by Admin Kebidanan | Oct 9, 2026 | Artikel D3, Berita D3, D3 Kebidanan
Penulis: Dr. Restu Pangestuti, S.ST., MKM.
Di era digital, mencari informasi kesehatan semudah mengetik kata kunci di Google atau menonton video di TikTok. Bagi ibu hamil, informasi tersebut dapat membantu memahami perubahan tubuh, nutrisi, tanda bahaya, dan persiapan persalinan. Namun, kemudahan ini juga dapat mendorong self-diagnosis, yaitu menentukan sendiri kondisi kesehatan berdasarkan informasi yang ditemukan tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan.
Ketika Gejala Langsung Dicari di Internet
Mual, pusing, sakit kepala, nyeri perut, atau kelelahan merupakan keluhan yang dapat terjadi selama kehamilan. Namun, satu gejala dapat memiliki berbagai penyebab. Misalnya, sakit kepala dapat berkaitan dengan kelelahan atau dehidrasi, tetapi pada kondisi tertentu juga dapat menjadi tanda masalah yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Masalah muncul ketika ibu langsung menyimpulkan, “Saya hanya mengalami keluhan biasa karena hamil,” atau sebaliknya, “Saya pasti mengalami penyakit tertentu,” hanya berdasarkan hasil pencarian internet.
Apa Risikonya?
Pertama, salah memahami gejala. Informasi di internet tidak selalu mempertimbangkan riwayat kesehatan dan kondisi kehamilan setiap individu.
Kedua, terlambat mendapatkan pertolongan. Menganggap gejala sebagai kondisi yang normal dapat menyebabkan ibu menunda pemeriksaan, padahal beberapa tanda kehamilan memerlukan evaluasi segera.
Ketiga, penggunaan obat atau herbal secara sembarangan. Rekomendasi dari influencer atau pengalaman pengguna lain tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan keamanan obat atau suplemen selama kehamilan.
Keempat, meningkatkan kecemasan. Pencarian informasi kesehatan secara berlebihan dapat membuat ibu menemukan berbagai kemungkinan penyakit dan semakin khawatir. Kondisi ini dikenal sebagai cyberchondria.
Tidak Semua Informasi di Media Sosial Salah
Google dan TikTok bukanlah musuh. Media digital justru dapat menjadi sarana edukasi yang bermanfaat apabila digunakan secara bijak. Ibu hamil dapat memperoleh informasi mengenai nutrisi, aktivitas fisik, kesehatan mental, pemeriksaan kehamilan, hingga tanda bahaya.
Yang perlu diperhatikan adalah sumber dan kualitas informasinya. Jumlah likes, followers, atau penayangan bukan jaminan bahwa informasi kesehatan tersebut benar.
Sebelum mempercayai suatu konten, pastikan:
- Siapa yang membuat informasi tersebut?
- Apakah sumbernya berasal dari tenaga atau organisasi kesehatan yang kredibel?
- Apakah terdapat referensi ilmiah?
- Apakah informasi tersebut masih relevan?
- Apakah informasi tersebut sesuai dengan kondisi saya?
Jangan Gantikan Pemeriksaan dengan Google
Ibu hamil perlu segera mendapatkan pertolongan apabila mengalami tanda bahaya seperti perdarahan, sakit kepala berat, gangguan penglihatan, nyeri perut hebat, sesak napas, kejang, demam, atau gerakan janin berkurang.
Peran Bidan di Era Digital
Bidan memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi kesehatan digital ibu hamil. Edukasi tidak hanya tentang kesehatan kehamilan, tetapi juga bagaimana memilih informasi yang benar dan menghindari informasi kesehatan yang menyesatkan. Ibu hamil tidak perlu takut menggunakan internet. Justru, jadikan teknologi sebagai sumber pengetahuan, bukan sebagai pengganti pemeriksaan dan konsultasi. Google dapat membantu mencari informasi. TikTok dapat memberikan edukasi. Tetapi diagnosis dan keputusan kesehatan selama kehamilan tetap memerlukan penilaian tenaga kesehatan dan bukti ilmiah.
Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Referensi
- World Health Organization. (2024). Infodemic. WHO.
- World Health Organization. (2023). Global strategy on digital health 2020–2025. WHO.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Health Literacy. CDC.
