Mengenal “Cycle Syncing”: Rahasia Tetap Energik dan Glowing dengan Mengikuti Jam Biologis Menstruasi

Mengenal “Cycle Syncing”: Rahasia Tetap Energik dan Glowing dengan Mengikuti Jam Biologis Menstruasi

Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Banyak perempuan merasa frustasi ketika suatu minggu mereka merasa sangat bersemangat, namun di minggu berikutnya merasa lemas, cemas, dan ingin makan segalanya. Kabar baiknya: Kamu tidak sedang malas, tubuhmu hanya sedang bekerja sesuai fasenya!

Saat ini sedang tren gaya hidup bernama Cycle Syncing. Ini adalah metode menyesuaikan pola makan, jenis olahraga, hingga beban kerja dengan empat fase siklus menstruasi. Dengan memahami fase ini, kita bisa meminimalkan gejala PMS dan menjaga kesehatan mental tetap stabil.

Memahami 4 Fase Musim dalam Tubuh Perempuan

Layaknya cuaca, tubuh perempuan mengalami empat fase setiap bulannya:

  1. Fase Menstruasi (Musim Dingin):
    • Kondisi: Hormon estrogen dan progesteron berada di titik terendah. Energi biasanya paling rendah.
    • Tips: Fokus pada istirahat. Pilih olahraga ringan seperti stretching atau yoga. Konsumsi makanan hangat dan kaya zat besi untuk mengganti darah yang keluar.
  2. Fase Folikular (Musim Semi):
    • Kondisi: Estrogen mulai meningkat. Kamu mulai merasa lebih kreatif, bersemangat, dan siap mencoba hal baru.
    • Tips: Waktu terbaik untuk memulai proyek baru atau belajar skill baru. Lakukan olahraga kardio ringan.
  3. Fase Ovulasi (Musim Panas):
    • Kondisi: Titik puncak estrogen. Kamu merasa paling percaya diri, komunikatif, dan glowing.
    • Tips: Waktu terbaik untuk presentasi, public speaking, atau bersosialisasi. Energi sedang tinggi, cocok untuk olahraga intensitas tinggi (HIIT).
  4. Fase Luteal (Musim Gugur):
    • Kondisi: Progesteron naik, namun jika tidak ada pembuahan, hormon akan merosot tajam di akhir fase. Inilah munculnya gejala PMS (mudah marah, kembung, jerawat).
    • Tips: Kurangi kafein dan gula untuk mencegah jerawat PMS. Lakukan olahraga moderat seperti jalan cepat atau pilates.

Mengapa Ini Penting dari Sudut Pandang Kebidanan?

Sebagai calon bidan atau praktisi kesehatan, memahami Cycle Syncing adalah kunci edukasi kesehatan reproduksi yang modern.

  • Keseimbangan Hormon: Menyesuaikan gaya hidup dengan fase tubuh membantu menjaga keseimbangan hormon, yang berdampak pada keteraturan siklus haid dan kesehatan rahim.
  • Kesehatan Mental: Mengurangi rasa bersalah pada diri sendiri saat merasa lemas di fase menstruasi sangat penting untuk kesehatan jiwa perempuan.
  • Deteksi Dini: Dengan mencatat siklus secara detail, perempuan bisa lebih cepat menyadari jika ada kejanggalan seperti PCOS atau Endometriosis.

Cintai Dirimu dengan Mengenali Siklus Mu

Kesehatan perempuan adalah hal yang kompleks namun indah. Dengan menerapkan Cycle Syncing, kita tidak lagi “melawan” tubuh sendiri, melainkan bekerja sama dengannya.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, kami mendalami ilmu kesehatan perempuan secara holistik. Kami percaya bahwa bidan yang hebat adalah mereka yang mampu mengedukasi perempuan untuk berdaya atas tubuhnya sendiri. Sebagai prodi terakreditasi Unggul dan salah satu yang terbaik di Jogja, kami siap menemani perjalananmu menjadi tenaga kesehatan yang profesional dan inspiratif.

Yuk, mulai catat siklus mu dan rasakan perubahannya!

