Mengapa Ibu Muda Sekarang Mudah Lelah? Mengenal “Invisible Load” dan Dampaknya bagi Kesehatan Hormonal Perempuan

Mengapa Ibu Muda Sekarang Mudah Lelah? Mengenal “Invisible Load” dan Dampaknya bagi Kesehatan Hormonal Perempuan

Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M. Tr.,M.Keb

Pernahkah Anda merasa sangat lelah secara mental padahal secara fisik tidak melakukan pekerjaan berat? Atau Anda merasa otak tidak pernah berhenti “berjalan”, memikirkan stok susu anak yang habis, jadwal imunisasi, hingga menu makan malam, bahkan saat Anda sedang bekerja di kantor?

Jika iya, Anda sedang memikul apa yang disebut dengan “Invisible Load” (Beban Tak Terlihat). Di media sosial, fenomena ini sedang viral karena menjadi pemicu utama burnout pada perempuan modern. Namun, lebih dari sekadar rasa lelah, beban mental ini ternyata berdampak serius pada kesehatan reproduksi kita.

Apa Itu Invisible Load?

Invisible Load adalah beban kognitif untuk mengelola rumah tangga dan keluarga. Meski tugas fisik bisa dibagi, namun tugas “memikirkan dan merencanakan” biasanya jatuh sepenuhnya pada perempuan.

Secara medis, kondisi ini membuat otak terus berada dalam fase fight or flight. Akibatnya, tubuh memproduksi hormon Kortisol secara berlebihan. Bagi perempuan, lonjakan kortisol kronis adalah musuh utama karena dapat:

  1. Mengacaukan Siklus Menstruasi: Kortisol tinggi mengganggu komunikasi antara otak dan ovarium.
  2. Menurunkan Kualitas Sel Telur: Stres berkepanjangan memengaruhi kesehatan reproduksi secara umum.
  3. Memicu Peradangan: Membuat tubuh mudah sakit, kulit kusam, dan emosi menjadi tidak stabil.

Untuk menjaga hormon tetap stabil, perempuan perlu melakukan “istirahat mental”:

  1. Delegasi Penuh: Jangan hanya membagi tugas fisik, tapi bagilah tanggung jawab pengambilan keputusan dengan pasangan.
  2. Radical Rest: Berikan waktu 30 menit sehari tanpa gawai, tanpa rencana, dan tanpa gangguan untuk menurunkan kadar kortisol secara alami.
  3. Prioritas Nutrisi B6 dan Magnesium: Nutrisi ini membantu tubuh mengelola stres dan mendukung sistem saraf.

Kesehatan perempuan bukan hanya soal angka di timbangan atau hasil laboratorium, tapi tentang ketenangan jiwa dalam menjalani perannya.

Dunia kebidanan kini bertransformasi. Bidan tidak hanya hadir di ruang persalinan, tetapi juga menjadi sahabat perempuan dalam mengelola kesehatan mental dan fisik pasca-melahirkan hingga masa pramenopause.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, kami memahami bahwa kesehatan seorang ibu adalah pondasi kesehatan keluarga. Mahasiswa kami dididik dengan kurikulum yang holistik, di mana mereka belajar cara mendeteksi tanda-tanda burnout dan memberikan konseling kesehatan mental bagi perempuan.

Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan menjadi salah satu yang terbaik di Jogja, kami mencetak bidan yang memiliki empati tinggi dan pengetahuan medis mutakhir. Kami percaya bahwa bidan masa depan harus mampu menjaga ibu tetap sehat secara fisik dan juga tenang secara batin.

Ikuti artikel menarik selanjutnya di Prodi D3 kebidanan yang merupakan salah satu Prodi D3 Terbaik di Jogya dengan akreditasi Unggul. Yuk intip lebih lanjut di website kita: https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/ 

Referensi:

  1. Daminger, A. (2025). The Cognitive Component of Household Labor. American Sociological Review.
  2. World Health Organization (WHO). Maternal Mental Health and Its Impact on Child Development.
  3. Journal of Reproductive Endocrinology. The Role of Cortisol in Female Reproductive Dysfunction.
Ibu Hamil dengan Obesitas dan Hipertensi Boleh Makan Daging Kurban? Boleh, Asalkan Patuhi Aturan Berikut Ini!

Ibu Hamil dengan Obesitas dan Hipertensi Boleh Makan Daging Kurban? Boleh, Asalkan Patuhi Aturan Berikut Ini!

Momen Idul Adha identik dengan berbagai hidangan berbahan dasar daging kurban seperti sate, gulai, rendang, hingga tongseng. Namun, bagi ibu hamil, terutama yang memiliki kondisi obesitas dan hipertensi, konsumsi daging kurban sering menimbulkan kekhawatiran tersendiri terkait keamanan bagi kesehatan ibu maupun janin. Meski demikian, daging kurban sebenarnya tetap dapat dikonsumsi oleh ibu hamil selama diolah dengan tepat dan tidak berlebihan. Daging merah seperti sapi dan kambing justru mengandung berbagai nutrisi penting yang dibutuhkan selama kehamilan, mulai dari protein, zat besi, vitamin B12, hingga zinc yang berperan dalam mendukung pertumbuhan janin dan menjaga kesehatan ibu.

Menurut Dosen S1 Kebidanan Alma Ata, Ratih Devi Alfiana, S.ST., M.Keb, konsumsi daging kurban bagi ibu hamil tidak perlu dihindari sepenuhnya, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing. “Daging merah mengandung zat besi dan protein yang sangat dibutuhkan selama kehamilan. Namun, bagi ibu hamil dengan obesitas atau hipertensi, pemilihan jenis daging, cara pengolahan, dan porsinya harus lebih diperhatikan agar tidak memicu komplikasi selama kehamilan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa ibu hamil dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi seperti diabetes gestasional dan preeklampsia. Sementara itu, hipertensi dalam kehamilan juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius bagi ibu dan janin apabila tidak terkontrol dengan baik. Karena itu, pengolahan daging kurban menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Daging sebaiknya dimasak hingga matang sempurna untuk menghindari risiko infeksi bakteri maupun parasit seperti Toxoplasma gondii, Salmonella, dan Listeria yang berbahaya bagi janin.

Selain itu, ibu hamil juga dianjurkan menghindari konsumsi bagian daging yang gosong akibat pembakaran karena mengandung senyawa yang kurang baik bagi kesehatan dalam jangka panjang. Bagi ibu hamil dengan obesitas, pemilihan daging tanpa lemak atau lean meat sangat dianjurkan. Konsumsi jeroan, tetelan, maupun makanan tinggi lemak sebaiknya dibatasi. Porsi makan juga perlu dikontrol dengan memperbanyak sayur dan sumber serat agar asupan kalori tetap seimbang.

Sementara pada ibu hamil dengan hipertensi, perhatian utama perlu diberikan pada kandungan garam dan santan dalam masakan. Penggunaan garam, kecap, penyedap rasa, serta bumbu instan sebaiknya dibatasi untuk membantu menjaga tekanan darah tetap stabil. “Banyak hidangan Idul Adha menggunakan santan dan garam dalam jumlah tinggi. Padahal, pada ibu hamil dengan hipertensi, konsumsi makanan tinggi natrium dapat memicu peningkatan tekanan darah. Karena itu, alternatif seperti sup bening atau olahan panggang rendah minyak lebih dianjurkan,” jelasnya.

Ibu Ratih, juga menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan, termasuk bidan, dalam memberikan edukasi kepada ibu hamil terkait pola makan sehat selama kehamilan, terutama saat momen hari raya.

Menurutnya, edukasi mengenai pemilihan makanan yang sehat perlu terus dilakukan agar ibu hamil tetap dapat menikmati momen kebersamaan keluarga tanpa mengabaikan kondisi kesehatannya.

“Kehamilan bukan berarti ibu tidak boleh menikmati makanan favorit saat Idul Adha. Yang terpenting adalah memilih bahan makanan yang sehat, mengolahnya dengan benar, serta mengontrol porsinya agar kesehatan ibu dan janin tetap terjaga,” tutupnya.

Referensi

  • [1] The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Nutrition During Pregnancy.
  • [2] World Health Organization (WHO). Guideline: Nutritional interventions during pregnancy. Geneva: World Health Organization.
  • [3] Centers for Disease Control and Prevention, & Food and Drug Administration. (2024). Food safety for pregnant women and their unborn babies. U.S. Department of Health and Human Services. 
  • [4] Kementrian Kesehatan, R. (2023). Pedoman Gizi Seimbang untuk Ibu Hamil dan Menyusui. Jakarta: Kemenkes RI. 

[5] The American College of Obstetricians and Gynecologists. (2020). Gestational hypertension and preeclampsia. ACOG Practice Bulletin, Number 222. Obstetrics & Gynecology, 135(6), e237-e260.

“Hormonal Acne” vs “Gut Health”: Rahasia Kulit Glowing Ternyata Bukan dari Skincare, Tapi dari Sini!

“Hormonal Acne” vs “Gut Health”: Rahasia Kulit Glowing Ternyata Bukan dari Skincare, Tapi dari Sini!

Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M. Tr.,M.Keb

Pernahkah Anda merasa frustasi karena jerawat terus muncul di area rahang dan dagu, padahal sudah mencoba berbagai macam skincare mahal? Atau kulit mendadak kusam dan meradang tepat sebelum siklus menstruasi datang?

Jangan buru-buru menyalahkan sabun cuci muka Anda! Di dunia kesehatan modern, kini sedang tren fenomena “Skin-Gut-Hormone Axis”. Ternyata, kulit wajah kita adalah cermin dari apa yang terjadi di dalam perut dan bagaimana hormon kita bekerja. Bagi perempuan, rahasia kulit glowing yang sesungguhnya bukan berasal dari botol serum, melainkan dari keseimbangan internal tubuh.

Mengapa Jerawat Muncul di Tempat yang Sama?

Dalam ilmu kesehatan perempuan, letak jerawat bisa menjadi petunjuk penting:

  1. Area Rahang & Dagu (Hormonal Zone): Biasanya berkaitan dengan lonjakan hormon androgen atau ketidakseimbangan estrogen-progesteron. Ini sering terjadi menjelang haid atau pada pejuang PCOS.
  2. Dahi & Pipi: Seringkali berkaitan dengan kesehatan pencernaan (gut health), konsumsi gula berlebih, atau peradangan di usus.

Saat kita stres atau mengonsumsi makanan olahan secara berlebihan, bakteri baik di usus terganggu. Hal ini memicu peradangan sistemik yang akhirnya “meledak” di permukaan kulit dalam bentuk jerawat atau kemerahan.

3 Cara untuk Kulit Lebih Sehat

  1. Stop Sugar Spikes: Gula adalah pemicu utama lonjakan insulin. Insulin yang tinggi merangsang kelenjar minyak bekerja lebih agresif. Cobalah ganti camilan manis dengan buah atau kacang-kacangan.
  2. Probiotik untuk Usus: Konsumsi makanan fermentasi (seperti tempe atau yogurt) untuk menjaga keseimbangan bakteri usus yang mendukung kesehatan kulit.
  3. Manajemen Stress: Stres memicu kortisol, dan kortisol adalah musuh utama kulit bersih. Lakukan meditasi ringan atau jalan kaki di alam terbuka.

Kulit yang sehat adalah bonus dari tubuh yang seimbang. Pahami siklusmu, jaga pencernaanmu, dan biarkan kecantikan alamimu terpancar.

Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan menjadi salah satu yang terbaik di Jogja, kami mencetak lulusan yang tidak hanya mahir secara klinis di ruang bersalin, tetapi juga mampu menjadi konsultan gaya hidup sehat bagi perempuan di masyarakat.

