Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Masa remaja sering kali dianalogikan sebagai jembatan yang penuh badai. Di satu sisi, mereka bukan lagi anak-anak yang bisa dengan mudah memeluk orang tua saat menangis; di sisi lain, mereka belum menjadi orang dewasa yang matang dalam mengelola gejolak emosi. Perubahan hormon, tekanan akademik, dinamika pertemanan, hingga paparan media sosial yang masif membuat kelompok usia ini sangat rentan mengalami guncangan psikologis.
Sayangnya, banyak orang tua dan lingkungan terdekat yang terlambat menyadari ketika seorang remaja sedang terluka secara mental. Perubahan perilaku mereka kerap kali disalah artikan sebagai “pemberontakan remaja biasa,” “remaja manja,” atau sekadar mood swing akibat pubertas. Padahal, luka mental yang diabaikan terlalu lama bisa memicu keretakan psikologis yang mendalam seperti depresi berat, gangguan kecemasan, hingga tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm).
Sebelum struktur mental mereka benar-benar retak, sangat krusial bagi kita untuk mengenali sinyal-sinyal darurat terselubung yang mereka tunjukkan.
1. Menatap di Balik Topeng: Membedakan Mood Swing dan Gangguan Klinis
Perubahan suasana hati pada remaja adalah hal yang wajar. Namun, bagaimana kita tahu bahwa itu sudah melewati batas normal? Kuncinya terletak pada durasi (waktu), intensitas (keparahan), dan fungsi (dampaknya pada kehidupan sehari-hari).
Berdasarkan panduan klinis global, berikut adalah tanda-tanda awal remaja yang sedang terluka secara emosional:
Iritabilitas yang Meledak-ledak: Berbeda dengan orang dewasa yang cenderung menunjukkan kesedihan dengan menangis, depresi pada remaja lebih sering bermanifestasi sebagai kemarahan. Mereka menjadi sangat sensitif, mudah tersinggung oleh hal sepele, gampang frustasi, dan defensif.
Anhedonia (Kehilangan Percikan Minat): Perhatikan jika anak remaja tiba-tiba berhenti melakukan hobi yang sangat mereka cintai, misalnya tidak mau lagi menyentuh alat musiknya, berhenti berolahraga, atau menolak berkumpul dengan sahabat karibnya.
Keluhan Fisik Misterioso (Gejala Somatik): Sering kali, remaja tidak tahu cara Mengartikulasikan rasa sakit mentalnya ke dalam kata-kata. Akibatnya, stres tersebut bermanifestasi menjadi gejala fisik kronis, seperti sakit kepala yang sering kambuh, nyeri lambung/sakit perut, atau kelelahan ekstrem yang tidak hilang meski sudah tidur cukup.
Penarikan Diri secara Ekstrem (Social Withdrawal): Menghabiskan waktu sendirian di kamar adalah hal normal bagi remaja yang butuh privasi. Namun, jika mereka mulai mengisolasi diri sepenuhnya, menolak interaksi sosial dengan keluarga maupun teman, dan mengabaikan perawatan diri (jarang mandi atau tidak peduli penampilan), ini adalah alarm darurat.
2. Mengapa Deteksi Dini Begitu Krusial?
Otak remaja tengah berada dalam fase perkembangan yang intens, khususnya pada area prefrontal cortex (pusat kendali emosi, keputusan, dan logika). Ketika mereka mengalami tekanan mental yang berat tanpa intervensi yang tepat, arsitektur otak ini dapat mengalami stres kronis yang berdampak jangka panjang hingga mereka dewasa.
Tabel di bawah ini merangkum perbandingan pola perilaku normal vs. sinyal bahaya pada remaja:
Aspek Perilaku
Perubahan Normal (Pubertas)
Sinyal Bahaya (Terluka Secara Mental)
Pola Tidur
Suka tidur larut malam saat akhir pekan, tapi tetap segar.
Insomnia parah atau hypersomnia (tidur belasan jam sebagai pelarian).
