Waras di Tengah Deadline: Upaya Mahasiswa Menjaga Kesehatan Mental, Hak atas Tubuh, dan Gaya Hidup Sehat

Waras di Tengah Deadline: Upaya Mahasiswa Menjaga Kesehatan Mental, Hak atas Tubuh, dan Gaya Hidup Sehat

written by Indah Wijayanti, S.ST., M.Keb., Bdn

Kehidupan mahasiswa sering kali diidentikkan dengan pencapaian akademik, seperti nilai dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Namun, di balik tuntutan tugas, aktivitas organisasi, serta dinamika sosial yang kompleks, terdapat aspek penting yang sering kali terabaikan, yaitu kesehatan diri secara menyeluruh. Banyak mahasiswa menjalani kehidupan sehari-hari dalam kondisi “bertahan” (survive), bukan dalam keadaan sehat secara fisik maupun mental. Padahal, kesehatan merupakan fondasi utama dalam menunjang keberhasilan akademik dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Kesehatan mental menjadi salah satu aspek yang paling rentan terganggu pada mahasiswa. Tekanan akademik, tuntutan untuk berprestasi, serta kecemasan terhadap masa depan sering kali memicu stres, overthinking, hingga gangguan kecemasan. Bahkan, perasaan tidak cukup baik ketika membandingkan diri dengan orang lain menjadi fenomena yang umum terjadi. Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental merupakan bagian integral dari kesehatan dan kesejahteraan individu, bukan sekadar kondisi bebas dari gangguan mental. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental perlu menjadi prioritas utama dalam kehidupan mahasiswa. Upaya sederhana seperti memberikan waktu istirahat yang cukup, membatasi pola produktivitas berlebihan (toxic productivity), serta mencari dukungan sosial melalui teman atau konselor dapat membantu menjaga keseimbangan psikologis.

Selain kesehatan mental, kesadaran terhadap hak atas tubuh juga menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan. Hak atas tubuh mengacu pada kemampuan individu untuk mengontrol dan menentukan apa yang terbaik bagi tubuhnya sendiri. Namun, dalam praktiknya, masih banyak mahasiswa yang mengabaikan sinyal tubuh, seperti tetap beraktivitas meskipun dalam kondisi sakit, kurang istirahat, atau mengikuti pola hidup yang tidak sehat karena tekanan lingkungan. United Nations Population Fund (UNFPA) menekankan bahwa hak atas tubuh merupakan bagian penting dari kesehatan dan kesejahteraan individu. Kesadaran ini memungkinkan mahasiswa untuk lebih berani mengambil keputusan yang berpihak pada kesehatan dirinya, seperti beristirahat saat lelah, menolak aktivitas yang berlebihan, serta mencari pertolongan medis ketika diperlukan.

Gaya hidup sehat juga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menjaga kesehatan mahasiswa. Pola hidup mahasiswa yang identik dengan konsumsi makanan instan, kurangnya aktivitas fisik, serta kebiasaan begadang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan dalam jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup yang tidak sehat berkontribusi terhadap meningkatnya risiko gangguan mental pada mahasiswa, termasuk stres dan depresi. Oleh karena itu, penerapan gaya hidup sehat perlu dilakukan secara bertahap dan konsisten. Perubahan sederhana seperti meningkatkan konsumsi air putih, melakukan aktivitas fisik ringan, serta menjaga durasi tidur yang cukup dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kesehatan fisik dan mental.

Ketiga aspek tersebut, yaitu kesehatan mental, hak atas tubuh, dan gaya hidup sehat, saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Literasi kesehatan mental yang baik akan meningkatkan kesadaran individu terhadap pentingnya menjaga tubuh dan menerapkan pola hidup sehat. Selain itu, kemampuan untuk mengontrol diri dan menentukan prioritas juga menjadi kunci dalam mencapai keseimbangan hidup. UN Women menyatakan bahwa kesejahteraan individu tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh kemampuan untuk mengontrol kehidupan dan kesehatannya secara mandiri.

Meskipun demikian, penting untuk dipahami bahwa mencapai keseimbangan hidup bukanlah hal yang instan. Mahasiswa sering kali dihadapkan pada berbagai tuntutan yang membuat mereka sulit untuk membagi waktu antara akademik, organisasi, dan kehidupan pribadi. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan dalam mengelola waktu, menentukan prioritas, serta mengenali batas diri. Tanpa adanya keseimbangan, kondisi burnout dapat terjadi dan justru menurunkan produktivitas serta kualitas hidup mahasiswa.

