memperkuat sistem imun, ASI juga memiliki peran penting dalam mencegah gangguan pertumbuhan, termasuk stunting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD) yang dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif berkontribusi terhadap penurunan risiko kegagalan pertumbuhan pada anak. Dengan demikian, upaya pencegahan stunting sesungguhnya telah dimulai sejak hari-hari pertama kehidupan melalui keberhasilan proses menyusui.

Tidak hanya itu, manfaat ASI juga sangat erat kaitannya dengan perkembangan otak. Kandungan Docosahexaenoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) yang terdapat dalam ASI berperan sebagai komponen penting dalam pembentukan jaringan saraf dan koneksi antarsel otak. Proses tersebut menjadi dasar berkembangnya kemampuan belajar, daya ingat, serta fungsi kognitif anak pada masa selanjutnya.

“Ketika ibu memberikan ASI eksklusif, sesungguhnya ibu sedang memberikan investasi terbaik bagi masa depan anak. Bukan hanya memenuhi kebutuhan nutrisi hari ini, tetapi juga mendukung perkembangan otak, sistem imun, dan kualitas kesehatan anak hingga bertahun-tahun ke depan,” tambah Prasetya.

Berdasarkan berbagai bukti ilmiah tersebut, Prasetya mengajak masyarakat untuk melihat menyusui sebagai investasi kesehatan sepanjang hayat. Dukungan kepada ibu menyusui sejak masa kehamilan, proses persalinan, hingga enam bulan pertama kehidupan bayi menjadi salah satu langkah penting dalam mewujudkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.

Referensi & Sumber Pustaka

  1. American Academy of Pediatrics (AAP). (2022). Policy Statement: Breastfeeding and the Use of Human Milk. Pediatrics, 150(1), e2022057988. https://doi.org/10.1542/peds.2022-057988 
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar dan Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
  3. Meek, J. Y., Noble, L., & Section on Breastfeeding. (2022). Technical Report: Breastfeeding and the Use of Human Milk. Pediatrics, 150(1), e2022057989.
  4. Pérez-Escamilla, R., Tomori, C., Hernández-Cordero, S., et al. (2023). Breastfeeding 1: Breastfeeding: crucially important, but still inadequately supported. The Lancet, 401(10375), 472-485. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)01932-8 
  5. Rollins, N., Piwoz, E., Baker, P., et al. (2023). Breastfeeding 2: Marketing of commercial milk formula: a system to capture parents, communities, science, and policy. The Lancet, 401(10375), 486-502. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)01933-X 
  6. UNICEF & World Health Organization. (2023). Global Breastfeeding Scorecard 2023: Protecting Breastfeeding through National Action. Geneva: World Health Organization and UNICEF.
  7. Victora, C. G., Bahl, R., Barros, A. J., et al. (2021). Breastfeeding in the 21st century: epidemiology, mechanisms, and lifelong effect. The Lancet, 387(10017), 475-490. 
  8. Walters, D. D., Phan, L. T. H., & Mathisen, R. (2023). The cost of not breastfeeding: Global results from the Cost of Not Breastfeeding Tool. Health Policy and Planning, 38(4), 450-462. https://doi.org/10.1093/heapol/czad012
Aku Suka Dia, Lalu Harus Bagaimana? Cara Sehat Mengungkapkan Ketertarikan pada Masa Remaja

Aku Suka Dia, Lalu Harus Bagaimana? Cara Sehat Mengungkapkan Ketertarikan pada Masa Remaja

Oleh Fatimatasari, M.Keb., Bd

Masa remaja merupakan periode ketika seseorang mulai mengenal berbagai perubahan, termasuk munculnya rasa tertarik kepada orang lain. Perasaan senang, kagum, hingga jatuh cinta sering kali menjadi pengalaman pertama yang membekas dalam kehidupan seorang remaja. Namun, tidak sedikit remaja yang masih bingung bagaimana menyikapi perasaan tersebut dengan cara yang sehat dan bertanggung jawab.

Fenomena ini menjadi perhatian Dosen Prodi Sarjana & Profesi Bidan Alma Ata, Fatimatasari, M.Keb., Bd., yang mengajak remaja untuk memahami bahwa jatuh cinta merupakan bagian normal dari proses perkembangan. Menurutnya, yang perlu diperhatikan bukanlah munculnya rasa suka itu sendiri, melainkan bagaimana seseorang mengelola perasaan tersebut agar tidak berdampak negatif terhadap masa depannya.

“Menyukai seseorang adalah hal yang sangat wajar. Hampir setiap remaja pernah mengalaminya. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana tetap mampu mengambil keputusan secara bijaksana meskipun sedang diliputi perasaan yang kuat,” jelas Fatimatasari.

Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang mulai jatuh cinta, sering kali muncul perubahan dalam cara berpikir maupun perilaku. Ada remaja yang menjadi lebih bersemangat menjalani aktivitas sehari-hari, tetapi tidak sedikit pula yang mulai kehilangan fokus belajar, mengabaikan tanggung jawab, bahkan rela melakukan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan nilai yang selama ini diyakininya.

