by Admin Kebidanan | Jul 13, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dr. Restu Pangestuti, MKM.
Dalam beberapa tahun terakhir, vape atau rokok elektrik menjadi tren yang sangat populer di kalangan remaja. Dengan desain modern, pilihan rasa seperti buah dan permen, serta kesan “lebih aman” dibanding rokok, vape dengan cepat menarik perhatian generasi muda. Namun, dibalik popularitasnya, muncul pertanyaan penting: apakah vape lebih aman, atau justru menjadi ancaman baru bagi kesehatan remaja?
Fenomena ini bukan sekadar tren biasa. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa penggunaan vape di kalangan remaja meningkat tajam, bahkan di beberapa negara angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Di Indonesia sendiri, sekitar 12% remaja usia 13-17 tahun menggunakan rokok elektronik, menunjukkan bahwa vape telah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda. Hal ini diperkuat oleh strategi pemasaran yang sengaja menargetkan remaja melalui rasa menarik, desain keren, dan promosi di media sosial.
Banyak remaja beranggapan bahwa vape lebih aman daripada rokok karena tidak menghasilkan asap tembakau. Padahal, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Vape tetap mengandung nikotin dan berbagai zat kimia berbahaya yang dapat merusak kesehatan. Menurut WHO, aerosol vape mengandung zat toksik yang berisiko menyebabkan gangguan paru dan jantung. Selain itu, nikotin dalam vape sangat adiktif dan dapat mengganggu perkembangan otak remaja, yang masih berada dalam fase pertumbuhan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, berbagai penelitian menunjukkan bahwa remaja yang menggunakan vape memiliki kemungkinan lebih besar untuk beralih ke rokok konvensional. Sebuah studi menemukan bahwa pengguna vape muda bisa hingga tiga kali lebih berisiko menjadi perokok aktif di kemudian hari. Ini berarti vape bukan sekadar alternatif, tetapi bisa menjadi “pintu masuk” menuju kebiasaan merokok yang lebih berbahaya.
Dari sisi kesehatan, rokok konvensional memang telah lama terbukti menyebabkan penyakit serius seperti kanker paru, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan kronis. Sementara itu, vape masih tergolong produk baru sehingga dampak jangka panjangnya belum sepenuhnya diketahui. Namun, berbagai bukti menunjukkan bahwa vape tetap dapat menyebabkan gangguan seperti asma, bronkitis, bahkan cedera paru. Dengan kata lain, meskipun berbeda bentuk, keduanya sama-sama membawa risiko kesehatan.
Selain faktor kesehatan, aspek sosial juga berperan besar dalam meningkatnya penggunaan vape pada remaja. Pengaruh teman sebaya, keinginan untuk terlihat “keren”, serta paparan media sosial membuat vape semakin diterima sebagai bagian dari gaya hidup. Bahkan, banyak remaja yang awalnya tidak merokok menjadi tertarik mencoba vape karena dianggap lebih modern dan tidak berbahaya.
Kesimpulannya, vape bukanlah pilihan yang aman bagi remaja. Meskipun sering dipromosikan sebagai alternatif rokok, kenyataannya vape tetap mengandung zat berbahaya dan berpotensi menimbulkan kecanduan. Rokok konvensional mungkin lebih berbahaya dalam jangka panjang, tetapi vape membawa risiko baru yang tidak kalah serius, terutama sebagai pintu masuk kecanduan nikotin di usia muda. Oleh karena itu, edukasi kesehatan yang tepat sangat penting untuk membantu remaja memahami bahwa baik vape maupun rokok sama-sama berbahaya dan sebaiknya dihindari.
Calon Bidan akan belajar tentang banyak tentang kesehatan. Gabung segera di Prodi D3 Kebidanan dan temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi:
- World Health Organization. Tobacco: E-cigarettes [Internet]. 2024. Available from: https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/tobacco-e-cigarett
- Becker TD, Rice TR. Youth vaping: A review and update on global epidemiology, physical and behavioral health risks, and clinical considerations. Eur J Pediatr. 2022;181(2):453–462.
- Becker TD. A clinical overview of adolescent e-cigarette use (vaping). Minerva Pediatr. 2024;76(1):108–118.
- Lieu TA, Bibbins-Domingo K. E-cigarette use in adolescents and adults—A JAMA collection. JAMA. 2024;332(9):709–710.
by Admin Kebidanan | Jul 10, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dr. Restu Pangestuti, MKM.
