Penulis: Sundari Mulyaningsih, S.SiT., M. Kes.

Universitas Alma Ata, Juli 2026 – “Semua teman sudah punya”, “Takut ketinggalan tren”, atau “Harus upload biar dianggap eksis”. Kalimat-kalimat tersebut semakin sering terdengar di kalangan remaja. Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan cemas ketika merasa tertinggal dari aktivitas, pengalaman, atau tren yang sedang ramai di media sosial.

Di era digital, informasi menyebar begitu cepat. Setiap hari remaja disuguhi berbagai konten viral, mulai dari tren fesyen, kuliner, tantangan media sosial, hingga gaya hidup para influencer. Tidak sedikit yang merasa harus mengikuti semua tren agar tetap dianggap “kekinian”. Padahal, keinginan untuk selalu mengikuti tren dapat memengaruhi kesehatan mental, pola hidup, bahkan kondisi finansial.

FOMO bukan sekadar rasa penasaran. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu stres, kecemasan, gangguan tidur, menurunnya rasa percaya diri, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berhubungan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental pada remaja.

Salah satu contoh yang sempat menjadi perbincangan luas adalah tren mengoleksi berbagai produk viral yang dipromosikan oleh influencer. Banyak remaja membeli suatu barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut dianggap tertinggal dari teman-temannya. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial mampu membentuk perilaku konsumtif melalui rasa takut tidak menjadi bagian dari kelompok.

Bagi remaja, penting untuk memahami bahwa tidak semua tren harus diikuti. Menjadi diri sendiri, memiliki tujuan hidup yang jelas, serta mampu mengelola penggunaan media sosial merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental. Membatasi waktu layar (screen time), memilih akun yang memberikan inspirasi positif, dan memperbanyak aktivitas di dunia nyata dapat membantu mengurangi dampak FOMO.

Tips Remaja Menghindari Sikap FOMO (Fear of Missing Out)

Agar tetap sehat secara fisik dan mental, berikut beberapa tips yang dapat diterapkan oleh remaja.

  1. Sadari bahwa media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan yang sebenarnya

Apa yang terlihat di media sosial umumnya adalah momen terbaik yang dipilih untuk dibagikan. Setiap orang juga memiliki tantangan dan masalah yang mungkin tidak mereka tampilkan. Oleh karena itu, hindari membandingkan kehidupan diri sendiri dengan unggahan orang lain.

  1. Batasi waktu penggunaan media sosial

Tetapkan batas waktu penggunaan media sosial setiap hari, misalnya maksimal 2 jam di luar kebutuhan belajar. Manfaatkan fitur screen time pada ponsel untuk membantu mengontrol kebiasaan tersebut.

  1. Pilih akun yang memberikan inspirasi positif

Ikuti akun yang menyajikan informasi edukatif, motivasi, kesehatan, atau pengembangan diri. Kurangi mengikuti akun yang membuat Anda merasa tidak percaya diri atau terus-menerus ingin membandingkan diri.

  1. Fokus pada tujuan dan potensi diri

Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Daripada sibuk mengikuti semua tren, lebih baik fokus mengembangkan kemampuan, prestasi, dan hobi yang sesuai dengan minat serta cita-cita.

  1. Jangan merasa harus mengikuti semua tren

Tidak semua tren cocok atau bermanfaat. Sebelum ikut mencoba sesuatu yang sedang viral, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini sesuai dengan nilai, kebutuhan, dan kemampuan saya?

  1. Perbanyak aktivitas di dunia nyata

Luangkan waktu untuk berolahraga, membaca buku, mengikuti organisasi, berkumpul bersama keluarga, atau melakukan kegiatan sosial. Aktivitas ini dapat meningkatkan kebahagiaan tanpa bergantung pada media sosial.

  1. Latih rasa syukur setiap hari

Membiasakan diri mensyukuri hal-hal sederhana dapat membantu mengurangi keinginan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain. Tuliskan tiga hal yang membuat Anda bersyukur setiap hari sebagai latihan sederhana.

  1. Bangun hubungan yang sehat dengan teman

Persahabatan yang baik tidak diukur dari seberapa sering mengikuti tren bersama, tetapi dari adanya saling menghargai, mendukung, dan menerima satu sama lain.

  1. Jaga kesehatan fisik dan mental

Tidur yang cukup, makan makanan bergizi, berolahraga secara rutin, dan memiliki waktu istirahat yang berkualitas akan membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih sehat sehingga lebih mampu mengelola tekanan sosial.

  1. Jangan ragu mencari bantuan jika diperlukan

Apabila perasaan cemas, sedih, atau tertekan akibat media sosial mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, bicarakan dengan orang tua, guru, konselor, atau tenaga kesehatan. Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah bijak untuk menjaga kesehatan mental.

Ingat!

Menjadi diri sendiri jauh lebih berharga daripada berusaha mengikuti semua tren. Media sosial hanyalah salah satu bagian dari kehidupan, bukan ukuran kebahagiaan atau kesuksesan seseorang. Jadilah remaja yang cerdas dalam menggunakan teknologi, percaya pada kemampuan diri, dan berani mengatakan “tidak” pada hal-hal yang tidak memberikan manfaat.

Mari jadikan media sosial sebagai ruang belajar, berbagi inspirasi, dan menyebarkan informasi kesehatan yang benar. Ingat, menjadi versi terbaik dari diri sendiri jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti apa yang sedang viral.

Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu, anak dan remaja yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Daftar Pustaka

  1. American Psychological Association. (2023). Health advisory on social media use in adolescence. American Psychological Association.
  2. Indonesia National Adolescent Mental Health Survey. (2022). Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS): Laporan nasional. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
  3. Universitas Airlangga. (2025, 25 April). Budaya konsumtif di balik viralnya Labubu. https://unair.ac.id/budaya-konsumtif-di-balik-viralnya-labubu/
  4. Universitas Muhammadiyah Jakarta. (2024, 19 September). Labubu menjadi tren berkat Lisa Blackpink. https://umj.ac.id/just_info/labubu-menjadi-trend-berkat-lisa-blackpink/
  5. World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health