Mencegah Perilaku Seksual Remaja: Langkah Penting Menghindari Kehamilan Tidak Diinginkan
created by: Fatimatasari, M.Keb., Bdn
Kehamilan tidak diinginkan pada remaja masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat kehamilan, tetapi juga memengaruhi pendidikan, kesehatan mental, serta masa depan sosial dan ekonomi remaja. Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dan laporan BKKBN menunjukkan bahwa sebagian remaja mulai terpapar perilaku seksual berisiko sejak usia sekolah, sementara kesiapan fisik, emosional, dan sosial mereka masih terbatas.
Di sisi lain, penggunaan alat kontrasepsi bagi remaja belum menjadi kebijakan yang dilegalkan secara luas di Indonesia. Kondisi ini menegaskan bahwa upaya pencegahan kehamilan remaja tidak dapat hanya mengandalkan kontrasepsi, melainkan perlu difokuskan pada pendekatan protektif non-kontraseptif, terutama pencegahan perilaku seksual pranikah.
Secara ilmiah, menghindari hubungan seksual pranikah merupakan satu-satunya cara yang memberikan perlindungan maksimal terhadap kehamilan. Tidak ada metode kontrasepsi yang sepenuhnya bebas dari risiko kegagalan. Karena itu, promosi kesehatan reproduksi yang melibatkan berbagai pihak menjadi sangat penting dan relevan dengan konteks sosial dan kebijakan di Indonesia.
Berikut upaya bersama yang dapat dilakukan:
1.Peran Remaja
Remaja memiliki peran utama dalam melindungi dirinya sendiri. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:
Memahami kesehatan reproduksi secara benar, termasuk risiko perilaku seksual dan konsekuensinya.
Mengembangkan keterampilan menolak tekanan dari teman sebaya dan lingkungan.
Menetapkan batasan diri dalam pergaulan sesuai nilai agama dan norma sosial.
Memfokuskan diri pada pendidikan, pengembangan potensi, dan perencanaan masa depan
2. Peran Orang Tua
Orang tua adalah pendamping terdekat remaja. Peran penting orang tua meliputi:
Membangun komunikasi terbuka dan aman tentang pubertas, pergaulan, dan relasi yang sehat.
Menjadi teladan dalam nilai moral, sikap, dan perilaku sehari-hari.
Memberikan pengawasan yang suportif dan penuh empati, bukan kontrol yang menekan.
3. Peran Sekolah
Sekolah memiliki posisi strategis dalam pencegahan kehamilan remaja melalui:
Penyediaan edukasi kesehatan reproduksi yang sesuai usia dan kebutuhan remaja.
Integrasi pendidikan karakter, nilai agama, dan kesehatan mental dalam pembelajaran.
Penguatan peran guru BK dan layanan konseling sebagai ruang aman bagi remaja.
4. Peran Masyarakat
Lingkungan sosial yang sehat akan memperkuat perlindungan bagi remaja, antara lain dengan:
Menciptakan lingkungan yang aman dan ramah remaja.
Menghidupkan nilai sosial dan budaya yang mendukung perilaku sehat.
Mendukung program pendampingan dan promosi kesehatan remaja di komunitas.
Pencegahan kehamilan tidak diinginkan pada remaja tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja bersama: remaja yang berdaya, orang tua yang terlibat, sekolah yang proaktif, dan masyarakat yang peduli. Promosii kesehatan reproduksi yang ramah remaja, berbasis nilai, dan berorientasi pencegahan adalah kunci untuk melindungi generasi muda Indonesia.
Ingin berkontribusi langsung dalam promosi kesehatan remaja dan perempuan Indonesia? Program Studi S1 Kebidanan dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata menawarkan keunggulan dalam health promotion kebidanan, membekali mahasiswa tidak hanya dengan keterampilan klinis, tetapi juga kemampuan edukasi, pencegahan, dan pemberdayaan masyarakat. Bersama Universitas Alma Ata, mari mencetak bidan profesional yang berperan aktif menjaga kesehatan remaja, ibu, dan generasi masa depan Indonesia.
Referensi:
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (2018). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017: Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: BKKBN, BPS, Kementerian Kesehatan, dan ICF.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (2020). Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R): Pedoman Pengelolaan. Jakarta: BKKBN.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: Direktorat Kesehatan Keluarga.