Anak “zero dose” merupakan istilah dalam kesehatan masyarakat yang merujuk pada anak yang belum pernah menerima satu pun imunisasi rutin sejak lahir. Secara operasional, World Health Organization mendefinisikan anak zero dose sebagai anak yang tidak mendapatkan dosis pertama vaksin DTP (difteri, tetanus, pertusis), yang digunakan sebagai indikator keterjangkauan pelayanan imunisasi dasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa anak tersebut tidak tersentuh oleh sistem pelayanan kesehatan, sehingga menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap penyakit menular.
Permasalahan anak zero dose menjadi isu global dan nasional yang serius. Data dari WHO 2023 terdapat sekitar 14,5 juta anak yang belum mendapatkan imunisasi sama sekali, dan Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah kasus yang tinggi. Di tingkat nasional, diperkirakan sekitar 2,3 juta anak di Indonesia masuk kategori zero dose, yang berarti mereka sama sekali belum memperoleh perlindungan imunisasi dasar. Bahkan, data terbaru menunjukkan masih terdapat ratusan ribu hingga hampir satu juta anak yang belum tersentuh imunisasi, sehingga menjadi fokus utama program kesehatan pemerintah.
Keberadaan anak zero dose memiliki dampak yang sangat besar terhadap kesehatan individu maupun masyarakat. Anak yang tidak diimunisasi memiliki risiko tinggi terkena penyakit menular seperti campak, difteri, dan pertusis, yang dapat menyebabkan komplikasi berat hingga kematian. Selain itu, rendahnya cakupan imunisasi akan menghambat tercapainya kekebalan kelompok (herd immunity), yang seharusnya membutuhkan cakupan minimal sekitar 90% untuk melindungi populasi secara luas. Ketika cakupan imunisasi tidak optimal, maka risiko terjadinya kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular akan meningkat.
Masalah anak zero dose juga mencerminkan adanya ketimpangan dalam akses layanan kesehatan. Anak-anak yang termasuk dalam kategori ini umumnya berasal dari kelompok masyarakat dengan keterbatasan akses, seperti daerah terpencil, kondisi ekonomi rendah, atau lingkungan dengan tingkat pendidikan yang rendah. Selain itu, faktor lain yang berperan adalah kurangnya pengetahuan dan kesadaran orang tua, serta pengaruh informasi yang salah atau hoaks mengenai imunisasi. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan zero dose tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga faktor sosial, ekonomi, dan budaya.
Oleh karena itu, penanganan anak zero dose memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi. Pemerintah melalui program imunisasi nasional terus berupaya meningkatkan cakupan imunisasi dengan fokus pada kelompok yang belum terjangkau layanan. Upaya ini meliputi penguatan pelayanan kesehatan, peningkatan akses di daerah terpencil, serta edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya imunisasi. Dengan demikian, penurunan jumlah anak zero dose menjadi langkah penting dalam meningkatkan derajat kesehatan anak dan mencegah terjadinya wabah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Calon Bidan akan belajar tentang Imunisasi pada anak. Gabung segera di Prodi D3 Kebidanan dan temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi:
- World Health Organization (WHO). Zero-dose children definition and monitoring. (World Health Organization)
- WHO Indonesia. Immunization coverage and zero-dose children global data. (World Health Organization)
- Kementerian Kesehatan RI / ANTARA. Data anak zero dose di Indonesia. (Antara News)
- Kemenkes RI. Penguatan program imunisasi nasional. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
by Admin Kebidanan | Jul 9, 2026 | Berita
Yogyakarta – Sebagai bentuk dukungan dan ikhtiar bersama dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi Uji Kompetensi Nasional (UKOMNAS) Bidan Tahun 2026, Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata menyelenggarakan kegiatan Doa Bersama yang diikuti oleh mahasiswa peserta UKOMNAS, dosen, dan sivitas akademika.
Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian persiapan yang dilakukan oleh Program Studi dalam mendampingi mahasiswa menjelang pelaksanaan uji kompetensi. Selain pembekalan akademik dan pendampingan intensif, aspek spiritual juga menjadi perhatian penting untuk membangun kesiapan mental, menumbuhkan rasa percaya diri, serta memohon keberkahan dan kemudahan kepada Allah SWT.
