by Admin Kebidanan | Mar 6, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Dahulu, penyakit campak sering dianggap sebagai “ritual kelulusan” bagi anak-anak sesuatu yang pasti dilewati dan dianggap tidak berbahaya. Namun, data terbaru di Indonesia menunjukkan realitas yang memilukan. Kita tidak sedang menghadapi penyakit ringan, melainkan sebuah ancaman serius yang kembali mewabah akibat runtuhnya benteng pertahanan kita: Imunisasi.
Tragedi yang Bisa Dicegah: Mengapa Anak-Anak Menjadi Korban?
Laporan terbaru menunjukkan lonjakan kasus campak di berbagai provinsi di Indonesia yang telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Yang paling menyesakkan dada adalah fakta bahwa mayoritas pasien yang dirawat, bahkan yang hingga kehilangan nyawa, adalah anak-anak yang sama sekali belum pernah mendapatkan imunisasi Campak-Rubella (MR).
Campak bukan sekadar ruam merah. Virus ini menyebabkan immune amnesia, yang menghapus memori sistem kekebalan tubuh anak terhadap penyakit lain. Artinya, setelah terkena campak, anak menjadi sangat rentan terkena infeksi paru-paru (pneumonia) dan radang otak (ensefalitis) yang mematikan.
Gerakan Antivaksin yang Mematikan
Mewabahnya kembali campak di Indonesia bukan sekadar masalah akses medis, melainkan hasil dari perang narasi. Munculnya gerakan antivaksin yang masif di media sosial telah menyebarkan benih ketakutan yang tidak berdasar di hati para orang tua.
Hoaks tentang kandungan vaksin atau efek samping yang dilebih-lebihkan telah menciptakan kelompok masyarakat yang ragu-ragu (vaccine hesitancy). Dampaknya nyata dan berdarah: cakupan imunisasi menurun drastis, “kekebalan kelompok” runtuh, dan virus campak pun menemukan jalannya untuk menyerang anak-anak yang tidak berdosa. Setiap nyawa anak yang melayang akibat wabah ini adalah pengingat bahwa misinformasi di layar ponsel kita bisa membunuh di dunia nyata.
Tak Hanya Anak-Anak: Risiko pada Orang Dewasa & Ibu Hamil
Jangan salah, campak juga mengincar orang dewasa yang belum memiliki kekebalan. Gejala pada orang dewasa seringkali jauh lebih berat, dengan risiko komplikasi hati (hepatitis) dan gagal napas.
Namun, perhatian terbesar dalam dunia kebidanan adalah risiko pada Ibu Hamil. Jika seorang ibu hamil tertular campak:
- Risiko Keguguran: Infeksi virus yang menyebabkan demam sangat tinggi dapat memicu kontraksi dini atau keguguran.
- Persalinan Prematur: Tubuh yang berjuang melawan virus campak seringkali terpaksa melahirkan bayi sebelum waktunya, yang berisiko pada keselamatan bayi (BBLR).
- Keselamatan Ibu: Ibu hamil memiliki sistem imun yang lebih sensitif, sehingga komplikasi paru-paru akibat campak bisa menjadi sangat fatal bagi sang ibu.
Di tengah carut-marutnya informasi, Bidan berdiri sebagai sosok yang paling dipercaya oleh para ibu. Peran bidan kini bertransformasi menjadi pejuang literasi kesehatan:
- Bidan berperan memastikan setiap wanita usia subur memiliki status imunisasi yang baik sebelum merencanakan kehamilan, guna mencegah risiko infeksi selama masa mengandung.
- Bidan adalah orang pertama yang memegang buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Melalui tangan bidan, edukasi tentang pentingnya imunisasi dasar lengkap diberikan secara humanis untuk menangkal doktrin antivaksin yang beredar di lingkungan warga.
Kasus campak yang merenggut nyawa anak-anak Indonesia adalah tragedi nasional yang seharusnya tidak terjadi di abad ke-21. Kita tidak boleh kalah oleh narasi tanpa dasar yang hanya membawa duka.
Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, kami melatih para calon bidan untuk memiliki keberanian intelektual menghadapi tantangan gerakan antivaksin. Sebagai prodi terakreditasi Unggul dan salah satu yang terbaik di Jogja, kami berkomitmen mencetak bidan yang cerdas, empatik, dan siap berdiri di garis terdepan untuk menyelamatkan setiap nyawa ibu dan anak Indonesia dari ancaman wabah yang bisa dicegah.
