Kolaborasi Mahasiswa Profesi Bidan  Bersama Puskesmas Imogiri 1 Dorong Deteksi Dini Kanker Serviks Melalui Edukasi IVA

Kolaborasi Mahasiswa Profesi Bidan Bersama Puskesmas Imogiri 1 Dorong Deteksi Dini Kanker Serviks Melalui Edukasi IVA

Kanker serviks masih menjadi salah satu masalah kesehatan perempuan yang memerlukan perhatian serius, baik di Indonesia maupun dunia. Penyakit ini sering kali terlambat terdeteksi karena pada tahap awal umumnya tidak menimbulkan gejala yang jelas. Padahal, kanker serviks dapat dicegah dan dideteksi lebih dini melalui pemeriksaan rutin.

Sebagai bentuk upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker serviks, Kolaborasi Kebidanan Komunitas Dronco & Gejayan bersama Puskesmas Imogiri 1 mengadakan kegiatan edukasi kesehatan dan motivasi pemeriksaan IVA bagi masyarakat pada Senin, 25 Mei 2026 di Musholla Al-Ikhlas.

Kegiatan yang dilaksanakan pada pukul 17.00-selesai tersebut diikuti oleh masyarakat dengan antusias. Edukasi diberikan secara langsung oleh tenaga kesehatan bersama tim kebidanan komunitas sebagai upaya meningkatkan pemahaman perempuan mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi sejak dini.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diberikan penjelasan mengenai kanker serviks, faktor risiko, tanda dan gejala, serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Salah satu fokus utama edukasi adalah pentingnya pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) sebagai metode deteksi dini kanker serviks yang sederhana, aman, cepat, dan efektif dilakukan bagi perempuan usia produktif.

Tim kesehatan menjelaskan bahwa pemeriksaan IVA merupakan salah satu metode skrining yang mudah dijangkau masyarakat dan dapat membantu menemukan perubahan pada leher rahim sebelum berkembang menjadi kanker serviks. Dengan deteksi dini, penanganan dapat dilakukan lebih cepat sehingga peluang kesembuhan menjadi lebih besar.

Selain memberikan edukasi kesehatan, tim juga memberikan motivasi kepada masyarakat agar tidak takut atau malu melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin. Banyak perempuan masih merasa khawatir atau enggan melakukan pemeriksaan karena kurangnya informasi dan rasa takut terhadap hasil pemeriksaan. Oleh karena itu, edukasi yang diberikan juga menekankan pentingnya membangun kesadaran bahwa pemeriksaan kesehatan reproduksi merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas hidup perempuan.

“Kanker serviks dapat dicegah apabila perempuan rutin melakukan deteksi dini. Pemeriksaan IVA adalah langkah sederhana namun sangat penting untuk mengetahui kondisi kesehatan reproduksi sejak awal,” ujar salah satu tenaga kesehatan dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata pelayanan kesehatan berbasis komunitas yang bertujuan mendekatkan edukasi kesehatan kepada masyarakat secara langsung. Kolaborasi antara Kebidanan Komunitas Dronco & Gejayan bersama Puskesmas Imogiri 1 diharapkan mampu meningkatkan kepedulian masyarakat, khususnya perempuan, terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan reproduksi secara berkala.

Masyarakat yang hadir juga tampak aktif mengikuti sesi edukasi dan diskusi. Banyak peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertanya mengenai kesehatan reproduksi perempuan, pemeriksaan IVA, serta cara menjaga kesehatan agar terhindar dari berbagai penyakit reproduksi.

Tim Kebidanan Komunitas dan Puskesmas Imogiri 1 berharap kegiatan edukasi kesehatan seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan sebagai upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak perempuan yang sadar akan pentingnya deteksi dini kanker serviks serta lebih berani melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin demi menjaga kesehatan dan kualitas hidup di masa depan.

