by Admin Kebidanan | Apr 28, 2026 | Berita
Lulusan Terbaik S1 Kebidanan Universitas Alma Ata Wisuda Periode April 2026
Universitas Alma Ata kembali meluluskan mahasiswa terbaik dari Program Studi S1 Kebidanan pada wisuda periode April 2026. Salah satu lulusan terbaik, Sitti Hadianti Kunsi (Dhea), berhasil menyelesaikan pendidikan dengan capaian yang membanggakan melalui proses pembelajaran yang penuh tantangan dan bermakna.
Selama menempuh pendidikan, Dhea mengungkapkan bahwa pengalaman akademik yang diperoleh tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkuat kompetensi serta profesionalisme sebagai bidan. Pembelajaran yang diberikan, baik secara teori maupun praktik, dinilai sangat mendukung kesiapan dalam menghadapi dunia kerja.
“Proses pembelajaran yang saya lalui sangat menantang namun bermakna. Ilmu dan pengalaman yang saya peroleh benar-benar membantu saya menjadi lebih siap sebagai tenaga kesehatan,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan harapannya agar Program Studi S1 Kebidanan Universitas Alma Ata terus berkembang dan konsisten dalam mencetak lulusan yang kompeten, berintegritas, serta siap menghadapi berbagai tantangan di bidang kesehatan.
Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan mengembangkan diri, serta memperkuat peran lulusan kebidanan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di masyarakat.
by Admin Kebidanan | Apr 23, 2026 | Berita
Universitas Alma Ata kembali mencatatkan momen bersejarah melalui penyelenggaraan Wisuda Tahun 2026 yang dilaksanakan pada 22 April 2026 di The Rich Hotel Yogyakarta. Sebanyak 277 wisudawan dan wisudawati secara resmi dikukuhkan sebagai lulusan, menandai keberhasilan dalam menempuh pendidikan tinggi serta kesiapan untuk memasuki dunia profesional.
Di antara para lulusan tersebut, mahasiswa Program Studi Sarjana Kebidanan Universitas Alma Ata turut menjadi bagian penting dalam prosesi wisuda ini. Kehadiran para wisudawati kebidanan mencerminkan keberhasilan institusi dalam mencetak tenaga kesehatan yang kompeten, berintegritas, serta siap berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya pada bidang kesehatan ibu dan anak.
Prosesi wisuda berlangsung dengan khidmat dan penuh kebanggaan, dihadiri oleh pimpinan universitas, dosen, serta keluarga wisudawan. Momentum ini tidak hanya menjadi simbol kelulusan, tetapi juga wujud apresiasi atas perjuangan, kerja keras, dan dedikasi mahasiswa selama menjalani proses pendidikan.
Sebagai bagian dari 277 lulusan Universitas Alma Ata Tahun 2026, mahasiswa Sarjana Kebidanan diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh secara profesional di tengah masyarakat. Mereka diharapkan menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan yang humanis, berbasis evidence, dan berorientasi pada keselamatan ibu dan anak.
Universitas Alma Ata menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada seluruh wisudawan dan wisudawati, khususnya lulusan Sarjana Kebidanan. Semoga capaian ini menjadi awal dari perjalanan pengabdian yang bermakna, serta membawa kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
by Admin Kebidanan | Apr 21, 2026 | Artikel
Created by: Fatimatasari, M.Keb., Bd
Skripsi sering terasa seperti beban terakhir sebelum lulus. Padahal, jika dimaknai dengan cara yang lebih utuh, skripsi adalah kesempatan berharga untuk melihat sejauh mana kita berkembang selama menempuh pendidikan tinggi. Ia bukan hanya tentang menulis, tetapi tentang belajar memahami ilmu secara lebih dalam, berpikir lebih matang, dan bertanggung jawab atas apa yang kita kerjakan.
Cara mahasiswa menjalani proses skripsi sering kali mencerminkan bagaimana ia akan bekerja dan bersikap setelah lulus. Karena itu, skripsi sebenarnya bukan sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan proses yang bisa memperkuat diri.
1. Skripsi tumbuh dari proses belajar yang dijalani
Ide penelitian tidak harus selalu besar atau rumit. Ia bisa lahir dari hal sederhana: pengalaman praktik, hal yang pernah diamati, atau pertanyaan yang muncul selama kuliah.
Semakin kita terlibat dalam proses belajar sebelumnya, biasanya semakin mudah menemukan ide yang bermakna. Namun, jika merasa masih bingung, itu juga bagian yang wajar. Skripsi justru menjadi ruang untuk mulai belajar melihat masalah dengan lebih peka dan terarah.
