by Admin Kebidanan | Mar 11, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Gaya hidup remaja saat ini telah mengalami pergeseran drastis akibat kemajuan teknologi dan perubahan lingkungan sosial. Fenomena ini sering disebut sebagai “era sedenter digital,” di mana aktivitas fisik menurun sementara konsumsi informasi dan makanan olahan meningkat tajam.
Gaya hidup tidak sehat pada remaja bukan sekadar masalah kemalasan, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara faktor lingkungan, psikologis, dan perkembangan teknologi. Pola hidup yang terbentuk di usia remaja berisiko 70% menetap hingga dewasa, memicu penyakit tidak menular (PTM) di masa depan.
1. Perilaku Sedenter dan “Screen Dependency”
Penyebab utama menurunnya aktivitas fisik adalah durasi penggunaan gawai yang berlebihan.
- Displacement Effect: Remaja menghabiskan rata-rata 6–8 jam di depan layar, yang secara langsung “menggantikan” waktu untuk berolahraga atau aktivitas luar ruangan.
- Gangguan Ritme Sirkadian: Paparan blue light di malam hari menunda produksi melatonin, menyebabkan kurang tidur kronis yang merusak metabolisme tubuh.
2. Lingkungan Obesogenik dan Pola Makan Malnutrisi
Remaja kini terpapar pada lingkungan yang mempromosikan makanan tinggi kalori namun rendah nutrisi (Ultra-Processed Foods/UPF).
- Pemasaran Digital: Algoritma media sosial sering kali menampilkan iklan makanan cepat saji yang ditargetkan secara personal.
- Emotional Eating: Sebagai bentuk pelarian dari stres akademik atau sosial, remaja cenderung mengkonsumsi makanan tinggi gula (dopamin rush) untuk regulasi emosi sesaat.
3. Tekanan Sosial dan Eksperimen Zat
Masa remaja adalah fase pencarian jati diri yang rentan terhadap pengaruh teman sebaya (peer pressure).
- Vaping dan E-Cigarettes: Tren penggunaan rokok elektrik meningkat pesat karena dianggap “lebih aman” dan memiliki variasi rasa, padahal riset terbaru dalam The Lancet (2024) menunjukkan dampak kerusakan paru yang setara dengan rokok konvensional pada remaja.
- Normalisasi Minuman Berenergi: Konsumsi berlebihan minuman berkafein tinggi untuk menunjang aktivitas belajar atau gaming hingga larut malam.
Strategi Intervensi: Memutus Rantai Kebiasaan Buruk
Pendekatan terbaik bukan melalui pelarangan total, melainkan melalui:
- Digital Detox: Menetapkan area bebas gawai di rumah (seperti di meja makan dan kamar tidur).
- Nudge Theory: Menyediakan pilihan camilan sehat yang mudah diakses di lingkungan sekolah dan rumah.
- Role Modeling: Orang tua harus menunjukkan perilaku hidup sehat terlebih dahulu sebelum menuntut perubahan pada anak.
Role Modeling tentang remaja bisa dipelajari di Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja yang terakreditasi Unggul.
Referensi
- Louise Holly, dkk, 2024/ Public health interventions to address digital determinants of children’s health and wellbeing. The Lancer Public Health.https://www.thelancet.com/journals/lanpub/article/PIIS2468-2667(24)00180-4/fulltext
- Jiaxin Guo, dkk. 2025. Adolescents’ ultra-processed food consumption status and its association with food literacy: a cross-sectional study in Chongqing, China. Front Nutr. 2025 Sep 11;12:1494896. doi: 10.3389/fnut.2025.1494896. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12460124/
- Alicia Chung, dkk. 2021. Adolescent Peer Influence on Eating Behaviors via Social Media: Scoping Review. J Med Internet Res. 2021 Jun 3;23(6):e19697. doi: 10.2196/19697. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8212626/
by Admin Kebidanan | Mar 10, 2026 | Berita
Mahasiswa Program Studi S1 Kebidanan Universitas Alma Ata, Elvia Putri Romanov, berkesempatan mengikuti kegiatan International Field Trip ke Singapura dan Malaysia sebagai bagian dari penguatan pengalaman belajar global serta pengembangan wawasan akademik di tingkat internasional.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk implementasi pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lingkungan akademik dan layanan kesehatan internasional. Melalui program ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami berbagai praktik, sistem, serta pengelolaan institusi pendidikan dan kesehatan di luar negeri.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, peserta melakukan kunjungan akademik ke beberapa institusi pendidikan dan layanan kesehatan terkemuka, yaitu:
- Rumah Sakit Canselor Tuanku Muhriz – Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM)
- International Islamic University Malaysia (IIUM)
- Universiti Sains Islam Malaysia (USIM)
Melalui kunjungan ini, mahasiswa dapat mempelajari secara langsung sistem layanan kesehatan yang diterapkan di rumah sakit pendidikan, sekaligus melihat bagaimana integrasi antara pendidikan, penelitian, dan praktik klinis dilakukan di tingkat internasional. Selain itu, kegiatan ini juga membuka peluang untuk memperluas jejaring akademik serta bertukar wawasan dengan lingkungan pendidikan global.