Ibu Hamil dengan Obesitas dan Hipertensi Boleh Makan Daging Kurban? Boleh, Asalkan Patuhi Aturan Berikut Ini!

Ibu Hamil dengan Obesitas dan Hipertensi Boleh Makan Daging Kurban? Boleh, Asalkan Patuhi Aturan Berikut Ini!

Momen Idul Adha identik dengan berbagai hidangan berbahan dasar daging kurban seperti sate, gulai, rendang, hingga tongseng. Namun, bagi ibu hamil, terutama yang memiliki kondisi obesitas dan hipertensi, konsumsi daging kurban sering menimbulkan kekhawatiran tersendiri terkait keamanan bagi kesehatan ibu maupun janin. Meski demikian, daging kurban sebenarnya tetap dapat dikonsumsi oleh ibu hamil selama diolah dengan tepat dan tidak berlebihan. Daging merah seperti sapi dan kambing justru mengandung berbagai nutrisi penting yang dibutuhkan selama kehamilan, mulai dari protein, zat besi, vitamin B12, hingga zinc yang berperan dalam mendukung pertumbuhan janin dan menjaga kesehatan ibu.

Menurut Dosen S1 Kebidanan Alma Ata, Ratih Devi Alfiana, S.ST., M.Keb, konsumsi daging kurban bagi ibu hamil tidak perlu dihindari sepenuhnya, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing. “Daging merah mengandung zat besi dan protein yang sangat dibutuhkan selama kehamilan. Namun, bagi ibu hamil dengan obesitas atau hipertensi, pemilihan jenis daging, cara pengolahan, dan porsinya harus lebih diperhatikan agar tidak memicu komplikasi selama kehamilan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa ibu hamil dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi seperti diabetes gestasional dan preeklampsia. Sementara itu, hipertensi dalam kehamilan juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius bagi ibu dan janin apabila tidak terkontrol dengan baik. Karena itu, pengolahan daging kurban menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Daging sebaiknya dimasak hingga matang sempurna untuk menghindari risiko infeksi bakteri maupun parasit seperti Toxoplasma gondii, Salmonella, dan Listeria yang berbahaya bagi janin.

Selain itu, ibu hamil juga dianjurkan menghindari konsumsi bagian daging yang gosong akibat pembakaran karena mengandung senyawa yang kurang baik bagi kesehatan dalam jangka panjang. Bagi ibu hamil dengan obesitas, pemilihan daging tanpa lemak atau lean meat sangat dianjurkan. Konsumsi jeroan, tetelan, maupun makanan tinggi lemak sebaiknya dibatasi. Porsi makan juga perlu dikontrol dengan memperbanyak sayur dan sumber serat agar asupan kalori tetap seimbang.

Sementara pada ibu hamil dengan hipertensi, perhatian utama perlu diberikan pada kandungan garam dan santan dalam masakan. Penggunaan garam, kecap, penyedap rasa, serta bumbu instan sebaiknya dibatasi untuk membantu menjaga tekanan darah tetap stabil. “Banyak hidangan Idul Adha menggunakan santan dan garam dalam jumlah tinggi. Padahal, pada ibu hamil dengan hipertensi, konsumsi makanan tinggi natrium dapat memicu peningkatan tekanan darah. Karena itu, alternatif seperti sup bening atau olahan panggang rendah minyak lebih dianjurkan,” jelasnya.

Ibu Ratih, juga menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan, termasuk bidan, dalam memberikan edukasi kepada ibu hamil terkait pola makan sehat selama kehamilan, terutama saat momen hari raya.

Menurutnya, edukasi mengenai pemilihan makanan yang sehat perlu terus dilakukan agar ibu hamil tetap dapat menikmati momen kebersamaan keluarga tanpa mengabaikan kondisi kesehatannya.

“Kehamilan bukan berarti ibu tidak boleh menikmati makanan favorit saat Idul Adha. Yang terpenting adalah memilih bahan makanan yang sehat, mengolahnya dengan benar, serta mengontrol porsinya agar kesehatan ibu dan janin tetap terjaga,” tutupnya.

