Penulis: Dr. Restu Pangestuti, S.ST., MKM.

Di era digital, mencari informasi kesehatan semudah mengetik kata kunci di Google atau menonton video di TikTok. Bagi ibu hamil, informasi tersebut dapat membantu memahami perubahan tubuh, nutrisi, tanda bahaya, dan persiapan persalinan. Namun, kemudahan ini juga dapat mendorong self-diagnosis, yaitu menentukan sendiri kondisi kesehatan berdasarkan informasi yang ditemukan tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan.

Ketika Gejala Langsung Dicari di Internet

Mual, pusing, sakit kepala, nyeri perut, atau kelelahan merupakan keluhan yang dapat terjadi selama kehamilan. Namun, satu gejala dapat memiliki berbagai penyebab. Misalnya, sakit kepala dapat berkaitan dengan kelelahan atau dehidrasi, tetapi pada kondisi tertentu juga dapat menjadi tanda masalah yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Masalah muncul ketika ibu langsung menyimpulkan, “Saya hanya mengalami keluhan biasa karena hamil,” atau sebaliknya, “Saya pasti mengalami penyakit tertentu,” hanya berdasarkan hasil pencarian internet.

Apa Risikonya?

Pertama, salah memahami gejala. Informasi di internet tidak selalu mempertimbangkan riwayat kesehatan dan kondisi kehamilan setiap individu.

Kedua, terlambat mendapatkan pertolongan. Menganggap gejala sebagai kondisi yang normal dapat menyebabkan ibu menunda pemeriksaan, padahal beberapa tanda kehamilan memerlukan evaluasi segera.

Ketiga, penggunaan obat atau herbal secara sembarangan. Rekomendasi dari influencer atau pengalaman pengguna lain tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan keamanan obat atau suplemen selama kehamilan.

Keempat, meningkatkan kecemasan. Pencarian informasi kesehatan secara berlebihan dapat membuat ibu menemukan berbagai kemungkinan penyakit dan semakin khawatir. Kondisi ini dikenal sebagai cyberchondria.

Tidak Semua Informasi di Media Sosial Salah

Google dan TikTok bukanlah musuh. Media digital justru dapat menjadi sarana edukasi yang bermanfaat apabila digunakan secara bijak. Ibu hamil dapat memperoleh informasi mengenai nutrisi, aktivitas fisik, kesehatan mental, pemeriksaan kehamilan, hingga tanda bahaya.

Yang perlu diperhatikan adalah sumber dan kualitas informasinya. Jumlah likes, followers, atau penayangan bukan jaminan bahwa informasi kesehatan tersebut benar.

Sebelum mempercayai suatu konten, pastikan:

  1. Siapa yang membuat informasi tersebut?
  2. Apakah sumbernya berasal dari tenaga atau organisasi kesehatan yang kredibel?
  3. Apakah terdapat referensi ilmiah?
  4. Apakah informasi tersebut masih relevan?
  5. Apakah informasi tersebut sesuai dengan kondisi saya?

Jangan Gantikan Pemeriksaan dengan Google

Ibu hamil perlu segera mendapatkan pertolongan apabila mengalami tanda bahaya seperti perdarahan, sakit kepala berat, gangguan penglihatan, nyeri perut hebat, sesak napas, kejang, demam, atau gerakan janin berkurang.

Peran Bidan di Era Digital

Bidan memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi kesehatan digital ibu hamil. Edukasi tidak hanya tentang kesehatan kehamilan, tetapi juga bagaimana memilih informasi yang benar dan menghindari informasi kesehatan yang menyesatkan. Ibu hamil tidak perlu takut menggunakan internet. Justru, jadikan teknologi sebagai sumber pengetahuan, bukan sebagai pengganti pemeriksaan dan konsultasi. Google dapat membantu mencari informasi. TikTok dapat memberikan edukasi. Tetapi diagnosis dan keputusan kesehatan selama kehamilan tetap memerlukan penilaian tenaga kesehatan dan bukti ilmiah.

Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Referensi

  1. World Health Organization. (2024). Infodemic. WHO.
  2. World Health Organization. (2023). Global strategy on digital health 2020–2025. WHO.
  3. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Health Literacy. CDC.
  4. Starcevic, V., & Berle, D. (2013). Cyberchondria: Towards a better understanding of excessive health-related Internet use. Expert Review of Neurotherapeutics, 13(2), 205–213.
  5. Moorhead, S. A., et al. (2013). A new dimension of health care: Systematic review of the uses, benefits, and limitations of social media for health communication. Journal of Medical Internet Research, 15(4), e85.