Partisipasi mahasiswa dalam kegiatan International Field Trip diharapkan dapat memperkaya perspektif keilmuan, meningkatkan kemampuan adaptasi dalam lingkungan internasional, serta memotivasi mahasiswa untuk terus mengembangkan kompetensi diri.
Program ini menjadi bagian dari komitmen Universitas Alma Ata dalam mendukung student mobility dan pembelajaran berbasis pengalaman global. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman lintas budaya yang penting dalam menghadapi tantangan dunia profesional di masa depan.
Melalui kegiatan ini diharapkan mahasiswa dapat membawa pengalaman dan wawasan baru yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di masa mendatang. 🌏✨
by Admin Kebidanan | Mar 9, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Apa Itu Campak?
Campak adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus. Penyakit ini sangat menular dan menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Virus dapat bertahan di udara hingga dua jam, sehingga risiko penularan sangat tinggi, terutama pada anak yang belum diimunisasi.
Lonjakan Kasus Campak di Indonesia Tahun 2025
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sepanjang tahun 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak dan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium, dengan 69 kematian. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kenaikan kasus suspek lebih dari 100%.
Beberapa wilayah di Indonesia bahkan melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak. Peningkatan ini dikaitkan dengan cakupan imunisasi yang belum merata serta adanya anak yang belum mendapatkan vaksin lengkap. Data ini menjadi pengingat bahwa campak bukan penyakit ringan dan masih menjadi ancaman nyata bagi kesehatan anak di Indonesia.
Gejala Campak yang Perlu Diwaspadai
Gejala penyakit campak biasanya muncul 7–14 hari setelah penderita terpapar virus. Gejala penyakit campak meliputi:
- Demam tinggi
- Batuk, pilek, dan mata merah berair
- Bintik putih di dalam mulut (bintik Koplik)
- Ruam merah yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh
Anak yang mengalami gejala tersebut perlu segera diperiksa ke fasilitas kesehatan.
Komplikasi yang Bisa Terjadi
Campak dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada balita dan anak dengan daya tahan tubuh lemah, seperti:
- Pneumonia
- Diare berat dan dehidrasi
- Infeksi telinga
- Ensefalitis (radang otak)
- Kematian pada kasus berat
Jadwal Vaksinasi Campak (MMR)
Meskipun dapat menyebabkan kematian, sebetulnya penularan penyakit campak dapat dicegah melalui imunisasi MMR (Measles, Mumps, Rubella). Imunisasi ini diberikan 2x, yaitu pada saat anak berusia 12-15 bulan, selanjutnya diberikan kembali pada usia 4-6 tahun. Pemberian imunisasi secara lengkap dapat memberikan perlindungan hingga 97% terhadap campak.
Di Indonesia, imunisasi campak masuk dalam program imunisasi nasional sesuai jadwal dari Kementerian Kesehatan. Oleh karenanya masyarakat dapat memperoleh imunisasi ini secara gratis di tempat pelayanan kesehatan, seperti Puskesmas.
