Siklus Haid Berantakan? Jangan Langsung Panik, Kenali Kapan Normal dan Kapan Harus Periksa

Siklus Haid Berantakan? Jangan Langsung Panik, Kenali Kapan Normal dan Kapan Harus Periksa

Penulis: Alifa Risda Fadilasari, Bdn., M.Tr.Keb

Dosen Prodi D3 Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata

Di media sosial, banyak remaja membagikan pengalaman menstruasi yang datang terlambat, tidak teratur, bahkan tidak haid selama beberapa bulan. Tidak sedikit pula yang langsung mengaitkannya dengan kehamilan atau menganggap kondisi tersebut pasti disebabkan oleh Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Padahal, tidak semua gangguan siklus menstruasi merupakan tanda penyakit.

Menstruasi merupakan salah satu indikator penting kesehatan reproduksi perempuan. Siklus yang berubah sesekali masih dapat dianggap normal, terutama pada masa remaja ketika sistem hormon reproduksi masih mengalami proses pematangan. Namun, apabila gangguan berlangsung terus-menerus atau disertai keluhan lain, kondisi tersebut memerlukan perhatian lebih lanjut.

Apa yang Dimaksud Siklus Menstruasi Normal?

Siklus menstruasi dihitung mulai dari hari pertama haid hingga hari pertama haid berikutnya. Pada perempuan dewasa, siklus normal berkisar antara 21–35 hari, sedangkan pada remaja variasinya dapat lebih panjang karena sistem hormonal belum sepenuhnya stabil. Lama perdarahan biasanya berlangsung 2–7 hari dengan jumlah darah yang tidak berlebihan.

Sesekali mengalami keterlambatan menstruasi beberapa hari bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan apabila tidak disertai gejala lain.

Mengapa Menstruasi Bisa Terlambat?

Banyak faktor yang dapat memengaruhi keseimbangan hormon sehingga siklus menstruasi berubah, antara lain:

  1. Stres akibat tugas sekolah, kuliah, atau pekerjaan.
  2. Kurang tidur atau sering begadang.
  3. Penurunan atau kenaikan berat badan yang drastis.
  4. Pola makan yang tidak seimbang.
  5. Aktivitas fisik yang terlalu berat.
  6. Penggunaan kontrasepsi hormonal.
  7. Gangguan hormon seperti PCOS atau gangguan tiroid.

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa status gizi, kualitas tidur, dan pola hidup memiliki hubungan yang signifikan dengan keteraturan siklus menstruasi pada remaja.

Benarkah Semua Haid Tidak Teratur Berarti PCOS?

Inilah salah satu mitos yang banyak beredar di media sosial.

PCOS memang merupakan salah satu penyebab menstruasi tidak teratur, tetapi diagnosisnya tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan telat haid.

Pada remaja, diagnosis PCOS memerlukan evaluasi menyeluruh oleh tenaga kesehatan karena banyak perubahan hormonal normal yang menyerupai gejala PCOS. Selain gangguan siklus menstruasi, dokter juga akan menilai adanya tanda kelebihan hormon androgen, seperti:

  1. Pertumbuhan rambut berlebihan pada wajah atau dada,
  2. Jerawat berat yang sulit diatasi,
  3. Peningkatan berat badan,
  4. Hasil pemeriksaan laboratorium bila diperlukan.

Pedoman terbaru juga menekankan bahwa diagnosis PCOS pada remaja harus dilakukan secara hati-hati agar tidak terjadi overdiagnosis.

Gaya Hidup Berperan Besar

Banyak orang menganggap menstruasi hanya dipengaruhi hormon. Faktanya, hormon sangat dipengaruhi oleh gaya hidup sehari-hari.

Beberapa kebiasaan yang dapat membantu menjaga keteraturan siklus menstruasi antara lain:

  1. tidur 7–9 jam setiap malam,
  2. mengonsumsi makanan bergizi seimbang,
  3. membatasi konsumsi minuman tinggi gula,
  4. berolahraga secara teratur sekitar 150 menit setiap minggu,
  5. mengelola stres melalui aktivitas positif,
  6. menjaga berat badan tetap ideal.

