Remaja Perempuan: Investasi Masa Depan melalui Keseimbangan Fisik, Mental, dan Keamanan Digital

Remaja Perempuan: Investasi Masa Depan melalui Keseimbangan Fisik, Mental, dan Keamanan Digital

Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan

Masa remaja merupakan fase transisi krusial yang dikenal sebagai the second window of opportunity atau jendela kesempatan kedua setelah periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Bagi remaja perempuan, fase ini bukan sekadar tentang pertumbuhan fisik, melainkan fondasi utama bagi kesehatan reproduksi, ketahanan mental, dan kualitas generasi penerus bangsa.

Nutrisi dan Fondasi Fisik: Memutus Rantai Stunting

Salah satu tantangan kesehatan terbesar bagi remaja perempuan di Indonesia adalah anemia defisiensi besi. Data nasional menunjukkan angka anemia pada remaja putri masih cukup tinggi, yang berdampak pada penurunan konsentrasi belajar dan kebugaran.

Dalam jangka panjang, remaja putri yang anemia berisiko tinggi menjadi ibu hamil yang anemia, yang merupakan salah satu penyebab utama kelahiran bayi stunting. Oleh karena itu, intervensi hulu seperti pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin menjadi sangat vital untuk memastikan remaja putri tumbuh optimal tanpa hambatan kesehatan kronis.

Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM)

Informasi mengenai manajemen kebersihan menstruasi sering kali masih dianggap tabu, padahal sangat penting untuk mencegah infeksi saluran kemih dan reproduksi. Remaja perempuan perlu mendapatkan edukasi mengenai cara penggantian pembalut secara rutin (setiap 4–6 jam), penggunaan air bersih, serta pemahaman bahwa menstruasi adalah proses biologis normal, bukan sesuatu yang memalukan atau membuat mereka “kotor”.

Resiliensi Mental dan Keamanan di Era Digital

Selain kesehatan fisik, kesehatan mental remaja perempuan memerlukan perhatian khusus. Di era digital, remaja perempuan memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap gangguan kecemasan (anxiety) akibat tekanan standar kecantikan (body image) di media sosial.

Lebih jauh lagi, literasi digital menjadi aspek perlindungan diri yang penting. Remaja perempuan harus dibekali pengetahuan untuk mengenali dan menghindari Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), seperti pelecehan di dunia maya atau penyebaran konten pribadi tanpa izin. Membangun resiliensi mental berarti memberikan mereka keberanian untuk menetapkan batasan (boundaries) dan mencari bantuan jika merasa tidak aman di ruang digital.

Peran Strategis Posyandu Remaja

Meskipun sering identik dengan pemeriksaan fisik, Posyandu Remaja berperan sebagai “Safe Space” atau ruang aman bagi remaja perempuan untuk mendapatkan informasi akurat. Di sini, mereka tidak hanya dipantau kesehatannya, tetapi juga diberdayakan melalui pendidik sebaya (peer counselor). Dengan membekali remaja perempuan literasi kesehatan yang utuh dan kecakapan digital, kita sedang menyiapkan calon ibu yang cerdas, sehat secara fisik, dan tangguh secara mental untuk menuju Indonesia Emas 2045.

Artikel kesehatan yang menarik lainya bisa diakses di website Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul.

Sumber Pustaka :

1.  Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). (2020). Panduan Mengenali dan Mencegah Kekerasan Berbasis Gender Online. Jakarta: KemenPPPA.

2. UNICEF Indonesia. (2021). Profil Manajemen Kebersihan Menstruasi di Indonesia. Jakarta: UNICEF.

3. Azzahra, S., & Kurniasari, R. (2022). “Pentingnya Konsumsi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri untuk Pencegahan Stunting”. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 10(3).

4. Putri, A. W., dkk. (2020). “Kesehatan Mental Remaja di Era Digital: Tantangan dan Solusi”. Jurnal Penelitian Psikologi, 11(2).

