Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Kehadiran ruang digital telah mengubah cara anak-anak kita belajar, bermain, dan bersosialisasi. Namun, dibalik kemudahan teknologi, terdapat ancaman laten yang mengintai kesehatan mental mereka: Cyber Bullying (Perundungan Siber).
Berbeda dengan perundungan konvensional yang berhenti saat bel pulang sekolah berbunyi, cyberbullying tidak mengenal batas waktu dan ruang. Ejekan, intimidasi, penyebaran rumor, hingga pengucilan digital dapat masuk langsung ke dalam kamar anak melalui layar gawai mereka, selama 24 jam sehari. Dampak psikologisnya pun masif, mulai dari kecemasan akut, penurunan performa akademik, hingga risiko depresi berat.
Sebagai orang tua dan pendidik, kita tidak bisa sepenuhnya menjauhkan anak dari internet. Langkah terbaik adalah memberikan mereka “baju zirah” digital. Berikut adalah strategi konkret untuk membentengi anak dari sisi gelap dunia digital.
1. Membangun Literasi Digital dan Etika Siber (Netiquette)
Banyak anak terjebak menjadi korban—atau bahkan tanpa sadar menjadi pelaku—karena tidak memahami batasan di dunia maya.
Prinsip Jejak Digital: Ajarkan anak bahwa apapun yang diunggah di internet (foto, komentar, video) akan meninggalkan jejak permanen yang sulit dihapus (digital footprint).
Pikir Sebelum Mengklik (T.H.I.N.K): Latih anak untuk mengevaluasi apa yang akan mereka ketik atau bagikan dengan prinsip: Apakah itu Benar (True), Membantu (Helpful), Menginspirasi (Inspiring), Diperlukan (Necessary), dan Baik (Kind)? Jika tidak, minta mereka untuk urung membagikannya.
2. Membekali Anak dengan Keterampilan Taktis Digital
Anak-anak harus tahu apa yang harus dilakukan secara teknis ketika mereka mulai melihat atau mengalami tanda-tanda intimidasi siber.
Jangan Membalas (Don’t Retaliate): Pelaku cyberbullying sangat mengharapkan reaksi marah atau sedih dari korbannya. Membalas makian hanya akan memperpanjang konflik.
Blokir dan Laporkan (Block & Report): Manfaatkan fitur keamanan di platform media sosial. Ajarkan anak cara memblokir akun yang mengganggu dan melaporkannya (report) ke sistem moderasi platform (seperti Instagram, TikTok, atau WhatsApp).
Simpan Bukti Digital (Screenshots): Ini adalah langkah krusial. Ajarkan anak untuk segera mengambil tangkapan layar (screenshot) dari pesan teks, komentar, atau unggahan yang bersifat merundung sebelum dihapus oleh pelaku, sebagai bukti otentik untuk pelaporan lanjutan.
3. Menerapkan Aturan Penggunaan Gawai di Rumah
Batasan fisik di dunia nyata sangat membantu menjaga kewarasan mental anak di dunia maya.
Zona Bebas Gawai (Screen-Free Zones): Buat kesepakatan bersama bahwa tidak boleh ada gawai di meja makan dan di dalam kamar tidur saat jam tidur malam. Banyak kasus cyberbullying terjadi atau memburuk pada larut malam saat pengawasan orang tua melemah.
Gunakan Aplikasi Pemantauan (Parental Control): Tanpa melanggar privasi anak secara ekstrem, orang tua dapat menggunakan aplikasi pelacak untuk menyaring konten dewasa dan membatasi durasi aktif media sosial anak.
Ringkasan Langkah Mitigasi untuk Orang Tua
1.Edukasi Fitur Keamanan:Tindakan Preventif.
Ajarkan anak cara mengunci akun menjadi privat (private account) dan menyaring komentar yang mengandung kata-kata kasar secara otomatis.
2.Buka Jalur Komunikasi:Kebiasaan Harian.
Sempatkan mengobrol tanpa gawai setiap malam. Tanyakan: “Ada cerita menarik atau yang bikin kamu nggak nyaman nggak di media sosial hari ini?”
3.Respons Cepat & Tenang:Tindakan Tanggap.