World Health Organization. (2011). Preventing early pregnancy and poor reproductive outcomes among adolescents in developing countries. Geneva: WHO.
World Health Organization. (2018). Global accelerated action for the health of adolescents (AA-HA!): Guidance to support country implementation. Geneva: WHO.
Madkour, A. S., Farhat, T., Halpern, C. T., Godeau, E., & Gabhainn, S. N. (2010). Early adolescent sexual initiation as a problem behavior: A comparative study of five nations. Journal of Adolescent Health, 47(4), 389–398. https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2010.02.008
Puspitawati, H., & Herawati, T. (2017). Pengaruh keharmonisan keluarga terhadap perilaku berisiko remaja. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, 10(1), 1–10.
Fitriah, N., & Mardhiah, A. (2022). Kehamilan tidak diinginkan pada remaja dan faktor yang memengaruhinya. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 13(2), 85–94.
Dosen Prodi Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata
Di tengah gempuran era digital dan tantangan globalisasi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia kembali menguatkan fondasi karakter bangsa melalui gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH). Artikel ini akan mengupas tuntas ketujuh kebiasaan tersebut dan membandingkannya dengan program pendidikan karakter serupa yang sukses diterapkan di negara-negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Amerika Serikat.
Apa Itu 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat?
Gerakan ini dirancang untuk mengembalikan kedisiplinan dan kesejahteraan (well-being) anak-anak Indonesia yang mulai tergerus oleh gaya hidup sedentari (kurang gerak) dan kecanduan gawai. Berdasarkan panduan terbaru dari Kemendikdasmen (2024-2025):
1. Bangun Pagi
Membiasakan anak untuk memulai hari lebih awal. Kebiasaan ini melatih kedisiplinan biologis (ritme sirkadian) dan memberikan waktu ekstra untuk persiapan mental sebelum sekolah.
2. Beribadah
Menempatkan spiritualitas sebagai fondasi utama. Ini bukan hanya tentang ritual, tetapi membangun “kesadaran bertuhan” sehingga anak merasa diawasi dan dijaga, yang berdampak pada kejujuran dan integritas.
3. Berolahraga
Mengatasi masalah obesitas dan fisik yang lemah pada anak. Olahraga rutin memicu hormon endorfin yang membuat anak lebih bahagia dan siap menerima pelajaran.
4. Gemar Belajar
Mengubah paradigma belajar dari “kewajiban” menjadi “kegemaran”. Fokusnya adalah menumbuhkan rasa ingin tahu (curiosity) dan literasi, bukan sekadar mengejar nilai akademis.
5. Makan Sehat dan Bergizi
Merespons isu stunting dan gizi buruk. Anak diajarkan untuk memilih makanan yang “halal dan thayyib” (baik/bergizi), serta mengurangi konsumsi gula berlebih dan makanan instan.
6. Bermasyarakat (Bersosialisasi)
Melawan fenomena anak yang antisosial akibat gawai. Poin ini mendorong anak untuk aktif dalam kegiatan gotong royong, organisasi, atau sekadar bermain fisik dengan teman sebaya untuk mengasah empati.
7. Tidur Lebih Awal (Tidur Cepat)
Menjamin kualitas istirahat. Kurang tidur pada anak usia sekolah terbukti menurunkan fungsi kognitif dan emosional.
Studi Komparasi: Indonesia vs. Dunia
Bagaimana program ini jika disandingkan dengan kurikulum karakter di negara lain? Berikut adalah perbandingan 7 KAIH dengan program The Leader in Me (Global/USA), Doutoku (Jepang), dan Character and Citizenship Education (Singapura).