Referensi:

  1. Vitti, A. (2020). In the FLO: Unlock Your Hormonal Advantage and Revolutionize Your Life. HarperOne.
  2. Hill, M., et al. (2023). Impact of Menstrual Cycle Phases on Physical Performance and Mental Well-being in Young Women. International Journal of Environmental Research and Public Health.
  3. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Your Menstrual Cycle: A Guide for Teens and Young Women.
Jaring Laba-Laba Emas: Membedah Modus Jeffrey Epstein dan Cara Melindungi Diri

Jaring Laba-Laba Emas: Membedah Modus Jeffrey Epstein dan Cara Melindungi Diri

Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Dunia pernah diguncang oleh kasus Jeffrey Epstein, seorang miliarder Amerika Serikat yang memiliki koneksi tingkat tinggi dengan pangeran, presiden, hingga ilmuwan top dunia. Namun, dibalik kemewahan jet pribadi dan pulau pribadinya di Karibia, tersembunyi sebuah “pabrik” kejahatan seksual yang sistematis.

Kasus Epstein bukan sekadar cerita tentang nafsu, melainkan tentang penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) dan manipulasi psikologis tingkat tinggi. Memahami cara kerjanya adalah kunci agar kita dan keluarga terhindar dari jerat serupa.

1. Modus Operandi: Ilusi “Penyelamat”

Epstein tidak menculik korban dengan paksa di jalanan. Ia menggunakan pendekatan yang jauh lebih halus dan berbahaya: Grooming Berbasis Mimpi.

  1. Peran “Wajah Ramah” (Ghislaine Maxwell): Epstein tidak bekerja sendiri. Ia dibantu oleh sosialita Inggris, Ghislaine Maxwell (yang kini dipenjara). Maxwell bertugas mendekati remaja putri, berperan sebagai sosok “kakak perempuan” atau mentor yang memberikan rasa aman. Ini mengajarkan kita bahwa predator tidak selalu terlihat menyeramkan.
  2. Tawaran “Too Good to Be True”: Target mereka seringkali adalah gadis remaja dari latar belakang ekonomi sulit atau yang memiliki mimpi besar (menjadi model, butuh beasiswa kuliah). Epstein menawarkan jalan pintas menuju impian tersebut.
  3. Skema Piramida Kekerasan: Ini adalah bagian paling mengerikan. Korban yang sudah terjerat seringkali dipaksa untuk merekrut teman-teman mereka sendiri demi mendapatkan uang atau agar mereka sendiri dilepaskan sementara. Ini menciptakan siklus di mana korban juga menjadi perekrut.

2. Tanda Bahaya (Red Flags) yang Harus Diwaspadai

Belajar dari kasus ini, berikut adalah pola yang harus dihindari oleh remaja maupun orang tua:

  1. Akses Eksklusif Tanpa Pengawasan: Epstein sering menerbangkan korban ke tempat terpencil (Pulau Little St. James atau peternakan di New Mexico).

Pelajaran: Waspadalah jika ada tawaran pekerjaan atau mentoring yang mengharuskan anak/remaja pergi ke lokasi privat tanpa boleh didampingi orang tua atau wali.

  1. Hadiah Berlebihan di Awal: Memberikan uang tunai dalam jumlah besar, barang mewah, atau akses VIP kepada seseorang yang baru dikenal adalah taktik untuk menciptakan rasa “berhutang budi”.
  2. Isolasi dari Keluarga: Pelaku sering menanamkan ide bahwa “orang tuamu tidak mengerti potensimu, hanya aku yang mengerti.” Tujuannya adalah memutus komunikasi korban dengan sistem pendukungnya.

3. Cara Menghindar dan Melindungi Diri

Kejahatan seksual oleh predator berprofil tinggi atau grooming bisa terjadi di mana saja, tidak hanya di kalangan elit. Berikut langkah pencegahannya:

  1. Edukasi “Tidak Ada Makan Gratis”: Tanamkan pada anak dan remaja bahwa kesuksesan instan (menjadi model terkenal dalam semalam, uang saku besar tanpa kerja jelas) hampir selalu merupakan jebakan. Jika tawaran terdengar terlalu indah, verifikasi, verifikasi, dan verifikasi.
  2. Validasi Pihak Ketiga: Jika mendapat tawaran casting, beasiswa, atau pekerjaan, selalu cek legalitas lembaga tersebut. Jangan hanya percaya pada kartu nama atau foto bersama orang terkenal.
  3. Waspada Terhadap “Teman Baru”: Ingatkan bahwa predator bisa menggunakan teman sebaya (yang sudah menjadi korban) untuk memancing target baru. Jangan mudah percaya ajakan teman ke tempat asing yang melibatkan orang dewasa yang tidak dikenal.
  4. Kemandirian Emosional: Pelaku mengincar mereka yang “haus validasi”. Membangun kepercayaan diri anak di rumah membuat mereka tidak mudah dimanipulasi oleh pujian palsu orang asing.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Update Terkini dan Referensi

