Mengenal D-MER (Dysphoric Milk Ejection Reflex): Ketika Hormon Menyusui Memicu Gelombang Kesedihan

Mengenal D-MER (Dysphoric Milk Ejection Reflex): Ketika Hormon Menyusui Memicu Gelombang Kesedihan

written by Prasetya Lestari, S.ST., M.Kes

Menyusui sering kali digambarkan sebagai momen magis yang penuh kehangatan dan memperkuat bonding ibu dan bayi. Namun, realitanya tidak selalu demikian bagi semua orang. Bagi sebagian ibu, momen menjelang ASI menetes justru diiringi oleh gelombang kesedihan, kegelisahan, atau bahkan kemarahan yang datang tiba-tiba. Hal ini bukantanda kurangnya kasih sayang kepada bayi, bukan tanda ibu yang buruk, dan bukan sebuah kegagalan. Fenomena ini dikenal dengan sebutan D-MER (Dysphoric Milk Ejection Reflex).

Apa Itu D-MER?

Dysphoric Milk Ejection Reflex (D-MER) adalah kondisi neurobiologis seorang ibu menyusui mengalami penurunan suasana hati atau emosi negatif yang intens, mendadak, dan tidak beralasan, tepat sebelum ASI menetes (fase let-down reflex). Kondisi ini bisa muncul sesaat sebelum bayi mulai mengisap, sebelum ibu memerah ASI menggunakan pompa, atau bahkan ketika payudara tiba-tiba terasa penuh dan ASI merembes dengan sendirinya. Hal yang paling membedakan D-MER dengan kondisi psikologis lainnya adalah durasinya. Perasaan tidak menyenangkan ini hanya berlangsung sangat singkat, biasanya kurang dari 5 menit (bahkan sering kali hanya berkisar 30 detik hingga 2 menit), lalu menghilang tanpa jejak seiring mengalirnya ASI.

Mengapa Ini Terjadi? 

D-MER pada dasarnya bukanlah gangguan psikologis, melainkan murni respons anomali fisiologis dan hormonal. Hal ini terjadi tarik ulur hormon prolaktin dan dopamine. Mari kita kenali mekanisme kinerja hormon bekerja di dalam otak saat proses laktasi terjadi.

  1. Kebutuhan Prolaktin: Saat puting dirangsang oleh isapan bayi atau hisapan pompa, otak (kelenjar pituitari) harus segera memproduksi dan melepaskan hormon prolaktin secara cepat untuk memproduksi ASI.
  2. Peran Dopamin: Di dalam tubuh, dopamin (neurotransmiter yang sering dikaitkan dengan perasaan senang dan rileks) bertindak sebagai penekan atau penghambat pelepasan prolaktin. Agar kadar prolaktin bisa melonjak naik untuk menghasilkan ASI, kadar dopamin di dalam otak harus turun secara serentak.
  3. Anomali pada D-MER: Pada ibu menyusui tanpa D-MER, penurunan dopamin ini terjadi dengan halus sehingga tidak memengaruhi suasana hati secara drastis. Namun pada ibu yang mengalami D-MER, penurunan dopamin ini terjadi terlalu tajam atau tidak proporsional. Akibatnya, sistem saraf merespons defisit dopamin sesaat yang ekstrem tersebut dengan memicu emosi negatif atau disforia. Begitu prolaktin stabil, dopamin kembali normal dan perasaan sedih pun lenyap seakan tak pernah terjadi.

Gejala D-MER: Spektrum Emosi yang Dirasakan

Spektrum emosi yang dirasakan akibat D-MER bervariasi pada setiap ibu, mulai dari tingkat ringan hingga berat. Beberapa sensasi spesifik yang sering dilaporkan meliputi:

  • Perasaan sedih yang mendalam (seperti ingin menangis tiba-tiba).
  • Gelisah, cemas, khawatir, atau panik tanpa alasan yang jelas.
  • Perasaan hampa atau seperti ada yang “jatuh” di ulu hati (hollow or sinking feeling in the stomach).
  • Marah, jengkel, atau frustrasi.
  • Rasa rindu rumah (homesickness) yang tidak rasional, meskipun sedang berada di rumah sendiri.
  • Keinginan sesaat yang tak tertahankan untuk menarik bayi atau pompa ASI dari payudara.

