by Admin Kebidanan | Jan 26, 2026 | Artikel D3
Penulis: Prodi D3 Kebidanan
Dunia kesehatan anak saat ini sedang menghadapi pergeseran epidemiologis yang mengkhawatirkan. Diabetes, penyakit yang dulunya dianggap identik dengan orang dewasa atau lansia, kini semakin agresif menyerang kelompok usia anak-anak dan remaja.
Data terbaru dari jurnal-jurnal internasional terkemuka di tahun 2024 dan 2025 menunjukkan bahwa kita tidak lagi sekadar menghadapi “peningkatan”, melainkan sebuah “lonjakan” yang membutuhkan perhatian serius dari orang tua, tenaga medis, dan pembuat kebijakan.
1. Statistik Global: Angka yang Mengguncang
Sebuah studi komprehensif yang diterbitkan dalam Frontiers in Endocrinology (2025) menganalisis beban diabetes global pada anak dan remaja dari tahun 1990 hingga 2021. Temuan utamanya sangat mengejutkan:
- Kenaikan Insiden: Insiden diabetes pada kelompok usia ini meningkat sekitar 94% secara global dalam tiga dekade terakhir.
- Proyeksi Suram: Jika tren ini berlanjut tanpa intervensi, beban kesehatan di masa depan akan sangat besar, mengingat anak-anak ini akan hidup dengan diabetes lebih lama dibandingkan pasien yang terdiagnosis saat dewasa.
2. Diabetes Tipe 2: Bukan Lagi Penyakit Orang Tua
Perubahan paling drastis terlihat pada Diabetes Tipe 2. Dahulu, tipe ini sangat jarang ditemukan pada anak-anak. Namun, penelitian terbaru menyoroti korelasi kuat antara gaya hidup modern dan lonjakan kasus ini.
- Faktor Gaya Hidup: The Lancet Diabetes & Endocrinology dan tinjauan dari Canadian Diabetes and Endocrinology Today (2025) menyoroti bahwa obesitas pada masa kanak-kanak adalah pendorong utama. Peningkatan konsumsi makanan ultra-proses, minuman manis, dan gaya hidup sedentari (kurang gerak) menciptakan “badai sempurna” bagi resistensi insulin pada tubuh anak yang sedang berkembang.
- Disparitas Sosial: Studi juga menemukan bahwa anak-anak dari latar belakang sosio-ekonomi rendah atau kelompok etnis minoritas memiliki risiko yang tidak proporsional lebih tinggi, sering kali karena terbatasnya akses ke makanan sehat dan ruang bermain yang aman.
4. Diabetes Tipe 1: Peningkatan yang Stabil namun Misterius
Sementara Tipe 2 melonjak karena gaya hidup, Diabetes Tipe 1 (autoimun) juga menunjukkan peningkatan insiden yang stabil sekitar 3-4% per tahun secara global.
Sebuah studi di JAMA (2024) mengindikasikan bahwa pada anak-anak yang sudah memiliki risiko genetik atau antibodi awal (presimptomatik), infeksi virus (termasuk COVID-19) dapat mempercepat transisi menuju diabetes klinis.
Implikasi dan Langkah ke Depan
Peningkatan ini bukan sekadar angka statistik; ini adalah peringatan dini bagi masa depan kesehatan masyarakat. Anak dengan diabetes menghadapi risiko komplikasi jangka panjang yang lebih dini, seperti penyakit ginjal, kerusakan saraf, dan masalah kardiovaskular.
Rekomendasi Ahli (Berdasarkan ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2024):
- Skrining Dini: Pentingnya memantau gula darah dan HbA1c, terutama pada anak dengan kelebihan berat badan.
- Edukasi Keluarga: Penanganan diabetes pada anak memerlukan keterlibatan seluruh keluarga dalam mengubah pola makan dan aktivitas fisik.
- Teknologi: Pemanfaatan Continuous Glucose Monitoring (CGM) kini semakin direkomendasikan untuk membantu kontrol gula darah yang lebih baik dan mengurangi stres pada anak.