2. Skripsi melatih kejujuran dalam menyampaikan ilmu
Dalam menyusun skripsi, mahasiswa belajar satu hal penting: bertanggung jawab terhadap setiap kalimat yang ditulis.
Tidak perlu sempurna, tetapi penting untuk jujur. Mengutip sumber dengan benar, memahami maknanya, dan menyampaikan sesuai fakta adalah langkah kecil yang membangun integritas besar.
Dari proses ini, integritas bukan hanya diperlukan dalam ranah akademik, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam menjalani peran dan tanggung jawab di masa depan, di mana kepercayaan sering kali dibangun dari sikap yang konsisten yang konsisten dan bisa dipercaya dalam setiap tindakan.
3. Skripsi membantu membangun pola pikir yang terarah
Skripsi bukan tentang banyaknya halaman, tetapi tentang bagaimana mahasiswa menyusun pemikiran yang runtut dan dapat dipahami.
Dalam prosesnya, mahasiswa belajar merancang penelitian yang:
- memiliki alur logika yang jelas,
- menggunakan metode yang tepat,
- serta dapat dipertanggungjawabkan hasilnya.
Semua ini tidak harus langsung sempurna. Justru melalui proses bimbingan dan revisi, mahasiswa belajar memperbaiki cara berpikirnya agar lebih terarah. Kemampuan ini menjadi bekal penting, karena membantu dalam mengambil keputusan secara rasional, bukan sekadar berdasarkan perkiraan dan akan terus terpakai, baik di dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari.
4. Skripsi melatih keseimbangan antara mempertahankan gagasan dan menerima masukan
Dalam proses penyusunan skripsi, mahasiswa belajar untuk memiliki argumen yang kuat dalam menentukan topik, metode, hingga hasil penelitian.
Di saat yang sama, skripsi juga menjadi ruang untuk belajar menerima masukan dari dosen pembimbing maupun penguji. Masukan tersebut bukan untuk menggugurkan ide, tetapi untuk membantu memperbaiki dan memperkuat penelitian agar menjadi lebih baik.
Dari proses ini, mahasiswa belajar menyeimbangkan dua hal penting: mempertahankan gagasan dengan dasar yang tepat, sekaligus terbuka terhadap perbaikan. Sikap ini menjadi bekal berharga, karena dalam kehidupan akademik maupun profesional, kemampuan untuk berdiskusi, mendengar, dan menyesuaikan diri dengan masukan adalah bagian penting dari perkembangan diri yang berkelanjutan
5. Skripsi mengajarkan keberanian untuk belajar dari kekurangan
Tidak ada skripsi yang benar-benar tanpa kekurangan. Justru dalam prosesnya, mahasiswa belajar melihat:
- apa yang sudah baik,
- dan apa yang masih bisa diperbaiki.
Kemampuan untuk mengakui keterbatasan bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan akademik.
Dari sinilah sikap kritis tumbuh—tidak hanya terhadap teori, tetapi juga terhadap karya sendiri, sebagai bekal yang sangat penting untuk mendorong perbaikan diri secara berkelanjutan
6. Skripsi adalah proses yang menghargai kejujuran, bukan kesempurnaan
Hasil penelitian tidak harus selalu sesuai harapan. Dan itu tidak apa-apa.
Yang terpenting adalah prosesnya jujur. Data ditampilkan apa adanya, tanpa perlu diubah agar terlihat “ideal”. Skripsi yang jujur justru memberikan kontribusi yang lebih bermakna, karena dapat menjadi pembelajaran bagi orang lain di masa depan.
7. Skripsi melatih kesiapan menghadapi dunia nyata
Selama menyusun skripsi, mahasiswa belajar banyak hal di luar akademik:
- berkomunikasi dengan dosen,
- mengurus perizinan,
- belajar dan bekerja sama dengan sejawat,
- hingga mengelola waktu dan emosi.
Proses ini mungkin melelahkan, tetapi juga sangat membentuk. Tanpa disadari, keterampilan-keterampilan inilah yang nantinya akan membantu dalam dunia profesional.
Skripsi sebagai perjalanan mengenal diri
Skripsi bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tetapi tentang perjalanan mengenal diri sendiri—bagaimana kita berpikir, bersikap, dan bertanggung jawab.
Merasa lelah dalam prosesnya adalah hal yang manusiawi. Namun, di balik setiap langkah yang dijalani, ada proses bertumbuh yang sedang terjadi.