5. Hulu, V. T., dkk. (2022). “Kaitan Citra Tubuh (Body Image) dengan Rasa Percaya Diri pada Remaja Perempuan”. Jurnal Psikologi Kesehatan, 5(1).

6. UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.

7. World Health Organization (WHO). (2021). Adolescent Health: Facing the Future. Geneva: WHO Press.

Bukan Sekadar “Maag”: Komplikasi Serius Akibat GERD yang Tidak Diobati

Bukan Sekadar “Maag”: Komplikasi Serius Akibat GERD yang Tidak Diobati

Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan

Banyak penderita GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) yang terbiasa hidup dengan “rasa terbakar” di dada dan hanya mengandalkan obat antasida warung saat kambuh. Namun, data medis menunjukkan bahwa membiarkan esofagus (kerongkongan) terpapar asam lambung secara kronis, bertahun-tahun dapat memicu kerusakan jaringan yang permanen dan berbahaya.

1. Esofagitis Erosif: Luka Kronis

Ini adalah komplikasi tahap awal yang paling umum. Asam lambung yang bersifat korosif (pH 1-2) mengikis lapisan mukosa kerongkongan.

  1. Dampak: Terjadi peradangan, pembengkakan, dan luka terbuka (ulkus).
  2. Gejala: Nyeri saat menelan (odynophagia) dan risiko perdarahan yang bisa menyebabkan anemia atau muntah darah. Penyembuhan total esofagitis erosif seringkali memerlukan terapi obat penekan asam (PPI) selama minimal 8 minggu.

2. Striktur Esofagus (Penyempitan Saluran)

Tubuh berusaha menyembuhkan luka akibat asam dengan membentuk jaringan parut (scar tissue). Sayangnya, proses penyembuhan ini bisa menjadi masalah baru.

  1. Mekanisme: Jaringan parut bersifat kaku dan tidak elastis. Jika menumpuk, jaringan ini akan mempersempit diameter kerongkongan.
  2. Gejala Klinis: Disfagia atau kesulitan menelan. Pasien sering merasa makanan “tersangkut” di dada, yang bisa memicu penurunan berat badan drastis karena takut makan.

3. Barrett’s Esophagus: Transformasi Sel Prakanker

Ini adalah komplikasi yang paling diwaspadai oleh dokter spesialis gastroenterologi.

  1. Mutasi Sel (Metaplasia): Sebagai mekanisme pertahanan diri, sel-sel pelapis kerongkongan (skuamosa) berubah bentuk menyerupai sel-sel usus (kolumnar) yang lebih tahan asam. Perubahan ini disebut Barrett’s Esophagus.
  2. Risiko: Meskipun sel ini lebih “tahan banting”, mereka tidak stabil secara genetik. Jurnal Gastroenterology menyebutkan bahwa pasien dengan Barrett’s memiliki risiko 30-40 kali lipat lebih tinggi terkena kanker esofagus dibandingkan populasi umum.

4. Adenokarsinoma Esofagus (Kanker Kerongkongan)

Ini adalah ujung tombak dari komplikasi GERD yang paling fatal.

  1. Tren Global: adenokarsinoma esofagus adalah salah satu jenis kanker dengan pertumbuhan tercepat di negara maju, berkorelasi lurus dengan peningkatan angka obesitas dan GERD kronis.
  2. Deteksi: Kanker ini sering kali tidak bergejala di tahap awal, itulah sebabnya pemantauan rutin (surveilans) pada pasien GERD kronis sangat vital.

5. Komplikasi Ekstra-Esofageal (Di Luar Saluran Cerna)

Asam lambung tidak hanya merusak kerongkongan, tetapi bisa naik lebih tinggi (laringofaringeal) atau teraspirasi ke paru-paru (mikro-aspirasi).

  1. Paru-paru: GERD yang tidak terkontrol dapat memicu atau memperparah asma, menyebabkan bronkitis kronis, hingga fibrosis paru idiopatik (jaringan parut di paru-paru) akibat iritasi asam yang terhirup sedikit demi sedikit saat tidur.
  2. Gigi dan Mulut: Asam yang mencapai rongga mulut dapat mengikis enamel gigi bagian dalam, menyebabkan gigi sensitif dan keropos yang parah.

