Hidup sehat sering kali dipersepsikan sebagai sesuatu yang sulit dilakukan. Ada yang merasa tidak memiliki cukup waktu, ada yang menganggap biayanya terlalu mahal, dan ada pula yang berpikir bahwa hidup sehat hanya dapat dilakukan jika memiliki fasilitas yang memadai. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesehatan lebih banyak ditentukan oleh kebiasaan yang dilakukan secara konsisten daripada oleh mahal atau tidaknya pilihan yang diambil.
Bagi remaja akhir dan dewasa awal, tantangan terbesar bukan hanya kesibukan sekolah dan kuliah, tetapi juga bagaimana mengelola kebiasaan sehari-hari. Jadwal belajar yang padat, tugas, kegiatan organisasi, hingga aktivitas di media sosial dapat membuat waktu makan, aktivitas fisik, dan tidur menjadi kurang teratur. Kondisi tersebut sering kali mendorong pilihan yang lebih praktis, seperti melewatkan sarapan, memilih makanan siap saji, mengurangi aktivitas fisik, atau tidur larut malam.
Padahal, kebiasaan yang terbentuk pada masa remaja dan dewasa awal cenderung berlanjut hingga usia dewasa. Oleh karena itu, periode ini merupakan waktu yang penting untuk membangun gaya hidup sehat.
Kabar baiknya, hidup sehat tidak selalu membutuhkan perubahan besar ataupun biaya tambahan. Dalam banyak situasi, hidup sehat dimulai dari pilihan-pilihan sederhana yang dilakukan setiap hari. Memilih makanan yang lebih bergizi, meluangkan waktu untuk bergerak, dan menjaga waktu tidur merupakan contoh kebiasaan yang dapat dilakukan tanpa harus mengeluarkan biaya yang lebih besar.
Memilih Makanan yang Lebih Bergizi
Pola makan sehat tidak selalu identik dengan makanan yang mahal. Telur, tempe, tahu, ikan lokal, sayuran, dan buah musiman merupakan contoh bahan pangan bergizi yang relatif terjangkau dan mudah ditemukan.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat mengeluarkan biaya yang hampir sama, tetapi memperoleh kualitas gizi yang sangat berbeda. Misalnya, harga satu gelas minuman berpemanis sering kali setara dengan beberapa butir telur. Sebungkus camilan atau keripik dapat memiliki harga yang tidak jauh berbeda dengan satu papan tempe atau beberapa potong tahu. Demikian pula, satu porsi makanan cepat saji atau makanan tinggi tepung belum tentu lebih murah dibandingkan seporsi nasi dengan lauk sederhana seperti telur, tempe, atau tahu yang dilengkapi sayur.
Perbedaannya bukan hanya pada rasa kenyang, tetapi juga pada kandungan gizinya. Minuman berpemanis umumnya mengandung gula tambahan yang tinggi, sedangkan camilan seperti keripik didominasi oleh lemak, garam, dan kalori yang terbukti meningkatkan risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, dan berbagai penyakit tidak menular lainnya jika dikonsumsi secara berlebih. Sebaliknya, telur, tempe, tahu, dan ikan memberikan protein berkualitas, sementara sayur dan buah melengkapi kebutuhan serat, vitamin, dan mineral yang membantu tubuh belajar, berpikir, dan beraktivitas secara optimal, sekaligus memberikan rasa kenyang yang lebih lama.
Memilih untuk Tetap Bergerak
Kesibukan sering menjadi alasan untuk tidak berolahraga. Sebagian orang juga menganggap olahraga yang efektif harus dilakukan di pusat kebugaran dengan berbagai peralatan modern. Padahal, manfaat utama aktivitas fisik diperoleh dari tubuh yang bergerak secara teratur, bukan dari mahalnya tempat atau fasilitas olahraga.
WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150–300 menit setiap minggu, atau sekitar 30 menit sehari selama lima hari. Aktivitas tersebut dapat berupa berjalan kaki, bersepeda, menaiki tangga, jogging ringan, senam, atau latihan kekuatan menggunakan berat badan sendiri di rumah.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik sederhana yang dilakukan secara rutin tetap memberikan manfaat yang besar, seperti meningkatkan kebugaran jantung dan paru, membantu menjaga berat badan, menurunkan risiko diabetes dan penyakit jantung, memperbaiki kualitas tidur, serta membantu mengurangi stres dan kecemasan. Dengan kata lain, berjalan kaki selama 30 menit setiap hari tetap memberikan manfaat kesehatan yang nyata meskipun tidak pernah berolahraga di pusat kebugaran. Yang terpenting bukanlah seberapa mahal tempat berolahraga, tetapi seberapa konsisten tubuh diajak bergerak.