Referensi

  • [1] The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Nutrition During Pregnancy.
  • [2] World Health Organization (WHO). Guideline: Nutritional interventions during pregnancy. Geneva: World Health Organization.
  • [3] Centers for Disease Control and Prevention, & Food and Drug Administration. (2024). Food safety for pregnant women and their unborn babies. U.S. Department of Health and Human Services. 
  • [4] Kementrian Kesehatan, R. (2023). Pedoman Gizi Seimbang untuk Ibu Hamil dan Menyusui. Jakarta: Kemenkes RI. 

[5] The American College of Obstetricians and Gynecologists. (2020). Gestational hypertension and preeclampsia. ACOG Practice Bulletin, Number 222. Obstetrics & Gynecology, 135(6), e237-e260.

Obesitas Anak Jadi Ancaman Global, Dosen S1 Kebidanan Alma Ata Ingatkan Pentingnya Peran Bidan dalam Pencegahan Sejak Dini

Obesitas Anak Jadi Ancaman Global, Dosen S1 Kebidanan Alma Ata Ingatkan Pentingnya Peran Bidan dalam Pencegahan Sejak Dini

Obesitas pada anak merupakan salah satu tantangan kesehatan masyarakat paling serius di abad ke-21. Masalah ini bersifat global dan terus memengaruhi banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama di lingkungan perkotaan. Prevalensinya meningkat dengan laju yang mengkhawatirkan. Secara global pada tahun 2024, jumlah anak yang kelebihan berat badan di bawah usia 5 tahun diperkirakan mencapai lebih dari 35 juta. Hampir setengah dari semua anak yang kelebihan berat badan di bawah usia 5 tahun tinggal di Asia dan seperempatnya tinggal di Afrika. Anak-anak yang kelebihan berat badan dan obesitas cenderung tetap obesitas hingga dewasa dan lebih mungkin mengembangkan penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular pada usia yang lebih muda. Kelebihan berat badan dan obesitas, serta penyakit terkaitnya, sebagian besar dapat dicegah. Oleh karena itu, pencegahan obesitas pada anak perlu menjadi prioritas utama.

Apa itu overweigth dan obesitas ?
Kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas didefinisikan sebagai “penumpukan lemak abnormal atau berlebihan yang menimbulkan risiko bagi kesehatan”. Ukuran yang paling umum digunakan untuk mengukur kelebihan berat badan dan obesitas adalah rasio berat badan terhadap tinggi badan pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Indeks Massa Tubuh (BMI) adalah indeks sederhana untuk mengklasifikasikan kelebihan berat badan dan obesitas pada anak usia sekolah, remaja, dan orang dewasa. Indeks ini didefinisikan sebagai berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam meter (kg/m2).

Mengapa mengetahui overweigth dan obesitas pada anak-anak penting?
Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga semakin banyak ditemukan di kawasan perkotaan negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk di Asia. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena anak yang mengalami overweight dan obesitas berisiko tinggi tetap mengalami obesitas hingga dewasa dan lebih rentan terkena penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung di usia muda.

Apa penyebab overweigth dan obesitas pada anak-anak?
Menurut Dosen  S1 Kebidanan Alma Ata, Arantika Meidya Pratiwi, M.Kes., yang memiliki fokus kajian pada anak prasekolah, obesitas pada anak merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius sejak dini.

“Banyak orang tua menganggap anak gemuk adalah tanda anak sehat, padahal jika berlebihan justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang. Masa prasekolah merupakan periode penting untuk membentuk pola makan dan aktivitas fisik yang sehat,” ungkapnya.

Menurutnya, obesitas pada anak terjadi akibat ketidakseimbangan antara kalori yang masuk dan energi yang dikeluarkan tubuh. Pola konsumsi makanan tinggi gula, tinggi lemak, minim serat, serta rendahnya aktivitas fisik menjadi faktor utama meningkatnya kasus obesitas anak saat ini.