Penting untuk Dicatat: D-MER Berbeda dengan Postpartum Depression (PPD) D-MER sering kali salah didiagnosis sebagai depresi pascapersalinan atau baby blues. Padahal, PPD memengaruhi suasana hati ibu sepanjang hari secara menetap dan berlangsung setidaknya selama dua minggu. Sebaliknya, D-MER hanya terikat pada saat refleks keluarnya ASI terjadi dan langsung menghilang setelahnya. Di luar momen menyusui atau memompa, suasana hati ibu dengan D-MER umumnya normal.

Strategi Manajemen Atasi D-MER

Prevalensi D-MER memengaruhi sekitar 5-15% ibu menyusui. Kabar baiknya, kondisi ini cenderung akan mereda dengan sendirinya seiring berjalannya waktu dan penyesuaian hormon (biasanya setelah bayi berusia beberapa bulan). Namun, ada beberapa strategi yang terbukti efektif untuk membantu ibu menghadapi kondisi ini setiap harinya:

  1. Teknik Distraksi (Pengalihan Perhatian)

Karena gejala D-MER datang dan pergi dengan sangat cepat, mengalihkan perhatian otak pada detik-detik let-downterjadi terbukti sangat membantu. Ibu dapat mencoba:

  • Minum air es yang sangat dingin sesaat sebelum mulai menyusui.
  • Mengunyah camilan bertekstur, mengisap permen, atau mendengarkan musik yang upbeat.
  • Menonton video lucu atau mengobrol ringan.
  • Melakukan latihan pernapasan dalam (deep breathing) atau meditasi terpandu singkat.
  • Modifikasi Gaya Hidup

Gaya hidup sebagai salah satu faktor yang dapat memperburuk D-MER. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meminimalkan D-MER antara lain:

  • Hindari dehidrasi dengan perbanyak asupan cairan.
  • Kelola stres dan kelelahan, kurang tidur berdampak besar pada sensitivitas tubuh terhadap hormon dan stabilitas dopamin.
  • Kurangi asupan kafein, pada sebagian kasus, asupan kafein yang tinggi dapat memicu kegelisahan tambahan saat let-down reflek terjadi.
  • Konsultasi Medis Profesional

Bagi sebagian kecil ibu, D-MER dirasakan sangat parah hingga menimbulkan keengganan untuk menyusui. Pada kasus berat seperti ini, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti Konselor Laktasi Bersertifikat (IBCLC) atau dokter kebidanan/psikiater. Tenaga medis dapat mengevaluasi perawatan secara komprehensif, mulai dari terapi pendukung hingga tindakan medis jika diindikasikan.

Kesimpulan: Menyusui dengan kondisi D-MER ibarat dipaksa menaiki rollercoaster emosional beberapa kali dalam sehari. Jika Ibu atau seseorang yang Anda kenal mengalaminya, validasi dan terimalah perasaan tersebut. Berikan dukungan penuh dan ingatlah kembali bahwa fluktuasi hormonlah yang memicunya, bukan kurangnya rasa cinta seorang ibu kepada anaknya.

