Kolaborasi Mahasiswa Profesi Bidan  Bersama Puskesmas Imogiri 1 Dorong Deteksi Dini Kanker Serviks Melalui Edukasi IVA

Kolaborasi Mahasiswa Profesi Bidan Bersama Puskesmas Imogiri 1 Dorong Deteksi Dini Kanker Serviks Melalui Edukasi IVA

Kanker serviks masih menjadi salah satu masalah kesehatan perempuan yang memerlukan perhatian serius, baik di Indonesia maupun dunia. Penyakit ini sering kali terlambat terdeteksi karena pada tahap awal umumnya tidak menimbulkan gejala yang jelas. Padahal, kanker serviks dapat dicegah dan dideteksi lebih dini melalui pemeriksaan rutin.

Sebagai bentuk upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker serviks, Kolaborasi Kebidanan Komunitas Dronco & Gejayan bersama Puskesmas Imogiri 1 mengadakan kegiatan edukasi kesehatan dan motivasi pemeriksaan IVA bagi masyarakat pada Senin, 25 Mei 2026 di Musholla Al-Ikhlas.

Kegiatan yang dilaksanakan pada pukul 17.00-selesai tersebut diikuti oleh masyarakat dengan antusias. Edukasi diberikan secara langsung oleh tenaga kesehatan bersama tim kebidanan komunitas sebagai upaya meningkatkan pemahaman perempuan mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi sejak dini.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diberikan penjelasan mengenai kanker serviks, faktor risiko, tanda dan gejala, serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Salah satu fokus utama edukasi adalah pentingnya pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) sebagai metode deteksi dini kanker serviks yang sederhana, aman, cepat, dan efektif dilakukan bagi perempuan usia produktif.

Tim kesehatan menjelaskan bahwa pemeriksaan IVA merupakan salah satu metode skrining yang mudah dijangkau masyarakat dan dapat membantu menemukan perubahan pada leher rahim sebelum berkembang menjadi kanker serviks. Dengan deteksi dini, penanganan dapat dilakukan lebih cepat sehingga peluang kesembuhan menjadi lebih besar.

Selain memberikan edukasi kesehatan, tim juga memberikan motivasi kepada masyarakat agar tidak takut atau malu melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin. Banyak perempuan masih merasa khawatir atau enggan melakukan pemeriksaan karena kurangnya informasi dan rasa takut terhadap hasil pemeriksaan. Oleh karena itu, edukasi yang diberikan juga menekankan pentingnya membangun kesadaran bahwa pemeriksaan kesehatan reproduksi merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas hidup perempuan.

“Kanker serviks dapat dicegah apabila perempuan rutin melakukan deteksi dini. Pemeriksaan IVA adalah langkah sederhana namun sangat penting untuk mengetahui kondisi kesehatan reproduksi sejak awal,” ujar salah satu tenaga kesehatan dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata pelayanan kesehatan berbasis komunitas yang bertujuan mendekatkan edukasi kesehatan kepada masyarakat secara langsung. Kolaborasi antara Kebidanan Komunitas Dronco & Gejayan bersama Puskesmas Imogiri 1 diharapkan mampu meningkatkan kepedulian masyarakat, khususnya perempuan, terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan reproduksi secara berkala.

Masyarakat yang hadir juga tampak aktif mengikuti sesi edukasi dan diskusi. Banyak peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertanya mengenai kesehatan reproduksi perempuan, pemeriksaan IVA, serta cara menjaga kesehatan agar terhindar dari berbagai penyakit reproduksi.

Tim Kebidanan Komunitas dan Puskesmas Imogiri 1 berharap kegiatan edukasi kesehatan seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan sebagai upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak perempuan yang sadar akan pentingnya deteksi dini kanker serviks serta lebih berani melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin demi menjaga kesehatan dan kualitas hidup di masa depan.

Ibu Hamil dengan Obesitas dan Hipertensi Boleh Makan Daging Kurban? Boleh, Asalkan Patuhi Aturan Berikut Ini!

Ibu Hamil dengan Obesitas dan Hipertensi Boleh Makan Daging Kurban? Boleh, Asalkan Patuhi Aturan Berikut Ini!

Momen Idul Adha identik dengan berbagai hidangan berbahan dasar daging kurban seperti sate, gulai, rendang, hingga tongseng. Namun, bagi ibu hamil, terutama yang memiliki kondisi obesitas dan hipertensi, konsumsi daging kurban sering menimbulkan kekhawatiran tersendiri terkait keamanan bagi kesehatan ibu maupun janin. Meski demikian, daging kurban sebenarnya tetap dapat dikonsumsi oleh ibu hamil selama diolah dengan tepat dan tidak berlebihan. Daging merah seperti sapi dan kambing justru mengandung berbagai nutrisi penting yang dibutuhkan selama kehamilan, mulai dari protein, zat besi, vitamin B12, hingga zinc yang berperan dalam mendukung pertumbuhan janin dan menjaga kesehatan ibu.