- Starcevic, V., & Berle, D. (2013). Cyberchondria: Towards a better understanding of excessive health-related Internet use. Expert Review of Neurotherapeutics, 13(2), 205–213.
- Moorhead, S. A., et al. (2013). A new dimension of health care: Systematic review of the uses, benefits, and limitations of social media for health communication. Journal of Medical Internet Research, 15(4), e85.
by Admin Kebidanan | Oct 7, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dyah Pradnya Paramita, SST., M.Kes
Pernah merasa sudah tidur cukup, tetapi saat kuliah atau beraktivitas di siang hari tetap mengantuk? Kondisi ini cukup sering dialami, tetapi jangan buru-buru menganggapnya sebagai hal sepele.
Tidur yang sehat bukan hanya soal berapa lama kita berada di tempat tidur. Durasi dan kualitas tidur sama-sama penting. Untuk orang dewasa usia 18–60 tahun, kebutuhan tidur umumnya setidaknya 7 jam setiap malam. Namun, tidur yang cukup secara durasi belum tentu membuat tubuh terasa segar apabila kualitas tidur terganggu atau terdapat faktor lain yang mempengaruhi kesehatan.
“Ada Enam hal yang seringkali tidak kita sadari menjadi penyebab kantuk meski waktu sudah tidur cukup” ujar Dyah, dosen Prodi DIII Kebidanan, Universitas Alma Ata. Enam hal tersebut adalah:
1. Kebiasaan Menggunakan Gadget hingga Larut Malam
Siapa yang masih scrolling media sosial sebelum tidur?
Kebiasaan menggunakan gadget hingga larut malam dapat mengganggu pola tidur. Paparan cahaya dari layar pada malam hari, ditambah aktivitas yang membuat otak tetap terstimulasi, dapat mempengaruhi waktu tidur dan ritme tidur-bangun.
Karena itu, cobalah mengurangi penggunaan gadget menjelang tidur. Buat suasana kamar lebih nyaman, redup, dan tenang agar tubuh memiliki kesempatan untuk memasuki waktu istirahat dengan lebih optimal.
2. Kurang Aktivitas Fisik
Terlalu banyak duduk dan minim aktivitas fisik juga dapat membuat tubuh terasa kurang bugar. Aktivitas fisik secara teratur merupakan bagian dari gaya hidup sehat dan dapat membantu mendukung kualitas tidur.
Tidak harus langsung olahraga berat. Jalan kaki, peregangan, bersepeda, atau aktivitas fisik ringan yang dilakukan secara rutin dapat menjadi pilihan sederhana untuk memulai.
3. Pola Makan Kurang Seimbang
Rasa lelah dan mengantuk juga dapat berkaitan dengan pola makan. Konsumsi minuman atau makanan tinggi gula secara berlebihan, terutama jika menggantikan makanan bergizi, bukan pilihan yang baik untuk menjaga energi sepanjang hari.
Daripada mengandalkan kopi atau minuman manis setiap kali mengantuk, cobalah membangun pola makan yang lebih seimbang dengan sumber karbohidrat, protein, sayur, buah, dan cairan yang cukup.
4. Kekurangan Zat Besi dan Anemia
Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan ketika tubuh sering terasa lelah adalah anemia, termasuk anemia akibat kekurangan zat besi.
Anemia dapat menyebabkan tubuh terasa lemah, mudah lelah, pusing, sakit kepala, atau mengalami sesak terutama pada kondisi tertentu. Pada perempuan, kehilangan darah saat menstruasi juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan status zat besi.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi, konsumsi makanan seperti daging tanpa lemak, ikan, telur, kacang-kacangan, tahu, tempe, sayuran berdaun hijau, dan pangan yang diperkaya zat besi dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari. Konsumsi makanan sumber vitamin C juga dapat membantu penyerapan zat besi dari sumber nabati.
Jika terdapat keluhan yang menetap atau dicurigai anemia, jangan melakukan suplementasi zat besi secara sembarangan. Pemeriksaan dan konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
5. Stres dan Beban Aktivitas
Tugas kuliah, organisasi, pekerjaan, masalah hubungan sosial, hingga tekanan untuk selalu produktif dapat membuat tubuh dan pikiran terus berada dalam kondisi “siaga”.
Stres berkepanjangan dapat mengganggu pola tidur dan membuat seseorang sulit mendapatkan tidur yang benar-benar menyegarkan. Akibatnya, bangun pagi tetap terasa berat meskipun waktu tidur sudah cukup.
Karena itu, menjaga kesehatan bukan hanya tentang fisik. Memberikan waktu untuk beristirahat, melakukan aktivitas yang menyenangkan, berolahraga, dan berbicara dengan orang yang dipercaya juga merupakan bagian dari menjaga kesejahteraan diri.
6. Kualitas Tidur Terganggu oleh Sleep Apnea
Ada kondisi yang mungkin tidak disadari tetapi dapat mengganggu kualitas tidur, yaitu sleep apnea. Kondisi ini terjadi ketika pernapasan berhenti dan kembali berulang kali selama tidur.
Seseorang mungkin tidak menyadari gangguan tersebut karena terjadi ketika sedang tidur. Namun, beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain dengkuran keras, napas seperti berhenti saat tidur, terbangun dengan sensasi terengah atau tersedak, sakit kepala saat bangun, serta rasa kantuk dan lelah berlebihan pada siang hari.
Jika tanda-tanda tersebut muncul dan mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengetahui penyebab gangguan tidur.
Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan?
Jika kamu sering mengantuk pada siang hari, coba evaluasi kebiasaan sehari-hari:
- Pertahankan jadwal tidur dan bangun yang relatif teratur.
- Kurangi penggunaan gadget menjelang tidur.
- Lakukan aktivitas fisik secara rutin.
- Pilih makanan bergizi seimbang dan batasi minuman tinggi gula.
- Penuhi kebutuhan cairan tubuh sepanjang hari.
- Kelola stres dan berikan waktu yang cukup untuk beristirahat.
- Perhatikan tanda-tanda anemia atau gangguan tidur.
- Jangan mengandalkan kopi atau minuman energi sebagai solusi utama untuk mengatasi kantuk.
Dyah menyampaikan: “jangan menganggap rasa kantuk berlebihan sebagai sesuatu yang harus selalu “dilawan” dengan kafein. Jika keluhan berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau mengganggu aktivitas, mencari penyebabnya bersama tenaga kesehatan merupakan langkah yang lebih tepat.”
Kenali Tubuh, Jaga Kesehatan Sejak Dini
Tubuh sebenarnya sering memberikan sinyal ketika ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Rasa lelah, mengantuk, sulit berkonsentrasi, atau tidur yang tidak menyegarkan dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi kembali pola hidup maupun kondisi kesehatan.
Bagi remaja dan dewasa muda, membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini merupakan bagian penting dari upaya promotif dan preventif, yaitu menjaga kesehatan sekaligus mencegah munculnya masalah kesehatan. Literasi kesehatan akan membantu seseorang tidak hanya mengetahui cara menjaga kesehatan, tetapi juga mengenali kapan membutuhkan bantuan tenaga kesehatan.
Program Studi Diploma Tiga Kebidanan Universitas Alma Ata berkomitmen turut berkontribusi dalam meningkatkan literasi kesehatan melalui edukasi yang dekat dengan kebutuhan remaja, perempuan, ibu, anak, dan keluarga. Melalui pendekatan promotif dan preventif, mahasiswa kebidanan dipersiapkan untuk memiliki kemampuan memberikan edukasi kesehatan yang relevan, komunikatif, dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Temukan artikel edukasi kesehatan lainnya seputar kesehatan perempuan, kesehatan reproduksi, ibu dan anak, serta gaya hidup sehat di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Prodi D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.
Referensi
1. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About Sleep. Atlanta: CDC.
2. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). FastStats: Sleep in Adults. Atlanta: CDC.
3. National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. (2024). Iron: Fact Sheet for Health Professionals. Bethesda, MD: NIH.
4. National Heart, Lung, and Blood Institute. (2025). Sleep Apnea: Symptoms. Bethesda, MD: National Institutes of Health.
5. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About Sleep and Your Heart Health. Atlanta: CDC.
by Admin Kebidanan | Oct 5, 2026 | Berita D3
Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb
Di era serba digital ini, fenomena tumbuh kembang anak dari Generasi Alpha (anak-anak yang lahir setelah tahun 2010) menunjukkan pergeseran biologis yang drastis. Salah satu isu kesehatan reproduksi anak yang kini sedang ramai diperbincangkan di kalangan dokter anak dan ahli kebidanan adalah Silent Puberty atau Pubertas Dini Tersembunyi (Pubertas Prekok).