Jika anak melapor menjadi korban, tanggapi dengan tenang. Kumpulkan bukti screenshot, lakukan mediasi bersama pihak sekolah, atau bawa ke psikolog jika anak menunjukkan trauma berat.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi/ jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
UNICEF (2024). Cyberbullying: What is it and how to stop it – A Digital Safety Guide.
World Health Organization (WHO). (2023). Global Status Report on Preventing Violence Against Children in the Digital Age.
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP). (2025). Social Media and Teens: Clinical Update on Cyber-Harassment.
Putri, A., & Santoso, B. (2025). Dampak Perundungan Siber Terhadap Resiliensi Psikologis Remaja. Jurnal Psikologi Perkembangan Indonesia, 12(2), 145-158.
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Setiap anak lahir dengan temperamen yang unik. Ada anak yang secara alami berani tampil di depan publik, namun tidak sedikit pula yang cenderung pasif, pemalu, dan menarik diri dari interaksi sosial.
Sifat pasif pada anak sebenarnya bukanlah sebuah kesalahan. Namun, jika kepasifan ini berakar dari rasa rendah diri, ketakutan ekstrim akan penolakan, atau kurangnya keterampilan sosial, anak berisiko tinggi menjadi target empuk perundungan (bullying) dan mengalami gangguan kecemasan di kemudian hari.
Membangun keberanian anak bukanlah dengan cara memaksa mereka menjadi orang lain, melainkan memperkuat karakter mereka dari dalam (inside-out). Berikut adalah langkah praktis berbasis psikologi perkembangan untuk mengubah anak pasif menjadi pribadi yang berani dan percaya diri.
1. Latih Assertive Communication (Komunikasi Tegas) sejak di Rumah
Anak yang pasif seringkali kesulitan menyatakan keinginan atau menolak hal yang tidak mereka sukai karena takut memicu konflik. Orang tua perlu melatih mereka dasar-dasar komunikasi asertif.
Kontak Mata dan Bahasa Tubuh: Saat anak meminta sesuatu di rumah, biasakan mereka untuk berbicara sambil menatap mata Anda dengan bahu yang tegak. Bahasa tubuh yang tegap memancarkan sinyal percaya diri ke otak mereka sendiri dan orang di sekitarnya.
Gunakan “I-Statement”: Latih anak untuk mengekspresikan diri menggunakan struktur kalimat: “Aku merasa… ketika kamu… jadi aku minta…”
Contoh: “Aku merasa sedih ketika mainanku direbut, jadi aku minta tolong kembalikan.” Ini melatih anak mempertahankan haknya tanpa perlu menjadi agresif.
2. Berikan “Pujian Berbasis Proses” (Growth Mindset Praise)
Banyak orang tua keliru memberikan pujian yang berfokus pada hasil atau label permanen, seperti “Kamu pintar sekali” atau “Kamu anak hebat”. Pujian jenis ini justru membuat anak pasif takut mencoba hal baru karena takut kehilangan label “pintar” tersebut jika mereka gagal.
Ubah Pola Pujian: Berfokuslah pada usaha, strategi, dan ketahanan mereka.
1) Salah: “Wah, kamu berani banget langsung menang lomba!”
2) Benar: “Ibu bangga sekali melihat kamu tadi berani maju ke depan kelas meskipun tanganmu sempat gemetar. Itu namanya keberanian nyata!”
3. Libatkan Anak dalam Pengambilan Keputusan Kecil
Anak menjadi pasif dan dependen jika semua aspek hidupnya disetir oleh orang tua (helicopter parenting). Rasa percaya diri tumbuh ketika anak merasa memiliki kendali atas dirinya (sense of agency).
Berikan Pilihan Terbatas: Mulai dari hal kecil sehari-hari. “Hari ini kamu mau pakai baju yang biru atau hijau?” atau “Untuk bekal sekolah besok, kamu lebih suka dibawakan buah apel atau pisang?”
Dampaknya: Ketika anak dibiasakan memilih dan pilihannya dihargai, mereka belajar mempercayai penilaian mereka sendiri. Ini adalah modal utama agar mereka berani bersuara di lingkungan luar.
4. Salurkan pada Komunitas Positif di Luar Sekolah
Sekolah formal terkadang memiliki dinamika sosial yang terlalu intimidatif bagi anak pasif. Membuka “lembaran baru” di lingkungan lain dapat memicu rasa percaya diri yang tidak terduga.