Penelitian menunjukkan bahwa pola makan yang baik dan status gizi normal berkaitan dengan siklus menstruasi yang lebih teratur pada remaja putri.

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Segera berkonsultasi dengan bidan atau dokter apabila mengalami kondisi berikut:

  1. Tidak haid selama lebih dari 90 hari tanpa kehamilan,
  2. Menstruasi selalu datang kurang dari 21 hari atau lebih dari 45 hari pada remaja,
  3. Perdarahan sangat banyak hingga harus mengganti pembalut setiap 1–2 jam,
  4. Nyeri haid sangat hebat hingga mengganggu aktivitas,
  5. muncul pertumbuhan rambut berlebihan, jerawat berat, atau kenaikan berat badan yang cepat disertai gangguan menstruasi.

Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menemukan penyebab gangguan dan mencegah komplikasi di masa depan.

Jangan Mudah Percaya Informasi Viral

Media sosial memang memudahkan kita memperoleh informasi kesehatan. Namun, tidak semua konten berasal dari sumber ilmiah yang dapat dipercaya. Mengikuti tren diagnosis mandiri tanpa pemeriksaan justru dapat menimbulkan kecemasan yang tidak perlu.

Jika mengalami gangguan menstruasi yang berlangsung berulang, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan penjelasan dan penanganan yang tepat.

Menstruasi bukan sekadar datang setiap bulan, tetapi juga merupakan cerminan kesehatan reproduksi. Dengan menjaga pola hidup sehat dan memahami tanda-tanda yang perlu diwaspadai, remaja dapat lebih peduli terhadap kesehatan dirinya sejak dini.

Di Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata (UAA), mahasiswa dididik dengan kurikulum yang dinamis dan berwawasan luas. Kami menyiapkan para calon bidan agar mampu memberikan edukasi preventif-promotif yang relevan dengan tren kesehatan masa kini, termasuk fisiologi tubuh perempuan.

Sebagai prodi dengan akreditasi UNGGUL dan menjadi salah satu yang terbaik di Yogyakarta, D3 Kebidanan UAA berkomitmen mencetak lulusan yang adaptif, komunikatif, dan siap pakai di dunia kerja modern, baik di sektor pemerintahan (ASN/PPPK), klinik swasta, maupun sebagai edupreneur kesehatan.

Referensi

  1. Aningsih, S., Amalia, S., Safitri, Y. R., & Rahayu, W. (2025). Analysis of Factors Affecting the Menstrual Cycle Among Adolescent Girls: A Scoping Review. Journal Educational of Nursing, 8(2).
  2. Murthi, A. K., Wratsangka, R., Sisca, & Kurniawan, Y. (2025). Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) in Adolescent Girls in Indonesia: A New Burden in Women’s Reproductive Health. Jurnal Biomedika dan Kesehatan, 8(3), 245–249.
  3. Wardani, Y. S., Nisa, T. S., & Hidayanti, L. (2026). Nutritional Status, Sleep Duration and the Menstrual Cycle Among Adolescent Girls. Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA), 8(1), 264–276.
  4. Putri, S. M., Yulianti, R., & Suryani, D. (2024). The Relationship between Consumption Pattern and Nutritional Status with Female Adolescent Menstrual Cycles. Jurnal Gizi Masyarakat Indonesia, 13(1).
  5. Zuchelo, L. T. S., et al. (2024). Menstrual Pattern in Polycystic Ovary Syndrome and Hypothalamic-Pituitary-Ovarian Axis Immaturity in Adolescents: A Systematic Review and Meta-analysis. Gynecological Endocrinology, 40(1).
  6. Dumont, T., Peeva, M., & El Masri, M. (2026). Diagnosis and Treatment of PCOS in Adolescents: A Summary of Guidelines and Systematic Reviews for Practitioners. Best Practice & Research Clinical Obstetrics & Gynaecology, 105
Pelukan Pertama Penuh Makna: Fakta Ilmiah Skin-to-Skin dan IMD bagi Bayi Baru Lahir

Pelukan Pertama Penuh Makna: Fakta Ilmiah Skin-to-Skin dan IMD bagi Bayi Baru Lahir

Penulis: Dyah Pradnya Paramita, SST., M.Kes

Menit-menit pertama setelah proses persalinan adalah fase transisi yang sangat kritis bagi seorang bayi. Saat berpindah dari rahim ibu yang hangat ke lingkungan luar, bayi membutuhkan adaptasi fisiologis yang cepat. Dalam dunia kebidanan dan pediatri modern, periode ini sering disebut sebagai The Golden Hour (Jam Emas).

