Fenomena “Mager” pada Remaja: Mengapa Olahraga Terasa Berat?

Fenomena “Mager” pada Remaja: Mengapa Olahraga Terasa Berat?

Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Aktivitas fisik sangat krusial untuk kepadatan tulang dan kesehatan mental remaja. Namun, data dari World Health Organization (WHO) yang diperbarui dalam studi The Lancet (2025) menunjukkan bahwa lebih dari 80% remaja usia sekolah tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik harian (minimal 60 menit intensitas sedang hingga tinggi).

Mengapa Remaja Malas Berolahraga?

Penyebab “mager” pada remaja melibatkan kombinasi antara neurobiologi dan perubahan gaya hidup digital:

1. “Digital Friction” dan Dopamin Instan

Remaja masa kini terpapar pada simulasi digital yang memberikan kepuasan instan (instant gratification). Menonton video pendek atau bermain game melepaskan dopamin dengan usaha minimal. Sebaliknya, olahraga membutuhkan “biaya” energi yang besar sebelum dopamin (perasaan senang) dilepaskan.

  • Studi: Nature Human Behaviour (2025) menyebutkan bahwa algoritma media sosial menciptakan “jalur hambatan rendah” yang membuat aktivitas fisik tampak melelahkan secara kognitif.

2. Kelelahan Mental dan Beban Akademik

Tekanan akademik yang tinggi menyebabkan kelelahan mental (mental fatigue). Ketika otak lelah, persepsi terhadap usaha fisik meningkat. Artinya, olahraga yang sebenarnya ringan akan terasa jauh lebih berat bagi remaja yang baru pulang sekolah.

3. Kurang Tidur Kronis

Banyak remaja mengalami pergeseran ritme sirkadian. Kurang tidur mengganggu regulasi hormon Ghrelin dan Leptin, yang tidak hanya memicu nafsu makan buruk tetapi juga menurunkan motivasi untuk bergerak karena cadangan energi glikogen yang rendah.

Cara Mengatasi “Mager” secara Efektif

Mengatasi malas olahraga tidak bisa hanya dengan paksaan, melainkan melalui pendekatan habit-stacking dan modifikasi lingkungan:

  • Aturan 10 Menit: Mulailah dengan komitmen hanya 10 menit. Secara psikologis, memulai adalah bagian terberat. Setelah tubuh bergerak, inersia akan hilang dan biasanya remaja akan lanjut berolahraga lebih lama.
  • Sosialisasi Aktivitas: Remaja sangat didorong oleh interaksi sosial. Mengganti olahraga mandiri dengan olahraga kelompok (futsal, basket, atau kelas tari) meningkatkan kepatuhan hingga 60%.
  • Gamifikasi Olahraga: Menggunakan aplikasi atau perangkat wearable yang memberikan reward virtual atau kompetisi antar teman dapat menjembatani kebutuhan dopamin digital dengan aktivitas fisik.

Kesimpulan

Malas olahraga pada remaja adalah hasil dari lingkungan yang sangat nyaman namun menjebak secara biologis. Kuncinya bukan pada intensitas yang meledak-ledak di awal, melainkan pada konsistensi yang dibangun lewat aktivitas yang menyenangkan dan sosial. untuk pembelajaran lebih lanjut tentang remaja bisa bergabung dengan Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja yang terakreditasi Unggul.

Referensi 

  1. Shaikha Eisa Alnaqbi, dkk, 2025. Physical activity, screen time, dietary habits, and health outcomes among children and adolescents in the Middle East and North Africa region: a narrative review.Front Public Health. 2025 Sep 24;13:1628904. doi: 10.3389/fpubh.2025.1628904. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12504483/
  2. Carina Steckenleiter, 2025. Effects of physical activity on cognition in children and adolescents: From core concepts to findings and implementation in practise. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2773161825000023
  3. Haonan Wang, dkk, 2025.  Associations of physical activity and sleep with mental health during and post-COVID-19 pandemic in chinese college students: a longitudinal cohort study. Compr Psychiatry. 2025 May:139:152591. doi: 10.1016/j.comppsych.2025.152591. Epub 2025 Mar 13.https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40112624/
Remaja dan Kesehatan Menjelang Lebaran: Tetap Sehat di Tengah Perayaan

Remaja dan Kesehatan Menjelang Lebaran: Tetap Sehat di Tengah Perayaan

Created by Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb

Menjelang Hari Raya Idulfitri, berbagai aktivitas biasanya mulai meningkat. Mulai dari membantu persiapan di rumah, berbelanja kebutuhan Lebaran, hingga berkumpul dengan keluarga dan teman. Bagi remaja, momen ini tentu menjadi waktu yang menyenangkan. Namun di sisi lain, perubahan rutinitas menjelang Lebaran sering kali memengaruhi pola makan, waktu tidur, serta kebiasaan sehari-hari.