Klub Minat dan Bakat: Daftarkan anak pada kegiatan kelompok kecil yang sesuai minatnya—baik itu klub sains, kelas menggambar, atau seni bela diri.
Mengapa Ini Efektif? Di lingkungan baru yang tidak memiliki label masa lalu tentang dirinya, anak memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi sisi berani mereka. Selain itu, menguasai suatu keterampilan baru secara otomatis mendongkrak harga diri (self-esteem) anak.
Strategi Transformasi Karakter Anak
1.Validasi dan Beri Ruang Berpendapat:Fase 1: Di Rumah.
Hargai emosi anak, dengarkan pendapat mereka saat diskusi keluarga, dan hindari melabeli mereka sebagai “anak penakut” atau “pemalu”.
2.Simulasi Skenario Sosial:Fase 2: Interpersonal.
Lakukan bermain peran (role-play) di rumah. Simulasikan cara berkenalan dengan teman baru atau cara menegur teman yang usil secara tegas.
3.Pelepasan Mandiri Bertahap:Fase 3: Lingkungan Luar.
Biarkan anak melakukan transaksi sendiri (misalnya membayar di kasir atau memesan makanan sendiri) untuk memupuk kemandirian fisik dan mental.
Kesimpulan: Percaya Diri adalah Otot Otak
Mengubah anak pasif menjadi berani bukanlah proses instan yang terjadi dalam semalam. Keberanian dan rasa percaya diri layaknya otot otak; ia perlu dilatih, diberikan beban tantangan yang pas secara bertahap, dan didukung oleh nutrisi emosional yang tepat dari orang tua. Ketika anak tahu bahwa rumah mereka adalah tempat teraman untuk pulang, mereka akan memiliki keberanian penuh untuk menaklukkan dunia luar.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi/ jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO) (2024) – Guidelines on Promotive and Preventive Mental Health Interventions for Adolescents and Children:
UNICEF (2025) – The Power of Positive Parenting: Building Resilience and Confidence in Children
Dweck, C. S. (2023). Mindset: Changing the Way You Think to Fulfill Your Potential (Edisi Pembaruan Jurnal Psikologi):
International Journal of Behavioral Development (2024) – The Role of Assertiveness Training in Reducing Bullying Vulnerability among Passive Children
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Kasus perundungan (bullying) di kalangan anak-anak kini bukan lagi sekadar masalah ejekan di halaman sekolah. Di era digital, polanya meluas menjadi cyberbullying yang beroperasi 24 jam sehari tanpa henti. Dampaknya pun sangat nyata bagi kesehatan fisik dan mental anak, mulai dari penurunan performa akademis, gangguan kecemasan (anxiety), depresi, hingga risiko menyakiti diri sendiri.
Mencegah anak agar tidak terjebak menjadi pelaku maupun korban perundungan tidak bisa dilakukan secara instan ketika masalah sudah terjadi. Fondasi terkuat harus dibangun sejak dini dari dalam diri anak melalui penguatan karakter khusus yang adaptif dengan tantangan “Zaman Now“.
3 Bekal Karakter Utama untuk Membentengi Anak
Berdasarkan studi psikologi perkembangan, anak-anak yang memiliki kecerdasan emosional dan ketahanan diri yang baik cenderung terhindar dari lingkaran perundungan. Berikut adalah tiga karakter esensial yang wajib ditanamkan orang tua di rumah:
1. Karakter Asertif (Berani dan Tegas, Bukan Kasar)
Banyak orang tua keliru mengajarkan anak untuk “membalas pukulan dengan pukulan” agar tidak diremehkan. Cara terbaik sebenarnya adalah melatih perilaku asertif.
Anak yang asertif mampu mengekspresikan ketidaksukaannya tanpa rasa takut, namun tetap menghormati orang lain.
Aksi nyata: Latih anak untuk melakukan kontak mata, berdiri tegak, dan menggunakan intonasi suara yang datar namun lantang saat berkata, “Stop, aku tidak suka kamu bicara seperti itu.” Pelaku bullying biasanya langsung mengurungkan niatnya saat melihat calon korban memancarkan aura percaya diri.