Kesimpulan

GERD bukanlah penyakit yang boleh dianggap “normal”. Perjalanan penyakit ini bersifat progresif: dimulai dari peradangan (esofagitis), penyempitan (striktur), perubahan sel (Barrett’s), hingga keganasan (kanker).

Kabar baiknya, komplikasi ini sangat bisa dicegah. Pengobatan dini, perubahan gaya hidup yang konsisten, dan pemantauan endoskopi berkala bagi pasien berisiko tinggi adalah kunci untuk memutus mata rantai kerusakan ini.

Artikel kesehatan yang menarik lainya tentang Gerd bisa diakses di website Prodi

D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul

Referensi 

  1. Katz, P. O., et al. 2022. ACG Clinical Guideline for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease. The American Journal of Gastroenterology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34807007/
  2. Rakhmetova, V, et,al. 2024. New Mechanisms of Barrett’s Esophagus Development. Journal of Clinical Medicine of Kazakhstan. https://www.clinmedkaz.org/article/new-mechanisms-of-barretts-esophagus-development-14680
  3. WHO. 2026. The global landscape of esophageal squamous cell carcinoma and esophageal adenocarcinoma incidence and mortality in 2020 and projections to 2040: new estimates from GLOBOCAN 2020. https://www.iarc.who.int/news-events/the-global-landscape-of-esophageal-squamous-cell-carcinoma-and-esophageal-adenocarcinoma-incidence-and-mortality-in-2020-and-projections-to-2040-new-estimates-from-globocan-2020/
Belajar, Berbagi, dan Tumbuh Bersama: Penguatan Literasi Kesehatan Mental dalam Program Sister School di SMA N 1 Bambanglipuro

Belajar, Berbagi, dan Tumbuh Bersama: Penguatan Literasi Kesehatan Mental dalam Program Sister School di SMA N 1 Bambanglipuro


Suasana hangat dan penuh antusiasme terasa di SMA N 1 Bambanglipuro saat siswa-siswi mengikuti kegiatan Penguatan Literasi Kesehatan Mental. Kegiatan ini menjadi momen belajar bersama yang tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian, empati, serta semangat saling mendukung di lingkungan sekolah. Di tengah tuntutan akademik, dinamika pergaulan, dan proses pencarian jati diri pada masa remaja, kesehatan mental menjadi aspek penting yang sering kali belum banyak dibicarakan secara terbuka. Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari implementasi program Sister School, yaitu kerja sama antar institusi pendidikan dalam berbagi praktik baik, penguatan kapasitas siswa, serta pengembangan lingkungan belajar yang lebih sehat dan suportif. Melalui program Sister School, kolaborasi tidak hanya berfokus pada peningkatan akademik, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis siswa sebagai fondasi penting dalam proses belajar. Penguatan literasi kesehatan mental ini menjadi salah satu bentuk nyata berbagi praktik baik, yang diharapkan dapat menginspirasi dan memperluas budaya sekolah yang peduli, inklusif, serta ramah terhadap kebutuhan emosional remaja.

Pada pelaksanaan Selasa, 20 Januari 2026, Ibu Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb hadir sebagai pemateri dalam kegiatan yang dirancang secara interaktif, sehingga siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi dan refleksi.” Beberapa hal yang dipelajari bersama meliputi:

  • Pengertian kesehatan mental dalam kehidupan remaja
  • Tanda-tanda stres, kelelahan emosional, dan tekanan psikologis
  • Cara sederhana menjaga keseimbangan diri di tengah aktivitas sekolah
  • Pentingnya mencari bantuan dan berbicara kepada orang yang dipercaya

Dari edukasi kesehatan yang disampaikan para siswa mulai menyadari bahwa perasaan cemas, lelah, atau tertekan adalah hal yang manusiawi. Yang terpenting bukan menghindari perasaan tersebut, tetapi mengetahui cara mengelolanya dengan sehat. Ruang diskusi yang terbuka juga membantu mengurangi stigma terhadap isu kesehatan mental.