Secara keseluruhan, menjaga kesehatan mental, memahami hak atas tubuh, serta menerapkan gaya hidup sehat merupakan langkah penting dalam meningkatkan kesejahteraan mahasiswa. Ketiga aspek ini tidak hanya berperan dalam mendukung keberhasilan akademik, tetapi juga dalam membentuk kualitas hidup yang lebih baik di masa depan. Mahasiswa perlu menyadari bahwa istirahat bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bagian dari strategi untuk menjaga keberlanjutan fungsi diri. Dengan demikian, upaya merawat diri secara holistik menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika kehidupan akademik yang semakin kompleks.


Referensi

Ferdian, D., et al. (2023). Gambaran kesehatan mental mahasiswa. Jurnal Universitas Pahlawan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa tekanan akademik dan pola hidup tidak sehat berkontribusi terhadap gangguan kesehatan mental mahasiswa.

Fonna, Z., et al. (2024). Literasi kesehatan mental mahasiswa. Jurnal Kesehatan.
Studi ini menekankan pentingnya literasi kesehatan mental dalam meningkatkan kesadaran dan perilaku sehat pada mahasiswa.

Irawan, M. F., et al. (2024). Tantangan kesehatan mental mahasiswa dan solusi kolaboratif. Jurnal Cerdik.
Artikel ini menjelaskan bahwa intervensi berbasis kampus dapat menurunkan tingkat stres mahasiswa.

Sari, S. I., et al. (2025). Faktor individu yang berhubungan dengan status kesehatan mental mahasiswa. Jurnal Keperawatan Profesional.
Penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan emosional dan kepribadian memengaruhi kesehatan mental mahasiswa.

Setiawan, I. M., & Sa’idah, G. (2024). Tinjauan literatur kesehatan mental mahasiswa. Jurnal YARSI.
Mahasiswa merupakan kelompok rentan terhadap stres akibat tuntutan akademik dan fase transisi kehidupan.

United Nations Population Fund. (2023). State of World Population Report.
Laporan ini menegaskan pentingnya hak atas tubuh sebagai bagian dari kesehatan dan kesejahteraan individu.

UN Women. (2023). Women’s Health and Well-being Report.
Menjelaskan bahwa kesejahteraan ditentukan oleh kemampuan individu dalam mengontrol kehidupan dan kesehatannya.

World Health Organization. (2022). Mental health and well-being.
WHO menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan bagian integral dari kesehatan secara keseluruhan.

Yuaridha, R., et al. (2023). Faktor depresi pada mahasiswa. Jurnal STIKKU.
Penelitian ini menunjukkan bahwa gaya hidup dan lingkungan berpengaruh terhadap risiko depresi pada mahasiswa.

Hacks Hidup Sehat : Tetap Bugar & Produktif Meski Tugas Mahasiswi Menumpuk

Hacks Hidup Sehat : Tetap Bugar & Produktif Meski Tugas Mahasiswi Menumpuk

written by ⁠Bdn. Rani Ayu Hapsari, S.ST.,S.K.M.,M.K.M

Kesibukan akademik dan organisasi sering kali memaksa mahasiswi modern menjadikan begadang sebagai gaya hidup demi mengejar target. Padahal, identitas ‘pejuang deadline‘ ini menyimpan risiko besar. Dalam Penelitian di Indonesia menegaskan bahwa tanpa pengelolaan waktu yang baik, pola hidup tersebut akan berdampak buruk pada kualitas tidur serta stabilitas kesehatan mental di masa depan.

Lantas, bagaimana cara tetap bugar tanpa harus mengorbankan indeks prestasi? Berikut adalah beberapa hacks hidup sehat berbasis sains yang bisa diterapkan mahasiswi di tengah jadwal padat.

  1. Power Nap: Investasi 20 Menit untuk Fokus Maksimal

Kunci produktivitas mahasiswi bukan terletak pada berapa lama kamu terjaga, tapi seberapa segar pikiranmu. Saat lelah melanda, cobalah teknik power nap selama 20-30 menit. Dalam studi Penelitian menunjukkan bahwa tidur singkat ini secara ajaib mampu memulihkan kemampuan memecahkan masalah dan mempertajam fokus. Ini adalah cara paling efisien untuk kembali segar tanpa harus mengorbankan waktu berjam-jam.

