Bukan Cuma di Kelas! Dosen Berbagi Edukasi Positif Lewat Media Sosial

Bukan Cuma di Kelas! Dosen Berbagi Edukasi Positif Lewat Media Sosial

Peran dosen di era digital tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Perkembangan media sosial membuka ruang baru bagi dosen untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda, melalui edukasi yang relevan, mudah dipahami, dan berbasis keilmuan. Media sosial menjadi sarana strategis untuk menyampaikan pesan-pesan edukatif sekaligus membangun literasi publik secara luas. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Sarjana Kebidanan Universitas Alma Ata berinisiatif menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan remaja melalui siaran langsung (Live Talk/Live TikToksecara rutin setiap dua minggu sekali pada hari Jumat. Kegiatan ini menjadi wadah bagi dosen untuk berbagi pengetahuan, meningkatkan kesadaran kesehatan, serta menghadirkan edukasi yang kontekstual dan mudah diakses oleh remaja dan masyarakat luas.

Salah satu isu yang kini semakin mendapat perhatian adalah kesehatan mental remaja. Topik ini kerap dianggap sepele, padahal memiliki dampak besar terhadap tumbuh kembang, prestasi akademik, relasi sosial, hingga masa depan remaja. Tantangan akademik, tekanan sosial, serta paparan informasi digital yang masif menjadikan remaja sebagai kelompok yang rentan terhadap permasalahan kesehatan mental. Sebagai bentuk kepedulian dan pengabdian kepada masyarakat, Program Sarjana Profesi Bidan FKIK Universitas Alma Ata menyelenggarakan kegiatan Live Talk bertajuk “Remaja & Kesehatan Mental: Apa yang Perlu Kita Pahami?” pada 26 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi sarana edukasi publik yang membahas kesehatan mental remaja secara komprehensif, komunikatif, dan relevan dengan kondisi saat ini.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Ibu Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb, yang berbagi perspektif keilmuan serta pengalaman praktis terkait kesehatan mental remaja. Diskusi dipandu oleh Kak Khansa Nabila Putri (Mahasiswi Angkatan 2024) sebagai host, dengan pendekatan yang interaktif dan mudah dipahami oleh audiens.

Melalui kegiatan ini, dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar di kelas, tetapi juga sebagai edukator publik yang aktif menyebarkan informasi kesehatan yang valid dan bertanggung jawab melalui media sosial. Diharapkan, Live Talk ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mental remaja serta mendorong terciptanya lingkungan yang lebih suportif bagi generasi muda.

Ke depan, Program Studi Sarjana Kebidanan Universitas Alma Ata berkomitmen untuk terus menghadirkan edukasi kesehatan yang bermakna, berbasis kebutuhan nyata remaja, serta selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tantangan zaman.

Nyeri Haid Bikin Mager? Kenali Tanda Dismenorea yang tidak Boleh Kamu Remehkan!

Nyeri Haid Bikin Mager? Kenali Tanda Dismenorea yang tidak Boleh Kamu Remehkan!

Penulis: Dyah Pradnya Paramita, S.ST., M.Kes | Dosen D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Pernah gak sih, pas alarm bunyi pagi-pagi, rasanya pengen banget lanjut tidur dan bolos sekolah gara-gara perut melilit pas hari pertama haid? Atau mungkin kamu pernah melihat teman sekelasmu sampai pucat dan harus dijemput orang tuanya karena sakit perut yang tak tertahankan?

Kalau jawabannya “iya”, kamu tidak sendirian! Banyak remaja putri menganggap nyeri haid adalah “takdir” bulanan yang harus diterima pasrah. Padahal, nyeri haid itu ada penjelasannya secara medis, lho.

Istilah medis untuk nyeri haid adalah Dysmenorrhea. Kapan nyeri haid dibilang wajar, dan kapan harus mulai waspada? Yuk, kita bedah faktanya!