Menurut Fatimatasari, kondisi tersebut bukan berarti remaja tidak mampu berpikir dengan baik. Sebaliknya, hal itu berkaitan dengan proses perkembangan otak yang memang masih berlangsung pada masa remaja.

Penelitian menunjukkan bahwa bagian otak yang berfungsi mengendalikan diri, mempertimbangkan risiko, dan mengambil keputusan jangka panjang masih terus berkembang hingga usia dewasa muda. Sementara itu, bagian otak yang berkaitan dengan emosi dan penghargaan sosial berkembang lebih cepat. Akibatnya, remaja sering kali mengetahui bahwa suatu tindakan berisiko, tetapi tetap terdorong melakukannya karena dipengaruhi emosi, rasa penasaran, atau keinginan untuk diterima oleh orang yang disukai. 

“Karena itu, ketika sedang menyukai seseorang, penting untuk tidak hanya mengikuti perasaan, tetapi juga menggunakan pertimbangan yang matang. Apa yang terasa menyenangkan hari ini belum tentu menjadi keputusan terbaik untuk masa depan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Fatimatasari menekankan pentingnya memiliki batasan (boundaries) dalam setiap hubungan. Menurutnya, batasan bukanlah bentuk pembatasan kebebasan, melainkan cara seseorang menjaga harga diri, keamanan, dan masa depannya.

Saat menjalin kedekatan dengan seseorang, remaja akan dihadapkan pada berbagai pilihan, mulai dari intensitas komunikasi, waktu yang dihabiskan bersama, hingga keputusan untuk membagikan informasi pribadi melalui media sosial atau aplikasi pesan. Dalam situasi seperti itu, keputusan sebaiknya diambil berdasarkan nilai dan prinsip pribadi, bukan karena tekanan pasangan maupun pengaruh lingkungan.

“Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya. Justru hubungan yang sehat adalah hubungan yang membuat kedua belah pihak tetap berkembang menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkap Fatimatasari. 

Ia juga mengingatkan bahwa setiap remaja perlu memiliki tujuan hidup yang jelas sebagai kompas ketika menghadapi berbagai keputusan dalam hubungan. Cita-cita pendidikan, impian karier, keluarga, kesehatan, maupun nilai-nilai yang diyakini dapat menjadi pengingat agar seseorang tidak mudah terbawa oleh emosi sesaat.

Menurut berbagai penelitian, remaja yang memiliki tujuan hidup yang jelas cenderung lebih mampu menolak tekanan dari pasangan maupun teman sebaya. Mereka tetap dapat menikmati proses mengenal seseorang tanpa harus mengorbankan impian yang sedang diperjuangkan.

“Sebelum mengambil keputusan, cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah tindakan ini mendekatkan saya pada cita-cita atau justru menjauhkan saya dari tujuan hidup? Pertanyaan sederhana seperti itu sering kali membantu kita mengambil keputusan yang lebih bijaksana,” jelasnya. 

Selain menjaga batasan dalam hubungan secara langsung, Fatimatasari juga mengingatkan pentingnya berhati-hati terhadap jejak digital. Kemajuan teknologi membuat komunikasi menjadi semakin mudah, tetapi juga menghadirkan berbagai risiko baru apabila tidak digunakan secara bijaksana.

Ia menjelaskan bahwa banyak remaja merasa lebih berani membagikan foto, video, maupun cerita pribadi melalui media digital karena merasa hanya berkomunikasi dengan orang yang dipercaya. Padahal, informasi yang telah dikirimkan hampir tidak pernah benar-benar dapat ditarik kembali.

Berbagai survei internasional menunjukkan bahwa sebagian remaja pernah mengirimkan pesan maupun konten pribadi ketika berada dalam hubungan yang dekat secara emosional. Namun, tidak sedikit yang kemudian menyesali keputusan tersebut setelah hubungan berakhir. Oleh karena itu, setiap kali akan membagikan sesuatu di dunia digital, remaja perlu mempertimbangkan apakah mereka tetap merasa nyaman apabila suatu saat informasi tersebut diketahui orang lain. 

“Jejak digital sering kali bertahan jauh lebih lama dibandingkan sebuah hubungan. Karena itu, jangan biarkan keputusan yang diambil karena emosi sesaat berdampak panjang terhadap kehidupan di masa depan,” kata Fatimatasari.

Menurutnya, hubungan yang sehat juga ditandai dengan adanya penghargaan terhadap batasan masing-masing. Seseorang yang benar-benar menghargai pasangannya tidak akan memaksa, mengancam, ataupun membuat pasangannya merasa bersalah demi memenuhi keinginannya.

Sebaliknya, hubungan yang baik memberikan ruang bagi setiap individu untuk mengatakan “tidak” tanpa takut kehilangan kasih sayang maupun penghargaan dari orang lain. Sikap saling menghormati inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun hubungan yang sehat.

Fatimatasari berharap para remaja tidak terburu-buru memaknai cinta sebagai alasan untuk mengorbankan pendidikan, cita-cita, maupun harga diri. Masa remaja merupakan waktu terbaik untuk mengenali diri sendiri, membangun karakter, dan mempersiapkan masa depan.