Durasi yang Presisi: Berbeda dengan tidur siang biasa yang bisa berjam-jam, power nap sengaja dibatasi maksimal 20-30 menit agar tubuh tidak masuk ke fase tidur dalam (deep sleep). Jika terlalu lama, Anda justru akan merasa pening saat bangun (sleep inertia

Manfaat Kognitif: Secara ilmiah, durasi singkat ini sudah cukup untuk meningkatkan kewaspadaan, memperbaiki suasana hati (mood), dan mempertajam daya ingat serta kemampuan memecahkan masalah

  1. Micro-Workout: Bergerak di Sela-sela Tugas

Keterbatasan waktu bukan lagi alasan untuk absen berolahraga. Konsep micro-workout hadir sebagai solusi praktis bagi mahasiswi yang sibuk. Aktivitas sederhana seperti jalan cepat selama 10 menit terbukti efektif mendongkrak stamina sekaligus mereduksi stres secara instan. Selain itu, berjalan kaki secara rutin menjadi strategi jitu untuk menjaga kejernihan mental di bawah tekanan akademik yang tinggi.

Gunakan Teknik 50-10 : Terapkan manajemen waktu belajar: 50 menit fokus mengerjakan tugas, dan 10 menit khusus untuk bergerak. Jangan gunakan waktu 10 menit ini untuk main HP, tapi gunakan untuk stretching atau berjalan di dalam ruangan guna melancarkan sirkulasi darah ke otak

Stretching di Kursi Belajar (Desk Exercise)

  • Neck Rolls: Memutar leher perlahan untuk meredakan tegang.
  • Shoulder Shrugs: Mengangkat dan menurunkan bahu untuk melemaskan otot pundak yang kaku karena mengetik.
  • Seated Leg Raises: Meluruskan kaki di bawah meja sambil tetap membaca materi.
  1. Smart Hydration & “Isi Piringku

Menjaga tubuh tetap ternutrisi adalah bentuk self-love di tengah padatnya kuliah. Alih-alih melulu makan instan, cobalah sajikan porsi protein dan sayur yang seimbang sesuai panduan ‘Isi Piringku’. Ingat, otakmu butuh hidrasi yang cukup untuk bekerja maksimal. Jangan sampai dehidrasi bikin pikiran buntu dan tugas makin menumpuk. Stay hydrated, stay focused!

Smart Hydration (Hidrasi Pintar) Ini adalah teknik mengelola asupan air putih secara konsisten sepanjang hari, bukan hanya minum saat merasa haus.

  • Fokus Kognitif: Dehidrasi ringan (kurang cairan sedikit saja) dapat menyebabkan penurunan fokus, sakit kepala, dan rasa kantuk yang sering disalahartikan sebagai efek kelelahan tugas 
  • Sistem Pengingat: Bagi mahasiswi, ini berarti meletakkan botol minum sebagai “pengingat visual” di meja belajar agar hidrasi dilakukan secara mandiri dan berkala (misal: satu gelas setiap satu bab tugas selesai) 

Konsep “Isi Piringku” : ini adalah panduan gizi seimbang dari Kementerian Kesehatan RI yang menggantikan konsep “4 Sehat 5 Sempurna” dengan pembagian porsi yang lebih detail dalam satu piring sekali makan.

  • Komposisi Seimbang: Setengah piring diisi oleh sayur dan buah, sedangkan setengah piring lainnya diisi oleh makanan pokok (karbohidrat) dan lauk-pauk (protein).
  • Bahan Bakar Otak: Protein dan serat yang cukup membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil. Hal ini mencegah food coma (rasa kantuk berat setelah makan) yang sering terjadi jika mahasiswi hanya makan karbohidrat berlebih (seperti nasi putih porsi besar atau mi instan).
  1. Manajemen Stres dan Ruang Tidur

Menciptakan batasan antara dunia kuliah dan waktu istirahat dimulai dari tempat tidurmu. Dengan tidak belajar di atas kasur, kamu membantu otak mengenali kapan waktunya benar-benar berhenti berpikir dan mulai beristirahat. Jika rasa panik karena tugas datang tiba-tiba, ambil napas dalam dan perlahan untuk menenangkan diri. Ingat, dirimu butuh ruang aman untuk pulih dari lelahnya aktivitas harian.