Banyak orang tua mengira pubertas pada anak perempuan baru dimulai saat ia mengalami menstruasi pertama (menarche), atau pada anak laki-laki saat suaranya memberat. Padahal, akibat paparan lingkungan modern, proses pematangan organ reproduksi ternyata sudah berjalan diam-diam jauh lebih awal bahkan sejak usia 7 atau 8 tahun tanpa menunjukkan tanda-tanda fisik yang mencolok.
Mengapa Silent Puberty Marak Terjadi pada Generasi Alpha?
Pubertas dini yang terjadi secara senyap ini dipicu oleh interaksi kompleks antara nutrisi modern, paparan zat kimia lingkungan, dan stimulasi visual:
- Endocrine Disrupting Chemicals (EDC) / Senyawa Pengganggu Hormon Anak-anak modern terpapar zat kimia seperti phthalates dan bisphenol-A (BPA) dari wadah plastik, mainan sintetis, hingga bahan kosmetik anak. Di dalam tubuh, zat kimia ini meniru kerja hormon estrogen (xenoestrogen), yang menipu otak anak untuk mengaktifkan kelenjar reproduksi sebelum waktunya.
- Pola Makan Tinggi Lemak Jenuh dan Ultra-Processed Food Konsumsi camilan manis, makanan siap saji, dan minuman berkarbonasi memicu akumulasi lemak tubuh yang cepat pada balita dan anak-anak. Jaringan lemak (adiposa) memproduksi hormon leptin, yang mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh anak “sudah cukup matang” untuk memulai proses reproduksi.
- Paparan Layar (Screen-Time) dan Hormon Melatonin Paparan cahaya biru (blue light) dari gawai di malam hari menekan produksi hormon melatonin pada anak. Padahal, melatonin bertindak sebagai “rem alami” yang menahan agar hormon reproduksi (GnRH) tidak keluar terlalu dini. Ketika melatonin anjlok, rem biologis tersebut jebol.
Dampak Buruk yang Sering Terlambat Disadari
Silent Puberty bukan sekadar masalah anak cepat besar. Secara medis dan psikologis, kondisi ini membawa konsekuensi serius:
- Pertumbuhan Tinggi Badan Terhenti Lebih Cepat
Hormon estrogen yang melonjak lebih awal membuat lempeng pertumbuhan tulang (epiphyseal plate) menutup lebih cepat. Anak mungkin terlihat paling tinggi di kelas 3 SD, namun pertumbuhannya akan terhenti mendadak sehingga tinggi badannya saat dewasa justru di bawah rata-rata.
- Krisis Psikologis dan Risiko Kekerasan Seksual
Perkembangan fisik dan fungsi organ reproduksi yang matang sebelum matangnya perkembangan mental membuat anak bingung mengendalikan emosi dan perubahan tubuhnya. Kondisi ini juga meningkatkan kerentanan anak terhadap isu kekerasan seksual.
Solusi Preventif bagi Orang Tua
Pencegahan harus dilakukan dari lingkungan terdekat anak:
- Kurangi Paparan Plastik dan Zat Kimia Sintetis
Gunakan wadah kaca atau BPA-free untuk makanan dan minuman anak, serta hindari penggunaan produk perawatan kulit berpewangi sintetik berlebih.
- Kembalikan Pola Makan Real Food
Utamakan gizi seimbang kaya serat dan kurangi konsumsi makanan olahan berminyak tinggi.
- Terapkan Batasan Gawai (Digital Detox)
Hentikan penggunaan gawai setidaknya 1,5 hingga 2 jam sebelum waktu tidur anak untuk menjaga kadar melatonin alami.
Penanganan Silent Puberty membuktikan bahwa ruang lingkup pelayanan kebidanan sangat luas. Bidan tidak hanya mendampingi proses persalinan ibu, melainkan bertindak sebagai garda terdepan dalam program Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) serta edukator kesehatan reproduksi anak dan remaja di komunitas.
Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA) https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan, para mahasiswa dibekali ilmu kesehatan reproduksi holistik. Kurikulum UAA dirancang adaptif terhadap fenomena kesehatan modern, sehingga para calon bidan terampil memberikan konseling preventif kepada para orang tua dalam menjaga periode tumbuh kembang anak secara optimal.
Sebagai prodi yang telah Terakreditasi UNGGUL dan dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan kebidanan Terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA terus berkomitmen mencetak tenaga kesehatan yang peka, cerdas, inovatif, dan siap menjadi pengawal kesehatan generasi penerus bangsa.
Kesimpulan:
Masa anak-anak adalah fondasi penting bagi kesehatan reproduksinya di masa dewasa. Peka terhadap perubahan biologis anak sejak dini adalah bentuk kasih sayang terbaik untuk melindungi tumbuh kembang mereka.
Ingin mempelajari sains kesehatan reproduksi dan menjadi bagian dari tenaga kesehatan berkualitas? Mari bergabung bersama D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Kuliah 3 tahun yang aplikatif, siap kerja, dan berdaya saing global di kampus Unggul!
Referensi Ilmiah:
- Akre, O., et al. (2025). Environmental Endocrine Disruptors and the Rising Incidence of Central Precocious Puberty in Digital-Native Generations. Journal of Pediatric Endocrinology & Metabolism.
- World Health Organization (WHO). Global Report on Endocrine Disrupting Chemicals and Child Reproductive Development.
- Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pemantauan Tumbuh Kembang Anak dan Pencegahan Pubertas Dini.
by Admin Kebidanan | Oct 2, 2026 | Artikel D3
Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb
Di lini masa media sosial belakangan ini, tren “Vagus Nerve Hacks” atau teknik merangsang Saraf Vagus sedang meledak di kalangan health enthusiast dan Gen Z. Mulai dari merendam wajah di air es (ice facial), pernapasan box breathing, hingga teknik pemijatan telinga bagian dalam mendadak viral karena diklaim ampuh meredakan kecemasan instan.
Namun, di luar manfaat mentalnya, ada satu fakta medis besar yang sangat jarang dibahas oleh media utama: Saraf Vagus adalah “saklar utama” yang mengontrol peradangan organ reproduksi perempuan.
Bagi remaja putri dan perempuan muda yang kerap tersiksa oleh nyeri haid hebat (dysmenorrhea), perut kembung ekstrem saat PMS, hingga gejala Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), memahami kerja Saraf Vagus bisa menjadi kunci jawaban yang selama ini terlewatkan.
Hubungan Saraf Vagus dan Sistem Reproduksi
Saraf Vagus (Vagus Nerve) adalah saraf kranial terpanjang dalam tubuh yang membentang dari batang otak hingga ke organ-organ di dalam rongga dada dan perut, termasuk usus, rahim, dan ovarium. Saraf ini bertindak sebagai komandan utama sistem saraf parasimpatis, sistem yang bertugas untuk “rest, digest, and heal” (istirahat, mencerna, dan memulihkan).
Ketika seorang perempuan mengalami stres kronis, kurang tidur, atau kelelahan emosional, fungsi Saraf Vagus akan menurun (low vagal tone). Akibatnya:
- Sirkulasi Darah ke Rahim Terhambat
Otot-otot rahim menjadi tegang dan kekurangan oksigen (hipoksia lokal), memicu kram menstruasi yang jauh lebih menyiksa.
- Peradangan Kronis pada Ovarium
Low vagal tone gagal menekan produksi sitokin inflamasi, yang memperparah pembengkakan jaringan dan mengganggu pematangan sel telur pada penderita PCOS.
- Pencernaan Lambat saat Menstruasi
Mengingat Saraf Vagus juga mengontrol usus, penurunannya menyebabkan kembung parah, mual, dan diare yang sering menyertai hari pertama haid.
Cara Sederhana Merangsang Saraf Vagus di Rumah
Mengaktifkan Saraf Vagus tidak memerlukan alat mahal. Beberapa teknik alami yang terbukti secara ilmiah dapat dicoba antara lain:
- Pijat Area Concha Telinga
Mengurut lembut lekukan bagian dalam daun telinga yang dilewati oleh cabang Saraf Vagus selama 2–3 menit.
- Mendengung atau Bernyanyi (Humming)
Getaran di pita suara saat mendengung atau bernyanyi secara aktif menstimulasi Saraf Vagus di area leher.