Selain itu, perkembangan teknologi juga turut memengaruhi gaya hidup anak. Anak-anak kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dibandingkan bermain aktif di luar rumah.

Apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan mencegah obesitas pada anak?
Arantika menambahkan bahwa pencegahan obesitas pada anak memerlukan keterlibatan banyak pihak, termasuk tenaga kesehatan, keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Dalam hal ini, bidan memiliki peran penting dalam edukasi kesehatan keluarga sejak dini.

“Peran bidan tidak hanya mendampingi ibu saat kehamilan dan persalinan, tetapi juga berperan dalam pemantauan tumbuh kembang anak, memberikan edukasi gizi seimbang, mendukung pemberian ASI eksklusif, serta mengedukasi orang tua mengenai pentingnya aktivitas fisik dan pola hidup sehat pada anak,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa edukasi kepada orang tua sangat penting, terutama pada keluarga dengan anak usia prasekolah. Menurutnya, kebiasaan makan sehat perlu dibentuk sejak dini agar anak tidak mengalami masalah kesehatan di kemudian hari.

WHO sendiri merekomendasikan beberapa langkah pencegahan obesitas pada anak, di antaranya membatasi ukuran porsi makan, meningkatkan konsumsi buah dan sayur, mengurangi asupan gula dan lemak jenuh, serta memastikan anak melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari.

Dengan meningkatnya angka obesitas anak secara global, Arantika berharap masyarakat semakin sadar bahwa pencegahan harus dimulai dari lingkungan keluarga dan dilakukan sedini mungkin.

“Anak yang sehat bukan hanya dilihat dari berat badannya, tetapi juga dari pola hidup, tumbuh kembang, dan kualitas kesehatannya secara menyeluruh. Karena itu, pendampingan orang tua dan tenaga kesehatan, termasuk bidan, sangat dibutuhkan,” tutupnya.

Referensi:

  1. WHO. 2025. Noncommunicable diseases: Childhood overweight and obesity.
  2. GBD 2021 Risk Factor Collaborators. “Global Burden of 88 Risk Factors in 204 Countries and Territories, 1990–2021: a systematic analysis for the Global Burden of Disease study 2021”. Lancet. 2024; 403:2162-2203.
Mahasiswa Profesi Bidan Universitas Alma Ata Resmi Memulai Stase Community Midwifery Practice di Kalurahan Girirejo, Imogiri, Bantul

Mahasiswa Profesi Bidan Universitas Alma Ata Resmi Memulai Stase Community Midwifery Practice di Kalurahan Girirejo, Imogiri, Bantul

Kegiatan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD 1) menjadi agenda pembukaan sekaligus penyerahan mahasiswa Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata dalam pelaksanaan Stase Community Midwifery Practice yang dilaksanakan di Kalurahan Girirejo. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam rangkaian praktik kebidanan komunitas yang akan berlangsung selama empat minggu, mulai tanggal 11 Mei hingga 6 Juni 2026, sebagai bentuk implementasi pembelajaran profesi bidan berbasis komunitas dan pengabdian kepada masyarakat.

Acara MMD 1 berlangsung dengan penuh antusias dan dihadiri oleh berbagai pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan, mulai dari unsur pemerintah desa, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, hingga civitas akademika. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Jurusan Kebidanan Dr. Siti Nurunniyah, S.ST., M.Kes menyampaikan sambutan sekaligus pesan kepada mahasiswa agar mampu menjalankan praktik profesi dengan menjunjung tinggi etika, komunikasi yang baik, serta kepekaan terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat. Beliau juga menegaskan bahwa stase komunitas menjadi wadah penting bagi mahasiswa untuk belajar langsung bersama masyarakat serta mengembangkan keterampilan promotif, preventif, dan kolaboratif dalam pelayanan kebidanan.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Sekretaris Desa Jaka Purnama yang mewakili pemerintah kalurahan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa profesi bidan di wilayah Girirejo dan berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam peningkatan kesadaran dan pelayanan kesehatan ibu, anak, serta keluarga. Selain itu, hadir pula Bidan dari Puskesmas Imogiri 1 yang memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program komunitas dan kolaborasi lintas sektor selama kegiatan berlangsung.