Tabel Perbandingan Program Karakter
Aspek
7 KAIH (Indonesia)
The Leader in Me (Global/USA)
Doutoku (Jepang)
CCE (Singapura)
Basis Filosofi
Pancasila & Religiusitas
7 Habits of Highly Effective People (Stephen Covey)
Harmoni Sosial & Etika Warga (Civic)
Nilai Inti (R3ICH) & Kewarganegaraan
Fokus Utama
Disiplin Harian Praktis (Fisik & Spiritual)
Kepemimpinan & Paradigma (Pola Pikir)
Moralitas & Emosi (Hati/Kokoro)
Keterampilan Sosial-Emosional & Identitas Nasional
Metode
Pembiasaan rutin di rumah & sekolah (mikro)
Kurikulum kepemimpinan terintegrasi & bahasa bersama
Mata pelajaran khusus (“Moral”) & tugas piket sekolah
Diskusi dilema moral & Cyber Wellness
Kelebihan Unik
Sangat kuat dalam aspek spiritual (Ibadah)
Melatih kemandirian & tanggung jawab personal (Proaktif)
7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat adalah langkah strategis yang sangat “membumi” dan sesuai dengan kultur Indonesia yang religius dan komunal. Kelebihannya terletak pada kesederhanaan praktik yang bisa langsung diterapkan tanpa biaya mahal.
Adopsi Pola Pikir (Mindset): Seperti Leader in Me, anak tidak hanya disuruh “Bangun Pagi”, tapi diajarkan mengapa itu penting untuk tujuan hidup mereka (Visi).
Literasi Digital: Mengintegrasikan etika bermasyarakat di dunia nyata ke dunia maya (seperti CCE Singapura).
Konsistensi Sistem: Seperti Jepang, kebiasaan ini harus didukung oleh sistem sekolah (misal: menyediakan makan siang sehat di sekolah untuk mendukung kebiasaan makan sehat).
Dengan demikian anak akan tumbuh menjadi remaja yang sehat sebagai penerus bangsa, sebagaimana tujuan Prodi DIII Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata yang mendukung program tersebut dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa.
Referensi
Kemendikdasmen RI (2024/2025): Panduan Gerakan Sekolah Sehat & Cerdas Berkarakter.
FranklinCovey Education:The Leader in Me Impact Studies.
Ministry of Education, Singapore (2024):Character and Citizenship Education Syllabus (Secondary/Primary).
Jurnal Pendidikan Karakter (2024):Comparative Analysis of Character Education in Indonesia and Japan.
Program Studi S1 Kebidanan Universitas Alma Ata terus mendorong penguatan kompetensi mahasiswa melalui pembelajaran inovatif berbasis praktik. Salah satunya diwujudkan melalui Project Based Learning (PjBL) pada Mata Kuliah Entrepreneurship in Midwifery yang diampu oleh Ibu Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb, yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide pelayanan dan produk gizi kebidanan yang kreatif, aplikatif, serta bernilai kewirausahaan.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan ditantang merancang serta mempresentasikan produk pangan inovatif yang relevan dengan kebutuhan gizi ibu dan anak. Produk yang dihasilkan meliputi Dimsum Hemobit, Smoothie Bowl, Oat Ball, Rainbow Noodles, dan Ubichick Patty, yang dikembangkan dengan mempertimbangkan aspek nilai gizi, keamanan pangan, kreativitas, serta peluang usaha di bidang kebidanan.
Melalui pendekatan Project Based Learning ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep kewirausahaan secara teoretis, tetapi juga memperoleh pengalaman nyata dalam mengintegrasikan ilmu kebidanan, gizi, dan manajemen usaha berbasis evidence-based practice. Pembelajaran ini membekali mahasiswa agar mampu berpikir kritis, inovatif, dan siap mengambil keputusan profesional dalam pengembangan layanan kebidanan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Ingin menjadi Sarjana Bidan yang profesional, inovatif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman? Program Studi S1 Kebidanan Universitas Alma Ata siap membersamai Anda dengan pembelajaran yang komprehensif. Para dosen expert dibidang Ilmu Kebidanan siap membersamai anda untuk memahami teori dan praktik kebidanan berbasis evidence-based sehingga mampu memberikan pelayanan profesional dan ilmiah sehingga mampu mengambil keputusan klinis secara tepat.
Melalui lingkungan akademik yang islami dan suportif, mahasiswa tidak hanya didorong untuk mengikuti tren, tetapi juga memahami dasar keilmuan, etika profesi, serta nilai spiritual dalam praktik kebidanan.
👆🏻 Saatnya kamu menjadi bagian dari S1 Kebidanan Universitas Alma Ata! Belajar berbasis praktik, inovasi, dan nilai keislaman untuk mencetak Sarjana Bidan yang profesional, berjiwa entrepreneur, dan berkarakter islami.