Memilih Waktu Istirahat yang Cukup
Tidur sering menjadi hal pertama yang dikorbankan ketika tugas sekolah atau kuliah mulai menumpuk. Selain itu, penggunaan media sosial juga menjadi salah satu penyebab berkurangnya waktu istirahat pada remaja dan mahasiswa. Tidak sedikit yang berniat membuka media sosial hanya beberapa menit, tetapi tanpa disadari menghabiskan waktu hingga berjam-jam sebelum tidur.
Padahal, orang dewasa dianjurkan tidur sekitar 7–9 jam setiap malam. Tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga konsentrasi, daya ingat, suasana hati, sistem kekebalan tubuh, dan kesehatan metabolik. Sebaliknya, kurang tidur dalam jangka panjang berkaitan dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit kardiovaskular.
Mengurangi penggunaan gawai dan media sosial sebelum tidur merupakan langkah sederhana yang dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Selain memberikan waktu istirahat yang cukup, kebiasaan ini juga membantu tubuh dan otak pulih sehingga siap belajar dan beraktivitas keesokan harinya.
Mulai dari Pilihan Sederhana
Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Ada siswa yang harus membantu orang tua setelah pulang sekolah, mahasiswa yang aktif berorganisasi, atau yang harus bekerja sambil kuliah. Karena itu, hidup sehat bukan berarti melakukan semua anjuran secara sempurna.
Yang lebih penting adalah memilih perubahan yang realistis dan dapat dilakukan secara konsisten. Kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari akan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan perubahan besar yang hanya bertahan beberapa hari.
Hidup sehat dapat dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan setiap hari sebagai berikut:
1. Pilih makanan dan minuman yang lebih bergizi.
Perbanyak konsumsi sayur, buah, serta sumber protein seperti telur, tempe, tahu, dan ikan.
Kurangi konsumsi makanan cepat saji, makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta camilan ultra-proses yang rendah nilai gizi.
Pilih air putih sebagai minuman utama dan batasi konsumsi minuman berpemanis.
2. Pilih untuk tetap aktif bergerak setiap hari.
Luangkan sekitar 30 menit untuk berjalan kaki, bersepeda, senam, atau aktivitas fisik lainnya.
Kurangi waktu duduk yang terlalu lama dengan berdiri atau berjalan singkat setiap 30–60 menit.
3. Pilih waktu tidur yang cukup dan berkualitas.
Usahakan tidur selama 7–9 jam setiap malam.
Batasi penggunaan gawai dan media sosial menjelang waktu tidur agar kualitas istirahat lebih baik.
4. Pilih mengelola waktu dengan lebih bijak.
Kesibukan sekolah dan kuliah memang tidak dapat dihindari, tetapi menyisihkan waktu untuk makan, bergerak, dan beristirahat merupakan bagian dari menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan produktivitas belajar.
5. Pilih perubahan yang realistis dan konsisten.
Tidak perlu menunggu semua kondisi menjadi ideal.
Mulailah dari satu kebiasaan sehat yang paling mudah dilakukan, kemudian tingkatkan secara bertahap hingga menjadi bagian dari gaya hidup.
Hidup sehat tidak selalu membutuhkan biaya yang besar. Dalam banyak situasi, pilihan yang lebih sehat justru dapat dilakukan dengan biaya yang relatif sama, bahkan lebih hemat, dibandingkan pilihan yang kurang sehat. Yang membedakan sering kali bukan kemampuan finansial, melainkan kebiasaan yang dipilih dan dilakukan secara konsisten setiap hari.
Membangun gaya hidup sehat membutuhkan pengetahuan yang benar dan kemampuan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Program Studi S1 Kebidanan dan Profesi Bidan Universitas Alma Ata siap menjadi tempat bertumbuh bagi calon bidan yang profesional. Melalui pembelajaran yang berbasis bukti (evidence-based midwifery), mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi tenaga kesehatan yang kompeten, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu mengedukasi masyarakat serta berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan perempuan, ibu, bayi, anak, remaja, dan keluarga.
Referensi
Bull FC, Al-Ansari SS, Biddle S, et al. World Health Organization 2020 Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. British Journal of Sports Medicine. 2020;54(24):1451–1462. doi:10.1136/bjsports-2020-102955.
World Health Organization. Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: WHO; 2020.
Sawyer SM, Azzopardi PS, Wickremarathne D, Patton GC. The age of adolescence. The Lancet Child & Adolescent Health. 2018;2(3):223–228. doi:10.1016/S2352-4642(18)30022-1.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2019.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI; 2024.
World Health Organization. Guideline: Sugars Intake for Adults and Children. Geneva: WHO; 2015.
World Health Organization. Global Action Plan for the Prevention and Control of Noncommunicable Diseases 2013–2030. Geneva: WHO.
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Setiap anak lahir dengan temperamen yang unik. Ada anak yang secara alami berani tampil di depan publik, namun tidak sedikit pula yang cenderung pasif, pemalu, dan menarik diri dari interaksi sosial.
Sifat pasif pada anak sebenarnya bukanlah sebuah kesalahan. Namun, jika kepasifan ini berakar dari rasa rendah diri, ketakutan ekstrim akan penolakan, atau kurangnya keterampilan sosial, anak berisiko tinggi menjadi target empuk perundungan (bullying) dan mengalami gangguan kecemasan di kemudian hari.
Membangun keberanian anak bukanlah dengan cara memaksa mereka menjadi orang lain, melainkan memperkuat karakter mereka dari dalam (inside-out). Berikut adalah langkah praktis berbasis psikologi perkembangan untuk mengubah anak pasif menjadi pribadi yang berani dan percaya diri.
1. Latih Assertive Communication (Komunikasi Tegas) sejak di Rumah
Anak yang pasif seringkali kesulitan menyatakan keinginan atau menolak hal yang tidak mereka sukai karena takut memicu konflik. Orang tua perlu melatih mereka dasar-dasar komunikasi asertif.
Kontak Mata dan Bahasa Tubuh: Saat anak meminta sesuatu di rumah, biasakan mereka untuk berbicara sambil menatap mata Anda dengan bahu yang tegak. Bahasa tubuh yang tegap memancarkan sinyal percaya diri ke otak mereka sendiri dan orang di sekitarnya.
Gunakan “I-Statement”: Latih anak untuk mengekspresikan diri menggunakan struktur kalimat: “Aku merasa… ketika kamu… jadi aku minta…”
Contoh: “Aku merasa sedih ketika mainanku direbut, jadi aku minta tolong kembalikan.” Ini melatih anak mempertahankan haknya tanpa perlu menjadi agresif.
2. Berikan “Pujian Berbasis Proses” (Growth Mindset Praise)
Banyak orang tua keliru memberikan pujian yang berfokus pada hasil atau label permanen, seperti “Kamu pintar sekali” atau “Kamu anak hebat”. Pujian jenis ini justru membuat anak pasif takut mencoba hal baru karena takut kehilangan label “pintar” tersebut jika mereka gagal.
Ubah Pola Pujian: Berfokuslah pada usaha, strategi, dan ketahanan mereka.
1) Salah: “Wah, kamu berani banget langsung menang lomba!”
2) Benar: “Ibu bangga sekali melihat kamu tadi berani maju ke depan kelas meskipun tanganmu sempat gemetar. Itu namanya keberanian nyata!”
3. Libatkan Anak dalam Pengambilan Keputusan Kecil
Anak menjadi pasif dan dependen jika semua aspek hidupnya disetir oleh orang tua (helicopter parenting). Rasa percaya diri tumbuh ketika anak merasa memiliki kendali atas dirinya (sense of agency).
Berikan Pilihan Terbatas: Mulai dari hal kecil sehari-hari. “Hari ini kamu mau pakai baju yang biru atau hijau?” atau “Untuk bekal sekolah besok, kamu lebih suka dibawakan buah apel atau pisang?”
Dampaknya: Ketika anak dibiasakan memilih dan pilihannya dihargai, mereka belajar mempercayai penilaian mereka sendiri. Ini adalah modal utama agar mereka berani bersuara di lingkungan luar.
4. Salurkan pada Komunitas Positif di Luar Sekolah
Sekolah formal terkadang memiliki dinamika sosial yang terlalu intimidatif bagi anak pasif. Membuka “lembaran baru” di lingkungan lain dapat memicu rasa percaya diri yang tidak terduga.
Klub Minat dan Bakat: Daftarkan anak pada kegiatan kelompok kecil yang sesuai minatnya—baik itu klub sains, kelas menggambar, atau seni bela diri.
Mengapa Ini Efektif? Di lingkungan baru yang tidak memiliki label masa lalu tentang dirinya, anak memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi sisi berani mereka. Selain itu, menguasai suatu keterampilan baru secara otomatis mendongkrak harga diri (self-esteem) anak.
Strategi Transformasi Karakter Anak
1.Validasi dan Beri Ruang Berpendapat:Fase 1: Di Rumah.
Hargai emosi anak, dengarkan pendapat mereka saat diskusi keluarga, dan hindari melabeli mereka sebagai “anak penakut” atau “pemalu”.
2.Simulasi Skenario Sosial:Fase 2: Interpersonal.
Lakukan bermain peran (role-play) di rumah. Simulasikan cara berkenalan dengan teman baru atau cara menegur teman yang usil secara tegas.
3.Pelepasan Mandiri Bertahap:Fase 3: Lingkungan Luar.
Biarkan anak melakukan transaksi sendiri (misalnya membayar di kasir atau memesan makanan sendiri) untuk memupuk kemandirian fisik dan mental.
Kesimpulan: Percaya Diri adalah Otot Otak
Mengubah anak pasif menjadi berani bukanlah proses instan yang terjadi dalam semalam. Keberanian dan rasa percaya diri layaknya otot otak; ia perlu dilatih, diberikan beban tantangan yang pas secara bertahap, dan didukung oleh nutrisi emosional yang tepat dari orang tua. Ketika anak tahu bahwa rumah mereka adalah tempat teraman untuk pulang, mereka akan memiliki keberanian penuh untuk menaklukkan dunia luar.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi/ jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO) (2024) – Guidelines on Promotive and Preventive Mental Health Interventions for Adolescents and Children:
UNICEF (2025) – The Power of Positive Parenting: Building Resilience and Confidence in Children
Dweck, C. S. (2023). Mindset: Changing the Way You Think to Fulfill Your Potential (Edisi Pembaruan Jurnal Psikologi):
International Journal of Behavioral Development (2024) – The Role of Assertiveness Training in Reducing Bullying Vulnerability among Passive Children
Yogyakarta, 7 Agustus 2026 — Mahasiswa Program Sarjana Kebidanan Universitas Alma Ata angkatan 2022 mengikuti Pelatihan KKMN (Kewaspadaan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal) yang diselenggarakan bersama Sieka Medika pada 3–7 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kompetensi mahasiswa dalam menghadapi berbagai kondisi kegawatdaruratan maternal dan neonatal yang membutuhkan respons cepat, tepat, dan terukur.
Pelatihan KKMN dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali kondisi kegawatdaruratan sejak dini. Tidak hanya memahami tanda dan gejala bahaya, mahasiswa juga dilatih untuk melakukan penanganan awal, menentukan prioritas tindakan, mengambil keputusan klinis secara cepat dan tepat, serta memahami prinsip sistem rujukan dalam penanganan kasus kegawatdaruratan.
Kegawatdaruratan maternal dan neonatal merupakan kondisi yang membutuhkan kesiapan tenaga kesehatan karena perubahan kondisi pasien dapat terjadi dengan cepat. Dalam situasi tersebut, kemampuan untuk mengenali tanda bahaya dan memberikan pertolongan awal secara tepat menjadi bagian penting dalam upaya mencegah komplikasi yang lebih berat.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh penguatan pengetahuan secara teori, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan. Proses pembelajaran diarahkan agar mahasiswa mampu mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan klinis, komunikasi, pengambilan keputusan, dan kerja sama dalam memberikan pelayanan.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses pembentukan kesiapan profesional mahasiswa sebelum memasuki dunia pelayanan kebidanan. Seorang bidan tidak hanya dituntut memiliki kompetensi dalam memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif, tetapi juga harus mampu bertindak tanggap ketika menghadapi kondisi yang membutuhkan penanganan segera.
“Kesiapan menghadapi kegawatdaruratan tidak hanya dibangun ketika seorang bidan sudah berada di tempat pelayanan. Kesiapan tersebut perlu dilatih sejak masa pendidikan melalui pembelajaran, simulasi, dan pengalaman praktik yang terarah,” ungkap salah satu pendamping kegiatan.
Pelatihan KKMN bersama Sieka Medika juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya koordinasi dan komunikasi dalam penanganan kegawatdaruratan. Dalam kondisi darurat, keberhasilan pelayanan tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada kemampuan tim dalam bekerja secara terkoordinasi serta memastikan pasien mendapatkan penanganan dan rujukan sesuai kebutuhan.