Prestasi Sekolah
Mengalami penurunan nilai pada satu mata pelajaran yang sulit.
Nilai rapor turun drastis secara keseluruhan disertai sering bolos atau mogok sekolah.
Komunikasi
Lebih memilih mengobrol dengan teman daripada orang tua.
Berhenti berkomunikasi dengan siapapun dan cenderung menutup diri total.
Nafsu Makan
Porsi makan bertambah drastis karena pertumbuhan fisik.
Kehilangan nafsu makan ekstrem atau justru makan berlebihan akibat stres (emotional eating).
3. Langkah Pertama Orang Tua: Mengulurkan Tangan Sebelum Retak
Jika Anda melihat tanda-tanda di atas terjadi pada anak selama lebih dari dua minggu berturut-turut, jangan langsung menghakimi atau menginterogasi mereka. Gunakan pendekatan psikologis yang merangkul:
Ciptakan Safe Space (Ruang Aman): Masuklah ke dunia mereka tanpa membawa penghakiman. Hindari kalimat seperti: “Kamu kurang bersyukur,” atau “Zaman Ayah dulu lebih susah.” Kalimat ini akan membuat mereka semakin menutup diri.
Validasi Perasaannya: Katakan, “Ibu perhatikan belakangan ini kamu kelihatan lelah dan sering murung. Ibu di sini bukan untuk marah, tapi karena Ibu sayang sama kamu. Kalau kamu siap cerita, Ibu mau mendengarkan.”
Jangan Ragu ke Profesional: Jika situasi tidak membaik, menormalisasi gangguan mental atau menganggapnya akan “sembuh sendiri seiring waktu” adalah kekeliruan besar. Membawa anak berkonsultasi ke psikolog remaja atau psikiater adalah bentuk kasih sayang tertinggi untuk menyelamatkan masa depan mereka.
Mengenali luka mental sejak dini adalah jaring pengaman terbaik. Jangan tunggu sampai struktur mental anak kita retak dan hancur, karena mencegah dan mengobati diawal jauh lebih mudah daripada menyatukan kembali kepingan yang sudah patah.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO). (2024). Adolescent Mental Health: Fact Sheets and Global Prevalence. Jenewa: WHO.
UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). Washington, DC: American Psychiatric Publishing.
The Lancet Psychiatry Journal. (2023). Early Intervention and Neurodevelopmental Pathways in Adolescent Mood Disorders. Volume 10, Issue 4, pp. 245-257.
Universitas Alma Ata, Juli 2026 – Setelah tren healing, quiet quitting, dan underconsumption core, kini media sosial ramai membahas fenomena soft saving. Istilah ini banyak digunakan oleh Generasi Z untuk menggambarkan kebiasaan mengelola keuangan secara lebih realistis tanpa harus menekan diri demi mencapai target tabungan yang terlalu tinggi.
Berbeda dengan konsep menabung secara ekstrem, soft saving mengajarkan seseorang untuk tetap menyisihkan uang sesuai kemampuan sambil tetap memenuhi kebutuhan dasar, menikmati waktu bersama keluarga, menjaga kesehatan, dan memiliki kualitas hidup yang baik. Tren ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya biaya hidup, tekanan ekonomi, dan tingginya tuntutan sosial yang dirasakan oleh banyak anak muda.
Di media sosial, tidak sedikit remaja yang mengaku merasa cemas karena harus mengikuti gaya hidup teman atau influencer. Keinginan membeli barang yang sedang viral, nongkrong di tempat populer, hingga mengikuti tren fesyen seringkali memicu perilaku konsumtif. Akibatnya, sebagian remaja mengalami stres akibat pengeluaran yang melebihi kemampuan finansial.
Para ahli kesehatan mental menjelaskan bahwa kondisi keuangan dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang. Kekhawatiran terhadap masalah ekonomi dapat meningkatkan stres, kecemasan, bahkan menurunkan kualitas tidur. Oleh karena itu, kemampuan mengelola keuangan sejak usia remaja merupakan salah satu keterampilan hidup (life skills) yang penting untuk dimiliki.