2. Empati Kognitif dan Afektif
Empati adalah penawar racun dari karakter pelaku bullying. Anak zaman sekarang terpapar banyak konten digital yang mendepersonalisasi manusia, membuat mereka rentan kehilangan kepekaan sosial.
Anak yang dibiasakan berempati di rumah akan mampu merasakan penderitaan orang lain, sehingga mereka tidak akan mau menjadi pelaku.
Di sisi lain, jika mereka melihat temannya dirundung, karakter ini mendorong mereka menjadi upstander (pembela), bukan sekadar penonton yang diam.
3. Ketahanan Mental (Resilience) dan Harga Diri (Self-Esteem) yang Sehat
Anak-anak dengan harga diri yang rapuh seringkali mencari validasi dengan cara menindas orang lain (agar merasa berkuasa) atau justru menjadi sangat rapuh saat menerima ejekan kecil.
Orang tua harus membangun harga diri anak berdasarkan usaha mereka (growth mindset), bukan sekadar pujian kosong atau pencapaian akademis belaka.
Anak yang tahu bahwa dirinya berharga dan dicintai di rumah tidak akan mudah goyah mentalnya meskipun mendapat lingkungan yang kurang suportif di luar.
Strategi Praktis Orang Tua di Rumah
Langkah
Implementasi Nyata
Komunikasi “Meja Makan”
Sediakan waktu 15 menit sehari tanpa gawai untuk mengobrol secara mendalam. Tanyakan emosi anak, bukan cuma tugas sekolahnya.
Literasi Digital Terbuka
Ajarkan anak bahwa jempol mereka di media sosial memiliki konsekuensi nyata. Beri batasan bahwa apa yang tidak layak diucapkan langsung, juga tidak layak diketik di kolom komentar.
Role-Play (Simulasi)
Lakukan simulasi drama kecil di rumah. Contohkan situasi jika ada teman yang mengejek, lalu latih bagaimana anak harus merespons secara tenang dan taktis.
Kesimpulan: Karakter adalah Perisai Terbaik
Menjaga anak di zaman sekarang tidak bisa lagi dengan cara mengurung mereka di dalam rumah. Perisai terbaik yang bisa kita berikan adalah karakter yang kokoh. Ketika anak memiliki sikap asertif, empati yang tinggi, dan harga diri yang sehat, mereka tidak hanya selamat dari bahaya bullying, tetapi juga tumbuh menjadi agen perubahan positif bagi generasi mereka.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi atau jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO). (2020). Inspirational Guidelines on School Health and Prevention of Peer Violence. Geneva: WHO.
UNICEF. (2023). The State of the World’s Children: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
Olweus, D., & Limber, S. P. (2019). Bullying in School: Evaluation and Dissemination of the Olweus Bullying Prevention Program. American Journal of Orthopsychiatry, 89(2), 203–212.
Journal of Adolescent Health. (2022). The Power of Upstanders: How Empathy Training Modifies Peer Dynamics in Bullying Situations. Vol. 71, Issue 4, 412-419.
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
YOGYAKARTA – Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA) kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu institusi pendidikan tenaga kesehatan terdepan di Indonesia. Melalui pengumuman hasil Uji Kompetensi Nasional (Ukomnas) Kebidanan periode terbaru, mahasiswa D3 Kebidanan Universitas Alma Ata berhasil meraih tingkat kelulusan yang sangat membanggakan.
Capaian impresif ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bukti nyata dari kapasitas, kompetensi, dan kesiapan para lulusan Alma Ata dalam menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan ibu dan anak di era modern.
Standar Mutu Unggul dan Reputasi Berkelas
Pencapaian luar biasa dalam Ukomnas ini merupakan cerminan dari ekosistem akademik yang kokoh di Universitas Alma Ata. Sebagai perguruan tinggi swasta yang secara konsisten masuk dalam jajaran kampus papan atas nasional, UAA berkomitmen menyelenggarakan pendidikan kebidanan yang berstandar tinggi.
Beberapa keunggulan utama yang menjadikan Prodi D3 Kebidanan UAA unggul secara nasional meliputi:
Kurikulum Berbasis Kompetensi & Kebijakan Global: Kurikulum dirancang adaptif terhadap dinamika pelayanan kesehatan terkini, memadukan keterampilan klinis (hard skills) dan sikap profesional (soft skills).