Skripsi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Ia adalah kesempatan untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa kita mampu belajar, bertahan, dan menyelesaikan sesuatu dengan penuh tanggung jawab.
Dan itu adalah bekal yang jauh lebih berharga daripada sekadar gelar.
by Admin Kebidanan | Apr 14, 2026 | Artikel
written by Indah Wijayanti, S.ST., M.Keb., Bdn
Kehidupan mahasiswa sering kali diidentikkan dengan pencapaian akademik, seperti nilai dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Namun, di balik tuntutan tugas, aktivitas organisasi, serta dinamika sosial yang kompleks, terdapat aspek penting yang sering kali terabaikan, yaitu kesehatan diri secara menyeluruh. Banyak mahasiswa menjalani kehidupan sehari-hari dalam kondisi “bertahan” (survive), bukan dalam keadaan sehat secara fisik maupun mental. Padahal, kesehatan merupakan fondasi utama dalam menunjang keberhasilan akademik dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Kesehatan mental menjadi salah satu aspek yang paling rentan terganggu pada mahasiswa. Tekanan akademik, tuntutan untuk berprestasi, serta kecemasan terhadap masa depan sering kali memicu stres, overthinking, hingga gangguan kecemasan. Bahkan, perasaan tidak cukup baik ketika membandingkan diri dengan orang lain menjadi fenomena yang umum terjadi. Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental merupakan bagian integral dari kesehatan dan kesejahteraan individu, bukan sekadar kondisi bebas dari gangguan mental. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental perlu menjadi prioritas utama dalam kehidupan mahasiswa. Upaya sederhana seperti memberikan waktu istirahat yang cukup, membatasi pola produktivitas berlebihan (toxic productivity), serta mencari dukungan sosial melalui teman atau konselor dapat membantu menjaga keseimbangan psikologis.
Selain kesehatan mental, kesadaran terhadap hak atas tubuh juga menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan. Hak atas tubuh mengacu pada kemampuan individu untuk mengontrol dan menentukan apa yang terbaik bagi tubuhnya sendiri. Namun, dalam praktiknya, masih banyak mahasiswa yang mengabaikan sinyal tubuh, seperti tetap beraktivitas meskipun dalam kondisi sakit, kurang istirahat, atau mengikuti pola hidup yang tidak sehat karena tekanan lingkungan. United Nations Population Fund (UNFPA) menekankan bahwa hak atas tubuh merupakan bagian penting dari kesehatan dan kesejahteraan individu. Kesadaran ini memungkinkan mahasiswa untuk lebih berani mengambil keputusan yang berpihak pada kesehatan dirinya, seperti beristirahat saat lelah, menolak aktivitas yang berlebihan, serta mencari pertolongan medis ketika diperlukan.
Gaya hidup sehat juga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menjaga kesehatan mahasiswa. Pola hidup mahasiswa yang identik dengan konsumsi makanan instan, kurangnya aktivitas fisik, serta kebiasaan begadang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan dalam jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup yang tidak sehat berkontribusi terhadap meningkatnya risiko gangguan mental pada mahasiswa, termasuk stres dan depresi. Oleh karena itu, penerapan gaya hidup sehat perlu dilakukan secara bertahap dan konsisten. Perubahan sederhana seperti meningkatkan konsumsi air putih, melakukan aktivitas fisik ringan, serta menjaga durasi tidur yang cukup dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kesehatan fisik dan mental.
Ketiga aspek tersebut, yaitu kesehatan mental, hak atas tubuh, dan gaya hidup sehat, saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Literasi kesehatan mental yang baik akan meningkatkan kesadaran individu terhadap pentingnya menjaga tubuh dan menerapkan pola hidup sehat. Selain itu, kemampuan untuk mengontrol diri dan menentukan prioritas juga menjadi kunci dalam mencapai keseimbangan hidup. UN Women menyatakan bahwa kesejahteraan individu tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh kemampuan untuk mengontrol kehidupan dan kesehatannya secara mandiri.
Meskipun demikian, penting untuk dipahami bahwa mencapai keseimbangan hidup bukanlah hal yang instan. Mahasiswa sering kali dihadapkan pada berbagai tuntutan yang membuat mereka sulit untuk membagi waktu antara akademik, organisasi, dan kehidupan pribadi. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan dalam mengelola waktu, menentukan prioritas, serta mengenali batas diri. Tanpa adanya keseimbangan, kondisi burnout dapat terjadi dan justru menurunkan produktivitas serta kualitas hidup mahasiswa.