Mari kita kembali ke jalur medis yang benar. Imunisasi adalah bukti cinta paling nyata untuk melindungi buah hati kita.
Referensi:
- Kementerian Kesehatan RI. (2024). Laporan Situasi Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di Indonesia.
- Mina, M. J., et al. (2019). Measles virus infection diminishes preexisting antibodies that offer protection from other pathogens. Science. (Studi tentang dampak campak terhadap sistem imun jangka panjang).
- Larson, H. J., et al. (2022). The State of Vaccine Confidence in South East Asia. The Lancet. (Membahas pengaruh misinformasi terhadap cakupan imunisasi).
- World Health Organization (WHO). (2024). Measles and Pregnancy: Risk Factors and Prevention Strategies.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2023). Rekomendasi Imunisasi Kejar di Tengah Wabah Campak.
by Admin Kebidanan | Mar 5, 2026 | Artikel
Written by Bdn. Adenia Dwi Ristanti, M.Tr.Keb.
Puasa merupakan ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi bagi umat Muslim. Namun, bagi ibu hamil, keputusan untuk berpuasa sering kali menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan bagi diri sendiri dan janin yang dikandung. Secara medis, kehamilan adalah kondisi fisiologis yang membutuhkan perhatian khusus terhadap keseimbangan nutrisi, cairan, serta stabilitas metabolisme tubuh.
Perubahan Fisiologis Saat Hamil dan Berpuasa
Selama kehamilan, tubuh ibu mengalami berbagai perubahan metabolik. Kebutuhan energi meningkat untuk mendukung pertumbuhan janin, pembentukan plasenta, serta perubahan jaringan tubuh ibu. Laju metabolisme basal meningkat sekitar 15–20%, dan terjadi perubahan hormonal yang memengaruhi metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein.
Saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 12–14 jam (bahkan lebih, tergantung lokasi geografis). Dalam kondisi ini, kadar glukosa darah akan menurun secara bertahap, lalu tubuh mulai menggunakan cadangan glikogen dan lemak sebagai sumber energi. Pada ibu hamil, proses ini dapat berlangsung lebih cepat karena kebutuhan energi yang lebih tinggi. Adaptasi ini sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh, namun perlu diperhatikan agar tidak terjadi kekurangan energi atau dehidrasi.
Dampak Puasa terhadap Ibu dan Janin
Berdasarkan berbagai penelitian terbaru hingga tahun 2025, sebagian besar studi menunjukkan bahwa puasa pada ibu hamil yang sehat dan tanpa komplikasi tidak secara konsisten meningkatkan risiko berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, atau gangguan skor Apgar. Namun, beberapa penelitian tetap menemukan variasi kecil pada berat lahir bayi, terutama bila asupan nutrisi ibu saat sahur dan berbuka tidak mencukupi.
Secara fisiologis, janin mendapatkan nutrisi melalui plasenta yang berfungsi sebagai sistem distribusi zat gizi dari ibu. Jika ibu mengalami penurunan asupan kalori dan cairan secara signifikan dalam waktu lama tanpa kompensasi nutrisi yang baik di luar jam puasa, maka potensi gangguan pertumbuhan janin dapat meningkat.
Selain itu, dehidrasi menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Kekurangan cairan dapat menyebabkan ibu merasa lemas, pusing, hingga memicu kontraksi dini pada sebagian kasus tertentu. Oleh karena itu, hidrasi optimal saat berbuka dan sahur sangat penting.
Trimester Kehamilan dan Pertimbangan Risiko
Trimester pertama sering dikaitkan dengan mual muntah yang cukup berat. Pada kondisi ini, puasa dapat memperberat gejala dan meningkatkan risiko kekurangan nutrisi. Trimester kedua umumnya dianggap sebagai periode paling stabil dalam kehamilan, sehingga sebagian ibu merasa lebih mampu menjalani puasa. Sementara pada trimester ketiga, kebutuhan energi meningkat pesat karena pertumbuhan janin yang cepat, sehingga pemantauan kondisi ibu dan janin menjadi sangat penting.
Ibu dengan kondisi khusus seperti anemia, diabetes gestasional, hipertensi dalam kehamilan, riwayat kelahiran prematur, atau gangguan pertumbuhan janin sebaiknya berkonsultasi lebih lanjut sebelum memutuskan untuk berpuasa.
