Selamat dan sukses kepada Wahidatun Ni’mah, mahasiswa S1 Kebidanan angkatan 2023, atas pencapaian istimewanya menyelesaikan Khataman Bil Ghaib 30 Juz di Pondok Ndalem Dongkelan. Perjalanan menghafal Al-Qur’an yang ditempuh selama 2 tahun, 4 bulan, dan 13 hari ini menjadi bukti ketekunan dan komitmen luar biasa. Kegiatan Khotmil Qur’an yang diikuti oleh 24 peserta tersebut dilaksanakan di Hotel Burza, Jl. Jogokaryan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, pada Sabtu, 06 Desember 2025. Semoga capaian ini membawa keberkahan, memperkuat karakter, serta menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa Universitas Alma Ata.
Ingin menjadi Sarjana Bidan namun tetap bisa menjadi penghafal Al-Qur’an? Program Studi S1 Kebidanan Universitas Alma Ata siap membersamai Anda dengan pembelajaran yang komprehensif. Para dosen expert di bidang Ilmu Kebidanan siap membersamai anda untuk memahami teori dan praktik kebidanan berbasis evidence-based sehingga mampu memberikan pelayanan profesional dan ilmiah sehingga mampu mengambil keputusan klinis secara tepat.
Jadilah Sarjana Bidan profesional yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi memahami sains di balik praktik kebidanan dan islami.
Wujudkan passion Anda bersama Universitas Alma Ata.
YOGYAKARTA – Program Studi Diploma Tiga Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata (UAA) Yogyakarta, sukses menyelenggarakan Sharing Session pada Mata Kuliah Konsep Kebidanan bertajuk “Pengembangan Karir Bidan di Rumah Sakit”. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (25/11/2025) ini menghadirkan praktisi rumah sakit, Elvira Vita Auliana, A.Md.Keb, sebagai narasumber utama.
Dosen penanggungjawab Mata Kuliah Konsep Kebidanan, Bdn. Nelli Yendena, M.Keb, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menjembatani teori akademik dengan realita lapangan. “Mahasiswa perlu memahami bahwa peran bidan di rumah sakit sangat dinamis. Melalui sesi ini, kami ingin membuka wawasan mereka tentang integrasi filosofi kebidanan dalam praktik klinis serta dampaknya terhadap sistem karir,” ungkap Nelli.
Dalam paparannya, Elvira menekankan bahwa karir bidan di rumah sakit memiliki jenjang fungsional yang terstruktur, mulai dari Bidan Pelaksana, Pengelola, Pendidik (Preceptor), hingga Bidan Peneliti. Ia juga menjabarkan tiga pilar wewenang bidan—Mandiri, Kolaborasi, dan Rujukan—yang menjadi fondasi pelayanan di berbagai unit seperti IGD, Poli Obsgyn, VK, hingga Perinatal/NICU.
Poin menarik yang diangkat adalah integrasi idealisme profesi dengan kesejahteraan. Elvira menjelaskan bahwa penerapan Falsafah Women-Centered Care kini menjadi indikator penilaian kinerja. Artinya, bidan yang mampu memberikan asuhan humanis dan beretika tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan, tetapi juga berpeluang mendapatkan remunerasi dan promosi jabatan yang lebih baik.
“Kompetensi teknis (hard skill) itu mutlak, namun soft skill dan etika adalah kunci menaiki tangga karir. Rumah sakit membutuhkan bidan yang mampu memanusiakan pasien dalam kondisi apapun,” tegas Elvira di hadapan mahasiswa.
Menanggapi antusiasme mahasiswa, Ketua Program Studi DIII Kebidanan FKIK UAA, Dyah Pradnya Paramita, SST., M.Kes, menyampaikan apresiasinya. Ia menegaskan komitmen prodi untuk terus mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga siap kerja.
“Pemahaman mendalam mengenai struktur karir, wewenang, dan etika profesi ini sangat krusial. Harapannya, lulusan D3 Kebidanan UAA tidak canggung dan siap berkompetisi merebut peluang strategis di tatanan pelayanan kesehatan rujukan,” ujar Dyah Pradnya menutup kegiatan.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif mengenai strategi pertolongan pertama pada kegawatdaruratan maternal dan neonatal. Melalui diskusi ini, para mahasiswa D3 Kebidanan dapat memperdalam pemahaman pada keterampilan dasar sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi situasi darurat pada kasus nyata di lapangan. Interaksi yang terjadi tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga meneguhkan kesiapan mereka sebagai calon bidan untuk memberikan asuhan kebidanan yang cepat, tepat, dan aman pada ibu dan bayi dalam kondisi gawat darurat.