Ikuti artikel menarik selanjutnya di Prodi D3 kebidanan yang merupakan salah satu Prodi D3 Terbaik di Jogya dengan akreditasi Unggul. Yuk intip lebih lanjut di website kita: https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/ 

Referensi:

  1. Bowe, W. P., & Logan, A. C. (2026). Acne Vulgaris, Probiotics and the Gut-Brain-Skin Axis: Back to the Future? Journal of Dermatology Research.
  2. World Health Organization (WHO). Women’s Health and Hormonal Balance Guidelines.
  3. Kementerian Kesehatan RI. Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Pola Hidup Sehat bagi Remaja Putri.
Kolaborasi Kebidanan Komunitas Dronco & Gejayan Gelar Cek Kesehatan Gratis Bersama Puskesmas Imogiri 1 sebagai Upaya Peningkatan Kesadaran Kesehatan Masyarakat

Kolaborasi Kebidanan Komunitas Dronco & Gejayan Gelar Cek Kesehatan Gratis Bersama Puskesmas Imogiri 1 sebagai Upaya Peningkatan Kesadaran Kesehatan Masyarakat

Dalam rangka meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan sejak dini, Kolaborasi Kebidanan Komunitas Dronco & Gejayan bersama Puskesmas Imogiri 1 menyelenggarakan kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan pada Senin, 25 Mei 2026 bertempat di Musholla Al-Ikhlas.

Kegiatan yang berlangsung pada pukul 19.30-selesai ini menjadi salah satu bentuk pelayanan kesehatan promotif dan preventif yang ditujukan untuk membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya secara dini sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin. Kegiatan Cek Kesehatan Gratis ini mendapat sambutan hangat dan antusiasme tinggi dari masyarakat sekitar. Warga hadir untuk memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan yang disediakan serta mengikuti edukasi kesehatan yang diberikan oleh tim tenaga kesehatan dan mahasiswa kebidanan komunitas.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan pemeriksaan kesehatan dasar seperti pengecekan tekanan darah, pemeriksaan kondisi kesehatan umum, serta konsultasi kesehatan sederhana terkait keluhan yang dialami masyarakat sehari-hari. Pemeriksaan ini bertujuan membantu masyarakat melakukan deteksi dini terhadap berbagai penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melitus yang saat ini semakin banyak ditemukan di lingkungan masyarakat. Selain pemeriksaan kesehatan, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Materi edukasi meliputi pengaturan pola makan bergizi seimbang, pentingnya aktivitas fisik rutin, menjaga berat badan ideal, mengurangi konsumsi gula dan garam berlebih, serta pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Tim kesehatan menjelaskan bahwa banyak penyakit tidak menular sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal sehingga masyarakat perlu melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin sebagai langkah pencegahan dan deteksi dini. Dengan mengetahui kondisi kesehatan lebih awal, penanganan dapat dilakukan lebih cepat sehingga risiko komplikasi penyakit dapat diminimalkan.

Kolaborasi kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata sinergi antara institusi pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pendekatan langsung di lingkungan komunitas. Tim Kebidanan Komunitas Dronco & Gejayan bersama tenaga kesehatan dari Puskesmas Imogiri 1 berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan, melakukan pemeriksaan secara rutin, serta menerapkan pola hidup sehat sejak dini.

“Kegiatan cek kesehatan gratis ini tidak hanya menjadi sarana pelayanan kesehatan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi media edukasi agar masyarakat lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya sendiri. Harapannya, masyarakat dapat lebih aktif melakukan pencegahan penyakit sebelum muncul komplikasi yang lebih serius,” ujar salah satu tim pelaksana kegiatan.

Kegiatan berlangsung dengan lancar, interaktif, dan penuh semangat kebersamaan. Masyarakat juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang dinilai sangat bermanfaat dan membantu meningkatkan wawasan kesehatan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan dapat terus meningkat sehingga tercipta masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan peduli terhadap upaya pencegahan penyakit sejak dini.

Si Kecil Jago Bahasa Inggris tapi Belum Bisa Bicara? Waspadai Tren “Virtual Autism” Akibat Paparan Layar Berlebih!

Si Kecil Jago Bahasa Inggris tapi Belum Bisa Bicara? Waspadai Tren “Virtual Autism” Akibat Paparan Layar Berlebih!

Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M. Tr.,M.Keb.