- Pola Nafas 4-7-8
Menarik napas selama 4 detik, menahan 7 detik, dan menghembuskan perlahan lewat mulut selama 8 detik untuk mengaktifkan mode pemulihan tubuh.
Berkembangnya tren kesehatan berbasis sains seperti stimulasi Saraf Vagus membuktikan bahwa penanganan masalah kesehatan reproduksi modern tidak bisa lagi dilakukan secara parsial.
Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA) https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan kami berkomitmen untuk selalu berada di garis depan perkembangan ilmu kesehatan. Mahasiswa D3 Kebidanan UAA dibekali dengan kurikulum holistik. Sebagai prodi yang telah Terakreditasi UNGGUL dan dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan kebidanan terbaik di Yogyakarta, UAA terus melahirkan lulusan yang cerdas, inovatif, peka terhadap tren kesehatan global, serta siap menjadi mitra terpercaya bagi perempuan Indonesia di era modern.
Kesimpulan
Nyeri haid dan gangguan hormon bukanlah takdir yang harus diterima begitu saja setiap bulan. Dengan memahami dan merawat kerja Saraf Vagus, Anda sedang memberikan kesempatan bagi tubuh untuk menyembuhkan dirinya sendiri dari dalam.
Ingin mempelajari sains kesehatan perempuan secara mendalam dan menjadi tenaga medis yang unggul serta adaptif? Mari bergabung bersama D3 Kebidanan Universitas Alma Ata. Kuliah 3 tahun yang penuh makna, siap kerja, dan siap berdampak nyata bagi masyarakat.
Referensi Ilmiah:
- Bonaz, B., et al. (2024). The Vagus Nerve at the Interface of the Microbiota-Gut-Brain Axis and Reproductive Inflammation. Frontiers in Neuroscience.
- Tracey, K. J. (2023). The Inflammatory Reflex and Volitional Control of the Vagus Nerve. Nature Reviews Immunology.
- Journal of Obstetric, Gynecologic, & Neonatal Nursing. Parasympathetic Activation in Managing Primary Dysmenorrhea and Pelvic Pain.
by Admin Kebidanan | Sep 30, 2026 | Artikel D3
Penulis: Dyah Pradnya Paramita, S.ST., M.Kes.
Yogyakarta, 30 September 2026 – Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata melaksanakan Audit Internal Mutu Akademik (AIMA) pada Rabu, 30 September 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) untuk memastikan penyelenggaraan pendidikan dan tridharma perguruan tinggi berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan.
Sebagai program studi yang telah meraih predikat Terakreditasi Unggul, Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata terus melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan pendidikan. AIMA menjadi salah satu mekanisme evaluasi dalam penerapan siklus PPEPP, yaitu Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan.
Tiga Aspek Utama Menjadi Fokus Audit
Pelaksanaan AIMA mencakup tiga kelompok utama, yaitu layanan kemahasiswaan dan alumni, layanan akademik, serta kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Pada aspek layanan akademik, auditor melakukan penelaahan terhadap kesesuaian perencanaan, pelaksanaan, dan proses pembelajaran dengan standar yang telah ditetapkan. Evaluasi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga konsistensi penyelenggaraan pembelajaran sekaligus memastikan proses akademik berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Audit juga mencakup layanan bagi mahasiswa dan alumni. Penelaahan terhadap aspek tersebut menjadi bagian dari upaya program studi untuk memastikan layanan pendukung pendidikan berjalan secara terarah dan mendukung keberlangsungan hubungan antara program studi dengan lulusan.
Sementara itu, kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan dosen dan mahasiswa turut menjadi bagian dari proses audit. Aspek tersebut berkaitan dengan pelaksanaan tridharma perguruan tinggi sebagai bagian integral dari penyelenggaraan pendidikan tinggi.
Proses Evaluasi Bersama Auditor Internal
Kegiatan audit diikuti oleh Ketua Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Dyah Pradnya Paramita, SST., M.Kes., bersama jajaran dosen dan pengelola administrasi program studi.
Proses audit dipandu oleh auditor internal Universitas Alma Ata, yaitu:
- Eliza Jayanti Lestari, MM
- An-nisa Apriani, S.Pd., M.Pd.