Menurut Dyah, dosen Prodi DIII Kebidanan, dua intervensi medis berbasis bukti penelitian yang paling direkomendasikan selama jam pertama ini adalah Skin-to-Skin Contact (kontak kulit ke kulit) dan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Keduanya bukanlah sekadar tren pengasuhan, melainkan standar emas perawatan bayi baru lahir yang wajib difasilitasi oleh tenaga kesehatan.

Apa Itu Skin-to-Skin Contact dan IMD?

Skin-to-skin contact dilakukan dengan meletakkan bayi yang baru lahir, dalam keadaan telanjang (hanya memakai popok dan topi), langsung di atas dada atau perut ibu yang juga tanpa pakaian atas. Bayi kemudian diselimuti agar tetap hangat. Proses ini dibiarkan berlangsung setidaknya selama satu jam, yang secara alami akan memfasilitasi IMD. Melalui insting alaminya, bayi akan merangkak perlahan mencari puting ibu (breast crawl) dan mulai menyusu untuk pertama kalinya. Cairan ASI pertama yang dihisap bayi saat IMD disebut kolostrum. Kolostrum sangat kaya akan sel darah putih dan antibodi (terutama IgA). Kolostrum ini akan bertindak sebagai pencahar alami untuk membersihkan mekonium (tinja pertama bayi) dan melapisi usus bayi yang masih rentan untuk mencegah infeksi dan alergi.

Manfaat Klinis Skin-to-Skin Contact dan IMD bagi Bayi Baru Lahir

Kontak langsung antara kulit ibu dan bayi memberikan manfaat medis yang luar biasa, di antaranya:

  1. Pengaturan Suhu Tubuh yang Optimal: Dada ibu secara otomatis akan menyesuaikan suhunya untuk menghangatkan bayi yang kedinginan atau mendinginkan bayi yang kepanasan, mencegah terjadinya hipotermia secara lebih efektif dibandingkan inkubator.
  2. Menstabilkan Tanda Vital: Bayi yang berada di pelukan ibu terbukti memiliki laju pernapasan dan detak jantung yang lebih stabil.
  3. Transfer Bakteri Baik (Mikrobioma): Kontak kulit memungkinkan perpindahan flora normal (bakteri baik) dari kulit ibu ke tubuh bayi, yang berfungsi membentuk benteng imunitas pertama terhadap bakteri patogen di lingkungan rumah sakit.
  4. Mengurangi Stres: Mendengar detak jantung ibu menurunkan kadar hormon stres (kortisol) pada bayi, sehingga bayi lebih jarang menangis dan menyimpan energinya untuk menyusu.

Manfaat Klinis Skin-to-Skin Contact dan IMD bagi Ibu

Tidak hanya bagi bayi, skin-to-skin dan IMD memberikan dampak fisiologis dan psikologis yang signifikan bagi ibu:

  1. Memicu Hormon Oksitosin: Hisapan bayi pada puting dan sentuhan kulit akan merangsang pelepasan oksitosin. Hormon ini krusial untuk mempercepat kontraksi rahim, yang secara drastis menurunkan risiko perdarahan pascapersalinan.
  2. Keberhasilan ASI Eksklusif: Ibu yang melakukan IMD memiliki peluang lebih tinggi untuk berhasil memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.
  3. Kesehatan Mental: Produksi hormon oksitosin dan endorfin membantu ibu merasa lebih tenang, meningkatkan bonding (ikatan batin), dan menurunkan risiko depresi pasca persalinan (postpartum depression).

Siap Menjadi Tenaga Kesehatan Berbasis Bukti di Era Modern?