Kenapa Bisa Sakit Banget? (Penjelasan Ilmiah)

Secara fisiologis, saat haid, dinding rahim kamu sedang meluruh. Penelitian menunjukkan bahwa rasa nyeri ini dipicu oleh peningkatan produksi zat kimia alami tubuh bernama hormon Prostaglandin.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), kadar prostaglandin yang terlalu tinggi menyebabkan otot rahim berkontraksi (meremas) sangat kuat hingga menekan pembuluh darah di sekitarnya. Tekanan ini menghambat suplai oksigen ke jaringan rahim (iskemia), dan inilah yang mengirimkan sinyal rasa sakit kram hebat ke otak kamu (ACOG, 2022).

Jadi, sakitnya itu nyata karena proses biologis yang intens, bukan sekadar “baper” atau drama!

Cek Tanda “Red Flag” Ini!

Nyeri haid dikatakan dalam kondisi wajar kalau hanya menyebabkan rasa tidak nyaman dan kamu masih bisa melakukan aktifitas di hari ke-1 atau ke-2. Kondisi ini disebut Dysmenorrhea Primer. Tapi, kamu Wajib Waspada apabila nyeri haidmu punya tanda-tanda berikut:

  1. Mengganggu Aktivitas Total: Kamu sampai tidak bisa bangun dari kasur, absen sekolah, atau tidak bisa beraktivitas sama sekali.
  2. Obat Pereda Nyeri Tidak Mempan: Sudah minum obat anti-nyeri, tapi sakitnya tidak berkurang.
  3. Disertai Gejala Lain yang Parah: Seperti pingsan, muntah hebat, atau diare berlebihan.
  4. Durasi Panjang: Nyerinya bertahan lebih dari 3 hari berturut-turut dengan intensitas yang sama.

Jika kamu mengalami hal di atas, maka bisa jadi nyeri haidmu tergolong pada Dysmenorrhea Sekunder (nyeri yang disebabkan oleh gangguan klinis, seperti kista ovarium atau endometriosis). Oleh karena itu Jangan didiamkan, ya!

Gak Melulu Harus Minum Obat Coba 4 cara Ampuh Ini!

Kalau nyerimu masih tergolong wajar (Dysmenorrhea Primer), kamu bisa coba cara alami ini untuk meredakan sebelum memutuskan minum obat:

  1. Kompres Hangat (The Magic of Heat): Tempelkan botol berisi air hangat atau heating pad di perut bagian bawah. Panas akan melebarkan pembuluh darah (vasodilatasi) dan membuat otot rahim lebih rileks. Rasanya seperti dipeluk dari dalam!
  2. Olahraga Ringan, Jangan Mager: Rebahan seharian justru membuat aliran darah tidak lancar. Coba jalan santai atau stretching yoga ringan (posisi child’s pose). Gerakan ini memicu tubuh memproduksi Endorfin (anti-nyeri alami buatan tubuhmu sendiri).
  3. Stop Kopi & Boba: Kafein dalam kopi dan teh memiliki sifat vasokonstriksi (menyempitkan pembuluh darah), yang bisa bikin kram makin parah. Ganti dengan air putih hangat atau teh chamomile agar tubuh terhidrasi dan kram berkurang.
  4. Posisi Tidur Meringkuk (Fetal Position): Tidur menyamping dengan kaki ditekuk ke arah dada bisa mengurangi ketegangan pada otot perut. Ini adalah posisi paling nyaman saat tamu bulanan datang.

Bidan: Bukan Cuma Soal Melahirkan

Banyak orang mengira tugas Bidan hanya membantu ibu melahirkan bayi. Itu mitos besar!

Faktanya, seorang Bidan adalah ahli kesehatan wanita sepanjang siklus kehidupannya (women’s health cycle). Mulai dari remaja (pubertas), calon pengantin, ibu hamil, hingga lansia (menopause).

Memahami kenapa perut kamu sakit, bagaimana menyeimbangkan hormon agar wajah bebas jerawat, hingga mendeteksi kelainan reproduksi sejak dini adalah hal-hal yang dipelajari mahasiswa Kebidanan. Di jurusan ini, kita belajar bahwa setiap keluhan wanita itu valid dan ada solusi ilmiahnya berdasarkan Evidence Based Midwifery.