Aturan “No Laptop on Bed”

  • Biasakan mengerjakan tugas hanya di meja belajar atau area duduk lainnya.
  • Jika kamar kos Anda sempit, gunakan karpet atau meja lipat di lantai untuk belajar, sehingga kasur tetap terjaga fungsinya hanya untuk tidur.

Ritual “Brain Dump” Sebelum Tidur

  • Stres sering muncul karena pikiran penuh dengan deadline. Sebelum pindah ke kasur, tuliskan semua daftar tugas (to-do list) untuk besok di sebuah buku. Ini membantu otak “melepaskan” beban pikiran sehingga Anda bisa tidur lebih tenang.

Sumber : 

Sudung Simatupang. Dkk,(2026), Power Nap: The Secret Of A Simple 20-Minute Investment That Supports Employee Work Productivity, International Journal of Economics, Business and Innovation Research( IJEBIR) https://doi.org/10.63922/ijebir.v5i02.3056

Afra Fitri Aulia Khair, Usiono (2025), Pengaruh Pola Hidup Terhadap Kesehatan Mahasiswa,Jurnal Ilmiah Nusantara ( JINU) DOI : https://doi.org/10.61722/jinu.v2i2.3536 

Yashvant Sathe, Dr Akshata Abhishek Nayak (2025), Impact of Power Naps on Cognitive Performance and Learning Efficiency: A Data-Driven Study, The Voice of Creative Research DOI:10.53032/tvcr/2025.v7n2.48

Ahmad Nafa Aminuddin, Atika Wijaya, Persepsi dan Praktik Gaya Hidup Sehat Pada Mahasiswa UNNES, DOI: https://doi.org/10.15294/bsb.v1i1.437

Kembali Produktif Pasca Mudik: Tips Mahasiswa S1 Kebidanan Menghadapi Aktivitas Perkuliahan

Kembali Produktif Pasca Mudik: Tips Mahasiswa S1 Kebidanan Menghadapi Aktivitas Perkuliahan

( Written by: Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb)

Libur panjang Idul Fitri menjadi momen yang dinantikan oleh mahasiswa untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga. Namun, setelah masa mudik berakhir, mahasiswa S1 Kebidanan perlu kembali beradaptasi dengan rutinitas akademik yang menuntut kesiapan fisik, mental, dan intelektual.

Transisi dari suasana liburan ke aktivitas perkuliahan seringkali tidak mudah. Perubahan pola tidur, menurunnya ritme belajar, serta penurunan fokus menjadi tantangan umum yang dihadapi mahasiswa setelah masa libur panjang. Penelitian menunjukkan bahwa kualitas dan durasi tidur memiliki hubungan yang signifikan dengan konsentrasi dan performa akademik mahasiswa (Limone et al., 2021; Alfonsi et al., 2022).

Oleh karena itu, langkah awal yang penting adalah mengembalikan pola tidur yang teratur. Tidur yang cukup dan berkualitas berperan dalam meningkatkan fungsi kognitif, termasuk daya ingat dan kemampuan belajar.

Selain itu, mahasiswa disarankan untuk mulai meninjau kembali materi perkuliahan sebelum libur. Strategi belajar mandiri seperti self-regulated learning terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman materi dan kesiapan akademik, terutama setelah periode jeda pembelajaran (Broadbent & Poon, 2021).

Manajemen waktu juga menjadi kunci dalam menunjang keberhasilan akademik. Mahasiswa yang mampu mengatur waktu dengan baik cenderung memiliki tingkat stres akademik yang lebih rendah dan performa belajar yang lebih optimal (Nurhidayah et al., 2022). Penyusunan jadwal harian yang terstruktur dapat membantu mahasiswa menyeimbangkan antara kegiatan kuliah, belajar mandiri, dan istirahat.

Tidak kalah penting adalah menjaga kondisi kesehatan. Aktivitas mudik yang padat seringkali menyebabkan kelelahan fisik. Oleh karena itu, pemenuhan nutrisi seimbang, aktivitas fisik ringan, serta hidrasi yang cukup sangat dianjurkan untuk menjaga kebugaran tubuh (World Health Organization, 2023).