Dunia kebidanan terus berkembang. Ibu dan bayi membutuhkan tenaga Kesehatan yang tidak hanya peduli, tetapi juga dibekali dengan ilmu pengetahuan klinis terkini, seperti pentingnya Skin-to-Skin Contact dan IMD.

Bergabunglah dengan Program Studi DIII Kebidanan Universitas Alma Ata. Prodi DIII Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. Untuk mendalami ilmu kesehatan ibu dan anak secara komprehensif. Dapatkan pengalaman praktik langsung bersama dosen dan ahli terbaik di bidangnya!

[Daftar Sekarang dan Mulai Perjalanan Anda Menjadi Bidan Profesional!]

Daftar Pustaka

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2022). Pentingnya Inisiasi Menyusu Dini dan Perawatan Metode Kanguru. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.

World Health Organization (WHO) & UNICEF. (2018). Implementation Guidance: Protecting, Promoting and Supporting Breastfeeding in Facilities Providing Maternity and Newborn Services. Geneva: World Health Organization.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Pedoman Pelayanan Antenatal, Persalinan, Nifas, dan Bayi Baru Lahir. Jakarta: Kemenkes RI.

Moore, E. R., Bergman, N., Anderson, G. C., & Medley, N. (2016). Early skin-to-skin contact for mothers and their healthy newborn infants. Cochrane Database of Systematic Reviews, (11), CD003519.

Kenali Faktanya Bersama Bidan, IUD dan Implan Bisa Jadi Andalan.

Kenali Faktanya Bersama Bidan, IUD dan Implan Bisa Jadi Andalan.

Penulis: Dyah Pradnya Paramita, SST., M.Kes
Masih takut menggunakan IUD atau implan karena mitos? Ketahui fakta ilmiah tentang KB jangka panjang dan peran bidan dalam membantu memilih kontrasepsi yang tepat.

Masih Ragu Menggunakan KB?

“Saya ingin memakai IUD, tapi katanya nanti susah punya anak lagi.”

Kalimat seperti ini masih sering terdengar saat pasangan berkonsultasi mengenai keluarga berencana. Tidak sedikit Pasangan Usia Subur (PUS) yang akhirnya menunda menggunakan kontrasepsi atau memilih metode yang kurang sesuai karena khawatir dengan berbagai mitos yang beredar di masyarakat.

Padahal, memilih alat kontrasepsi bukan hanya tentang mencegah kehamilan, tetapi juga merencanakan masa depan keluarga. Dengan informasi yang tepat, pasangan dapat menentukan waktu terbaik untuk memiliki anak, mengatur jarak kehamilan, serta menjaga kesehatan ibu dan bayi.

Mengapa Perencanaan Kontrasepsi Penting?

Perencanaan kontrasepsi merupakan bagian dari upaya mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera. Menurut Dyah, dosen Prodi DIII Kebidanan, Universitas Alma Ata, setiap kehamilan harus direncanakan. Kehamilan yang direncanakan memberi kesempatan bagi tubuh ibu untuk pulih setelah persalinan, mengurangi risiko komplikasi kehamilan, serta membantu keluarga mempersiapkan kondisi fisik, mental, dan ekonomi sebelum menyambut kehadiran buah hati.

Saat ini tersedia berbagai pilihan metode kontrasepsi. Salah satu yang memiliki efektivitas paling tinggi adalah Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), seperti IUD dan implan. Kedua metode ini dapat mencegah kehamilan selama beberapa tahun, tidak memerlukan penggunaan harian, dan dapat dilepas kapan saja ketika pasangan merencanakan kehamilan kembali.

Mitos dan Fakta tentang KB Jangka Panjang

Sayangnya, masih banyak informasi yang kurang tepat mengenai MKJP sehingga membuat sebagian pasangan ragu menggunakannya.

Mitos: IUD menyebabkan kemandulan.
Fakta: Kesuburan umumnya akan kembali setelah IUD dilepas. Tidak ada bukti ilmiah bahwa IUD menyebabkan perempuan menjadi mandul.

Mitos: Implan pasti membuat tubuh gemuk.
Fakta: Perubahan berat badan tidak dialami semua pengguna. Berat badan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pola makan, aktivitas fisik, usia, dan metabolisme.

