Self-Diagnosis oleh Ibu Hamil berdasarkan informasi Google dan TikTok

Self-Diagnosis oleh Ibu Hamil berdasarkan informasi Google dan TikTok

Penulis: Dr. Restu Pangestuti, S.ST., MKM.

Di era digital, mencari informasi kesehatan semudah mengetik kata kunci di Google atau menonton video di TikTok. Bagi ibu hamil, informasi tersebut dapat membantu memahami perubahan tubuh, nutrisi, tanda bahaya, dan persiapan persalinan. Namun, kemudahan ini juga dapat mendorong self-diagnosis, yaitu menentukan sendiri kondisi kesehatan berdasarkan informasi yang ditemukan tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan.

Ketika Gejala Langsung Dicari di Internet

Mual, pusing, sakit kepala, nyeri perut, atau kelelahan merupakan keluhan yang dapat terjadi selama kehamilan. Namun, satu gejala dapat memiliki berbagai penyebab. Misalnya, sakit kepala dapat berkaitan dengan kelelahan atau dehidrasi, tetapi pada kondisi tertentu juga dapat menjadi tanda masalah yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Masalah muncul ketika ibu langsung menyimpulkan, “Saya hanya mengalami keluhan biasa karena hamil,” atau sebaliknya, “Saya pasti mengalami penyakit tertentu,” hanya berdasarkan hasil pencarian internet.

Apa Risikonya?

Pertama, salah memahami gejala. Informasi di internet tidak selalu mempertimbangkan riwayat kesehatan dan kondisi kehamilan setiap individu.

Kedua, terlambat mendapatkan pertolongan. Menganggap gejala sebagai kondisi yang normal dapat menyebabkan ibu menunda pemeriksaan, padahal beberapa tanda kehamilan memerlukan evaluasi segera.

Ketiga, penggunaan obat atau herbal secara sembarangan. Rekomendasi dari influencer atau pengalaman pengguna lain tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan keamanan obat atau suplemen selama kehamilan.

Keempat, meningkatkan kecemasan. Pencarian informasi kesehatan secara berlebihan dapat membuat ibu menemukan berbagai kemungkinan penyakit dan semakin khawatir. Kondisi ini dikenal sebagai cyberchondria.

Tidak Semua Informasi di Media Sosial Salah

Google dan TikTok bukanlah musuh. Media digital justru dapat menjadi sarana edukasi yang bermanfaat apabila digunakan secara bijak. Ibu hamil dapat memperoleh informasi mengenai nutrisi, aktivitas fisik, kesehatan mental, pemeriksaan kehamilan, hingga tanda bahaya.

Yang perlu diperhatikan adalah sumber dan kualitas informasinya. Jumlah likes, followers, atau penayangan bukan jaminan bahwa informasi kesehatan tersebut benar.

Sebelum mempercayai suatu konten, pastikan:

  1. Siapa yang membuat informasi tersebut?
  2. Apakah sumbernya berasal dari tenaga atau organisasi kesehatan yang kredibel?
  3. Apakah terdapat referensi ilmiah?
  4. Apakah informasi tersebut masih relevan?
  5. Apakah informasi tersebut sesuai dengan kondisi saya?

Jangan Gantikan Pemeriksaan dengan Google

Ibu hamil perlu segera mendapatkan pertolongan apabila mengalami tanda bahaya seperti perdarahan, sakit kepala berat, gangguan penglihatan, nyeri perut hebat, sesak napas, kejang, demam, atau gerakan janin berkurang.

Peran Bidan di Era Digital

Bidan memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi kesehatan digital ibu hamil. Edukasi tidak hanya tentang kesehatan kehamilan, tetapi juga bagaimana memilih informasi yang benar dan menghindari informasi kesehatan yang menyesatkan. Ibu hamil tidak perlu takut menggunakan internet. Justru, jadikan teknologi sebagai sumber pengetahuan, bukan sebagai pengganti pemeriksaan dan konsultasi. Google dapat membantu mencari informasi. TikTok dapat memberikan edukasi. Tetapi diagnosis dan keputusan kesehatan selama kehamilan tetap memerlukan penilaian tenaga kesehatan dan bukti ilmiah.

Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.

Referensi

  1. World Health Organization. (2024). Infodemic. WHO.
  2. World Health Organization. (2023). Global strategy on digital health 2020–2025. WHO.
  3. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Health Literacy. CDC.
  4. Starcevic, V., & Berle, D. (2013). Cyberchondria: Towards a better understanding of excessive health-related Internet use. Expert Review of Neurotherapeutics, 13(2), 205–213.
  5. Moorhead, S. A., et al. (2013). A new dimension of health care: Systematic review of the uses, benefits, and limitations of social media for health communication. Journal of Medical Internet Research, 15(4), e85.
Tren Silent Puberty pada Anak Generasi Alpha: Ketika Hormon Reproduksi Matang Terlalu Dini Tanpa Disadari Orang Tua

Tren Silent Puberty pada Anak Generasi Alpha: Ketika Hormon Reproduksi Matang Terlalu Dini Tanpa Disadari Orang Tua

Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb

Di era serba digital ini, fenomena tumbuh kembang anak dari Generasi Alpha (anak-anak yang lahir setelah tahun 2010) menunjukkan pergeseran biologis yang drastis. Salah satu isu kesehatan reproduksi anak yang kini sedang ramai diperbincangkan di kalangan dokter anak dan ahli kebidanan adalah Silent Puberty atau Pubertas Dini Tersembunyi (Pubertas Prekok).

Banyak orang tua mengira pubertas pada anak perempuan baru dimulai saat ia mengalami menstruasi pertama (menarche), atau pada anak laki-laki saat suaranya memberat. Padahal, akibat paparan lingkungan modern, proses pematangan organ reproduksi ternyata sudah berjalan diam-diam jauh lebih awal bahkan sejak usia 7 atau 8 tahun tanpa menunjukkan tanda-tanda fisik yang mencolok.

Mengapa Silent Puberty Marak Terjadi pada Generasi Alpha?

Pubertas dini yang terjadi secara senyap ini dipicu oleh interaksi kompleks antara nutrisi modern, paparan zat kimia lingkungan, dan stimulasi visual:

  1. Endocrine Disrupting Chemicals (EDC) / Senyawa Pengganggu Hormon Anak-anak modern terpapar zat kimia seperti phthalates dan bisphenol-A (BPA) dari wadah plastik, mainan sintetis, hingga bahan kosmetik anak. Di dalam tubuh, zat kimia ini meniru kerja hormon estrogen (xenoestrogen), yang menipu otak anak untuk mengaktifkan kelenjar reproduksi sebelum waktunya.
  2. Pola Makan Tinggi Lemak Jenuh dan Ultra-Processed Food Konsumsi camilan manis, makanan siap saji, dan minuman berkarbonasi memicu akumulasi lemak tubuh yang cepat pada balita dan anak-anak. Jaringan lemak (adiposa) memproduksi hormon leptin, yang mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh anak “sudah cukup matang” untuk memulai proses reproduksi.
  3. Paparan Layar (Screen-Time) dan Hormon Melatonin Paparan cahaya biru (blue light) dari gawai di malam hari menekan produksi hormon melatonin pada anak. Padahal, melatonin bertindak sebagai “rem alami” yang menahan agar hormon reproduksi (GnRH) tidak keluar terlalu dini. Ketika melatonin anjlok, rem biologis tersebut jebol.

Dampak Buruk yang Sering Terlambat Disadari

Silent Puberty bukan sekadar masalah anak cepat besar. Secara medis dan psikologis, kondisi ini membawa konsekuensi serius:

  1. Pertumbuhan Tinggi Badan Terhenti Lebih Cepat

Hormon estrogen yang melonjak lebih awal membuat lempeng pertumbuhan tulang (epiphyseal plate) menutup lebih cepat. Anak mungkin terlihat paling tinggi di kelas 3 SD, namun pertumbuhannya akan terhenti mendadak sehingga tinggi badannya saat dewasa justru di bawah rata-rata.