Selama pelaksanaan Stase Community Midwifery Practice, mahasiswa akan menjalankan berbagai program kebidanan komunitas yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayah, meliputi edukasi kesehatan, pendampingan ibu hamil, pelayanan kesehatan reproduksi, promosi gizi keluarga, pemberdayaan kader kesehatan, serta kegiatan preventif dan promotif lainnya. Mahasiswa juga diharapkan mampu membangun hubungan yang baik dengan masyarakat melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif bersama perangkat desa, tenaga kesehatan, kader, maupun tokoh masyarakat setempat.

Melalui kegiatan MMD 1 ini diharapkan tercipta sinergi yang kuat antara institusi pendidikan, pemerintah desa, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat dalam mendukung proses pembelajaran mahasiswa profesi bidan sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. Kegiatan ini juga menjadi bentuk komitmen Universitas Alma Ata dalam menghasilkan lulusan bidan profesional yang adaptif, berdaya saing, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Khansa Nabila Resmi Terpilih sebagai Ketua HIMABI 2026: Membawa Semangat Baru yang Progresif

Khansa Nabila Resmi Terpilih sebagai Ketua HIMABI 2026: Membawa Semangat Baru yang Progresif

Selamat dan Sukses atas Terpilihnya Ketua HIMABI Periode 2026

Himpunan Mahasiswa Kebidanan (HIMABI) Universitas Alma Ata mengucapkan selamat dan sukses kepada Khansa Nabila Mahasiswa Prodi Sarjana Kebidanan (2024) atas terpilihnya sebagai Ketua HIMABI periode 2026. Kepercayaan yang telah diberikan ini menjadi amanah besar dalam melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi menuju arah yang lebih baik.

Dengan mengusung visi untuk mewujudkan HIMABI yang religius, berakhlak mulia, progresif, kolaboratif, serta berjiwa sosial, diharapkan kepemimpinan baru ini mampu mencetak mahasiswa kebidanan yang profesional dan siap menghadapi era transformasi kesehatan. Visi tersebut menjadi landasan penting dalam membangun organisasi yang tidak hanya aktif, tetapi juga berdampak nyata.

Sejalan dengan visi tersebut, berbagai misi strategis telah dirancang, mulai dari pelaksanaan program kerja yang inovatif dan berorientasi pada peningkatan kompetensi mahasiswa, menciptakan ruang aspirasi yang terbuka, hingga memperkuat solidaritas antaranggota dan menjaga nama baik program studi kebidanan. Nilai-nilai keagamaan juga menjadi fondasi utama dalam setiap langkah organisasi.

Program kerja yang telah dipaparkan menunjukkan komitmen kuat dalam pengembangan mahasiswa, baik melalui kegiatan pengabdian masyarakat seperti penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan, peningkatan kompetensi melalui kompetisi dan webinar, hingga penguatan internal organisasi melalui kegiatan kebersamaan dan kolaborasi antarhimpunan. Tidak hanya itu, bidang kewirausahaan, media sosial, serta keagamaan juga menjadi bagian penting dalam membentuk karakter mahasiswa yang unggul dan berintegritas.

Dengan strategi yang terstruktur, evaluasi berkala, serta keterlibatan aktif seluruh anggota, diharapkan seluruh program kerja dapat terlaksana secara optimal dan berkelanjutan.

Semoga di bawah kepemimpinan yang baru, HIMABI Universitas Alma Ata semakin solid, inovatif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi mahasiswa, institusi, maupun masyarakat luas.

Selamat mengemban amanah dan selamat berkarya.