by Admin Kebidanan | Mar 12, 2026 | Artikel
Created by Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb
Menjelang Hari Raya Idulfitri, berbagai aktivitas biasanya mulai meningkat. Mulai dari membantu persiapan di rumah, berbelanja kebutuhan Lebaran, hingga berkumpul dengan keluarga dan teman. Bagi remaja, momen ini tentu menjadi waktu yang menyenangkan. Namun di sisi lain, perubahan rutinitas menjelang Lebaran sering kali memengaruhi pola makan, waktu tidur, serta kebiasaan sehari-hari.
Secara ilmiah, masa remaja merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat. Pada fase ini, tubuh membutuhkan asupan nutrisi yang cukup, aktivitas fisik yang seimbang, serta waktu istirahat yang memadai untuk mendukung perkembangan fisik dan mental. Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan bahwa kesehatan remaja sangat dipengaruhi oleh kebiasaan hidup sehari-hari, termasuk pola makan, aktivitas fisik, dan kualitas tidur. Oleh karena itu, menjaga pola hidup sehat tetap penting meskipun aktivitas menjelang Lebaran meningkat.
Salah satu perubahan yang sering terjadi menjelang Lebaran adalah pola makan. Berbagai makanan khas seperti kue kering, makanan manis, dan makanan tinggi lemak biasanya tersedia dalam jumlah banyak. Konsumsi makanan tersebut sebenarnya tidak dilarang, tetapi perlu diperhatikan jumlah dan frekuensinya. Asupan gula dan lemak yang berlebihan dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, meningkatkan risiko gangguan pencernaan, serta memengaruhi keseimbangan energi dalam tubuh. Oleh karena itu, remaja dianjurkan untuk tetap mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, mineral, serta serat dari sayur dan buah.
Selain pola makan, aktivitas fisik juga menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan remaja. Saat libur menjelang Lebaran, banyak remaja lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan aktivitas pasif seperti bermain gawai atau menonton. Padahal, aktivitas fisik memiliki peran penting dalam menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan metabolisme, serta membantu menjaga kesehatan mental. Rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan anak dan remaja untuk melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari dengan intensitas sedang hingga tinggi. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, olahraga ringan, atau membantu pekerjaan rumah dapat menjadi cara efektif untuk tetap aktif selama masa persiapan Lebaran.
Kualitas tidur juga sering mengalami perubahan menjelang Lebaran. Kesibukan mempersiapkan berbagai kebutuhan atau meningkatnya penggunaan gawai dapat membuat waktu tidur menjadi tidak teratur. Padahal remaja membutuhkan waktu tidur sekitar 8–10 jam setiap malam untuk mendukung fungsi otak, konsentrasi belajar, serta sistem kekebalan tubuh. Kurang tidur dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, menurunkan daya tahan tubuh, serta memengaruhi suasana hati.
Di sisi lain, penggunaan gawai yang berlebihan juga menjadi salah satu kebiasaan yang sering terjadi pada remaja saat masa libur. Gawai digunakan untuk berbagai aktivitas seperti bermain media sosial, menonton video, atau bermain gim. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa durasi screen time yang terlalu lama dapat memengaruhi kesehatan mata, kualitas tidur, serta menurunkan aktivitas fisik pada remaja. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk mengatur waktu penggunaan gawai agar tetap seimbang dengan aktivitas fisik dan interaksi sosial.
Menjelang Lebaran merupakan momen yang penuh kebahagiaan dan kebersamaan. Namun menjaga kesehatan tetap menjadi hal yang penting, terutama bagi remaja yang sedang berada pada masa pertumbuhan. Dengan menjaga pola makan yang seimbang, tetap aktif bergerak, cukup istirahat, serta menggunakan gawai secara bijak, remaja dapat menikmati suasana Lebaran dengan tubuh yang sehat dan bugar.
Kesehatan yang baik tidak hanya mendukung aktivitas sehari-hari, tetapi juga membantu remaja menjalani masa pertumbuhan secara optimal serta mempersiapkan masa depan yang lebih sehat.
Referensi
World Health Organization. Adolescent health. Geneva: World Health Organization; 2024.
World Health Organization. Guidelines on physical activity and sedentary behaviour. Geneva: World Health Organization; 2020.
Sawyer SM, Azzopardi PS, Wickremarathne D, Patton GC. The age of adolescence. Lancet Child & Adolescent Health. 2018;2(3):223–228.
Chaput JP, Willumsen J, Bull F, et al. WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour for children and adolescents. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity. 2020;17:141.