“Jatuh cinta adalah pengalaman yang indah dan sangat manusiawi. Namun, kedewasaan bukan diukur dari seberapa cepat seseorang memiliki pasangan, melainkan dari kemampuannya tetap mengenali diri sendiri, menjaga batasan, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab ketika sedang merasakan cinta,” tuturnya.

Sebagai akademisi di bidang kebidanan dan kesehatan remaja, Fatimatasari berharap semakin banyak remaja yang memahami bahwa hubungan yang sehat selalu dibangun atas dasar saling menghargai, komunikasi yang baik, serta kemampuan mengendalikan diri. Dengan demikian, pengalaman menyukai seseorang dapat menjadi bagian positif dari proses tumbuh kembang, bukan menjadi penghambat dalam meraih masa depan.

“Apa pun impian yang sedang diperjuangkan hari ini, jangan biarkan perasaan sesaat membuatmu melupakan masa depan. Cinta yang sehat akan mendukungmu untuk terus bertumbuh, bukan menghentikan langkahmu menuju cita-cita,” tutup Fatimatasari. 

Referensi

  1. McCormick, E. M., Qu, Y., & Telzer, E. H. (2024). Experience-dependent neurodevelopment of self-regulation in adolescence. Developmental Cognitive Neuroscience, 65, 101338.
  2. Willems, Y. E., Li, J. B., Bartels, M., & Finkenauer, C. (2024). Individual differences in adolescent self-control: The role of gene-environment interplay. Current Opinion in Psychology, 60, 101897.
  3. Thulin, E. J., Kernsmith, P., Fleming, P. J., Heinze, J. E., Temple, J., & Smith-Darden, J. (2023). Coercive-sexting: Predicting adolescent initial exposure to electronic coercive sexual dating violence. Computers in Human Behavior, 141, 107641.
  4. World Health Organization. (2024). Adolescent Health.
  5. UNICEF. (2024). Adolescent Development and Participation.
Private Speech pada Anak: Rasa Aman dari Orang Tua Berperan dalam Perkembangannya

Private Speech pada Anak: Rasa Aman dari Orang Tua Berperan dalam Perkembangannya

Oleh Lia Dian Ayuningrum

Sebagian orang tua masih merasa khawatir ketika melihat anak berbicara sendiri saat bermain. Tidak sedikit yang menganggap kebiasaan tersebut sebagai perilaku yang aneh atau pertanda adanya gangguan perkembangan. Padahal, dalam kajian psikologi perkembangan, perilaku tersebut merupakan bagian normal dari proses belajar anak yang dikenal sebagai private speech.

Fenomena ini menjadi perhatian Dosen Prodi Sarjana & Profesi Bidan Alma Ata, Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb, yang mengajak masyarakat untuk memahami bahwa private speech merupakan salah satu indikator perkembangan kognitif yang sehat. Menurutnya, selama muncul pada konteks yang wajar, seperti ketika anak bermain atau menyelesaikan tugas, perilaku tersebut justru perlu didukung, bukan dihentikan.

“Ketika anak berbicara kepada dirinya sendiri saat bermain, sebenarnya ia sedang menyusun cara berpikirnya. Anak sedang belajar merencanakan tindakan, mengatur perilaku, sekaligus memecahkan masalah yang sedang dihadapinya,” jelas Dian.

Ia menjelaskan bahwa konsep private speech pertama kali diperkenalkan oleh psikolog perkembangan Lev Vygotsky. Dalam teorinya, Vygotsky menyebut bahwa ucapan yang diarahkan kepada diri sendiri merupakan alat berpikir sekaligus mekanisme regulasi diri yang membantu anak mengendalikan perilaku selama proses belajar.

Menurut Vygotsky, perkembangan bahasa anak berlangsung melalui beberapa tahapan, dimulai dari bahasa sosial yang berkembang sejak usia sekitar dua tahun, kemudian private speech, hingga akhirnya menjadi inner speech atau bicara batin yang berkembang lebih matang sekitar usia tujuh tahun. Dengan demikian, kebiasaan anak berbicara sendiri merupakan tahapan alami sebelum mereka mampu mengatur proses berpikir secara internal sebagaimana orang dewasa.

Lebih lanjut, Dian menjelaskan bahwa manfaat private speech tidak hanya didasarkan pada teori, tetapi juga telah didukung oleh berbagai hasil penelitian. Salah satunya adalah penelitian Berk dan Spuhl (1995) yang menunjukkan bahwa private speech berkembang secara konsisten pada anak dengan perkembangan normal serta berkaitan dengan kemampuan mereka dalam menyelesaikan berbagai tugas.

Berbagai kajian ilmiah juga menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan private speech dengan performa anak saat menghadapi tantangan. Anak yang lebih sering menggunakan private speech ketika mengerjakan tugas cenderung menunjukkan kemampuan penyelesaian masalah yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak melakukannya.