Mitos: IUD dapat berpindah ke jantung atau otak.
Fakta: Hal tersebut tidak mungkin terjadi. IUD dipasang di dalam rahim oleh tenaga kesehatan yang terlatih dan tidak dapat berpindah ke organ lain.

Mitos-mitos seperti ini sering kali muncul dari pengalaman pribadi yang belum tentu berlaku bagi semua orang. Oleh karena itu, informasi mengenai kontrasepsi sebaiknya diperoleh dari tenaga kesehatan yang kompeten.

Masih Bingung Memilih KB?

Setiap perempuan memiliki kondisi kesehatan dan kebutuhan yang berbeda. Jangan menentukan pilihan hanya berdasarkan cerita di media sosial atau pengalaman orang lain. Luangkan waktu untuk berkonsultasi dengan bidan agar Anda memperoleh informasi yang sesuai dengan kondisi kesehatan dan rencana kehamilan keluarga.

Mengapa Harus ke Bidan?

Bidan merupakan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dalam pelayanan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana. Peran bidan tidak hanya melakukan pemasangan atau pelepasan alat kontrasepsi, tetapi juga memberikan konseling yang membantu pasangan memahami manfaat, cara kerja, efektivitas, serta kemungkinan efek samping dari setiap metode kontrasepsi.

Dalam sesi konseling, bidan akan mempertimbangkan usia, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, kondisi menyusui, serta rencana memiliki anak di masa depan sebelum membantu pasangan menentukan metode kontrasepsi yang paling sesuai. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap keputusan didasarkan pada kebutuhan individu, bukan pada mitos atau informasi yang belum terbukti.

Selain memberikan pelayanan kontrasepsi, bidan juga berperan sebagai edukator yang aktif meluruskan berbagai kesalahpahaman mengenai kesehatan reproduksi. Dengan demikian, masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih tepat untuk menjaga kesehatan ibu dan keluarga.

Yuk, Rencanakan Keluarga Bersama Bidan!

Masih memiliki pertanyaan tentang IUD, implan, atau metode kontrasepsi lainnya? Jangan biarkan mitos menentukan keputusan Anda. Berkonsultasilah dengan bidan di puskesmas, klinik, rumah sakit, atau praktik mandiri bidan terdekat untuk mendapatkan rekomendasi kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi kesehatan dan rencana kehamilan Anda.

Program Studi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata, program studi kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL, berkomitmen menghadirkan informasi kesehatan reproduksi yang akurat, berbasis bukti ilmiah, dan mudah dipahami. Ikuti terus artikel kesehatan terbaru di website kami untuk memperoleh edukasi seputar kehamilan, persalinan, keluarga berencana, kesehatan ibu, bayi, dan keluarga.

Referensi:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia – Pedoman Pelayanan Kontrasepsi dan Keluarga Berencana

Kartini, K., Aswita, A., Ngii, Y., Laila, L., Insani, A. A., Hidayati, R. W., …. & Manalor, L. L. (2024). Kontrasepsi dan Keluarga Berencana. CV Eureka Media Aksara. 

World Health Organization. Family Planning/Contraception Methods (2025)

World Health Organization. Contraception – Health Topics

CDC. U.S. Medical Eligibility Criteria for Contraceptive Use, 2024 (U.S. MEC)

CDC. Contraceptive Guidance for Health Care Providers (2024)

Menyiapkan Generasi Tangguh: Edukasi Peran Orang Tua dalam Membangun Resiliensi dan Kepercayaan Diri Remaja di SMK Giri Handayani

Menyiapkan Generasi Tangguh: Edukasi Peran Orang Tua dalam Membangun Resiliensi dan Kepercayaan Diri Remaja di SMK Giri Handayani

Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan

Masa remaja merupakan fase krusial yang diwarnai oleh berbagai perubahan fisik, emosional, serta sosial. Di era digital dan modernisasi yang penuh tekanan ini, remaja rentan mengalami kecemasan, stres, hingga krisis kepercayaan diri. Merespons tantangan tersebut, tim Dosen dan Mahasiswa dari Program Studi D3 Kebidanan menyelenggarakan kegiatan edukasi bertajuk “Peran Orang Tua dalam Membangun Resiliensi atau Ketahanan Mental dan Kepercayaan Diri Anak Remaja” di SMK Giri Handayani, Wonosari, Gunungkidul.

Kegiatan ini merupakan bagian dari wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), yang berfokus pada penguatan kesehatan remaja secara holistik tidak hanya fisik dan reproduksi, tetapi juga mental dan psikologis.

Mengapa Resiliensi dan Kepercayaan Diri Penting bagi Remaja?

Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali dari kesulitan, adaptif terhadap tekanan, serta belajar dari kegagalan. Dalam pemaparannya, tim riset dan edukasi Prodi D3 Kebidanan menekankan bahwa rumah dan keluarga adalah tempat pertama dan utama di mana ketahanan mental anak dibentuk.

“Kesehatan jiwa remaja berhubungan erat dengan kesehatan reproduksi dan tumbuh kembang mereka secara menyeluruh. Remaja yang memiliki resiliensi tinggi cenderung mampu mengambil keputusan secara bijak, terhindar dari perilaku berisiko, serta lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” ujar perwakilan tim Pengabdi Prodi D3 Kebidanan.

Pilar Utama Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Mental Remaja

Melalui sesi sosialisasi yang interaktif di SMK Giri Handayani, dipaparkan beberapa pilar utama yang perlu diterapkan oleh orang tua dan pendidik:

  1. Komunikasi Empatis dan Membangun Ruang Aman (Safe Space)
  2. Orang tua diimbau untuk menjadi pendengar yang aktif tanpa terburu-buru menghakimi. Ketika anak merasa didengar, tingkat kecemasan mereka akan menurun dan kepercayaan diri akan tumbuh.
  3. Pola Asuh Demokratis (Authoritative Parenting)
  4. Memberikan batasan yang jelas namun tetap diimbangi dengan hangatnya kasih sayang. Pola asuh ini terbukti efektif dalam melatih remaja untuk mandiri dan bertanggung jawab atas pilihan mereka.
  5. Mengubah Kegagalan Menjadi Proses Belajar
  6. Resiliensi tidak lahir dari kehidupan tanpa masalah, melainkan dari pengalaman mengatasi masalah. Orang tua perlu mendampingi anak saat menemui kegagalan, mengajarkan evaluasi diri, dan memvalidasi perasaan anak.
  7. Memberikan Apresiasi pada Proses, Bukan Hanya Hasil
  8. Memuji usaha (effort) yang telah dilakukan remaja akan membangun growth mindset daripada sekadar memuji hasil akhir, sehingga anak tidak mudah putus asa jika menemui hambatan.

Sinergi Civitas Akademika dan Sekolah

Pihak SMK Giri Handayani menyambut hangat dan mengapresiasi inisiatif dari Program Studi D3 Kebidanan ini. Sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, dan orang tua murid diharapkan dapat menciptakan ekosistem pendukung (support system) yang sehat bagi para siswa SMK Giri Handayani, sehingga mereka tidak hanya unggul dalam keterampilan kejuruan (hard skills), tetapi juga tangguh secara mental (soft skills).

Melalui kegiatan edukasi ini, Prodi D3 Kebidanan Universitas Alma Ata membuktikan komitmennya dalam memperluas cakupan asuhan kebidanan komunitas (community midwifery) yang mencakup kesehatan remaja secara menyeluruh demi mencetak generasi penerus bangsa yang sehat, percaya diri, dan berdaya saing.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan D3 Kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/ 

Referensi 

  1. American Psychological Association (APA). (2020). Resilience in Times of Stress: Building Resilience in Children and Teens. APA Guidelines.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Pedoman Standar Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas. Jakarta: Kemenkes RI.
  3. Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. (2020). Situasi Kesehatan Jiwa di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  4. Santrock, J. W. (2019). Adolescence (17th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
  5. Tim Pengabdian Masyarakat Prodi D3 Kebidanan. (2026). Laporan Kegiatan Pengabdian Masyarakat: Peran Orangtua dalam Membangun Resiliensi Remaja di SMK Giri Handayani.
Farewell Party Prodi Kebidanan: Merangkai Kenangan, Melangkah Menuju Masa Depan