Artikel kesehatan yang menarik lainya bisa diakses di website Prodi
D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul
Referensi
1. Yu Hu, et.al 2025. Analysis of the global burden of diabetes and attributable risk factor in children and adolescents across 204 countries and regions from 1990 to 2021. Frontiers in Endocrinology. https://www.frontiersin.org/journals/endocrinology/articles/10.3389/fendo.2025.1587055/full
2. Tatiana McIntyre. 2023. Disrupted Pediatric Diabetes Trends in the Second Year of the COVID-19 Pandemic. Journal of the Endocrine Society. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37457848/
- ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2024: Panduan standar perawatan diabetes anak internasional terbaru.
by Admin Kebidanan | Jan 23, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan
Darah Tinggi Saat Hamil: Alarm Bahaya yang Sering Terabaikan
Kehamilan sering kali dianggap sebagai masa yang penuh kebahagiaan. Namun, seringkali ibu hamil mengabaikan sinyal-sinyal kecil yang dikirimkan tubuh. Pernahkah Anda merasa pusing yang tak kunjung hilang atau tengkuk terasa berat saat hamil? Hati-hati, jangan buru-buru menganggapnya hanya karena “bawaan bayi” atau kelelahan biasa. Bisa jadi, itu adalah “alarm” dari tubuh yang menandakan tekanan darah sedang naik.
Di dunia kesehatan, kondisi ini disebut Hipertensi dalam Kehamilan. Ini bukan masalah sepele. Masalah ini masih menjadi salah satu penyebab utama mengapa persalinan menjadi berisiko tinggi bagi ibu dan janin.
Kapan Disebut Bahaya?
Sederhananya, jika ibu hamil diperiksa tensinya dan angkanya menunjukkan 140/90 mmHg atau lebih, lampu kuning sudah menyala. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, bahkan pada ibu yang sebelum hamil tidak pernah punya riwayat darah tinggi.
Jika dibiarkan, darah tinggi ini bisa berkembang menjadi Preeklamsia. Bayangkan pembuluh darah ibu seperti selang air yang terjepit. Karena “terjepit” (menyempit) akibat tekanan tinggi, aliran darah yang membawa makanan dan oksigen untuk bayi di dalam perut menjadi terhambat.
Akibatnya? Bayi bisa lahir dengan berat badan rendah karena kurang nutrisi, atau dalam kasus yang berat, ibu bisa mengalami kejang (eklamsia) yang mengancam nyawa.
Kenali Tanda Bahayanya
Berikut tanda bahaya yang harus dikenali oleh ibu hamil:
- Sakit Kepala Hebat: Terasa sangat nyut-nyutan dan tidak hilang meski sudah istirahat.
- Pandangan Kabur: Mata terasa berkunang-kunang atau melihat bintik-bintik cahaya.
- Nyeri Ulu Hati: Sakit tajam di bagian atas perut.
- Bengkak Tidak Wajar: Bengkak pada wajah dan tangan (bukan hanya kaki) yang terjadi secara tiba-tiba.
Apa yang Harus Dilakukan?
Kabar baiknya, kondisi ini bisa dikelola. Kuncinya ada pada pemeriksaan rutin. Jangan malas untuk datang ke Posyandu, Puskesmas, Bidan Praktik Mandiri, atau Dokter Kandungan minimal 6 kali selama masa kehamilan.
Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, kami membentuk bidan yang tidak hanya terampil dalam asuhan klinis, tetapi juga menjadi sahabat terpercaya yang siap mendampingi ibu melewati setiap fase kehamilan dengan aman. Kami percaya bahwa ibu yang sehat akan melahirkan generasi penerus yang hebat.
Tertarik untuk mengambil peran nyata dalam menjaga keselamatan ibu dan buah hati? Mari wujudkan kepedulian Anda menjadi profesi mulia bersama Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Program Studi D3 Kebidanan Terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan RI. (2023). Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA). Jakarta: Kemenkes RI.
- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). (2020). Gestational Hypertension and Preeclampsia. Practice Bulletin No. 222.