Terakhir, membangun kembali motivasi belajar menjadi aspek yang sangat penting. Motivasi intrinsik berperan dalam meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran serta pencapaian akademik yang lebih baik (Ryan & Deci, 2021). Mengingat kembali tujuan menjadi bidan profesional dapat menjadi dorongan kuat untuk kembali fokus dalam menjalani perkuliahan.

Dengan persiapan yang matang, mahasiswa S1 Kebidanan diharapkan mampu kembali menjalani aktivitas perkuliahan secara optimal pasca mudik. Momentum setelah Idul Fitri dapat dimanfaatkan sebagai titik awal untuk meningkatkan kedisiplinan, produktivitas, dan kualitas belajar sebagai calon tenaga kesehatan profesional.


Referensi:

  1. Alfonsi, V., Scarpelli, S., D’Atri, A., Stella, G., & De Gennaro, L. (2022). Later school start time: The impact of sleep on academic performance and health in adolescents and young adults. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(3), 1184.
  2. Limone, P., Toto, G. A., & Messina, G. (2021). Impact of short sleep duration and poor sleep quality on students’ academic performance. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(18), 10220.
  3. Broadbent, J., & Poon, W. L. (2021). Self-regulated learning strategies & academic achievement in online higher education learning environments: A systematic review. The Internet and Higher Education, 50, 100808.
  4. Nurhidayah, I., Suryani, S., & Handayani, H. (2022). Manajemen waktu dan stres akademik pada mahasiswa kesehatan. Jurnal Pendidikan Kesehatan, 11(2), 120–128.
  5. World Health Organization. (2023). Healthy diet and physical activity.
  6. Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2021). Intrinsic and extrinsic motivation from a self-determination theory perspective: Definitions, theory, practices, and future directions. Contemporary Educational Psychology, 61, 101860.
Belly binding: Cara Tradisional ‘Memeluk’ Perut Ibu Setelah Melahirkan

Belly binding: Cara Tradisional ‘Memeluk’ Perut Ibu Setelah Melahirkan

(Written by Bdn. Adenia Dwi Ristanti, M.Tr.Keb)

Masa postpartum atau masa nifas merupakan periode penting dalam siklus reproduksi perempuan yang dimulai setelah proses persalinan hingga sekitar enam minggu kemudian. Pada periode ini tubuh ibu mengalami berbagai proses pemulihan fisiologis setelah melalui kehamilan dan persalinan. Perubahan yang terjadi meliputi involusi uterus, penyesuaian hormon, pemulihan luka persalinan, serta adaptasi sistem tubuh lainnya. Selain itu, otot dan jaringan pada area abdomen mengalami peregangan yang cukup besar selama kehamilan sehingga memerlukan waktu untuk kembali ke kondisi semula. Oleh karena itu, berbagai metode perawatan postpartum dilakukan untuk membantu mempercepat proses pemulihan tubuh ibu, salah satunya adalah belly binding postpartum.

Belly binding postpartum merupakan teknik membungkus atau mengikat area perut menggunakan kain panjang atau alat khusus yang bertujuan memberikan dukungan pada otot abdomen setelah persalinan. Praktik ini telah lama dikenal dalam berbagai budaya di dunia sebagai bagian dari perawatan tradisional ibu setelah melahirkan. Di beberapa negara Asia seperti Malaysia dan Indonesia, teknik ini dikenal dengan istilah bengkung, yaitu penggunaan kain panjang yang dililitkan secara bertahap dari bagian panggul hingga bawah dada. Dalam perkembangan praktik kesehatan modern, belly binding juga tersedia dalam bentuk alat khusus seperti belly wrap atau abdominal binder yang lebih praktis digunakan oleh ibu postpartum.

Selama masa kehamilan, rahim yang membesar menyebabkan peregangan pada otot perut dan jaringan ikat di sekitarnya. Kondisi ini sering menyebabkan kelemahan otot abdomen setelah persalinan sehingga ibu merasa kurang stabil saat melakukan aktivitas sehari-hari. Penggunaan belly binding dapat memberikan kompresi ringan pada area perut sehingga membantu menopang otot abdomen dan memberikan rasa stabilitas pada tubuh ibu. Dengan adanya dukungan tersebut, ibu dapat merasa lebih nyaman saat berjalan, duduk, atau melakukan aktivitas lainnya selama masa pemulihan setelah melahirkan.