Dosen Prodi Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata
RUTF (Ready-to-Use Therapeutic Food): Senjata Ampuh WHO & UNICEF Lawan Gizi Buruk Akut
Gizi buruk akut (Severe Acute Malnutrition/SAM) telah lama menjadi momok yang mengancam jutaan nyawa anak di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang. Kondisi ini adalah bentuk malnutrisi paling mematikan, di mana anak-anak memiliki berat badan sangat rendah dibandingkan tinggi badannya (wasting) dan berisiko tinggi meninggal dunia.
Selama bertahun-tahun, penanganan SAM identik dengan perawatan di rumah sakit yang rumit, mahal, dan sulit dijangkau. Namun, sebuah inovasi revolusioner yang didukung penuh oleh WHO dan UNICEF telah mengubah lanskap penanganan gizi buruk secara drastis. Inovasi itu adalah RUTF (Ready-to-Use Therapeutic Food) atau Makanan Terapeutik Siap Saji.
Apa Sebenarnya RUTF?
Sekilas, RUTF mungkin terlihat seperti selai kacang dalam kemasan saset. Namun, kandungannya jauh lebih dari itu. RUTF adalah pasta padat energi yang dirancang khusus untuk pemulihan gizi.
· Komposisi: Umumnya terbuat dari pasta kacang tanah, susu bubuk, gula, minyak sayur, serta diperkaya dengan vitamin dan mineral esensial.
· Siap Saji: Inilah keunggulannya. RUTF tidak memerlukan persiapan, tidak perlu dimasak, dan yang terpenting, tidak perlu dicampur dengan air.
Keunggulan “tanpa air” ini sangat krusial di wilayah krisis di mana akses terhadap air bersih seringkali menjadi kemewahan. Penggunaan air yang tidak higienis untuk mencampur susu formula terapeutik tradisional (seperti F-75 dan F-100) justru dapat meningkatkan risiko diare, yang semakin memperburuk kondisi gizi anak.
Pergeseran Paradigma: Dari Rumah Sakit ke Rumah
Sebelum era RUTF, anak dengan gizi buruk akut tanpa komplikasi medis pun seringkali harus dirawat di rumah sakit (inpatient care). Ibu harus meninggalkan rumah, pekerjaan, dan anak-anak lainnya selama berminggu-minggu. Sistem ini tidak efisien, mahal, dan jangkauannya sangat terbatas.
RUTF menjadi inti dari pendekatan baru yang disebut CMAM (Community-based Management of Acute Malnutrition) atau Manajemen Gizi Buruk Akut Berbasis Komunitas.
WHO dan UNICEF memelopori pendekatan ini, yang memindahkan titik perawatan dari rumah sakit ke jantung komunitas:
Mudah: Petugas kesehatan di puskesmas atau posyandu dapat mendiagnosis SAM menggunakan pita pengukur lingkar lengan atas (LiLA).
Cepat: Jika anak didiagnosis menderita SAM tetapi masih sadar dan memiliki nafsu makan (tanpa komplikasi medis), mereka tidak perlu dirawat inap.
Berbasis Komunitas: Ibu atau pengasuh diberikan bekal RUTF yang cukup untuk satu minggu dan diajari cara memberikannya kepada anak di rumah. Mereka hanya perlu kembali setiap minggu untuk pemantauan berat badan dan mengambil bekal RUTF baru.
Pendekatan ini membebaskan kapasitas rumah sakit untuk menangani kasus-kasus paling parah (dengan komplikasi), sekaligus memberdayakan keluarga untuk merawat anak mereka sendiri.
Mengapa RUTF Begitu Efektif?
Keampuhan RUTF sebagai “senjata” melawan SAM terletak pada beberapa faktor kunci:
Padat Energi & Nutrisi: Dalam porsi kecil, RUTF mengandung kalori dan protein tinggi yang dibutuhkan untuk mengejar pertumbuhan (catch-up growth) secara cepat.
Disukai Anak: RUTF memiliki rasa manis dan gurih yang umumnya disukai anak-anak, sehingga tingkat kepatuhan konsumsi (compliance) menjadi tinggi.
Aman dan Tahan Lama: Kemasan kedap udara membuatnya tahan lama tanpa perlu pendingin dan melindunginya dari kontaminasi bakteri.