Menurut Dosen S1 Kebidanan Alma Ata, Ratih Devi Alfiana, S.ST., M.Keb, konsumsi daging kurban bagi ibu hamil tidak perlu dihindari sepenuhnya, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing. “Daging merah mengandung zat besi dan protein yang sangat dibutuhkan selama kehamilan. Namun, bagi ibu hamil dengan obesitas atau hipertensi, pemilihan jenis daging, cara pengolahan, dan porsinya harus lebih diperhatikan agar tidak memicu komplikasi selama kehamilan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa ibu hamil dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi seperti diabetes gestasional dan preeklampsia. Sementara itu, hipertensi dalam kehamilan juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius bagi ibu dan janin apabila tidak terkontrol dengan baik. Karena itu, pengolahan daging kurban menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Daging sebaiknya dimasak hingga matang sempurna untuk menghindari risiko infeksi bakteri maupun parasit seperti Toxoplasma gondii, Salmonella, dan Listeria yang berbahaya bagi janin.

Selain itu, ibu hamil juga dianjurkan menghindari konsumsi bagian daging yang gosong akibat pembakaran karena mengandung senyawa yang kurang baik bagi kesehatan dalam jangka panjang. Bagi ibu hamil dengan obesitas, pemilihan daging tanpa lemak atau lean meat sangat dianjurkan. Konsumsi jeroan, tetelan, maupun makanan tinggi lemak sebaiknya dibatasi. Porsi makan juga perlu dikontrol dengan memperbanyak sayur dan sumber serat agar asupan kalori tetap seimbang.

Sementara pada ibu hamil dengan hipertensi, perhatian utama perlu diberikan pada kandungan garam dan santan dalam masakan. Penggunaan garam, kecap, penyedap rasa, serta bumbu instan sebaiknya dibatasi untuk membantu menjaga tekanan darah tetap stabil. “Banyak hidangan Idul Adha menggunakan santan dan garam dalam jumlah tinggi. Padahal, pada ibu hamil dengan hipertensi, konsumsi makanan tinggi natrium dapat memicu peningkatan tekanan darah. Karena itu, alternatif seperti sup bening atau olahan panggang rendah minyak lebih dianjurkan,” jelasnya.

Ibu Ratih, juga menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan, termasuk bidan, dalam memberikan edukasi kepada ibu hamil terkait pola makan sehat selama kehamilan, terutama saat momen hari raya.

Menurutnya, edukasi mengenai pemilihan makanan yang sehat perlu terus dilakukan agar ibu hamil tetap dapat menikmati momen kebersamaan keluarga tanpa mengabaikan kondisi kesehatannya.

“Kehamilan bukan berarti ibu tidak boleh menikmati makanan favorit saat Idul Adha. Yang terpenting adalah memilih bahan makanan yang sehat, mengolahnya dengan benar, serta mengontrol porsinya agar kesehatan ibu dan janin tetap terjaga,” tutupnya.

Referensi

  • [1] The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Nutrition During Pregnancy.
  • [2] World Health Organization (WHO). Guideline: Nutritional interventions during pregnancy. Geneva: World Health Organization.
  • [3] Centers for Disease Control and Prevention, & Food and Drug Administration. (2024). Food safety for pregnant women and their unborn babies. U.S. Department of Health and Human Services. 
  • [4] Kementrian Kesehatan, R. (2023). Pedoman Gizi Seimbang untuk Ibu Hamil dan Menyusui. Jakarta: Kemenkes RI. 

[5] The American College of Obstetricians and Gynecologists. (2020). Gestational hypertension and preeclampsia. ACOG Practice Bulletin, Number 222. Obstetrics & Gynecology, 135(6), e237-e260.

Kolaborasi Kebidanan Komunitas Dronco & Gejayan Gelar Cek Kesehatan Gratis Bersama Puskesmas Imogiri 1 sebagai Upaya Peningkatan Kesadaran Kesehatan Masyarakat

Kolaborasi Kebidanan Komunitas Dronco & Gejayan Gelar Cek Kesehatan Gratis Bersama Puskesmas Imogiri 1 sebagai Upaya Peningkatan Kesadaran Kesehatan Masyarakat

Dalam rangka meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan sejak dini, Kolaborasi Kebidanan Komunitas Dronco & Gejayan bersama Puskesmas Imogiri 1 menyelenggarakan kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan pada Senin, 25 Mei 2026 bertempat di Musholla Al-Ikhlas.

