Memasuki tahun ajaran baru, banyak orang tua disibukkan dengan berbagai persiapan seperti membeli seragam, tas, dan perlengkapan sekolah. Namun, di balik berbagai persiapan tersebut, terdapat hal yang tidak kalah penting, yaitu memastikan anak benar-benar siap secara fisik, mental, dan perkembangan untuk menghadapi lingkungan sekolah yang baru.
Menurut Dosen Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata , Indah Wijayanti, S.ST., M.Keb., Bdn., hari pertama sekolah merupakan fase transisi penting dalam kehidupan anak. Perpindahan dari lingkungan rumah yang nyaman menuju lingkungan belajar yang lebih dinamis memerlukan kesiapan yang menyeluruh agar proses adaptasi berjalan optimal.
“Hari pertama sekolah bukan sekadar mengenakan seragam baru atau membawa tas baru. Ini adalah langkah besar bagi anak untuk mulai belajar mandiri, berinteraksi dengan teman sebaya, mengikuti aturan, serta menghadapi berbagai tantangan baru. Oleh karena itu, orang tua perlu memastikan bahwa kesiapan anak tidak hanya dilihat dari aspek akademik, tetapi juga kesehatan, perkembangan, dan kesiapan emosionalnya,” ujar Indah.
Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif kebidanan komunitas, kesiapan anak memasuki sekolah dapat dilihat dari tiga aspek utama, yaitu kesehatan dan imunitas, tumbuh kembang serta kemandirian, dan kesiapan psikososial. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam mendukung keberhasilan anak beradaptasi di lingkungan sekolah.
Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah kondisi kesehatan anak. Ketika mulai bersekolah, anak akan berinteraksi dengan banyak teman sehingga risiko tertular berbagai penyakit infeksi, seperti influenza, batuk pilek, cacar air, maupun gangguan saluran pencernaan menjadi lebih tinggi.
“Orang tua perlu memastikan bahwa imunisasi dasar maupun lanjutan anak telah lengkap sesuai usianya. Selain itu, anak juga perlu dibiasakan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan menggunakan sabun dengan benar, menjaga kebersihan diri, serta menerapkan etika batuk dan bersin. Kebiasaan sederhana ini menjadi benteng pertama dalam mencegah penularan penyakit di lingkungan sekolah,” jelasnya.
Selain kesehatan, kesiapan perkembangan motorik dan kemandirian juga memegang peranan penting. Indah menjelaskan bahwa anak usia prasekolah idealnya telah memiliki kemampuan dasar untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
“Anak yang siap masuk sekolah sebaiknya sudah mampu menggunakan toilet sendiri, mengungkapkan kebutuhan buang air kepada guru, membuka bekal makanan secara mandiri, memegang pensil dengan baik, hingga melakukan aktivitas motorik halus seperti menggunting atau mewarnai. Keterampilan tersebut akan membantu anak lebih percaya diri saat mengikuti kegiatan belajar di kelas,” katanya.
Menurutnya, bidan dapat membantu orang tua melakukan deteksi dini tumbuh kembang melalui pemantauan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Dengan demikian, apabila ditemukan keterlambatan perkembangan, stimulasi dapat segera diberikan sebelum anak memasuki jenjang sekolah.
Tidak hanya itu, aspek nutrisi juga menjadi faktor penting yang sering kali terabaikan. Perubahan rutinitas sekolah membuat anak membutuhkan energi yang cukup agar mampu berkonsentrasi selama mengikuti proses pembelajaran.
“Biasakan anak sarapan sebelum berangkat sekolah. Pilih menu yang mengandung protein seperti telur, ikan, susu, atau sumber protein lainnya karena mampu memberikan rasa kenyang lebih lama dan membantu menjaga konsentrasi anak selama belajar. Selain itu, kebutuhan zat besi dan zinc juga harus dipenuhi karena berperan penting dalam mendukung fungsi otak, daya tahan tubuh, serta perkembangan kognitif anak,” ungkap Indah.
Ia menambahkan bahwa selain kesiapan fisik, kesiapan emosional juga menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan adaptasi anak di sekolah. Tidak sedikit anak mengalami separation anxiety atau kecemasan saat harus berpisah dengan orang tua pada hari-hari pertama sekolah.
“Perasaan cemas merupakan hal yang wajar. Yang perlu dilakukan orang tua adalah membantu anak mengenal rutinitas sekolah sejak beberapa minggu sebelumnya, mulai dari mengatur jam tidur dan bangun, membiasakan memakai seragam, hingga mengajak anak bercerita mengenai pengalaman menyenangkan yang akan ditemuinya di sekolah,” jelasnya.
Indah juga mengingatkan agar orang tua menghindari penggunaan kalimat yang bernada ancaman ketika mengenalkan sekolah kepada anak.
“Hindari ucapan seperti ‘kalau nakal nanti dimarahi guru’. Sebaliknya, bangun persepsi positif bahwa sekolah adalah tempat bermain, belajar, dan bertemu teman baru. Lingkungan emosional yang positif akan membuat anak lebih siap menghadapi masa transisi ini,” tambahnya.
Menurut Indah, kesiapan masuk sekolah sebenarnya merupakan hasil dari proses pengasuhan dan pemantauan tumbuh kembang yang berlangsung sejak masa seribu hari pertama kehidupan hingga usia prasekolah. Oleh karena itu, peran orang tua, bidan, tenaga kesehatan, dan pendidik perlu berjalan secara beriringan untuk mendukung perkembangan anak secara optimal.
“Kesiapan anak memasuki sekolah bukan hanya tentang kemampuan membaca atau berhitung, tetapi juga kesiapan fisik, kesehatan, perkembangan motorik, kemampuan bersosialisasi, dan ketahanan emosional. Ketika seluruh aspek tersebut dipersiapkan dengan baik, anak akan lebih mudah beradaptasi, merasa percaya diri, serta menikmati pengalaman belajar di sekolah,” tutup Indah.