Selain fokus pada diri sendiri, siswa juga diajak memahami peran mereka sebagai teman sebaya. Lingkungan sekolah yang sehat tidak hanya dibentuk oleh aturan, tetapi juga oleh sikap sehari-hari antar siswa. Dalam sesi ini, siswa belajar untuk:

  • Menjadi pendengar yang baik bagi teman
  • Menghargai perbedaan kondisi emosional setiap individu
  • Menghindari candaan atau komentar yang meremehkan perasaan orang lain
  • Menciptakan budaya saling mendukung di kelas

Dengan adanya kolaborasi ini, semangat belajar, berbagi, dan tumbuh bersama tidak hanya dirasakan oleh siswa SMA N 1 Bambanglipuro, tetapi juga menjadi nilai yang terus berkembang dalam jejaring sekolah yang terlibat dalam program Sister School. Kegiatan ini menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga ruang untuk bertumbuh sebagai individu yang sehat secara emosional. Pengetahuan yang diperoleh, keberanian untuk berbagi, dan dukungan dari teman sebaya menjadi bekal penting bagi siswa dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Demam Drakor “Can This Love Be Translated?” Saat Hati Butuh Penerjemah dan Pentingnya Validasi Emosi

Demam Drakor “Can This Love Be Translated?” Saat Hati Butuh Penerjemah dan Pentingnya Validasi Emosi

“Terkadang, obat terbaik untuk hati yang lelah bukanlah resep dokter, melainkan telinga yang mau mendengar tanpa menghakimi.”

Siapa yang tidak terpesona dengan kembalinya Kim Seon-ho di drama terbarunya, Can This Love Be Translated?. Dipasangkan dengan Go Youn-jung, drama ini tidak hanya menyuguhkan visual yang memanjakan mata, tetapi juga premis cerita yang unik tentang seorang penerjemah multibahasa dan seorang bintang top.

Namun, di balik bumbu romansa dan komedinya, drama ini menyentil isu yang sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari, terutama bagi generasi muda: Kesehatan Mental dan Komunikasi.

Seringkali kita merasa berbicara dengan bahasa yang sama (Bahasa Indonesia), tapi kenapa rasanya lawan bicara kita tidak paham apa yang kita rasakan?

1. Fenomena “Lost in Translation” pada Emosi

Dalam drama, tokoh Joo Ho-jin (Kim Seon-ho) bekerja menerjemahkan bahasa asing. Tapi di dunia nyata, tugas terberat kita sebenarnya adalah menerjemahkan isi kepala dan perasaan agar dimengerti orang lain.

Banyak masalah kesehatan mental, mulai dari burnout, kecemasan (anxiety), hingga depresi, berawal dari emosi yang gagal diterjemahkan. Kita sering bilang “Aku nggak apa-apa” (I’m fine), padahal hati berteriak “Tolong dengarkan aku”. Ketidakmampuan lingkungan untuk memahami kode ini sering membuat seseorang merasa terisolasi.

2. Pentingnya Validasi: Lebih dari Sekadar Kata-kata

Pelajaran mahal dari drakor ini adalah tentang Validasi. Kesehatan mental yang terjaga dimulai dari perasaan “diterima”.

Ketika seseorang curhat tentang lelahnya kuliah, beratnya pekerjaan, atau pusingnya masalah percintaan, mereka seringkali tidak butuh solusi. Mereka butuh penerjemah yang bisa berkata: “Wajar kok kamu merasa begitu,” atau “Aku ngerti kenapa kamu marah.”

Validasi adalah P3K (Pertolongan Pertama) pada kecelakaan mental. Tanpa validasi, “luka” kecil di hati bisa menjadi infeksi yang berbahaya bagi jiwa.