Dalam perspektif kesehatan, soft saving bukan hanya tentang menabung, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan hidup. Remaja diajak untuk memahami bahwa kesehatan fisik dan mental merupakan investasi jangka panjang. Menyisihkan anggaran untuk membeli makanan bergizi, mengikuti aktivitas olahraga, atau melakukan pemeriksaan kesehatan bila diperlukan merupakan bentuk investasi yang sama pentingnya dengan menabung.
Bagi remaja putri, pengelolaan keuangan juga dapat mendukung pemenuhan kebutuhan kesehatan reproduksi. Membeli makanan bergizi untuk mencegah anemia, menyediakan kebutuhan kebersihan menstruasi, serta mengikuti kegiatan olahraga merupakan contoh pengeluaran yang memberikan manfaat bagi kesehatan di masa depan.
Remaja juga perlu membangun literasi keuangan dan literasi digital agar tidak mudah terpengaruh oleh promosi maupun gaya hidup yang ditampilkan di media sosial. Banyak konten yang memperlihatkan kehidupan mewah atau tren belanja tanpa menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Dengan memahami cara kerja media sosial dan berpikir kritis terhadap informasi yang diterima, remaja akan lebih mampu mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan pribadi, bukan semata-mata karena tekanan lingkungan.
Yang tidak kalah penting, remaja hendaknya tidak menjadikan soft saving sebagai alasan untuk hidup secara berlebihan dalam berhemat hingga mengorbankan kebutuhan dasar atau kehilangan kesempatan mengembangkan diri. Menabung memang penting, tetapi menikmati pengalaman belajar, membangun pertemanan yang sehat, mengikuti kegiatan positif, dan menjaga kesehatan juga merupakan investasi jangka panjang yang akan memberikan manfaat bagi kehidupan di masa depan.
Pada akhirnya, tren soft saving mengajarkan bahwa menjadi sehat tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh kemampuan seseorang mengelola kehidupan secara seimbang. Menabung itu penting, tetapi menjaga kesehatan adalah investasi yang nilainya jauh lebih besar. Remaja yang mampu mengelola keuangan sekaligus menjaga kesehatan akan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu, anak dan remaja yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
American Psychological Association. (2023). Stress in America™ 2023: Financial stress and well-being. American Psychological Association.
Sebagian orang tua masih merasa khawatir ketika melihat anak berbicara sendiri saat bermain. Tidak sedikit yang menganggap kebiasaan tersebut sebagai perilaku yang aneh atau pertanda adanya gangguan perkembangan. Padahal, dalam kajian psikologi perkembangan, perilaku tersebut merupakan bagian normal dari proses belajar anak yang dikenal sebagai private speech.
Fenomena ini menjadi perhatian Dosen Prodi Sarjana & Profesi Bidan Alma Ata, Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb, yang mengajak masyarakat untuk memahami bahwa private speech merupakan salah satu indikator perkembangan kognitif yang sehat. Menurutnya, selama muncul pada konteks yang wajar, seperti ketika anak bermain atau menyelesaikan tugas, perilaku tersebut justru perlu didukung, bukan dihentikan.
“Ketika anak berbicara kepada dirinya sendiri saat bermain, sebenarnya ia sedang menyusun cara berpikirnya. Anak sedang belajar merencanakan tindakan, mengatur perilaku, sekaligus memecahkan masalah yang sedang dihadapinya,” jelas Dian.
Ia menjelaskan bahwa konsep private speech pertama kali diperkenalkan oleh psikolog perkembangan Lev Vygotsky. Dalam teorinya, Vygotsky menyebut bahwa ucapan yang diarahkan kepada diri sendiri merupakan alat berpikir sekaligus mekanisme regulasi diri yang membantu anak mengendalikan perilaku selama proses belajar.