Selain memberikan dukungan pada otot perut, belly binding juga dilaporkan dapat membantu mengurangi rasa nyeri setelah persalinan, terutama pada ibu yang menjalani operasi caesar. Tekanan ringan yang diberikan oleh abdominal binder dapat membantu menstabilkan area luka operasi sehingga ibu merasa lebih nyaman saat bergerak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan abdominal binder setelah operasi caesar dapat membantu mengurangi tingkat nyeri dan meningkatkan mobilitas ibu pada hari-hari pertama setelah persalinan. Dengan mobilitas yang lebih baik, proses pemulihan ibu dapat berlangsung lebih optimal.

Manfaat lain dari belly binding adalah membantu memperbaiki postur tubuh ibu setelah melahirkan. Pada masa postpartum, otot inti tubuh masih dalam kondisi lemah sehingga ibu sering mengalami keluhan nyeri punggung atau cenderung membungkuk saat menyusui dan merawat bayi. Belly binding dapat membantu menjaga posisi tubuh agar tetap stabil dan tegak sehingga mengurangi tekanan pada punggung. Selain itu, penggunaan belly binding juga sering dikaitkan dengan dukungan dalam proses pemulihan kondisi diastasis recti, yaitu pemisahan otot perut yang sering terjadi setelah kehamilan.

Meskipun demikian, penggunaan belly binding harus dilakukan dengan cara yang tepat dan tidak terlalu ketat. Tekanan yang berlebihan pada area perut dapat menimbulkan ketidaknyamanan bahkan berpotensi mengganggu pernapasan atau memberikan tekanan berlebih pada dasar panggul. Oleh karena itu, penggunaan belly binding sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan ibu serta dilakukan dengan teknik yang benar. Tenaga kesehatan, khususnya bidan, memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kepada ibu mengenai cara penggunaan belly binding yang aman selama masa nifas.

Selain itu, penting untuk dipahami bahwa belly binding bukanlah metode utama untuk menurunkan berat badan atau mengembalikan bentuk tubuh seperti sebelum hamil secara instan. Pemulihan tubuh setelah kehamilan merupakan proses alami yang membutuhkan waktu. Faktor seperti nutrisi yang adekuat, aktivitas fisik yang sesuai, istirahat yang cukup, serta dukungan keluarga juga memiliki peran penting dalam membantu pemulihan ibu postpartum secara optimal.

Secara keseluruhan, belly binding postpartum merupakan salah satu metode perawatan nonfarmakologis yang dapat memberikan dukungan pada proses pemulihan fisik ibu setelah persalinan. Dengan penggunaan yang tepat, belly binding dapat membantu meningkatkan kenyamanan, memberikan stabilitas pada otot abdomen, serta mendukung mobilitas ibu selama masa nifas. Oleh karena itu, praktik ini dapat dipertimbangkan sebagai salah satu intervensi pendukung dalam perawatan ibu postpartum, dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan rekomendasi dari tenaga kesehatan.

Referensi:

  1.  Lin, S. L., Lee, Y. H., & Chen, Y. C. (2024). Effectiveness of abdominal binder after cesarean section: A systematic review and meta-analysis. Midwifery, 131, 103933.
    Studi ini menemukan bahwa penggunaan abdominal binder dapat meningkatkan kenyamanan serta membantu pemulihan mobilitas ibu setelah persalinan operasi. 
  2. Sophia, S., Nurhayati, N., & Rahmawati, D. (2023). The effect of belly binding and abdominal exercise on reducing diastasis recti in postpartum mothers. Jurnal Keperawatan Komprehensif, 9(1), 1–8.
    Penelitian ini menjelaskan bahwa belly binding yang dikombinasikan dengan latihan abdomen dapat membantu menurunkan derajat diastasis recti pada ibu postpartum. 
  3. Healthline Editorial Team. (2020). Postpartum belly binding: Types, benefits, and how-to. Healthline.
    Artikel ini menjelaskan konsep belly binding postpartum, manfaat, jenis belly wrap, serta cara penggunaan yang aman bagi ibu setelah melahirkan.
Euforia Lebaran Berlanjut: Waspada Pola Makan Berlebih pada Remaja

Euforia Lebaran Berlanjut: Waspada Pola Makan Berlebih pada Remaja

Perayaan Idul Fitri selalu identik dengan kebersamaan, silaturahmi, serta beragam hidangan khas yang menggugah selera. Setelah sebulan menjalani ibadah puasa, momen Lebaran menjadi ajang “balas dendam” bagi sebagian orang untuk menikmati berbagai makanan favorit. Namun, euforia tersebut sering kali tidak berhenti saat hari raya usai. Pada kalangan remaja, kebiasaan makan berlebih justru berlanjut hingga beberapa hari bahkan minggu setelah Lebaran.