Fasilitas Laboratorium Kebidanan Terpadu: Mahasiswa berlatih menggunakan instrumen dan simulator medis modern yang mendekati kondisi nyata di lapangan, sehingga tingkat kesiapan praktikum mereka sangat matang.
Staf Pengajar Berkualifikasi Tinggi: Dididik oleh dosen-dosen berpengalaman, pakar di bidang kesehatan reproduksi, serta aktif dalam riset dan pengabdian masyarakat.
Penguatan Nilai Keislaman dan Etika Profesi: Selain unggul secara intelektual, bidan lulusan Alma Ata dibekali dengan karakter empati, ketelitian, dan nilai-nilai moral yang kuat dalam melayani masyarakat.
Bidan Masa Depan yang Siap Mengabdi
Lulus Ukomnas secara nasional merupakan syarat mutlak (exit exam) untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) Bidan. Keberhasilan lulusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata menembus kelulusan ini membuktikan bahwa lulusan UAA memiliki daya saing tinggi dan siap langsung diterjunkan ke berbagai sarana pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit, puskesmas, Praktik Mandiri Bidan (PMB), maupun lembaga kesehatan lainnya di seluruh Indonesia.
“Keberhasilan ini mempertegas reputasi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata sebagai pencetak tenaga bidan yang profesional, handal, dan berdaya saing global.”
Dengan pencapaian ini, Universitas Alma Ata semakin memperkokoh perannya sebagai benteng pencetak tenaga kesehatan unggulan yang siap mengabdi demi mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Standar Kompetensi Bidan Indonesia. Jakarta: Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/320/2020.
Komite Nasional Uji Kompetensi Mahasiswa Bidang Kesehatan (UKOMNAS).Pedoman Pelaksanaan Uji Kompetensi Mahasiswa Kebidanan. Kemendikbud Ristek RI.
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Bullying atau perundungan adalah momok menakutkan yang dapat merenggut keceriaan masa kecil seorang anak. Dampak dari tindakan ini tidak hanya menyisakan luka fisik, melainkan trauma psikologis mendalam yang berpotensi terbawa hingga mereka dewasa mulai dari gangguan kecemasan (anxiety), depresi, hingga penurunan drastis pada performa akademis.
Banyak orang tua merasa cemas dan berpikir bahwa satu-satunya cara melindungi anak adalah dengan selalu mengawasi mereka 24 jam atau melatih mereka bela diri fisik agar bisa membalas pukulan. Padahal, perlindungan terbaik dan paling realistis yang bisa diberikan orang tua adalah membekali anak dengan “perisai mental” langsung dari dalam rumah.
Perisai mental ini dibentuk melalui pola asuh yang membangun resiliensi, rasa percaya diri, dan ketegasan (assertiveness) sehingga anak tidak menjadi target empuk para pelaku perundungan (bullies). Berikut adalah langkah-langkah konkret yang dapat Anda lakukan di rumah.
1. Menanamkan Sikap Tegas (Assertiveness) Melalui Bahasa Tubuh
Pelaku perundungan umumnya adalah seorang oportunis. Mereka mencari korban yang terlihat rapuh, tidak percaya diri, mudah diintimidasi, dan cenderung pasrah. Oleh karena itu, melatih anak cara membawa diri adalah langkah preventif pertama.
Di rumah, ajarkan dan simulasikan tiga aspek bahasa tubuh yang tangguh bersama anak:
Kontak Mata (Eye Contact): Latih anak untuk menatap mata lawan bicaranya dengan berani, bukan menunduk atau melihat ke arah lain saat diintimidasi.
Postur Tubuh yang Tegap: Ajarkan anak untuk berjalan dengan bahu terbuka dan kepala terangkat. Postur tubuh yang tegak memancarkan aura kepercayaan diri.
Suara yang Tenang namun Tegas: Latih anak untuk berani berkata, “Hentikan, aku tidak suka kamu memperlakukanku seperti itu,” dengan nada suara yang lantang, datar, dan tidak emosional (tidak merengek atau berteriak histeris). Pelaku perundungan akan kehilangan minat jika korbannya tidak menunjukkan reaksi ketakutan yang mereka harapkan.