Kasus ini masih terus bergulir meski Epstein telah tewas di penjara pada 2019. Berikut adalah perkembangan dan referensi terbaru (2024-2025):

  1. Dokumen Pengadilan yang Dibuka (Januari 2024): Hakim Loretta Preska memerintahkan pembukaan segel (unsealing) ratusan dokumen pengadilan terkait gugatan Virginia Giuffre (salah satu korban utama). Dokumen ini mengungkap daftar nama tokoh besar yang pernah berinteraksi dengan Epstein, meskipun tidak semuanya dituduh melakukan kejahatan. Ini membuktikan betapa luasnya jaringan pengaruh Epstein.
  2. Dokumenter Edukatif:
    • Filthy Rich (Netflix) – Memberikan gambaran visual bagaimana korban dimanipulasi.
    • Surviving Jeffrey Epstein (Lifetime) – Fokus pada kesaksian para penyintas.

Kesimpulan: Kasus Jeffrey Epstein mengajarkan kita bahwa kejahatan seksual bisa bersembunyi di balik wajah yang sopan, kekayaan yang melimpah, dan janji manis masa depan. Senjata terbaik kita bukanlah ketakutan, melainkan skeptisisme yang sehat dan komunikasi terbuka dalam keluarga.

Kenali PCOS: Gangguan Hormon yang Sering Menyerang Remaja Putri Tanpa Disadari

Kenali PCOS: Gangguan Hormon yang Sering Menyerang Remaja Putri Tanpa Disadari

Created by Prasetya Lestari, S.ST., M.Kes

Perempuan sangat identik dengan berbagai jenis hormon reproduksi. Banyak diantara perempuan mengalami gangguan hormonal salah satunya gangguan “Polycystic Ovary Syndrome” (PCOS). Di Indonesia terdapat 10-11% perempuan mengalami PCOS. PCOS ini menjadi salah satu gangguan hormon yang paling umum dialami perempuan usia subur, termasuk remaja. Sayangnya, banyak remaja putri yang tidak menyadarinya dan baru terdiagnosis bertahun-tahun kemudian. Yuk, kita kenalan lebih dalam dengan PCOS!

Apa Itu PCOS?

PCOS merupakan kondisi ketidakseimbangan hormon reproduksi. Tubuh perempuan memproduksi sedikit hormon androgen (hormon laki-laki), tetapi pada pengidap PCOS, kadar hormon androgen ini berlebihan. Akibatnya, proses ovulasi (pelepasan sel telur) menjadi terganggu. Sel telur yang seharusnya matang justru gagal dilepaskan dan membentuk kista-kista kecil (kantong cairan) di indung telur. Inilah yang menyebabkan tidak teratur.

Gejala “Red Flag” PCOS yang Wajib Kamu Tahu

Gejala PCOS pada setiap orang bisa berbeda-beda, akan tetapi ada tiga tanda utama yang sering muncul pada remaja:

1. Haid Tidak Teratur (Oligomenore/Amenore)

Ini adalah tanda paling khas. Bukan sekadar telat seminggu, tapi siklus haid yang sangat jarang (kurang dari 8 kali setahun) atau bahkan berhenti sama sekali selama berbulan-bulan.

2. Tanda Kelebihan Androgen (Hiperandrogenisme)

Kelebihan hormon laki-laki bisa memunculkan tanda fisik yang mengganggu penampilan, seperti:

  • Jerawat parah: Biasanya di area rahang, dagu, atau punggung yang susah sembuh.
  • Hirsutisme: Tumbuh rambut berlebih di area yang tidak biasa bagi wanita, seperti kumis tipis, dagu, dada, atau perut.
  • Rambut rontok: Rambut kepala menipis (kebotakan pola pria).

3. Masalah Berat Badan & Warna Kulit

Sebagian besar remaja dengan PCOS mengalami kesulitan menurunkan berat badan. Selain itu, perhatikan lipatan tubuh (leher, ketiak, selangkangan). Jika ada bercak kulit yang menggelap dan menebal (Acanthosis Nigricans), hal ini sebagai tanda tubuh mengalami resistensi insulin. Kondisi ini berkaitan erat dengan PCOS.

Mengapa Bisa Kena PCOS?

Penyebab pastinya belum diketahui 100%, tapi para ahli sepakat ada dua faktor utama:

  • Genetik (Keturunan): Keluarga dengan riwayat PCOS, beresiko lebih besar menurunkan PCOS pada keturunannya. 
  • Resistensi Insulin: Sekitar 70% pengidap PCOS mengalami ini. Tubuh tidak bisa menggunakan insulin dengan efektif, sehingga kadar gula darah naik. Akibatnya, tubuh memproduksi lebih banyak insulin yang memicu ovarium memproduksi lebih banyak androgen.