Tingkat Kesembuhan Tinggi: Program berbasis RUTF secara konsisten menunjukkan tingkat kesembuhan di atas 85-90%, jauh melampaui efektivitas program berbasis rumah sakit di masa lalu.
Peran Sentral WHO dan UNICEF
WHO dan UNICEF bukan hanya pendukung, tetapi juga motor penggerak utama di balik kesuksesan RUTF. WHO menyediakan pedoman teknis dan standar global untuk komposisi dan penggunaan RUTF. Sementara itu, UNICEF adalah pembeli RUTF terbesar di dunia. Melalui jaringannya, UNICEF mendistribusikan RUTF ke lebih dari 60 negara yang paling membutuhkan, memastikan bahwa inovasi penyelamat jiwa ini sampai ke tangan anak-anak yang paling rentan.
Kesimpulan
RUTF (Ready-to-Use Therapeutic Food) lebih dari sekadar produk makanan; ia adalah simbol harapan dan terobosan kesehatan masyarakat. Dengan memadukan ilmu gizi canggih dengan pendekatan berbasis komunitas yang praktis, RUTF telah menyelamatkan jutaan nyawa. Inovasi yang didorong oleh WHO dan UNICEF ini membuktikan bahwa solusi yang tampak sederhana makanan terapeutik dalam kemasan dapat menjadi senjata paling ampuh dalam perang melawan gizi buruk akut.
Referensi
1. Ciliberto, M. A., Ndekha, M. J., Manani, M., Ashorn, P., Briend, A., Ciliberto, H. M., & Manary, M. J. (2005). Comparison of home-based therapy with ready-to-use therapeutic food with standard therapy in the treatment of severely malnourished Malawian children: A controlled, clinical effectiveness trial. The American Journal of Clinical Nutrition, 81(4), 864–870. https://doi.org/10.1093/ajcn/81.4.864
2. Collins, S., Dent, N., Kerac, M., Thurstans, S., Nabwera, H., Saddal, T. K., & Nkhoma, E. (2006). Management of severe acute malnutrition in children. The Lancet, 368(9551), 1992–2000. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(06)69443-9
4. World Health Organization. (2013). Guideline: Updates on the management of severe acute malnutrition in infants and children. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/97892415063285. World Health Organization, World Food Programme, UNICEF, & UN System Standing Committee on Nutrition. (2007). Community-based management of severe acute malnutrition: A joint statement. World Health Organization.
Dosen Prodi Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata
Sering dengar tentang kanker serviks? Mungkin terdengar menakutkan, dan memang ini adalah salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi perempuan di Indonesia. Namun, di tengah kekhawatiran itu, ada satu fakta luar biasa yang harus menjadi berita utama: kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang paling bisa dicegah.
Mengenal Musuh Tak Kasat Mata: Human Papillomavirus (HPV)
Sebelum membahas senjatanya, kita perlu kenal dulu dalang di balik sebagian besar kasus kanker serviks: Human Papillomavirus atau HPV.
Bayangkan HPV seperti virus umum lainnya yang mudah menular. Faktanya, mayoritas orang yang aktif secara seksual akan terpapar HPV di suatu titik dalam hidup mereka. Virus ini menular lewat kontak intim kulit-ke-kulit, sehingga penularannya sangat luas.
Kabar baiknya? Sistem kekebalan tubuh kita adalah pahlawan. Pada lebih dari 90% kasus, infeksi HPV akan sembuh dan hilang dengan sendirinya tanpa menyebabkan masalah. Namun, beberapa tipe HPV “berisiko tinggi” memiliki kemampuan untuk bersembunyi dan menetap di dalam tubuh selama bertahun-tahun. Infeksi persisten inilah yang berpotensi menyebabkan perubahan abnormal pada sel-sel di leher rahim (serviks), yang secara perlahan bisa berkembang menjadi sel prakanker, dan akhirnya menjadi kanker.
Penting untuk diingat, proses ini tidak terjadi dalam semalam. Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks bisa memakan waktu 10 hingga 20 tahun. Jendela waktu yang panjang inilah kesempatan emas kita untuk melakukan pencegahan dan deteksi dini.
Senjata #1: Vaksinasi HPV – Perisai Sejak Dini
Inilah langkah pencegahan primer yang paling transformatif. Anggap saja vaksin HPV seperti memberikan “cetak biru” musuh kepada sistem kekebalan tubuh Anda.