- Kementerian Kesehatan RI. (2021). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2020. Jakarta: Kemenkes RI.
- World Health Organization (WHO). (2019). Hypertension in pregnancy: Diagnosis and Management. Geneva: WHO Press.
- Prawirohardjo, S. (2016). Ilmu Kebidanan Edisi Keempat. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
by Admin Kebidanan | Jan 22, 2026 | Artikel
Created By Indah Wijayanti, S.ST., M.Keb., Bdn
Halo para remaja hebat! Sebagai seorang bidan, saya tidak hanya peduli dengan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan emosional kalian. Masa remaja adalah masa yang penuh warna, perubahan, dan tantangan. Kalian sedang mencari jati diri, mengeksplorasi banyak hal baru, dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Di tengah semua itu, menjadi remaja yang bijak adalah kunci untuk menjalani periode ini dengan penuh makna dan minim penyesalan.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Apa itu remaja bijak? Remaja bijak adalah mereka yang mampu berpikir jernih, membuat keputusan yang tepat, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan memiliki kepedulian terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Kedengarannya kompleks, ya? Tapi sebenarnya tidak sulit jika kita tahu caranya.
Berikut adalah beberapa tips dari saya, sang bidan, untuk menjadi remaja yang bijak:
1. Kenali Dirimu Sendiri (Self-Awareness) Ini adalah langkah pertama dan terpenting. Apa minatmu? Apa kelebihanmu? Apa kekuranganmu? Apa yang membuatmu bahagia? Apa yang membuatmu sedih? Dengan mengenal diri sendiri, kamu akan lebih mudah menentukan arah dan tujuan hidupmu, serta tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif.
2. Pikirkan Sebelum Bertindak (Think Before You Act) Di usia remaja, seringkali emosi lebih mendominasi daripada logika. Belajarlah untuk menarik napas sejenak sebelum merespons sesuatu, terutama dalam situasi yang memancing emosi. Pikirkan konsekuensi dari setiap tindakan atau ucapanmu. Apakah itu akan menyakiti orang lain? Apakah itu akan merugikan dirimu sendiri di kemudian hari?
3. Pilih Lingkaran Pertemanan yang Positif Teman-teman sangat memengaruhi siapa dirimu. Pilihlah teman-teman yang mendukungmu untuk berkembang, yang mengajakmu pada kebaikan, dan yang bisa menjadi panutan. Jauhi pertemanan yang menjerumuskanmu pada hal-hal negatif seperti narkoba, seks bebas, atau bullying.
4. Bijak dalam Menggunakan Media Sosial Media sosial adalah pedang bermata dua. Bisa jadi sarana positif untuk belajar dan bersosialisasi, tapi juga bisa jadi sumber masalah jika tidak bijak menggunakannya. Jangan mudah percaya pada semua informasi, hindari membandingkan dirimu dengan orang lain, dan berhati-hatilah dalam memposting sesuatu. Ingat, jejak digital itu abadi!
5. Prioritaskan Pendidikan dan Belajar Hal Baru Pendidikan adalah investasi terbaik untuk masa depanmu. Rajinlah belajar, bertanya jika tidak mengerti, dan jangan pernah berhenti mencari ilmu. Di luar pelajaran sekolah, carilah kesempatan untuk belajar keterampilan baru, seperti bahasa asing, coding, atau bahkan memasak. Semakin banyak yang kamu tahu, semakin luas wawasanmu.
6. Jaga Kesehatan Fisik dan Mentalmu Remaja bijak tahu bahwa tubuh dan pikiran yang sehat adalah modal utama. Cukupi waktu tidur, makan makanan bergizi, berolahraga secara teratur, dan luangkan waktu untuk relaksasi. Jika kamu merasa stres atau cemas berlebihan, jangan ragu untuk bercerita kepada orang dewasa yang kamu percaya, seperti orang tua, guru, atau bahkan saya sebagai bidan.