Stiglic N, Viner RM. Effects of screentime on the health and well-being of children and adolescents: a systematic review of reviews. BMJ Open. 2019;9:e023191.
by Admin Kebidanan | Mar 10, 2026 | Berita
Mahasiswa Program Studi S1 Kebidanan Universitas Alma Ata, Elvia Putri Romanov, berkesempatan mengikuti kegiatan International Field Trip ke Singapura dan Malaysia sebagai bagian dari penguatan pengalaman belajar global serta pengembangan wawasan akademik di tingkat internasional.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk implementasi pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lingkungan akademik dan layanan kesehatan internasional. Melalui program ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami berbagai praktik, sistem, serta pengelolaan institusi pendidikan dan kesehatan di luar negeri.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, peserta melakukan kunjungan akademik ke beberapa institusi pendidikan dan layanan kesehatan terkemuka, yaitu:
- Rumah Sakit Canselor Tuanku Muhriz – Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM)
- International Islamic University Malaysia (IIUM)
- Universiti Sains Islam Malaysia (USIM)
Melalui kunjungan ini, mahasiswa dapat mempelajari secara langsung sistem layanan kesehatan yang diterapkan di rumah sakit pendidikan, sekaligus melihat bagaimana integrasi antara pendidikan, penelitian, dan praktik klinis dilakukan di tingkat internasional. Selain itu, kegiatan ini juga membuka peluang untuk memperluas jejaring akademik serta bertukar wawasan dengan lingkungan pendidikan global.
Partisipasi mahasiswa dalam kegiatan International Field Trip diharapkan dapat memperkaya perspektif keilmuan, meningkatkan kemampuan adaptasi dalam lingkungan internasional, serta memotivasi mahasiswa untuk terus mengembangkan kompetensi diri.
Program ini menjadi bagian dari komitmen Universitas Alma Ata dalam mendukung student mobility dan pembelajaran berbasis pengalaman global. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman lintas budaya yang penting dalam menghadapi tantangan dunia profesional di masa depan.
Melalui kegiatan ini diharapkan mahasiswa dapat membawa pengalaman dan wawasan baru yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di masa mendatang. 🌏✨
by Admin Kebidanan | Mar 5, 2026 | Artikel
Written by Bdn. Adenia Dwi Ristanti, M.Tr.Keb.
Puasa merupakan ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi bagi umat Muslim. Namun, bagi ibu hamil, keputusan untuk berpuasa sering kali menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan bagi diri sendiri dan janin yang dikandung. Secara medis, kehamilan adalah kondisi fisiologis yang membutuhkan perhatian khusus terhadap keseimbangan nutrisi, cairan, serta stabilitas metabolisme tubuh.
Perubahan Fisiologis Saat Hamil dan Berpuasa
Selama kehamilan, tubuh ibu mengalami berbagai perubahan metabolik. Kebutuhan energi meningkat untuk mendukung pertumbuhan janin, pembentukan plasenta, serta perubahan jaringan tubuh ibu. Laju metabolisme basal meningkat sekitar 15–20%, dan terjadi perubahan hormonal yang memengaruhi metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein.
Saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 12–14 jam (bahkan lebih, tergantung lokasi geografis). Dalam kondisi ini, kadar glukosa darah akan menurun secara bertahap, lalu tubuh mulai menggunakan cadangan glikogen dan lemak sebagai sumber energi. Pada ibu hamil, proses ini dapat berlangsung lebih cepat karena kebutuhan energi yang lebih tinggi. Adaptasi ini sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh, namun perlu diperhatikan agar tidak terjadi kekurangan energi atau dehidrasi.
Dampak Puasa terhadap Ibu dan Janin
Berdasarkan berbagai penelitian terbaru hingga tahun 2025, sebagian besar studi menunjukkan bahwa puasa pada ibu hamil yang sehat dan tanpa komplikasi tidak secara konsisten meningkatkan risiko berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, atau gangguan skor Apgar. Namun, beberapa penelitian tetap menemukan variasi kecil pada berat lahir bayi, terutama bila asupan nutrisi ibu saat sahur dan berbuka tidak mencukupi.
Secara fisiologis, janin mendapatkan nutrisi melalui plasenta yang berfungsi sebagai sistem distribusi zat gizi dari ibu. Jika ibu mengalami penurunan asupan kalori dan cairan secara signifikan dalam waktu lama tanpa kompensasi nutrisi yang baik di luar jam puasa, maka potensi gangguan pertumbuhan janin dapat meningkat.
Selain itu, dehidrasi menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Kekurangan cairan dapat menyebabkan ibu merasa lemas, pusing, hingga memicu kontraksi dini pada sebagian kasus tertentu. Oleh karena itu, hidrasi optimal saat berbuka dan sahur sangat penting.
Trimester Kehamilan dan Pertimbangan Risiko
Trimester pertama sering dikaitkan dengan mual muntah yang cukup berat. Pada kondisi ini, puasa dapat memperberat gejala dan meningkatkan risiko kekurangan nutrisi. Trimester kedua umumnya dianggap sebagai periode paling stabil dalam kehamilan, sehingga sebagian ibu merasa lebih mampu menjalani puasa. Sementara pada trimester ketiga, kebutuhan energi meningkat pesat karena pertumbuhan janin yang cepat, sehingga pemantauan kondisi ibu dan janin menjadi sangat penting.