Perubahan pola makan selama Lebaran umumnya ditandai dengan meningkatnya konsumsi makanan tinggi gula, lemak, dan kalori. Kue kering, minuman manis, serta hidangan bersantan menjadi menu harian yang sulit dihindari. Dalam kondisi ini, remaja menjadi kelompok yang cukup rentan karena cenderung belum memiliki kontrol diri yang kuat terhadap pilihan makanan, serta mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa periode libur panjang, termasuk Lebaran, sering dikaitkan dengan peningkatan asupan energi yang tidak diimbangi dengan aktivitas fisik. Kebiasaan ini berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan dalam waktu singkat. Pada remaja, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada penampilan, tetapi juga berisiko memicu gangguan kesehatan yang lebih serius jika berlangsung terus-menerus.

Konsumsi gula, garam, dan lemak dalam jumlah berlebih telah lama dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit tidak menular. Pada usia remaja, kebiasaan ini dapat menjadi awal munculnya berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, gangguan metabolisme, hingga risiko Diabetes melitus tipe 2 di kemudian hari. Selain itu, pola makan tinggi kalori tanpa diimbangi aktivitas fisik juga dapat memengaruhi keseimbangan energi tubuh dan menurunkan kebugaran.

Tidak hanya berdampak jangka panjang, pola makan berlebih pasca Lebaran juga dapat menimbulkan keluhan jangka pendek, seperti perut kembung, gangguan pencernaan, hingga rasa lemas akibat fluktuasi kadar gula darah. Hal ini berkaitan dengan kondisi Gut health yang terganggu akibat perubahan pola konsumsi secara mendadak.

Situasi ini semakin diperparah dengan menurunnya aktivitas fisik selama masa liburan. Remaja cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan aktivitas sedentari, seperti bermain gawai atau menonton, sehingga energi yang masuk tidak seimbang dengan energi yang dikeluarkan. Kombinasi antara pola makan berlebih dan kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor utama meningkatnya risiko kelebihan berat badan pada remaja.

Oleh karena itu, periode pasca Lebaran menjadi momentum penting untuk kembali menerapkan pola hidup sehat. Remaja perlu mulai mengatur kembali pola makan dengan memperhatikan keseimbangan gizi, mengurangi konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, serta memperbanyak asupan buah dan sayur. Selain itu, peningkatan aktivitas fisik secara bertahap, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau olahraga ringan, dapat membantu mengembalikan kondisi tubuh ke حالت optimal.

Peran lingkungan juga tidak kalah penting. Dukungan dari keluarga dan sekolah dalam menyediakan pilihan makanan sehat serta edukasi gizi yang tepat dapat membantu remaja membangun kebiasaan yang lebih baik. Literasi kesehatan sejak dini menjadi kunci agar remaja mampu membuat keputusan yang tepat terkait pola makan dan gaya hidupnya.

Euforia Lebaran memang menjadi bagian dari tradisi yang penuh makna. Namun, menjaga keseimbangan antara kenikmatan dan kesehatan tetap menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Dengan kesadaran dan langkah sederhana, remaja dapat menikmati momen Lebaran tanpa harus mengorbankan kesehatan di masa depan.


Referensi

  1. Hamiati, H. (2025). Pengaruh Libur Lebaran terhadap Kenaikan Berat Badan. Jurnal Kesehatan Nusantara.
  2. Masri, E. (2022). Literasi Gizi dan Konsumsi Gula, Garam, Lemak pada Remaja.
  3. Pamungkas, C.R.S. (2025). Kebiasaan Konsumsi Gula pada Remaja.
  4. Marpaung, S.H. (2024). Pola Makan dan Obesitas pada Remaja.
  5. Kusnul, Z. (2025). Edukasi Pembatasan Konsumsi Gula, Garam, Lemak pada Remaja.