Perspektif Ilmiah Jangka Panjang
Beberapa kajian terbaru juga membahas konsep “programming janin”, yaitu bagaimana kondisi nutrisi selama kehamilan dapat memengaruhi kesehatan anak di masa depan. Meskipun bukti mengenai dampak jangka panjang puasa Ramadan masih belum konklusif, para peneliti menyarankan agar kecukupan nutrisi tetap menjadi prioritas utama untuk mendukung pertumbuhan optimal janin. Artinya, puasa bukan semata-mata persoalan boleh atau tidak, tetapi lebih pada bagaimana menjaga keseimbangan nutrisi dan memastikan kondisi kesehatan ibu tetap stabil.
Prinsip Aman Berpuasa bagi Ibu Hamil
Secara umum, ibu hamil yang ingin berpuasa perlu memperhatikan beberapa prinsip penting. Asupan sahur sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta cukup serat agar energi bertahan lebih lama. Cairan harus dipenuhi secara bertahap dari waktu berbuka hingga sahur untuk mencegah dehidrasi. Suplementasi zat besi, asam folat, dan kalsium tetap harus dikonsumsi sesuai anjuran tenaga kesehatan. Apabila muncul tanda bahaya seperti pusing berat, lemas ekstrem, nyeri perut hebat, kontraksi teratur, atau penurunan gerakan janin, maka puasa sebaiknya segera dihentikan dan ibu perlu mendapatkan evaluasi medis.
Kesimpulan
Secara ilmiah, puasa pada ibu hamil yang sehat tidak selalu berbahaya dan dalam banyak penelitian tidak menunjukkan dampak negatif yang signifikan terhadap luaran kehamilan. Namun, setiap kehamilan bersifat unik. Kondisi kesehatan ibu, usia kehamilan, status nutrisi, serta riwayat obstetri menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan. Pendekatan terbaik adalah keputusan yang bersifat individual, berdasarkan konsultasi medis dan pemantauan yang tepat. Dengan perencanaan nutrisi yang baik, hidrasi yang cukup, serta pemantauan kesehatan secara berkala, ibu hamil dapat mempertimbangkan puasa dengan lebih aman dan bertanggung jawab.
Referensi
Glazier JD, Hayes DJL, Hussain S, D’Souza SW, Whitcombe J, Heazell AEP. The effect of Ramadan fasting during pregnancy on perinatal outcomes: An umbrella review. Int J Gynecol Obstet. 2025;168(2):345–356.
Bakhsh H, Al-Raddadi R, Al-Malki A, et al. Ramadan fasting and its impact on fetal Doppler indices and perinatal outcomes in healthy pregnant women: A prospective cohort study. Pak J Med Sci. 2025;41(1):112–118.
Musa AB, Ibrahim SM, Lawal AO, et al. Maternal fasting during pregnancy and birth weight outcomes in a sub-Saharan population. BMC Pregnancy Childbirth. 2025;25:148.
by Admin Kebidanan | Mar 4, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Kesehatan mental remaja bukan sekadar masalah “mood” atau fase pertumbuhan. Data terbaru menunjukkan bahwa gangguan mental seperti ansietas (kecemasan) dan depresi pada remaja telah meningkat secara signifikan dalam dekade terakhir. Berdasarkan studi The Lancet Psychiatry (2025), faktor penyebabnya kini lebih terfragmentasi antara biologi, teknologi, dan lingkungan sosial.
1. Faktor Neurobiologis dan Hormonal
Pada masa remaja, terjadi ketidakseimbangan kecepatan perkembangan antara dua area otak:
- Sistem Limbik: Bagian yang memproses emosi dan imbalan (reward), yang berkembang sangat cepat.
- Korteks Prefrontal: Bagian yang mengatur kontrol diri dan pengambilan keputusan, yang baru matang sepenuhnya pada usia 20-an. Ketimpangan ini menyebabkan remaja cenderung impulsif dan memiliki reaktivitas emosional yang tinggi terhadap stres.
2. Pengaruh Digital dan Media Sosial (Penemuan Terbaru)
Penelitian dalam Nature Mental Health (2025) menyoroti fenomena “Social Media Induced Dysmorphia”.
- Algoritma Adiktif: Paparan terus-menerus pada konten yang memicu perbandingan sosial secara otomatis meningkatkan kadar kortisol (hormon stres).
- Cyberbullying: Risiko depresi meningkat tiga kali lipat pada remaja yang mengalami perundungan siber dibandingkan perundungan fisik tradisional.
3. Faktor Lingkungan dan Epigenetik
Kesehatan mental juga dipengaruhi oleh interaksi antara gen dan lingkungan (epigenetic):
- Trauma Masa Kecil (ACEs): Pengalaman traumatis seperti perceraian orang tua atau kekerasan di rumah tangga mengubah cara otak merespons stres secara permanen.