  1. Krisis Psikologis dan Risiko Kekerasan Seksual

Perkembangan fisik dan fungsi organ reproduksi yang matang sebelum matangnya perkembangan mental membuat anak bingung mengendalikan emosi dan perubahan tubuhnya. Kondisi ini juga meningkatkan kerentanan anak terhadap isu kekerasan seksual.

Solusi Preventif bagi Orang Tua

Pencegahan harus dilakukan dari lingkungan terdekat anak:

  1. Kurangi Paparan Plastik dan Zat Kimia Sintetis

Gunakan wadah kaca atau BPA-free untuk makanan dan minuman anak, serta hindari penggunaan produk perawatan kulit berpewangi sintetik berlebih.

  1. Kembalikan Pola Makan Real Food

Utamakan gizi seimbang kaya serat dan kurangi konsumsi makanan olahan berminyak tinggi.

  1. Terapkan Batasan Gawai (Digital Detox)

Hentikan penggunaan gawai setidaknya 1,5 hingga 2 jam sebelum waktu tidur anak untuk menjaga kadar melatonin alami.

Penanganan Silent Puberty membuktikan bahwa ruang lingkup pelayanan kebidanan sangat luas. Bidan tidak hanya mendampingi proses persalinan ibu, melainkan bertindak sebagai garda terdepan dalam program Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) serta edukator kesehatan reproduksi anak dan remaja di komunitas.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA) https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan, para mahasiswa dibekali ilmu kesehatan reproduksi holistik. Kurikulum UAA dirancang adaptif terhadap fenomena kesehatan modern, sehingga para calon bidan terampil memberikan konseling preventif kepada para orang tua dalam menjaga periode tumbuh kembang anak secara optimal.

Sebagai prodi yang telah Terakreditasi UNGGUL dan dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan kebidanan Terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA terus berkomitmen mencetak tenaga kesehatan yang peka, cerdas, inovatif, dan siap menjadi pengawal kesehatan generasi penerus bangsa.

Kesimpulan: 

Masa anak-anak adalah fondasi penting bagi kesehatan reproduksinya di masa dewasa. Peka terhadap perubahan biologis anak sejak dini adalah bentuk kasih sayang terbaik untuk melindungi tumbuh kembang mereka.

Ingin mempelajari sains kesehatan reproduksi dan menjadi bagian dari tenaga kesehatan berkualitas? Mari bergabung bersama D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Kuliah 3 tahun yang aplikatif, siap kerja, dan berdaya saing global di kampus Unggul!

Referensi Ilmiah:

  1. Akre, O., et al. (2025). Environmental Endocrine Disruptors and the Rising Incidence of Central Precocious Puberty in Digital-Native Generations. Journal of Pediatric Endocrinology & Metabolism.
  2. World Health Organization (WHO). Global Report on Endocrine Disrupting Chemicals and Child Reproductive Development.
  3. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pemantauan Tumbuh Kembang Anak dan Pencegahan Pubertas Dini. 
Dosen Prodi Kebidanan FKIK Alma Ata Raih Penghargaan dan Apresiasi Institusi

Dosen Prodi Kebidanan FKIK Alma Ata Raih Penghargaan dan Apresiasi Institusi

Yogyakarta — Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata kembali memberikan apresiasi kepada insan terbaik yang telah menunjukkan dedikasi, inspirasi, dan kontribusi dalam mendukung kemajuan institusi serta memberikan pelayanan terbaik bagi mahasiswa.

Apresiasi tersebut diberikan kepada dosen Program Studi Kebidanan FKIK Universitas Alma Ata yang telah menorehkan prestasi melalui penghargaan Mujahidah Alma Ata XV dan Tenaga Pendidik Terbaik 2025.

Pada ajang Mujahidah Alma Ata XV, penghargaan diberikan kepada Ibu Dyah Pradnya Paramita, S.ST., M.Kes.Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi yang telah diberikan dalam menjalankan peran sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Alma Ata.

Sementara itu, penghargaan Tenaga Pendidik Terbaik 2025 diraih oleh Ibu Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb.Penghargaan tersebut menjadi wujud apresiasi atas komitmen dalam menjalankan tugas pendidikan serta kontribusi dalam mendukung proses pembelajaran dan pengembangan mahasiswa.

Pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi Program Studi Kebidanan FKIK Universitas Alma Ata sekaligus menjadi motivasi untuk terus menghadirkan karya, inovasi, dan kontribusi terbaik bagi institusi dan masyarakat.

Penghargaan bukan hanya menjadi bentuk pengakuan atas pencapaian, tetapi juga menjadi pengingat bahwa dedikasi dan kontribusi yang dilakukan dengan penuh komitmen dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan akademik.

Selamat dan sukses kepada Ibu Dyah Pradnya Paramita, S.ST., M.Kes. dan Ibu Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb. Semoga penghargaan yang diraih menjadi bagian dari perjalanan untuk terus menginspirasi, berprestasi, dan menghasilkan karya-karya terbaik di masa mendatang.

Dedikasi, inspirasi, dan prestasi untuk terus melangkah bersama Alma Ata. 💙

Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata Perkuat Kurikulum 2026 melalui Review Bersama AIPKIND Regional DIY

Prodi Kebidanan Universitas Alma Ata Perkuat Kurikulum 2026 melalui Review Bersama AIPKIND Regional DIY

Yogyakarta — Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata menyelenggarakan kegiatan Review Kurikulum 2026pada Rabu, 2 September 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ibu Dr. Heni Puji Wahyuningsih, S.Si.T., M.Keb., selaku Ketua Pengurus Daerah Ikatan Bidan Indonesia (PD IBI) dan Ketua AIPKIND Regional DIY, sebagai reviewer kurikulum. Kegiatan diikuti oleh dosen Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata sebagai bagian dari proses penyempurnaan kurikulum yang akan diterapkan pada tahun akademik mendatang.

Review Kurikulum 2026 merupakan salah satu tahapan penting dalam pengembangan kurikulum Program Studi Kebidanan. Kegiatan ini bertujuan memperoleh masukan dari pihak eksternal yang memiliki pengalaman dan kompetensi dalam bidang pendidikan serta praktik kebidanan, sehingga kurikulum yang disusun dapat semakin relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan masyarakat, dan tuntutan kompetensi profesi bidan.

Dalam kegiatan tersebut, Dr. Heni Puji Wahyuningsih, S.Si.T., M.Keb. memberikan berbagai masukan dan rekomendasi terhadap rancangan Kurikulum 2026. Review dilakukan secara menyeluruh dengan membahas keterkaitan antara visi dan misi program studi, profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan (CPL), bahan kajian, struktur kurikulum, mata kuliah, bobot SKS, proses pembelajaran, serta sistem asesmen.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam review adalah penguatan penerapan pendekatan Outcome-Based Education (OBE). Kurikulum diharapkan memiliki keterkaitan yang jelas dan sistematis antara profil lulusan, CPL, bahan kajian, mata kuliah, metode pembelajaran, dan asesmen. Dengan demikian, setiap mata kuliah dapat memberikan kontribusi yang terukur terhadap pencapaian kompetensi lulusan.

Ketua AIPKIND Regional DIY juga memberikan arahan agar pengembangan kurikulum tidak hanya memperhatikan aspek akademik, tetapi juga memastikan keterkaitan dengan kebutuhan kompetensi lulusan dan perkembangan praktik kebidanan. Hal tersebut menjadi bahan penting bagi Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata dalam melakukan penyempurnaan kurikulum secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata menunjukkan komitmennya untuk terus melakukan evaluasi dan pengembangan kurikulum secara berkelanjutan dengan melibatkan pemangku kepentingan internal maupun eksternal. Kurikulum 2026 diharapkan dapat menjadi landasan dalam penyelenggaraan pendidikan kebidanan yang relevan dan bermutu serta mendukung terbentuknya lulusan yang kompeten, profesional, adaptif, dan mampu memberikan pelayanan kebidanan sesuai kebutuhan masyarakat.