Referensi 

  1. Heise, A. M., & Wiessinger, D. (2011). Dysphoric milk ejection reflex: A case report. International Breastfeeding Journal, 6(1), 6.
  2. Ureño, J., et al. (2019). Dysphoric Milk Ejection Reflex: A Case Series. Breastfeeding Medicine, 14(10), 762-764.
  3. Ahmed, M., Mahmud, A., Mughal, S., & Shah, H.H. (2024). Dysphoric milk ejection reflex – call for future trials. Archives of Gynecology and Obstetrics, 310(1), 627-630.
  4. Kacir, E., et al. (2024). Dysphoric milk ejection reflex: prevalence and associations with self-reported mental health history. Women’s Health.
  5. Australian Breastfeeding Association (ABA). (2025). Dysphoric Milk Ejection Reflex (D-MER). (Panduan Klinis Dukungan Laktasi Maternal).
Sitti Hadianti Lulus sebagai Terbaik Prodi pada Wisuda Periode April 2026

Sitti Hadianti Lulus sebagai Terbaik Prodi pada Wisuda Periode April 2026

Lulusan Terbaik S1 Kebidanan Universitas Alma Ata Wisuda Periode April 2026

Universitas Alma Ata kembali meluluskan mahasiswa terbaik dari Program Studi S1 Kebidanan pada wisuda periode April 2026. Salah satu lulusan terbaik, Sitti Hadianti Kunsi (Dhea), berhasil menyelesaikan pendidikan dengan capaian yang membanggakan melalui proses pembelajaran yang penuh tantangan dan bermakna.

Selama menempuh pendidikan, Dhea mengungkapkan bahwa pengalaman akademik yang diperoleh tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkuat kompetensi serta profesionalisme sebagai bidan. Pembelajaran yang diberikan, baik secara teori maupun praktik, dinilai sangat mendukung kesiapan dalam menghadapi dunia kerja.

“Proses pembelajaran yang saya lalui sangat menantang namun bermakna. Ilmu dan pengalaman yang saya peroleh benar-benar membantu saya menjadi lebih siap sebagai tenaga kesehatan,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan harapannya agar Program Studi S1 Kebidanan Universitas Alma Ata terus berkembang dan konsisten dalam mencetak lulusan yang kompeten, berintegritas, serta siap menghadapi berbagai tantangan di bidang kesehatan.

Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan mengembangkan diri, serta memperkuat peran lulusan kebidanan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di masyarakat.

Mahasiswa Sarjana Kebidanan Alma Ata Menjadi Bagian dari Wisuda Periode April 2026

Mahasiswa Sarjana Kebidanan Alma Ata Menjadi Bagian dari Wisuda Periode April 2026

Universitas Alma Ata kembali mencatatkan momen bersejarah melalui penyelenggaraan Wisuda Tahun 2026 yang dilaksanakan pada 22 April 2026 di The Rich Hotel Yogyakarta. Sebanyak 277 wisudawan dan wisudawati secara resmi dikukuhkan sebagai lulusan, menandai keberhasilan dalam menempuh pendidikan tinggi serta kesiapan untuk memasuki dunia profesional.

Di antara para lulusan tersebut, mahasiswa Program Studi Sarjana Kebidanan Universitas Alma Ata turut menjadi bagian penting dalam prosesi wisuda ini. Kehadiran para wisudawati kebidanan mencerminkan keberhasilan institusi dalam mencetak tenaga kesehatan yang kompeten, berintegritas, serta siap berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya pada bidang kesehatan ibu dan anak.

Prosesi wisuda berlangsung dengan khidmat dan penuh kebanggaan, dihadiri oleh pimpinan universitas, dosen, serta keluarga wisudawan. Momentum ini tidak hanya menjadi simbol kelulusan, tetapi juga wujud apresiasi atas perjuangan, kerja keras, dan dedikasi mahasiswa selama menjalani proses pendidikan.

Sebagai bagian dari 277 lulusan Universitas Alma Ata Tahun 2026, mahasiswa Sarjana Kebidanan diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh secara profesional di tengah masyarakat. Mereka diharapkan menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan yang humanis, berbasis evidence, dan berorientasi pada keselamatan ibu dan anak.

