Penulis: Restu Pangestuti, S.ST., M.Kes.

Anak berlari ke sana kemari, sulit duduk diam, banyak bertanya, atau cepat berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain sering kali membuat orang tua bertanya, “Apakah anak hiperaktif?”. Padahal, anak yang aktif belum tentu mengalami hiperaktivitas atau ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder). Anak memiliki karakter dan kebutuhan bergerak yang berbeda sesuai usia dan tahap perkembangannya.

Anak Aktif Itu Seperti Apa?

Anak aktif umumnya memiliki energi yang besar dan senang mengeksplorasi lingkungan. Mereka dapat banyak bergerak, berbicara, bermain, dan mencoba berbagai aktivitas. Namun, anak yang aktif pada umumnya masih dapat mengikuti aturan sederhana sesuai usianya, mengalihkan perhatian pada aktivitas yang menarik, dan menyesuaikan perilaku ketika diberikan arahan. Karena itu, perilaku anak perlu dilihat berdasarkan usia, situasi, dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari, bukan hanya berdasarkan seberapa banyak anak bergerak.

Kapan Anak Disebut Hiperaktif?

Dalam konteks kesehatan, hiperaktivitas merupakan salah satu kelompok gejala yang dapat muncul pada ADHD. ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang dapat melibatkan kesulitan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Gejalanya dapat muncul dalam berbagai pola dan tidak selalu berupa anak yang terus-menerus bergerak. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah gejala tersebut menetap, cukup berat, dan menyebabkan gangguan dalam kehidupan anak, misalnya di rumah, sekolah, atau dalam hubungan dengan teman.

Tanda yang Perlu Diperhatikan

Orang tua dapat mulai berkonsultasi apabila anak secara konsisten mengalami beberapa kondisi seperti:

  1. Sangat sulit mempertahankan perhatian;
  2. Sering bertindak tanpa mempertimbangkan akibatnya;
  3. Sulit menunggu giliran;
  4. Sering menyela atau berbicara berlebihan;
  5. Sangat sulit mengikuti instruksi;
  6. Sering kehilangan atau melupakan barang;
  7. Perilaku tersebut muncul dalam lebih dari satu lingkungan; atau
  8. Perilaku tersebut mengganggu kegiatan belajar, bermain, hubungan sosial, atau kehidupan keluarga.

Namun, satu atau dua perilaku tersebut saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak mengalami ADHD. Banyak kondisi lain, termasuk gangguan tidur, kecemasan, atau kesulitan belajar, dapat memiliki gejala yang menyerupai ADHD.

Jangan Diagnosis Anak Berdasarkan Media Sosial

Saat ini banyak konten mengenai ADHD beredar di TikTok, Instagram, dan platform lainnya. Informasi tersebut dapat membantu meningkatkan kesadaran, tetapi tidak dapat menggantikan penilaian profesional. Tidak ada satu pemeriksaan tunggal yang dapat digunakan untuk memastikan ADHD. Evaluasi dilakukan melalui beberapa tahapan dan dapat melibatkan informasi dari orang tua, guru, serta tenaga kesehatan.

Pedoman American Academy of Pediatrics juga menekankan bahwa dalam evaluasi ADHD perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya kondisi lain yang menyertai atau menyerupai gejalanya, termasuk gangguan perkembangan, gangguan belajar dan bahasa, serta masalah kesehatan tertentu.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Daripada langsung memberikan label “nakal” atau “hiperaktif”, orang tua dapat mulai dengan mengamati pola perilaku anak. Perhatikan: Apa yang dilakukan anak? Kapan perilaku tersebut muncul? Seberapa sering? Apakah terjadi di rumah saja atau juga di sekolah? Dan apakah perilaku tersebut benar-benar mengganggu aktivitas anak?

Orang tua juga dapat membantu anak melalui rutinitas yang konsisten, aturan yang sederhana dan jelas, kesempatan bermain aktif, waktu tidur yang cukup, serta komunikasi yang positif. Jika terdapat kekhawatiran mengenai perilaku atau perkembangan anak, orang tua dapat berkonsultasi dengan bidan, dokter anak, psikolog, atau tenaga kesehatan terkait untuk mendapatkan penilaian yang tepat.

Anak aktif tidak otomatis berarti hiperaktif.

Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan perkembangan yang berbeda. Hal yang penting bukan sekadar melihat apakah anak banyak bergerak, tetapi memahami pola perilaku, konsistensi gejala, lingkungan tempat gejala muncul, serta dampaknya terhadap kehidupan anak. Daripada terburu-buru memberikan label, mari mengamati, memahami, dan melakukan deteksi dini bila diperlukan. Dengan pendekatan yang tepat, anak dapat memperoleh dukungan sesuai kebutuhan perkembangannya.

Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Referensi

  1. Wolraich ML, Hagan JF Jr, Allan C, et al. Clinical Practice Guideline for the Diagnosis, Evaluation, and Treatment of Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder in Children and Adolescents. Pediatrics. 2019;144(4):e20192528.
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diagnosing ADHD. Updated July 2026.
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Symptoms of ADHD. Updated July 2026.
  4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). ADHD in Children. Updated July 2026.
  5. American Academy of Pediatrics. Clinical Practice Guidelines: Diagnosis, Evaluation, and Treatment of ADHD in Children and Adolescents.