Dalam suasana yang penuh kekhusyukan, seluruh peserta bersama-sama memanjatkan doa agar mahasiswa diberikan kesehatan, ketenangan hati, kemudahan dalam mengerjakan setiap tahapan ujian, serta memperoleh hasil terbaik sesuai dengan usaha dan proses belajar yang telah dijalani selama masa pendidikan profesi.
Uji Kompetensi Nasional merupakan tahapan akhir yang harus dilalui oleh setiap mahasiswa Pendidikan Profesi Bidan sebagai salah satu syarat untuk membuktikan pencapaian kompetensi sebagai calon bidan profesional. Oleh karena itu, keberhasilan dalam menghadapi UKOMNAS tidak hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu dan keterampilan klinis, tetapi juga oleh kesiapan mental, emosional, dan spiritual.
Melalui kegiatan doa bersama ini, Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata berharap seluruh mahasiswa dapat mengikuti UKOMNAS dengan penuh keyakinan, ketenangan, dan semangat untuk memberikan performa terbaik. Kebersamaan antara mahasiswa dan dosen dalam memanjatkan doa juga mencerminkan komitmen Program Studi dalam mendampingi mahasiswa hingga menyelesaikan pendidikan profesinya.
Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh dosen serta sivitas akademika yang telah hadir dan memberikan dukungan kepada mahasiswa melalui kegiatan doa bersama ini. Semoga setiap doa yang dipanjatkan menjadi kekuatan, membawa keberkahan, serta mengantarkan seluruh peserta meraih kelulusan dengan hasil yang membanggakan.
Dengan semangat kebersamaan, ikhtiar yang maksimal, dan doa yang tulus, Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Universitas Alma Ata optimis para calon bidan mampu melewati Uji Kompetensi Nasional Tahun 2026 dengan baik dan siap memberikan pelayanan kebidanan yang profesional, kompeten, serta berorientasi pada keselamatan ibu, bayi, dan keluarga.
by Admin Kebidanan | Jul 8, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dyah Pradnya Paramita, SST., M.Kes
Kelahiran bayi merupakan momen yang membahagiakan bagi sebuah keluarga. Namun, tidak sedikit ibu yang justru mengalami perubahan emosi setelah melahirkan. Mudah menangis, merasa cemas, atau kewalahan sering kali dianggap sebagai hal yang wajar. Padahal, kondisi tersebut bisa merupakan baby blues atau bahkan depresi pasca persalinan (postpartum depression). Oleh karenanya, memahami perbedaan kondisi tersebut sangat penting agar ibu memperoleh pertolongan yang tepat sedini mungkin.
Baby blues: umum terjadi setelah persalinan
baby blues adalah perubahan suasana hati ringan yang biasanya muncul pada 2–3 hari setelah melahirkan dan membaik dalam waktu kurang dari dua minggu. Kondisi ini dialami oleh sekitar 50–80% ibu pasca persalinan.
Gejala baby blues meliputi mudah menangis, sedih, cemas, sensitif, mudah tersinggung, serta merasa lelah atau kewalahan dalam merawat bayi. baby blues umumnya dipengaruhi oleh perubahan hormon, kurang tidur, kelelahan, dan proses adaptasi menjadi orang tua.
Dengan dukungan keluarga, istirahat yang cukup, dan bantuan dalam merawat bayi, sebagian besar ibu dapat pulih tanpa memerlukan pengobatan khusus.
Depresi pasca persalinan bukan sekedar perubahan suasana hati
Berbeda dengan baby blues, depresi pasca persalinan merupakan gangguan kesehatan mental yang memerlukan penanganan tenaga kesehatan. Gejalanya berlangsung lebih dari dua minggu dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain kesedihan yang berkepanjangan, kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur atau nafsu makan yang berat, merasa tidak berharga, sulit menjalin ikatan dengan bayi, hingga muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayinya.
Depresi pasca persalinan bukanlah tanda bahwa seorang ibu lemah atau tidak bersyukur. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis, psikologis, dan sosial sehingga membutuhkan dukungan serta penanganan yang tepat.