Keterangan Foto:
Foto Utama: Foto bersama Narasumber (Elvira Vita Auliana), Kaprodi (Dyah Pradnya), PJ MK (Nelli Yendena), dan mahasiswa.
Foto Pendukung: Suasana pemaparan materi mengenai jenjang karir dan wewenang bidan.
Dosen Prodi Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata
Merasa burnout dan haid jadi tidak lancar? Simak hubungan erat antara kesehatan mental Gen Z dan kesehatan reproduksi. Temukan solusinya bersama Prodi D3 Kebidanan.
Gen Z: Generasi Paling Sadar Mental Health, Tapi…
Istilah burnout, overthinking, anxiety, hingga healing sudah jadi makanan sehari-hari bagi Gen Z. Sebagai generasi yang tumbuh di era digital yang serba cepat, tekanan dari media sosial, akademik, hingga ekspektasi karir membuat Gen Z rentan mengalami stres.
Kita sering membahas kesehatan mental secara terpisah. Padahal, tahukah kamu? Kondisi “kepala” (mental) kita memiliki jalur tol langsung yang terhubung ke sistem reproduksi.
Banyak Gen Z yang datang ke Bidan dengan keluhan haid tidak teratur, nyeri parah, atau keputihan abnormal, tanpa menyadari bahwa akar masalahnya adalah stres yang tidak terkelola.
The Mind-Body Connection: Bagaimana Stres “Membajak” Hormonmu?
Ini bukan sekadar “perasaan” saja, tapi ada penjelasan biologisnya.
Ketika kamu stres berat (akibat tugas kuliah, masalah percintaan, atau tekanan keluarga), tubuh memproduksi hormon stres bernama Kortisol. Nah, Kortisol ini sifatnya agak “egois”.
Ketika level Kortisol tinggi, tubuh menganggap kamu sedang dalam bahaya. Akibatnya, otak akan menekan produksi hormon reproduksi (seperti Estrogen dan Progesteron) karena tubuh merasa “ini bukan waktu yang tepat untuk hamil atau subur”.
Dampaknya pada Kesehatan Reproduksi Gen Z:
Gangguan Siklus Haid (Amenorea & Oligomenorea): Pernahkah haidmu telat berbulan-bulan saat sedang skripsi atau ujian akhir? Itu adalah respon tubuh terhadap stres. Kondisi ini sering disebut Functional Hypothalamic Amenorrhea (FHA).
PMS yang Lebih “Brutal” (PMDD): Gen Z yang memiliki riwayat kecemasan atau depresi berisiko lebih tinggi mengalami Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Ini adalah versi parah dari PMS, di mana perubahan mood bisa sangat ekstrem hingga mengganggu fungsi sosial.
Perilaku Seksual Berisiko: Kesehatan mental yang buruk seringkali menurunkan kemampuan pengambilan keputusan. Studi menunjukkan remaja yang depresi atau cemas cenderung lebih rentan terlibat dalam perilaku seksual berisiko sebagai bentuk coping mechanism (pelarian) yang salah.
Peran Bidan:
Di sinilah pentingnya peran Bidan di era modern. Bidan bagi Gen Z bukan hanya tempat untuk melahirkan nanti, tapi konselor kesehatan holistik saat ini.
Dalam pendidikan D3 Kebidanan, mahasiswa diajarkan untuk melihat pasien secara utuh (biopsikososial). Bidan dapat:
Mendeteksi apakah gangguan haid murni masalah fisik atau dipicu oleh stres psikologis.
Memberikan konseling kesehatan reproduksi yang ramah remaja (tanpa menghakimi).
Memberikan edukasi gizi untuk menyeimbangkan hormon.
Tips “Healing” untuk Reproduksi Sehat
Buat kamu Gen Z yang ingin menjaga kesehatan mental sekaligus reproduksi, coba terapkan ini:
Validasi Perasaanmu: Tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja. Cari bantuan profesional (psikolog/bidan) jika stres mulai mengganggu fisik.
Tidur Cukup = Hormon Stabil: Begadang mengacaukan ritme sirkadian dan hormon reproduksi.