3. Apa Kaitannya dengan Dunia Kesehatan?

Meskipun drama ini tentang industri hiburan, filosofi “penerjemah” ini sangat relevan dengan dunia kesehatan, termasuk kebidanan.

Tahukah kamu? Tenaga kesehatan modern tidak lagi hanya diajarkan menyuntik atau memberi obat. Di jurusan kesehatan yang berkualitas, mahasiswa diajarkan seni Komunikasi Terapeutik.

Seorang Bidan, misalnya, sejatinya adalah “Penerjemah Kehidupan”.

  • Menerjemahkan rasa sakit ibu menjadi semangat.
  • Menerjemahkan tangisan bayi menjadi tanda kehidupan.
  • Menerjemahkan kecemasan remaja menjadi rasa aman.

Kemampuan mendengarkan dan memahami emosi orang lain (empati tingkat tinggi) adalah skill mahal yang dibutuhkan di semua lini pekerjaan masa depan, bukan hanya di rumah sakit.

Belajar dari Can This Love Be Translated?, mari kita mulai lebih peka. Tanyakan kabar temanmu dengan sungguh-sungguh. Dengarkan tanpa memotong. Di Universitas Alma Ata, khususnya Prodi D3 Kebidanan, kami percaya bahwa healing terbaik dimulai dari hearing (mendengarkan) yang baik. Ingin punya skill komunikasi sekeren Kim Seon-ho tapi versi tenaga kesehatan? Yuk, kepoin prodi kami yang sudah Terakreditasi Unggul dan menjadi salah satu Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja.

Referensi:

  1. Goleman, D. (2021). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Bantam Books
  2. Adler, R. B., & Proctor, II, R. F. (2019). Looking Out, Looking In. Cengage Learning.
  3. Lee, S., et al. (2023). The Impact of Korean Dramas on Mental Health Awareness among Youth. Journal of Cultural and Psychological Studies.
  4. Linehan, M. M. (2018). Cognitive-Behavioral Treatment of Borderline Personality Disorder. Guilford Press.
  5. World Health Organization (WHO). (2024). Mental Health: Strengthening Our Response
  6. Kementerian Kesehatan RI. (2022). Kurikulum Berbasis Kompetensi Tenaga Kesehatan: Komunikasi Terapeutik

Mengoptimalkan AI untuk Proses Belajar

Mengoptimalkan AI untuk Proses Belajar

Created by Fatimatasari, M.Keb., Bd

Di era digital saat ini, Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT, Gemini, dan platform sejenis telah menjadi bagian dari keseharian dalam proses belajar. AI menawarkan kemudahan dalam mengakses informasi, mulai dari menjawab pertanyaan, meringkas materi, hingga membantu menemukan referensi untuk penulisan akademik. Namun demikian, keberadaan AI perlu disikapi secara bijak agar benar-benar mendukung proses belajar yang bermakna.

Penggunaan AI tanpa sikap kritis dapat memengaruhi kedalaman pemahaman dalam proses belajar. Sebaliknya, jika dimanfaatkan secara tepat, AI dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk memperluas wawasan dan memperkaya proses belajar kita.

Berikut ini adalah panduan agar AI dapat digunakan sebagai alat bantu belajar yang kritis, efektif, dan bertanggung jawab.

  1. Memahami Jawaban AI secara Menyeluruh

Setiap jawaban yang diberikan AI perlu dipahami secara menyeluruh. Ketika muncul istilah atau konsep yang belum jelas, diperlukan upaya untuk menelusuri dan mempelajarinya lebih lanjut. Menerima informasi tanpa pemahaman yang memadai berisiko menimbulkan kesalahpahaman dan memperkuat ketidakpahaman yang telah ada.

Mengajukan pertanyaan lanjutan seperti apa, mengapa, dan bagaimana dapat membantu kita memperoleh pemahaman yang lebih kuat. Dengan pendekatan ini, AI berfungsi sebagai pemantik diskusi dan refleksi, bukan sekadar penyedia jawaban instan.