Secara ilmiah, masa remaja merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat. Pada fase ini, tubuh membutuhkan asupan nutrisi yang cukup, aktivitas fisik yang seimbang, serta waktu istirahat yang memadai untuk mendukung perkembangan fisik dan mental. Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan bahwa kesehatan remaja sangat dipengaruhi oleh kebiasaan hidup sehari-hari, termasuk pola makan, aktivitas fisik, dan kualitas tidur. Oleh karena itu, menjaga pola hidup sehat tetap penting meskipun aktivitas menjelang Lebaran meningkat.

Salah satu perubahan yang sering terjadi menjelang Lebaran adalah pola makan. Berbagai makanan khas seperti kue kering, makanan manis, dan makanan tinggi lemak biasanya tersedia dalam jumlah banyak. Konsumsi makanan tersebut sebenarnya tidak dilarang, tetapi perlu diperhatikan jumlah dan frekuensinya. Asupan gula dan lemak yang berlebihan dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, meningkatkan risiko gangguan pencernaan, serta memengaruhi keseimbangan energi dalam tubuh. Oleh karena itu, remaja dianjurkan untuk tetap mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, mineral, serta serat dari sayur dan buah.

Selain pola makan, aktivitas fisik juga menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan remaja. Saat libur menjelang Lebaran, banyak remaja lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan aktivitas pasif seperti bermain gawai atau menonton. Padahal, aktivitas fisik memiliki peran penting dalam menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan metabolisme, serta membantu menjaga kesehatan mental. Rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan anak dan remaja untuk melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari dengan intensitas sedang hingga tinggi. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, olahraga ringan, atau membantu pekerjaan rumah dapat menjadi cara efektif untuk tetap aktif selama masa persiapan Lebaran.

Kualitas tidur juga sering mengalami perubahan menjelang Lebaran. Kesibukan mempersiapkan berbagai kebutuhan atau meningkatnya penggunaan gawai dapat membuat waktu tidur menjadi tidak teratur. Padahal remaja membutuhkan waktu tidur sekitar 8–10 jam setiap malam untuk mendukung fungsi otak, konsentrasi belajar, serta sistem kekebalan tubuh. Kurang tidur dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, menurunkan daya tahan tubuh, serta memengaruhi suasana hati.

Di sisi lain, penggunaan gawai yang berlebihan juga menjadi salah satu kebiasaan yang sering terjadi pada remaja saat masa libur. Gawai digunakan untuk berbagai aktivitas seperti bermain media sosial, menonton video, atau bermain gim. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa durasi screen time yang terlalu lama dapat memengaruhi kesehatan mata, kualitas tidur, serta menurunkan aktivitas fisik pada remaja. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk mengatur waktu penggunaan gawai agar tetap seimbang dengan aktivitas fisik dan interaksi sosial.

Menjelang Lebaran merupakan momen yang penuh kebahagiaan dan kebersamaan. Namun menjaga kesehatan tetap menjadi hal yang penting, terutama bagi remaja yang sedang berada pada masa pertumbuhan. Dengan menjaga pola makan yang seimbang, tetap aktif bergerak, cukup istirahat, serta menggunakan gawai secara bijak, remaja dapat menikmati suasana Lebaran dengan tubuh yang sehat dan bugar.

Kesehatan yang baik tidak hanya mendukung aktivitas sehari-hari, tetapi juga membantu remaja menjalani masa pertumbuhan secara optimal serta mempersiapkan masa depan yang lebih sehat.


Referensi

World Health Organization. Adolescent health. Geneva: World Health Organization; 2024.

World Health Organization. Guidelines on physical activity and sedentary behaviour. Geneva: World Health Organization; 2020.

Sawyer SM, Azzopardi PS, Wickremarathne D, Patton GC. The age of adolescence. Lancet Child & Adolescent Health. 2018;2(3):223–228.

Chaput JP, Willumsen J, Bull F, et al. WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour for children and adolescents. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity. 2020;17:141.

Stiglic N, Viner RM. Effects of screentime on the health and well-being of children and adolescents: a systematic review of reviews. BMJ Open. 2019;9:e023191.

Akar Masalah Gaya Hidup Tidak Sehat pada Remaja Modern

Akar Masalah Gaya Hidup Tidak Sehat pada Remaja Modern

Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Gaya hidup remaja saat ini telah mengalami pergeseran drastis akibat kemajuan teknologi dan perubahan lingkungan sosial. Fenomena ini sering disebut sebagai “era sedenter digital,” di mana aktivitas fisik menurun sementara konsumsi informasi dan makanan olahan meningkat tajam.