Selain membantu meningkatkan kemampuan berpikir, private speech juga diketahui berperan dalam mengembangkan imajinasi, melatih kemampuan memecahkan masalah, serta membantu anak mengorganisasi pikirannya. Menariknya, perilaku ini paling sering muncul ketika anak menghadapi situasi yang menantang, bukan ketika mereka mengalami kebingungan tanpa arah.

“Justru saat anak sedang kesulitan menyusun balok, menggambar, atau menyelesaikan permainan tertentu, mereka akan berbicara kepada dirinya sendiri untuk membantu menemukan solusi. Itu menunjukkan bahwa otaknya sedang bekerja aktif,” ungkapnya.

Menurut Dian, terdapat beberapa manfaat penting dari private speech bagi perkembangan anak. Pertama, perilaku tersebut membantu anak belajar mengarahkan dirinya sendiri tanpa selalu bergantung pada instruksi orang dewasa. Kedua, private speech menjadi jembatan menuju berkembangnya kemampuan berpikir yang lebih matang, termasuk kemampuan berpikir dalam hati (inner speech) yang akan mendukung proses belajar di masa depan. Ketiga, kebiasaan tersebut menjadi indikator bahwa anak sedang mengembangkan kemampuan regulasi diri yang penting bagi keberhasilan akademik maupun kehidupan sehari-hari.

Selain berkaitan dengan perkembangan kognitif, private speech juga dipengaruhi oleh lingkungan pengasuhan. Dian menjelaskan bahwa anak cenderung lebih bebas berbicara kepada dirinya sendiri ketika merasa aman, nyaman, dan diterima di lingkungan keluarga.

Hal tersebut didukung oleh penelitian Wall, Mulvihill, Matthews, Dux, dan Carroll yang dipublikasikan dalam Journal of Child Language (2024). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh hangat, responsif, dan mendukung kemandirian lebih sering menggunakan private speech yang berisi perencanaan maupun motivasi diri ketika mengerjakan tugas yang menantang. Sebaliknya, pola asuh yang terlalu mengontrol atau kurang responsif tidak menunjukkan hubungan yang sama.

Menurut Dian, temuan tersebut memperkuat teori Vygotsky bahwa bahasa yang awalnya berasal dari interaksi antara orang tua dan anak lambat laun akan diinternalisasi menjadi suara yang digunakan anak untuk membimbing dirinya sendiri.

“Kalimat-kalimat yang sering diucapkan orang tua, seperti ‘coba pelan-pelan’, ‘ayo kamu pasti bisa’, atau ‘kita pikirkan dulu’, perlahan menjadi suara yang dipakai anak untuk mengarahkan dirinya sendiri ketika menghadapi tantangan,” jelasnya.

Temuan serupa juga diperlihatkan dalam penelitian longitudinal Whedon, Perry, Curtis, dan Bell yang dipublikasikan di Early Childhood Research Quarterly (2021). Studi tersebut menemukan bahwa private speech pada usia tiga tahun berkaitan dengan kemampuan kontrol diri pada usia empat tahun, yang selanjutnya berhubungan dengan kemampuan regulasi emosi ketika anak berusia sembilan tahun. Hasil tersebut menunjukkan bahwa manfaat private speech tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga berkontribusi terhadap perkembangan sosial dan emosional anak di masa mendatang.

Berdasarkan berbagai temuan ilmiah tersebut, Dian mengimbau para orang tua untuk tidak terburu-buru menegur anak ketika melihat mereka berbicara sendiri saat bermain. Sebaliknya, orang tua disarankan memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan proses berpikirnya secara alami.

“Orang tua tidak perlu khawatir selama perilaku tersebut muncul dalam situasi yang wajar. Biarkan anak menyelesaikan ‘percakapannya’ sendiri karena pada saat itulah ia sedang belajar berpikir dan mengatur dirinya. Orang tua juga dapat memberikan contoh dengan sesekali berpikir keras (thinking aloud) saat menyelesaikan suatu masalah agar anak melihat bahwa berbicara kepada diri sendiri merupakan strategi yang normal dalam proses berpikir,” ujarnya.

Sebagai akademisi di bidang psikologi perkembangan, Dian berharap masyarakat semakin memahami bahwa private speech merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Edukasi yang tepat diharapkan dapat mengurangi kesalahpahaman sehingga orang tua mampu memberikan dukungan yang lebih optimal terhadap perkembangan kognitif dan emosional anak.

“Private speech bukanlah kebiasaan yang perlu ditakuti. Sebaliknya, perilaku tersebut merupakan salah satu tanda bahwa anak sedang membangun kemampuan berpikir, belajar mengendalikan diri, dan mempersiapkan fondasi bagi perkembangan kognitif maupun emosionalnya di masa depan,” tutup Dian.