Kegiatan yang berlangsung pada pukul 19.30-selesai ini menjadi salah satu bentuk pelayanan kesehatan promotif dan preventif yang ditujukan untuk membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya secara dini sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin. Kegiatan Cek Kesehatan Gratis ini mendapat sambutan hangat dan antusiasme tinggi dari masyarakat sekitar. Warga hadir untuk memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan yang disediakan serta mengikuti edukasi kesehatan yang diberikan oleh tim tenaga kesehatan dan mahasiswa kebidanan komunitas.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan pemeriksaan kesehatan dasar seperti pengecekan tekanan darah, pemeriksaan kondisi kesehatan umum, serta konsultasi kesehatan sederhana terkait keluhan yang dialami masyarakat sehari-hari. Pemeriksaan ini bertujuan membantu masyarakat melakukan deteksi dini terhadap berbagai penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melitus yang saat ini semakin banyak ditemukan di lingkungan masyarakat. Selain pemeriksaan kesehatan, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Materi edukasi meliputi pengaturan pola makan bergizi seimbang, pentingnya aktivitas fisik rutin, menjaga berat badan ideal, mengurangi konsumsi gula dan garam berlebih, serta pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Tim kesehatan menjelaskan bahwa banyak penyakit tidak menular sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal sehingga masyarakat perlu melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin sebagai langkah pencegahan dan deteksi dini. Dengan mengetahui kondisi kesehatan lebih awal, penanganan dapat dilakukan lebih cepat sehingga risiko komplikasi penyakit dapat diminimalkan.

Kolaborasi kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata sinergi antara institusi pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pendekatan langsung di lingkungan komunitas. Tim Kebidanan Komunitas Dronco & Gejayan bersama tenaga kesehatan dari Puskesmas Imogiri 1 berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan, melakukan pemeriksaan secara rutin, serta menerapkan pola hidup sehat sejak dini.

“Kegiatan cek kesehatan gratis ini tidak hanya menjadi sarana pelayanan kesehatan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi media edukasi agar masyarakat lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya sendiri. Harapannya, masyarakat dapat lebih aktif melakukan pencegahan penyakit sebelum muncul komplikasi yang lebih serius,” ujar salah satu tim pelaksana kegiatan.

Kegiatan berlangsung dengan lancar, interaktif, dan penuh semangat kebersamaan. Masyarakat juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang dinilai sangat bermanfaat dan membantu meningkatkan wawasan kesehatan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan dapat terus meningkat sehingga tercipta masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan peduli terhadap upaya pencegahan penyakit sejak dini.

Mahasiswa Profesi Bidan Universitas Alma Ata Resmi Memulai Stase Community Midwifery Practice di Kalurahan Girirejo, Imogiri, Bantul

Mahasiswa Profesi Bidan Universitas Alma Ata Resmi Memulai Stase Community Midwifery Practice di Kalurahan Girirejo, Imogiri, Bantul

Kegiatan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD 1) menjadi agenda pembukaan sekaligus penyerahan mahasiswa Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata dalam pelaksanaan Stase Community Midwifery Practice yang dilaksanakan di Kalurahan Girirejo. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam rangkaian praktik kebidanan komunitas yang akan berlangsung selama empat minggu, mulai tanggal 11 Mei hingga 6 Juni 2026, sebagai bentuk implementasi pembelajaran profesi bidan berbasis komunitas dan pengabdian kepada masyarakat.

Acara MMD 1 berlangsung dengan penuh antusias dan dihadiri oleh berbagai pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan, mulai dari unsur pemerintah desa, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, hingga civitas akademika. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Jurusan Kebidanan Dr. Siti Nurunniyah, S.ST., M.Kes menyampaikan sambutan sekaligus pesan kepada mahasiswa agar mampu menjalankan praktik profesi dengan menjunjung tinggi etika, komunikasi yang baik, serta kepekaan terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat. Beliau juga menegaskan bahwa stase komunitas menjadi wadah penting bagi mahasiswa untuk belajar langsung bersama masyarakat serta mengembangkan keterampilan promotif, preventif, dan kolaboratif dalam pelayanan kebidanan.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Sekretaris Desa Jaka Purnama yang mewakili pemerintah kalurahan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa profesi bidan di wilayah Girirejo dan berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam peningkatan kesadaran dan pelayanan kesehatan ibu, anak, serta keluarga. Selain itu, hadir pula Bidan dari Puskesmas Imogiri 1 yang memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program komunitas dan kolaborasi lintas sektor selama kegiatan berlangsung.