Menurut Vygotsky, perkembangan bahasa anak berlangsung melalui beberapa tahapan, dimulai dari bahasa sosial yang berkembang sejak usia sekitar dua tahun, kemudian private speech, hingga akhirnya menjadi inner speech atau bicara batin yang berkembang lebih matang sekitar usia tujuh tahun. Dengan demikian, kebiasaan anak berbicara sendiri merupakan tahapan alami sebelum mereka mampu mengatur proses berpikir secara internal sebagaimana orang dewasa.
Lebih lanjut, Dian menjelaskan bahwa manfaat private speech tidak hanya didasarkan pada teori, tetapi juga telah didukung oleh berbagai hasil penelitian. Salah satunya adalah penelitian Berk dan Spuhl (1995) yang menunjukkan bahwa private speech berkembang secara konsisten pada anak dengan perkembangan normal serta berkaitan dengan kemampuan mereka dalam menyelesaikan berbagai tugas.
Berbagai kajian ilmiah juga menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan private speech dengan performa anak saat menghadapi tantangan. Anak yang lebih sering menggunakan private speech ketika mengerjakan tugas cenderung menunjukkan kemampuan penyelesaian masalah yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak melakukannya.
Selain membantu meningkatkan kemampuan berpikir, private speech juga diketahui berperan dalam mengembangkan imajinasi, melatih kemampuan memecahkan masalah, serta membantu anak mengorganisasi pikirannya. Menariknya, perilaku ini paling sering muncul ketika anak menghadapi situasi yang menantang, bukan ketika mereka mengalami kebingungan tanpa arah.
“Justru saat anak sedang kesulitan menyusun balok, menggambar, atau menyelesaikan permainan tertentu, mereka akan berbicara kepada dirinya sendiri untuk membantu menemukan solusi. Itu menunjukkan bahwa otaknya sedang bekerja aktif,” ungkapnya.
Menurut Dian, terdapat beberapa manfaat penting dari private speech bagi perkembangan anak. Pertama, perilaku tersebut membantu anak belajar mengarahkan dirinya sendiri tanpa selalu bergantung pada instruksi orang dewasa. Kedua, private speech menjadi jembatan menuju berkembangnya kemampuan berpikir yang lebih matang, termasuk kemampuan berpikir dalam hati (inner speech) yang akan mendukung proses belajar di masa depan. Ketiga, kebiasaan tersebut menjadi indikator bahwa anak sedang mengembangkan kemampuan regulasi diri yang penting bagi keberhasilan akademik maupun kehidupan sehari-hari.
Selain berkaitan dengan perkembangan kognitif, private speech juga dipengaruhi oleh lingkungan pengasuhan. Dian menjelaskan bahwa anak cenderung lebih bebas berbicara kepada dirinya sendiri ketika merasa aman, nyaman, dan diterima di lingkungan keluarga.
Hal tersebut didukung oleh penelitian Wall, Mulvihill, Matthews, Dux, dan Carroll yang dipublikasikan dalam Journal of Child Language (2024). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh hangat, responsif, dan mendukung kemandirian lebih sering menggunakan private speech yang berisi perencanaan maupun motivasi diri ketika mengerjakan tugas yang menantang. Sebaliknya, pola asuh yang terlalu mengontrol atau kurang responsif tidak menunjukkan hubungan yang sama.
Menurut Dian, temuan tersebut memperkuat teori Vygotsky bahwa bahasa yang awalnya berasal dari interaksi antara orang tua dan anak lambat laun akan diinternalisasi menjadi suara yang digunakan anak untuk membimbing dirinya sendiri.
“Kalimat-kalimat yang sering diucapkan orang tua, seperti ‘coba pelan-pelan’, ‘ayo kamu pasti bisa’, atau ‘kita pikirkan dulu’, perlahan menjadi suara yang dipakai anak untuk mengarahkan dirinya sendiri ketika menghadapi tantangan,” jelasnya.
Temuan serupa juga diperlihatkan dalam penelitian longitudinal Whedon, Perry, Curtis, dan Bell yang dipublikasikan di Early Childhood Research Quarterly (2021). Studi tersebut menemukan bahwa private speech pada usia tiga tahun berkaitan dengan kemampuan kontrol diri pada usia empat tahun, yang selanjutnya berhubungan dengan kemampuan regulasi emosi ketika anak berusia sembilan tahun. Hasil tersebut menunjukkan bahwa manfaat private speech tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga berkontribusi terhadap perkembangan sosial dan emosional anak di masa mendatang.