Bagi mahasiswa Program Sarjana Kebidanan angkatan 2022, kegiatan ini menjadi salah satu pengalaman pembelajaran yang memperkuat kesiapan menghadapi tantangan profesi di masa mendatang. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal untuk memberikan pelayanan kebidanan yang aman, profesional, dan berorientasi pada keselamatan ibu dan bayi.
Melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan teori dan praktik, Program Sarjana Kebidanan Universitas Alma Ata terus berkomitmen mempersiapkan calon bidan yang kompeten, responsif, dan mampu memberikan pelayanan berbasis bukti (evidence-based midwifery).
Pelatihan KKMN bukan sekadar tentang belajar menghadapi kondisi darurat, tetapi juga tentang membangun kesiapan untuk hadir dan memberikan respons terbaik ketika ibu dan bayi membutuhkan pertolongan.
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Kasus perundungan (bullying) di kalangan anak-anak kini bukan lagi sekadar masalah ejekan di halaman sekolah. Di era digital, polanya meluas menjadi cyberbullying yang beroperasi 24 jam sehari tanpa henti. Dampaknya pun sangat nyata bagi kesehatan fisik dan mental anak, mulai dari penurunan performa akademis, gangguan kecemasan (anxiety), depresi, hingga risiko menyakiti diri sendiri.
Mencegah anak agar tidak terjebak menjadi pelaku maupun korban perundungan tidak bisa dilakukan secara instan ketika masalah sudah terjadi. Fondasi terkuat harus dibangun sejak dini dari dalam diri anak melalui penguatan karakter khusus yang adaptif dengan tantangan “Zaman Now“.
3 Bekal Karakter Utama untuk Membentengi Anak
Berdasarkan studi psikologi perkembangan, anak-anak yang memiliki kecerdasan emosional dan ketahanan diri yang baik cenderung terhindar dari lingkaran perundungan. Berikut adalah tiga karakter esensial yang wajib ditanamkan orang tua di rumah:
1. Karakter Asertif (Berani dan Tegas, Bukan Kasar)
Banyak orang tua keliru mengajarkan anak untuk “membalas pukulan dengan pukulan” agar tidak diremehkan. Cara terbaik sebenarnya adalah melatih perilaku asertif.
Anak yang asertif mampu mengekspresikan ketidaksukaannya tanpa rasa takut, namun tetap menghormati orang lain.
Aksi nyata: Latih anak untuk melakukan kontak mata, berdiri tegak, dan menggunakan intonasi suara yang datar namun lantang saat berkata, “Stop, aku tidak suka kamu bicara seperti itu.” Pelaku bullying biasanya langsung mengurungkan niatnya saat melihat calon korban memancarkan aura percaya diri.
2. Empati Kognitif dan Afektif
Empati adalah penawar racun dari karakter pelaku bullying. Anak zaman sekarang terpapar banyak konten digital yang mendepersonalisasi manusia, membuat mereka rentan kehilangan kepekaan sosial.
Anak yang dibiasakan berempati di rumah akan mampu merasakan penderitaan orang lain, sehingga mereka tidak akan mau menjadi pelaku.
Di sisi lain, jika mereka melihat temannya dirundung, karakter ini mendorong mereka menjadi upstander (pembela), bukan sekadar penonton yang diam.
3. Ketahanan Mental (Resilience) dan Harga Diri (Self-Esteem) yang Sehat
Anak-anak dengan harga diri yang rapuh seringkali mencari validasi dengan cara menindas orang lain (agar merasa berkuasa) atau justru menjadi sangat rapuh saat menerima ejekan kecil.
Orang tua harus membangun harga diri anak berdasarkan usaha mereka (growth mindset), bukan sekadar pujian kosong atau pencapaian akademis belaka.
Anak yang tahu bahwa dirinya berharga dan dicintai di rumah tidak akan mudah goyah mentalnya meskipun mendapat lingkungan yang kurang suportif di luar.
Strategi Praktis Orang Tua di Rumah
Langkah
Implementasi Nyata
Komunikasi “Meja Makan”
Sediakan waktu 15 menit sehari tanpa gawai untuk mengobrol secara mendalam. Tanyakan emosi anak, bukan cuma tugas sekolahnya.
Literasi Digital Terbuka
Ajarkan anak bahwa jempol mereka di media sosial memiliki konsekuensi nyata. Beri batasan bahwa apa yang tidak layak diucapkan langsung, juga tidak layak diketik di kolom komentar.