Selama pelaksanaan Stase Community Midwifery Practice, mahasiswa akan menjalankan berbagai program kebidanan komunitas yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayah, meliputi edukasi kesehatan, pendampingan ibu hamil, pelayanan kesehatan reproduksi, promosi gizi keluarga, pemberdayaan kader kesehatan, serta kegiatan preventif dan promotif lainnya. Mahasiswa juga diharapkan mampu membangun hubungan yang baik dengan masyarakat melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif bersama perangkat desa, tenaga kesehatan, kader, maupun tokoh masyarakat setempat.

Melalui kegiatan MMD 1 ini diharapkan tercipta sinergi yang kuat antara institusi pendidikan, pemerintah desa, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat dalam mendukung proses pembelajaran mahasiswa profesi bidan sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. Kegiatan ini juga menjadi bentuk komitmen Universitas Alma Ata dalam menghasilkan lulusan bidan profesional yang adaptif, berdaya saing, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Mengenal D-MER (Dysphoric Milk Ejection Reflex): Ketika Hormon Menyusui Memicu Gelombang Kesedihan

Mengenal D-MER (Dysphoric Milk Ejection Reflex): Ketika Hormon Menyusui Memicu Gelombang Kesedihan

written by Prasetya Lestari, S.ST., M.Kes

Menyusui sering kali digambarkan sebagai momen magis yang penuh kehangatan dan memperkuat bonding ibu dan bayi. Namun, realitanya tidak selalu demikian bagi semua orang. Bagi sebagian ibu, momen menjelang ASI menetes justru diiringi oleh gelombang kesedihan, kegelisahan, atau bahkan kemarahan yang datang tiba-tiba. Hal ini bukantanda kurangnya kasih sayang kepada bayi, bukan tanda ibu yang buruk, dan bukan sebuah kegagalan. Fenomena ini dikenal dengan sebutan D-MER (Dysphoric Milk Ejection Reflex).

Apa Itu D-MER?

Dysphoric Milk Ejection Reflex (D-MER) adalah kondisi neurobiologis seorang ibu menyusui mengalami penurunan suasana hati atau emosi negatif yang intens, mendadak, dan tidak beralasan, tepat sebelum ASI menetes (fase let-down reflex). Kondisi ini bisa muncul sesaat sebelum bayi mulai mengisap, sebelum ibu memerah ASI menggunakan pompa, atau bahkan ketika payudara tiba-tiba terasa penuh dan ASI merembes dengan sendirinya. Hal yang paling membedakan D-MER dengan kondisi psikologis lainnya adalah durasinya. Perasaan tidak menyenangkan ini hanya berlangsung sangat singkat, biasanya kurang dari 5 menit (bahkan sering kali hanya berkisar 30 detik hingga 2 menit), lalu menghilang tanpa jejak seiring mengalirnya ASI.

Mengapa Ini Terjadi? 

D-MER pada dasarnya bukanlah gangguan psikologis, melainkan murni respons anomali fisiologis dan hormonal. Hal ini terjadi tarik ulur hormon prolaktin dan dopamine. Mari kita kenali mekanisme kinerja hormon bekerja di dalam otak saat proses laktasi terjadi.

  1. Kebutuhan Prolaktin: Saat puting dirangsang oleh isapan bayi atau hisapan pompa, otak (kelenjar pituitari) harus segera memproduksi dan melepaskan hormon prolaktin secara cepat untuk memproduksi ASI.
  2. Peran Dopamin: Di dalam tubuh, dopamin (neurotransmiter yang sering dikaitkan dengan perasaan senang dan rileks) bertindak sebagai penekan atau penghambat pelepasan prolaktin. Agar kadar prolaktin bisa melonjak naik untuk menghasilkan ASI, kadar dopamin di dalam otak harus turun secara serentak.
  3. Anomali pada D-MER: Pada ibu menyusui tanpa D-MER, penurunan dopamin ini terjadi dengan halus sehingga tidak memengaruhi suasana hati secara drastis. Namun pada ibu yang mengalami D-MER, penurunan dopamin ini terjadi terlalu tajam atau tidak proporsional. Akibatnya, sistem saraf merespons defisit dopamin sesaat yang ekstrem tersebut dengan memicu emosi negatif atau disforia. Begitu prolaktin stabil, dopamin kembali normal dan perasaan sedih pun lenyap seakan tak pernah terjadi.