Secara keseluruhan, menjaga kesehatan mental, memahami hak atas tubuh, serta menerapkan gaya hidup sehat merupakan langkah penting dalam meningkatkan kesejahteraan mahasiswa. Ketiga aspek ini tidak hanya berperan dalam mendukung keberhasilan akademik, tetapi juga dalam membentuk kualitas hidup yang lebih baik di masa depan. Mahasiswa perlu menyadari bahwa istirahat bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bagian dari strategi untuk menjaga keberlanjutan fungsi diri. Dengan demikian, upaya merawat diri secara holistik menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika kehidupan akademik yang semakin kompleks.
Referensi
Ferdian, D., et al. (2023). Gambaran kesehatan mental mahasiswa. Jurnal Universitas Pahlawan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa tekanan akademik dan pola hidup tidak sehat berkontribusi terhadap gangguan kesehatan mental mahasiswa.
Fonna, Z., et al. (2024). Literasi kesehatan mental mahasiswa. Jurnal Kesehatan.
Studi ini menekankan pentingnya literasi kesehatan mental dalam meningkatkan kesadaran dan perilaku sehat pada mahasiswa.
Irawan, M. F., et al. (2024). Tantangan kesehatan mental mahasiswa dan solusi kolaboratif. Jurnal Cerdik.
Artikel ini menjelaskan bahwa intervensi berbasis kampus dapat menurunkan tingkat stres mahasiswa.
Sari, S. I., et al. (2025). Faktor individu yang berhubungan dengan status kesehatan mental mahasiswa. Jurnal Keperawatan Profesional.
Penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan emosional dan kepribadian memengaruhi kesehatan mental mahasiswa.
Setiawan, I. M., & Sa’idah, G. (2024). Tinjauan literatur kesehatan mental mahasiswa. Jurnal YARSI.
Mahasiswa merupakan kelompok rentan terhadap stres akibat tuntutan akademik dan fase transisi kehidupan.
United Nations Population Fund. (2023). State of World Population Report.
Laporan ini menegaskan pentingnya hak atas tubuh sebagai bagian dari kesehatan dan kesejahteraan individu.
UN Women. (2023). Women’s Health and Well-being Report.
Menjelaskan bahwa kesejahteraan ditentukan oleh kemampuan individu dalam mengontrol kehidupan dan kesehatannya.
World Health Organization. (2022). Mental health and well-being.
WHO menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan bagian integral dari kesehatan secara keseluruhan.
Yuaridha, R., et al. (2023). Faktor depresi pada mahasiswa. Jurnal STIKKU.
Penelitian ini menunjukkan bahwa gaya hidup dan lingkungan berpengaruh terhadap risiko depresi pada mahasiswa.
by Admin Kebidanan | Apr 9, 2026 | Berita, Berita D3
Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata menyelenggarakan kegiatan Halal Bihalal bersama FORSIMA (Forum Silaturahmi Orang Tua dan Wali Mahasiswa) pada Jumat, 3 April 2026. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya mempererat hubungan antara pihak kampus dengan orang tua dan wali mahasiswa pasca Hari Raya Idulfitri.
Acara dimulai pukul 14.00 WIB dengan pembukaan oleh Ibu Dr. Restu Pangestuti, S.ST., M.KM selaku pemandu acara. Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Sdr. Nurkhoifatul Amirah, disertai pembacaan terjemahan oleh Sdr. Annisa Rahmatika Ilahi.
Selanjutnya, peserta mengikuti rangkaian menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Alma Ata yang dipandu oleh operator. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian sambutan dan pesan Halal Bihalal dari Rektor Universitas Alma Ata. Pada sesi berikutnya, Ketua Jurusan Sekolah Kebidanan, Ibu Dr. Siti Nurunniyah, S.ST., M.Kes, menyampaikan sambutan sekaligus ikrar syawalan. Dalam sambutannya disampaikan pentingnya kerja sama antara pihak kampus dan orang tua dalam mendukung proses pendidikan mahasiswa. Sambutan juga diberikan oleh perwakilan orang tua mahasiswa, Bapak Drs. H. Junaidi, M.Kes, yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran video dari tim admisi yang menampilkan profil serta kegiatan mahasiswa. Setelah itu, acara diakhiri dengan sesi foto bersama dan penutupan oleh MC.
Melalui kegiatan ini, diharapkan komunikasi antara pihak kampus, mahasiswa, serta orang tua dan wali dapat terus terjalin dengan baik dalam mendukung proses pendidikan di lingkungan Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata.