Remaja dan Budaya Viral: Antara Kreativitas, Eksistensi, dan Risiko di Era Digital

Remaja dan Budaya Viral: Antara Kreativitas, Eksistensi, dan Risiko di Era Digital

Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Perkembangan teknologi digital telah melahirkan fenomena baru dalam kehidupan remaja, yaitu budaya viral. Konten yang cepat menyebar melalui media sosial menjadi bagian dari keseharian remaja, mulai dari tantangan (challenge), tren gaya hidup, hingga ekspresi diri.

Budaya viral memberikan ruang bagi remaja untuk menunjukkan kreativitas dan eksistensi. Namun, di balik itu, terdapat tantangan yang perlu disikapi secara bijak agar tidak berdampak negatif terhadap perkembangan remaja.

Remaja dan Budaya Viral

Budaya viral merupakan fenomena di mana suatu konten atau perilaku menyebar luas dalam waktu singkat melalui media sosial. Remaja menjadi kelompok yang paling aktif dalam mengikuti dan menciptakan tren ini.

Beberapa bentuk budaya viral di kalangan remaja antara lain:

  • Challenge di media sosial
  • Tren fashion dan gaya hidup
  • Konten hiburan dan edukasi singkat
  • Fenomena “FOMO” (fear of missing out)

Bagi remaja, mengikuti tren sering kali menjadi cara untuk mendapatkan pengakuan sosial dan merasa menjadi bagian dari kelompok.

Sisi Positif Budaya Viral

Jika dimanfaatkan dengan baik, budaya viral dapat memberikan dampak positif, seperti:

  • Mendorong kreativitas dan inovasi
  • Menjadi sarana edukasi yang menarik
  • Memperluas jaringan pertemanan
  • Membuka peluang pengembangan diri

Banyak remaja yang mampu memanfaatkan media sosial sebagai wadah untuk berkarya dan berprestasi.

Risiko dan Dampak Negatif

Namun, tidak semua tren viral membawa dampak baik. Beberapa risiko yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Meniru perilaku berbahaya demi popularitas
  • Ketergantungan pada validasi sosial (likes, views)
  • Gangguan kesehatan mental (cemas, stres)
  • Penyebaran informasi yang tidak benar (hoaks)

Remaja yang belum memiliki kontrol diri yang kuat cenderung lebih mudah terpengaruh oleh tren negatif.

Peran Literasi Digital

Literasi digital menjadi kunci penting dalam menghadapi budaya viral. Remaja perlu dibekali kemampuan untuk:

  • Memilah informasi yang benar dan tidak
  • Berpikir kritis terhadap konten digital
  • Menggunakan media sosial secara bijak
  • Menjaga privasi dan keamanan diri

Dengan literasi digital yang baik, remaja dapat menjadi pengguna teknologi yang cerdas dan bertanggung jawab.

Strategi Remaja Menghadapi Budaya Viral

Agar tetap bijak dalam mengikuti tren, remaja dapat:

  • Tidak mudah ikut-ikutan tanpa pertimbangan
  • Mengutamakan keselamatan dan kesehatan
  • Mengembangkan konten positif dan edukatif
  • Mengelola waktu penggunaan media sosial
  • Memiliki prinsip dan nilai diri yang kuat

Penutup

Budaya viral merupakan bagian dari kehidupan remaja di era digital yang tidak dapat dihindari. Namun, dengan pemahaman yang tepat, remaja dapat memanfaatkan tren sebagai sarana pengembangan diri tanpa kehilangan kontrol dan nilai diri.

Remaja yang cerdas adalah mereka yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi mampu memilih, mengelola, dan menciptakan tren yang membawa manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan.

Prodi D3 Kebidanan, Universitas Alma Ata. Salah satu Prodi Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL, dapat membantu remaja dalam menciptakan remaja yang unggul dan berkualitas.

Daftar Referensi

  1. World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. Geneva: WHO.
  2. United Nations Children’s Fund. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
  3. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2021). Literasi Digital Nasional. Jakarta: Kominfo.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
  5. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. (2020). Generasi Berencana (GenRe). Jakarta: BKKBN.
  6. Santrock, J. W.. (2017). Life-Span Development (17th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
  7. American Psychological Association. (2017). Guidelines for adolescent development and mental health. Washington, DC: APA.
Peran Remaja dalam Masyarakat: Agen Perubahan Menuju Generasi Berkualitas

Peran Remaja dalam Masyarakat: Agen Perubahan Menuju Generasi Berkualitas

Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Remaja merupakan kelompok usia yang berada pada masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada fase ini, remaja memiliki potensi besar sebagai generasi penerus bangsa. Tidak hanya sebagai individu yang sedang berkembang, remaja juga memiliki peran strategis dalam kehidupan bermasyarakat.

Di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks, peran remaja menjadi sangat penting dalam menciptakan perubahan positif dan membangun masyarakat yang sehat, produktif, dan berdaya.

Remaja sebagai Agen Perubahan (Agent of Change)

Remaja dikenal sebagai agen perubahan karena memiliki energi, kreativitas, dan semangat yang tinggi. Dalam masyarakat, remaja dapat berkontribusi melalui:

  • Kegiatan sosial dan kemasyarakatan
  • Partisipasi dalam organisasi pemuda
  • Inovasi dalam bidang pendidikan dan teknologi
  • Penyebaran informasi positif melalui media sosial

Peran ini menunjukkan bahwa remaja bukan hanya objek pembangunan, tetapi juga subjek yang aktif dalam proses perubahan sosial.

Peran Remaja dalam Membangun Lingkungan Sehat

Dalam konteks kesehatan masyarakat, remaja memiliki peran penting, antara lain:

  • Menjadi pelopor perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
  • Mengedukasi teman sebaya tentang kesehatan reproduksi
  • Mencegah perilaku berisiko seperti merokok, narkoba, dan pergaulan bebas
  • Berpartisipasi dalam kegiatan posyandu remaja atau program kesehatan

Keterlibatan remaja dalam kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran kesehatan di lingkungan sekitar.

Peran Remaja dalam Menjaga Nilai Sosial dan Budaya

Remaja juga berperan dalam melestarikan nilai-nilai sosial dan budaya di masyarakat, seperti:

  • Menghormati norma dan adat istiadat
  • Menjaga sikap toleransi dan gotong royong
  • Berpartisipasi dalam kegiatan budaya dan keagamaan

Di tengah arus globalisasi, peran ini menjadi penting agar identitas budaya tetap terjaga.

Tantangan Remaja dalam Masyarakat Modern

Meskipun memiliki potensi besar, remaja juga menghadapi berbagai tantangan, antara lain:

  • Pengaruh negatif media sosial
  • Krisis moral dan identitas
  • Kurangnya dukungan lingkungan
  • Perilaku menyimpang akibat tekanan sosial

Jika tidak diimbangi dengan pembinaan yang tepat, tantangan ini dapat menghambat peran positif remaja.

Upaya Meningkatkan Peran Remaja

Agar remaja dapat berperan optimal dalam masyarakat, diperlukan:

  • Pemberdayaan melalui pelatihan dan edukasi
  • Penyediaan ruang kreativitas dan partisipasi
  • Penguatan nilai moral dan karakter
  • Pendampingan dari orang dewasa dan tenaga profesional

Penutup

Remaja memiliki peran penting sebagai agen perubahan dalam masyarakat. Dengan potensi yang dimiliki, remaja dapat menjadi motor penggerak dalam menciptakan lingkungan yang sehat, harmonis, dan berdaya.

Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari semua pihak untuk membimbing dan memberdayakan remaja agar mampu menjalankan perannya secara optimal demi masa depan yang lebih baik.

Prodi D3 Kebidanan, Universitas Alma Ata. Salah satu Prodi Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL, dapat membantu remaja dalam menciptakan remaja yang unggul dan berkualitas.

Daftar Referensi

  1. World Health Organization. (2020). Adolescent health. Geneva: WHO.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pedoman Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Jakarta: Kemenkes RI.
  4. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. (2021). Generasi Berencana (GenRe). Jakarta: BKKBN.
  5. Santrock, J. W.. (2017). Life-Span Development (17th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
  6. Yusuf, S.. (2012). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  7. United Nations Children’s Fund. (2021). Adolescent development and participation. New York: UNICEF.
Pererat Sinergi Kampus dan Orang Tua, Prodi Kebidanan Selenggarakan Halal Bihalal FORSIMA

Pererat Sinergi Kampus dan Orang Tua, Prodi Kebidanan Selenggarakan Halal Bihalal FORSIMA

Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata menyelenggarakan kegiatan Halal Bihalal bersama FORSIMA (Forum Silaturahmi Orang Tua dan Wali Mahasiswa) pada Jumat, 3 April 2026. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya mempererat hubungan antara pihak kampus dengan orang tua dan wali mahasiswa pasca Hari Raya Idulfitri.

Acara dimulai pukul 14.00 WIB dengan pembukaan oleh Ibu Dr. Restu Pangestuti, S.ST., M.KM selaku pemandu acara. Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Sdr. Nurkhoifatul Amirah, disertai pembacaan terjemahan oleh Sdr. Annisa Rahmatika Ilahi.

Selanjutnya, peserta mengikuti rangkaian menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Alma Ata yang dipandu oleh operator. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian sambutan dan pesan Halal Bihalal dari Rektor Universitas Alma Ata. Pada sesi berikutnya, Ketua Jurusan Sekolah Kebidanan, Ibu Dr. Siti Nurunniyah, S.ST., M.Kes, menyampaikan sambutan sekaligus ikrar syawalan. Dalam sambutannya disampaikan pentingnya kerja sama antara pihak kampus dan orang tua dalam mendukung proses pendidikan mahasiswa. Sambutan juga diberikan oleh perwakilan orang tua mahasiswa, Bapak Drs. H. Junaidi, M.Kes, yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran video dari tim admisi yang menampilkan profil serta kegiatan mahasiswa. Setelah itu, acara diakhiri dengan sesi foto bersama dan penutupan oleh MC.

Melalui kegiatan ini, diharapkan komunikasi antara pihak kampus, mahasiswa, serta orang tua dan wali dapat terus terjalin dengan baik dalam mendukung proses pendidikan di lingkungan Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata.

Kesehatan Mental Remaja Putri: Menjaga Keseimbangan Emosi di Masa Pertumbuhan

Kesehatan Mental Remaja Putri: Menjaga Keseimbangan Emosi di Masa Pertumbuhan

Penulis: Dosen Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata

Masa remaja merupakan periode penting dalam kehidupan yang ditandai dengan berbagai perubahan, baik fisik, hormonal, maupun psikologis. Pada remaja putri, perubahan ini sering kali lebih kompleks karena dipengaruhi oleh faktor biologis dan sosial. Oleh karena itu, kesehatan mental menjadi aspek yang sangat penting untuk diperhatikan.

Kesehatan mental yang baik akan membantu remaja putri menjalani masa pertumbuhan dengan lebih percaya diri, produktif, dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Dinamika Kesehatan Mental Remaja Putri

Remaja putri cenderung lebih rentan mengalami gangguan emosional dibandingkan remaja laki-laki. Hal ini disebabkan oleh:

  • Perubahan hormon yang memengaruhi suasana hati
  • Tekanan sosial terkait penampilan dan citra tubuh
  • Harapan lingkungan terhadap peran perempuan
  • Sensitivitas emosional yang lebih tinggi

Kondisi ini menjadikan remaja putri membutuhkan perhatian khusus dalam menjaga kesehatan mentalnya.

Masalah Kesehatan Mental yang Sering Terjadi

Beberapa masalah kesehatan mental yang umum dialami remaja putri antara lain:

  • Kecemasan (anxiety)
    Rasa khawatir berlebihan terhadap masa depan, pergaulan, atau penilaian orang lain.
  • Stres
    Tekanan akibat tuntutan akademik, keluarga, maupun sosial.
  • Depresi ringan hingga sedang
    Ditandai dengan perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat, dan kurang semangat.
  • Gangguan citra tubuh (body image)
    Ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh akibat pengaruh standar kecantikan di media sosial.

Jika tidak ditangani, masalah ini dapat berdampak pada kualitas hidup dan perkembangan remaja.

Pengaruh Media Sosial terhadap Kesehatan Mental

Media sosial memiliki peran besar dalam kehidupan remaja putri. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi sarana ekspresi dan komunikasi. Namun di sisi lain, juga dapat memicu:

  • Perbandingan diri dengan orang lain
  • Tekanan untuk tampil sempurna
  • Cyberbullying
  • Ketergantungan pada validasi sosial

Penggunaan yang tidak bijak dapat memperburuk kondisi mental remaja.

Peran Keluarga dan Lingkungan

Keluarga merupakan faktor utama dalam menjaga kesehatan mental remaja putri. Dukungan emosional dari orang tua sangat berpengaruh dalam membentuk rasa aman dan percaya diri.

Lingkungan yang mendukung juga berperan penting, seperti:

  • Sekolah yang ramah dan inklusif
  • Teman sebaya yang positif
  • Masyarakat yang peduli terhadap kesehatan mental

Peran Bidan dalam Kesehatan Mental Remaja

Dalam kebidanan komunitas, bidan tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik, tetapi juga berperan dalam mendukung kesehatan mental remaja putri, antara lain:

  • Memberikan konseling dasar bagi remaja
  • Edukasi tentang perubahan fisik dan emosional
  • Deteksi dini masalah kesehatan mental
  • Rujukan ke tenaga profesional bila diperlukan

Pendekatan yang empatik dan komunikatif dari bidan dapat membantu remaja merasa lebih nyaman untuk berbagi.

Upaya Menjaga Kesehatan Mental Remaja Putri

Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh remaja putri untuk menjaga kesehatan mentalnya:

  • Mengenali dan menerima diri sendiri
  • Mengelola emosi dengan baik
  • Membatasi penggunaan media sosial
  • Menjalin hubungan sosial yang sehat
  • Melakukan aktivitas positif (olahraga, hobi)
  • Berani mencari bantuan saat mengalami kesulitan

Penutup

Kesehatan mental remaja putri merupakan bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan. Dengan dukungan keluarga, lingkungan, serta tenaga kesehatan, remaja putri dapat tumbuh menjadi individu yang sehat secara fisik maupun mental.

Menjaga kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan mental remaja putri.

Prodi D3 Kebidanan, Universitas Alma Ata. Prodi Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL, dapat membantu remaja dalam menciptakan remaja yang unggul dan berkualitas.

Daftar Referensi

  1. World Health Organization. (2021). Adolescent mental health. Geneva: WHO.
  2. United Nations Children’s Fund. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pedoman Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Jakarta: Kemenkes RI.
  5. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. (2021). Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: BKKBN.
  6. American Psychological Association. (2017). Guidelines for adolescent development and mental health. Washington, DC: APA.
  7. Santrock, J. W.. (2017). Life-Span Development (17th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
  8. Hurlock, E. B.. (2011). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
  9. Yusuf, S.. (2012). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  10. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2021). Literasi Digital Nasional. Jakarta: Kominfo.
Hacks Hidup Sehat : Tetap Bugar & Produktif Meski Tugas Mahasiswi Menumpuk

Hacks Hidup Sehat : Tetap Bugar & Produktif Meski Tugas Mahasiswi Menumpuk

written by ⁠Bdn. Rani Ayu Hapsari, S.ST.,S.K.M.,M.K.M

Kesibukan akademik dan organisasi sering kali memaksa mahasiswi modern menjadikan begadang sebagai gaya hidup demi mengejar target. Padahal, identitas ‘pejuang deadline‘ ini menyimpan risiko besar. Dalam Penelitian di Indonesia menegaskan bahwa tanpa pengelolaan waktu yang baik, pola hidup tersebut akan berdampak buruk pada kualitas tidur serta stabilitas kesehatan mental di masa depan.

Lantas, bagaimana cara tetap bugar tanpa harus mengorbankan indeks prestasi? Berikut adalah beberapa hacks hidup sehat berbasis sains yang bisa diterapkan mahasiswi di tengah jadwal padat.

  1. Power Nap: Investasi 20 Menit untuk Fokus Maksimal

Kunci produktivitas mahasiswi bukan terletak pada berapa lama kamu terjaga, tapi seberapa segar pikiranmu. Saat lelah melanda, cobalah teknik power nap selama 20-30 menit. Dalam studi Penelitian menunjukkan bahwa tidur singkat ini secara ajaib mampu memulihkan kemampuan memecahkan masalah dan mempertajam fokus. Ini adalah cara paling efisien untuk kembali segar tanpa harus mengorbankan waktu berjam-jam.

Durasi yang Presisi: Berbeda dengan tidur siang biasa yang bisa berjam-jam, power nap sengaja dibatasi maksimal 20-30 menit agar tubuh tidak masuk ke fase tidur dalam (deep sleep). Jika terlalu lama, Anda justru akan merasa pening saat bangun (sleep inertia

Manfaat Kognitif: Secara ilmiah, durasi singkat ini sudah cukup untuk meningkatkan kewaspadaan, memperbaiki suasana hati (mood), dan mempertajam daya ingat serta kemampuan memecahkan masalah

  1. Micro-Workout: Bergerak di Sela-sela Tugas

Keterbatasan waktu bukan lagi alasan untuk absen berolahraga. Konsep micro-workout hadir sebagai solusi praktis bagi mahasiswi yang sibuk. Aktivitas sederhana seperti jalan cepat selama 10 menit terbukti efektif mendongkrak stamina sekaligus mereduksi stres secara instan. Selain itu, berjalan kaki secara rutin menjadi strategi jitu untuk menjaga kejernihan mental di bawah tekanan akademik yang tinggi.