Farewell Party Prodi Kebidanan: Merangkai Kenangan, Melangkah Menuju Masa Depan

Farewell Party Prodi Kebidanan: Merangkai Kenangan, Melangkah Menuju Masa Depan

Yogyakarta, Jumat, 14 Agustus 2026 — Program Studi Kebidanan Alma Ata menyelenggarakan kegiatan Farewell Party sebagai momen kebersamaan sekaligus perpisahan bagi mahasiswa tingkat akhir. Kegiatan ini menjadi ruang untuk merayakan perjalanan, mengenang berbagai cerita, serta mempererat kebersamaan sebelum para mahasiswa melangkah menuju tahap perjalanan berikutnya.

Farewell Party diikuti oleh mahasiswa tingkat akhir dari berbagai jenjang, yaitu mahasiswa D3 Kebidanan angkatan 2023, mahasiswa S1 Kebidanan angkatan 2022, serta mahasiswa Pendidikan Profesi Bidan angkatan 2025. Kegiatan ini juga semakin hangat dengan kehadiran dan pendampingan dari Ketua Jurusan Kebidana, Kaprodi, serta seluruh dosen Kebidanan yang turut menjadi bagian dari perjalanan akademik para mahasiswa.

Mengusung suasana penuh keakraban dan kebahagiaan, kegiatan diisi dengan berbagai aktivitas menarik, seperti games, ramah tamah, dan Berbagi Kenangan dan Kesan. Tawa, cerita, dan interaksi yang tercipta menjadi momen berharga yang mempererat hubungan antara mahasiswa dan keluarga besar Prodi Kebidanan Alma Ata.

Lebih dari sekadar acara perpisahan, Farewell Party menjadi kesempatan untuk mengapresiasi perjalanan dan proses yang telah dilalui bersama. Bagi mahasiswa tingkat akhir, momen ini menjadi pengingat bahwa setiap perjuangan, tantangan, dan kebersamaan selama menempuh pendidikan merupakan bagian penting dari perjalanan menuju profesionalisme sebagai tenaga kebidanan.

Terima kasih atas kebersamaan, dukungan, dan cerita indah yang telah menjadi bagian dari perjalanan bersama. Semoga setelah menyelesaikan pendidikan, seluruh mahasiswa dapat melangkah dengan penuh percaya diri, membawa ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh untuk memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat.

Sebuah akhir untuk kenangan indah, sekaligus awal untuk langkah yang lebih baik. 🤍✨

Siapkan Lulusan Siap Pakai di Fasilitas Kesehatan, Prodi DIII Kebidanan UAA Gelar Penyelarasan Kurikulum Link and Match

Siapkan Lulusan Siap Pakai di Fasilitas Kesehatan, Prodi DIII Kebidanan UAA Gelar Penyelarasan Kurikulum Link and Match

YOGYAKARTA – Dalam upaya memastikan lulusannya selalu unggul, adaptif, dan relevan dengan dinamika industri kesehatan, Program Studi DIII Kebidanan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata (UAA) sukses menggelar workshop Pengembangan Kurikulum Link and Match dengan Dunia Kerja pada Senin, 25 Mei 2026 lalu.

Agenda strategis ini menghadirkan berbagai stakeholder utama, termasuk perwakilan Dinas Kesehatan (Dinkes), guna membedah kebutuhan riil di lapangan serta merumuskan profil lulusan bidan DIII yang berdaya saing tinggi. Melalui penyelarasan ini, mahasiswa tidak hanya dibekali teori, melainkan kesiapan mental dan skill yang kokoh demi meminimalisasi kesenjangan kompetensi di dunia kerja.

Menjawab Kebutuhan Lapangan dan Peluang ASN

Dalam diskusi mutu kurikulum tersebut, terungkap data bahwa serapan pasar untuk lulusan DIII Kebidanan masih sangat tinggi, khususnya di tingkat faskes primer seperti Puskesmas. Pada perekrutan Aparatur Sipil Negara (ASN) terbaru, formasi untuk kualifikasi DIII terbukti masih dibuka lebar dan sangat dibutuhkan.

Untuk itu, kurikulum DIII Kebidanan UAA dirancang khusus agar mahasiswa mahir dalam melakukan analisis permasalahan kebidanan di lapangan. Level DIII Kebidanan berada pada ranah pelaksanaan, kurikulum baru ini tetap mempertahankan serta memperkuat materi kolaborasi antarprofesi agar koordinasi rujukan medis berjalan mulus.

Fokus pada Prioritas Masalah Kesehatan Lokal dan Solusi KIA

Workshop ini juga memotret tantangan kesehatan riil di wilayah Kabupaten Bantul, di mana jumlah kehamilan risiko tinggi (resti) terpantau masih tinggi. Ditambah lagi adanya kendala rujukan, seperti ketidakselarasan regulasi manual rujukan Dinkes dengan sistem pembiayaan BPJS yang kerap memicu masalah Angka Kematian Ibu (AKI).

Menjawab tantangan intervensi promotif-preventif pemerintah yang dinilai masih minim akibat rendahnya budaya baca masyarakat, UAA mengambil langkah konkret. Kurikulum UAA akan memperkuat pemanfaatan Buku KIA sebagai media edukasi terbaik. Ke depannya, akan ada sesi kuliah khusus yang membedah tuntas satu buku KIA secara holistik. Langkah ini memastikan mahasiswa sudah matang secara materi dan tidak bingung mencari sumber lain saat terjun langsung melakukan intervensi di lapangan.

Memperkuat Kekhasan Lulusan: Ahli Public Speaking dan Komunikasi

Salah satu poin penting yang dievaluasi dalam pertemuan ini adalah titik lemah keterampilan komunikasi (KIE) yang sering ditemui pada lulusan baru. Mengatasi hal tersebut, Prodi DIII Kebidanan UAA menetapkan Kekhasan Lulusan yang adaptif dan fleksibel dengan keunggulan pada aspek public speaking. Mahasiswa akan dilatih secara intensif untuk melakukan penyuluhan medis yang persuasif, baik secara personal maupun kepada komunitas.

Terkait deteksi dini yang terkendala fasilitas, kurikulum akan mengarahkan mahasiswa untuk fokus menguasai seluruh kewenangan klinis aslinya tanpa perlu ditambah beban kompetensi di luar ranah DIII. Guna mematangkan keahlian tersebut, program Magang Mandiri mahasiswa akan ditempatkan di faskes-faskes yang padat pasien. Selain itu, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, mahasiswa akan diwajibkan menjalani magang komparatif guna membandingkan analisis masalah kebidanan secara langsung di tiga tatanan: Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB), Puskesmas, dan Rumah Sakit.

Menolak Penurunan Daya Saing lewat Jiwa Entrepreneur

Ketua Prodi DIII Kebidanan UAA menegaskan bahwa inovasi kurikulum ini merupakan tameng utama agar daya saing lulusan tidak tergerus zaman. Melalui pengayaan aspek kemandirian, kreativitas, dan jiwa midwifery entrepreneurship (seperti pengelolaan mom and baby spa atau pelayanan kebidanan holistik), mahasiswa dirangsang untuk tidak sekadar mencari kerja, melainkan jeli melihat peluang inovatif di masyarakat.

Mari bersama-sama kita nantikan lahirnya bidan-bidan profesional, islami, kompeten, dan berdaya saing global dari rahim FKIK Universitas Alma Ata yang siap mengabdi demi keselamatan ibu dan anak Indonesia.

Bagi Anda siswi SMA/SMK yang ingin memiliki karier cemerlang, kuliah singkat 3 tahun langsung siap kerja, mari bergabung bersama Prodi DIII Kebidanan Universitas Alma Ata (Terakreditasi UNGGUL). Jalur pendaftaran reguler maupun beasiswa masih dibuka!