Pernahkah Bunda merasa bangga karena si kecil yang masih balita sudah hafal lagu-lagu bahasa Inggris dari YouTube, namun justru diam seribu bahasa saat diajak ngobrol atau diminta menyebutkan namanya sendiri? Jika iya, waspadalah. Fenomena ini sedang marak dan dikenal di dunia kesehatan anak sebagai “Virtual Autism” atau gejala menyerupai autisme yang dipicu oleh paparan layar (screen time) yang berlebihan.

Di era digital ini, memberikan gawai kepada anak seolah menjadi “penyelamat” saat orang tua sibuk. Padahal, otak anak di masa Golden Age (0–5 tahun) membutuhkan interaksi dua arah, bukan sekadar menonton layar yang bersifat pasif.

Anak-anak yang terpapar layar lebih dari 2 jam sehari sebelum usia 2 tahun berisiko tinggi mengalami hambatan tumbuh kembang:

  1. Speech Delay (Terlambat Bicara)

Anak hanya menjadi “pendengar pasif”. Mereka tahu banyak kata, tapi tidak tahu cara menggunakannya untuk berkomunikasi dengan manusia.

  1. Hilangnya Kontak Mata

Terbiasa menatap layar yang statis membuat anak sulit fokus menatap mata lawan bicaranya (kontak mata lemah).

  1. Gangguan Sensorik

Anak menjadi kurang sensitif terhadap lingkungan sekitar karena otaknya hanya terbiasa dengan stimulasi visual dan audio yang cepat dari video.

Solusi: Kembali ke Stimulasi Alami

Bukan berarti gawai dilarang total, namun ada aturan mainnya:

  1. Zero Screen Time: Untuk anak di bawah usia 18-24 bulan, hindari layar sama sekali (kecuali video call singkat).
  2. Interaksi Dua Arah: Ganti tontonan dengan membacakan buku (read aloud) atau bermain peran. Otak anak berkembang lewat sentuhan, suara ibu, dan ekspresi wajah nyata.
  3. Ajak Bicara Apa Saja: Ceritakan apa yang sedang Bunda lakukan, misalnya saat memandikan atau menyuapi anak. Ini adalah cara alami “mengisi” kosa kata di otak mereka.

Mungkin banyak yang bertanya, “Mengapa Bidan membahas perkembangan anak?” Perlu diketahui, peran bidan sangat krusial dalam SDIDTK (Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang). Bidan adalah tenaga kesehatan pertama yang mendampingi ibu sejak hamil hingga memantau perkembangan balita.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, mahasiswa kami dididik untuk jeli memantau setiap milestone perkembangan anak. Kami membekali mahasiswa dengan ilmu pemantauan tumbuh kembang yang mendalam, sehingga bidan lulusan UAA tidak hanya ahli menolong persalinan, tapi juga menjadi konsultan terpercaya bagi orang tua dalam mencegah speech delay pada anak.

Sebagai prodi terakreditasi UNGGUL dan merupakan salah satu yang terbaik di Jogja, kami berkomitmen mencetak bidan masa depan yang tanggap terhadap isu kesehatan anak di era digital.

Kesimpulan: 

Masa emas anak hanya datang satu kali. Jangan biarkan layar menggantikan peran orang tua dalam mendidik dan memberikan stimulasi.

Ingin menjadi bagian dari tenaga kesehatan yang mampu menjaga generasi penerus bangsa? Bergabunglah bersama kami di D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Kami siap membentuk Anda menjadi bidan yang profesional, kompeten, dan peka terhadap kesehatan holistik ibu dan anak.

Ikuti artikel menarik selanjutnya di Prodi D3 kebidanan yang merupakan salah satu Prodi D3 Terbaik di Jogya dengan akreditasi Unggul. Yuk intip lebih lanjut di website kita: https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/ 

Referensi:

  1. American Academy of Pediatrics (AAP). (2026). Media and Young Minds: New Recommendations for Digital Age.
  2. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak.
  3. Journal of Clinical Child Psychology. Screen Time Exposure and Its Impact on Speech Development in Toddlers.