2. Mengembangkan Sikap Kritis terhadap Jawaban AI

Jawaban AI perlu selalu kita cermati dari segi konteks dan substansinya. Hal ini karena AI menghasilkan respons berdasarkan pola data, bukan pemahaman konseptual maupun penilaian kebenaran ilmiah. Oleh karena itu, penggunaan AI membutuhkan pemahaman dasar dan pengetahuan awal yang memadai agar kesalahan atau ketidaktepatan informasi dapat segera dikenali.

Sikap kritis tumbuh melalui kebiasaan membaca, memahami, dan merefleksikan informasi. Proses belajar berlangsung secara berkelanjutan, dimulai dari membaca dan memahami, kemudian mengkritisi, mencari jawaban, serta memperdalam pengetahuan secara berulang. Melalui proses ini, kemampuan berpikir kritis dan minat untuk terus belajar dapat berkembang secara seimbang.

3. Meminta dan Memverifikasi Sumber Referensi

Dalam menggunakan AI, penting bagi kita untuk membiasakan diri meminta sumber referensi yang jelas sebagai dasar penelusuran informasi. Langkah selanjutnya adalah memverifikasi apakah referensi tersebut benar-benar ada, relevan, dan sesuai dengan konteks pembahasan.

Sumber resmi seperti jurnal peer-reviewed, buku ajar, dokumen kebijakan, atau rekomendasi institusional perlu menjadi rujukan utama. Dengan cara ini, informasi yang digunakan memiliki dasar keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

4. Menyusun Kesimpulan dengan Pemahaman Sendiri

Setelah memahami dan memverifikasi informasi yang diperoleh, langkah penting selanjutnya adalah menyusun kesimpulan dengan bahasa dan pemahaman sendiri. Proses ini membantu memastikan bahwa informasi tersebut benar-benar dipahami, bukan sekadar diterima.

Menuliskan kembali inti informasi dengan bahasa sendiri juga berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikir analitis, meningkatkan retensi ingatan dan keterampilan menulis akademik.

Penutup

Kehadiran AI memberikan peluang besar dalam mendukung proses belajar di perguruan tinggi. Dibandingkan generasi sebelumnya, kita kini memiliki akses informasi yang lebih luas, cepat, dan mudah. Jika dimanfaatkan secara tepat, AI dapat menjadi alat bantu yang memperkaya pemahaman dan memperluas perspektif.

Sebaliknya, penggunaan AI yang tidak disertai refleksi dan verifikasi berpotensi memengaruhi kualitas proses belajar. Oleh karena itu, sikap kritis, kehati-hatian, dan tanggung jawab dalam menggunakan AI menjadi kunci agar teknologi ini benar-benar memberikan manfaat optimal.

Sejalan dengan prinsip tersebut, Program Studi S1 dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata menempatkan proses belajar sebagai fondasi utama pendidikan. Pembelajaran dirancang untuk mendorong pemahaman yang mendalam, berpikir kritis, dan refleksi ilmiah, bukan sekadar pencapaian hasil secara instan. 

AI merupakan alat bantu belajar yang memiliki potensi besar, dan kebermanfaatannya sangat ditentukan oleh cara kita menggunakannya dalam proses pembelajaran.

Referensi

Pikhart, M., & Al-Obaydi, L. H. (2025). Reporting the potential risk of using AI in higher education: Subjective perspectives of educatorsComputers in Human Behavior Reports, 18, Article 100693. https://doi.org/10.1016/j.chbr.2025.100693

Orhani, Senad & Hoti Kolukaj, Mimoza. (2025). The Risks and Potential of AI in Education. Contemporary Research Analysis Journal. 2. 448-459. https://doi.org/10.55677/CRAJ/08-2025-Vol02I07  

Vieriu, A. M., & Petrea, G. (2025). The Impact of Artificial Intelligence (AI) on Students’ Academic Development. Education Sciences15(3), 343. https://doi.org/10.3390/educsci15030343