Kesimpulan: Ingin Paham Lebih dalam Tentang Rahasia Tubuh Wanita?

Daripada cuma bingung dan termakan mitos kesehatan di medsos, lebih baik kamu pelajari ilmunya langsung dari ahlinya di Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja. Bayangkan serunya bisa jadi tempat curhat kesehatan yang terpercaya buat teman, keluarga, dan masyarakat!.

Referensi:

  1. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). (2022). Dysmenorrhea: Painful periods. Washington, DC: ACOG.
  2. Burnett, M., & Lemyre, M. (2017). No. 345-Primary dysmenorrhea consensus guideline. Journal of Obstetrics and Gynaecology Canada, 39(7), 585–595.
  3. Kementerian Kesehatan RI. (2018). Pentingnya tablet tambah darah dan manajemen kesehatan menstruasi bagi remaja putri. Jakarta: Kemenkes RI.
  4. Prawirohardjo, S. (2016). Ilmu kandungan (Ed. ke-3). Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
D3 dan S1 Kebidanan – Profesi Bidan: Mana yang Lebih Penting?

D3 dan S1 Kebidanan – Profesi Bidan: Mana yang Lebih Penting?

Dalam sistem pelayanan kesehatan ibu dan anak, bidan memegang peran yang sangat strategis. Bidan hadir sejak fase kehamilan, persalinan, nifas, hingga kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga. Namun, masih sering muncul anggapan bahwa satu jenjang pendidikan bidan lebih “unggul” dibanding yang lain. Padahal, D3 Kebidanan dan S1 Kebidanan–Profesi Bidan sama-sama penting, dengan keunggulan dan peran yang saling melengkapi.

Perbedaan jenjang pendidikan bukan untuk dibandingkan secara hierarkis, melainkan untuk memperkuat sistem pelayanan kesehatan dari hulu hingga hilir. Mari kita Simak penjelasan berikut:

D3 Kebidanan: Kuat di Pelayanan Klinis dan Lapangan

Program Diploma Tiga (D3) Kebidanan dirancang untuk mencetak bidan yang terampil secara praktik dan siap bekerja di layanan kesehatan dasar dalam waktu yang lebih singkat.

Keunggulan D3 Kebidanan:

  • Fokus pada keterampilan klinis: Mahasiswa D3 dibekali kemampuan praktik kebidanan yang intensif, terutama dalam pelayanan kebidanan dasar, meliputi pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir normal.
  • Siap terjun langsung ke lapangan: Lulusan D3 banyak berperan di puskesmas, klinik, dan fasilitas pelayanan primer, terutama di daerah yang membutuhkan tenaga bidan terampil. 
  • Responsif terhadap kebutuhan layanan dasar: D3 menjadi tulang punggung pelayanan kebidanan sehari-hari yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

D3 Kebidanan sangat penting untuk memastikan akses layanan kebidanan tetap tersedia, merata, dan berkelanjutan, khususnya di wilayah dengan keterbatasan sumber daya.

S1 Kebidanan–Profesi Bidan: Penguat Peran Edukasi, Kepemimpinan, dan Promosi Kesehatan

Sementara itu, S1 Kebidanan yang dilanjutkan dengan Profesi Bidan memiliki fokus yang lebih luas, tidak hanya pada keterampilan klinis, tetapi juga pada pengambilan keputusan berbasis ilmu, kepemimpinan, dan pemberdayaan masyarakat meskipun membutuhkan waktu studi lebih lama.

Keunggulan S1 Kebidanan–Profesi Bidan:

  • Kemampuan berpikir kritis dan berbasis evidence: Lulusan dibekali kemampuan menganalisis masalah kesehatan ibu dan anak secara komprehensif.  
  • Kuat dalam promosi dan edukasi kesehatan: Sangat berperan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi, kesehatan mental ibu, dan perencanaan keluarga.
  • Peran kepemimpinan dan manajerial: S1 Kebidanan–Profesi Bidan dipersiapkan menjadi pimpinan Praktik Mandiri Bidan (PMB), pengelola pelayanan, penggerak tim, pendidik, konselor, dan agen perubahan di masyarakat.
  • Landasan untuk pengembangan karier: Membuka peluang lebih luas dalam dunia akademik, penelitian, kebijakan kesehatan, dan pengembangan layanan.