7. Berani Mengatakan “Tidak” pada Hal yang Buruk Ini adalah salah satu tanda kebijaksanaan yang paling penting. Tekanan teman sebaya seringkali membuat kita sulit menolak ajakan yang tidak baik. Ingatlah bahwa kamu memiliki hak untuk menolak, dan tidak apa-apa jika harus berbeda. Keberanianmu untuk mengatakan “tidak” akan melindungi dirimu dari banyak masalah.
8. Miliki Rasa Empati dan Kepedulian Remaja bijak tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga orang lain. Belajarlah untuk memahami perasaan orang lain, bantu mereka yang kesulitan, dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarmu. Hal ini akan membuatmu menjadi pribadi yang lebih kaya hati dan dicintai banyak orang.
9. Berpikir Kritis dan Mencari Kebenaran Jangan mudah percaya pada hoaks atau informasi yang belum jelas kebenarannya. Biasakan untuk mencari tahu lebih dalam, membandingkan informasi dari berbagai sumber, dan bertanya pada ahli. Kemampuan berpikir kritis akan membantumu terhindar dari kesesatan informasi.
Masa remaja adalah fondasi untuk masa dewasamu. Dengan menjadi remaja yang bijak, kamu sedang membangun masa depan yang cerah dan penuh potensi. Jangan takut untuk berbuat salah, karena dari kesalahan kita belajar. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menjadi versi terbaik dari dirimu.
Daftar Referensi Sumber Terkini (Lengkap & Jelas):
Sebagai dasar ilmiah dari artikel di atas, berikut adalah referensi yang digunakan:
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024). Pedoman Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Jakarta: Kemenkes RI. (Fokus pada standar pelayanan kesehatan komprehensif untuk remaja di Puskesmas).
- WHO (World Health Organization) (2024). Adolescent Health and Development: Mental Health and Nutrition. [Online] Tersedia di: who.int. (Menjelaskan data global mengenai beban kesehatan mental pada usia 10-19 tahun).
- BKKBN (2024). Modul Generasi Berencana (GenRe) tentang Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). Jakarta: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. (Menekankan pada kesiapan fisik, mental, dan finansial sebelum berkeluarga).
- UNICEF Indonesia (2023-2024). The State of the World’s Children: On My Mind. (Laporan komprehensif mengenai kesehatan mental remaja di Indonesia pasca-transformasi digital).
- Jurnal Kesehatan Masyarakat (2024). Analisis Prevalensi Anemia dan Status Gizi pada Remaja Putri di Indonesia. (Digunakan untuk dasar edukasi nutrisi dan suplementasi Tablet Tambah Darah).
by Admin Kebidanan | Jan 21, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi D3 Kebidanan
Selama ini, istilah “Posyandu” selalu identik dengan bayi dan balita. Namun, tahukah Anda bahwa masa remaja merupakan window of opportunity kedua setelah masa seribu hari pertama kehidupan? Prodi DIII Kebidanan UAA menyoroti pentingnya Posyandu Remaja (Posrem) sebagai garda terdepan dalam memantau kesehatan generasi Z dan Alpha.
Apa Itu Posyandu Remaja?
Posyandu Remaja adalah kegiatan berbasis kesehatan masyarakat yang dikhususkan untuk remaja usia 10–19 tahun. Berbeda dengan klinis formal, Posrem mengedepankan pendekatan sebaya, di mana remaja diajak aktif menjadi kader untuk membantu teman-temannya sendiri.
Manfaat Utama Posyandu Remaja
Kehadiran Posyandu Remaja memberikan dampak yang signifikan, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental. Berikut adalah beberapa manfaat utamanya:
1. Pemantauan Pertumbuhan dan Deteksi Dini Anemia
Banyak remaja perempuan yang tidak menyadari bahwa mereka mengalami anemia. Di Posyandu, dilakukan pengecekan kadar Hemoglobin (Hb) dan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD). Hal ini krusial untuk mencegah stunting di masa depan ketika mereka menjadi ibu.