Referensi

  1. Wall, K., Mulvihill, A., Matthews, N., Dux, P. E., & Carroll, A. (2024/2026). Maternal parenting style and self-regulatory private speech content use in preschool children. Journal of Child Language, 53(1), 218–233.
  2. Whedon, M., Perry, N. B., Curtis, E. B., & Bell, M. A. (2021). Private speech and the development of self-regulation: The importance of temperamental anger. Early Childhood Research Quarterly, 56, 213–224.
  3. Day, K. L., Tan, L., & Smith, C. L. (2024). Preschoolers’ self-regulation: Private speech in cognitive and emotion contexts. Journal of Child and Family Studies, 33(5), 1437–1450.
  4. Gowrie NSW. Lev Vygotsky’s Theory of Child Development. Diakses dari gowriensw.com.au.
  5. Frontiers in Developmental Psychology (2025). Private speech among children with intellectual disabilities.
Waspada Cuaca Ekstrem Awal Juli: Dosen Sarjana Kebidanan Ingatkan Masyarakat Lindungi Keluarga dari Heat Exhaustion dan ISPA

Waspada Cuaca Ekstrem Awal Juli: Dosen Sarjana Kebidanan Ingatkan Masyarakat Lindungi Keluarga dari Heat Exhaustion dan ISPA


Memasuki awal bulan Juli, sebagian besar wilayah di Indonesia mengalami puncak musim kemarau yang ditandai dengan meningkatnya suhu udara serta kondisi lingkungan yang lebih kering dan berdebu. Cuaca ekstrem yang terjadi tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama Heat Exhaustion (kelelahan akibat panas) dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi ini perlu menjadi perhatian seluruh masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, balita, lansia, serta individu dengan penyakit kronis.

Fenomena tersebut menjadi perhatian Dosen Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata, Ibu Isti Chana Zuliyati, S.ST., M.Keb yang mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca ekstrem melalui penerapan langkah-langkah pencegahan sederhana di lingkungan keluarga.

Menurut Isti, paparan suhu yang tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dalam jumlah besar melalui keringat. Apabila cairan yang hilang tidak segera digantikan, tubuh akan mengalami dehidrasi yang dapat berkembang menjadi heat exhaustion, yaitu kondisi ketika tubuh mulai kesulitan mengatur suhu secara normal.

“Cuaca panas tidak boleh dianggap sepele. Banyak masyarakat baru menyadari ketika tubuh sudah mengalami dehidrasi berat. Padahal, kondisi tersebut dapat dicegah dengan menjaga kecukupan cairan tubuh dan membatasi aktivitas di bawah terik matahari,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa beberapa gejala heat exhaustion yang perlu diwaspadai antara lain keringat berlebih, kulit terasa dingin atau lembap, pusing, sakit kepala, mual, muntah, kram otot, hingga jantung berdebar lebih cepat dari biasanya. Apabila gejala tersebut tidak segera ditangani, kondisi dapat berkembang menjadi heat stroke yang bersifat darurat medis.

Lebih lanjut, Isti menekankan bahwa ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak cuaca panas. Selama kehamilan, kebutuhan cairan meningkat karena tubuh harus menjaga volume darah serta cairan ketuban. Dehidrasi pada trimester awal dapat memperberat keluhan mual dan muntah, sedangkan pada trimester akhir dapat memicu kontraksi palsu atau Braxton Hicks yang lebih sering muncul.

“Ibu hamil perlu lebih disiplin menjaga asupan cairan setiap hari. Jangan menunggu merasa haus karena rasa haus merupakan tanda awal tubuh mulai mengalami kekurangan cairan,” ujarnya.

Selain ancaman akibat suhu tinggi, musim kemarau juga menyebabkan kualitas udara menurun karena meningkatnya debu dan polusi. Udara yang lebih kering membuat partikel debu, asap kendaraan, maupun polutan lainnya lebih mudah beterbangan dan terhirup sehingga meningkatkan risiko terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Menurutnya, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan karena sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan. Paparan debu secara terus-menerus dapat memicu batuk, pilek, radang tenggorokan, hingga memperburuk gangguan pernapasan pada anak yang memiliki riwayat alergi maupun asma.

Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama musim kemarau, Isti mengimbau masyarakat menerapkan beberapa langkah proteksi mandiri. Di antaranya membiasakan minum air putih minimal 2–2,5 liter setiap hari, sementara ibu menyusui dianjurkan meningkatkan konsumsi cairan hingga sekitar 3 liter per hari. Selain itu, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi terutama pada pukul 10.00–15.00 ketika paparan sinar matahari sedang berada pada intensitas tertinggi.

Ia juga menyarankan masyarakat memperbanyak konsumsi buah-buahan yang kaya kandungan air dan vitamin C seperti semangka, melon, dan jeruk untuk membantu menjaga hidrasi sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh. Penggunaan pakaian berbahan katun yang longgar dan menyerap keringat serta pemakaian masker saat berada di lingkungan berdebu juga menjadi langkah sederhana yang efektif untuk melindungi kesehatan.

“Perlindungan terhadap kesehatan keluarga dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Menjaga tubuh tetap terhidrasi, menggunakan pakaian yang nyaman, menghindari paparan panas berlebihan, serta memakai masker saat kualitas udara menurun merupakan upaya sederhana namun sangat bermanfaat dalam mencegah berbagai gangguan kesehatan selama musim kemarau,” jelasnya.