S1 Kebidanan–Profesi Bidan berperan penting dalam meningkatkan kualitas layanan, bukan hanya kuantitas, serta menjawab tantangan kesehatan yang semakin kompleks.

Tidak Sama tapi Satu Kesatuan dan Berperan Saling Menguatkan

D3 dan S1 Kebidanan–Profesi Bidan tidak berdiri saling menggantikan, melainkan saling melengkapi:

  • D3 memastikan pelayanan kebidanan berjalan efektif di lini terdepan.
  • S1 Kebidanan–Profesi Bidan memastikan pelayanan tersebut berkembang secara ilmiah, edukatif, dan berkelanjutan.

Keduanya dibutuhkan agar sistem kesehatan ibu dan anak dapat berjalan secara berkesinambungan, bermutu, dan terintegrasi dalam mendukung kebijakan nasional.

Menjadi Bidan: Pilihan Profesi, Pilihan Pengabdian.

Apapun jalur pendidikan yang dipilih, menjadi bidan pada hakikatnya adalah memilih profesi dengan tanggung jawab besar. Seorang bidan hadir menjaga kehidupan sejak awal, mendampingi perempuan dalam setiap fase penting, sekaligus berkontribusi dalam membangun generasi masa depan.

Bagi yang ingin berkontribusi lebih luas dalam edukasi, promosi kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat, melanjutkan pendidikan ke S1 Kebidanan dan Profesi Bidan menjadi langkah strategis.
Bagi yang ingin fokus pada pelayanan langsung dan praktik kebidanan, D3 Kebidanan dapat menjadi fondasi yang sangat berharga.

Karena pada akhirnya, setiap Bidan di jenjang apa pun memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan Perempuan, ibu, bayi, dan masa depan bangsa Indonesia.

Universitas Alma Ata memahami bahwa tantangan kesehatan saat ini membutuhkan Bidan yang terampil secara klinis serta didukung pendekatan berbasis bukti ilmiah dalam promosi kesehatan dan pemberdayaan Masyarakat.

Baik memulai dari D3 Kebidanan, atau S1 Kebidanan–Profesi Bidan, keduanya adalah pilihan bermakna untuk masa depan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Mari menjadi bagian dari bidan profesional yang berilmu, berempati, dan berdampak luas bersama Universitas Alma Ata.

REFERENSI

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2019 tentang Kebidanan. Available at: https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&opi=89978449&url=https://peraturan.bpk.go.id/Download/94989/UU%2520Nomor%25204%2520Tahun%25202019.pdf&ved=2ahUKEwjh1OeG1uaRAxXnUGcHHRAMDsAQFnoECBoQAQ&usg=AOvVaw1KPpyV9TPKFKjcNpjY5vs6

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/320/2020. Available at: https://repositori-ditjen-nakes.kemkes.go.id/294/2/Buku%20digital%20Standar%20Profesi%20Bidan.pdf

Wajah Kusam dan Sering Pusing? Hati-hati Anemia, Musuh Utama Remaja Putri Indonesia!

Wajah Kusam dan Sering Pusing? Hati-hati Anemia, Musuh Utama Remaja Putri Indonesia!

Kamu sudah rajin pakai skincare, minum air putih cukup, tapi wajah rasanya tetap terlihat pucat, kusam, dan enggak glowing? Belum lagi kalau lagi upacara bendera atau bangun tidur tiba-tiba, kepala rasanya kliyengan dan pandangan berkunang-kunang.

Hati-hati, Girls! Masalahnya mungkin bukan di kulit luar, tapi ada di dalam darah kamu.

Kondisi ini sering disebut “kurang darah”, atau istilah medisnya adalah Anemia. Dan tahukah kamu, Remaja putri di Indonesia adalah kelompok yang paling rentan terkena kondisi ini? Yuk, kita cari tahu kenapa ini bisa terjadi!