2. Membangun Komunikasi yang Aman (Safe Space) di Rumah
Banyak kasus perundungan berjalan berbulan-bulan tanpa ketahuan karena anak takut atau malu untuk bercerita kepada orang tuanya. Tugas Anda adalah memastikan rumah menjadi tempat paling aman untuk menumpahkan segala keluh kesah.
Dengarkan Tanpa Menghakimi: Saat anak bercerita tentang harinya yang buruk, dengarkan terlebih dahulu dengan penuh empati. Hindari kalimat yang menyudutkan seperti, “Kamu sih, kok diam aja digituin?”
Validasi Perasaan Anak: Katakan pada mereka bahwa wajar untuk merasa sedih atau marah. Kalimat sederhana seperti, “Ibu paham itu rasanya pasti nggak nyaman banget. Terima kasih ya sudah berani cerita ke Ibu,” akan membuat anak merasa didukung sepenuhnya. Anak yang tahu mereka didukung di rumah tidak akan memendam masalah perundungan sendirian.
3. Menumbuhkan Harga Diri (Self-Esteem) Anak Melalui Aktivitas Luar Rumah
Anak yang memiliki harga diri yang kuat tidak akan mudah goyah oleh ejekan atau hinaan dari pelaku perundungan. Anda bisa membantu membentuk harga diri ini dengan menyalurkan minat dan bakat mereka di luar lingkungan sekolah formal.
Ikuti Komunitas Positif: Daftarkan anak pada klub olahraga, sanggar seni, kelas robotik, atau pencak silat/bela diri yang sesuai minat mereka.
Manfaat Sosial: Lingkungan baru ini memberikan anak kesempatan untuk membangun lingkaran pertemanan yang sehat. Ketika anak menyadari bahwa mereka dihargai, terampil, dan memiliki teman-teman yang suportif di tempat lain, mental mereka akan tetap kokoh meskipun ada satu atau dua anak nakal yang mencoba menjatuhkan mereka di sekolah.
4. Mengenalkan Konsep “Buddy System” (Sistem Pertemanan)
Pelaku bullying hampir selalu mengincar anak yang sedang sendirian atau terisolasi. Dorong anak Anda untuk selalu bersosialisasi dan memiliki setidaknya satu atau dua teman dekat di kelasnya. Ajarkan mereka prinsip saling menjaga: pergi ke kantin bersama, ke toilet bersama, atau menunggu jemputan bersama. Kehadiran seorang teman di samping anak secara drastis menurunkan niat pelaku untuk melakukan intimidasi.
Kesimpulan
Menghapus bayang-bayang perundungan tidak dimulai dengan mengubah perilaku anak-anak lain di luar sana, melainkan dengan memperkuat mental anak kita sendiri dari dalam rumah. Dengan memberikan cinta yang tanpa syarat, melatih komunikasi yang tegas, dan membangun harga diri yang tinggi, kita sedang menempa sebuah perisai mental yang kokoh. Perisai itulah yang akan melindungi anak, membuat mereka mampu berdiri tegak, dan melangkah dengan aman di dunia luar.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan bidan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO). (2020). School-based interventions to prevent bullying and promote peer connectedness: A global guidance report. Jenewa: WHO.
UNICEF Indonesia. (2023). Panduan Pengasuhan Positif: Mencegah Kekerasan dan Perundungan pada Anak Sejak dari Rumah. Jakarta: UNICEF.
American Psychological Association (APA). (2022). Bullying Prevention: Empowering Children with Assertiveness and Emotional Literacy.Journal of Family Psychology, Vol. 36(4), 512-520.
International Journal of Behavioral Development. Sari, R., & Henderson, K. (2024). The Role of Parental Support and Extracurricular Engagement in Buffering the Effects of Peer Victimization among Adolescents.International Journal of Behavioral Development, 48(2), 143–151.
Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata
Kehidupan remaja zaman now (Gen Z dan Gen Alpha) sering kali dicap serba mudah karena kemajuan teknologi. Namun, di balik layar gawai yang berkilau, ada tekanan mental yang luar biasa besar. Paparan media sosial yang konstan, tuntutan akademik yang kompetitif, hingga krisis eksistensial global membuat kesehatan mental mereka menjadi rentan.