- Kurang Tidur Kronis: kurang tidur akibat penggunaan gawai di malam hari secara langsung mengganggu regulasi emosi.
Jenis Masalah Mental yang Dominan pada Remaja
- Gangguan Kecemasan (Anxiety): Ketakutan berlebihan akan masa depan atau penilaian orang lain.
- Depresi Mayor: Perasaan sedih yang persisten dan kehilangan minat pada aktivitas harian.
- Self-Harm (Melukai Diri): Sering kali digunakan sebagai mekanisme koping yang maladaptif untuk mengalihkan rasa sakit emosional menjadi rasa sakit fisik.
Dukungan keluarga adalah faktor pelindung terkuat. Orang tua disarankan untuk membangun komunikasi yang validatif (mendengarkan tanpa menghakimi) dan memastikan remaja memiliki rutinitas tidur yang sehat. untuk mengetahui kesehatan lainnya, maka temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Referensi
- Prof Patrick D McGorry, MD PhD, dkk. 2024.The Lancet Psychiatry Commission on youth mental health.The Lancet Psychiatry. https://www.thelancet.com/journals/lanpsy/article/PIIS2215-0366(24)00163-9/abstract
- Elizabeth A. McNeilly, dkk. 2024. Neural correlates of depression-related smartphone language use in adolescents. Nature Mental Health. https://www.nature.com/articles/s44277-024-00009-6
- Valeria Bacaro, Katarina Miletic, Elisabetta Crocett, 2023. A meta-analysis of longitudinal studies on the interplay between sleep, mental health, and positive well-being in adolescents. Elsevier. Int J Clin Health Psychol. 2023 Dec 2;24(1):100424. doi: 10.1016/j.ijchp.2023.100424.
- Dilnoza Xudoyorova, dkk. 2026. Epigenetic Markers of Early Life Stress and Emotional Regulation in the Development of Stress-Related Psychopathology. GMR the Original. Vo.25 No.1 (2026). https://geneticsmr.com/index.php/gmr/article/view/339
by Admin Kebidanan | Mar 3, 2026 | Berita
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Program Studi S1 Kebidanan FKIK Universitas Alma Ata. Tim Volly Putri berhasil meraih Juara II pada ajang kompetisi Volly Tingkat Universitas dalam rangka ALMA ATA Fest 2025.
Kejuaraan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Universitas Alma Ata sebagai wadah pengembangan minat, bakat, serta sportivitas mahasiswa di bidang olahraga. Kompetisi berlangsung dengan penuh semangat dan diikuti oleh berbagai program studi di lingkungan universitas.
Perjalanan Menuju Prestasi
Tim Volly S1 Kebidanan menunjukkan performa yang luar biasa sejak babak penyisihan. Dengan kerja sama tim yang solid, strategi permainan yang matang, serta semangat pantang menyerah, mereka mampu melewati setiap pertandingan dengan hasil yang membanggakan hingga berhasil melaju ke babak final.
Dukungan dari dosen, teman sejawat, dan civitas akademika turut menjadi motivasi besar bagi tim untuk memberikan performa terbaik di setiap pertandingan.
Makna Prestasi bagi Mahasiswa Kebidanan
Pencapaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi tim, tetapi juga bagi seluruh keluarga besar S1 Kebidanan FKIK Universitas Alma Ata. Prestasi di bidang olahraga ini membuktikan bahwa mahasiswa kebidanan mampu berprestasi tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam pengembangan soft skills, seperti:
- Kerja sama tim
- Kepemimpinan
- Disiplin
- Sportivitas
- Manajemen waktu
Nilai-nilai tersebut selaras dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh calon tenaga kesehatan profesional.
Komitmen Universitas dalam Mendukung Potensi Mahasiswa
Universitas Alma Ata terus berkomitmen untuk mendukung pengembangan potensi mahasiswa secara holistik melalui berbagai kegiatan akademik maupun non-akademik. Ajang seperti ALMA ATA Fest menjadi sarana strategis untuk menumbuhkan karakter unggul, sehat, kompetitif, dan berprestasi.