Universitas Alma Ata menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada seluruh wisudawan dan wisudawati, khususnya lulusan Sarjana Kebidanan. Semoga capaian ini menjadi awal dari perjalanan pengabdian yang bermakna, serta membawa kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Memaknai Skripsi: Bukan Sekadar Tugas Akhir, tetapi Proses Bertumbuh sebagai Profesional Terdidik

Memaknai Skripsi: Bukan Sekadar Tugas Akhir, tetapi Proses Bertumbuh sebagai Profesional Terdidik

Created by: Fatimatasari, M.Keb., Bd

Skripsi sering terasa seperti beban terakhir sebelum lulus. Padahal, jika dimaknai dengan cara yang lebih utuh, skripsi adalah kesempatan berharga untuk melihat sejauh mana kita berkembang selama menempuh pendidikan tinggi. Ia bukan hanya tentang menulis, tetapi tentang belajar memahami ilmu secara lebih dalam, berpikir lebih matang, dan bertanggung jawab atas apa yang kita kerjakan.

Cara mahasiswa menjalani proses skripsi sering kali mencerminkan bagaimana ia akan bekerja dan bersikap setelah lulus. Karena itu, skripsi sebenarnya bukan sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan proses yang bisa memperkuat diri.

1. Skripsi tumbuh dari proses belajar yang dijalani

Ide penelitian tidak harus selalu besar atau rumit. Ia bisa lahir dari hal sederhana: pengalaman praktik, hal yang pernah diamati, atau pertanyaan yang muncul selama kuliah.

Semakin kita terlibat dalam proses belajar sebelumnya, biasanya semakin mudah menemukan ide yang bermakna. Namun, jika merasa masih bingung, itu juga bagian yang wajar. Skripsi justru menjadi ruang untuk mulai belajar melihat masalah dengan lebih peka dan terarah.

2. Skripsi melatih kejujuran dalam menyampaikan ilmu

Dalam menyusun skripsi, mahasiswa belajar satu hal penting: bertanggung jawab terhadap setiap kalimat yang ditulis.

Tidak perlu sempurna, tetapi penting untuk jujur. Mengutip sumber dengan benar, memahami maknanya, dan menyampaikan sesuai fakta adalah langkah kecil yang membangun integritas besar.

Dari proses ini, integritas bukan hanya diperlukan dalam ranah akademik, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam menjalani peran dan tanggung jawab di masa depan, di mana kepercayaan sering kali dibangun dari sikap yang konsisten yang konsisten dan bisa dipercaya dalam setiap tindakan.

3. Skripsi membantu membangun pola pikir yang terarah

Skripsi bukan tentang banyaknya halaman, tetapi tentang bagaimana mahasiswa menyusun pemikiran yang runtut dan dapat dipahami.

Dalam prosesnya, mahasiswa belajar merancang penelitian yang:

  • memiliki alur logika yang jelas, 
  • menggunakan metode yang tepat, 
  • serta dapat dipertanggungjawabkan hasilnya. 

Semua ini tidak harus langsung sempurna. Justru melalui proses bimbingan dan revisi, mahasiswa belajar memperbaiki cara berpikirnya agar lebih terarah. Kemampuan ini menjadi bekal penting, karena membantu dalam mengambil keputusan secara rasional, bukan sekadar berdasarkan perkiraan dan akan terus terpakai, baik di dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari.

4. Skripsi melatih keseimbangan antara mempertahankan gagasan dan menerima masukan

Dalam proses penyusunan skripsi, mahasiswa belajar untuk memiliki argumen yang kuat dalam menentukan topik, metode, hingga hasil penelitian.

Di saat yang sama, skripsi juga menjadi ruang untuk belajar menerima masukan dari dosen pembimbing maupun penguji. Masukan tersebut bukan untuk menggugurkan ide, tetapi untuk membantu memperbaiki dan memperkuat penelitian agar menjadi lebih baik.