Penelaahan dilakukan melalui pemeriksaan dokumen dan klarifikasi terhadap pelaksanaan kegiatan. Proses tersebut memberikan ruang bagi program studi untuk melihat kembali kesesuaian antara standar yang telah ditetapkan dengan pelaksanaannya di tingkat program studi.
AIMA sebagai Bagian dari Budaya Mutu
Ketua Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Dyah Pradnya Paramita, SST., M.Kes., menyampaikan bahwa predikat Terakreditasi Unggul perlu diiringi dengan upaya menjaga dan meningkatkan mutu secara konsisten.
“Predikat Terakreditasi Unggul bukan menjadi akhir dari proses peningkatan mutu. AIMA menjadi momentum bagi kami untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan standar yang telah ditetapkan, baik dalam layanan kemahasiswaan dan alumni, proses akademik, maupun kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hasil audit nantinya akan menjadi bahan bagi program studi untuk menentukan tindak lanjut dan penguatan mutu ke depan,” ungkapnya.
Melalui pelaksanaan AIMA, program studi tidak hanya melakukan pemeriksaan terhadap pemenuhan standar, tetapi juga membangun kebiasaan untuk melakukan evaluasi secara berkala. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya mutu yang berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.
Menjaga Mutu, Mendorong Peningkatan Berkelanjutan
Pelaksanaan AIMA menjadi salah satu bentuk komitmen Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata dalam menjaga kualitas penyelenggaraan pendidikan. Evaluasi terhadap layanan mahasiswa dan alumni, proses pembelajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat memberikan gambaran menyeluruh mengenai pelaksanaan kegiatan di tingkat program studi.
Hasil audit yang diperoleh selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut sesuai dengan siklus PPEPP. Dengan demikian, proses penjaminan mutu tidak berhenti pada pemeriksaan, tetapi berlanjut pada upaya pengendalian dan peningkatan kualitas secara berkesinambungan.
Bagi Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, Terakreditasi Unggul merupakan capaian yang perlu dijaga melalui proses mutu yang terus berjalan. Pelaksanaan AIMA menjadi salah satu langkah untuk memastikan komitmen tersebut diwujudkan melalui evaluasi dan peningkatan yang dilakukan secara konsisten.
by Admin Kebidanan | Sep 21, 2026 | Berita D3, Berita S1 Profesi Bidan
Yogyakarta — Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Alma Ata kembali memberikan apresiasi kepada insan terbaik yang telah menunjukkan dedikasi, inspirasi, dan kontribusi dalam mendukung kemajuan institusi serta memberikan pelayanan terbaik bagi mahasiswa.
Apresiasi tersebut diberikan kepada dosen Program Studi Kebidanan FKIK Universitas Alma Ata yang telah menorehkan prestasi melalui penghargaan Mujahidah Alma Ata XV dan Tenaga Pendidik Terbaik 2025.
Pada ajang Mujahidah Alma Ata XV, penghargaan diberikan kepada Ibu Dyah Pradnya Paramita, S.ST., M.Kes.Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi yang telah diberikan dalam menjalankan peran sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Alma Ata.
Sementara itu, penghargaan Tenaga Pendidik Terbaik 2025 diraih oleh Ibu Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb.Penghargaan tersebut menjadi wujud apresiasi atas komitmen dalam menjalankan tugas pendidikan serta kontribusi dalam mendukung proses pembelajaran dan pengembangan mahasiswa.
Pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi Program Studi Kebidanan FKIK Universitas Alma Ata sekaligus menjadi motivasi untuk terus menghadirkan karya, inovasi, dan kontribusi terbaik bagi institusi dan masyarakat.
Penghargaan bukan hanya menjadi bentuk pengakuan atas pencapaian, tetapi juga menjadi pengingat bahwa dedikasi dan kontribusi yang dilakukan dengan penuh komitmen dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan akademik.
Selamat dan sukses kepada Ibu Dyah Pradnya Paramita, S.ST., M.Kes. dan Ibu Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb. Semoga penghargaan yang diraih menjadi bagian dari perjalanan untuk terus menginspirasi, berprestasi, dan menghasilkan karya-karya terbaik di masa mendatang.
Dedikasi, inspirasi, dan prestasi untuk terus melangkah bersama Alma Ata. 💙