“Bahaya Gak Sih Kalau Dibiarkan?”

PCOS bukan penyakit menular, tapi jika dibiarkan tanpa penanganan jangka panjang, ia bisa memicu masalah kesehatan serius di masa depan, seperti:

  • Diabetes Tipe 2 di usia muda.
  • Penyakit jantung dan hipertensi.
  • Gangguan kesuburan (susah hamil) saat dewasa nanti.
  • Kanker dinding rahim (endometrium) karena jarang haid (dinding rahim menebal terus menerus tanpa diluruhkan).

Apa yang Harus Dilakukan? (Don’t Panic!)

Kabar baiknya: PCOS bisa dikendalikan! Kuncinya adalah perubahan gaya hidup. Berikut langkah pertamanya:

  1. Konsultasi ke Dokter Kandungan (Sp.OG): Jangan self-diagnose. Dokter akan melakukan USG dan cek darah untuk memastikan.
  2. Ubah Pola Makan: Kurangi makanan manis, tepung-tepungan, dan junk food yang memicu lonjakan insulin. Perbanyak sayur dan protein.
  3. Olahraga Teratur: Tidak perlu berat, cukup jalan cepat atau senam 30 menit sehari untuk membantu menyeimbangkan hormon.
  4. Kelola Stres: Stres yang tinggi bisa memperburuk ketidakseimbangan hormon.

Ingat, Girls: Haid yang tidak teratur itu adalah cara tubuhmu berkomunikasi. Jangan diabaikan, ya! Semakin cepat dideteksi, semakin mudah gejalanya dikendalikan.

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes). (2022). Mengenal PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome). Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.
  2. Mayo Clinic. (2022). Polycystic ovary syndrome (PCOS) – Symptoms and causes.
  3. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). (2022). Polycystic Ovary Syndrome (PCOS).
  4. Rosenfield, R. L. (2020). The Diagnosis of Polycystic Ovary Syndrome in Adolescents. Pediatrics, 136(6).
Ancaman Senyap di Depan Mata: Mengapa Literasi Masyarakat tentang Virus Nipah Sangat Krusial

Ancaman Senyap di Depan Mata: Mengapa Literasi Masyarakat tentang Virus Nipah Sangat Krusial

Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Di tengah pemulihan dunia pasca-pandemi COVID-19, istilah “Virus Nipah” (NiV) kembali mencuat dalam diskursus kesehatan global. Meskipun belum menjadi pandemi global, wabah sporadis yang terjadi di negara tetangga di Asia Selatan (seperti India) menjadi peringatan keras bagi Indonesia.

Mengapa masyarakat umum perlu memahami virus ini? Jawabannya sederhana namun serius: Tingkat kematian (letalitas) yang tinggi dan belum adanya vaksin.

Apa itu Virus Nipah?

Virus Nipah adalah virus zoonosis, artinya virus ini ditularkan dari hewan ke manusia. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1999 saat terjadi wabah di kalangan peternak babi di Malaysia dan Singapura.

Penyebab utamanya adalah kelelawar buah dari famili Pteropodidae (genus Pteropus), yang juga dikenal sebagai “kalong” di Indonesia. Mengingat Indonesia merupakan habitat alami bagi kelelawar jenis ini, risiko penularan secara teoritis selalu ada di sekitar kita.

Mengapa Pengetahuan Masyarakat Sangat Penting?

Berikut adalah alasan mengapa edukasi publik mengenai Nipah tidak boleh ditunda:

1. Tingkat Kematian (Case Fatality Rate) yang Tinggi Berbeda dengan virus pernapasan biasa, WHO mencatat tingkat kematian akibat Virus Nipah berkisar antara 40% hingga 75%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19. Tanpa pengetahuan gejala awal, penanganan medis seringkali terlambat.

2. Gejala yang Menipu Gejala awal infeksi Nipah seringkali tidak spesifik, mirip dengan flu biasa: demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Namun, kondisi ini dapat memburuk dengan sangat cepat menjadi pusing, mengantuk, penurunan kesadaran, hingga tanda-tanda neurologis akut yang mengindikasikan ensefalitis (radang otak). Masyarakat yang “melek” gejala akan lebih cepat mencari pertolongan medis.