Gejala D-MER: Spektrum Emosi yang Dirasakan

Spektrum emosi yang dirasakan akibat D-MER bervariasi pada setiap ibu, mulai dari tingkat ringan hingga berat. Beberapa sensasi spesifik yang sering dilaporkan meliputi:

  • Perasaan sedih yang mendalam (seperti ingin menangis tiba-tiba).
  • Gelisah, cemas, khawatir, atau panik tanpa alasan yang jelas.
  • Perasaan hampa atau seperti ada yang “jatuh” di ulu hati (hollow or sinking feeling in the stomach).
  • Marah, jengkel, atau frustrasi.
  • Rasa rindu rumah (homesickness) yang tidak rasional, meskipun sedang berada di rumah sendiri.
  • Keinginan sesaat yang tak tertahankan untuk menarik bayi atau pompa ASI dari payudara.

Penting untuk Dicatat: D-MER Berbeda dengan Postpartum Depression (PPD) D-MER sering kali salah didiagnosis sebagai depresi pascapersalinan atau baby blues. Padahal, PPD memengaruhi suasana hati ibu sepanjang hari secara menetap dan berlangsung setidaknya selama dua minggu. Sebaliknya, D-MER hanya terikat pada saat refleks keluarnya ASI terjadi dan langsung menghilang setelahnya. Di luar momen menyusui atau memompa, suasana hati ibu dengan D-MER umumnya normal.

Strategi Manajemen Atasi D-MER

Prevalensi D-MER memengaruhi sekitar 5-15% ibu menyusui. Kabar baiknya, kondisi ini cenderung akan mereda dengan sendirinya seiring berjalannya waktu dan penyesuaian hormon (biasanya setelah bayi berusia beberapa bulan). Namun, ada beberapa strategi yang terbukti efektif untuk membantu ibu menghadapi kondisi ini setiap harinya:

  1. Teknik Distraksi (Pengalihan Perhatian)

Karena gejala D-MER datang dan pergi dengan sangat cepat, mengalihkan perhatian otak pada detik-detik let-downterjadi terbukti sangat membantu. Ibu dapat mencoba:

  • Minum air es yang sangat dingin sesaat sebelum mulai menyusui.
  • Mengunyah camilan bertekstur, mengisap permen, atau mendengarkan musik yang upbeat.
  • Menonton video lucu atau mengobrol ringan.
  • Melakukan latihan pernapasan dalam (deep breathing) atau meditasi terpandu singkat.
  • Modifikasi Gaya Hidup

Gaya hidup sebagai salah satu faktor yang dapat memperburuk D-MER. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meminimalkan D-MER antara lain:

  • Hindari dehidrasi dengan perbanyak asupan cairan.
  • Kelola stres dan kelelahan, kurang tidur berdampak besar pada sensitivitas tubuh terhadap hormon dan stabilitas dopamin.
  • Kurangi asupan kafein, pada sebagian kasus, asupan kafein yang tinggi dapat memicu kegelisahan tambahan saat let-down reflek terjadi.
  • Konsultasi Medis Profesional

Bagi sebagian kecil ibu, D-MER dirasakan sangat parah hingga menimbulkan keengganan untuk menyusui. Pada kasus berat seperti ini, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti Konselor Laktasi Bersertifikat (IBCLC) atau dokter kebidanan/psikiater. Tenaga medis dapat mengevaluasi perawatan secara komprehensif, mulai dari terapi pendukung hingga tindakan medis jika diindikasikan.

Kesimpulan: Menyusui dengan kondisi D-MER ibarat dipaksa menaiki rollercoaster emosional beberapa kali dalam sehari. Jika Ibu atau seseorang yang Anda kenal mengalaminya, validasi dan terimalah perasaan tersebut. Berikan dukungan penuh dan ingatlah kembali bahwa fluktuasi hormonlah yang memicunya, bukan kurangnya rasa cinta seorang ibu kepada anaknya.

Referensi 

  1. Heise, A. M., & Wiessinger, D. (2011). Dysphoric milk ejection reflex: A case report. International Breastfeeding Journal, 6(1), 6.
  2. Ureño, J., et al. (2019). Dysphoric Milk Ejection Reflex: A Case Series. Breastfeeding Medicine, 14(10), 762-764.
  3. Ahmed, M., Mahmud, A., Mughal, S., & Shah, H.H. (2024). Dysphoric milk ejection reflex – call for future trials. Archives of Gynecology and Obstetrics, 310(1), 627-630.
  4. Kacir, E., et al. (2024). Dysphoric milk ejection reflex: prevalence and associations with self-reported mental health history. Women’s Health.
  5. Australian Breastfeeding Association (ABA). (2025). Dysphoric Milk Ejection Reflex (D-MER). (Panduan Klinis Dukungan Laktasi Maternal).