Dari proses ini, mahasiswa belajar menyeimbangkan dua hal penting: mempertahankan gagasan dengan dasar yang tepat, sekaligus terbuka terhadap perbaikan. Sikap ini menjadi bekal berharga, karena dalam kehidupan akademik maupun profesional, kemampuan untuk berdiskusi, mendengar, dan menyesuaikan diri dengan masukan adalah bagian penting dari perkembangan diri yang berkelanjutan

5. Skripsi mengajarkan keberanian untuk belajar dari kekurangan

Tidak ada skripsi yang benar-benar tanpa kekurangan. Justru dalam prosesnya, mahasiswa belajar melihat:

  • apa yang sudah baik, 
  • dan apa yang masih bisa diperbaiki. 

Kemampuan untuk mengakui keterbatasan bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan akademik. 

Dari sinilah sikap kritis tumbuh—tidak hanya terhadap teori, tetapi juga terhadap karya sendiri, sebagai bekal yang sangat penting untuk mendorong perbaikan diri secara berkelanjutan

6. Skripsi adalah proses yang menghargai kejujuran, bukan kesempurnaan

Hasil penelitian tidak harus selalu sesuai harapan. Dan itu tidak apa-apa.

Yang terpenting adalah prosesnya jujur. Data ditampilkan apa adanya, tanpa perlu diubah agar terlihat “ideal”. Skripsi yang jujur justru memberikan kontribusi yang lebih bermakna, karena dapat menjadi pembelajaran bagi orang lain di masa depan.

7. Skripsi melatih kesiapan menghadapi dunia nyata

Selama menyusun skripsi, mahasiswa belajar banyak hal di luar akademik:

  • berkomunikasi dengan dosen, 
  • mengurus perizinan, 
  • belajar dan bekerja sama dengan sejawat, 
  • hingga mengelola waktu dan emosi. 

Proses ini mungkin melelahkan, tetapi juga sangat membentuk. Tanpa disadari, keterampilan-keterampilan inilah yang nantinya akan membantu dalam dunia profesional.

Skripsi sebagai perjalanan mengenal diri

Skripsi bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tetapi tentang perjalanan mengenal diri sendiri—bagaimana kita berpikir, bersikap, dan bertanggung jawab.

Merasa lelah dalam prosesnya adalah hal yang manusiawi. Namun, di balik setiap langkah yang dijalani, ada proses bertumbuh yang sedang terjadi.

Skripsi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Ia adalah kesempatan untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa kita mampu belajar, bertahan, dan menyelesaikan sesuatu dengan penuh tanggung jawab.

Dan itu adalah bekal yang jauh lebih berharga daripada sekadar gelar.

Serah Terima Jabatan, Penyampaian LPJ, dan Proker HIMABI Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata Tahun 2026

Serah Terima Jabatan, Penyampaian LPJ, dan Proker HIMABI Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata Tahun 2026

Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata menyelenggarakan kegiatan Serah Terima Jabatan, Penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ), serta Pemaparan Program Kerja (Proker) Himpunan Mahasiswa Kebidanan (HIMABI) pada Selasa, 14 April 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memastikan keberlanjutan organisasi mahasiswa yang profesional, transparan, dan berintegritas.

Acara ini dihadiri oleh jajaran dosen, pengurus HIMABI periode sebelumnya (2024/2025), serta pengurus baru (2025/2206) yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan. Dalam kegiatan ini, pengurus lama menyampaikan laporan pertanggungjawaban sebagai bentuk akuntabilitas atas program kerja yang telah dilaksanakan, sekaligus menjadi bahan refleksi dan evaluasi bersama. Prosesi serah terima jabatan berlangsung dengan khidmat, menandai dimulainya kepengurusan baru HIMABI yang diharapkan mampu membawa inovasi, semangat kolaborasi, serta kontribusi nyata bagi mahasiswa dan lingkungan akademik. Selain itu, pemaparan program kerja ke depan menjadi langkah strategis dalam merancang kegiatan yang lebih berdampak dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa kebidanan.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata berharap dapat terus mendorong terciptanya organisasi mahasiswa yang aktif, inovatif, dan berdaya saing, serta mampu mencetak calon bidan profesional yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial yang tinggi.