Gaya hidup tidak sehat pada remaja bukan sekadar masalah kemalasan, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara faktor lingkungan, psikologis, dan perkembangan teknologi. Pola hidup yang terbentuk di usia remaja berisiko 70% menetap hingga dewasa, memicu penyakit tidak menular (PTM) di masa depan.

1. Perilaku Sedenter dan “Screen Dependency”

Penyebab utama menurunnya aktivitas fisik adalah durasi penggunaan gawai yang berlebihan.

  • Displacement Effect: Remaja menghabiskan rata-rata 6–8 jam di depan layar, yang secara langsung “menggantikan” waktu untuk berolahraga atau aktivitas luar ruangan.
  • Gangguan Ritme Sirkadian: Paparan blue light di malam hari menunda produksi melatonin, menyebabkan kurang tidur kronis yang merusak metabolisme tubuh.

2. Lingkungan Obesogenik dan Pola Makan Malnutrisi

Remaja kini terpapar pada lingkungan yang mempromosikan makanan tinggi kalori namun rendah nutrisi (Ultra-Processed Foods/UPF).

  • Pemasaran Digital: Algoritma media sosial sering kali menampilkan iklan makanan cepat saji yang ditargetkan secara personal.
  • Emotional Eating: Sebagai bentuk pelarian dari stres akademik atau sosial, remaja cenderung mengkonsumsi makanan tinggi gula (dopamin rush) untuk regulasi emosi sesaat.

3. Tekanan Sosial dan Eksperimen Zat

Masa remaja adalah fase pencarian jati diri yang rentan terhadap pengaruh teman sebaya (peer pressure).

  • Vaping dan E-Cigarettes: Tren penggunaan rokok elektrik meningkat pesat karena dianggap “lebih aman” dan memiliki variasi rasa, padahal riset terbaru dalam The Lancet (2024) menunjukkan dampak kerusakan paru yang setara dengan rokok konvensional pada remaja.
  • Normalisasi Minuman Berenergi: Konsumsi berlebihan minuman berkafein tinggi untuk menunjang aktivitas belajar atau gaming hingga larut malam.

Strategi Intervensi: Memutus Rantai Kebiasaan Buruk

Pendekatan terbaik bukan melalui pelarangan total, melainkan melalui:

  • Digital Detox: Menetapkan area bebas gawai di rumah (seperti di meja makan dan kamar tidur).
  • Nudge Theory: Menyediakan pilihan camilan sehat yang mudah diakses di lingkungan sekolah dan rumah.
  • Role Modeling: Orang tua harus menunjukkan perilaku hidup sehat terlebih dahulu sebelum menuntut perubahan pada anak.

Role Modeling tentang remaja bisa dipelajari di Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata yang merupakan salah satu Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja yang terakreditasi Unggul.

Referensi 

  1. Louise Holly, dkk, 2024/ Public health interventions to address digital determinants of children’s health and wellbeing. The Lancer Public Health.https://www.thelancet.com/journals/lanpub/article/PIIS2468-2667(24)00180-4/fulltext
  2. Jiaxin Guo, dkk. 2025.  Adolescents’ ultra-processed food consumption status and its association with food literacy: a cross-sectional study in Chongqing, China. Front Nutr. 2025 Sep 11;12:1494896. doi: 10.3389/fnut.2025.1494896. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12460124/
  3. Alicia Chung, dkk. 2021. Adolescent Peer Influence on Eating Behaviors via Social Media: Scoping Review. J Med Internet Res. 2021 Jun 3;23(6):e19697. doi: 10.2196/19697. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8212626/
Elvia P. Romanov, Wakili Mahasiswa S1 Kebidanan Ikuti International Student Mobility Program

Elvia P. Romanov, Wakili Mahasiswa S1 Kebidanan Ikuti International Student Mobility Program

Mahasiswa Program Studi S1 Kebidanan Universitas Alma Ata, Elvia Putri Romanov, berkesempatan mengikuti kegiatan International Field Trip ke Singapura dan Malaysia sebagai bagian dari penguatan pengalaman belajar global serta pengembangan wawasan akademik di tingkat internasional.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk implementasi pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lingkungan akademik dan layanan kesehatan internasional. Melalui program ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami berbagai praktik, sistem, serta pengelolaan institusi pendidikan dan kesehatan di luar negeri.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, peserta melakukan kunjungan akademik ke beberapa institusi pendidikan dan layanan kesehatan terkemuka, yaitu:

  • Rumah Sakit Canselor Tuanku Muhriz – Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM)
  • International Islamic University Malaysia (IIUM)
  • Universiti Sains Islam Malaysia (USIM)

Melalui kunjungan ini, mahasiswa dapat mempelajari secara langsung sistem layanan kesehatan yang diterapkan di rumah sakit pendidikan, sekaligus melihat bagaimana integrasi antara pendidikan, penelitian, dan praktik klinis dilakukan di tingkat internasional. Selain itu, kegiatan ini juga membuka peluang untuk memperluas jejaring akademik serta bertukar wawasan dengan lingkungan pendidikan global.

