Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Kehidupan remaja zaman now (Gen Z dan Gen Alpha) sering kali dicap serba mudah karena kemajuan teknologi. Namun, di balik layar gawai yang berkilau, ada tekanan mental yang luar biasa besar. Paparan media sosial yang konstan, tuntutan akademik yang kompetitif, hingga krisis eksistensial global membuat kesehatan mental mereka menjadi rentan.
Sering kali, orang tua atau lingkungan terdekat menyamakan perubahan perilaku remaja sebagai mood swing pubertas atau sifat “manja” belaka. Padahal, ada batas tipis antara fase emosional remaja normal dan sinyal bahaya (red flag) gangguan mental klinis.
Bagaimana cara kita melakukan checking in (pemeriksaan berkala) dan menyadari sinyal red flag ini sebelum terlambat?
1. Sinyal “Red Flag” yang Sering Tersamarkan
Berdasarkan klasifikasi klinis, gangguan mental pada remaja jarang muncul seperti pada orang dewasa. Remaja jarang mengatakan “Aku sedang depresi.” Alih-alih, mereka mengekspresikannya melalui perubahan perilaku harian yang drastis.
Berikut adalah beberapa sinyal red flag utama yang wajib diwaspadai:
- Iritabilitas dan Kemarahan yang Meledak-ledak: Berbeda dengan orang dewasa yang cenderung menarik diri dan menangis, depresi pada remaja lebih sering bermanifestasi sebagai rasa frustasi yang ekstrem, sifat mudah tersinggung, dan kemarahan pada hal-hal sepele.
- Perubahan Pola Tidur dan Kelelahan Kronis: Tidur terlalu larut karena doom scrolling (terus-menerus membaca berita/konten negatif) atau justru tidur berlebihan sepanjang hari (hypersomnia) sebagai bentuk mekanisme pelarian diri.
- Penurunan Performa Akademik Secara Mendadak: Kehilangan fokus, sering melamun, atau nilai yang merosot drastis akibat energi otak yang habis digunakan untuk menahan kecemasan.
- Isolasi Sosial yang Ekstrem: Menolak berinteraksi dengan teman sebaya secara total dan mengunci diri di kamar selama berhari-hari.
- Keluhan Fisik Misterius (Somatik): Sering mengeluh sakit kepala kronis atau sakit perut sebelum pergi ke sekolah, tanpa adanya kelainan medis fisik.
2. Cara Melakukan Checking In yang Benar
Melakukan checking in bukan berarti menginterogasi atau menginvasi privasi remaja secara agresif. Berikut pendekatan psikologis yang disarankan:
A. Ubah Gaya Komunikasi (Tanya, Jangan Ceramahi)
Ganti kalimat interogasi seperti: “Kenapa kamu mengurung diri terus? Kurang bersyukur kamu ya!” dengan pertanyaan terbuka yang penuh empati:
“Ibu perhatikan belakangan ini kamu kelihatan lelah dan kurang tidur. Ibu di sini bukan untuk marah atau menghakimi, Ibu cuma peduli. Ada hal yang lagi membebani pikiranmu?”
B. Validasi, Jangan Remehkan
Bagi orang dewasa, masalah remaja mungkin terdengar sepele (seperti patah hati, dikucilkan teman online, atau cemas karena jerawat). Namun, secara neurobiologis, otak remaja merespons penolakan sosial sama menyakitkannya dengan rasa sakit fisik. Validasi perasaan mereka dengan mengatakan: “Ibu paham, situasi itu pasti rasanya berat banget buat kamu.”
C. Amati Durasi Gejala
Jika perubahan perilaku di atas berlangsung lebih dari 2 minggu berturut-turut dan mulai mengganggu fungsi mereka sebagai pelajar atau anggota keluarga, itu adalah tanda mutlak bahwa anak memerlukan bantuan profesional (psikolog atau psikiater).
Kesimpulan
Kesehatan mental sama berharganya dengan kesehatan fisik. Menyadari sinyal red flag sejak dini bukan berarti kita menganggap remaja kita lemah, melainkan bentuk kasih sayang untuk mempersiapkan mereka menjadi individu yang tangguh di masa depan. Checking in secara rutin bisa menyelamatkan masa depan mereka.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
- World Health Organization (WHO). (2024). Mental Health of Adolescents: Fact Sheets and Global Estimates. Jenewa: WHO.
- UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
- American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). Washington, DC: APA.
- The Lancet Psychiatry Journal. Social Media Use, Sleep Disturbance, and Mobile Phone Addiction Affecting Mental Health of Adolescents: A Longitudinal Study.