Kenapa Anemia Bikin Wajah Kusam & Otak Lemot?

Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau Hemoglobin (Hb). Ibaratnya, Hb sebagai “kurir” yang bertugas mengantar paket berupa Oksigen ke seluruh tubuh, mulai dari kulit hingga otak.

  1. Efek ke Kecantikan: Jika “kurir” (Hb) jumlahnya sedikit, suplai oksigen ke jaringan kulit berkurang. Akibatnya, kulit terlihat pucat (pallor), kusam, dan tidak bercahaya. Jadi, inner glow itu sebenarnya berasal dari aliran darah yang kaya oksigen!
  2. Efek ke Akademik: Otak sangat butuh oksigen untuk bekerja. Jika suplainya kurang, kamu bakal susah konsentrasi, cepat ngantuk di kelas, dan sering pusing.

Fakta Mengejutkan di Indonesia

Ini bukan masalah sepele. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes RI, sekitar 32% remaja putri di Indonesia mengalami anemia (Kemenkes RI, 2018).

Kenapa remaja putri?

  1. Menstruasi: Kita kehilangan darah setiap bulan.
  2. Diet yang Salah: Ingin langsing tapi malah memangkas asupan zat besi (daging merah, hati, bayam).
  3. Growth Spurt: Tubuh remaja butuh nutrisi ekstra untuk tumbuh.

Gejala khasnya dikenal dengan 5L: Lemah, Letih, Lesu, Lunglai, dan Lalai (susah fokus).

Gimana Cara Melawan Anemia? Gampang Kok!

Kabar baiknya, Anemia ini 100% bisa dicegah dan diobati tanpa biaya mahal. Kamu hanya perlu mengubah gaya hidup kamu:

  1. Perbanyak “Makanan yang mengandung tinggi zat besi “, missal: sayur bayam, hati ayam, daging merah, dan kacang-kacangan. Makanan ini kaya akan Zat Besi yang merupakan bahan baku utama pembuatan Hemoglobin.
  2. Combo Sakti: Zat Besi + Vitamin C: Ini rahasia yang jarang orang tahu! Saat makan makanan kaya zat besi, barengi dengan minum jus jeruk atau air lemon. Vitamin C dalam buah jeruk/ lemon dapat membantu tubuh menyerap zat besi berkali-kali lipat lebih cepat.
  3. Hati-hati dengan “Es Teh” Favoritmu: Kebiasaan minum teh setelah makan ternyata SALAH BESAR. Teh dan kopi mengandung Tanin dan Kafein mengharap penyerapan zat besi dari makanan.
  4. Rutin Minum Tablet Tambah Darah (TTD): Bagi remaja putri, sebaiknya rutin mengkonsumsi 1 tablet TTD setiap minggu. Ini investasi kesehatan termurah buat masa depanmu!

Apa Hubungannya Anemia dengan Jurusan Kebidanan?

Mungkin kamu bertanya, “kalau cuma anemia, tinggal minum obat. Apa hubungannya dengan Kebidanan?”

Disinilah peran strategis seorang Bidan yang sering tidak diketahui orang. Di jurusan Kebidanan, anemia pada remaja putri adalah topik serius karena berdampak panjang. Remaja berisiko menjadi ibu hamil yang anemia di masa depan. Ibu hamil yang anemia berisiko melahirkan bayi Stunting (gagal tumbuh).

Sebagai mahasiswa Kebidanan, kamu adalah Guardians of the Future. Kamu akan belajar:

  1. Nutrisi dan gizi reproduksi yang tepat untuk remaja (bukan sekadar diet viral).
  2. Cara mendeteksi tanda-tanda anemia sejak dini secara klinis.
  3. Mengelola program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) di sekolah-sekolah.

Jadi, Bidan bukan hanya menolong persalinan, tapi memutus rantai masalah kesehatan bangsa sejak dari masa remaja!

Kesimpulan: Jadilah Pelopor Remaja Sehat dan Glowing!