Ibu dengan kondisi khusus seperti anemia, diabetes gestasional, hipertensi dalam kehamilan, riwayat kelahiran prematur, atau gangguan pertumbuhan janin sebaiknya berkonsultasi lebih lanjut sebelum memutuskan untuk berpuasa.
Perspektif Ilmiah Jangka Panjang
Beberapa kajian terbaru juga membahas konsep “programming janin”, yaitu bagaimana kondisi nutrisi selama kehamilan dapat memengaruhi kesehatan anak di masa depan. Meskipun bukti mengenai dampak jangka panjang puasa Ramadan masih belum konklusif, para peneliti menyarankan agar kecukupan nutrisi tetap menjadi prioritas utama untuk mendukung pertumbuhan optimal janin. Artinya, puasa bukan semata-mata persoalan boleh atau tidak, tetapi lebih pada bagaimana menjaga keseimbangan nutrisi dan memastikan kondisi kesehatan ibu tetap stabil.
Prinsip Aman Berpuasa bagi Ibu Hamil
Secara umum, ibu hamil yang ingin berpuasa perlu memperhatikan beberapa prinsip penting. Asupan sahur sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta cukup serat agar energi bertahan lebih lama. Cairan harus dipenuhi secara bertahap dari waktu berbuka hingga sahur untuk mencegah dehidrasi. Suplementasi zat besi, asam folat, dan kalsium tetap harus dikonsumsi sesuai anjuran tenaga kesehatan. Apabila muncul tanda bahaya seperti pusing berat, lemas ekstrem, nyeri perut hebat, kontraksi teratur, atau penurunan gerakan janin, maka puasa sebaiknya segera dihentikan dan ibu perlu mendapatkan evaluasi medis.
Kesimpulan
Secara ilmiah, puasa pada ibu hamil yang sehat tidak selalu berbahaya dan dalam banyak penelitian tidak menunjukkan dampak negatif yang signifikan terhadap luaran kehamilan. Namun, setiap kehamilan bersifat unik. Kondisi kesehatan ibu, usia kehamilan, status nutrisi, serta riwayat obstetri menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan. Pendekatan terbaik adalah keputusan yang bersifat individual, berdasarkan konsultasi medis dan pemantauan yang tepat. Dengan perencanaan nutrisi yang baik, hidrasi yang cukup, serta pemantauan kesehatan secara berkala, ibu hamil dapat mempertimbangkan puasa dengan lebih aman dan bertanggung jawab.
Referensi
Glazier JD, Hayes DJL, Hussain S, D’Souza SW, Whitcombe J, Heazell AEP. The effect of Ramadan fasting during pregnancy on perinatal outcomes: An umbrella review. Int J Gynecol Obstet. 2025;168(2):345–356.
Bakhsh H, Al-Raddadi R, Al-Malki A, et al. Ramadan fasting and its impact on fetal Doppler indices and perinatal outcomes in healthy pregnant women: A prospective cohort study. Pak J Med Sci. 2025;41(1):112–118.
Musa AB, Ibrahim SM, Lawal AO, et al. Maternal fasting during pregnancy and birth weight outcomes in a sub-Saharan population. BMC Pregnancy Childbirth. 2025;25:148.
by Admin Kebidanan | Nov 12, 2025 | Berita
Prof. Dr. Siti Roshaidai Mohd Arifin, Head of Research and Innovation Kulliyyah of Nursing, International Islamic University Malaysia (IIUM Kuantan), menjadi narasumber bidang kebidanan dalam ajang internasional The 7th Asia-Pacific Partnership on Health and Nutrition Improvement (APHNI) yang diselenggarakan pada 5 November 2025.
Dalam presentasinya bertajuk “Integrating Mental Health and NCD Services in Community Midwifery Practice: A Holistic Approach”, Prof. Roshaidai menyoroti pentingnya pendekatan menyeluruh (holistic approach) dalam pelayanan kebidanan komunitas dengan mengintegrasikan kesehatan mental dan penyakit tidak menular (Non-Communicable Diseases/NCDs).
Beliau menjelaskan bahwa gangguan mental seperti depresi dan kecemasan pada masa perinatal memiliki hubungan dua arah dengan penyakit tidak menular — di mana keduanya saling memperburuk kondisi kesehatan ibu. Hal ini menegaskan perlunya peran bidan dalam skrining dini, edukasi, dan dukungan psikososial kepada ibu hamil dan pascapersalinan.
Prof. Roshaidai juga memaparkan hasil kolaborasi lintas negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk pengembangan Perinatal Depression Screening and Management Manual dan kerja sama UK–Southeast Asia Maternal Mental Health Collaboration.
Selain itu, beliau memperkenalkan inovasi i-PartnerPulse Framework, sebuah pendekatan digital yang melibatkan pasangan suami istri dalam upaya pencegahan dan penanganan depresi perinatal berbasis aplikasi daring.
Melalui paparannya, Prof. Roshaidai menegaskan pentingnya peran bidan komunitas dalam memberikan pelayanan kebidanan yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga pada kesehatan mental ibu dan keluarga sebagai satu kesatuan yang saling terkait.