Kesimpulan
Campak adalah penyakit menular yang dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian pada anak. Penularan penyakit ini dapat dicegah melalui imunisasi. Lonjakan penyakit campak di Indonesia pada tahun 2025 menjadi peringatan penting bahwa imunisasi tidak boleh diabaikan. Pastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Temukan artikel menarik lainnya terkait kesehatan ibu dan anak di Website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan Terbaik di Jogja dan Terakreditasi UGGUL.
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Surveilans Campak Nasional 2025.
- World Health Organization. Measles Fact Sheet (2023).
- Centers for Disease Control and Prevention. Measles (Rubeola) (2024).
- Patel MK, et al. Progress Toward Regional Measles Elimination. MMWR (2019).
- Moss WJ. Measles. The Lancet (2017).
by Admin Kebidanan | Mar 6, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Dahulu, penyakit campak sering dianggap sebagai “ritual kelulusan” bagi anak-anak sesuatu yang pasti dilewati dan dianggap tidak berbahaya. Namun, data terbaru di Indonesia menunjukkan realitas yang memilukan. Kita tidak sedang menghadapi penyakit ringan, melainkan sebuah ancaman serius yang kembali mewabah akibat runtuhnya benteng pertahanan kita: Imunisasi.
Tragedi yang Bisa Dicegah: Mengapa Anak-Anak Menjadi Korban?
Laporan terbaru menunjukkan lonjakan kasus campak di berbagai provinsi di Indonesia yang telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Yang paling menyesakkan dada adalah fakta bahwa mayoritas pasien yang dirawat, bahkan yang hingga kehilangan nyawa, adalah anak-anak yang sama sekali belum pernah mendapatkan imunisasi Campak-Rubella (MR).
Campak bukan sekadar ruam merah. Virus ini menyebabkan immune amnesia, yang menghapus memori sistem kekebalan tubuh anak terhadap penyakit lain. Artinya, setelah terkena campak, anak menjadi sangat rentan terkena infeksi paru-paru (pneumonia) dan radang otak (ensefalitis) yang mematikan.
Gerakan Antivaksin yang Mematikan
Mewabahnya kembali campak di Indonesia bukan sekadar masalah akses medis, melainkan hasil dari perang narasi. Munculnya gerakan antivaksin yang masif di media sosial telah menyebarkan benih ketakutan yang tidak berdasar di hati para orang tua.
Hoaks tentang kandungan vaksin atau efek samping yang dilebih-lebihkan telah menciptakan kelompok masyarakat yang ragu-ragu (vaccine hesitancy). Dampaknya nyata dan berdarah: cakupan imunisasi menurun drastis, “kekebalan kelompok” runtuh, dan virus campak pun menemukan jalannya untuk menyerang anak-anak yang tidak berdosa. Setiap nyawa anak yang melayang akibat wabah ini adalah pengingat bahwa misinformasi di layar ponsel kita bisa membunuh di dunia nyata.
Tak Hanya Anak-Anak: Risiko pada Orang Dewasa & Ibu Hamil
Jangan salah, campak juga mengincar orang dewasa yang belum memiliki kekebalan. Gejala pada orang dewasa seringkali jauh lebih berat, dengan risiko komplikasi hati (hepatitis) dan gagal napas.
Namun, perhatian terbesar dalam dunia kebidanan adalah risiko pada Ibu Hamil. Jika seorang ibu hamil tertular campak:
- Risiko Keguguran: Infeksi virus yang menyebabkan demam sangat tinggi dapat memicu kontraksi dini atau keguguran.
- Persalinan Prematur: Tubuh yang berjuang melawan virus campak seringkali terpaksa melahirkan bayi sebelum waktunya, yang berisiko pada keselamatan bayi (BBLR).
- Keselamatan Ibu: Ibu hamil memiliki sistem imun yang lebih sensitif, sehingga komplikasi paru-paru akibat campak bisa menjadi sangat fatal bagi sang ibu.
Di tengah carut-marutnya informasi, Bidan berdiri sebagai sosok yang paling dipercaya oleh para ibu. Peran bidan kini bertransformasi menjadi pejuang literasi kesehatan:
- Bidan berperan memastikan setiap wanita usia subur memiliki status imunisasi yang baik sebelum merencanakan kehamilan, guna mencegah risiko infeksi selama masa mengandung.