Farewell Party Prodi Kebidanan: Merangkai Kenangan, Melangkah Menuju Masa Depan

Yogyakarta, Jumat, 14 Agustus 2026 — Program Studi Kebidanan Alma Ata menyelenggarakan kegiatan Farewell Party sebagai momen kebersamaan sekaligus perpisahan bagi mahasiswa tingkat akhir. Kegiatan ini menjadi ruang untuk merayakan perjalanan, mengenang berbagai cerita, serta mempererat kebersamaan sebelum para mahasiswa melangkah menuju tahap perjalanan berikutnya.

Farewell Party diikuti oleh mahasiswa tingkat akhir dari berbagai jenjang, yaitu mahasiswa D3 Kebidanan angkatan 2023, mahasiswa S1 Kebidanan angkatan 2022, serta mahasiswa Pendidikan Profesi Bidan angkatan 2025. Kegiatan ini juga semakin hangat dengan kehadiran dan pendampingan dari Ketua Jurusan Kebidana, Kaprodi, serta seluruh dosen Kebidanan yang turut menjadi bagian dari perjalanan akademik para mahasiswa.

Mengusung suasana penuh keakraban dan kebahagiaan, kegiatan diisi dengan berbagai aktivitas menarik, seperti games, ramah tamah, dan Berbagi Kenangan dan Kesan. Tawa, cerita, dan interaksi yang tercipta menjadi momen berharga yang mempererat hubungan antara mahasiswa dan keluarga besar Prodi Kebidanan Alma Ata.

Lebih dari sekadar acara perpisahan, Farewell Party menjadi kesempatan untuk mengapresiasi perjalanan dan proses yang telah dilalui bersama. Bagi mahasiswa tingkat akhir, momen ini menjadi pengingat bahwa setiap perjuangan, tantangan, dan kebersamaan selama menempuh pendidikan merupakan bagian penting dari perjalanan menuju profesionalisme sebagai tenaga kebidanan.

Terima kasih atas kebersamaan, dukungan, dan cerita indah yang telah menjadi bagian dari perjalanan bersama. Semoga setelah menyelesaikan pendidikan, seluruh mahasiswa dapat melangkah dengan penuh percaya diri, membawa ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh untuk memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat.

Sebuah akhir untuk kenangan indah, sekaligus awal untuk langkah yang lebih baik. 🤍✨

Membesarkan Anak Tangguh: Cara Melatih Ketegasan agar Anak Tidak Menjadi Korban Perundungan

Membesarkan Anak Tangguh: Cara Melatih Ketegasan agar Anak Tidak Menjadi Korban Perundungan

Penulis: Dosen Jurusan D3 Kebidanan Universitas Alma Ata

Di era modern yang penuh tantangan digital dan sosial, kekhawatiran terbesar orang tua sering kali runtuh pada satu kata: bullying (perundungan). Banyak orang tua berpikir bahwa cara terbaik agar anak tidak diganggu adalah dengan memasukkan mereka ke kelas bela diri agar bisa memukul balik. Namun, sains psikologi menunjukkan hal yang berbeda.

Senjata paling ampuh untuk melindungi anak dari radar pelaku perundungan bukanlah kekuatan fisik untuk menyerang, melainkan ketegasan (assertiveness). Melatih anak menjadi asertif bukan agresif maupun pasif adalah investasi mental terbaik untuk membangun jaring pengaman bagi diri mereka sendiri.

1. Mengapa Pelaku Bullying Menghindari Anak yang Asertif?

Pelaku perundungan (bullies) pada dasarnya adalah oportunis. Mereka mencari target yang memberikan reaksi yang mereka inginkan: ketakutan, tangisan, kepasrahan, atau kemarahan yang meledak-ledak tanpa kendali.

Ketika seorang anak merespons gangguan dengan sikap asertif (tegas, tenang, dan terkendali), pelaku perundungan kehilangan kendali kekuasaannya. Anak yang asertif memancarkan sinyal bahwa mereka bukanlah target yang mudah diintimidasi.