Sebagai dosen Profesi Bidan, Isti berharap masyarakat semakin peduli terhadap perubahan cuaca yang terjadi dan tidak menganggap keluhan akibat panas sebagai kondisi yang biasa. Edukasi mengenai pencegahan menjadi kunci agar kelompok rentan, terutama ibu hamil, bayi, balita, dan lansia, tetap terlindungi selama menghadapi cuaca ekstrem.

“Cuaca ekstrem merupakan tantangan yang tidak dapat kita hindari, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui perilaku hidup sehat dan kewaspadaan sejak dini. Mari bersama menjaga kesehatan diri dan keluarga dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan secara konsisten agar tetap sehat sepanjang musim kemarau,” tutup Isti.

BUKAN SEKADAR SERAGAM BARU, INI BEKAL PENTING ANAK SEBELUM HARI PERTAMA SEKOLAH

BUKAN SEKADAR SERAGAM BARU, INI BEKAL PENTING ANAK SEBELUM HARI PERTAMA SEKOLAH

Memasuki tahun ajaran baru, banyak orang tua disibukkan dengan berbagai persiapan seperti membeli seragam, tas, dan perlengkapan sekolah. Namun, di balik berbagai persiapan tersebut, terdapat hal yang tidak kalah penting, yaitu memastikan anak benar-benar siap secara fisik, mental, dan perkembangan untuk menghadapi lingkungan sekolah yang baru.

Menurut Dosen Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata , Indah Wijayanti, S.ST., M.Keb., Bdn., hari pertama sekolah merupakan fase transisi penting dalam kehidupan anak. Perpindahan dari lingkungan rumah yang nyaman menuju lingkungan belajar yang lebih dinamis memerlukan kesiapan yang menyeluruh agar proses adaptasi berjalan optimal.

“Hari pertama sekolah bukan sekadar mengenakan seragam baru atau membawa tas baru. Ini adalah langkah besar bagi anak untuk mulai belajar mandiri, berinteraksi dengan teman sebaya, mengikuti aturan, serta menghadapi berbagai tantangan baru. Oleh karena itu, orang tua perlu memastikan bahwa kesiapan anak tidak hanya dilihat dari aspek akademik, tetapi juga kesehatan, perkembangan, dan kesiapan emosionalnya,” ujar Indah.

Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif kebidanan komunitas, kesiapan anak memasuki sekolah dapat dilihat dari tiga aspek utama, yaitu kesehatan dan imunitas, tumbuh kembang serta kemandirian, dan kesiapan psikososial. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam mendukung keberhasilan anak beradaptasi di lingkungan sekolah.

Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah kondisi kesehatan anak. Ketika mulai bersekolah, anak akan berinteraksi dengan banyak teman sehingga risiko tertular berbagai penyakit infeksi, seperti influenza, batuk pilek, cacar air, maupun gangguan saluran pencernaan menjadi lebih tinggi.

“Orang tua perlu memastikan bahwa imunisasi dasar maupun lanjutan anak telah lengkap sesuai usianya. Selain itu, anak juga perlu dibiasakan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan menggunakan sabun dengan benar, menjaga kebersihan diri, serta menerapkan etika batuk dan bersin. Kebiasaan sederhana ini menjadi benteng pertama dalam mencegah penularan penyakit di lingkungan sekolah,” jelasnya.

Selain kesehatan, kesiapan perkembangan motorik dan kemandirian juga memegang peranan penting. Indah menjelaskan bahwa anak usia prasekolah idealnya telah memiliki kemampuan dasar untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

“Anak yang siap masuk sekolah sebaiknya sudah mampu menggunakan toilet sendiri, mengungkapkan kebutuhan buang air kepada guru, membuka bekal makanan secara mandiri, memegang pensil dengan baik, hingga melakukan aktivitas motorik halus seperti menggunting atau mewarnai. Keterampilan tersebut akan membantu anak lebih percaya diri saat mengikuti kegiatan belajar di kelas,” katanya.

Menurutnya, bidan dapat membantu orang tua melakukan deteksi dini tumbuh kembang melalui pemantauan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Dengan demikian, apabila ditemukan keterlambatan perkembangan, stimulasi dapat segera diberikan sebelum anak memasuki jenjang sekolah.

Tidak hanya itu, aspek nutrisi juga menjadi faktor penting yang sering kali terabaikan. Perubahan rutinitas sekolah membuat anak membutuhkan energi yang cukup agar mampu berkonsentrasi selama mengikuti proses pembelajaran.

“Biasakan anak sarapan sebelum berangkat sekolah. Pilih menu yang mengandung protein seperti telur, ikan, susu, atau sumber protein lainnya karena mampu memberikan rasa kenyang lebih lama dan membantu menjaga konsentrasi anak selama belajar. Selain itu, kebutuhan zat besi dan zinc juga harus dipenuhi karena berperan penting dalam mendukung fungsi otak, daya tahan tubuh, serta perkembangan kognitif anak,” ungkap Indah.

Ia menambahkan bahwa selain kesiapan fisik, kesiapan emosional juga menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan adaptasi anak di sekolah. Tidak sedikit anak mengalami separation anxiety atau kecemasan saat harus berpisah dengan orang tua pada hari-hari pertama sekolah.