Role-Play (Simulasi)
Lakukan simulasi drama kecil di rumah. Contohkan situasi jika ada teman yang mengejek, lalu latih bagaimana anak harus merespons secara tenang dan taktis.
Kesimpulan: Karakter adalah Perisai Terbaik
Menjaga anak di zaman sekarang tidak bisa lagi dengan cara mengurung mereka di dalam rumah. Perisai terbaik yang bisa kita berikan adalah karakter yang kokoh. Ketika anak memiliki sikap asertif, empati yang tinggi, dan harga diri yang sehat, mereka tidak hanya selamat dari bahaya bullying, tetapi juga tumbuh menjadi agen perubahan positif bagi generasi mereka.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi atau jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO). (2020). Inspirational Guidelines on School Health and Prevention of Peer Violence. Geneva: WHO.
UNICEF. (2023). The State of the World’s Children: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
Olweus, D., & Limber, S. P. (2019). Bullying in School: Evaluation and Dissemination of the Olweus Bullying Prevention Program. American Journal of Orthopsychiatry, 89(2), 203–212.
Journal of Adolescent Health. (2022). The Power of Upstanders: How Empathy Training Modifies Peer Dynamics in Bullying Situations. Vol. 71, Issue 4, 412-419.
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
YOGYAKARTA – Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA) kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu institusi pendidikan tenaga kesehatan terdepan di Indonesia. Melalui pengumuman hasil Uji Kompetensi Nasional (Ukomnas) Kebidanan periode terbaru, mahasiswa D3 Kebidanan Universitas Alma Ata berhasil meraih tingkat kelulusan yang sangat membanggakan.
Capaian impresif ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bukti nyata dari kapasitas, kompetensi, dan kesiapan para lulusan Alma Ata dalam menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan ibu dan anak di era modern.
Standar Mutu Unggul dan Reputasi Berkelas
Pencapaian luar biasa dalam Ukomnas ini merupakan cerminan dari ekosistem akademik yang kokoh di Universitas Alma Ata. Sebagai perguruan tinggi swasta yang secara konsisten masuk dalam jajaran kampus papan atas nasional, UAA berkomitmen menyelenggarakan pendidikan kebidanan yang berstandar tinggi.
Beberapa keunggulan utama yang menjadikan Prodi D3 Kebidanan UAA unggul secara nasional meliputi:
Kurikulum Berbasis Kompetensi & Kebijakan Global: Kurikulum dirancang adaptif terhadap dinamika pelayanan kesehatan terkini, memadukan keterampilan klinis (hard skills) dan sikap profesional (soft skills).
Fasilitas Laboratorium Kebidanan Terpadu: Mahasiswa berlatih menggunakan instrumen dan simulator medis modern yang mendekati kondisi nyata di lapangan, sehingga tingkat kesiapan praktikum mereka sangat matang.
Staf Pengajar Berkualifikasi Tinggi: Dididik oleh dosen-dosen berpengalaman, pakar di bidang kesehatan reproduksi, serta aktif dalam riset dan pengabdian masyarakat.
Penguatan Nilai Keislaman dan Etika Profesi: Selain unggul secara intelektual, bidan lulusan Alma Ata dibekali dengan karakter empati, ketelitian, dan nilai-nilai moral yang kuat dalam melayani masyarakat.
Bidan Masa Depan yang Siap Mengabdi
Lulus Ukomnas secara nasional merupakan syarat mutlak (exit exam) untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) Bidan. Keberhasilan lulusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata menembus kelulusan ini membuktikan bahwa lulusan UAA memiliki daya saing tinggi dan siap langsung diterjunkan ke berbagai sarana pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit, puskesmas, Praktik Mandiri Bidan (PMB), maupun lembaga kesehatan lainnya di seluruh Indonesia.
“Keberhasilan ini mempertegas reputasi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata sebagai pencetak tenaga bidan yang profesional, handal, dan berdaya saing global.”
Dengan pencapaian ini, Universitas Alma Ata semakin memperkokoh perannya sebagai benteng pencetak tenaga kesehatan unggulan yang siap mengabdi demi mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Standar Kompetensi Bidan Indonesia. Jakarta: Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/320/2020.
Komite Nasional Uji Kompetensi Mahasiswa Bidang Kesehatan (UKOMNAS).Pedoman Pelaksanaan Uji Kompetensi Mahasiswa Kebidanan. Kemendikbud Ristek RI.