2. Konseling Kesehatan Mental dan Gaya Hidup
Posyandu menyediakan ruang aman bagi remaja untuk mencurahkan kegelisahan mereka, mulai dari masalah tekanan belajar hingga perundungan (bullying). Konseling dilakukan dengan bahasa yang ringan dan mudah diterima.
3. Edukasi Kesehatan Reproduksi
Remaja diberikan informasi yang akurat mengenai perubahan tubuh dan kesehatan reproduksi untuk menghindari perilaku berisiko, seperti pernikahan dini atau seks bebas, yang sering kali dipicu oleh informasi hoaks dari internet.
Alur Pelayanan Posyandu Remaja
Posyandu Remaja biasanya menggunakan sistem 5 Meja yang terorganisir untuk memastikan setiap aspek kesehatan terpantau:
- Meja 1 : Pendaftaran (Pendataan identitas remaja)
- Meja 2 : Penimbangan dan Ukur (Mengukur BB, TB, Tekanan Darah, dan Lingkar Lengan Atas (LILA))
- Meja 3 : Pencatatan (Mendokumentasikan hasil pengukuran di Buku Pemantauan Kesehatan Remaja)
- Meja 4 : Pelayanan Kesehatan (Pemberian vitamin, TTD, atau pemeriksaan medis dasar)
- Meja 5 : KIE (Edukasi) (Sosialisasi atau penyuluhan kelompok mengenai isu kesehatan terkini)
Kesehatan bukan hanya tentang tidak adanya penyakit, tetapi tentang keseimbangan fisik, mental, dan sosial. Posyandu Remaja adalah tempat di mana keseimbangan itu mulai dibentuk. Remaja yang sehat secara fisik dan cerdas secara emosional adalah kunci keberhasilan pembangunan nasional.
Artikel kesehatan yang menarik lainya bisa diakses di website Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang terbaik di Jogja dan terakreditasi Unggul.
Sumber Pustaka :
Kementerian Kesehatan RI. (2018). Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Posyandu Remaja. Jakarta: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat.
UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
Kementerian Kesehatan RI. (2018). Pedoman Standar Layanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Jakarta: Direktorat Kesehatan Keluarga.
by Admin Kebidanan | Jan 20, 2026 | Berita
Yogyakarta — Program Studi Sarjana Profesi Bidan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata kembali mencatatkan capaian membanggakan. Sejumlah mahasiswa terpilih sebagai Penerima Program Dukungan Pembiayaan UKT/SPP dari Kemendiktisaintek untuk Periode Ganjil Tahun Akademik 2025/2026.
Adapun mahasiswa yang berhasil memperoleh program dukungan tersebut adalah Ilmi Hikmatul Mawadah (angkatan 2022), Nur Khayatun Nufus (angkatan 2023), Arbillah Ahdah Ramadhani (2024), Alifia Ni’matur Rohmah (angkatan 2024), dan Elis Sutriani (angkatan 2022). Capaian ini menjadi bentuk apresiasi atas komitmen mahasiswa dalam menjalani proses pendidikan tinggi secara konsisten dan bertanggung jawab.
Program Dukungan Pembiayaan UKT/SPP Kemendiktisaintek merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mendukung keberlanjutan studi mahasiswa serta mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pendidikan dan kesehatan. Melalui program ini, mahasiswa diharapkan dapat semakin fokus dalam mengembangkan kompetensi akademik maupun profesional selama masa studi.
Pimpinan Program Studi Sarjana Profesi Bidan FKIK Universitas Alma Ata menyampaikan apresiasi atas capaian para mahasiswa penerima program. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh mahasiswa untuk terus berprestasi, menjaga integritas akademik, serta aktif berkontribusi dalam kegiatan pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat.
Universitas Alma Ata senantiasa berkomitmen untuk mendukung mahasiswa dalam mengoptimalkan potensi diri, baik melalui program akademik maupun fasilitasi berbagai skema dukungan pendidikan. Diharapkan, para penerima program ini kelak dapat menjadi bidan profesional yang unggul, berkarakter, dan memberikan dampak nyata bagi kesehatan ibu dan anak di Indonesia