Pemerintah kini turut memantau kesehatan mental ibu
Kesehatan ibu setelah melahirkan tidak hanya dinilai dari kondisi fisiknya. Menurut Dyah, Dosen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, saat ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah memasukkan skrining kesehatan jiwa sebagai bagian dari pelayanan kesehatan ibu. Skrining dilakukan dua kali selama kehamilan dan satu kali pada masa nifas, yaitu saat kunjungan nifas ketiga (KF-3) pada 8–28 hari setelah persalinan. Program ini bertujuan mendeteksi dini masalah kesehatan mental sehingga ibu yang berisiko mengalami depresi dapat segera memperoleh konseling, pendampingan, atau rujukan sesuai kebutuhannya. Dyah berpesan agar ibu nifas rutin melakukan kunjungan ulang ke Puskesmas/ Fasilitas Kesehatan sesuai jadwalnya untuk memantau pemulihan fisik dan kesehatan mentalnya.
Peran bidan sangat penting
Bidan merupakan tenaga kesehatan yang mendampingi perempuan sejak masa kehamilan, persalinan, hingga nifas. Pada setiap kunjungan, bidan tidak hanya memeriksa kondisi fisik ibu dan bayi, tetapi juga menanyakan keadaan emosional ibu, memberikan edukasi kepada keluarga, serta melakukan skrining kesehatan mental sesuai pedoman pelayanan.
Apabila ditemukan tanda-tanda depresi pasca persalinan, bidan akan memberikan konseling awal dan merujuk ibu ke tenaga kesehatan yang kompeten agar memperoleh penanganan lebih lanjut. Dukungan suami dan keluarga juga sangat berperan dalam proses pemulihan.
Jangan ragu mencari bantuan
Menjadi ibu adalah proses adaptasi yang tidak selalu mudah. Jika perasaan sedih, cemas, atau putus asa berlangsung lebih dari dua minggu, jangan menghadapinya sendirian. Segera konsultasi dengan bidan atau tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Kesehatan mental ibu sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Deteksi dini, dukungan keluarga, dan pendampingan tenaga kesehatan dapat membantu ibu melewati masa nifas dengan lebih sehat, sehingga ia dapat memberikan pengasuhan terbaik bagi buah hatinya.
Ingin mendapatkan informasi kesehatan ibu dan anak yang terpercaya? Ikuti terus artikel edukasi dari Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Referensi:
1. World Health Organization. (2025). Maternal mental health.
2. American College of Obstetricians and Gynecologists. (2023). Clinical Practice Guideline No. 4: Screening and Diagnosis of Mental Health Conditions During Pregnancy and Postpartum.
3. National Institute for Health and Care Excellence. (2020). Antenatal and Postnatal Mental Health: Clinical Management and Service Guidance.
4. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Depression Among Women.
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Skrining Kesehatan Jiwa Minimal Setahun Sekali.
6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir.
by Admin Kebidanan | Jul 7, 2026 | Artikel
Memasuki tahun ajaran baru, banyak orang tua disibukkan dengan berbagai persiapan seperti membeli seragam, tas, dan perlengkapan sekolah. Namun, di balik berbagai persiapan tersebut, terdapat hal yang tidak kalah penting, yaitu memastikan anak benar-benar siap secara fisik, mental, dan perkembangan untuk menghadapi lingkungan sekolah yang baru.
Menurut Dosen Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata , Indah Wijayanti, S.ST., M.Keb., Bdn., hari pertama sekolah merupakan fase transisi penting dalam kehidupan anak. Perpindahan dari lingkungan rumah yang nyaman menuju lingkungan belajar yang lebih dinamis memerlukan kesiapan yang menyeluruh agar proses adaptasi berjalan optimal.
“Hari pertama sekolah bukan sekadar mengenakan seragam baru atau membawa tas baru. Ini adalah langkah besar bagi anak untuk mulai belajar mandiri, berinteraksi dengan teman sebaya, mengikuti aturan, serta menghadapi berbagai tantangan baru. Oleh karena itu, orang tua perlu memastikan bahwa kesiapan anak tidak hanya dilihat dari aspek akademik, tetapi juga kesehatan, perkembangan, dan kesiapan emosionalnya,” ujar Indah.
Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif kebidanan komunitas, kesiapan anak memasuki sekolah dapat dilihat dari tiga aspek utama, yaitu kesehatan dan imunitas, tumbuh kembang serta kemandirian, dan kesiapan psikososial. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam mendukung keberhasilan anak beradaptasi di lingkungan sekolah.
Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah kondisi kesehatan anak. Ketika mulai bersekolah, anak akan berinteraksi dengan banyak teman sehingga risiko tertular berbagai penyakit infeksi, seperti influenza, batuk pilek, cacar air, maupun gangguan saluran pencernaan menjadi lebih tinggi.
“Orang tua perlu memastikan bahwa imunisasi dasar maupun lanjutan anak telah lengkap sesuai usianya. Selain itu, anak juga perlu dibiasakan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan menggunakan sabun dengan benar, menjaga kebersihan diri, serta menerapkan etika batuk dan bersin. Kebiasaan sederhana ini menjadi benteng pertama dalam mencegah penularan penyakit di lingkungan sekolah,” jelasnya.
Selain kesehatan, kesiapan perkembangan motorik dan kemandirian juga memegang peranan penting. Indah menjelaskan bahwa anak usia prasekolah idealnya telah memiliki kemampuan dasar untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
“Anak yang siap masuk sekolah sebaiknya sudah mampu menggunakan toilet sendiri, mengungkapkan kebutuhan buang air kepada guru, membuka bekal makanan secara mandiri, memegang pensil dengan baik, hingga melakukan aktivitas motorik halus seperti menggunting atau mewarnai. Keterampilan tersebut akan membantu anak lebih percaya diri saat mengikuti kegiatan belajar di kelas,” katanya.
Menurutnya, bidan dapat membantu orang tua melakukan deteksi dini tumbuh kembang melalui pemantauan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Dengan demikian, apabila ditemukan keterlambatan perkembangan, stimulasi dapat segera diberikan sebelum anak memasuki jenjang sekolah.
Tidak hanya itu, aspek nutrisi juga menjadi faktor penting yang sering kali terabaikan. Perubahan rutinitas sekolah membuat anak membutuhkan energi yang cukup agar mampu berkonsentrasi selama mengikuti proses pembelajaran.
“Biasakan anak sarapan sebelum berangkat sekolah. Pilih menu yang mengandung protein seperti telur, ikan, susu, atau sumber protein lainnya karena mampu memberikan rasa kenyang lebih lama dan membantu menjaga konsentrasi anak selama belajar. Selain itu, kebutuhan zat besi dan zinc juga harus dipenuhi karena berperan penting dalam mendukung fungsi otak, daya tahan tubuh, serta perkembangan kognitif anak,” ungkap Indah.
Ia menambahkan bahwa selain kesiapan fisik, kesiapan emosional juga menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan adaptasi anak di sekolah. Tidak sedikit anak mengalami separation anxiety atau kecemasan saat harus berpisah dengan orang tua pada hari-hari pertama sekolah.
“Perasaan cemas merupakan hal yang wajar. Yang perlu dilakukan orang tua adalah membantu anak mengenal rutinitas sekolah sejak beberapa minggu sebelumnya, mulai dari mengatur jam tidur dan bangun, membiasakan memakai seragam, hingga mengajak anak bercerita mengenai pengalaman menyenangkan yang akan ditemuinya di sekolah,” jelasnya.
Indah juga mengingatkan agar orang tua menghindari penggunaan kalimat yang bernada ancaman ketika mengenalkan sekolah kepada anak.
“Hindari ucapan seperti ‘kalau nakal nanti dimarahi guru’. Sebaliknya, bangun persepsi positif bahwa sekolah adalah tempat bermain, belajar, dan bertemu teman baru. Lingkungan emosional yang positif akan membuat anak lebih siap menghadapi masa transisi ini,” tambahnya.
Menurut Indah, kesiapan masuk sekolah sebenarnya merupakan hasil dari proses pengasuhan dan pemantauan tumbuh kembang yang berlangsung sejak masa seribu hari pertama kehidupan hingga usia prasekolah. Oleh karena itu, peran orang tua, bidan, tenaga kesehatan, dan pendidik perlu berjalan secara beriringan untuk mendukung perkembangan anak secara optimal.
“Kesiapan anak memasuki sekolah bukan hanya tentang kemampuan membaca atau berhitung, tetapi juga kesiapan fisik, kesehatan, perkembangan motorik, kemampuan bersosialisasi, dan ketahanan emosional. Ketika seluruh aspek tersebut dipersiapkan dengan baik, anak akan lebih mudah beradaptasi, merasa percaya diri, serta menikmati pengalaman belajar di sekolah,” tutup Indah.