Partisipasi mahasiswa dalam kegiatan International Field Trip diharapkan dapat memperkaya perspektif keilmuan, meningkatkan kemampuan adaptasi dalam lingkungan internasional, serta memotivasi mahasiswa untuk terus mengembangkan kompetensi diri.

Program ini menjadi bagian dari komitmen Universitas Alma Ata dalam mendukung student mobility dan pembelajaran berbasis pengalaman global. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman lintas budaya yang penting dalam menghadapi tantangan dunia profesional di masa depan.

Melalui kegiatan ini diharapkan mahasiswa dapat membawa pengalaman dan wawasan baru yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di masa mendatang. 🌏✨

Campak Mengintai Kembali! Lonjakan Kasus 2025 Jadi Alarm bagi Orang Tua

Campak Mengintai Kembali! Lonjakan Kasus 2025 Jadi Alarm bagi Orang Tua

Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Apa Itu Campak?

Campak adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus. Penyakit ini sangat menular dan menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Virus dapat bertahan di udara hingga dua jam, sehingga risiko penularan sangat tinggi, terutama pada anak yang belum diimunisasi.

Lonjakan Kasus Campak di Indonesia Tahun 2025

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sepanjang tahun 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak dan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium, dengan 69 kematian. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kenaikan kasus suspek lebih dari 100%.

Beberapa wilayah di Indonesia bahkan melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak. Peningkatan ini dikaitkan dengan cakupan imunisasi yang belum merata serta adanya anak yang belum mendapatkan vaksin lengkap. Data ini menjadi pengingat bahwa campak bukan penyakit ringan dan masih menjadi ancaman nyata bagi kesehatan anak di Indonesia.

Gejala Campak yang Perlu Diwaspadai

Gejala penyakit campak biasanya muncul 7–14 hari setelah penderita terpapar virus. Gejala penyakit campak meliputi:

  1. Demam tinggi
  2. Batuk, pilek, dan mata merah berair
  3. Bintik putih di dalam mulut (bintik Koplik)
  4. Ruam merah yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh

Anak yang mengalami gejala tersebut perlu segera diperiksa ke fasilitas kesehatan.

Komplikasi yang Bisa Terjadi

Campak dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada balita dan anak dengan daya tahan tubuh lemah, seperti:

  1. Pneumonia
  2. Diare berat dan dehidrasi
  3. Infeksi telinga
  4. Ensefalitis (radang otak)
  5. Kematian pada kasus berat

Jadwal Vaksinasi Campak (MMR)

Meskipun dapat menyebabkan kematian, sebetulnya penularan penyakit campak dapat dicegah melalui imunisasi MMR (Measles, Mumps, Rubella). Imunisasi ini diberikan 2x, yaitu pada saat anak berusia 12-15 bulan, selanjutnya diberikan kembali pada usia 4-6 tahun. Pemberian imunisasi secara lengkap dapat memberikan perlindungan hingga 97% terhadap campak.

Di Indonesia, imunisasi campak masuk dalam program imunisasi nasional sesuai jadwal dari Kementerian Kesehatan. Oleh karenanya masyarakat dapat memperoleh imunisasi ini secara gratis di tempat pelayanan kesehatan, seperti Puskesmas.

Kesimpulan

Campak adalah penyakit menular yang dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian pada anak. Penularan penyakit ini dapat dicegah melalui imunisasi. Lonjakan penyakit campak di Indonesia pada tahun 2025 menjadi peringatan penting bahwa imunisasi tidak boleh diabaikan. Pastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Temukan artikel menarik lainnya terkait kesehatan ibu dan anak di Website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan Terbaik di Jogja dan Terakreditasi UGGUL.

Daftar Pustaka

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Surveilans Campak Nasional 2025.
  2. World Health Organization. Measles Fact Sheet (2023).
  3. Centers for Disease Control and Prevention. Measles (Rubeola) (2024).
  4. Patel MK, et al. Progress Toward Regional Measles Elimination. MMWR (2019).
  5. Moss WJ. Measles. The Lancet (2017).