Tertarik mempelajari ilmu kesehatan yang bisa bikin kamu dan orang-orang di sekitarmu lebih sehat, cantik, cerdas dan bebas anemia? Lanjutkan jenjang pendidikanmu di Prodi D3 Kebidanan Terbaik di Jogja. Disini, kamu tidak hanya diajarkan teori, tapi dibentuk menjadi tenaga kesehatan profesional yang peduli, kompeten, dan siap kerja.

Daftar Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan RI. (2018). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
  2. World Health Organization (WHO). (2011). Haemoglobin concentrations for the diagnosis of anemia and assessment of severity. Geneva: World Health Organization.
  3. Varney, H., Kriebs, J. M., & Gegor, C. L. (2015). Varney’s Midwifery (5th ed.). Burlington, MA: Jones & Bartlett Learning.
  4. Briawan, D. (2014). Masalah Gizi pada Remaja Wanita: Anemia Defisiensi Besi. Jakarta: EGC
Perkuat Sinergi Pendidikan dan Kesehatan, Dosen D3 Kebidanan UAA Ajak Guru SMA N 1 Ngaglik Terapkan “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”

Perkuat Sinergi Pendidikan dan Kesehatan, Dosen D3 Kebidanan UAA Ajak Guru SMA N 1 Ngaglik Terapkan “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”

SLEMAN – Dalam upaya mencetak generasi emas yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga sehat secara fisik dan mental, Program Studi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata (UAA) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat dan edukasi di SMA Negeri 1 Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 17 Desember 2025 ini mengangkat tema krusial mengenai “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”. Berbeda dengan sosialisasi pada umumnya, kegiatan ini menargetkan para guru sebagai garda terdepan pendidikan di sekolah.

Hadir sebagai narasumber utama, Fatimah, S.SiT., M.Kes, didampingi oleh dosen anggota Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb, serta melibatkan partisipasi aktif mahasiswa D3 Kebidanan UAA. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk transfer ilmu, tetapi juga sebagai momentum mempererat tali silaturahmi dan meresmikan peran SMA N 1 Ngaglik sebagai mitra strategis Prodi D3 Kebidanan FKIK UAA.

Diskusi Hangat Seputar Dinamika Remaja Gen Z

Sesi pemaparan materi berlangsung sangat interaktif. Para guru SMA N 1 Ngaglik menunjukkan antusiasme yang tinggi. Diskusi tidak hanya berfokus pada teori “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, tetapi berkembang menjadi dialog solutif mengenai tantangan nyata yang dihadapi para pendidik di era digital.

Banyak guru yang aktif bertanya mengenai kebiasaan-kebiasaan remaja (Gen Z) saat ini yang seringkali berdampak pada kesehatan reproduksi dan mental mereka. Isu-isu seperti pola tidur, gizi remaja, hingga manajemen stres menjadi topik hangat yang dibedah bersama para pakar kebidanan UAA.

Menariknya, sesi tanya jawab juga menyentuh aspek kesehatan para guru itu sendiri. Menyadari bahwa untuk mendidik siswa yang hebat diperlukan guru yang prima, para peserta juga berkonsultasi mengenai cara menjaga kesehatan di tengah padatnya aktivitas mengajar.

Ibu Fatimah, S.SiT., M.Kes, dalam penyampaiannya menekankan pentingnya peran guru sebagai role model. “Kesehatan remaja di sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang suportif. Guru yang memahami kesehatan fisik dan psikis remaja akan lebih mudah mengarahkan siswa untuk mengadopsi kebiasaan-kebiasaan hebat tersebut,” ujarnya.

Komitmen Kemitraan Berkelanjutan

Kehadiran tim dosen dan mahasiswa D3 Kebidanan UAA ini disambut hangat oleh pihak sekolah. Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan saja. Sebagai mitra, SMA N 1 Ngaglik dan Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata Yogyakarta berkomitmen untuk terus bersinergi dalam program-program edukasi kesehatan di masa mendatang.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam memberdayakan masyarakat sekolah demi terciptanya generasi penerus bangsa yang sehat, berkarakter, dan berdaya saing global.