“Perasaan cemas merupakan hal yang wajar. Yang perlu dilakukan orang tua adalah membantu anak mengenal rutinitas sekolah sejak beberapa minggu sebelumnya, mulai dari mengatur jam tidur dan bangun, membiasakan memakai seragam, hingga mengajak anak bercerita mengenai pengalaman menyenangkan yang akan ditemuinya di sekolah,” jelasnya.

Indah juga mengingatkan agar orang tua menghindari penggunaan kalimat yang bernada ancaman ketika mengenalkan sekolah kepada anak.

“Hindari ucapan seperti ‘kalau nakal nanti dimarahi guru’. Sebaliknya, bangun persepsi positif bahwa sekolah adalah tempat bermain, belajar, dan bertemu teman baru. Lingkungan emosional yang positif akan membuat anak lebih siap menghadapi masa transisi ini,” tambahnya.

Menurut Indah, kesiapan masuk sekolah sebenarnya merupakan hasil dari proses pengasuhan dan pemantauan tumbuh kembang yang berlangsung sejak masa seribu hari pertama kehidupan hingga usia prasekolah. Oleh karena itu, peran orang tua, bidan, tenaga kesehatan, dan pendidik perlu berjalan secara beriringan untuk mendukung perkembangan anak secara optimal.

“Kesiapan anak memasuki sekolah bukan hanya tentang kemampuan membaca atau berhitung, tetapi juga kesiapan fisik, kesehatan, perkembangan motorik, kemampuan bersosialisasi, dan ketahanan emosional. Ketika seluruh aspek tersebut dipersiapkan dengan baik, anak akan lebih mudah beradaptasi, merasa percaya diri, serta menikmati pengalaman belajar di sekolah,” tutup Indah.

Jauh dari Rumah, Dekat dengan Bahaya? Dosen Alma Ata Ingatkan Mahasiswi Waspadai Intimate Partner Violence melalui Pengenalan Red Flags dalam Hubungan

Jauh dari Rumah, Dekat dengan Bahaya? Dosen Alma Ata Ingatkan Mahasiswi Waspadai Intimate Partner Violence melalui Pengenalan Red Flags dalam Hubungan

Fenomena kekerasan dalam hubungan pacaran atau Intimate Partner Violence (IPV) masih menjadi persoalan yang mengancam kesehatan fisik maupun mental perempuan, termasuk mahasiswi yang sedang merantau untuk menempuh pendidikan tinggi. Jauh dari keluarga, tinggal di lingkungan baru, serta menjalani kehidupan kampus yang lebih mandiri membuat mahasiswi memiliki kerentanan tersendiri terhadap hubungan yang tidak sehat. Kondisi tersebut menjadi perhatian Dosen Program Studi dosen Profesi Bidan Alma Ata, Bdn. Rani Ayu Hapsari, S.ST.,SKM.,MKM yang menekankan pentingnya kemampuan mengenali red flags atau tanda bahaya dalam suatu hubungan sejak usia remaja.

Menurut Rani, banyak korban kekerasan dalam pacaran tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan karena berbagai perilaku pasangan sering kali dibungkus dengan alasan cinta, perhatian, atau rasa sayang. Padahal, perilaku mengontrol, membatasi aktivitas, hingga manipulasi emosional merupakan bentuk kekerasan yang dapat berkembang menjadi tindakan yang lebih serius.

“Mahasiswi yang sedang merantau menghadapi tantangan baru dalam kehidupan sosialnya. Mereka belajar hidup mandiri, membangun relasi, dan mulai menjalin hubungan romantis. Pada situasi inilah kemampuan mengenali hubungan yang sehat menjadi sangat penting agar tidak terjebak dalam kekerasan yang sering kali muncul secara perlahan,” ujar Rani.

Ia menjelaskan bahwa kelompok usia mahasiswa, khususnya 18–24 tahun, merupakan fase perkembangan ketika seseorang sedang membangun identitas diri dan belajar menjalin hubungan interpersonal. Namun, pada fase ini kemampuan mengelola emosi, menyelesaikan konflik, dan menetapkan batasan pribadi belum selalu berkembang secara optimal sehingga risiko terjadinya kekerasan dalam pacaran menjadi lebih tinggi.

Jelasnya lagi, salah satu langkah pencegahan yang paling penting adalah mengenali berbagai red flags dalam hubungan. Tanda-tanda tersebut antara lain pasangan yang bersikap posesif dan selalu ingin mengetahui keberadaan pasangannya, membatasi pergaulan, memeriksa telepon genggam tanpa izin, hingga mengontrol cara berpakaian atau aktivitas sehari-hari.

“Tidak sedikit yang menganggap perilaku posesif sebagai bentuk perhatian. Padahal, hubungan yang sehat dibangun atas dasar kepercayaan, bukan pengawasan yang berlebihan. Ketika seseorang mulai kehilangan kebebasan untuk mengambil keputusan atas dirinya sendiri, itu merupakan alarm yang perlu diwaspadai,” jelasnya.