2. Langkah Praktis Melatih Ketegasan (Assertiveness) pada Anak

Ketegasan bukan bakat bawaan lahir, melainkan keterampilan yang bisa dilatih di rumah melalui metode berikut:

A. Latih “Bahasa Tubuh yang Tangguh” (Confident Body Language)

Sebelum kata-kata keluar dari mulut, tubuh anak sudah mengirimkan pesan. Latih anak Anda di rumah untuk menerapkan Power Posing:

  1. Kontak Mata: Ajarkan anak untuk menatap langsung mata orang yang mengganggunya. Menunduk adalah sinyal kepasrahan.
  2. Postur Tegak: Berdiri dengan bahu tegap dan kedua kaki kokoh di tanah.
  3. Ekspresi Wajah Netral: Melatih anak untuk tidak menunjukkan wajah menangis atau ketakutan, melainkan wajah yang tenang dan datar.

B. Formula “Katakan dengan Tegas” (The Assertive Script)

Anak-anak sering kali membeku (freeze) saat diganggu karena tidak tahu harus bicara apa. Berikan mereka kalimat template yang pendek, jelas, dan menggunakan nada suara yang lantang (bukan berteriak):

“Hentikan. Aku tidak suka kamu bicara seperti itu.”

“Stop. Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi.”

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ajarkan anak untuk langsung berjalan pergi menuju keramaian atau area yang dekat dengan guru. Jangan bertahan di tempat untuk melayani perdebatan.

C. Ajarkan Perbedaan Asertif vs Agresif vs Pasif

Anak-anak perlu memahami batasan perilaku mereka sendiri agar tidak bias:

  1. Pasif: Membiarkan orang lain menginjak-injak haknya (Menangis, diam saja saat dihina).
  2. Agresif: Menyerang balik dengan kekerasan atau makian (Memukul, balas mengejek).
  3. Asertif: Mempertahankan hak diri sendiri dengan cara yang sopan, tegas, dan menghargai diri sendiri serta orang lain.

3. Strategi Penguat di Lingkungan Sosial

Selain ketahanan individu, orang tua harus membekali anak dengan taktik lingkungan yang cerdas:

StrategiAplikasi Nyata
Buddy System (Sistem Teman)Dorong anak untuk selalu berjalan bersama minimal satu atau dua teman dekat saat berada di area sepi sekolah (toilet, lorong, atau belakang kantin). Pelaku bullying jarang menyerang anak yang berada dalam kelompok.
Menghapus Stigma “Tukang Ngadu”Tanamkan dogma di rumah bahwa melaporkan kekerasan atau intimidasi kepada otoritas (guru/orang tua) bukanlah tindakan pengecut, melainkan hak asasi untuk menjaga keamanan diri.

Kesimpulan

Membesarkan anak yang tangguh tidak berarti menciptakan anak yang ditakuti karena kebrutalannya. Anak yang tangguh adalah anak yang tahu harga dirinya, mampu menetapkan batasan yang jelas bagi orang lain, dan berani bersuara ketika batasan itu dilanggar. Dengan melatih ketegasan sejak dini di rumah, Anda sedang memberikan perisai tak kasat mata yang akan melindungi anak dimanapun mereka berada.

Temukan artikel menarik lainnya di website Prodi D3 Kebidanan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Alma Ata. Prodi D3 Kebidanan yang merupakan salah satu jurusan kebidanan terbaik di Jogja dan terakreditasi UNGGUL. https://kebidanan.almaata.ac.id/d3-kebidanan/

Referensi

  1. UNICEF (2024). The Power of Peer Connectedness and Assertiveness in School Bullying Prevention. New York: UNICEF Guidance Series.
  2. World Health Organization (WHO). (2025). School-based Violence Prevention: A Global Framework for Action. Jenewa: WHO Guidelines..
  3. American Psychological Association (APA). (2023). Bullying Prevention for Parents: Empowering Assertive Children. APA PsychNET.
  4. International Journal of Behavioral Development. (2025). Longitudinal Study on Assertiveness Training and Victimization Rates among Young Adolescents, 49(2), 115-128.