Nutrisi Sehat: Kurangi gula berlebih (boba, kopi susu manis) yang bisa memperburuk peradangan dan gejala PMS.
Gerak Tubuh: Olahraga melepaskan endorfin yang melawan kortisol.
Kesimpulan
Kesehatan mental dan kesehatan reproduksi adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Menjaga kewarasan mental berarti juga menjaga masa depan reproduksimu.
Di Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja, kami memahami dinamika ini. Kami mencetak bidan-bidan masa depan yang peka terhadap isu kesehatan mental remaja, siap menjadi sahabat curhat yang solutif dan medis.
Jaga pikiranmu, sayangi tubuhmu!
Referensi Jurnal:
Nisma, N., & Afriyani, R. (2020). Hubungan Tingkat Stres dengan Siklus Menstruasi pada Remaja Putri. Jurnal Aisyah: Jurnal Ilmu Kesehatan. (Referensi dasar yang memvalidasi hubungan langsung antara stres akademik/sosial dengan ketidakteraturan haid pada remaja).
Kusumadewi, S., & Yuliani, I. (2021). Kesehatan Mental dan Perilaku Seksual Berisiko pada Remaja. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental. (Menjelaskan kaitan antara kondisi mental yang buruk dengan keputusan terkait kesehatan reproduksi).
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). (2021). Mental Health Disorders in Adolescents. Committee Opinion. (Sumber global yang menekankan pentingnya skrining kesehatan mental dalam layanan kesehatan reproduksi remaja).
Dosen Prodi Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata
Sering alami nyeri haid parah? Jangan anggap remeh! Kenali perbedaan “period pain” biasa, endometriosis, & PCOS. Bidan Alma Ata siap dampingi Gen Z untuk kesehatan reproduksi optimal.
Nyeri Haid: Antara “Normal” dan “Ada Apa-Apa” – Gen Z Wajib Tahu!
Siapa di sini Gen Z yang sering merasa nyeri haid itu “sudah biasa”? Sakit perut, pegal-pegal, atau mood swing memang sering jadi teman bulanan. Tapi, tahukah kamu, nyeri haid yang parah hingga mengganggu aktivitas sehari-hari itu BUKAN hal yang normal?
Di era serba cepat ini, Gen Z adalah generasi yang melek informasi, peduli kesehatan mental, dan body positivity. Maka, sudah saatnya kita lebih mendengarkan sinyal tubuh, terutama terkait kesehatan reproduksi. Nyeri haid yang intens (dismenore berat) bisa jadi alarm dari kondisi serius seperti Endometriosis atau PCOS (Polycystic Ovary Syndrome).
Program Studi D3 Kebidanan hadir untuk membantu Gen Z memahami lebih dalam. Karena kesehatan reproduksi yang optimal adalah fondasi untuk hidup produktif dan bahagia!
Endometriosis: Ketika Jaringan Rahim “Nangkring” di Tempat Lain
Bayangkan jaringan yang seharusnya tumbuh di dalam rahim, malah “nyasar” dan tumbuh di luar rahim – misalnya di indung telur, saluran telur, atau bahkan di usus. Inilah Endometriosis.
Apa Gejalanya?
Nyeri haid parah: Seringkali lebih buruk dari nyeri haid biasa, bahkan bisa sampai pingsan.
Nyeri kronis di panggul: Nyeri terasa terus-menerus, bahkan di luar masa haid.
Nyeri saat berhubungan intim:Dyspareunia yang sangat mengganggu.
Nyeri saat buang air besar atau kecil: Terutama saat haid.
Kesulitan hamil: Jika tidak ditangani.
Kenapa Berbahaya? Jaringan yang nyasar ini tetap bereaksi terhadap hormon haid. Jadi, saat haid, ia akan ikut berdarah dan menyebabkan peradangan, pembentukan kista, dan jaringan parut. Ini yang memicu nyeri hebat dan berbagai komplikasi.
PCOS: Hormon Berantakan, Menstruasi Tak Teratur
PCOS adalah gangguan hormonal yang umum pada perempuan usia produktif. Ini menyebabkan indung telur menghasilkan terlalu banyak hormon androgen (hormon pria), yang mengganggu proses ovulasi (pelepasan sel telur).
Apa Gejalanya?
Menstruasi tidak teratur: Bisa sangat jarang, atau bahkan tidak haid sama sekali dalam beberapa bulan.
Pertumbuhan rambut berlebih: Di wajah, dada, punggung (hirsutisme).
Jerawat parah: Terutama di dagu dan rahang.
Penambahan berat badan: Sulit turun berat badan.
Rambut rontok: Menipisnya rambut kepala.
Kista kecil di indung telur: Terlihat saat USG.
Kesulitan hamil: Karena ovulasi yang tidak teratur.
Kenapa Berbahaya? Selain mengganggu kesuburan dan penampilan, PCOS meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan kanker endometrium jika tidak ditangani.
Gen Z, Jangan Anggap Remeh “Period Pain”!
Mendengarkan tubuh adalah bentuk self-love terbaik. Jika kamu mengalami salah satu atau kombinasi gejala di atas, jangan tunda untuk mencari bantuan profesional. Bidan adalah garda terdepan yang siap mendengarkan dan memberikan edukasi awal.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan?
Catat Siklus Haidmu: Pakai aplikasi pelacak haid. Catat kapan mulai, kapan selesai, seberapa parah nyeri, dan gejala lain yang kamu rasakan. Ini penting saat konsultasi!
Jangan Takut Bertanya: Curhat ke orang tua, guru BK, atau langsung ke fasilitas kesehatan.
Konsultasi ke Bidan atau Dokter: Hanya profesional yang bisa mendiagnosis Endometriosis atau PCOS melalui pemeriksaan fisik, USG, atau tes darah.
Kesimpulan: Bidan Alma Ata, Sahabat Kesehatan Reproduksi Gen Z!
Kesehatan reproduksi yang optimal adalah hak setiap Gen Z. Jangan biarkan nyeri haid menghalangi produktivitas dan kebahagiaanmu.
Di Program Studi D3 Kebidanan terbaik di Jogja, kami berdedikasi mencetak bidan-bidan yang kompeten, empatik, dan siap mendampingi perjalanan kesehatan reproduksi Gen Z, dari masa remaja hingga dewasa.
Yuk, jadi Gen Z yang #MelekKesehatanReproduksi.
Referensi:
Simamora, N., Purba, N., & Lubis, M. (2023). Gambaran Pengetahuan Remaja Putri tentang Dismenore (Nyeri Haid) dan Penanganannya. Jurnal Kebidanan Imelda. (Menyoroti kurangnya pengetahuan remaja tentang dismenore dan pentingnya edukasi).
Putri, D. A., & Sari, N. L. (2020). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Endometriosis pada Wanita Usia Reproduktif. Jurnal Kebidanan Indonesia. (Artikel ini mendukung relevansi endometriosis di kalangan wanita usia produktif, termasuk remaja akhir).
Wirawati, M. H., & Suryandari, N. (2019). Hubungan Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Terhadap Perilaku Pencegahan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Jurnal Kesehatan Reproduksi. (Mendukung pentingnya edukasi PCOS pada remaja).
Salah satu dosen Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata, Ibu Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb, resmi menerima kenaikan jabatan fungsional menjadi Lektor. Penyerahan Surat Keputusan Jabatan Fungsional (Jabfung) ini dilaksanakan dalam acara resmi yang diikuti oleh para dosen dari berbagai perguruan tinggi swasta di wilayah LLDIKTI V.
Kenaikan jabatan ini menjadi bukti konsistensi Program Studi dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia serta mendorong pengembangan karir dosen secara berkelanjutan. Selama ini, Ibu Lia aktif dalam berbagai kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi; pengajaran, penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat. Kontribusinya dalam berbagai inovasi pembelajaran turut memberikan dampak positif bagi peningkatan mutu akademik di lingkungan FKIK.
Program Studi menilai pencapaian ini sebagai langkah penting dalam memperkuat kualitas tenaga pendidik sekaligus menjadi motivasi bagi dosen lain untuk terus meningkatkan kompetensi akademik maupun profesional. Prestasi tersebut juga mempertegas komitmen Prodi dalam menciptakan lingkungan akademik yang suportif, berorientasi mutu, dan mendorong hadirnya pendidik yang unggul serta berdampak bagi masyarakat.
Dengan capaian ini, Program Studi Kebidanan semakin meneguhkan perannya dalam mendukung visi Universitas Alma Ata untuk menghadirkan pendidikan berkualitas dan menghasilkan lulusan yang kompeten serta siap menjawab tantangan masa depan.