- Bidan adalah orang pertama yang memegang buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Melalui tangan bidan, edukasi tentang pentingnya imunisasi dasar lengkap diberikan secara humanis untuk menangkal doktrin antivaksin yang beredar di lingkungan warga.
Kasus campak yang merenggut nyawa anak-anak Indonesia adalah tragedi nasional yang seharusnya tidak terjadi di abad ke-21. Kita tidak boleh kalah oleh narasi tanpa dasar yang hanya membawa duka.
Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, kami melatih para calon bidan untuk memiliki keberanian intelektual menghadapi tantangan gerakan antivaksin. Sebagai prodi terakreditasi Unggul dan salah satu yang terbaik di Jogja, kami berkomitmen mencetak bidan yang cerdas, empatik, dan siap berdiri di garis terdepan untuk menyelamatkan setiap nyawa ibu dan anak Indonesia dari ancaman wabah yang bisa dicegah.
Mari kita kembali ke jalur medis yang benar. Imunisasi adalah bukti cinta paling nyata untuk melindungi buah hati kita.
Referensi:
- Kementerian Kesehatan RI. (2024). Laporan Situasi Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di Indonesia.
- Mina, M. J., et al. (2019). Measles virus infection diminishes preexisting antibodies that offer protection from other pathogens. Science. (Studi tentang dampak campak terhadap sistem imun jangka panjang).
- Larson, H. J., et al. (2022). The State of Vaccine Confidence in South East Asia. The Lancet. (Membahas pengaruh misinformasi terhadap cakupan imunisasi).
- World Health Organization (WHO). (2024). Measles and Pregnancy: Risk Factors and Prevention Strategies.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2023). Rekomendasi Imunisasi Kejar di Tengah Wabah Campak.
by Admin Kebidanan | Mar 5, 2026 | Artikel
Written by Bdn. Adenia Dwi Ristanti, M.Tr.Keb.
Puasa merupakan ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi bagi umat Muslim. Namun, bagi ibu hamil, keputusan untuk berpuasa sering kali menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan bagi diri sendiri dan janin yang dikandung. Secara medis, kehamilan adalah kondisi fisiologis yang membutuhkan perhatian khusus terhadap keseimbangan nutrisi, cairan, serta stabilitas metabolisme tubuh.
Perubahan Fisiologis Saat Hamil dan Berpuasa
Selama kehamilan, tubuh ibu mengalami berbagai perubahan metabolik. Kebutuhan energi meningkat untuk mendukung pertumbuhan janin, pembentukan plasenta, serta perubahan jaringan tubuh ibu. Laju metabolisme basal meningkat sekitar 15–20%, dan terjadi perubahan hormonal yang memengaruhi metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein.
Saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 12–14 jam (bahkan lebih, tergantung lokasi geografis). Dalam kondisi ini, kadar glukosa darah akan menurun secara bertahap, lalu tubuh mulai menggunakan cadangan glikogen dan lemak sebagai sumber energi. Pada ibu hamil, proses ini dapat berlangsung lebih cepat karena kebutuhan energi yang lebih tinggi. Adaptasi ini sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh, namun perlu diperhatikan agar tidak terjadi kekurangan energi atau dehidrasi.
Dampak Puasa terhadap Ibu dan Janin
Berdasarkan berbagai penelitian terbaru hingga tahun 2025, sebagian besar studi menunjukkan bahwa puasa pada ibu hamil yang sehat dan tanpa komplikasi tidak secara konsisten meningkatkan risiko berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, atau gangguan skor Apgar. Namun, beberapa penelitian tetap menemukan variasi kecil pada berat lahir bayi, terutama bila asupan nutrisi ibu saat sahur dan berbuka tidak mencukupi.
Secara fisiologis, janin mendapatkan nutrisi melalui plasenta yang berfungsi sebagai sistem distribusi zat gizi dari ibu. Jika ibu mengalami penurunan asupan kalori dan cairan secara signifikan dalam waktu lama tanpa kompensasi nutrisi yang baik di luar jam puasa, maka potensi gangguan pertumbuhan janin dapat meningkat.