Gunakan Teknik 50-10 : Terapkan manajemen waktu belajar: 50 menit fokus mengerjakan tugas, dan 10 menit khusus untuk bergerak. Jangan gunakan waktu 10 menit ini untuk main HP, tapi gunakan untuk stretching atau berjalan di dalam ruangan guna melancarkan sirkulasi darah ke otak

Stretching di Kursi Belajar (Desk Exercise)

  • Neck Rolls: Memutar leher perlahan untuk meredakan tegang.
  • Shoulder Shrugs: Mengangkat dan menurunkan bahu untuk melemaskan otot pundak yang kaku karena mengetik.
  • Seated Leg Raises: Meluruskan kaki di bawah meja sambil tetap membaca materi.
  1. Smart Hydration & “Isi Piringku

Menjaga tubuh tetap ternutrisi adalah bentuk self-love di tengah padatnya kuliah. Alih-alih melulu makan instan, cobalah sajikan porsi protein dan sayur yang seimbang sesuai panduan ‘Isi Piringku’. Ingat, otakmu butuh hidrasi yang cukup untuk bekerja maksimal. Jangan sampai dehidrasi bikin pikiran buntu dan tugas makin menumpuk. Stay hydrated, stay focused!

Smart Hydration (Hidrasi Pintar) Ini adalah teknik mengelola asupan air putih secara konsisten sepanjang hari, bukan hanya minum saat merasa haus.

  • Fokus Kognitif: Dehidrasi ringan (kurang cairan sedikit saja) dapat menyebabkan penurunan fokus, sakit kepala, dan rasa kantuk yang sering disalahartikan sebagai efek kelelahan tugas 
  • Sistem Pengingat: Bagi mahasiswi, ini berarti meletakkan botol minum sebagai “pengingat visual” di meja belajar agar hidrasi dilakukan secara mandiri dan berkala (misal: satu gelas setiap satu bab tugas selesai) 

Konsep “Isi Piringku” : ini adalah panduan gizi seimbang dari Kementerian Kesehatan RI yang menggantikan konsep “4 Sehat 5 Sempurna” dengan pembagian porsi yang lebih detail dalam satu piring sekali makan.

  • Komposisi Seimbang: Setengah piring diisi oleh sayur dan buah, sedangkan setengah piring lainnya diisi oleh makanan pokok (karbohidrat) dan lauk-pauk (protein).
  • Bahan Bakar Otak: Protein dan serat yang cukup membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil. Hal ini mencegah food coma (rasa kantuk berat setelah makan) yang sering terjadi jika mahasiswi hanya makan karbohidrat berlebih (seperti nasi putih porsi besar atau mi instan).
  1. Manajemen Stres dan Ruang Tidur

Menciptakan batasan antara dunia kuliah dan waktu istirahat dimulai dari tempat tidurmu. Dengan tidak belajar di atas kasur, kamu membantu otak mengenali kapan waktunya benar-benar berhenti berpikir dan mulai beristirahat. Jika rasa panik karena tugas datang tiba-tiba, ambil napas dalam dan perlahan untuk menenangkan diri. Ingat, dirimu butuh ruang aman untuk pulih dari lelahnya aktivitas harian.

Aturan “No Laptop on Bed”

  • Biasakan mengerjakan tugas hanya di meja belajar atau area duduk lainnya.
  • Jika kamar kos Anda sempit, gunakan karpet atau meja lipat di lantai untuk belajar, sehingga kasur tetap terjaga fungsinya hanya untuk tidur.

Ritual “Brain Dump” Sebelum Tidur

  • Stres sering muncul karena pikiran penuh dengan deadline. Sebelum pindah ke kasur, tuliskan semua daftar tugas (to-do list) untuk besok di sebuah buku. Ini membantu otak “melepaskan” beban pikiran sehingga Anda bisa tidur lebih tenang.

Sumber : 

Sudung Simatupang. Dkk,(2026), Power Nap: The Secret Of A Simple 20-Minute Investment That Supports Employee Work Productivity, International Journal of Economics, Business and Innovation Research( IJEBIR) https://doi.org/10.63922/ijebir.v5i02.3056

Afra Fitri Aulia Khair, Usiono (2025), Pengaruh Pola Hidup Terhadap Kesehatan Mahasiswa,Jurnal Ilmiah Nusantara ( JINU) DOI : https://doi.org/10.61722/jinu.v2i2.3536 

Yashvant Sathe, Dr Akshata Abhishek Nayak (2025), Impact of Power Naps on Cognitive Performance and Learning Efficiency: A Data-Driven Study, The Voice of Creative Research DOI:10.53032/tvcr/2025.v7n2.48

Ahmad Nafa Aminuddin, Atika Wijaya, Persepsi dan Praktik Gaya Hidup Sehat Pada Mahasiswa UNNES, DOI: https://doi.org/10.15294/bsb.v1i1.437