Selain perilaku mengontrol, Rani juga mengingatkan pentingnya mengenali bentuk kekerasan verbal dan psikologis seperti membentak, menghina, merendahkan pasangan, mengancam, hingga membuat korban merasa bersalah atas sesuatu yang bukan kesalahannya. Bentuk manipulasi psikologis atau gaslighting sering kali membuat korban kehilangan rasa percaya diri dan mulai meragukan penilaiannya sendiri.

“Kekerasan tidak selalu meninggalkan luka fisik. Luka psikologis justru sering kali berlangsung lebih lama dan berdampak terhadap kesehatan mental, prestasi akademik, bahkan kemampuan korban untuk membangun hubungan yang sehat di masa depan,” katanya.

Rani menambahkan bahwa bentuk kekerasan lain yang juga harus diwaspadai adalah adanya paksaan untuk melakukan aktivitas seksual, sentuhan yang tidak diinginkan, maupun ancaman pemutusan hubungan apabila korban menolak. Menurutnya, setiap individu memiliki hak penuh atas tubuhnya sehingga persetujuan (consent) harus menjadi dasar dalam setiap hubungan.

Ia menjelaskan bahwa banyak mahasiswi tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat karena berharap pasangannya akan berubah, memiliki ketergantungan emosional, atau merasa malu mengakhiri hubungan yang sudah diketahui oleh keluarga maupun teman-teman. Kondisi tersebut dapat membuat korban terjebak dalam cycle of abuseatau siklus kekerasan yang semakin sulit dihentikan.

“Semakin lama seseorang bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan, semakin besar risiko munculnya depresi, kecemasan, stres berkepanjangan, hingga penurunan kualitas hidup. Karena itu, penting bagi korban untuk menyadari bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah untuk melindungi diri,” ujarnya.

Sebagai upaya pencegahan, sebagai dosen Profesi Bidan Alma Ata mengajak mahasiswi membangun faktor protektif yang kuat melalui peningkatan kepercayaan diri, kemampuan mengambil keputusan, optimisme, serta resiliensi dalam menghadapi tekanan. Dukungan sosial dari keluarga, teman sebaya, maupun lingkungan kampus juga menjadi faktor penting yang dapat membantu korban keluar dari hubungan yang tidak sehat.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga keamanan digital dan keamanan fisik, terutama bagi mahasiswi yang tinggal di kos. Menghindari membagikan lokasi secara real-time di media sosial, memilih lingkungan tempat tinggal yang aman, serta menyimpan bukti berupa tangkapan layar apabila mengalami pelecehan digital merupakan langkah sederhana yang dapat membantu proses perlindungan diri. Ia berharap seluruh mahasiswi tidak mengabaikan tanda-tanda awal hubungan yang tidak sehat serta berani berbicara apabila mengalami kekerasan dalam bentuk apa pun.

“Untuk seluruh mahasiswi, ingatlah bahwa hubungan yang sehat tidak pernah dibangun dengan rasa takut, ancaman, ataupun kontrol yang berlebihan. Kamu berhak dihargai, didengarkan, dan merasa aman dalam setiap hubungan. Jangan pernah ragu mengatakan tidak terhadap perlakuan yang membuatmu tidak nyaman, dan segera cari bantuan kepada keluarga, teman terpercaya, bidan, psikolog, atau tenaga kesehatan apabila mengalami kekerasan. Melindungi diri adalah bentuk keberanian dan penghargaan terhadap diri sendiri,” tutup Rani.

Referensi 

  • Alemu, M. D., dkk. (2024). Trend and determinants of unmet need for family planning among married women in Ethiopia. PloS One.
  • Bahadir-Yilmaz, E., & Sahin, E. (2021). The effects of irrational romantic relationship beliefs and experiences in close relationships on dating violence of nursing and midwifery students. Perspectives in Psychiatric Care.
  • Fisipol UGM. (2022). Memahami Red Flags dalam Sebuah Hubungan.
  • Halodoc. (2023). 8 Tanda Red Flag yang Ada pada Hubungan yang Perlu Diwaspadai.
  • Lestari, S., dkk. (2024). The Trap of Toxic Relationships in Dating: The Case of Five Female Students in Palu City. Journal Eduvest.
  • Masoem University. (2026). Bahaya dan Keamanan Kost di Bandung: Panduan Jujur untuk Mahasiswa Perempuan dari Luar Kota.
  • Rahmawati, R. W. T., & Chusairi, A. (2024). Pengaruh Modal Psikologis dan Dukungan Sosial terhadap Gejala Depresi pada Mahasiswi Korban Kekerasan dalam Pacaran di Kota Surabaya. Universitas Airlangga.
  • Suara.com. (2026). Daftar Hotline dan Bantuan Psikologis Korban Kekerasan Seksual di Depok-Jakarta.
  • Thalia, I. R. (2022). Resiliensi Mahasiswi Korban Kekerasan Dalam Pacaran di Yogyakarta. Skripsi UIN Sunan Kalijaga.
  • Utami, R. L., dkk. (2023). Peran Multifaset Bidan Dalam Pencegahan, Identifikasi, Dan Penanganan Awal Kasus Kekerasan Seksual Pada Perempuan. Seminar Nasional Bukit Pengharapan.