Berdasarkan berbagai temuan ilmiah tersebut, Dian mengimbau para orang tua untuk tidak terburu-buru menegur anak ketika melihat mereka berbicara sendiri saat bermain. Sebaliknya, orang tua disarankan memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan proses berpikirnya secara alami.
“Orang tua tidak perlu khawatir selama perilaku tersebut muncul dalam situasi yang wajar. Biarkan anak menyelesaikan ‘percakapannya’ sendiri karena pada saat itulah ia sedang belajar berpikir dan mengatur dirinya. Orang tua juga dapat memberikan contoh dengan sesekali berpikir keras (thinking aloud) saat menyelesaikan suatu masalah agar anak melihat bahwa berbicara kepada diri sendiri merupakan strategi yang normal dalam proses berpikir,” ujarnya.
Sebagai akademisi di bidang psikologi perkembangan, Dian berharap masyarakat semakin memahami bahwa private speech merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Edukasi yang tepat diharapkan dapat mengurangi kesalahpahaman sehingga orang tua mampu memberikan dukungan yang lebih optimal terhadap perkembangan kognitif dan emosional anak.
“Private speech bukanlah kebiasaan yang perlu ditakuti. Sebaliknya, perilaku tersebut merupakan salah satu tanda bahwa anak sedang membangun kemampuan berpikir, belajar mengendalikan diri, dan mempersiapkan fondasi bagi perkembangan kognitif maupun emosionalnya di masa depan,” tutup Dian.
Referensi
Wall, K., Mulvihill, A., Matthews, N., Dux, P. E., & Carroll, A. (2024/2026). Maternal parenting style and self-regulatory private speech content use in preschool children. Journal of Child Language, 53(1), 218–233.
Whedon, M., Perry, N. B., Curtis, E. B., & Bell, M. A. (2021). Private speech and the development of self-regulation: The importance of temperamental anger. Early Childhood Research Quarterly, 56, 213–224.
Day, K. L., Tan, L., & Smith, C. L. (2024). Preschoolers’ self-regulation: Private speech in cognitive and emotion contexts. Journal of Child and Family Studies, 33(5), 1437–1450.
Gowrie NSW. Lev Vygotsky’s Theory of Child Development. Diakses dari gowriensw.com.au.
Frontiers in Developmental Psychology (2025). Private speech among children with intellectual disabilities.
Universitas Alma Ata, Juli 2026 – “Tidur nanti saja, tugas masih banyak.” Kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan remaja dan mahasiswa. Begadang demi menyelesaikan tugas, bermain gim, menonton serial, atau berselancar di media sosial sering dianggap sebagai hal yang biasa. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap kurang tidur sebagai tanda produktivitas. Padahal, kebiasaan tersebut dapat menyebabkan sleep debt atau utang tidur, yaitu kondisi ketika seseorang secara terus-menerus tidur lebih sedikit daripada kebutuhan tubuhnya.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tidur yang cukup merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental. Sementara itu, remaja berusia 13–18 tahun dianjurkan tidur sekitar 8–10 jam setiap malam agar proses pertumbuhan, perkembangan otak, dan fungsi tubuh berlangsung optimal.
Sayangnya, perkembangan teknologi membuat banyak remaja sulit melepaskan diri dari gawai sebelum tidur. Notifikasi media sosial, video pendek, hingga permainan daring sering kali membuat waktu tidur semakin larut. Akibatnya, tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat dan melakukan proses pemulihan.
Utang tidur tidak hanya menyebabkan rasa kantuk pada siang hari. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat menurunkan daya konsentrasi, kemampuan mengingat, prestasi belajar, kestabilan emosi, serta meningkatkan risiko kecemasan dan depresi. Dalam jangka panjang, kebiasaan kurang tidur juga dapat meningkatkan risiko obesitas, gangguan metabolisme, hipertensi, dan penyakit kronis lainnya.