Selain itu, dehidrasi menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Kekurangan cairan dapat menyebabkan ibu merasa lemas, pusing, hingga memicu kontraksi dini pada sebagian kasus tertentu. Oleh karena itu, hidrasi optimal saat berbuka dan sahur sangat penting.
Trimester Kehamilan dan Pertimbangan Risiko
Trimester pertama sering dikaitkan dengan mual muntah yang cukup berat. Pada kondisi ini, puasa dapat memperberat gejala dan meningkatkan risiko kekurangan nutrisi. Trimester kedua umumnya dianggap sebagai periode paling stabil dalam kehamilan, sehingga sebagian ibu merasa lebih mampu menjalani puasa. Sementara pada trimester ketiga, kebutuhan energi meningkat pesat karena pertumbuhan janin yang cepat, sehingga pemantauan kondisi ibu dan janin menjadi sangat penting.
Ibu dengan kondisi khusus seperti anemia, diabetes gestasional, hipertensi dalam kehamilan, riwayat kelahiran prematur, atau gangguan pertumbuhan janin sebaiknya berkonsultasi lebih lanjut sebelum memutuskan untuk berpuasa.
Perspektif Ilmiah Jangka Panjang
Beberapa kajian terbaru juga membahas konsep “programming janin”, yaitu bagaimana kondisi nutrisi selama kehamilan dapat memengaruhi kesehatan anak di masa depan. Meskipun bukti mengenai dampak jangka panjang puasa Ramadan masih belum konklusif, para peneliti menyarankan agar kecukupan nutrisi tetap menjadi prioritas utama untuk mendukung pertumbuhan optimal janin. Artinya, puasa bukan semata-mata persoalan boleh atau tidak, tetapi lebih pada bagaimana menjaga keseimbangan nutrisi dan memastikan kondisi kesehatan ibu tetap stabil.
Prinsip Aman Berpuasa bagi Ibu Hamil
Secara umum, ibu hamil yang ingin berpuasa perlu memperhatikan beberapa prinsip penting. Asupan sahur sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta cukup serat agar energi bertahan lebih lama. Cairan harus dipenuhi secara bertahap dari waktu berbuka hingga sahur untuk mencegah dehidrasi. Suplementasi zat besi, asam folat, dan kalsium tetap harus dikonsumsi sesuai anjuran tenaga kesehatan. Apabila muncul tanda bahaya seperti pusing berat, lemas ekstrem, nyeri perut hebat, kontraksi teratur, atau penurunan gerakan janin, maka puasa sebaiknya segera dihentikan dan ibu perlu mendapatkan evaluasi medis.
Kesimpulan
Secara ilmiah, puasa pada ibu hamil yang sehat tidak selalu berbahaya dan dalam banyak penelitian tidak menunjukkan dampak negatif yang signifikan terhadap luaran kehamilan. Namun, setiap kehamilan bersifat unik. Kondisi kesehatan ibu, usia kehamilan, status nutrisi, serta riwayat obstetri menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan. Pendekatan terbaik adalah keputusan yang bersifat individual, berdasarkan konsultasi medis dan pemantauan yang tepat. Dengan perencanaan nutrisi yang baik, hidrasi yang cukup, serta pemantauan kesehatan secara berkala, ibu hamil dapat mempertimbangkan puasa dengan lebih aman dan bertanggung jawab.
Referensi
Glazier JD, Hayes DJL, Hussain S, D’Souza SW, Whitcombe J, Heazell AEP. The effect of Ramadan fasting during pregnancy on perinatal outcomes: An umbrella review. Int J Gynecol Obstet. 2025;168(2):345–356.
Bakhsh H, Al-Raddadi R, Al-Malki A, et al. Ramadan fasting and its impact on fetal Doppler indices and perinatal outcomes in healthy pregnant women: A prospective cohort study. Pak J Med Sci. 2025;41(1):112–118.
Musa AB, Ibrahim SM, Lawal AO, et al. Maternal fasting during pregnancy and birth weight outcomes in a sub-Saharan population. BMC Pregnancy Childbirth. 2025;25:148.