Harapan ke Depan
Keberhasilan meraih Juara II ini diharapkan dapat:
- Menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berprestasi
- Meningkatkan semangat berkompetisi secara sehat
- Mengharumkan nama Program Studi dan Universitas di berbagai bidang
Selamat kepada Tim Volly S1 Kebidanan atas prestasi yang telah diraih. Semoga capaian ini menjadi langkah awal menuju prestasi-prestasi gemilang berikutnya.
by Admin Kebidanan | Mar 2, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) atau Congenital Heart Disease (CHD) merupakan kelainan struktur jantung yang terjadi sejak bayi masih dalam kandungan. Menurut data terbaru dari studi Global Burden of Disease (2025), PJB tetap menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak-anak secara global, mencakup hampir sepertiga dari seluruh kematian akibat kelainan bawaan.
Mengapa PJB Terjadi?
Secara umum, PJB terjadi akibat kegagalan perkembangan jantung pada fase awal janin (biasanya dalam 8 minggu pertama kehamilan). Meskipun penyebab pastinya seringkali sulit dipastikan, penelitian terbaru mengelompokkannya ke dalam tiga pilar utama:
1. Faktor Genetik dan Kromosom
Genetik memainkan peran fundamental. Sekitar 10-15% kasus PJB dikaitkan dengan kelainan kromosom.
- Sindrom Down (Trisomi 21): Memiliki risiko hingga 50% menderita PJB (seperti defek septum atrioventrikular).
- Mutasi Gen Tunggal: Penelitian di Journal of American College of Cardiology menunjukkan adanya mutasi spesifik pada gen yang mengatur pembentukan katup dan dinding jantung.
2. Faktor Lingkungan dan Maternal (Kesehatan Ibu)
Kondisi kesehatan ibu selama kehamilan sangat mempengaruhi pembentukan organ jantung janin:
- Diabetes Melitus: Ibu dengan diabetes yang tidak terkontrol sebelum atau selama awal kehamilan memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan PJB.
- Infeksi TORCH: Terutama virus Rubella. Jika ibu terinfeksi di trimester pertama, risiko kelainan katup dan arteri paru sangat meningkat.
- Paparan Zat Kimia: Penggunaan obat-obatan tertentu (seperti asam retinoat untuk jerawat atau litium) serta paparan asap rokok dan alkohol.
3. Penemuan Terbaru: Metabolisme Choline dan Folat
Studi terbaru yang diterbitkan di Preprints.org (Februari 2026) mengungkapkan bahwa rendahnya konsentrasi Choline pada orang tua (baik ibu maupun ayah) berkaitan dengan tingkat keparahan PJB pada bayi. Selain itu, gangguan pada siklus folat/metionin juga dikonfirmasi sebagai faktor risiko signifikan dalam pembentukan struktur jantung yang tidak sempurna.
Jenis PJB yang Sering Ditemukan
Secara klinis, PJB dibagi menjadi dua kelompok besar:
- Sianotik (Bayi Biru): Terjadi percampuran darah bersih dan kotor, seperti pada Tetralogy of Fallot (TOF) atau Transposisi Arteri Besar (TGA).
- Asianotik (Tidak Biru): Biasanya berupa lubang pada sekat jantung, seperti Ventricular Septal Defect (VSD) atau Atrial Septal Defect (ASD).
Kesimpulan dan Langkah Pencegahan
Pencegahan dapat dimulai sejak masa perencanaan kehamilan. Para ahli menyarankan calon ibu untuk:
- Melakukan vaksinasi Rubella sebelum hamil.
- Mengkonsumsi asam folat dan menjaga asupan nutrisi (termasuk kolin).
- Melakukan skrining rutin (Ekokardiografi janin) jika terdapat riwayat keluarga dengan PJB
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Referensi
Berikut adalah daftar literatur yang digunakan sebagai acuan artikel ini:
- Jiaoli Xi , dkk, 2025. Global, regional, and national epidemiology of congenital heart disease in children from 1990 to 2021. Frontiers in Cardiovascular Medicine (2025) https://www.frontiersin.org/journals/cardiovascular-medicine/articles/10.3389/fcvm.2025.1522644/full
- P Syamasundar Rao, 2024. Recent Advances in the Diagnosis and Management of Congenital Heart Disease. Children. 2024 Jan 11;11(1):84. doi: 10.3390/children11010084. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10814956/ .
- Rima Obeid, dkk. 2026. Lowered Maternal and Paternal Plasma Concentrations of Choline are Associated with the Severity of Congenital Heart Defects in the Offspring”.Preprints.org/MDPI.https://www.preprints.org/manuscript/202602.1784
- Jae Sung Son. 2025. Nationwide Trends in Congenital Heart Disease Surgery. Congenital Heart Disease Journal. https://www.techscience.com/schd/v20n4/63766.