Bagaimana cara kerjanya? Vaksin ini mengandung partikel yang menyerupai virus HPV (namun tidak aktif dan tidak menyebabkan penyakit), yang memicu sistem imun untuk membentuk antibodi. Hasilnya, jika suatu saat tubuh terpapar virus HPV yang sesungguhnya, pasukan antibodi ini sudah siap siaga untuk menetralisirnya sebelum sempat menimbulkan infeksi kronis.
Siapa target utamanya? Vaksin HPV memberikan perlindungan maksimal jika diberikan pada usia 9-14 tahun, sebelum seseorang mulai aktif secara seksual. Program imunisasi nasional di Indonesia bahkan sudah menargetkan anak perempuan usia sekolah dasar.
Kenapa anak laki-laki juga penting divaksin? HPV tidak diskriminatif. Pada pria, virus ini dapat menyebabkan kanker anus, penis, serta kanker kepala dan leher. Memvaksinasi anak laki-laki tidak hanya melindungi mereka, tetapi juga menciptakan herd immunity (kekebalan komunitas) dan memutus rantai penularan kepada pasangan mereka di masa depan.
Bagaimana jika sudah dewasa? Belum terlambat. Vaksinasi HPV tetap dianjurkan untuk individu hingga usia 26 tahun. Bahkan, orang dewasa di atas usia tersebut masih bisa mendapatkan manfaat, meskipun diskusikan terlebih dahulu dengan dokter Anda.
Senjata #2: Skrining Rutin – “Mata-Mata” Kesehatan Anda
Jika vaksinasi adalah perisai, maka skrining adalah “mata-mata” atau sistem deteksi dini Anda. Tujuan utamanya bukanlah untuk mencari kanker yang sudah jadi, tetapi untuk menemukan sel-sel abnormal (lesi prakanker) jauh sebelum mereka memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi ganas.
Peran bidan di komunitas sangatlah vital dalam menyukseskan program skrining ini. Institusi pendidikan seperti D3 Kebidanan FKIK Universitas Alma Ata membekali para mahasiswanya dengan keterampilan dan pengetahuan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya deteksi dini ini.
Ada dua metode skrining utama yang sangat efektif:
Pap Smear (Sitologi Serviks): Prosedur ini mengambil sampel sel dari permukaan leher rahim untuk diperiksa di bawah mikroskop, guna mencari tanda-tanda perubahan sel yang tidak wajar.
Tes HPV DNA: Tes yang lebih modern ini bekerja dengan cara mendeteksi materi genetik (DNA) dari tipe-tipe HPV berisiko tinggi langsung dari sampel sel serviks.
Jangan biarkan rasa takut atau malu menghalangi Anda. Proses skrining berlangsung cepat, dan rasa tidak nyaman yang mungkin timbul tidak sebanding dengan perlindungan jiwa yang diberikannya.
Ambil Kendali Sekarang Juga
Kesehatan reproduksi adalah hak dan tanggung jawab kita. Kanker serviks memang penyakit serius, tetapi pengetahuan memberi kita kekuatan untuk melawannya.
Untuk Para Orang Tua: Pastikan anak perempuan (dan jika memungkinkan, anak laki-laki) Anda mendapatkan vaksinasi HPV sesuai jadwal program imunisasi.
Untuk Semua Wanita Dewasa: Jadikan skrining serviks sebagai bagian rutin dari agenda kesehatan Anda. Bicarakan dengan dokter atau bidan. Tenaga kesehatan yang kompeten, termasuk para lulusan dari D3 Kebidanan FKIK Universitas Alma Ata, dibekali pengetahuan untuk memberikan informasi akurat dan membantu Anda.
Untuk Kita Semua: Sebarkan informasi akurat ini. Edukasi adalah vaksin sosial yang mematahkan stigma dan mendorong tindakan preventif.
Dengan dua langkah sederhana—vaksinasi dan skrining rutin—kita dapat secara kolektif mengubah narasi kanker serviks dari sebuah ancaman menjadi sebuah kemenangan kesehatan publik.
Arbyn, M., et al. (2020). “Evidence regarding human papillomavirus testing in secondary prevention of cervical cancer.” Vaccine, 38(Suppl 1), F7–F22. https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2019.07.081