Selain itu, kurang tidur dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi remaja. Ketidakseimbangan hormon akibat pola tidur yang buruk dapat mengganggu siklus menstruasi pada remaja putri, menurunkan daya tahan tubuh, serta memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu, menjaga pola tidur merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan reproduksi sejak usia remaja.
Lalu, bagaimana cara menghindari utang tidur? Langkah pertama adalah membuat jadwal tidur yang teratur, termasuk pada akhir pekan. Remaja juga dianjurkan menghentikan penggunaan gawai setidaknya 30–60 menit sebelum tidur, menghindari konsumsi minuman berkafein pada malam hari, serta menciptakan suasana kamar yang nyaman untuk beristirahat.
Menjaga kesehatan fisik melalui pola makan bergizi dan aktivitas fisik yang teratur turut berperan dalam meningkatkan kualitas tidur. Berolahraga secara rutin pada pagi atau sore hari dapat membantu tubuh lebih rileks pada malam hari. Sebaliknya, aktivitas fisik yang terlalu berat menjelang waktu tidur sebaiknya dihindari karena justru dapat membuat tubuh tetap terjaga.
Remaja juga perlu memahami bahwa tidur bukanlah tanda kemalasan, melainkan kebutuhan biologis yang sangat penting. Saat tidur, otak memproses informasi yang telah dipelajari, memperkuat daya ingat, memperbaiki jaringan tubuh, serta menjaga keseimbangan hormon dan sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, mengurangi waktu tidur secara terus-menerus demi bermain media sosial, bermain gim, atau mengejar tugas bukanlah pilihan yang bijaksana.
Apabila remaja sering mengalami kesulitan tidur, mengantuk berlebihan pada siang hari, atau merasa kelelahan meskipun telah tidur cukup lama, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Deteksi dan penanganan sejak dini dapat membantu mencegah gangguan tidur yang lebih serius sekaligus menjaga kesehatan fisik, mental, dan prestasi belajar. Tidur yang cukup bukan hanya membuat tubuh lebih segar, tetapi juga merupakan investasi penting untuk kesehatan dan masa depan remaja.
Menjadi produktif bukan berarti harus mengorbankan waktu tidur. Justru dengan istirahat yang cukup, tubuh dan otak dapat bekerja lebih optimal, sehingga prestasi belajar, kesehatan, dan kualitas hidup akan meningkat. Mari mulai hari ini, jadikan tidur sebagai investasi kesehatan, bukan sebagai waktu yang bisa terus dikurangi.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu, anak dan remaja yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
American Academy of Sleep Medicine. (2016). Recommended amount of sleep for pediatric populations: A consensus statement. Journal of Clinical Sleep Medicine, 12(6), 785–786.
Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Sleep in middle and high school students. https://www.cdc.gov/sleep
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan Remaja. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
United Nations Children’s Fund. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, Protecting and Caring for Children’s Mental Health. UNICEF.
Bantul, 14 Juli 2026 – Program Sarjana Kebidanan, dan Profesi Bidan) Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata kembali melaksanakan kegiatan Sister School di SMAN 1 Bambanglipuro sebagai bagian dari program dosen mengajar yang telah terjalin secara berkelanjutan. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian program Dosen Mengajar yang sebelumnya telah diberikan kepada peserta didik, sebagai bentuk komitmen Universitas Alma Ata dalam mendukung peningkatan literasi kesehatan remaja melalui kolaborasi dengan sekolah.