Sering kali, orang tua atau lingkungan terdekat menyamakan perubahan perilaku remaja sebagai mood swing pubertas atau sifat “manja” belaka. Padahal, ada batas tipis antara fase emosional remaja normal dan sinyal bahaya (red flag) gangguan mental klinis.
Bagaimana cara kita melakukan checking in (pemeriksaan berkala) dan menyadari sinyal red flag ini sebelum terlambat?
1. Sinyal “Red Flag” yang Sering Tersamarkan
Berdasarkan klasifikasi klinis, gangguan mental pada remaja jarang muncul seperti pada orang dewasa. Remaja jarang mengatakan “Aku sedang depresi.” Alih-alih, mereka mengekspresikannya melalui perubahan perilaku harian yang drastis.
Berikut adalah beberapa sinyal red flag utama yang wajib diwaspadai:
Iritabilitas dan Kemarahan yang Meledak-ledak: Berbeda dengan orang dewasa yang cenderung menarik diri dan menangis, depresi pada remaja lebih sering bermanifestasi sebagai rasa frustasi yang ekstrem, sifat mudah tersinggung, dan kemarahan pada hal-hal sepele.
Perubahan Pola Tidur dan Kelelahan Kronis: Tidur terlalu larut karena doom scrolling (terus-menerus membaca berita/konten negatif) atau justru tidur berlebihan sepanjang hari (hypersomnia) sebagai bentuk mekanisme pelarian diri.
Penurunan Performa Akademik Secara Mendadak: Kehilangan fokus, sering melamun, atau nilai yang merosot drastis akibat energi otak yang habis digunakan untuk menahan kecemasan.
Isolasi Sosial yang Ekstrem: Menolak berinteraksi dengan teman sebaya secara total dan mengunci diri di kamar selama berhari-hari.
Keluhan Fisik Misterius (Somatik): Sering mengeluh sakit kepala kronis atau sakit perut sebelum pergi ke sekolah, tanpa adanya kelainan medis fisik.
2. Cara Melakukan Checking In yang Benar
Melakukan checking in bukan berarti menginterogasi atau menginvasi privasi remaja secara agresif. Berikut pendekatan psikologis yang disarankan:
A. Ubah Gaya Komunikasi (Tanya, Jangan Ceramahi)
Ganti kalimat interogasi seperti: “Kenapa kamu mengurung diri terus? Kurang bersyukur kamu ya!” dengan pertanyaan terbuka yang penuh empati:
“Ibu perhatikan belakangan ini kamu kelihatan lelah dan kurang tidur. Ibu di sini bukan untuk marah atau menghakimi, Ibu cuma peduli. Ada hal yang lagi membebani pikiranmu?”
B. Validasi, Jangan Remehkan
Bagi orang dewasa, masalah remaja mungkin terdengar sepele (seperti patah hati, dikucilkan teman online, atau cemas karena jerawat). Namun, secara neurobiologis, otak remaja merespons penolakan sosial sama menyakitkannya dengan rasa sakit fisik. Validasi perasaan mereka dengan mengatakan: “Ibu paham, situasi itu pasti rasanya berat banget buat kamu.”
C. Amati Durasi Gejala
Jika perubahan perilaku di atas berlangsung lebih dari 2 minggu berturut-turut dan mulai mengganggu fungsi mereka sebagai pelajar atau anggota keluarga, itu adalah tanda mutlak bahwa anak memerlukan bantuan profesional (psikolog atau psikiater).
Kesimpulan
Kesehatan mental sama berharganya dengan kesehatan fisik. Menyadari sinyal red flag sejak dini bukan berarti kita menganggap remaja kita lemah, melainkan bentuk kasih sayang untuk mempersiapkan mereka menjadi individu yang tangguh di masa depan. Checking in secara rutin bisa menyelamatkan masa depan mereka.
Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu prodi terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL.https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/
Referensi
World Health Organization (WHO). (2024). Mental Health of Adolescents: Fact Sheets and Global Estimates. Jenewa: WHO.
UNICEF. (2021). The State of the World’s Children 2021: On My Mind – Promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). Washington, DC: APA.
The Lancet Psychiatry Journal. Social Media Use, Sleep Disturbance, and Mobile Phone Addiction Affecting Mental Health of Adolescents: A Longitudinal Study.