3. Mode Transmisi yang Beragam Masyarakat perlu tahu bahwa virus ini tidak hanya menular lewat kontak langsung dengan hewan. Penularan bisa terjadi melalui:

  1. Makanan: Mengonsumsi buah atau air nira (menyadap pohon aren/kelapa) yang telah terkontaminasi air liur atau urin kelelawar buah.
  2. Hewan Ternak: Kontak dengan babi atau hewan lain yang terinfeksi.
  3. Manusia ke Manusia: Kontak erat dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi (biasanya terjadi dalam keluarga atau lingkungan rumah sakit).

Langkah Pencegahan yang Harus Diketahui Publik

Karena belum ada obat atau vaksin khusus, pengetahuan adalah benteng pertahanan utama. Masyarakat dihimbau untuk:

  1. Higienitas Makanan: Mencuci buah hingga bersih dan mengupas kulitnya sebelum dimakan. Hindari memakan buah yang memiliki tanda gigitan hewan.
  2. Pengolahan Nira: Bagi masyarakat yang mengkonsumsi air nira mentah, disarankan untuk memasaknya hingga mendidih terlebih dahulu, karena nira adalah media yang sangat disukai kelelawar.
  3. Hindari Kontak: Menggunakan pelindung diri (masker/sarung tangan) saat menangani hewan sakit atau merawat kerabat yang menunjukkan gejala demam tinggi disertai gangguan saraf.

Kesimpulan

Indonesia memiliki risiko geografis terhadap penyebaran Virus Nipah. Kunci untuk mencegah wabah bukan hanya terletak pada kesiapan rumah sakit, tetapi pada deteksi dini di tingkat komunitas. Masyarakat yang teredukasi akan lebih waspada terhadap kebersihan makanan dan lingkungan, serta lebih cepat melaporkan kasus mencurigakan, sehingga memutus rantai penularan sebelum meluas.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI)
    1. Surat Edaran Dirjen P2P Nomor HK.02.02/C/4022/2023 tentang Kewaspadaan Terhadap Penyakit Virus Nipah. https://setkab.go.id/kemenkes-terbitkan-edaran-kewaspadaan-terhadap-virus-nipah/
    2. Buku Pedoman Kemenkes: “Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Virus Nipah. 2021. https://repository.kemkes.go.id/book/623
  2. Nipah virus infection. Ensefalitis Internasional. https://www.encephalitis.info/types-of-encephalitis/infectious-encephalitis/nipah-virus-infection/?gad_source=1&gad_campaignid=22512506786&gbraid=0AAAAADrFY3Tfckk94oQsr9lh_THr1WnuY&gclid=Cj0KCQiA7rDMBhCjARIsAGDBuEAHYXBvkZj_HiUFRJFbeIxGLqTVLqw0LgUTJfujdRXyBBFOATrEQhQaAjT-EALw_wcB
  3. WHO. 2026. Disease Outbreak News. https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news.
  4. Gabra. 2022. Nipah Virus: An Updated Review and Emerging Challenges. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35078400/

Mahasiswa Program Studi S1 Kebidanan Raih Juara III HIMABI Competition 2025

Mahasiswa Program Studi S1 Kebidanan Raih Juara III HIMABI Competition 2025

Mahasiswa Program Studi S1 Kebidanan FKIK Universitas Alma Ata, Melbi Mutiara (Angkatan 2023), meraih Juara III pada Lomba Poster Tingkat Mahasiswa dalam ajang HIMABI Competition 2025.

Kompetisi tersebut diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan dilaksanakan sebagai wadah pengembangan kreativitas serta penyampaian gagasan ilmiah dalam bentuk media poster. Penilaian lomba mencakup aspek substansi keilmuan, ketepatan isi, kreativitas desain, serta kejelasan pesan yang disampaikan.

Berdasarkan hasil penjurian yang diumumkan oleh panitia HIMABI Competition 2025, Melbi Mutiara ditetapkan sebagai peraih Juara III setelah melalui tahapan seleksi dan penilaian sesuai ketentuan yang berlaku.

Ketua Program Studi, Ibu Fatimatasari, M.Keb., Bdn menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas capaian tersebut. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh mahasiswa untuk terus mengembangkan potensi diri, berani berkompetisi, dan aktif mengikuti berbagai kegiatan ilmiah maupun non-ilmiah.

Melbi Mutiara juga mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan dan Ia berharap prestasi ini dapat menjadi langkah awal untuk terus berkarya dan berkontribusi dalam bidang yang diminati.

Selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Melbi Mutiara atas prestasi yang diraih. Terus berkarya, menginspirasi, dan membawa nama baik almamater di kancah yang lebih luas.