Pada pelaksanaan kali ini, kegiatan menyasar siswa-siswi kelas XI dengan mengangkat tema “Aku Suka Dia, Lalu Harus Bagaimana? Cara Sehat Mengungkapkan Cinta dan Ketertarikan.” Tema tersebut dipilih karena masa remaja merupakan fase perkembangan yang ditandai dengan berbagai perubahan, baik fisik, psikologis, maupun sosial. Salah satu perubahan yang umum dialami adalah munculnya ketertarikan terhadap orang lain sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial, remaja dihadapkan pada beragam informasi dan pengaruh mengenai hubungan romantis yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai kesehatan maupun perkembangan psikologis mereka. Kondisi ini menuntut adanya edukasi yang tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membekali remaja dengan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi secara sehat, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Melalui materi yang disampaikan, dosen Program Studi Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata mengajak peserta memahami bahwa rasa suka merupakan bagian yang wajar dari perkembangan remaja. Namun, perasaan tersebut perlu diekspresikan secara positif dengan tetap menghormati diri sendiri maupun orang lain. Materi membahas berbagai aspek penting, mulai dari mengenali perbedaan antara rasa kagum, suka, dan cinta, memahami pentingnya komunikasi yang asertif, menghargai batasan pribadi (personal boundaries) dan persetujuan (consent), hingga mengenali karakteristik hubungan yang sehat dan hubungan yang tidak sehat. Selain penyampaian materi, siswa juga diajak berdiskusi mengenai berbagai situasi yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara menyampaikan ketertarikan dengan sopan, menghadapi penolakan secara dewasa, menghindari tekanan dari teman sebaya (peer pressure), serta menjaga jejak digital ketika berinteraksi melalui media sosial. Pendekatan ini diharapkan mampu membantu peserta menghubungkan materi dengan pengalaman nyata sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan.
Untuk mengetahui efektivitas pembelajaran, kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test guna mengukur tingkat pengetahuan awal siswa. Setelah sesi edukasi, diskusi, dan tanya jawab selesai, peserta kembali mengikuti post-test sebagai evaluasi terhadap peningkatan pemahaman setelah menerima materi. Antusiasme siswa terlihat dari keaktifan mereka dalam berdiskusi serta menyampaikan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan dinamika hubungan pertemanan dan ketertarikan pada masa remaja.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata berharap siswa tidak hanya memiliki pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi remaja, tetapi juga mampu membangun keterampilan hidup (life skills) yang mendukung pengambilan keputusan secara bijaksana. Kemampuan untuk berkomunikasi secara asertif, menghormati batasan diri dan orang lain, serta menjalin hubungan yang sehat menjadi bekal penting bagi remaja dalam menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosial. Kegiatan Sister School merupakan salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui sinergi yang berkelanjutan antara Universitas Alma Ata dan SMAN 1 Bambanglipuro, diharapkan tercipta lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuhnya generasi muda yang sehat, berkarakter, serta mampu menghadapi berbagai tantangan perkembangan remaja dengan pengetahuan, sikap, dan perilaku yang positif.
Ke depan, Program Sarjana Kebidanan, dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program edukatif yang relevan dengan kebutuhan remaja. Melalui kolaborasi yang berkesinambungan dengan sekolah, diharapkan kegiatan Sister School dapat menjadi wadah pembelajaran yang memberikan dampak nyata dalam meningkatkan literasi kesehatan dan mempersiapkan generasi muda yang lebih sehat, tangguh, dan bertanggung jawab.
Referensi
McCormick, E. M., Qu, Y., & Telzer, E. H. (2024). Experience-dependent neurodevelopment of self-regulation in adolescence. Developmental Cognitive Neuroscience, 65, 101338.
Willems, Y. E., Li, J. B., Bartels, M., & Finkenauer, C. (2024). Individual differences in adolescent self-control: The role of gene-environment interplay. Current Opinion in Psychology, 60, 101897.https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2024.101897
Thulin, E. J., Kernsmith, P., Fleming, P. J., Heinze, J. E., Temple, J., & Smith-Darden, J. (2023). Coercive-sexting: Predicting adolescent initial exposure to electronic coercive sexual dating violence. Computers in Human Behavior, 141, 107641. https://doi.org/10.1016/j.chb.2022.107641
World Health Organization. (2024). Adolescent health. Geneva: WHO.
United Nations Children’s Fund. (2024). Adolescent development and participation. New York: UNICEF.